Tampilkan postingan dengan label pergi-pergi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pergi-pergi. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 September 2026

Keceriaan Hamzah Batik Malioboro

17 komentar
HALO, Sobat Pikiran Positif? Semoga Senin ini kalian hepi. Kalau kalian sedang kurang hepi, yuk ditambahi hepinya dengan membaca tulisan ringan ini.

Tepatnya sih, dengan membaca tulisan-tulisan yang terdapat pada foto-foto yang tersemat di sini. Yang semua kudokumentasikan dari Hamzah Batik Malioboro. 

Kebetulan tempo hari aku jalan santai melewatinya. Lalu, kulihat "quote-quote" seru tertempel di dinding toko. Persisnya dinding depan bagian kiri (utara).

Tanpa berpanjang kata, mari langsung kita amati sembari hahahihi ...

Pertama, tentang perbedaan orang kurus dan orang gemuk. Hmm. Betul juga. Yang berbeda cuma makannya. 🙊

Kedua, jangan menikah dengan wanita sekampung. Ehem, ehem. Masuk akal juga alasan pelarangannya. 


Ketiga, tentang kegantengan hehe ... Gantengnya hilang kalau nanjak lagi.

Keempat, benar juga yang tentang rentannya wanita pada serangan diabetes. Lhah gimana? Terbiasa mengonsumsi janji manis, sih.

Kelima, tentang kegalakan orang yang ditagih utangnya. Yaaa, tapi mau gimana lagi? Dia belum gajian. Ditagih sekeras apa pun tetap tak bisa membayar.

Syukurlah. Pada akhirnya foto terakhir memuat dua "quote" normal. Bisalah untuk menyelamatkan hati yang risau.

Iya, iya.Kita ini sesungguhnya jauh lebih kuat daripada yang kita bayangkan. Hanya saja, kita kerap jiper duluan. Merasa diri lemah lunglai, padahal dalam diri tersimpan kekuatan zuper.

Adapun quote terakhir, wuiiih ... ckckck. Aku bangeeet. Apa pun masalahnya, ngopi adalah koentjie. Kopi itu my bestie. Kalau kamu? Doyan kopi nggak? 😌🥳

Finally kita balik ke atas. Pada foto pertama. Apa boleh buat? Uang adalah obat segala lara dan penyakit. Harus diakui itu. Faktanya, tanpa uang kita tak gampang bahagia.

Bagaimana bisa bahagia? Mau jajan cilok saja enggak bisa kalau tak punya uang. Sepakat?




Senin, 31 Agustus 2026

Kakiku Jangan Diganti Kimpul

26 komentar

HALO, Sobat Pikiran Positif? Semoga dirimu dalam kondisi baik. Sehat lahir dan batin. Kaki dan tangan bisa leluasa digerakkan tanpa kurang suatu apa. 

Jangan tiru aku, ya. Gara-gara kurang olahraga dan pola makan tak sehat, plus asupan air minumnya dingiiin melulu, tubuhku protes. Terkhusus bagian kaki kanan nih yang protes.

Protesnya gini. Dalam suatu aktivitas keseharian, aku salah gerakan. Tidak sampai jatuh. Eh? Apa sih, istilahnya? Salah tumpuan gerakan? Hmm. Pokoknya gitulah, ya. I think you know what I mean deeeh. 

Tidak sampai jatuh. Tidak pula sampai ada suara kreeek atau yang sejenisnya. Bahkan sesungguhnya, aku tidak tahu kapan kejadiannya.Tahu-tahu si kaki sakit saja. 

Mula-mula sakitnya masih tertahankan. Aku masih ke sana kemari. Kemudian tibalah malam itu, yakni bakda Isya yang kelabu. 

Usai Magriban di musala aku sempat omong-omong ke tetangga saat perjalanan pulang. Kubilang kalau kakiku makin sakit. Dia merespons, "Lha piye? Periksa ke dokter sajakah?"

Idenya baik dan benar. Namun,  aku takut ke dokter. Tentu saja aku tidak menjalankan ide tersebut. Hehe ...

Konyolnya, aku menunggu keajaiban. Siapa tahu bangun tidur esok hari mendadak sembuh? Sungguh sebuah harapan kosong. Sampai 2 minggu berlalu, tak ada perubahan menuju sembuh.

Apa boleh buat? Bagian lutut dan sekitarnya tetap aduhai sakit jika digerakkan. Automatis tidak leluasa berjalan, sampai-sampai nyaris tak sanggup berjalan. 

Itulah yang bikin aku hilang dari peredaran jalanan kampung. Menyebabkan para tetangga bertanya-tanya. Ada apakah gerangan denganku yang mendadak menghilang? Padahal biasa sluman-slumun ngiderin kampung? Hehe ... 

Jangankan ngiderin kampung. Berjalan kaki ke musala yang cuma beberapa meter saja tidak sanggup. Alhasil, ada banyak hal/acara yang aku lewatkan. Terpaksa bangeeet. 

Kakiku betul-betul tak kuat diajak melangkah. Sementara sepanjang Agustus, di sekitaran Titik Nol Yogyakarta dan Malioboro ada banyaaak kegiatan menarik. Termasuk gelaran Pesta HUT Komunitas Agus-Agus.

Jangankan acara Agustusan yang digelar pemkot dan pemprov. Yang digelar pengurus RW tempatku berdomisili saja, aku tak kuasa ikut. Jompo banget deh rasanya. Heu heu heu ... 

Singkat cerita di tengah kesakitanku, seorang teman chatt WA. Saat ditanya tentang kabar, entah kenapa aku menjawab jujur. Lalu dia tegas menyatakan kalau esok hari akan menjemputku, untuk mengantarkanku ke ahli urut atlet. 

Syukurlah aku tatkala itu menurut. Alhasil, sakitku teratasi. Ketahuanlah bahwa penderitaanku itu akumulasi dari jatuh-jatuh selama 15 tahun sebelumnya. Jatuh yang menimbulkan cedera di tempat sama. 

Dahulu tubuh mudaku masih tangguh. Kondisinya pun pasti sedang sehat. Cukup nutrisi dan aktivitas fisik yang menyehatkan. Jadi, cedera ringan lewat saja nyerinya. 

Tempo hari aku salah gerakan dalam kondisi tubuh buruk. Dalam usia yang telah menua pula. Ya sudah. Hasilnya fatal begitu. Syukurlah aku manut untuk segera diurut. Jika nekad dibiarkan tanpa solusi, konon bisa saraf kejepit. Duh, seram. 
  
Demikian cerita tentang kengambekan kaki kananku. Jujur bikin kapok. Demi memperbaiki metabolisme tubuh sehingga recovery otot berjalan cepat, aku bertekad patuh pada semua anjuran si bapak yang mengurut. 

Aku pun berjanji pada diriku sendiri, "Harus banyak minum air segar dan tidak dingin!" Ini yang kupikir terpenting bagiku. Aku kerap lalai dengan kecukupan asupan air minum. Sekalinya ingat untuk minum, malah pilih minum air dingin atau es apalah-apalah.

Janji berikutnya berderet, dong. Harus memperbanyak konsumsi sayur dan buah, meminimalkan konsumsi gorengan dan makanan berminyak, serta membatasi konsumsi daging merah. 

Oke, oke. Untuk diet makanan dan memperbanyak minum air relatif gampang dikendalikanlah, ya. Yang sulit itu anjuran, "Jangan sampai jatuh atau cedera lagi."

Hmm. Itu berarti aku wajib memperhalus gerakan dalam aktivitas keseharian. Tak boleh pethakilan. Tak boleh buru-buru supaya tak kesandung atau kejengkang.

Baiklah, baiklah. Kiranya takdirku memang harus menjadi sehalus putri kerajaan buaya darat. Lagi pula, aku tetanggaan dengan Sultan Yogyakarta. Wajarlah ya, kalau aku mesti berperilaku serba halus.

Moral ceritanya, bisa berjalan kaki dengan lancar tak kurang suatu apa adalah karunia besar. Akan tetapi, kerap kita lalai untuk mensyukurinya. Baru terasa kalau itu karunia besar bila sudah sakit kayak aku gini heu heu ...

Ya Allah, aku tidak mau kaki sakitku ini diganti dengan kimpul. Cukup nasiku saja yang sesekali kuganti kimpul. Haha!



Senin, 25 Mei 2026

Pepotoan di Tamansari dan Sekitarnya

27 komentar
HALO, Sobat Pikiran Positif? Aku mau pamer foto-foto, nih. Haha! Sengaja pamer fotonya aku garis bawahi tebal-tebal, ya. Karena memang niatnya hendak pamer foto. Mumpung aku pakai merah menyala tiada tara. Hehehe ...

Jadi begini. Rabu lalu setelah long weekend, aku dan dua kawan blusukan ke Tamansari dan sekitarnya. Tidak mau kalah dari wisatawan luar kota, dong. Lagi pula, satu kawan (yang tidak berkostum merah) itungannya dari luar kota juga. 

Dia tinggal di Jalan Kaliurang bagian atas. Bukan akamsi seperti aku dan temanku yang pakai jersey Arsenal itu. Kalau kami berdua 'kan berdomisili di Kota Yogyakarta. Di sekitaran Tamansari pula. Akamsi banget 'kan?

Nah, blusukan kami jadwalkan Rabu. Bertepatan dengan tanggal 20 Mei, Hari Kebangkitan Nasional. 

Bertepatan pula dengan kesuksesan Arsenal megang piala setelah 22 tahun berpuasa gelar. Itulah sebabnya temanku yang suporter setia Arsenal merayakannya dengan pakai jersey itu. 

Adapun aku sebagai suporter setia MU, berbesar hati ikut merayakannya. Pakai merah, sebab merah juga warna kebanggaan MU. Yaelah. Penting banget membahas warna merah di sini. Haha!


Kami sepakat ngumpul di Pasar Ngasem pukul 7 pagi. Yang ternyata ... ramai bangeeet. Penuh wisatawan yang antre buat beli sarapan. Sebab terlalu ramai, kami sampai kesulitan untuk saling menemukan. 

Sungguh tak terduga. Rabu-rabu kok ya serasa akhir pekan. Serasa long weekend. Ya sudah. Akhirnya kami langsung meninggalkan tikum. Menuju ke barat. Ke bekas kampus Universitas Widya Mataram Yogyakarta.


Di satu sudut sepi yang ada bunga kambojanya, tetapi bukan kuburan, aku disuruh berpose oleh temanku. Entah apa tujuannya. Aku pun patuh-patuh saja. Entah apa pula motivasiku saat itu. 

Eh, malah patuh lagi ketika disuruh berpose di depan pintu estetik yang ... sesungguhnya terasa kurang nyaman di hati saat itu. Aku sampai minta izin; bilang permisi dan ucap salam, lho. Alhamdulillah tak ada dampak apa-apa.

Nah. Kalau yang di atas itu memang akunya yang niat narsis. Alasannya apa? Ya senang saja nemu latar belakang yang kontras dengan baju dan kerudung. Haha! Hasilnya oke juga "kan? Jarang lho, aku berani pede dalam berpose.

Dua foto berikutnya adalah swafoto kami bertiga di bekas Kampus Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY). Yang juga merupakan ndalem Mangkubumen. Suasananya sepi, lho. Itulah sebabnya kami pede buat berpose-pose. 

Eh? Ada seorang sekuriti yang kesepian, sih. Ia bertugas sendirian saja. Bukan sekuriti Kampus UWMY, melainkan sekuriti Sekolah Tumbuh. Sepertinya tingkat SD. Entahlah. Tapi ya itungannya memang sepi. Tidak seperti SD pada umumnya yang punya banyak siswa. 

Mungkin kalian bertanya-tanya. Pindah ke mana Kampus UWMY-nya? Mengapa pindah? Begini. Pindahnya ke Kampus Terpadu yang ada di Banyuraden Kapanewon Gamping Sleman DIY. Sementara nDalem Mangkubumen yang bersejarah ini, kembali dikelola Kraton Yogyakarta sepenuhnya. 


Swafoto berikutnya lagi, satu suporter Arsenal dan satu suporter MU, juga berlatar belakang bekas Kampus UWMY. Luar biasa glowing 'kan kami? Hihi ... Itu bukan kameranya, melainkan cahaya mataharinya yang pas. Kebetulan si kamera kalau cocok formula cahaya alaminya, hasilnya ngedab-ngedabi. Glowing maksimal. Ckckck. Sungguh pembohongan terhadap publik.

Akhirnya foto terakhir adalah aku bersama si Arsenal itu lagi. Itu berfotonya di Gedong Carik. Kalau kalian pernah ke Tamansari Watercastle Yogyakarta dan pemandunya eksploratif, kemungkinan besar kalian pernah ke sini.


Oiyaaa. Nyaris lupa menjelaskan dua fotoku yang paling atas dan tepat persis setelahnya. Itu aku berpose di area Tamansari juga, tetapi yang paling pinggir selatan. Jadi kalau tidak eksploratif, walaupun kalian sudah ke Tamansari yang kolam-kolam itu, bisa jadi belum sampai sini. Yang itu berada persis di belakang SMPN 16 Kota Yogyakarta.

Senin, 04 Mei 2026

Quo Vadis Sepeda Malioboro?

16 komentar

Untuk tahu lebih jauh tentang Selasa Wagen, silakan klik DI SINI.

HALO, Sobat PIKIRAN POSITIF? Semoga kabar kalian baik semuanya. Sehat, hepi, dan senantiasa diberkahi Allah Swt. Pokoknya semangat, semangat, semangat. 

Ngomong-ngomong sudah Mei saja, nih. Sudah mau setengah tahun kita jalani 2026. Semoga kita tetap semangat memperjuangkan resolusi-resolusi yang belum tereksekusi, ya ... #toyordirisendiri

Sudah, sudah. Ngomongin resolusinya cukup di sini dulu. Sekarang mari ngomongin masa lalu saja. Masa lalunya bukan tentang sejarah yang berat-berat, kok. Cuma masa lalu terkait ... sepeda-sepeda dalam foto itu!

Bila kamu pada akhir-akhir 2018 ke Jogja, coba ingat-ingat. Pernah lihat sepeda-sepeda itu atau tidak? Ketika sedang berkunjung di Malioboro atau di sekitarannya? Atau, malah pernah menaikinya?

Kalau pernah melihatnya, beruntung. Kalau pernah menaikinya, jauh lebih beruntung. Kenapa? Karena sekarang sudah tidak bisa dilihat, apalagi dinaiki.

Sudah lama sekali sepeda-sepeda itu raib dari peredaran. Seingatku bahkan sebelum pandemi. Aku masih ancang-ancang mau download aplikasinya untuk nyoba, eh malah mendadak hilang. Ya sudah. Aku tuh kurang gercep.

Namun kupikir-pikir aku beruntung sedikitlah, ya ... masih sempat memotretnya. Tatkala itu, saat di Malioboro ada Selasa Wagen. 

Apa itu Selasa Wagen? Itulah masa ketika Malioboro dibersihkan para PKL sehingga mereka libur jualan dan sejak pagi sampai malam diselenggarakan kegiatan kesenian di jalanannya.

Serukah? Banget. Kapan lagi bisa bebas berjalan dan pepotoan di tengah jalan raya yang biasanya dipadati kendaraan? 

Hmm. Sayangnya itu sudah masa lalu. Selasa Wagen era sekarang agak berbeda detil pelaksanaannya. Sama menariknya dengan format lama, tetapi berlainan nuansa.

Begitulah adanya Malioboro dan Yogyakarta. Sangat dinamis perkembangan terkininya ...


Senin, 02 Maret 2026

Jajan Papeda di Jogja

40 komentar

HALO, Sobat Pikiran Positif. Masih berpuasa? Okelah kalau begitu. Berarti inilah saat tepat untuk menggodamu yang sedang berpuasa. Terutama jika sedang lemas-lemasnya. Haha!

Yoiii. Sekarang aku mau ngomongin makanan yang bakda Magrib kemarin kubeli di Plataran Masjid Gedhe Kauman. Ceritanya aku ikutan pengajian jelang buka puasa di masjid itu. Kemudian sekalian Salat Magrib berjamaah. 

Nah. Habis Magriban aku pulang. Dalam perjalanan pulang itulah aku melirik sana-sini. Di plataran tersebut, baik saat Ramadan maupun bukan Ramadan, memang selalu ada penjual jajanan yang berderetan menggoda iman.

Kebetulan sewaktu lewat lapak penjual papeda, kondisinya sepi tanpa pembeli. Terpantik rasa penasaran sekaligus keinginan untuk jajan dan melarisi pedagang kecil, mampirlah aku. Karena ada tulisan PAPEDA 2.500 di gerobak penjualnya, kupesan 5.000 yang berarti dapat 2 papeda. 

Uangku 10.000. Mau sekalian beli 4 aku ragu. Kalau ternyata tidak doyan 'kan gawat. Bisa susah payah untuk menghabiskannya nanti. Kalau dibuang sayang. Lagi pula, aku adalah pembenci orang-orang yang hobi bikin food waste. Nggak konsekuen dong, jadinya.

"Beli 2 ya, Pak."

"Dua saja? Pedas atau tidak?"

"Iya 2 saja. Pedas.

Si penjual pun sigap memanaskan 2 teflon berukuran sedang. Setelah dirasa cukup panas, dituangkannya cairan putih encer ke tiap teflon. Yang kemudian kuketahui kalau itu cairan tepung kanji. 

Selanjutnya, ke atas masing-masing teflon dipecahkan sebutir telur puyuh. Dengan sigap, sang penjual langsung meratakan telur ke seluruh bagian cairan tepung kanji.

Berhubung aku minta pedas, di atas tiap teflon ditaburi lumayan banyak bubuk cabai. Yang setelah kucicipi saat tiba di rumah, ternyata bubuk cabainya enak bangeeet. Kayak ada campuran kacang tanahnya.

Si penjual menggulung papeda setelah dirasa matang. Sebelum diserahkan kepadaku, dia menawarkan mau pakai kecap dan saus atau tidak. Kujawab tidak. Kubayangkan, citarasa autentiknya bisa hilang kalau dimakan pakai saus dan kecap.

Sampai di sini kalian mungkin ingin berkomentar, "Papeda kok kayak gitu? Itu telur gulung campur kanji namanya." 

Hehehe ... Mula-mula aku juga berpikiran begitu. Setahuku papaeda berbentuk mirip bubur. Dimakan pakai kuah kuning. Sewaktu kupotret dan kemudian hasilnya kupamerkan ke seorang teman, dia berkomentar senada.

Ternyata, oh, rupanya. Setelah aku googling kutemukan ini.

Hehe .... Rupanya justru kami berdua yang kurang up date. Parah, parah. Sudah protes-protes ternyata salah pula. 

Ngomong-ngomong, papeda telur puyuh yang kubeli rasanya lumayan enak. Akan tetapi, kalau dimakan di tempat umum berpotensi mengurangi keanggunan. Ingatlah bahwa bahan dasar papeda adalah tepung kanji. Automatis molor, dong. Nah. Saat digigit bisa elastis, tuh. Isian bubuk cabainya bisa pula ikut berantakan alias nyeprat-nyepret.

Ngomong-ngomong, kalian sudah ada yang pernah jajan papeda gulung seperti ini? Menurut kalian, perbandingan citarasanya dengan yang papeda aseli gimana?


Senin, 23 Februari 2026

Imlek 2026 di Malioboro dsk

23 komentar

HALO, Sobat Pikiran Positif? Selamat menjalankan rangkaian ibadah Ramadan, ya. Tentu ucapan ini spesial buat kamu dan kamu yang menjalankannya. Kalau kamu (meskipun beragama Islam) tidak menjalankan ibadah Ramadan, pastilah tidak termasuk target ucapan spesial tersebut. Haha ... 

Amboi. Belibet nian paragraf pembuka tulisan ini 'kan? Eeetapi jangan apriori dulu untuk lanjut baca hingga tuntas. Dijamin paragraf-paragraf selanjutnya tidak belibet. Sebab pada dasarnya hanya akan bercerita melalui foto-foto, tentang nuansa Imlek 2026 di Malioboro dsk. Apa itu dsk? Sudah pasti singkatan "dan sekitarnya", dong.

Mengapa tidak Malioboro saja? Mengapa mesti diembel-embeli dsk? Lhah, gimana? Karena memang foto-foto bernuansa Imlek yang kupamerkan di sini tidak cuma yang ada di Malioboro, tetapi yang ada di Stasiun Yogyakarta dan area Titik Nol juga.

Baik. Mari mulai dari foto paling atas. Yang ada kudanya itu. Yang menunjukkan kalau Imlek 2026 adalah memasuki Tahun Kuda Api. Foto tersebut aku jepret di dekat perempatan Titik Nol Jogja. Tepatnya yang di trotoar depan Gedung Agung (Istana Kepresidenan Yogyakarta).

Kemudian dua foto di bawah ini. Lampion-lampion merah itu menghiasi tiap sudut jalan di seantero Kawasan Malioboro. Menyelinap di antara pengunjung Malioboro. Menemani mereka yang nongki-nongki di situ.

Tentu yang paling istimewa di sekitaran mulut gang Kampoeng Ketandan.Depan mulut gang dihiasi deretan lampion merah cerah. Sungguh menarik dan bikin aku yang penyuka merah menjadi amat antusias.

Perlu diketahui, lusa hingga awal Maret Kampoeng Ketandan bakal makin meriah. Yup, akan ada PBTY (Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta) 2026. Nah, lho. Baru membayangkan saja sudah riuh di kepala.

Kemudian tiga foto terakhir, kupamerkan foto-foto di Stasiun Yogyakarta. Tak usah bingung Stasiun Yogyakarta itu yang mana. Mari diingat-ingat saja. Stasiun Yogyakarta adalah nama resmi stasiun kereta api yang berlokasi di ujung utara Jalan Malioboro. Yang lebih terkenal dengan nama Stasiun Tugu.

Perlu diketahui bahwa selain punya nilai historis yang kental, Stasiun Yogyakarta ditahbiskan sebagai salah satu stasiun paling instagramable di Indonesia. Hmm. Apakah kamu setuju pentahbisan itu? Berdasarkan pengalamanmu bagaimana?

Ngomong-ngomong, demikian cerita nuansa Imlek 2026 dari Malioboro dsk. Semoga bermanfaat atau minimal menghibur. 



Senin, 09 Februari 2026

Larangan Merokok di Malioboro

14 komentar
Dokpri Agustina


HALO, Sobat Pikiran Positif? Belakangan ini kalian sempat berkunjung ke Malioboro? Yoiii. Malioboro yang di Yogyakarta itu. Tempatku keluyuran sepanjang waktu. 

Kalau iya, pastilah kalian sempat juga melihat emplek-emplek yang foto-fotonya kusematkan di tulisan ini. Emplek-emplek menarik yang berisi pesan menyebalkan bagi para perokok. Haha!

Betapa tidak menyebalkan kalau isinya pengingat bahwa Malioboro merupakan KTR alias Kawasan Tanpa Rokok. Mana di situ dicantumkan pula perdanya. Perda Nomor 2 Tahun 2017 tentang Kawasan Tanpa Rokok.


Dokpri Agustina


Sebetulnya suatu upaya yang bagus, sih. Malioboro 'kan sebuah kawasan publik. Destinasi wisata yang notabene penuh pengunjung. Jadi, adanya larangan merokok di situ memang tepat. Bakalan bikin nyaman banyak orang. 

Akan tetapi, apakah jalan-jalan nyaman di Malioboro tanpa asap rokok bisa terwujud? Terwujud secara permanen alias selama-lamanya? Bukan cuma pas gencar ada sosialisasi dan razia? Ehm. Saya kok pesimis. 

Sebenarnya 'kan larangan merokok di Malioboro itu sudah berlaku sejak lama. Sejak beberapa tahun lalu. Bukan baru-baru ini saja. Namun, sosialisasinya terkesan setengah hati. Begitu pula penegakan aturannya (larangannya).

Dokpri Agustina
Dokpri Agustina


Sama persis dengan larangan menyewakan skuter atau kendaraan listrik apa pun di Kawasan Malioboro. Sama persis maksudnya ya, sama-sama cuma wacana hihi ... 

Katanya dilarang, kok masih ada? Ternyata, o, rupanya. Ada semacam adu kuasa yang tak kasat mata dalam pelaksanaannya. Entahlah. Namun, lumayanlah. Masih ditulis juga larangan menyewakan kendaraan listrik itu di bawah larangan merokok.

Ngomong-ngomong, untuk pelarangan merokok di Malioboro malah aku pernah melihat sebuah keanehan. Keanehan apakah? Hmm ... satpol PP-nya merokok, dong. Tentu merokoknya bukan saat sosialisasi gencar dilakukan. Saat sudah adem ayem itu, lho. 

Coba bayangkan. Kalau kondisinya seperti itu, apa mungkin Malioboro segera bisa menjadi KTR alias Kawasan Tanpa Rokok? 'Kan jauh panggang dari api.

Semoga tulisan ini dibaca pihak berwenang. Jadi, bisa untuk bahan evaluasi.


Senin, 12 Januari 2026

Pasar Godean Yogyakarta

9 komentar

HALO, Sobat Pikiran Positif? Tak terasa 2026 telah sampai pada bulan pertama hari ke-12, ya? Nah. Apa kabar resolusi tahun barumu sejauh ini? Apakah sudah mulai diupayakan? Atau, malah pelan-pelan mulai terlupakan? Hehe ...

Kalau mulai lupa pada resolusi tahun baru, ayolah kembali diingat dan kemudian diupayakan. Senyampang hari ini Senin. Sebuah hari yang merupakan pembuka minggu. Yang harapannya membawa semangat baru juga.

Hmm. Sepertinya butuh menyimak ceritaku dulu, ya? Sebelum lanjut mengupayakan terwujudnya resolusi tahun baru itu? Oke, oke. Siapa takut untuk bercerita? Mari simak sebentar ceritaku tentang Pasar Godean

Pasar Godean terletak di Kapanewon (Kecamatan) Godean Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta. Kurang lebih 15 Km di sebelah barat Kota Yogyakarta. Dari Malioboro kita bisa naik Trans Jogja Jalur 13 untuk mencapainya.

Pasar Godean merupakan pasar tradisional dan tergolong sebagai pasar induk. Apa arti sebagai pasar induk? Artinya, pasar ini menjadi pusat distribusi utama dari komoditi-komoditi yang dibutuhkan pasar. Menjadi pengendali sekaligus acuan harga bagi pasar-pasar tradisional yang lebih kecil di sekitarnya. 

Pasar induk berbasis grosir, tetapi juga melayani pembelian eceran. Tidak mengherankan kalau segala rupa kebutuhan tersedia di sana. Oleh karena itu,  pasar induk selalu luas dan terletak di lokasi strategis.

Nah. Seperti itulah Pasar Induk Godean. Berada di tepi jalan utama yang menghubungkan Kota Yogyakarta dan Godean. Bangunannya luas, bahkan setelah dipugar (revitalisasi) terdiri atas 3 lantai. Fasilitasnya komplet. Ada parkiran memadai, toilet, musala, lift untuk barang, dan jalur khusus disabilitas. 

Dua foto berikut adalah penampakan Pasar Godean terkini, setelah revitalisasi, dari sisi selatan. 

Perlu diketahui bahwa dahulu sisi selatan itu merupakan bagian depan. Adapun setelah revitalisasi menjadi bagian belakang. Jadi, dahulu Pasar Godean menghadap ke selatan dan sekarang menghadap ke utara. Ada perubahan letak pintu masuk utama.

Perlu diketahui juga bahwa perubahan pintu masuk utama bagi sebuah pasar, acap kali dikaitkan dengan datangnya rezeki. Entahlah kebenarannya bagaimana. Hanya saja, konon Pasar Godean tak seramai ketika masih menghadap selatan. Ketika pintu masuk utamanya langsung berhadapan dengan Jalan Raya Yogyakarta-Godean.

Aku sih, antara percaya tidak percaya. Kesan lebih sepi bisa jadi karena kini lebih rapi. Dahulu 'kan bagian depan pasar terlihat semrawut. Campur baur antara parkiran dan kios-kios yang menjual keripik belut. Plus dekat bangjo perempatan jalan raya. 

Tahu sendirilah, ya. Bagaimana ruwetnya campuran antara situasi pasar yang agak tumpah ke jalan (bahkan dekat perempatan pula), dengan padatnya lalu lintas yang sebagian melaju sebab bangjo menyala hijau dan sebagian berhenti tepat di depan pasar karena bangjo menyala merah.

Sementara sekarang sangat berbeda. Arus keluar-masuk pengunjung Pasar Godean tidak lagi dari jalan raya dekat perempatan. Malah kini ada pagar kokoh yang membatasi jalan raya itu dengan bangunan pasar. Plus ada jarak lumayan jauh dari pagar ke deretan lapak-lapak penjual. 

Lapak-lapak penjual di dalam pasar pun lebih tertata. Dikelompokkan sesuai dengan jenis komoditi yang dijual. Lebih lapang juga sehingga wajar kalau terkesan lebih sepi. 

Terlebih kalau melihatnya dari sisi selatan yang notabene bagian belakang. Orang-orang 'kan masuk dari pintu depan yang ada di utara. Parkirannya memang di utara sana. Bongkar muat barang juga demikian. Jadi kalau cuma melihat dari luar di sisi selatan pasar, memang terkesan tak ada orang. 

Sebelum revitalisasi, sebagian aktivitas jual beli terlihat dari jalan. Maklumlah. Lapak-lapak sebagian memang di luar pasar. Sekarang 'kan beda. Teras sisi selatan bersih dari pedagang. Alhasil, aku dan dua teman leluasa pepotoan di situ. 

Usai pepotoan dan ambil video, kami nongkrong di tempat rehat yang tersedia. Kami pilih yang ada bangkunya. Dua foto berikut adalah penampakan tempat rehat di tengah bangunan Pasar Godean. Lumayan Instagramable 'kan?


Yang menarik, di Pasar Godean ada makam dan monumen. Monumen ada di bagian utara pasar. Penampakannya dalam foto berikut ini. Sayang banget aku cuma memotret dari atas. Jadi, tulisan pada monumen tetap susah dibaca walaupun di-zoom. 

Mengapa tidak mendekat saja? Nah, itulah masalah. Aku lupa mendekatinya sewaktu sudah turun. Malah langsung pulang. Akan tetapi, kata seorang teman yang biasa berbelanja di Pasar Godean, itu monumen tentang perjuangan kemerdekaan.


Lalu, di mana makamnya? Dalam foto di bawah ini aku sedang berjalan melintasi makam. Makamnya tepat di sebelah kiriku. Di dalam area berpagar dan di dalam bangunan yang temboknya berwarna merah bata. 

Silakan cermati foto paling atas yang ada di artikel ini. Di belakang tulisan "Pasar Induk Godean" itulah lokasi makamnya. Ada 2 nisan di situ, yaitu nisan Mbah Jembrak dan nisan sang istri. 

Siapa mereka? Konon mereka adalah pengikut Pangeran Diponegoro. Konon pula sesepuh daerah situ. Yang jelas, yang tidak sekadar konon, makam tersebut sudah berada di situ jauh sebelum Pasar Godean berdiri.


Demikian cerita singkatku tentang Pasar Induk Godean. Semoga bermanfaat. Pun, menarik minat kalian untuk mengunjunginya. 

Ayolah, singgah ke pasar ini untuk membeli keripik belut. Yup! Pasar Godean memang sentra oleh-oleh keripik belut di Yogyakarta. 



Senin, 15 Desember 2025

Kampoeng Cyber Tamansari

16 komentar

HALO, Sobat Pikiran Positif? Liburan Natal dan akhir tahun makin dekat, ya? Liburan sekolah juga demikian. Hari-hari ini anak-anak sekolah sedang bersiap menerima rapor 'kan? 

Seperti biasanya, aku pun terlibat dalam hiruk-pikuk suasana liburan. Tepatnya sih, mau tidak mau terlibat. Kiranya itulah konsekuensi logis dari berdomisili di kampung yang merupakan kampung wisata. 

Sudah begitu, dekat pula dengan sejumlah spot wisata lain yang ada di jantung Kota Yogyakarta. Salah satunya Kampoeng Cyber Tamansari. Hmm. Apakah kalian pernah singgah di kampung tersebut?

Kalau belum, berarti kalian kalah dong dari sang pendiri Facebook. Mark Zuckerberg, orang nomor satu di Facebook itu, sudah mendatangi Kampoeng Cyber Tamansari pada tahun 2014. 

Mark tertarik untuk berkunjung sebab warga Kampoeng Cyber Tamansari sudah memanfaatkan internet dalam kehidupan sehari-hari mereka. Terutama untuk keperluan pengembangan bisnis UMKM. Keren 'kan?

Jangan lupa. Tatkala itu tahun 2014. Medsos belum banyak. Masih Facebook yang berjaya. Pun, masyarakat belum familiar dengan internet. Maka wajarlah kalau Mark sampai bela-belain datang ke Yogyakarta.

Mungkin kalian bertanya-tanya. Kok warga kampung tersebut pintar berinternet? Pintar, dong. 'Kan ada tokoh setempat yang piawai internetan dan bersedia menularkan kepintarannya itu kepada para tetangga. 

Ngomong-ngomong, mari teliti foto-foto yang kusuguhkan di sini. Ingat-ingatlah baik-baik. Siapa tahu kalian dulu pernah melewatinya tanpa sengaja? Tanpa paham kalau sesungguhnya sedang berada di area Kampoeng Cyber Tamansari Kota Yogyakarta.



Di atas adalah mulut gang menuju RT 36 Kampung Taman, yakni Kampoeng Cyber itu. Sementara di bawah adalah papan nama sekaligus petunjuk arah yang tertempel pada tembok salah satu rumah warga.


Di dalam kampung, ada pula papan petunjuk elektrik. Sebagaimana yang tampak pada foto di bawah ini.


Menyusuri jalanan di Kampoeng Cyber Tamansari terasa menyenangkan. Mengapa? Sebab banyak mural. Mari simak beberapa foto berikut ini.

Uniknya, ada tembok rumah yang dicat putih dan cuma ditulisi kalimat pendek dalam bahasa Inggris. Love is beautiful. Hurufnya dibuat dengan cat warna merah menyala. Entahlah. Itu termasuk mural atau tidak.

O, ya. Ada kejadian lucu ketika aku sedang berpose di depan mural yang ada di ujung kampung. Tiba-tiba saja seorang bocil mendekat. Dia minta dipotret di spot yang sama.


Selain mural, rumah-rumah di situ ada pula yang bentuknya unik atau dicat unik. Mari simak foto-foto berikut.

Nah. Menurut kalian bagaimana? Kampoeng Cyber Tamansari Kota Yogyakarta menarik atau tidak? Layak dimasukkan ke dalam daftar tempat yang wajib dikunjungi atau tidak?


 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template