Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Mei 2026

Pepotoan di Tamansari dan Sekitarnya

24 komentar
HALO, Sobat Pikiran Positif? Aku mau pamer foto-foto, nih. Haha! Sengaja pamer fotonya aku garis bawahi tebal-tebal, ya. Karena memang niatnya hendak pamer foto. Mumpung aku pakai merah menyala tiada tara. Hehehe ...

Jadi begini. Rabu lalu setelah long weekend, aku dan dua kawan blusukan ke Tamansari dan sekitarnya. Tidak mau kalah dari wisatawan luar kota, dong. Lagi pula, satu kawan (yang tidak berkostum merah) itungannya dari luar kota juga. 

Dia tinggal di Jalan Kaliurang bagian atas. Bukan akamsi seperti aku dan temanku yang pakai jersey Arsenal itu. Kalau kami berdua 'kan berdomisili di Kota Yogyakarta. Di sekitaran Tamansari pula. Akamsi banget 'kan?

Nah, blusukan kami jadwalkan Rabu. Bertepatan dengan tanggal 20 Mei, Hari Kebangkitan Nasional. 

Bertepatan pula dengan kesuksesan Arsenal megang piala setelah 22 tahun berpuasa gelar. Itulah sebabnya temanku yang suporter setia Arsenal merayakannya dengan pakai jersey itu. 

Adapun aku sebagai suporter setia MU, berbesar hati ikut merayakannya. Pakai merah, sebab merah juga warna kebanggaan MU. Yaelah. Penting banget membahas warna merah di sini. Haha!


Kami sepakat ngumpul di Pasar Ngasem pukul 7 pagi. Yang ternyata ... ramai bangeeet. Penuh wisatawan yang antre buat beli sarapan. Sebab terlalu ramai, kami sampai kesulitan untuk saling menemukan. 

Sungguh tak terduga. Rabu-rabu kok ya serasa akhir pekan. Serasa long weekend. Ya sudah. Akhirnya kami langsung meninggalkan tikum. Menuju ke barat. Ke bekas kampus Universitas Widya Mataram Yogyakarta.


Di satu sudut sepi yang ada bunga kambojanya, tetapi bukan kuburan, aku disuruh berpose oleh temanku. Entah apa tujuannya. Aku pun patuh-patuh saja. Entah apa pula motivasiku saat itu. 

Eh, malah patuh lagi ketika disuruh berpose di depan pintu estetik yang ... sesungguhnya terasa kurang nyaman di hati saat itu. Aku sampai minta izin; bilang permisi dan ucap salam, lho. Alhamdulillah tak ada dampak apa-apa.

Nah. Kalau yang di atas itu memang akunya yang niat narsis. Alasannya apa? Ya senang saja nemu latar belakang yang kontras dengan baju dan kerudung. Haha! Hasilnya oke juga "kan? Jarang lho, aku berani pede dalam berpose.

Dua foto berikutnya adalah swafoto kami bertiga di bekas Kampus Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY). Yang juga merupakan ndalem Mangkubumen. Suasananya sepi, lho. Itulah sebabnya kami pede buat berpose-pose. 

Eh? Ada seorang sekuriti yang kesepian, sih. Ia bertugas sendirian saja. Bukan sekuriti Kampus UWMY, melainkan sekuriti Sekolah Tumbuh. Sepertinya tingkat SD. Entahlah. Tapi ya itungannya memang sepi. Tidak seperti SD pada umumnya yang punya banyak siswa. 

Mungkin kalian bertanya-tanya. Pindah ke mana Kampus UWMY-nya? Mengapa pindah? Begini. Pindahnya ke Kampus Terpadu yang ada di Banyuraden Kapanewon Gamping Sleman DIY. Sementara nDalem Mangkubumen yang bersejarah ini, kembali dikelola Kraton Yogyakarta sepenuhnya. 


Swafoto berikutnya lagi, satu suporter Arsenal dan satu suporter MU, juga berlatar belakang bekas Kampus UWMY. Luar biasa glowing 'kan kami? Hihi ... Itu bukan kameranya, melainkan cahaya mataharinya yang pas. Kebetulan si kamera kalau cocok formula cahaya alaminya, hasilnya ngedab-ngedabi. Glowing maksimal. Ckckck. Sungguh pembohongan terhadap publik.

Akhirnya foto terakhir adalah aku bersama si Arsenal itu lagi. Itu berfotonya di Gedong Carik. Kalau kalian pernah ke Tamansari Watercastle Yogyakarta dan pemandunya eksploratif, kemungkinan besar kalian pernah ke sini.


Oiyaaa. Nyaris lupa menjelaskan dua fotoku yang paling atas dan tepat persis setelahnya. Itu aku berpose di area Tamansari juga, tetapi yang paling pinggir selatan. Jadi kalau tidak eksploratif, walaupun kalian sudah ke Tamansari yang kolam-kolam itu, bisa jadi belum sampai sini. Yang itu berada persis di belakang SMPN 16 Kota Yogyakarta.

Senin, 02 Maret 2026

Jajan Papeda di Jogja

40 komentar

HALO, Sobat Pikiran Positif. Masih berpuasa? Okelah kalau begitu. Berarti inilah saat tepat untuk menggodamu yang sedang berpuasa. Terutama jika sedang lemas-lemasnya. Haha!

Yoiii. Sekarang aku mau ngomongin makanan yang bakda Magrib kemarin kubeli di Plataran Masjid Gedhe Kauman. Ceritanya aku ikutan pengajian jelang buka puasa di masjid itu. Kemudian sekalian Salat Magrib berjamaah. 

Nah. Habis Magriban aku pulang. Dalam perjalanan pulang itulah aku melirik sana-sini. Di plataran tersebut, baik saat Ramadan maupun bukan Ramadan, memang selalu ada penjual jajanan yang berderetan menggoda iman.

Kebetulan sewaktu lewat lapak penjual papeda, kondisinya sepi tanpa pembeli. Terpantik rasa penasaran sekaligus keinginan untuk jajan dan melarisi pedagang kecil, mampirlah aku. Karena ada tulisan PAPEDA 2.500 di gerobak penjualnya, kupesan 5.000 yang berarti dapat 2 papeda. 

Uangku 10.000. Mau sekalian beli 4 aku ragu. Kalau ternyata tidak doyan 'kan gawat. Bisa susah payah untuk menghabiskannya nanti. Kalau dibuang sayang. Lagi pula, aku adalah pembenci orang-orang yang hobi bikin food waste. Nggak konsekuen dong, jadinya.

"Beli 2 ya, Pak."

"Dua saja? Pedas atau tidak?"

"Iya 2 saja. Pedas.

Si penjual pun sigap memanaskan 2 teflon berukuran sedang. Setelah dirasa cukup panas, dituangkannya cairan putih encer ke tiap teflon. Yang kemudian kuketahui kalau itu cairan tepung kanji. 

Selanjutnya, ke atas masing-masing teflon dipecahkan sebutir telur puyuh. Dengan sigap, sang penjual langsung meratakan telur ke seluruh bagian cairan tepung kanji.

Berhubung aku minta pedas, di atas tiap teflon ditaburi lumayan banyak bubuk cabai. Yang setelah kucicipi saat tiba di rumah, ternyata bubuk cabainya enak bangeeet. Kayak ada campuran kacang tanahnya.

Si penjual menggulung papeda setelah dirasa matang. Sebelum diserahkan kepadaku, dia menawarkan mau pakai kecap dan saus atau tidak. Kujawab tidak. Kubayangkan, citarasa autentiknya bisa hilang kalau dimakan pakai saus dan kecap.

Sampai di sini kalian mungkin ingin berkomentar, "Papeda kok kayak gitu? Itu telur gulung campur kanji namanya." 

Hehehe ... Mula-mula aku juga berpikiran begitu. Setahuku papaeda berbentuk mirip bubur. Dimakan pakai kuah kuning. Sewaktu kupotret dan kemudian hasilnya kupamerkan ke seorang teman, dia berkomentar senada.

Ternyata, oh, rupanya. Setelah aku googling kutemukan ini.

Hehe .... Rupanya justru kami berdua yang kurang up date. Parah, parah. Sudah protes-protes ternyata salah pula. 

Ngomong-ngomong, papeda telur puyuh yang kubeli rasanya lumayan enak. Akan tetapi, kalau dimakan di tempat umum berpotensi mengurangi keanggunan. Ingatlah bahwa bahan dasar papeda adalah tepung kanji. Automatis molor, dong. Nah. Saat digigit bisa elastis, tuh. Isian bubuk cabainya bisa pula ikut berantakan alias nyeprat-nyepret.

Ngomong-ngomong, kalian sudah ada yang pernah jajan papeda gulung seperti ini? Menurut kalian, perbandingan citarasanya dengan yang papeda aseli gimana?


Senin, 23 Februari 2026

Imlek 2026 di Malioboro dsk

23 komentar

HALO, Sobat Pikiran Positif? Selamat menjalankan rangkaian ibadah Ramadan, ya. Tentu ucapan ini spesial buat kamu dan kamu yang menjalankannya. Kalau kamu (meskipun beragama Islam) tidak menjalankan ibadah Ramadan, pastilah tidak termasuk target ucapan spesial tersebut. Haha ... 

Amboi. Belibet nian paragraf pembuka tulisan ini 'kan? Eeetapi jangan apriori dulu untuk lanjut baca hingga tuntas. Dijamin paragraf-paragraf selanjutnya tidak belibet. Sebab pada dasarnya hanya akan bercerita melalui foto-foto, tentang nuansa Imlek 2026 di Malioboro dsk. Apa itu dsk? Sudah pasti singkatan "dan sekitarnya", dong.

Mengapa tidak Malioboro saja? Mengapa mesti diembel-embeli dsk? Lhah, gimana? Karena memang foto-foto bernuansa Imlek yang kupamerkan di sini tidak cuma yang ada di Malioboro, tetapi yang ada di Stasiun Yogyakarta dan area Titik Nol juga.

Baik. Mari mulai dari foto paling atas. Yang ada kudanya itu. Yang menunjukkan kalau Imlek 2026 adalah memasuki Tahun Kuda Api. Foto tersebut aku jepret di dekat perempatan Titik Nol Jogja. Tepatnya yang di trotoar depan Gedung Agung (Istana Kepresidenan Yogyakarta).

Kemudian dua foto di bawah ini. Lampion-lampion merah itu menghiasi tiap sudut jalan di seantero Kawasan Malioboro. Menyelinap di antara pengunjung Malioboro. Menemani mereka yang nongki-nongki di situ.

Tentu yang paling istimewa di sekitaran mulut gang Kampoeng Ketandan.Depan mulut gang dihiasi deretan lampion merah cerah. Sungguh menarik dan bikin aku yang penyuka merah menjadi amat antusias.

Perlu diketahui, lusa hingga awal Maret Kampoeng Ketandan bakal makin meriah. Yup, akan ada PBTY (Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta) 2026. Nah, lho. Baru membayangkan saja sudah riuh di kepala.

Kemudian tiga foto terakhir, kupamerkan foto-foto di Stasiun Yogyakarta. Tak usah bingung Stasiun Yogyakarta itu yang mana. Mari diingat-ingat saja. Stasiun Yogyakarta adalah nama resmi stasiun kereta api yang berlokasi di ujung utara Jalan Malioboro. Yang lebih terkenal dengan nama Stasiun Tugu.

Perlu diketahui bahwa selain punya nilai historis yang kental, Stasiun Yogyakarta ditahbiskan sebagai salah satu stasiun paling instagramable di Indonesia. Hmm. Apakah kamu setuju pentahbisan itu? Berdasarkan pengalamanmu bagaimana?

Ngomong-ngomong, demikian cerita nuansa Imlek 2026 dari Malioboro dsk. Semoga bermanfaat atau minimal menghibur. 



Senin, 16 Februari 2026

KASM di Malioboro Yogyakarta

15 komentar


 

HALO, Sobat Pikiran Positif? Sebentar lagi Imlek dan Ramadan, nih. Seru dan unik, ya? Dua momentum besar tersebut bisa kita (bangsa Indonesia) hadapi dalam satu jangka waktu. Jarang terjadi 'kan? 

Eh, tapi aku sekarang tidak hendak ngomongin Imlek dan Ramadan. Insyaallah nanti di postingan selanjutnya. Karena kali ini, aku mau ngomongin KASM yang ada di Malioboro dulu.

Apa itu KASM? Tak lain dan tak bukan  itu singkatan dari Kran Air Siap Minum. Jadi, air yang mengucur dari kran yang kita buka, bisa langsung diminum. Tak perlu dimasak terlebih dahulu.

Jadi misalnya kita bawa gelas dan sendok plus kopi yang bisa diseduh dengan air bukan air panas, bisa banget ngopi-ngopi santai di tempat. Tinggal pilih KASM yang berlokasi di mana. Hehe ...

Nah. Di sini aku bermaksud menginformasikan KASM yang ada di kawasan Malioboro. Siapa tahu di antara kalian ada yang belum tahu tentangnya?

Begini. Setelah peranti-peranti KASM di kawasan tersebut rusak beberapa tahun silam, yang berujung "bangkainya" tak lagi ketahuan rimbanya, syukurlah memasuki tahun 2026, KASM diadakan lagi. Semoga kemunculannya kali ini awet. Keterlaluan kalau rusak lagi, rusak lagi.

Perlu diketahui, ada 5 KASM yang tersebar di kawasan Malioboro. Di mana sajakah itu? Mari kita mulai mengabsen dari selatan, yaitu dari area Titik Nol. 

KASM yang ada di sisi barat jalan terletak di depan Gedung Agung (Istana Kepresidenan Yogyakarta). Sementara yang di sisi timur jalan terletak di depan Museum Benteng Vredeburg (persis di belakang halte TransJogja).

Adapun 3 lainnya terletak lebih ke utara. Yang 2 di sisi timur jalan, yaitu di pintu barat Kompleks Kepatihan dan di depan Hotel Grand Inna Malioboro. Yang 1 lagi ada di sisi barat jalan. Tepatnya di depan Jogja Library Center.


Dokpri Agustina

Silakan ingat-ingat, terutama buat kalian yang baru-baru ini habis berkunjung ke Malioboro, kalian menjumpai KASM-KASM itu atau tidak? Atau, malah sudah memanfaatkannya?

Kiranya sekian informasi tentang Kran Air Siap Minum (KASM) yang ada di kawasan Malioboro Yogyakarta. Semoga bermanfaat. Tunggu ceritaku lainnya tentang Yogyakarta.



Senin, 09 Februari 2026

Larangan Merokok di Malioboro

14 komentar
Dokpri Agustina


HALO, Sobat Pikiran Positif? Belakangan ini kalian sempat berkunjung ke Malioboro? Yoiii. Malioboro yang di Yogyakarta itu. Tempatku keluyuran sepanjang waktu. 

Kalau iya, pastilah kalian sempat juga melihat emplek-emplek yang foto-fotonya kusematkan di tulisan ini. Emplek-emplek menarik yang berisi pesan menyebalkan bagi para perokok. Haha!

Betapa tidak menyebalkan kalau isinya pengingat bahwa Malioboro merupakan KTR alias Kawasan Tanpa Rokok. Mana di situ dicantumkan pula perdanya. Perda Nomor 2 Tahun 2017 tentang Kawasan Tanpa Rokok.


Dokpri Agustina


Sebetulnya suatu upaya yang bagus, sih. Malioboro 'kan sebuah kawasan publik. Destinasi wisata yang notabene penuh pengunjung. Jadi, adanya larangan merokok di situ memang tepat. Bakalan bikin nyaman banyak orang. 

Akan tetapi, apakah jalan-jalan nyaman di Malioboro tanpa asap rokok bisa terwujud? Terwujud secara permanen alias selama-lamanya? Bukan cuma pas gencar ada sosialisasi dan razia? Ehm. Saya kok pesimis. 

Sebenarnya 'kan larangan merokok di Malioboro itu sudah berlaku sejak lama. Sejak beberapa tahun lalu. Bukan baru-baru ini saja. Namun, sosialisasinya terkesan setengah hati. Begitu pula penegakan aturannya (larangannya).

Dokpri Agustina
Dokpri Agustina


Sama persis dengan larangan menyewakan skuter atau kendaraan listrik apa pun di Kawasan Malioboro. Sama persis maksudnya ya, sama-sama cuma wacana hihi ... 

Katanya dilarang, kok masih ada? Ternyata, o, rupanya. Ada semacam adu kuasa yang tak kasat mata dalam pelaksanaannya. Entahlah. Namun, lumayanlah. Masih ditulis juga larangan menyewakan kendaraan listrik itu di bawah larangan merokok.

Ngomong-ngomong, untuk pelarangan merokok di Malioboro malah aku pernah melihat sebuah keanehan. Keanehan apakah? Hmm ... satpol PP-nya merokok, dong. Tentu merokoknya bukan saat sosialisasi gencar dilakukan. Saat sudah adem ayem itu, lho. 

Coba bayangkan. Kalau kondisinya seperti itu, apa mungkin Malioboro segera bisa menjadi KTR alias Kawasan Tanpa Rokok? 'Kan jauh panggang dari api.

Semoga tulisan ini dibaca pihak berwenang. Jadi, bisa untuk bahan evaluasi.


Senin, 12 Januari 2026

Pasar Godean Yogyakarta

9 komentar

HALO, Sobat Pikiran Positif? Tak terasa 2026 telah sampai pada bulan pertama hari ke-12, ya? Nah. Apa kabar resolusi tahun barumu sejauh ini? Apakah sudah mulai diupayakan? Atau, malah pelan-pelan mulai terlupakan? Hehe ...

Kalau mulai lupa pada resolusi tahun baru, ayolah kembali diingat dan kemudian diupayakan. Senyampang hari ini Senin. Sebuah hari yang merupakan pembuka minggu. Yang harapannya membawa semangat baru juga.

Hmm. Sepertinya butuh menyimak ceritaku dulu, ya? Sebelum lanjut mengupayakan terwujudnya resolusi tahun baru itu? Oke, oke. Siapa takut untuk bercerita? Mari simak sebentar ceritaku tentang Pasar Godean

Pasar Godean terletak di Kapanewon (Kecamatan) Godean Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta. Kurang lebih 15 Km di sebelah barat Kota Yogyakarta. Dari Malioboro kita bisa naik Trans Jogja Jalur 13 untuk mencapainya.

Pasar Godean merupakan pasar tradisional dan tergolong sebagai pasar induk. Apa arti sebagai pasar induk? Artinya, pasar ini menjadi pusat distribusi utama dari komoditi-komoditi yang dibutuhkan pasar. Menjadi pengendali sekaligus acuan harga bagi pasar-pasar tradisional yang lebih kecil di sekitarnya. 

Pasar induk berbasis grosir, tetapi juga melayani pembelian eceran. Tidak mengherankan kalau segala rupa kebutuhan tersedia di sana. Oleh karena itu,  pasar induk selalu luas dan terletak di lokasi strategis.

Nah. Seperti itulah Pasar Induk Godean. Berada di tepi jalan utama yang menghubungkan Kota Yogyakarta dan Godean. Bangunannya luas, bahkan setelah dipugar (revitalisasi) terdiri atas 3 lantai. Fasilitasnya komplet. Ada parkiran memadai, toilet, musala, lift untuk barang, dan jalur khusus disabilitas. 

Dua foto berikut adalah penampakan Pasar Godean terkini, setelah revitalisasi, dari sisi selatan. 

Perlu diketahui bahwa dahulu sisi selatan itu merupakan bagian depan. Adapun setelah revitalisasi menjadi bagian belakang. Jadi, dahulu Pasar Godean menghadap ke selatan dan sekarang menghadap ke utara. Ada perubahan letak pintu masuk utama.

Perlu diketahui juga bahwa perubahan pintu masuk utama bagi sebuah pasar, acap kali dikaitkan dengan datangnya rezeki. Entahlah kebenarannya bagaimana. Hanya saja, konon Pasar Godean tak seramai ketika masih menghadap selatan. Ketika pintu masuk utamanya langsung berhadapan dengan Jalan Raya Yogyakarta-Godean.

Aku sih, antara percaya tidak percaya. Kesan lebih sepi bisa jadi karena kini lebih rapi. Dahulu 'kan bagian depan pasar terlihat semrawut. Campur baur antara parkiran dan kios-kios yang menjual keripik belut. Plus dekat bangjo perempatan jalan raya. 

Tahu sendirilah, ya. Bagaimana ruwetnya campuran antara situasi pasar yang agak tumpah ke jalan (bahkan dekat perempatan pula), dengan padatnya lalu lintas yang sebagian melaju sebab bangjo menyala hijau dan sebagian berhenti tepat di depan pasar karena bangjo menyala merah.

Sementara sekarang sangat berbeda. Arus keluar-masuk pengunjung Pasar Godean tidak lagi dari jalan raya dekat perempatan. Malah kini ada pagar kokoh yang membatasi jalan raya itu dengan bangunan pasar. Plus ada jarak lumayan jauh dari pagar ke deretan lapak-lapak penjual. 

Lapak-lapak penjual di dalam pasar pun lebih tertata. Dikelompokkan sesuai dengan jenis komoditi yang dijual. Lebih lapang juga sehingga wajar kalau terkesan lebih sepi. 

Terlebih kalau melihatnya dari sisi selatan yang notabene bagian belakang. Orang-orang 'kan masuk dari pintu depan yang ada di utara. Parkirannya memang di utara sana. Bongkar muat barang juga demikian. Jadi kalau cuma melihat dari luar di sisi selatan pasar, memang terkesan tak ada orang. 

Sebelum revitalisasi, sebagian aktivitas jual beli terlihat dari jalan. Maklumlah. Lapak-lapak sebagian memang di luar pasar. Sekarang 'kan beda. Teras sisi selatan bersih dari pedagang. Alhasil, aku dan dua teman leluasa pepotoan di situ. 

Usai pepotoan dan ambil video, kami nongkrong di tempat rehat yang tersedia. Kami pilih yang ada bangkunya. Dua foto berikut adalah penampakan tempat rehat di tengah bangunan Pasar Godean. Lumayan Instagramable 'kan?


Yang menarik, di Pasar Godean ada makam dan monumen. Monumen ada di bagian utara pasar. Penampakannya dalam foto berikut ini. Sayang banget aku cuma memotret dari atas. Jadi, tulisan pada monumen tetap susah dibaca walaupun di-zoom. 

Mengapa tidak mendekat saja? Nah, itulah masalah. Aku lupa mendekatinya sewaktu sudah turun. Malah langsung pulang. Akan tetapi, kata seorang teman yang biasa berbelanja di Pasar Godean, itu monumen tentang perjuangan kemerdekaan.


Lalu, di mana makamnya? Dalam foto di bawah ini aku sedang berjalan melintasi makam. Makamnya tepat di sebelah kiriku. Di dalam area berpagar dan di dalam bangunan yang temboknya berwarna merah bata. 

Silakan cermati foto paling atas yang ada di artikel ini. Di belakang tulisan "Pasar Induk Godean" itulah lokasi makamnya. Ada 2 nisan di situ, yaitu nisan Mbah Jembrak dan nisan sang istri. 

Siapa mereka? Konon mereka adalah pengikut Pangeran Diponegoro. Konon pula sesepuh daerah situ. Yang jelas, yang tidak sekadar konon, makam tersebut sudah berada di situ jauh sebelum Pasar Godean berdiri.


Demikian cerita singkatku tentang Pasar Induk Godean. Semoga bermanfaat. Pun, menarik minat kalian untuk mengunjunginya. 

Ayolah, singgah ke pasar ini untuk membeli keripik belut. Yup! Pasar Godean memang sentra oleh-oleh keripik belut di Yogyakarta. 



Senin, 15 Desember 2025

Kampoeng Cyber Tamansari

16 komentar

HALO, Sobat Pikiran Positif? Liburan Natal dan akhir tahun makin dekat, ya? Liburan sekolah juga demikian. Hari-hari ini anak-anak sekolah sedang bersiap menerima rapor 'kan? 

Seperti biasanya, aku pun terlibat dalam hiruk-pikuk suasana liburan. Tepatnya sih, mau tidak mau terlibat. Kiranya itulah konsekuensi logis dari berdomisili di kampung yang merupakan kampung wisata. 

Sudah begitu, dekat pula dengan sejumlah spot wisata lain yang ada di jantung Kota Yogyakarta. Salah satunya Kampoeng Cyber Tamansari. Hmm. Apakah kalian pernah singgah di kampung tersebut?

Kalau belum, berarti kalian kalah dong dari sang pendiri Facebook. Mark Zuckerberg, orang nomor satu di Facebook itu, sudah mendatangi Kampoeng Cyber Tamansari pada tahun 2014. 

Mark tertarik untuk berkunjung sebab warga Kampoeng Cyber Tamansari sudah memanfaatkan internet dalam kehidupan sehari-hari mereka. Terutama untuk keperluan pengembangan bisnis UMKM. Keren 'kan?

Jangan lupa. Tatkala itu tahun 2014. Medsos belum banyak. Masih Facebook yang berjaya. Pun, masyarakat belum familiar dengan internet. Maka wajarlah kalau Mark sampai bela-belain datang ke Yogyakarta.

Mungkin kalian bertanya-tanya. Kok warga kampung tersebut pintar berinternet? Pintar, dong. 'Kan ada tokoh setempat yang piawai internetan dan bersedia menularkan kepintarannya itu kepada para tetangga. 

Ngomong-ngomong, mari teliti foto-foto yang kusuguhkan di sini. Ingat-ingatlah baik-baik. Siapa tahu kalian dulu pernah melewatinya tanpa sengaja? Tanpa paham kalau sesungguhnya sedang berada di area Kampoeng Cyber Tamansari Kota Yogyakarta.



Di atas adalah mulut gang menuju RT 36 Kampung Taman, yakni Kampoeng Cyber itu. Sementara di bawah adalah papan nama sekaligus petunjuk arah yang tertempel pada tembok salah satu rumah warga.


Di dalam kampung, ada pula papan petunjuk elektrik. Sebagaimana yang tampak pada foto di bawah ini.


Menyusuri jalanan di Kampoeng Cyber Tamansari terasa menyenangkan. Mengapa? Sebab banyak mural. Mari simak beberapa foto berikut ini.

Uniknya, ada tembok rumah yang dicat putih dan cuma ditulisi kalimat pendek dalam bahasa Inggris. Love is beautiful. Hurufnya dibuat dengan cat warna merah menyala. Entahlah. Itu termasuk mural atau tidak.

O, ya. Ada kejadian lucu ketika aku sedang berpose di depan mural yang ada di ujung kampung. Tiba-tiba saja seorang bocil mendekat. Dia minta dipotret di spot yang sama.


Selain mural, rumah-rumah di situ ada pula yang bentuknya unik atau dicat unik. Mari simak foto-foto berikut.

Nah. Menurut kalian bagaimana? Kampoeng Cyber Tamansari Kota Yogyakarta menarik atau tidak? Layak dimasukkan ke dalam daftar tempat yang wajib dikunjungi atau tidak?


Senin, 01 Desember 2025

Haruskah ke Malioboro?

9 komentar

HALO, Sobat Pikiran Positif? Kagetkah karena tiba-tiba Desember? Hmm, padahal rasanya baru sebulan lalu memasuki tahun 2025. Hehe ...

Enggaklah, ya. Kalau Desember hadir, berarti Januari sampai November telah mendahului hadir. Mana bisa loncat bulan?

Nah. Senyampang 2025 belum habis, apakah rencana kalian ke Yogyakarta bakalan segera dilaksanakan? Kalau iya, apakah Malioboro kalian masukkan ke dalam daftar tempat yang wajib dikunjungi? 

Lalu kalau kalian mewajibkan Malioboro untuk dikunjungi, apa alasannya? Hal apa yang paling menarik dari Malioboro? Yang menyebabkannya terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja? 

Ngomong-ngomong, sekarang emperan toko di sepanjang Malioboro relatif bersih. Tidak ada lagi deretan lapak-lapak yang jualan kaus khas Malioboro, pakaian bercorak batik, dan aneka aksesoris yang bisa dijadikan oleh-oleh bagi wisatawan. Lapak-lapak itu telah dipindahkan ke Teras Malioboro.

Nah. Menurut kalian, itu bikin kecewa atau bikin hepi sebab malah menghilangkan ciri khas Malioboro? Yuk, mari berdiskusi di kolom komentar. 



Senin, 24 November 2025

Ngaji Budaya DIY

40 komentar
HALO, Sobat Pikiran Positif? Aku mau sedikit bercerita tentang aktivitas seruku tanggal 15 November 2025 lalu. Aktivitas apakah? Tak lain dan tak bukan tentang kehadiranku dalam Ngaji Budaya DIY, yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama RI

Acara tersebut digelar dalam rangka menyambut Hari Toleransi Internasional yang jatuh pada keesokan harinya, yaitu tanggal 16 November. Bertempat di Gedung Multipurpose UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Adapun jumlah pesertanya sekitar seribuan orang. Banyak banget 'kan? Itulah sebabnya acara dibikin lesehan supaya ruangannya muat banyak orang.

Aku sempat salah duga. Semula kuduga acaranya berupa talkshow serius. Eh, ternyata malah seperti nonton pertunjukan Kiai Kanjeng dan konser Letto belaka. Hahaha ... Aku kok ya lupa kalau keduanya merupakan bintang tamu spesial. Tentu Mas Sabrang (vokalis Letto) selain melantunkan lagu-lagu indahnya yang bikin hadirin bernostalgia, juga sedikit menyampaikan orasi budaya. Terkhusus tentang harmoni dalam bertoleransi.

Begitulah adanya. Rangkaian acara berjalan lancar dari siang hingga pukul setengah lima petang. Hmm. Sebetulnya tidak perlu sampai sesore itu deh, andai kata mulainya tidak telat. Gila, gila. Molor sekali pembukaan acaranya. Jelang azan Asar baru dimulai, sedangkan undangan bagi kami tertera pukul setengah satu siang. 

O, ya. Tema acaranya "The Wonder of Harmony, Merawat Toleransi dalam Keberagaman Tradisi dan Budaya". Jangan tanyakan siapa narasumber lainnya, ya. Aku lupa. Sudah telanjur fokus banget pada Mas Sabrang dan Letto-nya. Hehehe ...


Senin, 10 November 2025

Sang Pahlawan Kebersihan

8 komentar

HALO, Sobat PIKIRAN POSITIF? Selamat Hari Pahlawan. Jangan lupa. Hari ini tanggal 10 November, lho.

Masih ingat pelajaran semasa sekolah dulu 'kan? Mengenai alasan tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Pahlawan Nasional? Yup, penetapan itu merujuk pada peristiwa pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Ngomong-ngomong, kali ini aku tak hendak membahas pro dan kontra yang sedang terjadi. Itu lho, pro dan kontra terkait akan ditetapkannya seorang tokoh menjadi pahlawan. Sama sekali bukan itu, ya. 

Di sini aku justru hendak ngomongin pahlawan dari kalangan bukan tokoh. Tak lain dan tak bukan, itulah pahlawan dari kalangan rakyat jelata. Siapakah yang kumaksud? Dialah sang pahlawan kebersihan kota. Terkhusus kota tempatku berdomisili.

Yup! Yang kumaksudkan adalah para penggerobak sampah. Bapak-bapak dan mas-mas, bahkan ada yang kakek-kakek, yang punya pekerjaan mengangkut sampah dari kompleks perumahan dan dari mana pun ke TPS (Tempat Pembuangan Sementara).

Memang sih, urusan sampah dan kebersihan kota adalah pekerjaan mereka. Mereka digaji sehingga wajar kalau mesti bertanggung jawab penuh. Akan tetapi, bagaimana kalau suatu hari mereka tidak rutin mengangkuti sampah dari rumah-rumah? Atau, dari perkantoran-perkantoran dan tempat-tempat wisata? 

Sudah pasti kota akan kotor, bau, dan kumuh. Hal demikian sudah pernah terjadi di kotaku, Yogyakarta. Bukan sebab mereka mogok, melainkan TPA (Tempat Pembuangan Akhir)-nya yang ditutup. Jadi, TPS tidak bisa dikosongkan sehingga otomatis penggerobak tidak mungkin mengangkuti sampah dari rumah-rumah.

Nah, lho. Bayangkanlah jika para penggerobak sampah mogok kerja sebulan atau berbulan-bulan. Tempo hari saat penggerobak sampah di kampungku sakit selama seminggu, kondisi kampung sudah seperti ini ...

Alhasil, ketika penggerobak kami sudah kembali sehat dan bisa mengangkuti sampah-sampah, kami menyambutnya dengan suka cita. Kami sambut sebagai pahlawan, dong.

Menurutmu bagaimana? Sependapat denganku atau tidak tentang sebutan pahlawan untuk pak sampah?


 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template