Jumat, 27 November 2020

Mari Berjumpa di Titik Nol Jogja

10 komentar
APA kabar Sobat PIKIRAN POSITIF? 
 
Masih selalu bahagia 'kan? Semoga. Deretan masalah, baik yang berasal dari kesalahan diri sendiri maupun orang lain, pastilah akan senantiasa ada. Akan tetapi, mari jalani saja. Jika sekali waktu sedikit merasa frustrasi karenanya, bolehlah. Namun, berjanjilah. Betulan sedikiiit, ya. Hehehe .... *toyor-diri- sendiri* 
 
Baiklah, baiklah. Kalau memang kalian sedang sedikit frustrasi, bete, bosan, jenuh, atau apalah namanya itu, mari kuajak melapangkan hati-menjernihkan pikiran dengan berpiknik ke Titik Nol Jogja. Tentu  dengan tetap #dirumahaja melalui tulisan dan foto-foto yang kutayangkan di sini. 
 
 
 
Melihat foto di atas, kalian pasti langsung paham kalau itu Titik Nol Jogja. Maklumlah. Foto Titik Nol Jogja dari arah utara memang berserakan di internet. Adapun foto di atas, tepatnya kuambil dari depan Gedung Agung. Jadi, utara perempatan di sisi barat jalan.
 
Akan tetapi, lihatlah foto di bawah ini. Kalian familiar dengan lokasinya? Hehehe ... Mestinya sih, familiar. Itu 'kan Titik Nol Jogja juga. Namun, aku memotretnya dari selatan perempatan. Dari depan Museum Sonobudoyo. Hanya saja, lokasiku motret lumayan jauh dari perempatan sehingga bangku-bangku bulat penghias perempatan tak tampak. 
 



Ada Apa Saja di Selatan Perempatan Titik Nol?
 
Yang pasti ada jalan yang langsung menuju alun-alun utara, yang berlokasi tepat di depan kraton. Bahkan, perempatan Titik Nol pun sebenarnya tepat berhadapan dengan altar. Hanya saja, berhadapannya agak jauh. 
 
Altar? Iya, altar. Alun-alun utara memang diakronimkan menjadi altar. Kalau yang alun-alun kidul menjadi alkid. FYI, kidul adalah kata dalam bahasa Jawa yang berarti 'selatan'. 
 
Ada apa lagi selain jalan? Tentu ada bangunan-bangunan menarik yang ikonik Jogjes, dong. Kuabsenkan satu per satu, ya. Kumulai dari utara, yang mepet dengan perempatan. Di situ ada Gedung Bank BNI '46 dan Kantor Pos Besar. Keduanya berseberangan letak. Gedung Bank BNI '46 di sebelah barat jalan, sedangkan Kantor Pos Besar di sebelah timur jalan. 
 
Karena aku yakin kedua bangunan tersebut viral, kalian pasti sudah kerap melihat foto-fotonya di internet. Maka tak perlu lagi kutampilkan detilnya di sini. Oke? Lagi pula, kedua bangunan itu pun terlihat pada foto paling atas.  
 
Selanjutnya, di sebelah selatan Gedung Bank BNI '46 ada Kompleks Museum Sonobudoyo. Wah, sekarang komplet sekali fasilitas museum negeri ini. Tempat nongkrongnya alias kafenya sudah beroperasi, lho. Ayolah. kapan kalian mentraktirku di sini? 
 
 


 
Lalu, di selatan kafe tersebut ada Ruang Pameran Museum Sonobudoyo dan Bioskop Sonobudoyo. Setelahnya ada toko souvenir dan batik, yang setahuku bukan bagian dari museum. 
 
Setelahnya lagi ada kompleks bangunan utama Museum Sonobudoyo. Akan tetapi, kalian mesti berjalan dulu ke selatan, kemudian berbelok kanan lumayan jauh jika ingin memasukinya. Tidak bisa dari arah trotoar di sepanjang jalan dekat Titik Nol.
 
Andai kata tak berminat untuk mengeksplorasi bagian dalam Museum Sonobudoyo, kalian sungguh keterlaluan. Hahaha! Lhah gimana? Sudah sampai di depannya, kok tidak mau masuk? 
 
Yeah. Namun, hidup adalah pilihan. Kalau pilihan kalian gegayaan di depan kamera sepuasnya, ya sudah. Eksplorasi saja apa pun yang tersedia di sepanjang trotoar depan Museum Sonobudoyo. 
 
Jika ingin mengintip sedikit isi Museum Sonobudoyo, silakan baca Naskah Kuno di Sonobudoyo Unit 2. Menarik sekali, lho. Ayolah langsung klik saja di sini.  
 
Yup! Selain banyak bangku untuk rehat atau nongkrong cakep, di trotoar bagian barat jalan memang banyak spot menarik. Sebagai bukti, silakan cermati beberapa foto berikut. Feel free untuk berkomentar julid, kok. Hahaha!






Apa komentar kalian terhadap "kawan-kawan" berfotoku? Menarik dan lucu-lucu 'kan? Apalagi yang dua itu. Pandai ketawa di depan kamera juga! 
 
Adapun untuk foto yang di pintu tanpa daun itu, kumohon kalian memfokuskan pandangan jauh ke belakangku. Iya. Di kejauhan sana adalah penampakan altar dan kraton. Kalian yang pernah ke Jogjes pasti ingat spot ini. Apalagi kalau berjalan kaki dari Malioboro ke kraton. 
 
Selain empat fotoku di atas, tentu masih banyak yang lain. Sengaja tak kupamerkan di sini, dong. Nanti kalian muak melihatnya. Hahaha! Namun, ketahuilah. Masih banyak properti lain yang cakep-cakep untuk dipakai berpose. Salah satu di antaranya replika meriam ini. 
 
 



Lalu, apa yang ada di trotoar bagian timur jalan? Di situ ada pos polisi (tepat di pojok perempatan). Di selatannya ada deretan kios pedagang. Pada umumnya yang dijual majalah dan buku ... bajakan. 
 
Astaga banget 'kan fakta tersebut? Ah, aku inginnya itu sudah masa lalu. Faktanya? Entahlah. Rasanya kok masih begitu. Itulah sebabnya aku enggan menampilkan fotonya di sini. Insyaallah nanti saja dalam tulisan tersendiri. Tentu dengan tema buku bajakan. Muehehehe .... 
 
Di selatan deretan kios pedagang ada Kantor Balai Pemasyarakatan Kelas 1 Yogyakarta. Setelahnya ada Loop Station, yang biasa dipakai nongkrong anak-anak muda.
 
Bagaimana dengan properti berfoto dan bangku-bangku? Adakah di trotoar bagian timur jalan ini? Bangku-bangkunya ada, tetapi properti berfotonya tak ada. Jadi bagiku, memang lebih asyik yang trotoar sebelah barat.
 
Ada Apa Saja di Utara Perempatan Titik Nol? 
 
Kalian pastilah telah banyak tahu, tentang hal-hal yang ada di utara perempatan Titik Nol. Aku yakin sekali. Apa alasannya? Sebab di utara ada Malioboro. Ya sudah. Tak perlu lagi kujelaskan panjang lebar. Siapa sih, yang tak kenal Malioboro? Konon belum dianggap ke Jogjes kalau belum ke Malioboro.
Akan tetapi demi kepantasan, di bawah ini kutampilkan beberapa foto. Semoga bikin kalian bahagia. Lagi pula, siapa tahu di antara kalian ada yang betulan belum pernah ke Jogjes terkhusus Malioboro. Atau, sebenarnya pernah namun enggak ngeh spot yang kutampilkan ini. 


 
 
Kalian paham lokasi tempat kami berfotokah? Kalau kalian menjawabnya kami gelendotan manja pada bangku bulat di depan Gedung Agung, itu benar. Pagar hijau di belakang kami adalah pagar Gedung Agung.  
 
Ngomong-ngomong, kalian tahu Gedung Agung atau tidak? Harusnya tahu. Keterlaluan kalau sampai tidak tahu. Gedung Agung itu 'kan istana kepresidenan. Tempat ngantor dan nginep Presiden RI kalau sedang di Jogjes. 
 
Perlu kalian ketahui, di seberang Gedung Agung adalah bangunan indah MBV. Apa itu MBV? Tak lain dan tak bukan, MBV = Museum Benteng Vredeburg. Kalau pernah ke Jogjes dan nongkrong di Titik Nol, kalian pasti pernah melihat MBV. Entah ngeh atau tidak, itu perkara lain. 

Tak usah minder kalau belum tahu tentang MBV. Kalian bisa mengetahuinya dari tulisan berjudul Aku di Museum Benteng Vredeburg ini, kok.
 
Sementara lokasi narsis kami di bawah ini adalah deretan PKL pakaian ala Jogjes. Tepatnya PKL yang menempati emperan sekitar Hamzah Batik, berseberangan letak dengan Pasar Beringharjo. 
 
Lalu, di mana Malioboronya? Ealaaah. Yang disebut Malioboro itu 'kan ruas jalan dari Titik Nol ke utara, yang batasnya rel kereta api. Jadi, lokasi berfotoku dan kawanku (yang manusia asli itu) ya di Malioboro. Oke? Deal, ya?    


 
Aku pikir, tulisan mesti segera kusudahi. Bukan apa-apa, sih. 'Kan judulnya "Mari Berjumpa di Titik Nol Jogja". Jadi, tak usah membahas yang jauh-jauh dari situ. Nantinya bakalan beda cerita, dong. 
 
Ingin tahu lebih detil salah satu keistimewaan Malioboro? Tulisanku yang berjudul Euforia Malioboro Selasa Wage ini insyaallah dapat menjelaskannya. 
 
Namun sebelum kuakhiri, silakan cermati foto pamungkas berikut. Pesan sponsor, nih. Siapa sponsornya? Aku, dong. Asal tahu saja, semua foto yang tayang di tulisan ini kujepret saat aku COD-an aneka wedang rempah dengan kawanku. Salah satu variannya ya si Lemonsri ini. Aku berperan sebagai penjual, kawanku sebagai pembeli. Hehehehe .... Ujungnya ngiklan!
 



 
MORAL CERITA: 

Menuliskan hal-hal yang kita ketahui memang relatif mudah. Tak terasa kalau sudah panjang sekali dan mesti diakhiri. Maka mulai menulislah tentang apa pun yang kalian kuasai dengan baik. 




Sabtu, 14 November 2020

Kelenteng Agung Sam Poo Kong (2)

18 komentar
HALO lagi Sobat PIKIRAN POSITIF .... 
 
Semoga kalian rindu kepadaku. Tetap menanti-nanti tulisan terbaruku. Tetap bisa mengambil manfaat dunia dan akhirat darinya. Muehehehe .... Ketinggian enggak sih, harapanku itu? Entahlah. Kalau ketinggian ya tinggal memanjat pakai tangga. Hahaha!  
 
O, ya.  Kalian masih ingat tulisanku yang berjudul Kelenteng Agung Sam Poo Kong (1) 'kan? Kalau lupa atau malah belum membacanya, bisa banget lho untuk langsung klik di sini. 
 
Baik. Untuk melunasi janji yang telah kusampaikan pada bagian (1), sekarang aku tayangkan bagian (2)-nya. Namun, tak usah heran kalau tidak ada foto kelenteng-kelenteng cetar dan besar. Kali ini adanya deretan relief raksasa. Warnanya pun abu-abu bin kelabu. Sama sekali tak cetar membara 'kan? Nih, silakan cermati dulu foto-fotonya di bawah. 
 



 
 
Sama halnya di hadapan kelenteng-kelenteng cetar besar, aku pun terlihat mungil di hadapan deretan relief tersebut.  Padahal, itu baru penampakan sebagian. Belum tampak dalam wujudnya yang utuh menyeluruh. Di belakangku sonooo dan di depanku sanaaa masih ada deretan relief yang menghiasi dan mengelilingi dinding Goa Batu baru. 
 
Hmm. Semoga kalian masih ingat bahwa Kelenteng Agung Sam Poo Kong juga tenar dengan sebutan Goa Batu. Adapun nama tersebut mengacu pada Goa Batu (lama) yang telah runtuh, yang lokasinya persis di bawah Goa Batu baru tempatku narsis santun itu. 





Deretan relief di Goa Batu baru tersebut memang berukuran raksasa. Jadi, wajah-wajah tokoh beserta adegan-adegan (peristiwa-peristiwa) yang dipahatkan di situ terlihat jelas. Menurut pengamatanku sih, jauh lebih jelas ketimbang relief yang terpahat di candi-candi yang pernah kudatangi. 

Dengan demikian, pengunjung Goa Batu dapat berimajinasi dan mereka-reka aneka rupa peristiwa yang direliefkan. Apalagi di beberapa bagian ada papan keterangannya. 
 
Akan tetapi, aku menyarankan kalian menyewa jasa pemandu kalau ke sini. Mengapa? Sebab sang pemandu akan memberikan penjelasan lebih detil. Selain itu, kita bisa mengajukan pertanyaan apa pun. Kadangkala sang pemandu juga berbagi cerita yang off the record. Seru 'kan? 
 
Menurutku rugi sekali, jika kita sekadar berkeliling dan berfoto ria di kelenteng-kelenteng yang ada di kompleks Sam Poo Kong. Bukankah yang esensial justru sejarah di balik kemegahannya? Bukan foto gegayaan kita di situ?
 
Dari brosur wisata dan relief plus tambahan hasil berselancar di internet, kita memang bisa mengetahui sejarah Sam Poo Kong. Namun, percayalah. Bakalan ada hal-hal berbeda kalau kita mendengarkan penjelasan langsung dari pemandu. 
 
Lebih dari itu, seorang pemandu akan dapat dimintai tolong memotretkan sehingga kita serombongan bisa berfoto dalam formasi lengkap. Terlebih kalau kita ke situ sendirian. Lumayan ada yang menemani berkeliling dan sigap memotretkan. Iya toh? Hahaha! *BatalNgenesKloAdaYangMotoin* 
 
O, ya. Reliefnya berkisah tentang apa? Tak lain dan tak bukan, yang dikisahkan ya Laksamana Cheng Ho (Zheng He). 
 
Siapa dia? Dia adalah seorang penjelajah Tiongkok yang beragama Islam. Yang .... Ah, sudahlah. Tak perlu kuulang-ulang lagi penjelasannya di sini. Ini 'kan bukan blog tentang mapel Sejarah. Hahaha! *DasarMalesan*

Namun, begini. Sebelum kuakhiri tulisan ini, aku ingin memberitahukan kepada kalian (tentu bagi yang belum tahu) bahwa kisah perjalanan Laksamana Cheng Ho (Zheng He) pernah difilmkan. Judul filmnya Admiral Zheng He
 
Siapa bintang filmnya? Wow! Bukan orang sembaranga, dong. Bintang filmnya Yusril Ihza Mahendra (mantan Mensesneg; berperan sebagai Laksamana Cheng Ho/Zheng He) dan Gus Ipul (mantan Menteri Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal; berperan sebagai Raja Majapahit Wikramawardhana). 

Nah 'kan? Keren 'kan? Istimewa sekali 'kan? Sampai-sampai Pak Yusril dan Gus Ipul bersedia menjadi pemain segala. Sesuatu sekaliii.
 
MORAL CERITA: 
Wis tho, ndang mangkat ning Semarang wae. Segeralah berkunjung langsung ke Semarang, khususnya ke Kelenteng Agung Sam Poo Kong.




Selasa, 03 November 2020

Kelenteng Agung Sam Poo Kong (1)

20 komentar
APA kabar Sobat PIKIRAN POSITIF? Apakah tempo hari kalian termasuk ke dalam golongan orang-orang yang berpiknik? Atau, golongan yang setia menghabiskan cuti bersama di rumah saja sepertiku? Eh, kalau aku sih memang selalu di rumah. Bukan di rumah saat cuti bersama saja. Hahaha! 
 
Baiklah, baiklah. Termasuk ke dalam golongan yang mana pun tak jadi soal. Yang penting tetap ikhlas, bersyukur, berbahagia, dan sehat. Lagi pula,  membaca tulisanku ini = piknik ke Semarang. Terkhusus ke Kelenteng Agung Sam Poo Kong. 
 
Hmm. Tenanglah. Tak usah panik sebab iri dan dengki. Kunjungan ke Semarang kulakukan sebelum pandemi covid-19, kok. 'Kan sudah kukatakan bahwa aku setia di rumah saja? Oke. Sekarang langsung saja kita berkeliling kompleks Sam Poo Kong melalui aksara dan foto, ya. Skuy! 






Foto pertama memperlihatkan halaman luas dari kompleks kelenteng tenar ini. Adapun di kejauhan sana tampak pintu gerbang selatan (pengunjung masuk dari pintu gerbang utara). Pintu gerbang selatan hanya dibuka tatkala ada acara tertentu. Ketika hari-hari biasa ya tertutup dan kerap menjadi latar berpose pengunjung narsis. 
 
Kalau yang menjulang tinggi itu entah menara apa. Sewaktu di TKP aku pun cuma takjub dengan ketinggiannya. Hendak bertanya tentangnya, tak ada satu orang pun yang ada di dekatku. Sementara si kakak pemandu sudah tak lagi membersamaiku. Heu heu heu. 
 
Foto kedua memperlihatkan lukisan bentuk asli kompleks Sam Poo Kong. Yang ternyata memang sedikit berbeda dengan bentuknya yang sekarang. Maklumlah. Bangunan kuno acap kali seperti itu 'kan? Akan tetapi, kita tak perlu baperan. C'est normal. Perjalanan waktu pasti selalu memberikan konsekuensi logis seperti itu. 
 
Deretan Kelenteng Cetar dan Besar 
 




Sebelum lanjut membaca, silakan cermati dulu foto di atas. Lihatlah. Betapa kecilnya aku (yang pada dasarnya memang mungil) di hadapan bangunan megah itu. Latar berposeku adalah salah satu dari empat kelenteng yang ada di kompleks tersebut. 
 
Yup!  Kelenteng Agung Sam Poo Kong menempati area yang amat luas. Di situ terdapat Goa Batu dan empat kelenteng atau tempat pemujaan yang bangunannya cetar dan besar. Keempatnya adalah Kelenteng Dewa Bumi, Kelenteng Sam Poo Tay Djien, Kelenteng Juru Mudi, dan Kelenteng Kyai Jangkar. Penampakan kelenteng-kelenteng tersebut dapat dilihat di bawah ini. 
 
Namun, mohon maaf. Aku agak lupa nama masing-masing. Bentuknya 'kan mirip semua. Jadi ketimbang salah meletakkan nama pada foto, mendingan tak usah sajalah. Yang jelas, yang paling besar adalah Kelenteng Sam Poo Tay Djien. Duh! Bahkan kalau hanya melihat foto-fotonya begini, ternyata aku jadi bingung mana yang paling besar, mana yang besar. Hihihi ....  







Tiap bangunan kelenteng pastilah memiliki fungsi masing-masing. Mari simak penjelasan singkatnya. Yeah! Kalau penjelasan detil dan panjang jadinya diktat mapel Sejarah, dong. 
 
Kelenteng Dewa Bumi dipergunakan sebagai tempat pemujaan terhadap Dewa Bumi. Jika ingin berdoa memohon berkah dan keselamatan hidup, di kelenteng inilah tempatnya. 
 
Kelenteng Juru Mudi juga dipergunakan untuk pemujaan. Terutama untuk mendoakan sang juru mudi kapal Laksamana Zheng He (biasa disebut juga Laksamana Cheng Ho). Di kelenteng yang ini terdapat makam juru mudi tersebut. 
 
Mungkin kalian bertanya-tanya, "Mengapa jasad juru mudi kapal Laksamana Cheng Ho bisa dikuburkan di Semarang?" Jawabannya ini, "Karena waktu itu ia sakit sehingga kapal berlabuh darurat di Pelabuhan Semarang, lalu ia diturunkan bersama beberapa orang yang merawatnya, sedangkan Laksamana Cheng Ho dan rombongan meneruskan pelayaran." 
 
Jangan berpikiran bahwa si juru mudi langsung wafat sepeninggal rombongan. Justru kemudian ia sembuh setelah dirawat intensif di daratan. Lalu, bergaul dan berbagi ilmu dengan warga setempat. Ia baru wafat ketika berusia lanjut. 
 
Lain halnya dengan Kelenteng Kyai Jangkar. Di kelenteng yang ini terdapat jangkar asli yang dahulu dipergunakan oleh kapal Laksamana Zheng He. Tentu selain melihat jangkar bersejarah, ada orang-orang yang memanjatkan doa di sini. Mereka datang memang dengan niatan ziarah. Bukan wisatawan biasa sepertiku. 
 
Yang terakhir (yang paling besar bangunannya) adalah  Kelenteng Sam Poo Tay Djien. Bangunan ini merupakan pusat dari seluruh aktivitas yang ada di Kelenteng Agung Sam Poo Kong. Siapakah Sam Poo Tay Djien itu? Sam Poo Tay Djien merupakan nama lain dari Laksamana Zheng He/Laksamana Cheng Ho. 
 
Perlu kalian ketahui bahwa bangunan ini dilengkapi dengan Goa Batu baru yang di dalamnya terdapat patung sang laksamana beserta dua pengawalnya. Lalu, di manakah Goa Batu yang lama? Goa yang lama terletak di bawahnya. Ada apa di dalamnya? Ada mata air yang tak pernah kering di sepanjang masa. Yang airnya sampai kini bisa diambil oleh para peziarah. Sungguh karunia luar biasa dari-Nya  'kan? 
 
O, ya. Aku beruntung sempat masuk sebentar ke Goa Batu yang lama. Kusebut beruntung sebab pemanduku berbaik hati memintakan izin untuk itu. Iya, meminta izin pada sang kakek penjaga. Kiranya situasi tatkala itu memang kondusif. Hanya ada kami bertiga (termasuk pemandu) di mulut goa. Hehehe .... Meskipun tak sampai ke batas tepian mata airnya, sudah lumayanlah. Alhamdulillah. 
 
Kelenteng Agung Sam Poo Kong Sebenarnya Tempat Apa? 
 
Kelenteng Agung Sam Poo Kong yang dikenal pula dengan sebutan Goa Batu merupakan situs yang diyakini sebagai tempat mendaratnya Laksamana Cheng Ho beserta pasukan. Namun, pendaratan itu sifatnya dadakan. Tidak direncanakan sebelumnya. 
 
Penyebab pendaratan dadakan itu tak lain dan tak bukan ya si juru mudi yang sakit. Yang makamnya terdapat di salah satu kelenteng tadi, lho. Masih ingat 'kan? 
 
Nah. Sebab kebaikan budi Laksamana Cheng Ho, masyarakat setempat membangun Kelenteng Sam Poo Kong untuk mengenang dan menghormatinya. Terlebih juru mudi kapalnya pun kemudian mengabdi dan bermukim di situ hingga ajal. 
 
Panggung Besar 
 
Di halaman Kelenteng Agung Sam Poo Kong ada sebuah panggung besar dan megah. Desainnya mirip bangunan kelenteng. Silakan lihat penampakannya pada foto di bawah. 
 
Pengunjung boleh rehat di situ kalau mau. Kalau enggak mau ya enggak dipaksa, kok. Akan tetapi, kalau di panggung tersebut sedang ada acara,  sudah pasti tak boleh seenaknya ikutan nimbrung rebahan. Aih!  Jangankan rebahan. Sekadar duduk pun tak elok. Iya 'kan?




Demikian ceritaku tentang Kelenteng Agung Sam Poo Kong. Tak terasa ya, lumayan panjang juga. Padahal rencanaku, mau menulis yang singkat saja. O la la! Aku senang menulis rupanya. Tulisan ini pun ternyata menjadi bagian satu. 
 
Yup! Ketimbang kepanjangan, cerita lengkapnya kuputuskan untuk kupecah-pecah. Jadi nantikan bagian duanya,  ya. 
 
Lokasi dan Cara Menjangkaunya 
 
Kelenteng Agung Sam Poo Kong berlokasi di Jalan Simongan Nomor 129, Bongsari, Semarang Barat. Tidak jauh dari pusat kota. Tidak jauh dari Stasiun Poncol. Maka mudah dijangkau. Kalau naik taksi daring biayanya pun tak mahal. 
 
Jam Buka dan Tarif Masuk 
 
Jam bukanya 08.00-20.00 WIB. Tarif masuknya terjangkau. Cuma Rp7.000,00. Kalau memakai jasa pemandu, bisa sampai Rp50.000,00. 
 
Kesannya mahal jika memakai jasa pemandu. Akan tetapi, enggak rugilah kalau kita menyewa jasanya. Bukankah dengan menyewa jasa seorang pemandu, kita menjadi paham apa pun saat berkeliling ke kelenteng-kelenteng. Tidak sekadar melihat dan memotret. 
 
Bisa Apa Saja? 
 
Ada banyak hal yang bisa dilakukan di Sam Poo Kong. Di antaranya berfoto dengan pakaian tradisional Cina (ada persewaannya di situ), belajar sejarah, dan berziarah. Kalau mau jajan, banyak kedai makanan. Kalau mau ke kamar mandi, fasilitasnya ada. Kalau mau sekadar nongkrong, tempatnya lumayan nyaman. Kalau mau salat, musalanya tersedia.
 
Satu hal yang wajib diingat, jangan biyayakan kalau berwisata di sini. Sebab pada prinsipnya, kelenteng  ini 'kan tempat beribadah. Jadi, pengunjung tidak boleh bikin rusuh bin huru-hara. 
 
MORAL CERITA: 
Menulis panjang itu gampang kalau ada idenya. Hahaha! 
 
 
 
 


Sabtu, 31 Oktober 2020

Mural Art di Yogyakarta

16 komentar

YOGYAKARTA memang istimewa. Pastinya seistimewa Sobat PIKIRAN POSITIF yang senantiasa mampu berbahagia. Hmm.*Kedip-kedip mata* 

Terlepas dari banyak kekurangan yang dimiliki, warga Yogyakarta rupanya ditakdirkan menjadi insan kreatif. Tak peduli warga asli ataupun warga pendatang sepertiku, semua punya kesempatan sama untuk berkreasi. Tentu dalam bidang masing-masing.  

Silakan baca juga Warga Yogyakarta yang Berbahagia untuk tahu bagaimana asyiknya menjadi wong Ngayogyakarta Hadiningrat.

Salah satu bentuk kreativitas tersebut adalah mural art. Satu dekade terakhir antusiasme wong Yogyakarta terhadap mural art memang terasa meningkat. Masyarakat sudah paham bahwa mural art berbeda dengan vandalisme yang asal gambar dan asal coret. 

Maka tidak mengherankan, sekarang di seantero Yogyakarta banyak terdapat mural art (biasa disebut mural saja). Pasti kalian penasaran wujudnya 'kan? Baik. Mari langsung saja nikmati beberapa mural berikut. Mohon maaf kalau diriku ikutan mejeng sebagai penambah asupan manis. Hahaha! 

 

 

Keren sekali 'kan? Padahal, aku cuma berpose di depan tembok rumah orang. Sebab keren itulah, kuputuskan untuk cekrak-cekrek berulang kali. Hanya saja demi menjaga perasaan kalian, tidak kutampilkan semua di sini. Lebih baik kupamerkan foto-foto berikut saja.  

 





 

Salah satu foto di atas tidak menampilkan mural. Kalian pasti paham 'kan foto mana yang kumaksudkan? Tak jadi soal. Toh sama-sama karya seni dan mejeng di kawasan yang sama. 


 

Kalau foto di atas, diriku sedang beraksi di hydrant box. Hehehe. Malah seperti sedang berpose di mimbar pidato, ya? Begitulah adanya. Sebab mural art, benda biasa pun jadi berubah lebih estetik.






Lain lagi dengan tiga foto bernuansa hitam putih di atas. Ketiganya menceritakan tentang Tamansari a.k.a Water Castle. Maklumlah. Mural ini memang berlokasi di dekat objek wisata tersebut. 

Lebih jauh tentang Tamansari silakan baca Wisata Kamera di Pulo Kenanga dan Pandemi Corona dan Tamansari.

 


Nah. Bagaimana menurut kalian? Gegayaan dengan mural itu asyik bin seru atau tidak? Hayolooo. Ngaku saja. Pasti kalian mupeng untuk ikutan berpose di sini. Oke. Tak usah panik. Silakan datang ke Yogyakarta. Cari SMPN 16 Yogyakarta. Kalau sudah ketemu, silakan masuk gang di sebelah kirinya. Ya sudah. Pokoknya masuki saja ikuti alur. Di sepanjang gang itulah mural art yang kupamerkan di sini berada.  


MORAL CERITA: 

Mari blusukan estetik ke Yogyakarta! 




 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template