Selasa, 30 Juni 2020

Pandemi Corona dan Tamansari

2 komentar
KITA sama-sama mafhum bahwa pandemi Corona telah membuat kacau balau segalanya. Urusan apa pun jadi tertunda, bahkan ada yang sampai dibatalkan. Pendek kata, Corona alias si Covid-19 berhasil memaksa kita untuk menyusun ulang jadwal hidup. 

Lebih dari itu, imbauan "keluar rumah seperlunya" pun serasa menepuk bahu kita kuat-kuat. Mengingatkan bahwa sebaiknya, kita senantiasa bersikap efektif. Kalau memang tak ada urgensinya, lebih baik tidak keluyuran. 

Selain hemat BBM dan uang jajan, waktu yang habis buat keluyuran itu bisa dimanfaatkan untuk hal lain. Misalnya untuk bersih-bersih rumah, membaca, menulis, melukis, mewarnai, belajar memainkan alat musik, bikin kue-kue, atau sekadar rebahan mengurai penat. 

Eit! Jangan buru-buru meremehkan aktivitas rebahan, ya. Rebahan itu bisa mengurai penat. Bikin tubuh kembali segar. Kalau tubuh sudah segar, merembetnya ke pikiran. Hati lebih adem. Santuy. Insyaallah potensi jadi insan nyolotan pun bisa terminimalkan. Yeah .... Harapannya sih, begitu. Hidup kaum rebahan! Hahaha! 

Namun sebenarnya begini, lho. Dalam tulisan ini, diriku sebenarnya cuma ingin memperlihatkan situasi Pemandian Tamansari selama masa pandemi Corona. Yang ditutup oleh pihak pengelola, sejak beberapa waktu lalu. 

Lihatlah. Betapa destinasi eksotis ini bisa sedemikian sepi begini? Bahkan, jauh lebih sepi daripada hatiku. Muehehehe ....








Tak ada wisatawan. Tak ada pemandu wisata yang bekerja. Para penjual makanan dan souvenir yang berjualan pun tak ada. Tukang parkir menganggur. Tukang becak makin sepi order. Sungguh sepi. 

Yang ada saat itu justru bapak-bapak dengan kostum spesial ala APD nakes. Mereka rupanya sedang melakukan penyemprotan disinfektan. Yang disemprot ya rumah-rumah dan bangunan lain di kompleks objek wisata tersebut. 

Jalanan di dekat Pemandian Tamansari juga tak kalah sepi. Kebetulan dalam satu waktu, aku mujur bisa memotretnya dalam situasi kering dan basah. Silakan lihat dua foto berikut. Syahdu 'kan? 

Akan tetapi di balik kesyahduan itu, ada aku yang terjebak hujan. Iyaaaa. Mendung mendadak menjelma jadi hujan. Alhasil, becak yang semula nongkrong merana di situ pun jadi penyelamatku. Hahaha! 





Baiklah, Sobat Pikiran Positif.  Demikian sekelumit ceritaku tentang situasi Pemandian Tamansari selama ditutup sebab Covid-19. Yang sunyi dari gelak tawa wisatawan. Yang sedihnya, berarti berhenti berputarnya roda perekonomian di situ. 

Namun kupikir-pikir, tetap ada sisi baiknya. Sisi baik yang bagaimanakah? Hmm. Begini. Pandemi Corona secara tidak langsung membuat masyarakat di sekitar destinasi wisata ini merasakan ketenangan. Iya, ketenangan. Kampung mereka tenang untuk sementara waktu. Yakni tenang dari kehirukpikukan wisatawan. 

MORAL CERITA: 
Selalu ada banyak cerita di balik terjadinya pandemi Corona alias si Covid-19 ini. Mari kita nikmati saja tanpa panik tanpa stres. Oke? 




Selasa, 02 Juni 2020

Pengalamanku menonton Botanical Art

0 komentar
SECARA tak terduga, tatkala si Covid-19 belum eksis, diriku diajak menonton Pameran Seni Ragam Flora Indonesia. It's Botanical Art. Alhamdulillah. Sungguh aku merasa beruntung karenanya.

Iya. Aku memang kerap menonton pameran seni rupa dan lukisan. Akan tetapi, untuk Botanical Art, ya baru kali itu. Maka wajar sekali kalau aku merasa beruntung. Sebuah pameran seni yang istimewa gitu, lho. Sangaaat unik dan menarik.

Mengapa kusebut unik dan menarik? Sebab konsepnya menggabungkan antara seni lukis dan ilmu botani. 

Sejujurnya aku awam banget dengan tanaman. Maka antara ngeh dan gak ngeh, tatkala membaca dan mengamati karya-karya yang dipamerkan. Namun yang pasti, di pameran ini kumerasa takjub melihat kemampuan para pelukis, yang demikian detil melukis bagian-bagian dari tanaman. 

Wah! Keren pokoknya. Ayo sama-sama kita lihat sebagian di antaranya ....


Botanical Art is ....


O, ya. Sebelum masuk ke ruang pameran, kami mendapatkan semacam katalog mini. Isinya penjelasan singkat seputar pameran. Penampakannya pada foto di atas itu, ya. Hehehe ....


Karya Victor Wong

Karya Victor Wong

Uwi (Karya Karyono Apic) 

Kantung Semar 

?????

Gadung (Karya Karyono Apic)

Bagus-bagus 'kan? Semoga Sobat Pikiran Positif sekalian bahagia membaca tulisan singkat ini. Akan tetapi, bersediakah kalian gantian membuatku bahagia? Caranya dengan .... menambahi informasi tentang apalah apalah yang terkait dengan lukisan-lukisan di atas. Setuju? Kutunggu tambahan informasi dari kalian lho, ya. Terima kasih sebelumnya.

MORAL CERITA:
Semua yang diciptakan-Nya tak ada yang sia-sia. Tak ada yang lebih baik. Tak ada yang lebih buruk. Masing-masing ada manfaatnya. Bahkan mungkin, saling membutuhkan. Sebagaimana halnya seni lukis dan ilmu botani ini.








 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template