HALO, Sobat Pikiran Positif? Tak terasa 2026 telah sampai pada bulan pertama hari ke-12, ya? Nah. Apa kabar resolusi tahun barumu sejauh ini? Apakah sudah mulai diupayakan? Atau, malah pelan-pelan mulai terlupakan? Hehe ...
Kalau mulai lupa pada resolusi tahun baru, ayolah kembali diingat dan kemudian diupayakan. Senyampang hari ini Senin. Sebuah hari yang merupakan pembuka minggu. Yang harapannya membawa semangat baru juga.
Hmm. Sepertinya butuh menyimak ceritaku dulu, ya? Sebelum lanjut mengupayakan terwujudnya resolusi tahun baru itu? Oke, oke. Siapa takut untuk bercerita? Mari simak sebentar ceritaku tentang Pasar Godean.
Pasar Godean terletak di Kapanewon (Kecamatan) Godean Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta. Kurang lebih 15 Km di sebelah barat Kota Yogyakarta. Dari Malioboro kita bisa naik Trans Jogja Jalur 13 untuk mencapainya.
Pasar Godean merupakan pasar tradisional dan tergolong sebagai pasar induk. Apa arti sebagai pasar induk? Artinya, pasar ini menjadi pusat distribusi utama dari komoditi-komoditi yang dibutuhkan pasar. Menjadi pengendali sekaligus acuan harga bagi pasar-pasar tradisional yang lebih kecil di sekitarnya.
Pasar induk berbasis grosir, tetapi juga melayani pembelian eceran. Tidak mengherankan kalau segala rupa kebutuhan tersedia di sana. Oleh karena itu, pasar induk selalu luas dan terletak di lokasi strategis.
Nah. Seperti itulah Pasar Induk Godean. Berada di tepi jalan utama yang menghubungkan Kota Yogyakarta dan Godean. Bangunannya luas, bahkan setelah dipugar (revitalisasi) terdiri atas 3 lantai. Fasilitasnya komplet. Ada parkiran memadai, toilet, musala, lift untuk barang, dan jalur khusus disabilitas.
Dua foto berikut adalah penampakan Pasar Godean terkini, setelah revitalisasi, dari sisi selatan.
Perlu diketahui bahwa dahulu sisi selatan itu merupakan bagian depan. Adapun setelah revitalisasi menjadi bagian belakang. Jadi, dahulu Pasar Godean menghadap ke selatan dan sekarang menghadap ke utara. Ada perubahan letak pintu masuk utama.
Perlu diketahui juga bahwa perubahan pintu masuk utama bagi sebuah pasar, acap kali dikaitkan dengan datangnya rezeki. Entahlah kebenarannya bagaimana. Hanya saja, konon Pasar Godean tak seramai ketika masih menghadap selatan. Ketika pintu masuk utamanya langsung berhadapan dengan Jalan Raya Yogyakarta-Godean.
Aku sih, antara percaya tidak percaya. Kesan lebih sepi bisa jadi karena kini lebih rapi. Dahulu 'kan bagian depan pasar terlihat semrawut. Campur baur antara parkiran dan kios-kios yang menjual keripik belut. Plus dekat bangjo perempatan jalan raya.
Tahu sendirilah, ya. Bagaimana ruwetnya campuran antara situasi pasar yang agak tumpah ke jalan (bahkan dekat perempatan pula), dengan padatnya lalu lintas yang sebagian melaju sebab bangjo menyala hijau dan sebagian berhenti tepat di depan pasar karena bangjo menyala merah.
Sementara sekarang sangat berbeda. Arus keluar-masuk pengunjung Pasar Godean tidak lagi dari jalan raya dekat perempatan. Malah kini ada pagar kokoh yang membatasi jalan raya itu dengan bangunan pasar. Plus ada jarak lumayan jauh dari pagar ke deretan lapak-lapak penjual.
Lapak-lapak penjual di dalam pasar pun lebih tertata. Dikelompokkan sesuai dengan jenis komoditi yang dijual. Lebih lapang juga sehingga wajar kalau terkesan lebih sepi.
Terlebih kalau melihatnya dari sisi selatan yang notabene bagian belakang. Orang-orang 'kan masuk dari pintu depan yang ada di utara. Parkirannya memang di utara sana. Bongkar muat barang juga demikian. Jadi kalau cuma melihat dari luar di sisi selatan pasar, memang terkesan tak ada orang.
Sebelum revitalisasi, sebagian aktivitas jual beli terlihat dari jalan. Maklumlah. Lapak-lapak sebagian memang di luar pasar. Sekarang 'kan beda. Teras sisi selatan bersih dari pedagang. Alhasil, aku dan dua teman leluasa pepotoan di situ.
Usai pepotoan dan ambil video, kami nongkrong di tempat rehat yang tersedia. Kami pilih yang ada bangkunya. Dua foto berikut adalah penampakan tempat rehat di tengah bangunan Pasar Godean. Lumayan Instagramable 'kan?
Yang menarik, di Pasar Godean ada makam dan monumen. Monumen ada di bagian utara pasar. Penampakannya dalam foto berikut ini. Sayang banget aku cuma memotret dari atas. Jadi, tulisan pada monumen tetap susah dibaca walaupun di-zoom.
Mengapa tidak mendekat saja? Nah, itulah masalah. Aku lupa mendekatinya sewaktu sudah turun. Malah langsung pulang. Akan tetapi, kata seorang teman yang biasa berbelanja di Pasar Godean, itu monumen tentang perjuangan kemerdekaan.
Lalu, di mana makamnya? Dalam foto di bawah ini aku sedang berjalan melintasi makam. Makamnya tepat di sebelah kiriku. Di dalam area berpagar dan di dalam bangunan yang temboknya berwarna merah bata.
Silakan cermati foto paling atas yang ada di artikel ini. Di belakang tulisan "Pasar Induk Godean" itulah lokasi makamnya. Ada 2 nisan di situ, yaitu nisan Mbah Jembrak dan nisan sang istri.
Siapa mereka? Konon mereka adalah pengikut Pangeran Diponegoro. Konon pula sesepuh daerah situ. Yang jelas, yang tidak sekadar konon, makam tersebut sudah berada di situ jauh sebelum Pasar Godean berdiri.
Demikian cerita singkatku tentang Pasar Induk Godean. Semoga bermanfaat. Pun, menarik minat kalian untuk mengunjunginya.
Ayolah, singgah ke pasar ini untuk membeli keripik belut. Yup! Pasar Godean memang sentra oleh-oleh keripik belut di Yogyakarta.
