Senin, 12 Januari 2026

Pasar Godean Yogyakarta

3 komentar

HALO, Sobat Pikiran Positif? Tak terasa 2026 telah sampai pada bulan pertama hari ke-12, ya? Nah. Apa kabar resolusi tahun barumu sejauh ini? Apakah sudah mulai diupayakan? Atau, malah pelan-pelan mulai terlupakan? Hehe ...

Kalau mulai lupa pada resolusi tahun baru, ayolah kembali diingat dan kemudian diupayakan. Senyampang hari ini Senin. Sebuah hari yang merupakan pembuka minggu. Yang harapannya membawa semangat baru juga.

Hmm. Sepertinya butuh menyimak ceritaku dulu, ya? Sebelum lanjut mengupayakan terwujudnya resolusi tahun baru itu? Oke, oke. Siapa takut untuk bercerita? Mari simak sebentar ceritaku tentang Pasar Godean

Pasar Godean terletak di Kapanewon (Kecamatan) Godean Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta. Kurang lebih 15 Km di sebelah barat Kota Yogyakarta. Dari Malioboro kita bisa naik Trans Jogja Jalur 13 untuk mencapainya.

Pasar Godean merupakan pasar tradisional dan tergolong sebagai pasar induk. Apa arti sebagai pasar induk? Artinya, pasar ini menjadi pusat distribusi utama dari komoditi-komoditi yang dibutuhkan pasar. Menjadi pengendali sekaligus acuan harga bagi pasar-pasar tradisional yang lebih kecil di sekitarnya. 

Pasar induk berbasis grosir, tetapi juga melayani pembelian eceran. Tidak mengherankan kalau segala rupa kebutuhan tersedia di sana. Oleh karena itu,  pasar induk selalu luas dan terletak di lokasi strategis.

Nah. Seperti itulah Pasar Induk Godean. Berada di tepi jalan utama yang menghubungkan Kota Yogyakarta dan Godean. Bangunannya luas, bahkan setelah dipugar (revitalisasi) terdiri atas 3 lantai. Fasilitasnya komplet. Ada parkiran memadai, toilet, musala, lift untuk barang, dan jalur khusus disabilitas. 

Dua foto berikut adalah penampakan Pasar Godean terkini, setelah revitalisasi, dari sisi selatan. 

Perlu diketahui bahwa dahulu sisi selatan itu merupakan bagian depan. Adapun setelah revitalisasi menjadi bagian belakang. Jadi, dahulu Pasar Godean menghadap ke selatan dan sekarang menghadap ke utara. Ada perubahan letak pintu masuk utama.

Perlu diketahui juga bahwa perubahan pintu masuk utama bagi sebuah pasar, acap kali dikaitkan dengan datangnya rezeki. Entahlah kebenarannya bagaimana. Hanya saja, konon Pasar Godean tak seramai ketika masih menghadap selatan. Ketika pintu masuk utamanya langsung berhadapan dengan Jalan Raya Yogyakarta-Godean.

Aku sih, antara percaya tidak percaya. Kesan lebih sepi bisa jadi karena kini lebih rapi. Dahulu 'kan bagian depan pasar terlihat semrawut. Campur baur antara parkiran dan kios-kios yang menjual keripik belut. Plus dekat bangjo perempatan jalan raya. 

Tahu sendirilah, ya. Bagaimana ruwetnya campuran antara situasi pasar yang agak tumpah ke jalan (bahkan dekat perempatan pula), dengan padatnya lalu lintas yang sebagian melaju sebab bangjo menyala hijau dan sebagian berhenti tepat di depan pasar karena bangjo menyala merah.

Sementara sekarang sangat berbeda. Arus keluar-masuk pengunjung Pasar Godean tidak lagi dari jalan raya dekat perempatan. Malah kini ada pagar kokoh yang membatasi jalan raya itu dengan bangunan pasar. Plus ada jarak lumayan jauh dari pagar ke deretan lapak-lapak penjual. 

Lapak-lapak penjual di dalam pasar pun lebih tertata. Dikelompokkan sesuai dengan jenis komoditi yang dijual. Lebih lapang juga sehingga wajar kalau terkesan lebih sepi. 

Terlebih kalau melihatnya dari sisi selatan yang notabene bagian belakang. Orang-orang 'kan masuk dari pintu depan yang ada di utara. Parkirannya memang di utara sana. Bongkar muat barang juga demikian. Jadi kalau cuma melihat dari luar di sisi selatan pasar, memang terkesan tak ada orang. 

Sebelum revitalisasi, sebagian aktivitas jual beli terlihat dari jalan. Maklumlah. Lapak-lapak sebagian memang di luar pasar. Sekarang 'kan beda. Teras sisi selatan bersih dari pedagang. Alhasil, aku dan dua teman leluasa pepotoan di situ. 

Usai pepotoan dan ambil video, kami nongkrong di tempat rehat yang tersedia. Kami pilih yang ada bangkunya. Dua foto berikut adalah penampakan tempat rehat di tengah bangunan Pasar Godean. Lumayan Instagramable 'kan?


Yang menarik, di Pasar Godean ada makam dan monumen. Monumen ada di bagian utara pasar. Penampakannya dalam foto berikut ini. Sayang banget aku cuma memotret dari atas. Jadi, tulisan pada monumen tetap susah dibaca walaupun di-zoom. 

Mengapa tidak mendekat saja? Nah, itulah masalah. Aku lupa mendekatinya sewaktu sudah turun. Malah langsung pulang. Akan tetapi, kata seorang teman yang biasa berbelanja di Pasar Godean, itu monumen tentang perjuangan kemerdekaan.


Lalu, di mana makamnya? Dalam foto di bawah ini aku sedang berjalan melintasi makam. Makamnya tepat di sebelah kiriku. Di dalam area berpagar dan di dalam bangunan yang temboknya berwarna merah bata. 

Silakan cermati foto paling atas yang ada di artikel ini. Di belakang tulisan "Pasar Induk Godean" itulah lokasi makamnya. Ada 2 nisan di situ, yaitu nisan Mbah Jembrak dan nisan sang istri. 

Siapa mereka? Konon mereka adalah pengikut Pangeran Diponegoro. Konon pula sesepuh daerah situ. Yang jelas, yang tidak sekadar konon, makam tersebut sudah berada di situ jauh sebelum Pasar Godean berdiri.


Demikian cerita singkatku tentang Pasar Induk Godean. Semoga bermanfaat. Pun, menarik minat kalian untuk mengunjunginya. 

Ayolah, singgah ke pasar ini untuk membeli keripik belut. Yup! Pasar Godean memang sentra oleh-oleh keripik belut di Yogyakarta. 



Senin, 15 Desember 2025

Kampoeng Cyber Tamansari

16 komentar

HALO, Sobat Pikiran Positif? Liburan Natal dan akhir tahun makin dekat, ya? Liburan sekolah juga demikian. Hari-hari ini anak-anak sekolah sedang bersiap menerima rapor 'kan? 

Seperti biasanya, aku pun terlibat dalam hiruk-pikuk suasana liburan. Tepatnya sih, mau tidak mau terlibat. Kiranya itulah konsekuensi logis dari berdomisili di kampung yang merupakan kampung wisata. 

Sudah begitu, dekat pula dengan sejumlah spot wisata lain yang ada di jantung Kota Yogyakarta. Salah satunya Kampoeng Cyber Tamansari. Hmm. Apakah kalian pernah singgah di kampung tersebut?

Kalau belum, berarti kalian kalah dong dari sang pendiri Facebook. Mark Zuckerberg, orang nomor satu di Facebook itu, sudah mendatangi Kampoeng Cyber Tamansari pada tahun 2014. 

Mark tertarik untuk berkunjung sebab warga Kampoeng Cyber Tamansari sudah memanfaatkan internet dalam kehidupan sehari-hari mereka. Terutama untuk keperluan pengembangan bisnis UMKM. Keren 'kan?

Jangan lupa. Tatkala itu tahun 2014. Medsos belum banyak. Masih Facebook yang berjaya. Pun, masyarakat belum familiar dengan internet. Maka wajarlah kalau Mark sampai bela-belain datang ke Yogyakarta.

Mungkin kalian bertanya-tanya. Kok warga kampung tersebut pintar berinternet? Pintar, dong. 'Kan ada tokoh setempat yang piawai internetan dan bersedia menularkan kepintarannya itu kepada para tetangga. 

Ngomong-ngomong, mari teliti foto-foto yang kusuguhkan di sini. Ingat-ingatlah baik-baik. Siapa tahu kalian dulu pernah melewatinya tanpa sengaja? Tanpa paham kalau sesungguhnya sedang berada di area Kampoeng Cyber Tamansari Kota Yogyakarta.



Di atas adalah mulut gang menuju RT 36 Kampung Taman, yakni Kampoeng Cyber itu. Sementara di bawah adalah papan nama sekaligus petunjuk arah yang tertempel pada tembok salah satu rumah warga.


Di dalam kampung, ada pula papan petunjuk elektrik. Sebagaimana yang tampak pada foto di bawah ini.


Menyusuri jalanan di Kampoeng Cyber Tamansari terasa menyenangkan. Mengapa? Sebab banyak mural. Mari simak beberapa foto berikut ini.

Uniknya, ada tembok rumah yang dicat putih dan cuma ditulisi kalimat pendek dalam bahasa Inggris. Love is beautiful. Hurufnya dibuat dengan cat warna merah menyala. Entahlah. Itu termasuk mural atau tidak.

O, ya. Ada kejadian lucu ketika aku sedang berpose di depan mural yang ada di ujung kampung. Tiba-tiba saja seorang bocil mendekat. Dia minta dipotret di spot yang sama.


Selain mural, rumah-rumah di situ ada pula yang bentuknya unik atau dicat unik. Mari simak foto-foto berikut.

Nah. Menurut kalian bagaimana? Kampoeng Cyber Tamansari Kota Yogyakarta menarik atau tidak? Layak dimasukkan ke dalam daftar tempat yang wajib dikunjungi atau tidak?


Senin, 08 Desember 2025

Taman Yuwono (Joewana) Yogyakarta

13 komentar


HALO, Sobat Pikiran Positif? Kali ini aku hendak sedikit bercerita tentang sebuah taman kuno. Namanya Taman Joewana. Akan tetapi, ada juga yang menulisnya Taman Yuwono


Taman tersebut berlokasi di Sosromenduran. Bagian barat Kawasan Malioboro. Tepatnya di Jalan Dagen. Jadi kalau kita menyusuri Jalan Dagen dari arah timur, yaitu dari Malioboro, silakan tengok kanan jalan. 

Yup! Taman Joewana berada di sisi utara. Penandanya gerbang yang tampak di foto ini.

Sesungguhnya memang bukan jalan umum. Oleh karena itu, jika ingin masuk ke situ naikkan level percaya dirimu. Langsung saja melangkah masuk. Tak perlu keder dengan sekuriti atau dengan gonggongan anjing yang kadangkala terdengar. 

Bolehlah waspada penuh. Namun, melangkahlah dengan tenang. Jangan berisik. Anjingnya berada di dalam halaman sebuah rumah yang pintu gerbangnya tertutup rapat. Semoga selalu tertutup rapat. Dalam arti, pemilik atau penjaga rumahnya tidak pernah lalai membiarkan si anjing lepas. 

Oke. Mari kembali ngomongin Taman Joewana. Begitu melintasi gerbang beserta gonggongan anjing tadi, fokuskan pandangan ke depan. Pasti akan tampak gapura dalam foto berikut ini.


Foto di atas menunjukkan gapura selatan. Adapun gapura utaranya di bawah ini. 


Jadi, Taman Joewana sebetulnya tidak terlalu luas. Seukuran lapangan tenis saja. Kemudian sisa lahan di sekitarnya ditumbuhi pepohonan plus dimanfaatkan untuk parkir mobil. 

Mobil-mobil siapakah itu? Entahlah. Mungkin milik para tamu yang menginap di penginapan-penginapan yang ada di sekitar Taman Joewana. 

Begitulah adanya. Rumah-rumah yang mengelilingi Taman Joewana kini memang bertransformasi jadi penginapan-penginapan. Lain dengan bangunan hotel kekinian yang bergaya modern. Penginapan di sini justru bernuansa heritage. Perabotan di dalamnya pun demikian. 

Kompleks perumahan yang mengelilingi Taman Joewana merupakan perumahan elite semasa Hindia Belanda. Gaya arsitektur bangunan-bangunan di situ merupakan gaya perpaduan antara Eropa dan Jawa, yang lazim disebut Indis

Yang paling istimewa tentu rumah nomor 19. Dahulu rumah tersebut ditinggali oleh keluarga Abdurahman Baswedan,  salah satu menteri zaman Orde Lama. Beliau adalah kakek dari Bapak Anies Rasyid Baswedan. Jadi tatkala kecil, beliau yang tinggal bersama sang kakek selalu bermain-main di Taman Joewana itu.

Nah. Kapan nih, kalian ke Taman Joewana ini? Supaya tak tersesat atau salah alamat, silakan tonton dulu video singkatnya ini.




Senin, 01 Desember 2025

Haruskah ke Malioboro?

9 komentar

HALO, Sobat Pikiran Positif? Kagetkah karena tiba-tiba Desember? Hmm, padahal rasanya baru sebulan lalu memasuki tahun 2025. Hehe ...

Enggaklah, ya. Kalau Desember hadir, berarti Januari sampai November telah mendahului hadir. Mana bisa loncat bulan?

Nah. Senyampang 2025 belum habis, apakah rencana kalian ke Yogyakarta bakalan segera dilaksanakan? Kalau iya, apakah Malioboro kalian masukkan ke dalam daftar tempat yang wajib dikunjungi? 

Lalu kalau kalian mewajibkan Malioboro untuk dikunjungi, apa alasannya? Hal apa yang paling menarik dari Malioboro? Yang menyebabkannya terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja? 

Ngomong-ngomong, sekarang emperan toko di sepanjang Malioboro relatif bersih. Tidak ada lagi deretan lapak-lapak yang jualan kaus khas Malioboro, pakaian bercorak batik, dan aneka aksesoris yang bisa dijadikan oleh-oleh bagi wisatawan. Lapak-lapak itu telah dipindahkan ke Teras Malioboro.

Nah. Menurut kalian, itu bikin kecewa atau bikin hepi sebab malah menghilangkan ciri khas Malioboro? Yuk, mari berdiskusi di kolom komentar. 



 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template