Senin, 02 Maret 2026

Jajan Papeda di Jogja

6 komentar

HALO, Sobat Pikiran Positif. Masih berpuasa? Okelah kalau begitu. Berarti inilah saat tepat untuk menggodamu yang sedang berpuasa. Terutama jika sedang lemas-lemasnya. Haha!

Yoiii. Sekarang aku mau ngomongin makanan yang bakda Magrib kemarin kubeli di Plataran Masjid Gedhe Kauman. Ceritanya aku ikutan pengajian jelang buka puasa di masjid itu. Kemudian sekalian Salat Magrib berjamaah. 

Nah. Habis Magriban aku pulang. Dalam perjalanan pulang itulah aku melirik sana-sini. Di plataran tersebut, baik saat Ramadan maupun bukan Ramadan, memang selalu ada penjual jajanan yang berderetan menggoda iman.

Kebetulan sewaktu lewat lapak penjual papeda, kondisinya sepi tanpa pembeli. Terpantik rasa penasaran sekaligus keinginan untuk jajan dan melarisi pedagang kecil, mampirlah aku. Karena ada tulisan PAPEDA 2.500 di gerobak penjualnya, kupesan 5.000 yang berarti dapat 2 papeda. 

Uangku 10.000. Mau sekalian beli 4 aku ragu. Kalau ternyata tidak doyan 'kan gawat. Bisa susah payah untuk menghabiskannya nanti. Kalau dibuang sayang. Lagi pula, aku adalah pembenci orang-orang yang hobi bikin food waste. Nggak konsekuen dong, jadinya.

"Beli 2 ya, Pak."

"Dua saja? Pedas atau tidak?"

"Iya 2 saja. Pedas.

Si penjual pun sigap memanaskan 2 teflon berukuran sedang. Setelah dirasa cukup panas, dituangkannya cairan putih encer ke tiap teflon. Yang kemudian kuketahui kalau itu cairan tepung kanji. 

Selanjutnya, ke atas masing-masing teflon dipecahkan sebutir telur puyuh. Dengan sigap, sang penjual langsung meratakan telur ke seluruh bagian cairan tepung kanji.

Berhubung aku minta pedas, di atas tiap teflon ditaburi lumayan banyak bubuk cabai. Yang setelah kucicipi saat tiba di rumah, ternyata bubuk cabainya enak bangeeet. Kayak ada campuran kacang tanahnya.

Si penjual menggulung papeda setelah dirasa matang. Sebelum diserahkan kepadaku, dia menawarkan mau pakai kecap dan saus atau tidak. Kujawab tidak. Kubayangkan, citarasa autentiknya bisa hilang kalau dimakan pakai saus dan kecap.

Sampai di sini kalian mungkin ingin berkomentar, "Papeda kok kayak gitu? Itu telur gulung campur kanji namanya." 

Hehehe ... Mula-mula aku juga berpikiran begitu. Setahuku papaeda berbentuk mirip bubur. Dimakan pakai kuah kuning. Sewaktu kupotret dan kemudian hasilnya kupamerkan ke seorang teman, dia berkomentar senada.

Ternyata, oh, rupanya. Setelah aku googling kutemukan ini.

Hehe .... Rupanya justru kami berdua yang kurang up date. Parah, parah. Sudah protes-protes ternyata salah pula. 

Ngomong-ngomong, papeda telur puyuh yang kubeli rasanya lumayan enak. Akan tetapi, kalau dimakan di tempat umum berpotensi mengurangi keanggunan. Ingatlah bahwa bahan dasar papeda adalah tepung kanji. Automatis molor, dong. Nah. Saat digigit bisa elastis, tuh. Isian bubuk cabainya bisa pula ikut berantakan alias nyeprat-nyepret.

Ngomong-ngomong, kalian sudah ada yang pernah jajan papeda gulung seperti ini? Menurut kalian, perbandingan citarasanya dengan yang papeda aseli gimana?


Senin, 23 Februari 2026

Imlek 2026 di Malioboro dsk

11 komentar

HALO, Sobat Pikiran Positif? Selamat menjalankan rangkaian ibadah Ramadan, ya. Tentu ucapan ini spesial buat kamu dan kamu yang menjalankannya. Kalau kamu (meskipun beragama Islam) tidak menjalankan ibadah Ramadan, pastilah tidak termasuk target ucapan spesial tersebut. Haha ... 

Amboi. Belibet nian paragraf pembuka tulisan ini 'kan? Eeetapi jangan apriori dulu untuk lanjut baca hingga tuntas. Dijamin paragraf-paragraf selanjutnya tidak belibet. Sebab pada dasarnya hanya akan bercerita melalui foto-foto, tentang nuansa Imlek 2026 di Malioboro dsk. Apa itu dsk? Sudah pasti singkatan "dan sekitarnya", dong.

Mengapa tidak Malioboro saja? Mengapa mesti diembel-embeli dsk? Lhah, gimana? Karena memang foto-foto bernuansa Imlek yang kupamerkan di sini tidak cuma yang ada di Malioboro, tetapi yang ada di Stasiun Yogyakarta dan area Titik Nol juga.

Baik. Mari mulai dari foto paling atas. Yang ada kudanya itu. Yang menunjukkan kalau Imlek 2026 adalah memasuki Tahun Kuda Api. Foto tersebut aku jepret di dekat perempatan Titik Nol Jogja. Tepatnya yang di trotoar depan Gedung Agung (Istana Kepresidenan Yogyakarta).

Kemudian dua foto di bawah ini. Lampion-lampion merah itu menghiasi tiap sudut jalan di seantero Kawasan Malioboro. Menyelinap di antara pengunjung Malioboro. Menemani mereka yang nongki-nongki di situ.

Tentu yang paling istimewa di sekitaran mulut gang Kampoeng Ketandan.Depan mulut gang dihiasi deretan lampion merah cerah. Sungguh menarik dan bikin aku yang penyuka merah menjadi amat antusias.

Perlu diketahui, lusa hingga awal Maret Kampoeng Ketandan bakal makin meriah. Yup, akan ada PBTY (Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta) 2026. Nah, lho. Baru membayangkan saja sudah riuh di kepala.

Kemudian tiga foto terakhir, kupamerkan foto-foto di Stasiun Yogyakarta. Tak usah bingung Stasiun Yogyakarta itu yang mana. Mari diingat-ingat saja. Stasiun Yogyakarta adalah nama resmi stasiun kereta api yang berlokasi di ujung utara Jalan Malioboro. Yang lebih terkenal dengan nama Stasiun Tugu.

Perlu diketahui bahwa selain punya nilai historis yang kental, Stasiun Yogyakarta ditahbiskan sebagai salah satu stasiun paling instagramable di Indonesia. Hmm. Apakah kamu setuju pentahbisan itu? Berdasarkan pengalamanmu bagaimana?

Ngomong-ngomong, demikian cerita nuansa Imlek 2026 dari Malioboro dsk. Semoga bermanfaat atau minimal menghibur. 



Senin, 16 Februari 2026

KASM di Malioboro Yogyakarta

12 komentar


 

HALO, Sobat Pikiran Positif? Sebentar lagi Imlek dan Ramadan, nih. Seru dan unik, ya? Dua momentum besar tersebut bisa kita (bangsa Indonesia) hadapi dalam satu jangka waktu. Jarang terjadi 'kan? 

Eh, tapi aku sekarang tidak hendak ngomongin Imlek dan Ramadan. Insyaallah nanti di postingan selanjutnya. Karena kali ini, aku mau ngomongin KASM yang ada di Malioboro dulu.

Apa itu KASM? Tak lain dan tak bukan  itu singkatan dari Kran Air Siap Minum. Jadi, air yang mengucur dari kran yang kita buka, bisa langsung diminum. Tak perlu dimasak terlebih dahulu.

Jadi misalnya kita bawa gelas dan sendok plus kopi yang bisa diseduh dengan air bukan air panas, bisa banget ngopi-ngopi santai di tempat. Tinggal pilih KASM yang berlokasi di mana. Hehe ...

Nah. Di sini aku bermaksud menginformasikan KASM yang ada di kawasan Malioboro. Siapa tahu di antara kalian ada yang belum tahu tentangnya?

Begini. Setelah peranti-peranti KASM di kawasan tersebut rusak beberapa tahun silam, yang berujung "bangkainya" tak lagi ketahuan rimbanya, syukurlah memasuki tahun 2026, KASM diadakan lagi. Semoga kemunculannya kali ini awet. Keterlaluan kalau rusak lagi, rusak lagi.

Perlu diketahui, ada 5 KASM yang tersebar di kawasan Malioboro. Di mana sajakah itu? Mari kita mulai mengabsen dari selatan, yaitu dari area Titik Nol. 

KASM yang ada di sisi barat jalan terletak di depan Gedung Agung (Istana Kepresidenan Yogyakarta). Sementara yang di sisi timur jalan terletak di depan Museum Benteng Vredeburg (persis di belakang halte TransJogja).

Adapun 3 lainnya terletak lebih ke utara. Yang 2 di sisi timur jalan, yaitu di pintu barat Kompleks Kepatihan dan di depan Hotel Grand Inna Malioboro. Yang 1 lagi ada di sisi barat jalan. Tepatnya di depan Jogja Library Center.


Dokpri Agustina

Silakan ingat-ingat, terutama buat kalian yang baru-baru ini habis berkunjung ke Malioboro, kalian menjumpai KASM-KASM itu atau tidak? Atau, malah sudah memanfaatkannya?

Kiranya sekian informasi tentang Kran Air Siap Minum (KASM) yang ada di kawasan Malioboro Yogyakarta. Semoga bermanfaat. Tunggu ceritaku lainnya tentang Yogyakarta.



Senin, 09 Februari 2026

Larangan Merokok di Malioboro

12 komentar
Dokpri Agustina


HALO, Sobat Pikiran Positif? Belakangan ini kalian sempat berkunjung ke Malioboro? Yoiii. Malioboro yang di Yogyakarta itu. Tempatku keluyuran sepanjang waktu. 

Kalau iya, pastilah kalian sempat juga melihat emplek-emplek yang foto-fotonya kusematkan di tulisan ini. Emplek-emplek menarik yang berisi pesan menyebalkan bagi para perokok. Haha!

Betapa tidak menyebalkan kalau isinya pengingat bahwa Malioboro merupakan KTR alias Kawasan Tanpa Rokok. Mana di situ dicantumkan pula perdanya. Perda Nomor 2 Tahun 2017 tentang Kawasan Tanpa Rokok.


Dokpri Agustina


Sebetulnya suatu upaya yang bagus, sih. Malioboro 'kan sebuah kawasan publik. Destinasi wisata yang notabene penuh pengunjung. Jadi, adanya larangan merokok di situ memang tepat. Bakalan bikin nyaman banyak orang. 

Akan tetapi, apakah jalan-jalan nyaman di Malioboro tanpa asap rokok bisa terwujud? Terwujud secara permanen alias selama-lamanya? Bukan cuma pas gencar ada sosialisasi dan razia? Ehm. Saya kok pesimis. 

Sebenarnya 'kan larangan merokok di Malioboro itu sudah berlaku sejak lama. Sejak beberapa tahun lalu. Bukan baru-baru ini saja. Namun, sosialisasinya terkesan setengah hati. Begitu pula penegakan aturannya (larangannya).

Dokpri Agustina
Dokpri Agustina


Sama persis dengan larangan menyewakan skuter atau kendaraan listrik apa pun di Kawasan Malioboro. Sama persis maksudnya ya, sama-sama cuma wacana hihi ... 

Katanya dilarang, kok masih ada? Ternyata, o, rupanya. Ada semacam adu kuasa yang tak kasat mata dalam pelaksanaannya. Entahlah. Namun, lumayanlah. Masih ditulis juga larangan menyewakan kendaraan listrik itu di bawah larangan merokok.

Ngomong-ngomong, untuk pelarangan merokok di Malioboro malah aku pernah melihat sebuah keanehan. Keanehan apakah? Hmm ... satpol PP-nya merokok, dong. Tentu merokoknya bukan saat sosialisasi gencar dilakukan. Saat sudah adem ayem itu, lho. 

Coba bayangkan. Kalau kondisinya seperti itu, apa mungkin Malioboro segera bisa menjadi KTR alias Kawasan Tanpa Rokok? 'Kan jauh panggang dari api.

Semoga tulisan ini dibaca pihak berwenang. Jadi, bisa untuk bahan evaluasi.


 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template