Jumat, 19 November 2021

Pengalaman Ditolak Nicholas Saputra

32 komentar

HAI, Sobat PIKIRAN POSITIF. Tetap sehat dan tetap semangat 'kan? Semoga deh, ya. Kalaupun kadangkala menghalu sedikit tak jadi soal. Yang terpenting, tetaplah sadar bahwa kita hidup di alam nyata. Bukan di alam kehaluan.

Eeeeetapiii ....

Acap kali pula halu demi halu, kalau ditelateni ternyata bisa menjadi kenyataan. Beneran. Paling tidak, itulah yang baru saja terjadi pada saya dan dua kawan seperhaluan.

Kebiasaan kami berandai-andai (baca: halu) untuk mengobrol langsung dengan Nicholas Saputra, akhirnya menjadi fakta saat nobar Paranoia tempo hari ....

 

Dokpri


Kami #KembalikeBioskop

Yup! Pada tanggal 8 November 2021 lalu, akhirnya kami #kembalikebioskop dan beruntung bisa bertatap muka langsung dengan Nicholas Saputra. Sudah pasti ia hadir sebab menjadi salah satu pemain di film yang kami tonton, yaitu Paranoia. Bukan semata-mata untuk menemui kami. Hahaha!

 

Dokpri


Sesungguhnya Paranoia rilis resmi tanggal 11. Akan tetapi, sebelum tanggal tersebut ada nobar dengan #timparanoia untuk khalayak terbatas. Beruntunglah saya dan dua kawan seperhaluan bisa terangkut nobar tersebut.

Alhamdulillah sejak Oktober kami sudah menggenggam tiketnya. Walaupun saat itu belum tahu bakalan ada Nicholas Saputra atau tidak, yang penting punya tiket dulu. Toh anggota tim yang lain akan hadir.

Lagi pula, kami memang penasaran dengan filmnya. Iklan Paranoia yang wara-wiri di linimasa 'kan bikin kepo. Cuplikan adegan dan dialognya tampak tegang-tegang misterius. Bahkan, Babang Nicholas Saputra tampil enggak kiyut di situ. Bikin bertanya-tanya, "Dia berperan sebagai apa? Itu film tentang apa?"

Nah! Rancu memang. Motivasi terkuat kami untuk menonton Paranoia sebenarnya Nicholas Saputra atau cuplikan filmnya?

Namun apa pun jawabannya, yang jelas sore itu kami kembali mengirup aroma popcorn di bioskop. Yes! Kami #kembalikebioskop setelah setahun lebih terjeda Covid-19.

 

Dokpri


Nicholas Saputra dan Kamera Depan

Sesuai dengan harapan, Nicholas Saputra (pemeran tokoh Raka dalam Paranoia) bisa ikut hadir nobar di XXI Yogyakarta. Hadir pula Nirina  Zubir (pemeran tokoh Dina) serta Riri Riza (sutradara) dan Mira Lesmana (produser).

Sebelum film mulai ditayangkan, ada sambutan-sambutan pendek dari keempatnya. Seremonial tipis-tipislah. Sekalian mereka say hello to us.

 

Sepertinya ia tahu kalau saya zoom (Dokpri)


Saya tidak ingat isi sambutan singkat Mira dan Riri. Kalau Nic menekankan penonton agar taat prokes sehingga bioskop tidak kembali ditutup gara-gara menjadi kluster baru penyebaran Covid-19.

Sementara Nirina sedikit bercerita tentang Paranoia behind the scene. Ia pun berkisah tentang adegan yang paling berkesan baginya. Alhamdulillah bukan hanya sambutan Nic yang saya ingat.

Usai sambutan ada acara berswafoto bersama. Pakai HP Nicholas Saputra. Tentu dialah yang bertugas menjepret. Dengan konsekuensi, wajah indahnya yang tampil paling besar.

Di bawah ini bukan hasilnya, melainkan hasil jepretan fotografer Mirles Production. Hmm. Apakah engkau melihat saya dan kawan-kawan?

 

Diambil dari akun IG Mirles Production

 

Selepas berswafoto #timparanoia keluar ruangan. Film pun mulai diputar.

Ditolak Saat Meminta Berfoto Bareng

Pada awal tulisan telah saya singgung tentang sederet kehaluan kami yang menjadi fakta. Itu lho, yang akhirnya kami beneran bisa mengobrol langsung dengan Nicholas Saputra. Pasti engkau sekalian penasaran dengan isi obrolan tersebut. Iya 'kan?

Hmm. Tenanglah. Mohon tidak buru-buru merasa iri dengan kami.  Obrolannya tidak panjang, kok. Tidak sampai diselingi ngopi-ngopi, hahahihi, dan selfie-selfie.

Malah lebih tepatnya Nicholas Saputra saja yang bicara, sedangkan kami cuma manggut-manggut plus senyum-senyum dan sesekali bilang, "Iya, Mas. Baik, Mas. Paham, Mas."

Itu pun lima detik pertama kami malah nge-freeze. Terpana memandangi wajahnya yang saingan benderang dengan lampu outlet popcorn, padahal sesungguhnya ia sedang dalam versi kucel kelelahan.

Maklumlah. Kami 'kan sama sekali tak menyangka kalau malam itu akan bertatapan mata dengannya. Iya, lho. Serius bertatapan mata dan bukan kami yang mencari-cari matanya. Justru ia yang menatap kami satu per satu dengan jarak demikian dekat.

Yeah? Walaupun isi pembicaraan berupa penolakannya atas ajakan untuk berfoto bersama, Nicholas Saputra sukses menghindarkan kami dari rasa kecewa.

Bagaimana mau kecewa kalau ia bersikap takzim kepada kami? Menolak diajak berfoto (padahal satu dua jepretan cuma butuh beberapa detik), tetapi mau meluangkan waktu hampir dua menit untuk menjelaskan alasan penolakannya.

Kalau direnungkan, bukankah kami malah beruntung? Bisa menyimak suara dan tatapan matanya secara dekat sekali. Yang sensasinya jelas beda dengan tatkala menyimak suara dan wajahnya di Live IG atau film.

Sudah begitu, pakai acara pamitan segala ketika ia hendak berlalu menuju wawancara. Duileee. Jangan-jangan kami telah ditahbiskannya sebagai fans tersopan. 'Kan kami tidak nekad curi-curi momentum untuk cekrak-cekrek, padahal amat kondusif untuk memaksanya (menjebaknya) in frame with us.

Sungguh mengagumkan kami bisa sesopan itu. Tidak sampai lepas kendali yang berpotensi ditandai sebagai fans gila. Saya pun tidak mendadak khilaf untuk menggelendot manja di lengannya yang berjarak secentimeter saja di sebelah kanan diri ini. *Nyengiiir*

Begitulah pesona Nicholas Saputra. Alih-alih penolakannya bikin sakit hati. Yang ada justru menguatkan tekad kami untuk bikin perencanaan halu secara lebih detil dan terstruktur. Dengan harapan, kelak kehaluan itu menjelma realita.*Tekadnya ngeriii*

Terlebih kemudian kami tahu bahwa mengajaknya foto bareng dalam suasana ikhlas ternyata butuh perjuangan. Pada umumnya tak bisa sukses dalam sekali perjumpaan.Ckckck. Ngeselin juga, sih.

Dari sebuah akun IG kami mendapatkan fakta mencengangkan. Si Mbak pemilik akun dalam unggahan foto selfienya bareng Nicholas Saputra menuliskan caption panjang yang informatif.

Si Mbak menuturkan bahwa foto tersebut buah dari penantian panjangnya, setelah sekian lama berusaha untuk berfoto bareng sang idola. Sejak si Mbak masih lajang, bahkan jauh sebelum mengenal suaminya (sekarang anak mereka telah cukup besar).

Astaga sekali informasi faktualnya. Itu pun si Mbak tinggal di wilayah Jakarta. Yang notabene probabilitasnya untuk mengejar Nicholas Saputra, dalam acara-acara terkait perfilman, lebih besar daripada kami yang di daerah.

Terlebih kami sangat pemalu dan super sopan. Kekaleman kami pun enggak ketulungan. Jadi, mau minta foto bareng saja maju mundur tak karuan.

Kami bingung kapan ngambil celah minta izinnya. Gimana, ya? Silih berganti orang menyapa dan mewawancarainya. Bikin kami tak enak hati untuk menyela. Alhasil, kami selalu dikalahkan oleh penggemar lain yang lebih gagah berani merangsek ke dekatnya.

Sekalinya berani bilang minta foto bersama, eeeh, jatah mood berfoto Nicholas Saputra sudah musnah. Bertepatan pula dengan segera dimulainya jadwal Live IG-nya. Yo wis.

Untung kami sukses berpose dengan Mira Lesmana dan Nirina Zubir. Itu pun pakai acara menyela kesibukan mereka dengan khalayak. Untung pula ada Adiba yang bersedia memotret kami bertiga dan ia tak berminat gantian difoto. Yang antre foto bareng Mira dan Nirina banyak juga, lho. 

 

Bersama Mira Lesmana (Dokpri)

Bersama Nirina Zubir (Dokpri)


Ah, tapi hidup mesti berPIKIRAN POSITIF. Mestakung. Semesta mendukung. LOA. Law of Attraction.

Insyaallah kelak bakalan ada kesempatan mengobrol lebih lama dengan sebuah topik menarik. Tentunya plus bisa mengajak Babang Bule Nicholas Saputra berfoto dengan ikhlas. Hmm. Namanya juga halu (baca: cita-cita). Mesti semaksimal mungkin, dooong.

MORAL CERITA:

Alhamdulillah pernah ditolak NicSap sehingga lahirlah tulisan ini. Hahaha!

 

 

Sabtu, 06 November 2021

Life Hack Terkait Minyak Goreng

32 komentar

APA kabar Sobat PIKIRAN POSITIF? Masih setia jaga jarak dan menghindari kerumunan? Masih setia memakai masker? Eh, maukah kalau kuajak ngerumpiin minyak goreng? Mau, ya? Hehehehe ....

Begini. Beberapa hari lalu ketika sedang jalan-jalan di negeri twitter, kudapati cuitan seorang kawan. Baca berita hari ini. Harga minyak goreng naik, jadi semua gorengan ini digoreng dengan minyak minimalis. Tetap kriuk dan renyah.

Foto yang disertakannya sebagai pelengkap caption adalah foto sepiring gorengan. Seingatku ada risoles, samosa, dan kentang goreng.

Semua itu jualannya. Ia memang menjual aneka kudapan dalam bentuk frozen. Namun, boleh pula kalau pembeli minta digorengkan sekalian. Aku tahu karena termasuk salah satu pelanggannya.

Harga minyak goreng naik? Waaah. Malah enggak tahu aku. Seriuskah? Kubalas cuitannya.

Benar, Mbak. Ini beritanya. Ia menanggapi sekaligus memberikan sebuah tautan berita terkait.

Langsung aku klik tautan tersebut. Ingin tahu kabar detilnya. Seusai membaca, kubalas lagi cuitannya. Ternyata sudah sejak kemarin. Klo gak baca cuitanmu pasti aku gak sadar klo harganya naik. Hahaha!

Kamu futuristik, Mbak. Idemu memanggang lumpia dan samosa menjadi relate dengan situasi terkini. Tulisnya.

Spontan aku membalasnya dengan sederetan emotikon tertawa lebar.

Lumpia dan Samosa Panggang

Beberapa bulan sebelumnya aku mengunggah foto dua lumpia dan dua samosa dengan caption begini. Dibakar saja supaya lebih sehat dan pastinya hemat minyak goreng. Edisi frozennya kubeli di @namakawantersebut.

Biasalah. Sambil menyelam minum air. Sambil menuntaskan hasrat narsis, sekalian mempromosikan jualan kawan.

Sungguh tak disangka, kawan tersebut tertarik sekali dengan unggahanku. Tepatnya sih, tertarik cenderung heran. Tidak menyangka kalau jualannya kumatangkan dengan cara berbeda.

Baru tahu dia kalau diriku terbiasa mengkhianati resep gorengan. Pokoknya apa pun bahan makanan yang bisa dimatangkan sempurna dengan cara selain digoreng, pasti akan kukhianati walaupun lazimnya digoreng. Contohnya ya lumpia dan samosa tadi. 

 

Lumpia panggang (Dokpri)


Apakah siasat kreatif itu dilandaskan pada semangat untuk hidup lebih sehat? Atau, untuk mendukung gerakan nol emisi karbon?

Seiring waktu berjalan kedua hal tersebut memang menjadi pertimbangan. Namun sejujurnya, semula alasanku simpel belaka: tidak mau boros gara-gara keseringan buang-buang sisa minyak goreng.

Jika kudapan digoreng sesuai pakem, pastilah butuh banyak minyak goreng untuk bisa melakukan deep frying. Kurang lebih butuh dua sendok sayur, jika hendak bikin empat gorengan saja. Jelantah atau sisa minyak bekas pakainya pasti bakalan terbuang.

Lain halnya jika dipanggang. Hanya butuh sedikit minyak goreng untuk mengolesi  kudapan yang hendak dipanggang. Tak bakalan ada jelantah yang mesti dibuang.

Mengapa jelantah tak disimpan dulu? Bukankah masih bisa dipergunakan sekali lagi? Tidak harus dibuang sekali pakai sehingga dapat lebih hemat 'kan?

Mohon maaf. Bukannya sok kaya dan sok sehat, nih. Tradisi menyimpan jelantah memang tidak cocok kupraktikkan. Alasannya, tidak tiap hari dapurku beroperasi. Jadi, jelantah simpanan berpotensi kadaluarsa sebab tak kunjung dipakai. Malah menunda membuang saja.

Nah!  'Kan jatuhnya boros minyak banget kalau aku nekad menggoreng dua lumpia dan dua samosa saja? Itulah sebabnya kubudayakan memanggang.

Mengapa tidak memperbanyak saja jumlah kudapan yang digoreng? Ben sumbut. Wah, yang makan siapa? Anggota keluargaku minimalis sekali. Cuma dua termasuk diriku. 

Teflon Andalan

Bagaimana caraku membakar/memanggang bahan makanan? Pakai alat khusus? Oh, tentu tidak. Senjata andalanku di dapur hanyalah teflon. Jenis teflonnya pun yang standar saja. Bukan yang dilabeli anti lengket. Ini nih, penampakannya.

 

Teflonku (Dokpri)


Kalau untuk bikin telur mata sapi atau telur dadar tetap butuh sedikit minyak goreng atau mentega. Begitu pula jika hendak membakar pisang, tahu, tempe, sosis, nugget, dan aneka kudapan frozen. It's simple.

Tak Perlu Bergantung pada Minyak Goreng

Percayalah. Hidup tak akan berubah menjadi datar hanya karena berjarak dari minyak goreng. Faktanya, sekian lama saya mengkhianati resep gorengan dan hidup masih  terjalani dengan jungkir balik tak keruan.

Nah, lho! Bukankah itu bukti bahwa menjalani gaya hidup minim gorengan tak serta-merta mengubah hidup menjadi datar? Hehehe ....

Jadi kalau ditantang, apa aku sanggup puasa memasak goreng-gorengan? Secepat kilat kujawab, "Siapa takut?"

Mohon jangan salah paham. Puasa memasak dengan minyak goreng tak berarti tak mengonsumsi gorengan lagi, lho. Keduanya beda pengertian.

Tolong camkan baik-baik. Aku tetaplah doyan gorengan. Yang nyaris tidak kulakukan lagi adalah membuat aneka gorengan sendiri. Kalau sedang mengidam the real gorengan, aku beli barang dua atau tiga potong. Jadi, tak perlu ikut pening mikirin kenaikan harga minyak goreng segala.

MORAL CERITA:

Hidup hanyalah tentang adaptasi untuk menyiasati kesulitan ataupun kondisi baru.


Sabtu, 30 Oktober 2021

Blog Menjaga Kewarasan dan Eksistensiku

6 komentar

HAI, Sobat PIKIRAN POSITIF. Kabar kalian bagaimana? Always keep positive 'kan? Alhamdulillah banget ya, kalau kita bisa selalu mengedepankan PIKIRAN POSITIF.

Percayalah. Ruwetnya dunia bakalan lebih mudah diurai deh, kalau kita tak tunduk pada pikiran negatif. Ini fakta dan riil. Tak sekadar teori ataupun rangkaian kata nan indah.

Alhamdulillah. Setelah melalui proses panjang dan tak mudah, aku berhasil menemukan kebenaran dari teori pikiran positif tersebut. Dalam arti, mampu betul-betul memahami apa yang dimaksudkan dengan pernyataan always keep positive.

Tentu aku bahagia karenanya. Itulah sebabnya kuabadikan PIKIRAN POSITIF sebagai nama blog pribadi. Asal tahu saja. Sebelum mempergunakan nama PIKIRAN POSITIF, blog ini sempat dua kali berganti nama.

The Magic of Positive Thinking, Ngeblog Bikin Waras

Waktu kemudian membuktikan bahwa keputusanku tepat. Rupanya dengan memberikan nama PIKIRAN POSITIF, aku ibarat merapal mantra-mantra demi mengundang hal-hal positif bagi blogku. Tentu tak termasuk positif covid-19 lho, ya.

Demikianlah adanya. Nama PIKIRAN POSITIF memang mendatangkan banyak kebaikan, baik bagi blog maupun bagiku selaku pemilik sekaligus pengelolanya.

Tentu kebaikan-kebaikan itu datang dalam aneka rupa bentuk. Ada yang bersifat materiil. Ada pula yang immateriil.

Salah satu di antaranya membuatku senantiasa ingat bahwa mengedepankan pikiran positif jatuhnya lebih menguntungkan daripada suuzon (mengedepankan pikiran negatif).

Kiranya poin ini merupakan poin paling penting. Apa alasannya? Sebab secara signifikan telah mengubah caraku menjalani hari-hari.

Dengan terbiasa berpikiran positif, minimal diri ini sanggup bersikap "lebih santai" meskipun sedang menghadapi kondisi yang buruk. Tentu kondisi demikian terasa membahagiakan sehingga aku ingin membagikannya kepada khalayak. Tujuannya agar makin banyak orang yang merasakan magic dari kebiasaan berpikir positif.

Sudah pasti blog PIKIRAN POSITIF-lah yang menjadi saranaku berbagi. Silakan cek tulisan-tulisan yang tayang di blog ini. Insyaallah tak ada yang mengandung ajakan untuk suuzon.

Alhamdulillah di kemudian hari, aku bahkan berhasil menerbitkan buku-buku  bertema pikiran positif (dengan nama pena Octavia Pramono). Tentu idenya lahir berdasarkan pengalaman pribadi. 

 

Karyaku dengan nama pena (Dokpri)


Sungguh. Blog PIKIRAN POSITIF ini telah menjadi semacam pengendali sikap dan perasaanku. Membuatku waras. Bikin mentalku lebih sehat. Plus sebagai cambuk untuk selalu memandang segala hal dari sudut pandang positif.

Alhasil, aku merasa berada di dalam lingkaran setan kebaikan. Ah? Apa pula ini? Setan kok baik?

Entahlah apa istilah tepat untuk menyebutnya. Yang jelas, kebiasaan mengedepankan pikiran positif yang kemudian kumonumenkan menjadi nama blog, seolah-olah menjadi magic tersendiri bagiku. Termasuk sebagai magic yang bikin motivasi menulis, baik di blog maupun di media mana saja, terjaga. 

Kemudian tatkala sedang merasa langit menghimpit bumi menjepit, kubaca lagi tulisan-tulisanku yang berisi ajakan untuk berpikir positif. Kembali kuserap motivasi-motivasi yang terkandung di dalamnya.

Iya. Tulisan-tulisan itu gantian berperan sebagai pengingat bagiku. Pengingat sekaligus penguat dan penjaga agar diriku always keep positive.

Ada cerita "lucu" terkait nama PIKIRAN POSITIF yang tersemat pada blog ini. Begini. Dari semua problema kesehatan fisik yang mendera, gigi adalah problema utamaku.

Ngilunya kalau kambuh jelas bikin nyala motivasi meredup. Sementara bentuk dan tingkat kerapian gigiku, walaupun tidak sedang ngilu, juga berpotensi bikin over thinking.

Naaah. Ketika pikiran positifku sedang  keluyuran entah ke mana, lalu kuteringat ketidakelokan bentuk gigiku, di situlah aku tergelincir. Tanpa sadar di depan cermin berkeluh kesah perihal gigi ....

Lalu si bocah kesayanganku yang ternyata diam-diam mengamati, spontan berkomentar, "Ckckck! Nama blognya aja PIKIRAN POSITIF. Kok orangnya malahan ngeluuuh terus. Kerjaannya over thinking melulu."

Hahaha! Spontan aku ngakak so hard mendengar celetukan tersebut. Merasa geli, malu, plus bersyukur sebab  secara gokil diingatkan oleh anak.

Ngeblog Membuatku Eksis sehingga Mudah Ditemukan

Blog PIKIRAN POSITIF ternyata memperkuat eksistensiku juga. Terkhusus eksistensi di dunia maya. Kalau eksistensiku di dunia nyata sih,  memprihatinkan. Kukira hanya pak pos dan para kurir ekspedisi yang mau repot mencari-cariku di dunia nyata. Hehehe ....

Maklumlah. Aktivitas ngeblog berikut turunannya 'kan memang berada di dunia maya. Turunan yang kumaksudkan adalah aneka platform medsos yang biasa dipakai untuk campaign. Yang sering dimanfaatkan untuk mendukung promosi tulisan di blog.

Dengan demikian, jejak digitalku banyak. Sangat mudah kalau hendak menyelidikiku. Tinggal ketikkan nama asliku atau nama penaku di kolom pencarian Google. Pasti bakalan keluar sederet informasi dan foto terkait diriku.

Naaah. Rupanya itulah yang dilakukan oleh dua kawan SMP-ku, tetapi dalam masa yang berlainan.

Ceritanya, sudah puluhan tahun kami tak saling jumpa selepas lulus SMP. Eh? Tiba-tiba mereka mengirimkan permintaan pertemanan di FB. Sungguh kejutan yang menyenangkan.

Terlebih saat kutahu bahwa mereka sukses melacak keberadaanku dari blog PIKIRAN POSITIF ini. Wow! Kejutan menyenangkannya terasa kian menyenangkan.

"Mulanya iseng kuketik nama lengkapmu. Pesimis juga, sih. Khawatirnya kamu pakai nama alias. Ternyata malah muncul alamat blogmu. Kebetulan kok nemu  juga tulisan tentang pengalamanmu aktif di majalah dinding sekolah. Ditambah melihat fotomu, yang ternyata wajahmu tak jauh berubah."

Demikian tutur salah satu dari mereka, saat kutanyakan kronologinya bisa menemukanku di FB. Wow! Blog PIKIRAN POSITIF-ku faedahnya dahsyat juga, ya?

Aku bersyukur selama ini konsisten menulis dengan santun sehingga tak bikin gerah pembaca. Bisa-bisa kawan-kawan lama urung menyapa bila belum-belum sudah jengah membaca tulisanku.

Aku pun memperkuat tekad untuk ngeblog dan main medsos lainnya secara sehat. Tak perlu mengejar viral dengan cara aneh-aneh. Lagi pula, aku amat meyakini bahwa tiap tulisan akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. 

Pintu Gerbang Menuju Aneka Pengalaman

Blog PIKIRAN POSITIF telah menjadi salah satu sumber rezekiku, baik rezeki yang bersifat materiil maupun nonmateriil. Kuantitasnya secara materi memang belum banyak. Sesuai dengan kapasitasku lah yaaa.*Tutup muka rapat-rapat.*

Akan tetapi, sejauh ini blog PIKIRAN POSITIF telah membuatku merasakan aneka rupa pengalaman. Terlebih saat pandemi belum ada. Lumayan kerap diri ini terangkut untuk hadir di suatu acara sebagai blogger.

Otomatis dalam forum-forum serupa itu, sekaligus menjadi ajang kopdaran sesama blogger. Temu kangen. Foto bersama. Kalau yang belum kenal bisa saling kenalan.  

Lebih dari itu, yang paling mengesankan tentulah memfoto dan berfoto bersama dengan tokoh. Kalau tokohnya idola kita, pastilah kita akan berjuang untuk bisa berfoto bersamanya. Kalaupun tidak, kita tentu akan memfotonya demi kepentingan dokumentasi. Iya 'kan?

 

Acara bersama Kominfo dan Gus Mul (Dokpri)


Seru 'kan? Bisa menambah pengalaman, teman, sekaligus goodie bag seisinya plus kadangkala uang jajan atau voucher belanja. Hahaha!

Begitulah adanya. Setelah kurenungkan dan kudata mug-mug di rak dapur, tersadarlah diri ini bahwa blog  PIKIRAN POSITIF-ku memang "sesuatu". Penampakannya sederhana, tetapi telah menjadi pintu gerbang bagiku untuk menikmati rupa-rupa pengalaman.

Kok pakai menyebut mug-mug di rak dapur? Apa korelasinya? Yaelah. 'Kan benda-benda itu berlabel acara-acara yang pernah kuhadiri sebagai blogger? Jadi, dapat dikatakan bahwa mug-mug tersebut merupakan saksi perjalanan kebloggeranku.

Namun, jangan salah sangka. Tidak semua acara memberikan benefit berupa mug. Ada pula yang berupa benda-benda lain, kok. Misalnya tumbler keren seperti yang tampak pada foto berikut.

 

(Dokpri)


*** 

Demikian curhatan panjangku tentang aku dan blog. Semoga ada manfaatnya bagi pembaca sekalian.  O, ya. Aku juga merintis satu blog lainnya dengan niche buku. Silakan berkunjung saja ke  Rak Buku Tinbe.

Hmm. Jikalau kalian masih ragu dengan the magic of positive thinking, silakan segera praktikkan dan selanjutnya telitilah. Teliti dan rasakan daya magis dari PIKIRAN POSITIF itu. Nyata adanya atau sekadar hoaks? Hehehe .... 

MORAL CERITA:

Cintailah blogmu dengan sepenuh cinta! 



Sabtu, 25 September 2021

Vitamin D dan Hobi PPJ-ku

32 komentar

APA kabar Sobat PIKIRAN POSITIF? Semoga sedang sehat jiwa raga. Eh, sudah mandi sinar matahari? Sip, deh. Pokoknya jangan lupa untuk memenuhi kebutuhan vitamin D, ya. Tentu dengan tanpa menafikan pemenuhan akan kebutuhan vitamin yang lainnya.

Lalu, ada apa dengan vitamin D dan hobi PPJ (Pura Pura Joging)-ku? Hmm. Ada apa, ya? Muehehehe .... Pastilah ada kaitan eratnya. Sebab melalui PPJ yang dimulai kurang lebih pukul 6 hingga 10 pagi, tubuh ini bisa terguyur sinar matahari dengan leluasa. Yang berarti mendapatkan asupan vitamin D secara alami.

Sobat PIKIRAN POSITIF pasti mafhum bahwa anjuran untuk berjemur di pagi hari menjadi populer selama Covid-19 merajalela. Dipercaya bisa membantu membunuh (minimal menjauhkan) si coronavirus.

Namun sesungguhnya, jauh sebelum pandemi terjadi, telah banyak orang yang memanfaatkan sinar matahari pagi untuk memenuhi kebutuhan vitamin D. Bahkan, orang yang sedang batuk acap kali menghangatkan diri dengan sinar matahari demi meredakan batuk.

Iya. Tak dapat disangkal bahwa sinar matahari pagi yang mengandung vitamin D memang berfaedah bagi tubuh. Oleh sebab itu, kita mesti bersyukur karena Indonesia dilimpahi sinar matahari. Jadi, kita punya akses gratis dan mudah terhadap sumber vitamin D alami. Ini istimewa mengingat bahwa tak semua negara punya privilige serupa.

Akan tetapi, sayang sekali tidak semua orang Indonesia bisa mengambil manfaat penuh dari privilige tersebut. Penyebabnya berbeda-beda. 

Ada yang harus pergi Subuh sebelum matahari terbit, kemudian pulangnya saat matahari sudah terbenam di ufuk barat. Adapun dalam kurun waktu di antara itu, ia berada di dalam ruangan terus-menerus. Otomatis sangat minimal kemungkinannya untuk mendapatkan vitamin sinar matahari.

Ada pula yang bernasib sepertiku. Gara-gara bertempat tinggal di perkampungan padat penduduk di dekat pusat kota, sinar matahari pun tak leluasa diakses dari sekitaran rumah. 'Kan sinar mataharinya terhalangi bangunan-bangunan tinggi?

Jadi, anjuran rajin berjemur selama pandemi pun terasa sulit dilaksanakan. Jika orang lain tinggal nongkrong di luar rumah untuk mandi matahari, orang sepertiku ya mesti kreatif untuk mencari lokasi mandi matahari. 

Alhasil, lahirlah ide PPJ. Pura Pura Joging. Bukan joging beneran sebab hanya berjalan kaki di sepanjang jalanan kota sembari motret-motret. Tidak pernah berlari ataupun sekadar lari di tempat. Yang terpenting bisa mendapatkan vitamin D alami. 

 


 

Sebenarnya sih, bisa-bisa saja mandi matahari dengan cara duduk diam di tepi alun-alun utara. Sembari merenungi pagar tinggi yang mengitarinya. Namun, pastilah cara serupa itu amat membosankan. Lebih seru kalau PPJ sekalian.

 


 

Mungkin di antara kalian pernah bertanya-tanya. Benarkah kandungan vitamin D dalam sinar matahari dapat membunuh coronavirus? Begini penjelasannya. Karena vitamin D berfungsi pula untuk meningkatkan daya tahan tubuh, insyaallah kondisi kesehatan menjadi prima. Imunitas tubuh meningkat sehingga berpotensi mengalahkan si coronavirus.

Tentu saja kebiasaan berjemur wajib dilengkapi dengan konsumsi makanan sehat. Dalam hal ini, makanan yang mengandung vitamin D. Di antaranya kuning telur, daging, jamur, ikan, susu, dan yogurt.

Karena tidak mungkin melakukan PPJ tiap hari, tentunya asupan vitamin D-ku masih kurang kalau sekadar mengandalkan sinar matahari. Untung saja ada suplemen kesehatan yang bisa membantu memenuhi asupan vitamin D. 

Yup! Seorang teman merekomendasikan D3 1000 untuk melengkapi upaya sehatku. Tersedia di toko online vitamin  sehingga praktis banget kalau hendak membelinya.


 

 

 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template