Minggu, 29 Agustus 2021

Film PARASITE: Kisah Manusia Kemaruk

8 komentar
APA kabar Sobat Pikiran Positif? Masih sehat selalu 'kan? Semoga. Pokoknya mari berusaha agar stay positive dalam pikiran dan perasaan, tetapi selalu stay negative for Covid-19. Salah satu caranya, bagaimana kalau kita bersenang-senang memperbincangkan film PARASITE? Yoiii. Film PARASITE yang menyabet banyak penghargaan itu.
 
Capture berita dari liputan6.com


Mencetak Sejarah 

Walaupun mungkin belum pernah menonton, kalian tentunya tak merasa asing dengan film PARASITE. Terlebih bila kalian merupakan warganet aktif. Meskipun sepintas lalu, pasti pernah terpapar "berita" mengenai keviralan film PARASITE. 
 
Maklumlah. Film Korea Selatan ini memang telah sukses menyabet banyak penghargaan. Apa saja penghargaan yang diraih film PARASITE? Baiklah. Mari simak penjelasan berikut ini.

O, ya. Yang paling fenomenal tentu ketika film PARASITE sukses menggaet empat penghargaan di ajang Piala Oscar pada tahun 2020 lalu. Keempatnya adalah penghargaan untuk kategori sutradara terbaik, naskah asli terbaik, film internasional terbaik, dan film terbaik.

Dengan menyabet gelar sebagai film terbaik di ajang Piala Oscar, berarti film PARASITE telah mengukir sejarah. Sejarah apakah? Yakni sebagai film Asia pertama yang sukses meraih penghargaan sebagai Film Terbaik Oscar. Memang keren 'kan?

Pastilah sebelum sampai di ajang Piala Oscar, film PARASITE telah menggaet berbagai penghargaan lain. Di antaranya meraih penghargaan tertinggi di Festival Film Cannes Palme d'Or, sebagai film berbahasa asing terbaik di Golden Globe 2020, dua piala di BAFTA Award, dan Outstanding Performance by a Cast in a Motion Picture di SAG Award.
 
 
Capture berita dari liputan6.com


Sinopsis 

Alkisah, ada satu keluarga miskin di salah satu sudut kota nan gemerlap di Korea Selatan. Itulah keluarga Kim Ki Taek yang terdiri atas empat orang. Sehari-hari keempatnya cenderung rebahan melulu. Kadangkala mereka memang bekerja sebagai pelipat kardus pizza. Namun, tentu dengan penghasilan yang tak seberapa. 

Kim Ki Taek bersama istri dan dua anaknya tinggal di daerah kumuh dan lembap. Tepatnya di sebuah bangunan semi basement. Berlokasi di pinggiran gorong-gorong entah malah sungai sehingga rawan kebanjiran. Saat menonton film PARASITE, saya mengimajinasikan tempat tinggal mereka seperti di kawasan girli (pinggir kali) kalau di Indonesia.
 
Capture berita dari liputan6.com
 
Pendek kata, mereka betul-betul hidup ngos-ngosan. Tak ada seorang pun di antara keempatnya yang mempunyai pekerjaan layak. Keempat anggota keluarga Kim Ki Taek dapat dikategorikan sebagai pengangguran nyaris total walaupun semua sedang dalam usia produktif. 
 
Nasib apes tersebab ketiadaan lowongan pekerjaan tengah mengakrabi mereka. Pastinya semua terkait dengan akses pendidikan yang telah mereka miliki sebelumnya.

Hingga suatu ketika secercah harapan datang. Anak lelaki Kim Ki Taek, yaitu Kim Ki Woo, ditemui sahabatnya semasa sekolah. Sang sahabat menawari Kim Ki Woo untuk menggantikannya bekerja sebagai guru les privat bahasa Inggris.  Murid lesnya adalah seorang gadis cantik, putri  dari Park Dong Ik, seorang pengusaha kaya raya. 
 
Tentu Kim Ki Woo menerima tawaran menggiurkan itu. Ia pun melakukan beberapa trik pemalsuan identitas dan kredibilitas sebagai guru bahasa Inggris supaya tidak ditolak keluarga  calon murid privatnya. 
 
Langkah Kim Ki Woo aman terkendali. Ia diterima bekerja dan lama-kelamaan diberi kepercayaan penuh oleh keluarga Park Dong Ik. Sudah pasti Kim Ki Woo bersuka cita karenanya. Terlebih keluarga tersebut jauh lebih kaya raya daripada perkiraannya semula. Dengan demikian, kondisi perekonomian keluarga Kim Ki Taek jadi sedikit membaik.
 
Namun, kebaikan keluarga Park Fong Ik disalahgunakan. Ketika keluarga tersebut mencari guru seni untuk sang anak bungsu, yaitu adik sang gadis yang jadi murid les bahasa Inggris, Kim Ki Woo merekomendasikan Kim Ki Jung, adiknya sendiri. 

Tentu rekomendasi itu penuh aksi tipu-tipu. Kim Ki Jung, adik perempuan Kim Ki Woo, memakai nama samaran. Pastinya menyusun Curriculum Vitae palsu juga. Sama halnya dengan sang kakak, Kim Ki Jung sukses menipu. Ia pun resmi menjadi guru les privat seni untuk anak bungsu keluarga Park Dong Ik. 

Entah serakah telah menjadi nama tengahnya ataukah godaan dunia yang terlalu kuat ataukah nafsu balas dendanm terhadap kemiskinan yang besar, Kim Ki Woo pada akhirnya justru merancang skenario licik agar ayah dan ibunya juga ikut bekerja di rumah pengusaha kaya raya itu. Caranya dengan membuat sopir keluarga dan asisten rumah tangga dipecat.

Apa boleh buat? Komplotan yang tergoda bisikan jahat setan menang. Iya. Skenario licik yang didusun Kim Ki Woo menuai hasil gemilang. Kim Ki Taek berhasil menggeser posisi sopir keluarga Park Dong Ik. Sementara sang istri berhasil menggeser posisi asisten rumah tangga keluarga tersebut.

Keluarga pengusaha kaya raya tersebut tak tahu kalau sebenarnya telah mempekerjakan satu keluarga. Hanya anak bungsunya yang agak curiga sebab menurut si bocah, bau keempat orang anggota keluarga Kim Ki Taek sama. Jangan-jangan tinggal di rumah yang sama?

Semula saya berpikir bahwa kejahatan keluarga Kim Ki Taek segera terbongkar setelah ucapan kecurigaan anak bungsu Park Dong Ik. Eh, ternyata tidak. 

Selanjutnya, sebab merasa aman-aman saja, keluarga Kim Ki Taek kian ugal-ugalan. Hingga puncaknya karena takut kedok mereka terbongkar, mereka justru berubah menjadi komplotan pembunuh yang menghabisi nyawa sang majikan secara sadis. 

Film ditutup dengan bebasnya Kim Ki Woo dari penjara. Tentu setelah sekian lama dihukum. 

Digambarkan, ia mendatangi rumah mantan sang majikan yang dikosongkan. Matanya pun fokus pada satu titik, yaitu sebuah lokasi  ruangan bawah tanah yang tersembunyi, yang ia yakini sebagai tempat ayahnya bersembunyi. Sejak peristiwa pembunuhan sadis hingga saat Kim Ki Woo bebas dari penjara.

Begitulah adanya. Ternyata Kim Ki Woo terjebak di ruang bawah tanah rumah keluarga Park Dong Ik. Pantas saja ia dicari-cari polisi tidak ketemu.

Opini Saya

Tak ayal lagi. Saya mantap menyebut PARASITE sebagai film tentang orang-orang yang kemaruk dan sungguh tak tahu diuntung. Sudah beruntung sebab telah terbuka jalan untuk memperoleh penghasilan memadai, eh, malah nafsu serakah mereka dimaksimalkan. 

Yup! PARASITE adalah kisah tentang mereka yang jadi kemaruk dan beranjak ingin menguasai harta benda milik sang majikan yang kaya raya. Sementara sang majikan beserta keluarganya telah bersikap baik dan tak menaruh curiga sama sekali. 

Sebagai manusia yang telah terikat dengan norma-norma dan terdoktrin dogma-dogma kebaikan, saya memandang keluarga Kim Ki Taek sebagai manusia-manusia bodoh yang kurang bersyukur. Tak tahu diuntung sebab malah bersikap serakah ketika sudah punya sumber penghasilan memadai.

Sebagai manusia yang netral, yang berusaha bersikap netral bebas norma dan dogma, saya memaklumi kelakuan keluarga Kim Ki Taek. Dalam arti, saya maklum jika ada manusia yang seperti itu. Namanya juga manusia.

Sekian lama berkubang dengan kesengsaraan hidup, begitu berkesempatan untuk hidup lebih baik langsung balas dendam. Ingin mengambil keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Kemaruk.

Yup! Begitulah opini saya. 

Tentang Sutradara, Akting Para Pemain, dan Jaminan Mutu  

Sejujurnya saya tak begitu paham dengan dunia akting. Oleh sebab itu, saya ragu untuk menilai secara detil kualitas akting masing-masing tokoh dalam film PARASITE. Takut malah salah sehingga berpotensi menyesatkan pemahaman kalian. *Parahgaksih*? Hehehe ....

Akan tetapi, secara global saya berani mengatakan bahwa para aktor dan aktris yang terlibat dalam film PARASITE telah berakting dengan cukup baik. Paling tidak, selama menontonnya saya tak menemukan tokoh-tokoh yang wagu dalam memainkan peranan masing-masing.

Walaupun di ajang Piala Oscar tak ada yang meraih penghargaan sebagai aktor/aktris terbaik, faktanya beberapa nama yang terlibat dalam film PARASITE menjadi jaminan mutu bagi publik Korea Selatan. Bukankah itu cukup dapat dijadikan sebagai indikasi?

Terlebih sang sutradara juga merupakan jaminan mutu atas karya-karya film yang telah dihasilkannya. Selama ini, sebelum merilis film PARASITE, rekam jejak karyanya sudah bagus.  

Banyak Dijadikan Meme Sebab Viral

Sekali lagi, film PARASITE memang fenomenal. Selain menerima sederet penghargaan keren di berbagai festival film bergengsi, poster resminya pun banyak dijadikan meme di negeri kita tercinta.

Tak main-main. Yang menjadikannya meme bukan hanya individu-individu. Beberapa instansi penting pun ikutan bikin meme yang merupakan plesetan dari poster resmi film PARASITE. 

 
Potret halaman berita Jatengnews.id


Di antaranya PLN yang bikin meme pengingat orang buat bayar tagihan listrik sebelum tanggal  20 tiap bulannya, BNN Kota Palangkaraya bikin meme agar orang-orang menjauhi narkoba, TMC Polresta Bandung bikin meme untuk mengajak orang pakai helm, dan Humas Pemda DIY bikin meme untuk mengingatkan wisatawan di Malioboro agar bersikap tertib. 

Menginspirasi dan Memotivasi

Kiranya film PARASITE yang viral telah memantik kreativitas khalayak untuk berkreasi. Untuk membuat meme-meme dengan cara memelesetkan poster aslinya. Semoga khalayak yang sama pun terinspirasi dan termotivasi untuk tidak mencontoh kelakuan kemaruk plus serakah keluarga Kim Ki Taek. 

Sudahlah. Pokoknya jangan sekali-sekali ngelunjak alias tak tahu diuntung, deh. Itu jahat sekali. Lagi pula sikap buruk tersebut bakalan merugikan, bahkan menghancurkan diri kita sendiri. Percayalah. Cepat atau lambat, semesta raya akan membalas kejahatan tersebut.

Mengerikan!

Batasan Usia Penonton

Kalau menurut saya, film PARASITE mestinya hanya boleh ditonton oleh orang-orang yang berusia dewasa. Adegan sadis pembunuhannya bisa mencekam anak-anak. Selain itu, ada pula adegan seksualnya walaupun tak vulgar.

***

Demikian ulasan saya terhadap film PARASITE. Kalau kalian pernah menontonnya juga, bisa jadi ulasan kalian tak sama persis dengan ulasan ini. Tak jadi soal karena sesungguhnya, persepsi dan sudut pandang tiap orang terhadap suatu objek (dalam hal ini film PARASITE) pasti berlainan. Jadi, perlakukan saja tulisan saya ini sebagai pelengkap dan pemerkaya sudut pandang. 

O, ya. Jika ingin baca-baca ulasan lain, baik ulasan untuk film PARASITE maupun film-film seru bin asyik lainnya, silakan kunjungi saja Bacaterus dan pilih sendiri ulasan film-film favorit kalian di situ.

SPESIFIKASI FILM

Judul Film: 
PARASITE

Tahun Rilis: 
2019

Sutradara: 
Bong Joon Ho

Aktor/Aktris:
Song Kang Ho
Choi Woo Shik
Park So Dam
Lee Sun Kyung
Cho Yeo Jeong


Senin, 16 Agustus 2021

Benarkah Diversifikasi Pangan Adalah Kunci Ketahanan Pangan?

45 komentar

Kiranya pertanyaan yang menjadi judul di atas kerap mengusik pikiran kita. Kalaupun tidak kerap, mungkin pernah sekali waktu. Yeah? Benarkah diversifikasi pangan adalah kunci ketahanan pangan? Mengapa belakangan ini acap kali ada diskusi yang memberi penekanan bahwa diversifikasi pangan adalah kunci ketahanan pangan?

Tentu saja benar. Faktanya memang begitu. Diversifikasi pangan adalah kunci ketahanan pangan. Karena benar itulah, wacana tentang diversifikasi pangan dilempar ke publik. Kementerian Pertanian RI adalah salah satu instansi yang melakukan hal tersebut.

Diversifikasi pangan adalah program yang dimaksudkan agar masyarakat tidak terpaku pada satu jenis makanan pokok saja dan terdorong untuk mengonsumsi bahan pangan lain sebagai pengganti makanan pokok yang selama ini dikonsumsi.   (Wikipedia)

Apa tujuannya? Tak lain dan tak bukan, tujuannya untuk menginformasikan manfaat diversifikasi pangan kepada khalayak seluas mungkin. Agar masyarakat Indonesia tersadarkan, betapa diversifikasi pangan adalah kunci ketahanan pangan. Plus tersadarkan bahwa potensi keanekaragaman pangan lokal Indonesia wajib dimaksimalkan pemanfaatannya. 

Kemudian setelah tahu perihal diversifikasi pangan beserta manfaatnya, khalayak diharapkan tergerak untuk melakukan diversifikasi pangan dalam hidup keseharian. Jadi, setelah paham teori disarankan untuk berpraktik.

Ide dan semangatnya sudah tepat. Namun  menurut pengamatan saya, sejauh ini wacana diversifikasi pangan belum digaungkan secara intensif dan masif. Seolah-olah terhenti pada tataran pelemparan wacana secara seremonial, padahal Departemen Pertanian RI (kini Kementerian Pertanian RI) telah mengembangkan Program Diversifikasi Pangan sejak tahun 1990-an.

Tindak lanjutnya secara riil belum masif atau malah belum ada. Entahlah bagaimana kenyataannya. Yang jelas, demikian itulah yang saya rasakan sebagai anggota masyarakat awam.

Alhasil, banyak orang yang tidak mengetahui perihal diversifikasi pangan dan ketahanan pangan. Informasi detil terkait wacana diversifikasi pangan belum menyentuh golongan ini.

Sebagian yang lain sekadar tahu, tetapi tidak mempraktikkan wacana diversifikasi pangan itu. Baru sebatas mengetahui. Teoretis belaka. Praktiknya belum.

Tentu alasannya bermacam-macam. Namun intinya satu saja, yaitu susah move on dari bahan pangan pokok yang selama ini dikonsumsi. Alibi andalannya "belum kenyang kalau belum makan nasi", padahal sebenarnya telah makan banyak ubi atau singkong atau jagung.

Beras adalah bahan pangan pokok yang biasa dikonsumsi orang Indonesia. Saking tergantungnya pada beras, jenis bahan pokok pangan lain dipandang sebagai kudapan belaka. Sugesti belum kenyang kalau belum makan nasi sungguh nyata adanya.

Sementara sebagian yang lain (golongan dengan persentase terkecil), sudah paham diversifikasi pangan dan telah berusaha mempraktikkannya dalam keseharian. Syukurlah saya tergolong ke dalam golongan yang sedikit ini.

Andai kata bukan warganet aktif plus suka kepo dengan isu keanekaragaman pangan lokal Indonesia, bisa jadi saya pun belum paham mengenai diversifikasi pangan. Karena kenyataannya, sebagian warganet aktif pun kurang paham tentang isu itu.

Kiranya perpaduan antara tidak kepo (terhadap isu keanekaragaman pangan lokal) dan kurang masifnya kampanye isu tersebut menjadi penyebab utama belum suksesnya ajakan untuk melakukan diversifikasi pangan.  

Logikanya, bagaimana mungkin terjadi gerakan massal diversifikasi pangan jika sebagian besar masyarakat belum paham tentangnya? Bukankah seseorang tergerak untuk melakukan sesuatu karena ia paham arti dan manfaat dari sesuatu yang dilakukannya?

Oleh sebab itu, sosialisasi mengenai pentingnya diversifikasi pangan mutlak digalakkan. Tentu tujuan utamanya supaya gerakan diversifikasi pangan segera terwujud.

Sebelum terlambat. Sebelum kemajemukan sumber pangan kita tersia-siakan. Sebelum ketahanan pangan nasional kian keropos karena banyak di antara kita yang tak mampu memanfaatkan kekayaan sumber pangan lokal yang kita punya.

Hubungan antara Diversifikasi Pangan dan Keanekaragaman Pangan Lokal Indonesia

Adakah hubungan antara diversifikasi pangan dan keanekaragaman pangan lokal Indonesia? Sangat ada, dong. Bahkan, keduanya tak terpisahkan.

Diversifikasi pangan adalah upaya untuk mencari alternatif sumber pangan pokok selain yang biasa kita konsumsi. Karena bahan pangan pokok yang biasa kita konsumsi beras, berarti kita mesti berusaha mengonsumsi bahan pangan  pokok nonberas sebagai diversifikasinya.

Sementara yang dimaksud dengan keanekaragaman pangan lokal Indonesia adalah deretan bahan pangan pokok nonberas yang banyak terdapat di Indonesia. Di antaranya singkong, ubi, jagung, sagu, pisang, talas, dan kentang.

Mari ingat-ingat sejenak. Bukankah deretan bahan pangan nonberas itu umum kita jumpai? Tak sulit didapatkan. Harganya pun tak mahal. Rasanya? Tak perlu khawatir. Citarasa makanan yang diolah dari bahan-bahan pangan pokok nonberas tak kalah lezat dari nasi.

Bagaimana dengan kandungan nutrisinya? Tenanglah. Semua bahan pangan pokok nonberas itu pun mengandung nutrisi yang setara. Terlebih kalau mampu mengolahnya dengan kreatif.

Tidak sekadar memasaknya dengan cara merebus, mengukus, atau menggoreng; tetapi mampu memodifikasi dan melengkapinya dengan bahan pangan lain. Misalnya ditambahi dengan sayuran dan sumber protein hewani. Dengan demikian selain tampilannya berbeda, nutrisinya juga lebih komplet. Setara dengan seporsi nasi plus sayur dan lauk.

Silakan cermati beberapa gambar yang saya capture-kan dari akun IG Kementerian Pertanian RI berikut ini.

IG Kementan RI

IG Kementan RI

IG Kementan RI

IG Kementan RI

IG Kementan RI


Gambar-gambar di atas menunjukkan bahwa beras bisa digantikan oleh bahan-bahan pangan pokok lokal yang lain. Kandungan nutrisinya pun setara. Jadi, sungguh tak ada yang perlu dicemaskan dari diversifikasi pangan.

Justru sebaliknya, kita patut cemas jika tidak melakukan diversifikasi pangan dan hanya tergantung pada beras sebagai bahan pangan pokok. Ketahanan pangan nasional bakalan terancam. Walaupun stok bahan pangan pokok lain memadai, pasti tetap terjadi gejolak ketika ketersediaan beras terbatas.

Bisa sangat ironis. Mengapa? Karena negeri kita punya keanekaragaman pangan lokal. Sementara keanekaragaman pangan lokal adalah modal utama untuk melakukan diversifikasi pangan.

Jadi kalau kita amat tergantung pada beras, berarti kita kurang pandai mengelola karunia dari-Nya. Tentu saja karunia yang saya maksudkan berupa keanekaragaman Indonesia yang membanggakan. Terkhusus keanekaragaman pangan lokal Indonesia.

Diversifikasi Pangan dan Perlindungan Flora Indonesia

Terlepas dari segala kekurangannya, saya bersyukur ditakdirkan menjadi orang Indonesia. Betapa tidak? Karena terbentang luas dari ujung barat hingga ujung timur, bahkan meliputi tiga wilayah waktu, pastilah  Indonesia memiliki sederet kemajemukan. 

Penduduknya berlainan tradisi dan budaya. Karena makanan termasuk salah satu unsur kebudayaan, otomatis cara makan dan jenis makanan yang disantap penduduknya berlainan. 

Begitulah adanya. Makanan pokok tiap daerah sebenarnya sesuai dengan ketersediaan bahan pangan utama di daerah tersebut. Tergantung pada pohon dan tanaman (flora) apa yang dapat tumbuh subur di situ. 

Tidak perlu mengubah semua lahan pertanian menjadi lahan padi. Biarkanlah tetap ada kearifan lokal. Biarkanlah tiap daerah punya kekhasan sumber makanan pokok yang berasal dari kekayaan flora aslinya. 

Dengan demikian, selain berkontribusi dalam menguatkan ketahanan pangan nasional. berarti kita telah ikut  menjaga dan melindungi flora Indonesia. Iya. Bagaimanapun memelihara keanekaragaman pangan lokal yang ada di Indonesia mutlak dilakukan.  

Perlu digarisbawahi pula bahwa dalam kaitannya dengan diversifikasi pangan, keanekaragaman pangan lokal Indonesia pastilah amat memudahkan. Lumbung pangan masyarakat tak melulu berisi padi, tetapi bisa diisi apa saja sesuai ketersediaan pangan saat itu.   

Mengubah Pandangan Terhadap bahan Pangan Pokok Nonberas

Sebelumnya telah saya nyatakan bahwa saya telah menjadi bagian yang sedikit dari masyarakat. Maksudnya, saya telah paham diversifikasi pangan sekaligus telah berusaha mempraktikkannya dalam keseharian. 

Iya. Sudah beberapa tahun saya sekeluarga tak tergantung pada beras. Tak makan nasi hingga seminggu pun kami sanggup. Tidak malnutrisi? Tidak, dong. Bukankah ada banyak bahan pangan lain sebagai pengganti nasi? 

 

Dokpri

Dokpri

 

Kami tidak lagi merasa jatuh gengsi sebab sarapan dengan menu utama jagung atau ubi. Apakah tidak membosankan? Tentu tidak sebab bahan pangan pokok nonberas dapat dimodifikasi penyajiannya.

Misalnya saya merebus atau mengukus jagung, lalu menghidangkannya dengan taburan keju dan meises. Adapun pisang selain dikonsumsi segar, kadangkala saya bakar sebentar kemudian diberi tambahan seperti halnya jagung. 

 

Dokpri

Dokpri

 

Upaya diversifikasi pangan tersebut memang menyebabkan penggunaan beras di keluarga saya jauh berkurang. Lagi pula, tak melulu beras kami tanak menjadi nasi. Kadangkala kami jadikan bubur beras dan itu pun disengaja sedikit saja berasnya sebab dicampurkan dengan bahan lain. Misalnya saya tambahkan sawi dan tahu plus kuah rendang. 

 

Dokpri

 

Sesederhana itu praktik diversifikasi pangan berbasis kenekaragaman pangan lokal Indonesia. Tidak ribet. 

Sekali lagi, keanekaragaman pangan lokal  adalah modal untuk melakukan diversifikasi pangan. Itulah sebabnya kita mesti segera melakukannya secara masif dan berkesinambungan. Demi memperkuat ketahanan pangan nasional serta menjaga dan melindungi flora Indonesia. Demi memelihara keanekaragaman pangan lokal Indonesia. 

Karena diversifikasi pangan adalah kunci ketahanan pangan, berarti kita tak perlu menunda-nunda lagi untuk melakukannya. Jika diversifikasi pangan dilakukan oleh sebuah keluarga, ketahanan pangan keluarga menguat. Jika diversifikasi pangan dilakukan oleh orang-orang senegara, ketahanan pangan nasional menguat. Jadi, benarkah diversifikasi pangan adalah kunci ketahanan pangan? Iya, dong. Benar bangeeet. 

 

***

Diolah dari berbagai sumber (antara lain dari website Kementerian Pertanian RI, akun IG Kementerian Pertanian RI, Kompas.com ) dan pengalaman pribadi.


Jumat, 16 Juli 2021

Pandemi Covid-19 dan Pikiran Positif

40 komentar

APA kabar, Sobat PIKIRAN POSITIF? Pandemi Covid-19 ternyata tak kunjung mereda, ya? Malah sedang kembali menggila eksistensinya. Semoga kita sama-sama bertahan sehat walaupun telah dikepung pandemi Covid-19 lebih dari setahun.

Harapannya tentu sehat lahir dan batin. Jiwa dan raga. Jasmani dan rohani. Sehat lahir tanpa sehat batin, apalah artinya? Sehat batin tanpa sehat lahir, repot juga sebab bakalan tergantung pada orang lain.

Begitulah adanya. Sehat batin dan sehat lahir wajib ada dalam diri ini. Keduanya mesti saling melengkapi agar kita bisa disebut sebagai manusia yang seutuhnya.

Sehat lahir dapat diupayakan dengan cara menjalani pola hidup yang sehat. Antara lain dengan mengonsumsi asupan makanan yang bernutrisi (kalau perlu ditambahi dengan suplemen vitamin), cukup bergerak (berolahraga), dan rehat yang memadai.

Sementara sehat batin dapat diupayakan dengan cara selalu mendekatkan diri kepada-Nya SWT. Senantiasa bersyukur dan berpikir positif atas segala hal yang terjadi. Selalu cepat-cepat menghempaskan pikiran negatif yang menggerogoti pikiran positif.

Sudah pasti tiap orang punya cara tersendiri untuk mencapai sehat lahir dan batinnya. Sesuai dengan kebutuhan, kesempatan, dan kemampuan masing-masing. It's normal. Tak jadi soal. Yang terpenting tujuan sehat lahir dan batinnya tercapai.

Caraku menjaga kesehatan lahir pastilah sama dengan caramu. Makan teratur dan semaksimal mungkin makanan kuatur yang bernutrisi. Pokoknya aku berkreasi supaya makan tetap hemat, namun nutrisinya tak terhenti.

Kalau soal gerak (olahraga), aku dan the gengs paling suka melakukan PPJ, yaitu Pura Pura Joging.

What's kind of it? Hahaha .... Sebenarnya sih, jalan kaki biasa yang dipadukan dengan refreshing plus semacam hunting foto. Kami biasa melakukannya pagi-pagi pada hari Senin. Mengapa? Sebab pada hari libur atau akhir pekan suasana lebih ramai.

 

PPJ di Yogyakarta bagian Rotowijayan

Motret Jokteng dulu

PPJ di Yogyakarta bagian Kadipaten


Rehat dulu PPJ-nya

 

Kami melakukan PPJ tentu untuk bakar lemak bin melemaskan kaki. Akan tetapi, rutenya dipilih yang blusukan Jogja. Tujuannya agar bisa hunting foto dan mengenali Jogja hingga ke bagian dalam-dalamnya, dong.

Alhasil sehat lahirnya dapet, sehat batinnya juga dapet. Kami berkeringat karena telah berolahraga, sekaligus menjadi bahagia sebab telah refreshing dengan melihat-lihat yang unik-unik. Bagi kami, PPJ sungguh mengasyikkan dan menyehatkan.

Yup. Beginilah cara kami menghadapi pandemi Covid-19 yang tidak kunjung mereda ini. Beginilah cara kami agar selalu kuat menggenggam pikiran positif. Tentu dalam upaya menjadi manusia yang seutuhnya, yang sehat lahir dan batin.

Nah! Bagaimana caramu meraih kesehatan lahir dan batin?

MORAL CERITA:
Dunia yang sedang tidak baik-baik saja tetap wajib kita jalani/hadapi dengan cara yang sebaik-baiknya.

Jumat, 09 Juli 2021

Sound of Borobudur: Wonderful Indonesia!

24 komentar

HAI, Sobat PIKIRAN POSITIF? Apa kabar? Semoga masih setia menggenggam erat pikiran positif. 

Aku tahu bahwa belakangan ini relatif sulit untuk bersikukuh memegangi pikiran positif. Akan tetapi, sulit enggak sulit ya harus bisa senantiasa berpikiran positif. Imunitas kita bisa kacau jika malah berkawan dengan pikiran negatif. 

Jadi jelas, ya. Sesulit apa pun prosesnya, pikiran negatif tetap wajib dihempaskan. Pokoknya jangan sampai kita diintimidasi oleh pikiran negatif. Jangan pula membiarkan diri untuk overthinking. Oke?

Salah satu cara jitu untuk selalu berpikiran positif adalah menghindari membaca/mendengar berita-berita hoaks. Benar bahwa membaca adalah aktivitas berfaedah. Namun, pastilah faedah tersebut tergantung pada apa yang kita baca. Iya 'kan?

Hmm. Kupikir, semua tulisan di www.tinbejogja.com ini bisa banget dijadikan alternatif bacaan berfaedah. Cobalah baca satu per satu untuk membuktikannya. Muehehehe ....

Jika awang-awangen untuk membaca semua satu per satu, ya baca saja tulisan yang berjudul "Sound of Borobudur: Wonderful Indonesia!" ini dulu. 


Foto Koleksi Sound Of Borobudur

O, ya. Di Kompasiana telah dua kali kutulis tentang Sound of Borobudur (SoB). Yang satu dalam rangka ikutan samber Ramadan (dilombakan); satunya lagi kutulis setelah ikutan Konferensi Internasional secara daring.

Aku beruntung diajak K-Jogja untuk ikutan International Conference Sound of Borobudur. Walaupun seharian wajib mantengin zoom, rasanya tak membosankan. Pengetahuan dan wawasanku tentang Candi Borobudur pun bertambah banyak. 

Diriku tampak terniat sekali ya, memperbincangkan Candi Borobudur? Harus, dong. Bagaimanapun candi tersebut pernah menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia. Kita harus bangga memilikinya.

Lalu, SoB itu apa? Baik. Akan kujelaskan secara singkat. Begini. SoB adalah sebuah gerakan (movement) untuk membunyikan Candi Borobudur.  

Dalam arti, alat-alat musik yang terpahat di relief-relief candi keren itu direka-reka bentuk dan bunyinya. Dilacak jejaknya, kira-kira berasal dari daerah mana, alunan nadanya bagaimana, dan sebagainya. 

 

Foto Koleksi Sound of Borobudur

Foto Koleksi Sound of Borobudur


Tentu proses itu butuh waktu tahunan. SoB telah meneliti relief tentang musik sejak 2016, lho. Inisiatornya Mbak Iie (Trie Utami).

Menarik sekali 'kan ngomongin tentang Sound of Borobudur itu? Hmm. Daripada sekadar membayangkan bunyinya, silakan langsung mendengarkannya via YouTube resmi Sound of Borobudur, ya.

Sebelum kuakhiri tulisan ini, aku hendak memberitahukan kepadamu sekalian bahwa kini berwisata ke Borobudur tidak melulu mesti ke candinya. 

Selain berswafoto enggak jelas di samping stupa, kita bisa belajar membatik dan bikin keramik. Kelak malah bisa gabung juga untuk mainin "replika" alat musik yang ada di relief Candi Borobudur.

MORAL CERITA:

Hidup ini dinamis. Demikian pula halnya dengan objek wisata.


 


 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template