Minggu, 11 April 2021

Pasar Tiban Ramadan di Kauman

22 komentar
RAMADAN datang lagi. Alhamdulillah. Sobat PIKIRAN POSITIF pasti telah siap untuk menyambutnya. Sudah memantapkan mental dan fisik untuk menjalankan ibadah puasa Ramadan 'kan? Yuk, semangat, yuk. *Sambil menepuk bahu sendiri.* 
 
Kiranya tahun ini kita menjalani Ramadan Pandemi #2. Kalau tahun lalu 'kan Ramadan Pandemi #1. Siapa yang menyangka ya, kalau pandemi bakalan berkepanjangan begini? 
 
Apa boleh buat? Daripada menunggu berakhirnya pandemi Covid-19 dengan mengomel dan emosional, hambokyao menunggunya dengan berdoa dan melakukan hal-hal bermanfaat. Misalnya membaca curhatan kerinduanku terhadap Pasar Tiban Kauman ini.
 
Mengapa aku merindukannya? Bukankah tiap tahun ada Ramadan, yang berarti tiap tahun ada pasar tiban? Dalam kondisi normal memang begitu. Namun, berhubung sejak Maret 2020 negeri kita dinyatakan pandemi, Pasar Tiban Ramadan di Kauman pun libur.
 
Aku belum tahu, apakah pada tahun 2021 ini bakalan ada atau tidak. Entahlah. Just wait and see. Kalau ada, berarti sejak Selasa sore nanti aku bisa jajan aneka kudapan kegemaran.
 
Seperti apa sih, keseruan Pasar Tiban Kauman? Kok aku sampai segitu merindukannya? Hehehe .... 
 
Ya jelas rindu, dong. Kehadirannya 'kan membantuku banget dalam menyiapkan menu berbuka dan sahur. Di situ dijual aneka lauk, sayur, kudapan, dan minuman. Mulai dari yang kekunoan hingga yang kekinian. Alhasil, Ramadan adalah bulan di mana komporku hanya bertugas memasak air. 
 
Baik. Ayo kita lihat sekelumit keseruannya dalam beberapa foto berikut. Jika ingin tahu lebih banyak, tentu dapat berselancar sendiri di internet. Pasar Tiban Kauman ini tenar, kok. Sudah banyak yang membahasnya. Namun, mungkin baru aku warga setempat yang menuliskannya di blog.*Sombong.*
 

Gerbang Pasar Tiban Kauman (2019)


Suasana dalam gang saat pagi hari (belum ada penjual)

Lokasi
Lokasi Pasar Tiban Kauman sangat strategis. Berada di kawasan pusat kota. Beberapa meter saja dari Titik Nol. Jika kalian dari arah Malioboro, belok kanan setelah perempatan. 
 
Setelah melewati lampu bangjo di pertigaan dekat RS PKU Muhammadiyah, bersiaplah menengok ke kiri. Gang Pasar Tiban ada di sebelah kiri kalian. Tak perlu khawatir kesasar. Mulut gangnya pasti dihias-hias dan penuh motor diparkir.
 
Yang Dijual dan Harganya
Seperti telah kusinggung sebelumnya, di pasar tiban ini dijual rupa-rupa. Ada lauk, sayur, kudapan, dan minuman. Komplet. 
 
Bagi ibu rumah tangga rempong dan mageran buat memasak, pasar ini adalah solusi pualiiing jitu. Tinggal bawa uang secukupnya dari rumah, pilih-pilih menu di TKP, lalu pulang menunggu azan Magrib. Lauk yang akan dikonsumsi untuk sahur bisa disimpan di kulkas dulu. Kalau hendak sahur, tinggal dipanaskan. 
 
Harga makanan dan minuman di Pasar Tiban Kauman memang sedikit lebih mahal ketimbang di tempat lain; juga ketimbang pada hari-hari biasa. Selisihnya bisa seribu rupiah. Lumayan toh kalau kita jajan 10 item? 
 
Akan tetapi, kondisi tersebut tak menyurutkan minat para calon pengunjung. Nilai nostalgianya itu lho, yang tak bisa dibeli. Terutama nostalgia terhadap kudapan-kudapan zadoel seperti kicak, jenang saren, mentho, mata kebo, dan serabi kuah.   
 

Mentho

Bubur Saren

Moto Kebo

Serabi kuah dan kicak



Kicak
Di antara sekian kudapan, yang paling diburu pengunjung adalah kicak. Terkhusus kicak Mbah Wana. Insyaallah lain waktu akan kubahas tersendiri tentang kicak ini. 
 
Apa itu kicak? Kicak adalah ketan yang diberi topping kelapa parut campur gula pasir, lalu di atasnya diberi irisan nangka dan daun pandan. 
 
Kicak merupakan kudapan khas Ramadan yang berasal dari Kauman. Pelopor pembuatnya almarhumah Mbah Wono. Adapun sekarang warung Mbah Wono yang menjual kicak serta aneka lauk dan sayur dikelola oleh anaknya.
 
Bebas Polusi Asap Knalpot dan Debu
Pasar Tiban Kauman adalah pasar tiban Ramadan tertua di Yogyakarta. Yup! Sang pelopor. Hadirnya pada tahun 80-an dan mencapai puncak kejayaan pada era 90-an. Setelah di berbagai titik di wilayah Yogyakarta ada pasar tiban serupa, pamornya meredup. Akan tetapi, tentu kekhasannya tak tergantikan. 
 
Itulah sebabnya generasi zadoel lebih suka berkunjung ke Pasar Tiban kauman. Untuk klangenan dan bernostalgia. Terlebih lokasinya dalam gang yang motor pun tak boleh dinaiki. Jadi, bebas polusi asap knalpot dan debu. Gangnya 'kan berkonblok rapi dan bersih. 
 
Sebagai pelengkap, lihat-lihat jugalah kudapan lain di tulisan lamaku ini: Dari Bubur Saren hingga Jadah Manten. Yang kutulis sebelum berdomisili di Kauman.
 
Baiklah. Sebagai penutup, kupersilakan kalian mengamati foto berikut. Begini. Kalau kalian sedang mencari lokasi Pasar Tiban Kauman, dari arah Titik Nol Jogja, lalu menemukan benda seperti yang tampak pada gambar, berhentilah. Di sebelahnya itulah terletak gang pasar tiban yang kalian cari. Oke?






Sabtu, 03 April 2021

4 Fakta Unik Mi Instan

16 komentar

HALO, Sobat PIKIRAN POSITIF? Sudahkah makan mi instan hari ini? Yang edisi rebus atau edisi goreng? Berapa bungkus? Satu bungkus terasa kurang namun dua bungkus kebanyakan, ya? Ditambahi telur dan sayur atau tidak? Masak sendiri? Beli di warung burjo atau warkop? 

Nah, nah. Mengapa kalian senyum-senyum dikulum saat membaca paragraf pembuka di atas? Karena baru saja melahap seporsi mi instan? Atau, malah dua porsi? Hehehe .... 

Enggak usah merasa berdosa gitu, deh. Percayalah. Mi instan itu bukan aib. Mengonsumsinya pun bukanlah sebuah perbuatan dosa. Santuy sajalah. 

Sejauh tidak keseringan dan berlebihan dalam mengonsumsinya, it's ok. Tak jadi soal, apalagi kalau sudah jelas-jelas bersertifikasi halal. Lagi pula, kita dapat menambahkan bahan lain yang lebih bernutrisi (misalnya telur dan sayuran) supaya mi instan yang kita makan lebih berfaedah.

Yeah!  Mi instan memang menggoda. Apa boleh buat? Gurih nikmat MSG-nya bahkan bisa menjadi penghalau gejala flu. Bisa juga menjadi pengusir rasa galau. 

Sudahlah. Pokoknya mi instan itu sesuatu. Kerap dinyinyiri sekaligus dijadikan solusi. Dikatakan sebagai makanan tak sehat, tetapi kenyataannya selalu dijadikan bahan pangan andalan dalam banyak situasi.

Silakan baca juga tulisanku di Kompasiana -- Mi Instan: Dinyinyiri Sekaligus Dijadikan Solusi.

 



Berdasarkan pengamatan dan pengalaman selama bergaul dengan mi instan, akhirnya kutarik kesimpulan bahwa bahan pangan tersebut punya 4 fakta unik. Mari simak satu per satu.

Pertama, mi instan lahir di Jepang, namun pelahap terbesarnya justru warga Cina. Berdasarkan catatan World Instant Noodle Association, pada tahun 2019 Cina mengonsumsi mi instan sebesar 40 miliar porsi. Sementara Indonesia 'cukup' menghabiskan 12 miliar porsi. Berada di urutan kedua setelah Cina,

Kedua, mi instan kerap dikampanyekan tidak sehat, namun sering dipakai sebagai isi paket bantuan sembako.  

Ketiga, banyak orang sadar bahwa sering mengonsumsi mi instan tidak baik bagi kesehatan, namun kenyataannya banyak pula yang nekad menjalankan pola makan tiada hari tanpa mi instan.

Keempat, kuah mi instan rebus, terutama yang rasa kari atau gulai, ternyata makin lezat kalau dicampuri dengan susu bubuk putih (plain).

Demikian keempat fakta unik mi instan. Tentu keunikannya berdasarkan sudut pandangku, ya. Kalau ternyata menurut kalian keempatnya bukan fakta unik, ya tak jadi soal. 

 

MORAL CERITA:

Mari mengonsumsi mi instan secara baik dan benar. 

 

Sabtu, 27 Maret 2021

Jogja Istimewa, SUMONAR 2019

30 komentar
APA kabar Sobat PIKIRAN POSITIF? Masih senantiasa berjuang membebaskan diri dari kepungan pikiran negatif 'kan? Harus begitu, dong. Kalau berpikiran positif jauh lebih menentramkan, mengapa mesti memilih berpikiran negatif? Iya toh?
 
Baik. Sekarang aku mau mengajak kalian bernostalgia tentang perhelatan Sumonar 2019 di Jogjaku yang istimewa. Mumpung aku sedang rindu momentum tersebut dan kebetulan nemu video yang kurekam tatkala itu.
 
Pasti kalian bertanya-tanya, "Sumonar itu apa?" 
 
Oke. Sumonar adalah festival video mapping dan instalasi cahaya. Pada tahun 2019, sejak tanggal 26 Juli-5 Agustus, festival tersebut digelar untuk pertama kalinya di Indonesia. Lokasi pelaksanaannya di kawasan Titik Nol Jogja. Tajuk acaranya "My Place, My Time". 
 
Kalian pastilah dapat mengimajinasikan bentuk festivalnya. Yeah! It's video mapping dan instalasi cahaya! Sudah barang tentu bertaburan cahaya. Melibatkan banyak cahaya.
 
Sejujurnya aku antara ngeh dan tak ngeh tentang festival internasional ini. Betul-betul aku hanya menjadi penikmat yang seawam-awamnya. Yang hanya sanggup berdecak kagum dan bertepuk tangan berkali-kali, ketika satu per satu karya ditampilkan. 
 
Gimana, ya? Rasanya semacam nonton bioskop layar tancap di lapangan sepak bola, tetapi layarnya berupa tembok bangunan heritage, yaitu bangunan Kantor Pos Besar Yogyakarta dan Bank Indonesia. 
 
O, ya. Aku menontonnya pas hari terakhir. Wah, wah. Andai kata tidak pas hari terakhir, tentu aku bakalan nonton tiap hari kalau tahu acaranya sekeren itu. Nyesel aku tuuuh. Namun, merasa beruntung jua sebab masih berkesempatan menonton langsung di TKP meskipun sehari saja.
 
Saking kerennya, sampai-sampai pas acara berakhir dan sang pembawa acara mengucapkan "Sampai jumpa tahun depan di Sumonar 2020", banyak penonton yang enggan beranjak pulang hingga beberapa menit kemudian. Termasuk aku.
 
Bahkan, seketika itu aku berazam untuk menonton Sumonar 2020. Namun, apa dayaku? Pandemi Covid-19 telah menghancurkan angan-angan indahku. Muehehehe .... Yoiii. Sebab kondisi, Sumonar 2020 pun digelar secara virtual. 
 
Baik. Tak perlu diratapi. Toh aku telah punya sedikit rekaman Sumonar 2019. Silakan cek di video berikut ini.
 
 







MORAL CERITA:
Jogja memang paten istimewanya. Hahaha!



Jumat, 19 Maret 2021

Ramadan 2021 Kita Bisa Bukber?

16 komentar



APA kabar Sobat PIKIRAN POSITIF? Semoga sehat-sehat selalu dan bahagia tiada akhir. Biarlah pandemi Covid-19 saja yang berakhir. Kebahagiaan kita, jangan sampai berakhir.
 
Ngomong-ngomong, waktu melaju cepat sekali 'kan? Sudah mau Ramadan lagi. lho. Sementara rasanya, baru kemarin kita menjalani Ramadan yang tak biasa.
 
Ramadan memang senantiasa istimewa. Hanya saja, setahun lalu momen istimewa tersebut berlangsung dalam situasi tak biasa. Alhasil, Ramadan berlangsung dalam situasi yang bernuansa 'sesuatu'. 
 
Semua mesti kita lakukan di rumah saja. Tak ada buka bersama, baik di masjid/musala maupun di tempat-tempat lain. Tak ada pula tarawih dan tadarusan bersama di masjid/musala. Pasar Tiban Ramadan di kampung tempatku berdomisili pun libur (semoga tahun ini buka meskipun dengan pembatasan tertentu). 
 
Pendek kata, banyak tradisi Ramadan yang terpaksa 'rehat' gara-gara pandemi. Termasuk tradisiku bukber dengan adik-adik angkatan, yang biasa dilaksanakan dua hari sebelum Lebaran. Seperti yang terlihat pada foto di atas itu tuh. 
 
Yeah! Mau bagaimana lagi? Tokoh utamanya 'kan tinggal di Jakarta dan tak bisa mudik ke Jogja. Lagi pula, tempat-tempat makan juga tutup. Pokoknya enggak kondusif untuk bukber situasinya, andai kata semua anggota gengs bisa ngumpul sekalipun.
 
O, ya. Meskipun tahun lalu tak ada bukber di masjid/musala, aku tetap tak perlu memasak untuk buka puasa. Mengapa? Sebab dapet jatah nasi kotak tiap hari dari Masjid Gede Kauman. 
 
Nasi kotak tersebut bukan kami ambil langsung di masjid, melainkan didistribusikan melalui Ketua RT. Kapan-kapan insyaallah akan kuceritakan tentang hal ini.
 
Yang terpenting sekarang, "Ayo, ayo, segera bayar utang puasa tahun lalu bagi yang masih belum lunas!"
 
MORAL CERITA:
Jangan lupa membayar utang puasa Ramadan tahun lalu, ya!
 
 
 
 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template