Selasa, 10 September 2019

Beli Radio Bekas di Pasar Beringharjo

26 komentar
SEBAGAI penggemar radio, terkhusus saluran RRI, medio September selalu istimewa bagiku. Haha! Padahal, aku hanyalah seorang pendengar setia. Bukan karyawan radio. Bukan penyiar radio. Tak pernah pula diundang sebagai narasumber di stasiun radio mana pun.

Lalu, apa kaitan antara medio September dengan radio? Hmm. Kaitannya ya dalam hal ulang tahun. Tanggal 11 September (yang berada di medio September) adalah HUT RRI sekaligus Hari Radio Nasional.

Ngomong-ngomong, tahukah kalian kalau 11 September 2019 bertepatan dengan 74 tahun RRI? Sementara tagline yang dipakai adalah 'untuk Indonesia lebih bertoleransi'? Kalau belum tahu, sekarang menjadi tahu 'kan? Hehehe ....

Sebegitu pentingkah radio bagiku? Oh, tentu. Sebab radio selalu mau menemani tanpa menuntut minta ditonton layarnya. Jadi, aku enggak tergoda untuk memandanginya sehingga lalai dengan apa yang kukerjakan.

Itulah sebabnya aku sangat antusias ketika seorang kawan minta ditemani untuk membeli radio. Terlebih ketika ia bilang hendak membeli yang bekas saja. Alasannya, sesuai dengan jumlah uang yang tersedia dan supaya unik. Wah! Cari barang unik pasti seru 'kan?

Maka pergilah kami ke Pasar Beringharjo Yogyakarta. Tepatnya di bagian penjualan barang loakan, yang berada di lantai 3 sayap utara. Wow! Aku terkesan, dong. Betapa tidak? Setelah ratusan kali menyambangi pasar legendaris tersebut, ya baru sekali itu aku ke bagian situ. *Terima kasih, Kawankuuu! *


Simbah putri penjual yang mahir mereparasi jualannya


Andai kata tidak bersama kawan yang sudah hafal seluk-beluk lokasi, aku pasti bagaikan rusa masuk kampung. Bingung. Bukan sebab takut tersesat, sih. Hanya bingung mau melihat apa? Mau mampir ke lapak yang menjual apa?

Alhasil, aku mengekor kawanku saja. Tanpa sedikit pun memiliki inisiatif untuk berhenti sejenak melihat nganu atau apa. Yeah! Daripada ketinggalan malah bakalan susah aku mencari kawanku. *Lagi kumat malasnya*


Apakah ini yang kalian cari? (1)

Apakah ini yang kalian cari? (2)


Kami pun terus berjalan hingga ke tujuan. Yakni lapak-lapak radio bekas. Setelah mempertimbangkan beberapa menit, kawanku akhirnya memilih berhenti di salah satu lapak. Ahaiii .... Perhatikanlah tiga foto di atas. Nuansa zadoel jelas terpancar 'kan? Maaf, penjualnya juga produk lama. Haha!  *Nyuwun pangapunten njih, Mbah. *

Namun, jangan salah. Simbah putri penjual radio itu keren, lho. Paham betul jualannya. Profesional. Paham komponen kecil-kecil yang terdapat dalam radio. Tahu arah kabel-kabel. Nah, lho! Bandingkan denganku yang bahkan tak paham arah hatinya. *Gubraks! *


Aku baru tahu kalau ada radio yang bermerk PESONA

Sungguh. Aku benar-benar memperoleh pengalaman baru hari itu. Di lantai 3 sayap utara Pasar Beringharjo itu. Gara-gara radio. Waaah. Ujung-ujungnya aku makin cinta pada radio. Radio yang manual lho, ya. Yang ada tombol-tombolnya untuk mencari gelombang. Seperti radio-radio yang tampak pada foto-foto di tulisan ini. 

Luar biasa. Di tengah onggokan radio zadoel itu aku seperti berada di labirin peradaban masa silam. *Halah! * Ibaratnya mendadak diajak bernostalgia. Terkhusus nostalgia dengan segala hal yang berbau radio. 

Aku menjadi teringat pada radio-radio yang pernah dipunyai oleh keluargaku. Mulai dari yang ukuran mungil hingga yang super besar. Teringat pula pada radioku sekarang, yang belinya tatkala itu bersama mantan. *Halah kuadrat! *


Ada jam dinding dan kipas angin juga

Simbah putri sedang melayani calon pembeli


Secara finansial, usaha penjualan radio bekas zadoel mungkin tak lagi bisa diandalkan. Tak bisa lagi untuk menjadi topangan hidup. Namun, cinta adalah cinta. Simbah putri penjual radio bekas itu pastilah seorang radio lover. Para pembelinya pun demikian. Jadi, mereka bertransaksi sepenuh cinta. Tak sekadar transaksi jual-beli atas nama roda perekonomian.

Apa boleh buat? Bagaimanapun harus diakui bahwa makin canggihnya teknologi radio telah membuat radio manual tersisih. Lambat-laun makin banyak orang yang mendengarkan radio secara live streaming. Bisa jadi radio manual tinggal menunggu waktu kepunahannya. Duh!

Ah, sudahlah. Itu soal nanti. Mari nikmati dulu kondisi saat ini. Yakni saat sebagian orang, termasuk aku dan kawanku, masih lebih suka mendengarkan radio manual daripada live streaming. Kiranya tak bijak untuk meresahkan sesuatu yang belum kita hadapi 'kan? Lagi pula siapa tahu satu dekade lagi, radio manual justru kembali berjaya.

O, ya. Kalau kalian ingin seperti kawanku, membeli radio bekas di Pasar Beringharjo, silakan langsung ke bagian belakang. Sayap utara itu letaknya berdekatan dengan area parkir Toko Progo. Oke? Jika tetap bingung mencarinya, silakan tanya saja. Insyaallah orang-orang paham. kok.

MORAL CERITA:
Ayo melarisi simbah putri penjual radio bekas itu.



Selasa, 03 September 2019

Budaya Lokal feat Teknologi Informasi

18 komentar
BUDAYA Lokal feat Teknologi Informasi? Featuring? Duet? Yang benar saja? Iya, benar. Judul di atas tidak salah. Sebab sesungguhnya, Budaya Lokal dapat bergandengan mesra dengan Teknologi Informasi. 

Benarkah demikian? Bukankah Budaya Lokal dan Teknologi Informasi berbeda ranah? Lagi pula, keduanya lahir dari zaman yang berlainan. Budaya Lokal berasal dari masa lalu dan terkesan kuno. Sementara Teknologi Informasi berasal dari masa kini dan jelas dianggap modern.

Budaya Lokal adalah kebudayaan yang tumbuh dan berkembang serta dimiliki dan diakui oleh masyarakat suku bangsa setempat. Budaya Lokal biasanya tumbuh dan berkembang dalam suatu masyarakat suku atau daerah tertentu karena warisan turun-temurun yang dilestarikan. 

Teknologi Informasi (Information Technology) adalah istilah umum untuk teknologi apa pun yang membantu manusia dalam membuat, mengubah, menyimpan, mengomunikasikan, dan/atau menyebarkan informasi. 

Apa mungkin kekunoan dan kekinian berjalan berdampingan? Tidakkah keduanya saling bertentangan dan berjalan ke arah yang berbeda? Harmoni apa yang terjadi bila kedua hal tersebut disandingkan? 

Jangan salah. Kalau dicari titik temunya, pemanfaatan Teknologi Informasi justru dapat memperkuat akar Budaya Lokal. Percayalah. Kedua hal itu bisa saling dikerjasamakan. Istilahnya, bisa terjadi simbiosis mutualisme antara Budaya Lokal dan Teknologi Informasi.

Paling tidak sebagai awalan, Teknologi Informasi bisa dimanfaatkan sebagai ajang perkenalan terlebih dulu. Yakni untuk memperkenalkan Budaya Lokal kepada khalayak. Membuat khalayak familiar dengannya. Sebelum akhirnya secara bertahap, bisa memperkuat akar Budaya Lokal tersebut.

Tak kenal maka tak sayang 'kan? Jadi, bagaimana mungkin masyarakat yang tak kenal (tak paham) dengan Budaya Lokal mau melestarikannya? Alih-alih melestarikan. Cara bersikap terhadapnya saja tak bakalan tahu kalau tidak paham.

Itulah sebabnya Budaya Lokal wajib disosialisasikan secara masif dan konsisten. Tujuannya agar masyarakat dari semua kalangan tahu. Dengan demikian, generasi lama (tua) bisa kembali mengingat dan mengakrabinya. Sementara generasi baru (muda) bisa mulai mengenal untuk kemudian mengakrabinya.

Nah! Bukankah untuk urusan sosialisasi secara efektif, Teknologi Informasi adalah jagonya? Melalui aneka media sosial, yang notabene merupakan bagian dari Teknologi Informasi, dalam tempo singkat sesuatu bisa diviralkan. Begitu sebuah informasi ditayangkan di portal media daring (dalam jaringan) dan media sosial, seketika itu pula bisa menjangkau banyak orang. Di mana pun mereka berada. Sejauh punya akses internet.

Teknologi Informasi mesti dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk memperkuat akar Budaya Lokal. Mengapa? Sebab Teknologi Informasi memungkinkan segala hal tentang Budaya Lokal dapat diakses oleh banyak orang secara cepat. Meskipun sosialisasi luring (luar jaringan) juga perlu dilakukan, sosialisasi daring tetap wajib dimaksimalkan demi efektivitas. Inilah yang disebut Budaya Lokal feat Teknologi Informasi.    

Maka bayangkanlah andai kata yang diviralkan adalah hal-hal yang berkaitan dengan Budaya Lokal. Tentu dampaknya positif 'kan? Khalayak akan heboh memperbincangkannya. Selanjutnya sebab terus-menerus diperbincangkan, bakalan makin banyak orang yang tahu. Dari yang semula sekadar tahu, lalu menjadi paham (tahu lebih dalam), dan akhirnya  mau melestarikan.

Contoh konkretnya adalah pengalaman saya sendiri. Sebagai warga pendatang, dahulunya saya sekadar tahu bahwa Yogyakarta adalah sebuah kota tua penuh sejarah dan budaya. Yang punya sebutan sebagai Kota Pelajar, Kota Sepeda, Kota Gudeg, dan Indonesia Kecil.

Saya mengunjungi keraton. Bolak-balik ke Malioboro. Berfoto di Tugu Pal Putih. Bepergian ke tempat-tempat ikonik lain di  seantero Yogyakarta. Namun, tanpa tahu cerita/makna yang tersimpan di baliknya. Seiring berjalannya waktu, terutama setelah akrab dengan internet, pengetahuan saya tentang Yogyakarta pun meningkat pesat.

Kerap kali saya mendatangi sebuah acara budaya dengan berbekal informasi dari internet. Iya. Saya memang mengikuti akun medsos Keraton Yogyakarta, Museum Sonobudoyo, Malamuseum, dan beberapa komunitas pecinta seni/budaya/sejarah. Bermula dari akun-akun medsos itulah pengetahuan saya mengenai Yogyakarta bertambah. Salah satunya pengetahuan saya tentang Sumbu Filosofi dan Sumbu Imajiner.


Poster Sumbu Filosofi

Poster Sumbu Imajiner


Dua poster di atas saya potret tatkala Reresik Malioboro Selasa Wage, 27 Agustus 2019, di kompleks Kepatihan (kantor Gubernur DIY). Namun dua tahun sebelumnya, yaitu pada tahun 2017, sebenarnya saya telah menemukan poster serupa di sebuah pameran. Sayang sekali saya lupa tajuk pamerannya. Yang jelas, lokasinya di halaman dalam Museum Benteng Vredeburg. Saat itu Yogyakarta baru saja mengajukan diri sebagai City of Philosophy kepada UNESCO.

Terus terang saja ketika pertama kali menjumpainya, saya kurang begitu paham. Iya. Pengetahuan saya tentang Sumbu Filosofi dan Sumbu Imajiner masih sangat mengambang. Otomatis saya belum begitu mengerti hubungan kedua sumbu tersebut dengan pengajuan ke UNESCO.

Meskipun sudah membaca penjelasan-penjelasan yang tercantum di situ, bahkan menyempatkan diri untuk berfoto di depan dua poster segala, pemahaman saya tetap belum utuh. Mungkin sebab membacanya sepintas lalu. Didorong oleh rasa penasaran, saya kemudian berselancar di internet untuk menggali informasi lebih jauh.

Berhasilkah upaya tersebut? Syukurlah berhasil. Akhirnya saya paham, betapa Yogyakarta amat layak menjadi City of Philosophy. Faktanya, Yogyakarta sekian abad lalu dibangun oleh Pangeran Mangkubumi (yang kemudian dikenal sebagai Sultan HB 1) dengan konsep Sumbu Filosofi dan Sumbu Imajiner.

Sumbu Filosofi adalah tata ruang kota yang membujur selatan-utara. Meliputi Panggung Krapyak-Keraton Yogyakarta-Tugu Pal Putih. Ini merupakan gambaran konsep mikrokosmos, yaitu alam kehidupan nyata yang menjadi laku peziarahan manusia.

Lalu paralel dengan Sumbu Filosofi tersebut, ada Sumbu Imajiner. Yakni garis lurus yang membujur selatan-utara, yang menghubungkan Laut Selatan dengan Gunung Merapi. Ini merupakan gambaran konsep makrokosmos.

Kerennya lagi, Sumbu Filosofi itu pun ternyata menyimbolkan perjalanan hidup manusia. Dari Panggung Krapyak ke Keraton Yogyakarta dan Tugu Pal Putih memberikan gambaran tentang konsep sangkan paraning dumadi (dari mana asal manusia dan hendak ke mana). Jadi menyimbolkan alam manusia dari embrio, lahir, berproses, berkembang, eksis, hingga kembali kepada-Nya.

Adapun rinciannya begini. Dari Panggung Krapyak ke Keraton Yogyakarta merepresentasikan makna sangkan paran, yaitu asal-muasal manusia untuk berproses menuju eksistensi diri. Sementara dari Tugu Pal Putih ke Keraton Yogyakarta merepresentasikan makna paraning dumadi. Yakni manusia yang eksis berproses untuk menjalankan kehidupannya.

Sungguh. Tidak sia-sia saya menghabiskan waktu untuk berselancar di internet demi mencari tahu penjelasan mengenai Sumbu Filosofi dan Sumbu Imajiner. Pada akhirnya saya menjadi makin paham tentang kota yang kini saya tinggali. Bukankah ini merupakan bukti nyata bahwa Budaya Lokal feat Teknologi Informasi adalah sebuah keniscayaan?


Papan kaca dwibahasa di Jalan Malioboro


Karena jangkauan internet adalah seluruh dunia, sudah pasti pengenalan Budaya Lokal mesti dilakukan pula dalam bahasa internasional. Minimal dalam bahasa Inggris. Jangankan pengenalan secara daring. Pengenalan secara luring pun butuh dilakukan dalam bahasa internasional.

Maka saya angkat topi pada instansi terkait yang telah berinisiatif memasang papan-papan kaca dwibahasa (bahasa Indonesia dan bahasa Inggris) di beberapa titik di kawasan Sumbu Filosofi. Papan kaca apakah itu? Yakni papan kaca yang berisi informasi tentang Sumbu Filosofi dan Sumbu Imajiner.

Pemerintah kota rupanya sangat serius dalam menyebarkan informasi perihal pengajuan Yogyakarta sebagai City of Philosophy. Propagandanya sampai ke tingkat kelurahan. Maklumlah. Seluruh lapisan masyarakat Yogyakarta memang diharapkan tahu bahwa kota mereka sedang bersiap untuk menjadi kawasan Warisan Budaya Dunia.

Banner tentang Sumbu Filosofi di Kantor Kelurahan Ngupasan


Berdasarkan pengalaman pribadi itulah, saya sangat yakin bahwa kerja sama antara Budaya Lokal dan Teknologi Informasi mutlak dilakukan. Sepintas lalu keduanya mungkin tampak tak terhubung. Namun kalau mau berpikir kreatif, pasti akan ketemu banyak cara untuk memanfaatkan Teknologi Informasi demi memperkuat akar Budaya Lokal.

Akar Budaya Lokal perlu diperkuat supaya masyarakat pengusungnya (pemiliknya) tak tercerabut dari tata cara kehidupan yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Adapun memperkuatnya dengan cara memastikan bahwa masyarakat pengusungnya, terutama dari kalangan generasi muda, paham tentang budaya tersebut.

Modernitas pasti tak terhindarkan. Namun sejauh masyarakat mau melestarikan, sebuah budaya pasti bisa tetap eksis di tengah perkembangan zaman. Sebab sesungguhnya, budaya tersebut tak pernah punah. Yang membuatnya punah adalah ketiadaan manusia yang mengusungnya. Maka kolaborasi Budaya Lokal dan Teknologi Informasi adalah keniscayaan.         

Baiklah. Sebelum membubuhkan tanda titik terakhir, izinkan saya untuk memasang foto narsis berikut ini sebagai simbol. Simbol apakah? Yakni simbol bahwa sebagai warganet sekaligus narablog, saya siap membantu mewartakan budaya dan kearifan lokal yang dimiliki Yogyakarta kepada dunia.


Saya dan banner tentang pengajuan Yogyakarta sebagai City of Philosophy


Sumber Referensi:

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id
https://www.jogjakota.go.id
https://id.wikipedia.org.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Pagelaran TIK yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika DIY 2019.




  
 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template