Selasa, 13 Agustus 2019

Tumpeng Biru untuk Toko Buku Natan

12 komentar
SIANG itu lelah dan lapar telah menyergap kami, para peserta pelatihan menulis cerpen. Maklumlah. Sudah lewat tengah hari. Sementara sejak pukul 09.00 WIB, kami serius memeras otak demi cerpen.

Alhamdulillah acara akhirnya ditutup dengan kejutan. Ternyata, oh, rupanya. Kami diajak menghadiri acara selamatan atas dibukanya Toko Buku Natan. Yang berarti kami akan makan siang bersama dengan menu istimewa, yaitu tumpeng. Mana tumpengnya biru pula. Bikin kebahagiaanku kian membuncah saja. Haha!

Sejujurnya, sudah lama sekali aku ingin mencicipi nasi biru. Selama ini baru mampu menikmatinya dalam bentuk foto-foto. Iya, yang berseliweran di linimasa medsosku itu. Sungguh menyedihkan toh?




Pada foto di atas tampak Bapak Achmad Charris Zubair (baju merah) bersiap untuk memotong tumpeng biru. Beliau didampingi oleh Bapak Nasir Tamara. Tentu sebelumnya ada acara seremonial, dong.

Selaku pemilik, Bapak Nasir Tamara bercerita singkat tentang Toko Buku Natan. Yang intinya, toko buku tersebut berusaha memenuhi kebutuhan khalayak untuk memperoleh buku-buku bergizi. Apalagi khalayak penulis dan calon penulis yang mutlak perlu banyak membaca.

Sementara itu selain membacakan doa, Bapak Achmad Charris Zubair juga menyampaikan informasi menarik. Guru Besar Fakultas Filsafat UGM yang asli Kotagede itu menuturkan bahwa setelah hampir 50 tahun, Kotagede kembali punya toko buku. Yakni Toko Buku Natan yang beralamat di Jalan Mondorakan 5 Kotagede  Kotagede.

Dahulu sebelum ada toko buku besar seperti Gunung Agung dan Gramedia, ada sebuah toko buku besar di Kotagede. Lokasinya tepat di sebelah barat pasar. Namun sayang sekali, pada tahun 1970 toko buku tersebut tutup. Dan, baru pada tahun 2019 inilah ada toko buku lagi di Kotagede.

Wow! Senang sekali aku mengetahui informasi tersebut. Makin melengkapi pengetahuanku akan Kotagede.    Membuatku makin jatuh cinta pada wilayah bersejarah ini.





Usai menikmati tumpeng biru dengan segala pelengkapnya, kami dipersilakan meninjau ruangan toko bukunya. Luar biasa! Meskipun tak begitu luas, koleksi buku yang dijual menakjubkan semua. Tak ada buku-buku retjeh (seperti buku karyaku) di situ. *Duh, aku jadi maluuu*




Cobalah perhatikan foto di atas. Amatilah buku-buku yang nampang di situ. Yang mana yang sudah kalian baca? Yang mana yang sedang kalian baca? Yang mana yang akan kalian baca? Yang mana yang hendak kalian beli? Yuk, mari sini. Ada juga lho, yang boleh diintip-intip isinya asalkan mengintipnya on the spot.

Toko Buku Natan ini merupakan International Book Store. Buku-buku yang dijual berstandar internasional. Jadi, yang tersedia tak melulu buku-buku berbahasa Indonesia.

O, ya. Koleksi yang tersedia di Toko Buku Natan membangkitkan kenangan tersendiri bagiku. Terkhusus yang terbitan Balai Pustaka. Asal tahu saja, masa kecilku dulu banyak kuhabiskan untuk membaca buku-buku terbitan Balai Pustaka. Baik yang kupinjam dari perpustakaan sekolah maupun yang merupakan koleksi pribadi bapakku. *Halah, jadi baper*

Begitulah adanya. Toko Buku Natan ternyata cocok juga untuk bernostalgia. Bahkan, tak hanya bernostalgia dengan karya sastra lama ala Balai Pustaka. Kalau kalian hendak meminang buku "berat" dan tebal dari Penerbit Afterhours, yang berjudul RADEN SALEH Awal Seni Lukis Modern Indonesia, di sini pun tersedia.

Atau, kalian sedang mencari-cari buku RENDANG Legacy to the World dan Kecap Manis  yang juga dari Penerbit Afterhours? Atau, minat banget untuk membeli MUSTIKARASA Resep Masakan Indonesia Warisan Sukarno dari Komunitas Bambu? Tak usah khawatir. Toko Buku Natan siap sedia melayani. Keren 'kan?  




Kalian tak usah takut mendadak zadoel jika berada di Toko Buku Natan. Percayalah. Walaupun banyak koleksi zadoel di situ, kalian tetap bisa kekinian. 'Kan ada Wi-Fi gratisnya? Bukankah internetan merupakan salah satu ciri gaya hidup kekinian?

Baiklah Sobat PIKIRAN POSITIF sekalian, aku sudahi dulu ceritaku ini ya. Semoga bermanfaat bagi kalian. Dapat menginspirasi, bahkan mendatangkan rezeki yang berlimpah berkah. Aamiin.

MORAL CERITA:
Ayo berkunjung ke Toko Buku Natan. Hahaha!



Selasa, 06 Agustus 2019

Tentang Bapak dan Tulisan

36 komentar
Bapakku sedang sibuk entah ndondomi opo? 


ALHAMDULILLAH 6 Agustus. Hari ini bapak tercintaku bertambah usia. Mohon doa dari kawan semua, semoga sisa usia yang ada makin berkah. Tentu saja, permohonan ini terkhusus buat kawan-kawan yang mengenal beliau secara langsung. Yang tidak mengenal pun sangat boleh untuk ikut berdoa ....

Ah! Bagiku, ingat bapak berarti ingat tulisan. Bukan karena wajah beliau mirip huruf-huruf dalam naskah, lho. Hohoho .... 

Lalu, kenapa? Sebab beliau itulah sosok yang paling memahami aktivitas menulisku. Paham sepenuhnya lho, ya. Bukan sekadar paham tanpa penghayatan.

Dulu, duluuu sekali beliau mewanti-wanti begini, "Kamu mbokyao belajar nulis. Kalau jadi penulis, 'kan  tidak harus kerja kantoran. Kalau jadi ibu rumah tangga dan punya anak, tulisan bisa diselesaikan di rumah sambil momong."

Kala itu kujawab, "Wah. Harus pinter, dong."

Beliau lalu memberikan opsi, "Kalau tidak mau belajar jadi penulis, belajar jadi penjahit saja."

Wuahduh! Aku malah lebih enggak gape kalau berurusan dengan mesin jahit. Sejujurnya, jadi penjahat kurasakan lebih mudah daripada jadi penjahit.  

Seiring waktu berlalu, akhirnya aku malah bisa menjelaskan kepada bapak tentang sesuatu. Yakni tentang kaitan antara menjahit dan menulis. Yup! Suatu ketika aku memamerkan status fesbukku. "Ini, Pak. Tolong dibaca."

Setelah membaca (tentu dengan  panduanku sebab bapak gaptek dan tak pernah fesbukan), beliau berkomentar, "Kowe kok crita nek kancamu dadi penjahit? Ngajak orang untuk menjahitkan baju di tempatnya."

Aku nyengir dan menjawab, "Iyaaa. Temanku itu baru buka usaha konveksi. Tapi bingung cari orderan. Lalu, aku membantunya dengan ngiklan di status fesbuk gini. Dulu 'kan bapak nyuruh aku belajar nulis. Ini aku dapet uang bensin lho, Pak. Temanku yang penjahit itu belum bisa ngiklan dengan kalimat-kalimat manis begini. Jadi, berani nyangoni aku."

"Oh? Bayanganku penulis itu ya penulis buku atau artikel di koran," kata beliau.

Maklumlah kalau beliau berpikiran begitu. Beliau 'kan produk zadoel. Sementara di masa kini, penjahit atau pebisnis apa pun mesti piawai menulis juga demi kampanye produknya. Memang sih, bisa meminta bantuan pada ahlinya. Tapi kalau diri sendiri juga bisa menulis, tentu bakalan lebih efektif.

Kiranya dengan mempertimbangkan kondisi yang demikian itulah, aku malah galau. Lho??? Iya. Galau sebab bingung mencari cara paling tepat untuk memberikan penjelasan ke bapak tentang seluk-beluk dunia menulis kekinian. Hehehe ....

MORAL CERITA:
HUT bapakmu pun bisa menjadi ide tulisan. Iya 'kan? 






 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template