Selasa, 24 Maret 2020

Langsing Sehat Bersama Malamuseum

20 komentar
MUNGKIN kalian bertanya-tanya,  "Langsing sehat bersama Malamuseum? Apa Komunitas Malamuseum sekarang punya program kebugaran? Semacam senam massal atau melakukan yoga bersama-sama tiap Minggu pagi?"  

Tentu tidak dong, ah. Malamuseum masih berpegang teguh pada khittahnya, kok. Masih setia berada di jalur dolan sejarah. Belum berubah menjadi dolan senam. 

Percayalah. Diriku ini sama sekali tidak berdusta. Kalau kurang percaya, silakan tengok akun IG-nya di  @malamuseum .... 

Lalu, mengapa judul tulisan ini "Langsing Sehat Bersama Malamuseum"? Hahaha! Sebab kenyataannya, lemak-lemah tubuhku banyak yang terbakar hingga luntur, gara-gara sering dolan sejarah dengan Malamuseum. 

Kok bisa? Bisa bangeeet, dong. Dolan sejarahnya 'kan dilakukan dengan berjalan kaki. Divisi yang mengelolanya saja berlabel JWT (Jogja Walking Tour). 

Ya sudah. Memang aktivitas kami full berjalan kaki. Bergeser dari satu spot sejarah ke spot sejarah yang lainnya dengan berjalan kaki. 

Kalau keasyikan memotret sebuah objek sehingga ketinggalan rombongan, pada akhirnya malah harus berlari-lari kecil juga. Macam orang jogging. Demi menyusul rombongan tercinta 'kan ya?

Bila dilihat dari sudut pandang dunia olahraga, jarak tempuh dolan kami relatif dekat. Namun jangan lupa, bagi kaum mager sepertiku, ya cukup memeras tenaga. Apalagi kalau kebetulan spot yang mesti dikunjungi banyak. Mana lokasinya saling berjauhan pula. 

Belum lagi kalau matahari sedang bersinar cetar membahana. Makin terperas deh, keringatku. Dijamin ketika balik ke rumah, maunya selonjoran sembari dipijit-pijit kaki ini.  Hehehe ....

Sebagai bukti bahwa aktivitas dolan sejarah kami memang full berjalan kaki, silakan cermatilah deretan foto berikut. 
    
Ngumpul dulu di teras Museum Sudirman

Lagi di tengah jalan di Kampung Bintaran, nih ....



Saat Jelajah Kauman (1)


Saat Jelajah Kauman (2)


Berpanas-panas di Malioboro


Di Pelataran Masjid Gedhe Kauman


Di Malioboro



Di seberang bekas gedung bioskop Indra



Di teras gedung DPRD DIY


Di sebelah barat Kantor Pos Besar



Di Pendopo Lawas (sisi timur altar)


Di sisi selatan altar (alun-alun utara)


Baik. Cukup ya, parade foto serunya. Semoga berhasil membangkitkan minat kalian untuk bergabung dengan kami. Tentu setelah badai COVID-19 benar-benar berlalu. 

O, ya. Fokus tulisan ini pada semangat berjalan kakinya. Bukan pada penjelasan sejarahnya. Kalau penjelasan sejarahnya sudah tersebar di beberapa tayangan dalam blog ini 'kan? Silakan mengeksplorasinya jika berkenan. 

Akhirul kata .... 

Jika mager untuk berolahraga di akhir pekan, ikutlah "piknik" yang diadakan oleh Malamuseum-JWT. Manfaatnya bisa ganda, lho. Badan langsing sehat, wawasan sejarah kita pun bertambah. Serius.  

MORAL CERITA: 
Selalu ada sisi lain dari sebuah aktivitas.





Selasa, 10 Maret 2020

Aula Boedi Oetomo di SMAN 11

44 komentar
Bagian depan (terkini) Aula Boedi Oetomo

APA kabar Sobat Pikiran Positif? Semoga kalian sedang berbahagia lahir dan batin. Walaupun mungkin sedang dikepung oleh hal-hal memuakkan, berbahagia is a must. Hehehe .... 

Baik. Kali ini aku hendak sedikit berbagi cerita. Yakni cerita tentang kunjunganku ke SMAN 11 Yogyakarta. 

Yeah! Rupanya SMAN 11 Yogyakarta menyimpan sejarah penting bagi bangsa Indonesia. Terkhusus aula zadulnya. Yang penampakannya dapat kalian lihat di bawah ini.


Bukan sedang kongres, melainkan sedang menyimak uraian tentang sejarah Boedi Oetomo

Bukan sedang kongres, melainkan sedang menunggu pembagian jatah makan siang

Lihatlah! Aulanya memang beraroma masa lalu. Tapi asri, lho. Bisa meneduhkan dan mengusir gerah ketika cuaca sangat panas.

Iya, tentu saja begitu. 'Kan aula tersebut tidak memiliki dinding? Alhasil, sirkulasi udaranya lancar sekali. Namun saat hujan lebat berangin kencang, mungkin bakalan basah lantainya. Terutama yang bagian pinggirannya. 

O, ya. Aula zadul tersebut bernama Aula Boedi Oetomo. Pastilah ada latar belakang sejarah di balik penamaannya. Yang tak lain dan tak bukan, memang terkait dengan organisasi Boedi Oetomo. 

Perlu kalian ketahui bahwa Aula Boedi Oetomo dahulunya merupakan ruang makan. Yakni ruang makan dari Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzen Djogjakarta (sekolah guru zaman Belanda). Yang di kemudian hari, pada tanggal 3-5 Oktober 1908, dipergunakan sebagai tempat kongres Boedi Oetomo 1. *Silakan googling sendiri ya, untuk tahu lebih lanjut mengenai Boedi Oetomo.*

Sebelum dan Sesudah Dikembalikan Fungsinya

Seorang kawan berkata, "Sepupuku alumni SMAN 11 ini. Angkatan lama banget. Seingatnya, dulu aula ini ditutup gedhek (dinding yang dibuat dari anyaman bambu). Di dalamnya untuk menyimpan motor." 

Aku terpana mendengar perkataan kawanku itu. Sebelum akhirnya merespons, "Untuk parkiran? Masak begitu, sih? Eman-eman, ya?" 

Karena kurang percaya, aku mencoba mencari informasi lain. Apa hasilnya? Memperoleh informasi baru, dong. Tentu dari alumni SMAN 11 Yogyakarta sendiri.

Yup! Seorang kawan FB, melalui kolom komentar atas status yang kubuat, memberitahukan bahwa aula yang tertutup gedhek tidak dipergunakan sebagai tempat parkir. Tidak pula sebagai garasi. Mungkin dulu sempat ada motor milik guru, yang disimpan sementara di situ. Mungkin sebab mogok atau bagaimana.

Pada waktu selanjutnya, aula dibenahi. Dibersihkan dan dikembalikan fungsinya sebagai aula yang terbuka. Dimanfaatkan sebagai tempat berkegiatan para siswa SMAN 11 Yogyakarta. Antara lain untuk latihan teater, badminton, dan tenis meja.

Kini setelah kembali keren, Aula Boedi Oetomo bisa disewa oleh pihak eksternal sekolah. Untuk kegiatan apa pun. Asalkan bersedia memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku.

Kondisi Terkini SMAN 11 Yogyakarta

Di atas telah kita bahas mengenai Aula Boedi Oetomo, yang berlokasi di tengah kompleks SMAN 11 Yogyakarta. Kini mari kita bahas mengenai SMAN 11-nya. Oke?

Seperti telah disinggung sebelumnya, sekolah ini dahulu bernama Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzen Djogjakarta. Yakni sekolah guru pada zaman Belanda. Tepatnya sekolah guru A (SGA).

Karena dibangun semasa penjajahan Belanda, sudah pasti arsitektur bangunannya tidak kekinian. Apalagi bentuk aslinya memang sengaja dipertahankan. Meskipun karena usia, di beberapa bagian (terpaksa) ada sedikit perubahan. Silakan cermati beberapa foto di bawah ini. 
Bagian depan SMAN 11 Yogyakarta (kini)

Mereka dan hiasan atap teras itu sama-sama cantik 'kan?

Benar, dunia indah tanpa narkoba ....


Kebetulan kawan-kawan dari Komunitas Malamuseum berbagi kisah sejarah di bagian depan bangunan. Alhasil sembari menyimak materi Kelas Heritage, kami sekaligus bisa melihat-lihat detil arsitekturnya. Sambil jeprat-jepret juga pastinya. Hahaha!

Bangunan SMAN 11 Yogyakarta bergaya indis. Namun, bercampur dengan gaya tradisional Jawa. Gaya tradisional Jawa tersebut terutama sangat tampak pada atap. Yakni atap yang berbentuk limasan. 

Struktur bangunannya--di beberapa bagian--didominasi oleh kayu. Hal ini terutama dapat dilihat pada bangunan aula dan doorlop (koridor). Sementara plafon dipertahankan mempergunakan gedhek.

Pintu dan jendela yang terbuat dari jalusi/krepyak pun masih dipertahankan. Demikian pula sebagian kondisi lantainya. Sebagian lantai masih mempergunakan ubin polos berwarna abu-abu. Namun sayang sekali, mungkin sebab tak bisa dipertahankan lagi, sebagian lainnya sudah diganti dengan keramik putih.      


Posisi sporadis, tapi konsentrasi untuk menyimak materi dari pemandu tak pergi 

Dahulu Menyatu dengan SD Tumbuh 1

Bangunan SMAN 11 Yogyakarta mulai dibangun pada tahun 1894. Resmi dibuka pada tanggal 7 April 1897. Tentu dengan nama Kweekschool voor Inlandsche Onderwijzen Djogjakarta. Tatkala itu kompleks bangunannya lebih luas daripada kompleks SMAN 11 sekarang. 

Lalu, di mana penyempitannya? Jawabannya, "Di SD Tumbuh 1." 

Demikianlah adanya. Dari peta sejarah yang diperlihatkan oleh kawan-kawan Komunitas Malamuseum, kami jadi tahu bahwa dahulunya, kompleks bangunan SMA 11 Yogyakarta dan SD Tumbuh 1 adalah satu kesatuan. Bangunan SMA 11 Yogyakarta difungsikan sebagai kelas-kelas (ruangan untuk belajar). Sementara SD Tumbuh 1 sebagai asrama bagi para guru dan pengelola.

O, ya. Bangunan SD Tumbuh 1 punya gaya arsitektur yang sedikit berbeda dengan bangunan SMAN 11. Berdasarkan informasi yang saya peroleh, bangunan SD Tumbuh 1 bergaya Indische Empire dan peralihan.

....

Namun yang memilukan, kami belum diberi izin untuk bisa masuk ke SD Tumbuh 1. Padahal, lokasinya bersebelahan bangeeet. Yaiyalah. Lha wong dahulu sekompleks, kok. Hehehe ....

Maka ya terima nasib sajalah belum bisa melihat-lihat situasinya. Mungkin next time. Semoga.


Punggawa Malamuseum sedang iseng menirukan gaya patung di depan SMAN 11 Yogyakarta


Demikian ceritaku tentang Aula Boedi Oetomo yang berlokasi di SMAN 11 Yogyakarta. Tentu saja kehadiran tulisan ini terinspirasi oleh keikutsertaanku dalam Kelas Heritage, yang diselenggarakan oleh Komunitas Malamuseum.

Semoga bermanfaat bagi kalian. Semoga pula bisa memantik rasa kepo kalian, untuk lebih mendalami sejarah bangsa kita tercinta. Jasmerah, jasmerah. Jangan sekali-sekali melupakan sejarah.


MORAL CERITA:
Ayo dolan sejarah bareng Komunitas Malamuseum. Seru. Bisa belajar sejarah dengan cara santuy plus diselingi selfie. Hahaha!




 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template