Kamis, 06 Oktober 2022

Bus Jogja Heritage Track

1 komentar
APA kabar Sobat PIKIRAN POSITIF? Jumpa lagi nih, kita. Kali ini lagi-lagi aku hendak bercerita tentang sesuatu yang ada di Jogja, yang kehadirannya relatif masih baru, yaitu Bus Jogja Heritage Track. 


Dokpri Agustina

Kalau kalian warga Yogyakarta dan sekitarnya, kemungkinan besar pernah melihat bus tersebut. Penampilannya 'kan mencolok. Jika berada di jalanan, di antara kendaraan lain, sosok Bus Jogja Heritage Track serta-merta akan menimbulkan hasrat kekepoan kita. 

Wajarlah. Badannya saja dipenuhi gambar begitu. Siapa saja, terutama anak-anak, tentu bakalan senang melihatnya. Senang dan kemudian berminat menaikinya. 

Namun, sayang sekali Bus Jogja Heritage Track belum bisa diakses sewaktu-waktu oleh khalayak ramai. Ceritanya 'kan baru dalam tahap uji coba. Jadi, kalau ingin menaikinya harus cepat-cepatan registrasi secara daring. 
 
 
Dokpri Agustina
Dokpri Agustina

Registrasinya melalui tautan yang dibagikan di akun IG @sumbufilosofi , ya. Silakan selalu cek ricek akun milik Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofi itu. Siapa cepat dia dapat pokoknya. Wajib sat set.


Dokpri Agustina

Bus Jogja Heritage Track ini punya dua versi. Yang satu versi merah (disebut Bus Malioboro), satunya lagi versi kuning (disebut Bus Kuning). Jangan sampai salah paham, ya. Di sini Malioboro dan Kraton adalah nama bus. Menunjukkan identitas diri (identitas bus). Bukan menunjukkan kepemilikan atau rute. 

Ini perlu banget kujelaskan. Karena khawatirnya, kalian menyangka bahwa Bus Merah milik pengelola Jalan Malioboro dan rutenya ke Malioboro. Sementara Bus Kuning kalian sangka milik Kraton Yogyakarta dan rutenya ke kraton. Hehehe .... 

Lalu, Bus Jogja Heritage Track itu milik siapa? Milik masyarakat Yogyakarta, dong. Pengelolanya Dinas Kebudayaan DIY dan Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofi. Nah, lho. Jika kamu orang Yogyakarta, berarti Bus Jogja Heritage Track juga milikmu. Hahaha!
 

Dokpri Agustina

Karena Bus Jogja Heritage Track pada dasarnya milik kami, seluruh masyarakat Yogyakarta, ya sudah sewajarnya kalau saya dan teman-teman pede berfoto ria dengan latar belakang bus tersebut. 
 
Tentu mula-mula aku berpose sendirian dulu. Penting banget ini. Muehehe .... Nah. Baru setelahnya berswafoto berempat. Yup, yup! Kami berempat adalah satu tim yang solid. Tim apa? Tim pencari lowongan kursi Bus Jogja Heritage Track, dong.
 

Dokpri Agustina
Dokpri Agustina

Kalau foto yang berlima itu bersama pemandu kami. Mbak Ratna namanya. Apakah kalian mengenalnya? Ngomong-ngomong foto berikut mendokumentasikan aksi Mbak Ratna selama di perjalanan, yaitu mendongengi kami tentang Sumbu Filosofi Yogyakarta .


Dokpri Agustina

Sejak berangkat hingga tujuan terakhir, bahkan sampai kembali ke titik keberangkatan, ruang pikiran dan imajinasi kami pun dipenuhi oleh pengetahuan tentang Sumbu Filosofi. Berarti on the track 'kan? Sesuai dengan tujuan dilakukannya ujicoba. 
 
Perlu diketahui, selain Sumbu Filosofi Trip tersedia pula Colonial Trip dan Historical Trip. Tentu rutenya berlainan, ya. Sudahlah. Ketimbang bingung-bingung di sini dan malah berpotensi kehabisan kuota kursi, silakan langsung klik website terkait saja. 
 
 
 



Kamis, 29 September 2022

Mengenal Sumbu Filosofi Yogyakarta

7 komentar
APA kabar Sobat Pikiran Positif? Semoga sedang sehat, berbahagia, dan penuh syukur. Plus tentunya, sadar bahwa kita ini punya daur hidup sebagaimana yang tersirat dalam Sumbu Filosofi Yogyakarta.
 

Di Panggung Krapyak/Dokpri Agustina

Weih! Larinya kok ke Yogyakarta? Lalu, adakah hubungannya dengan foto orang-orang yang membawa spanduk Sumbu Filosofi itu? 

Apa nih, maksudnya? Ada hubungan apa antara daur hidup manusia dengan Yogyakarta? Sumbu Filosofi itu apa? Mungkin kalian akan bertanya-tanya begitu. 

Baiklah. Langsung saja kujelaskan, ya. Begini. Kota Yogyakarta yang kutinggali ini, dahulu dibangun oleh Sultan Hamengku Buwana 1 dengan konsep filosofis. Jadi, tidak cuma dibangun secara fisik tanpa makna.

Beliau menyusun tata ruang kota berdasarkan daur hidup manusia. Mulai dari saat kelahiran, lalu menginjak masa kanak-kanak hingga dewasa, kemudian berakhir dengan kematian (kembali kepada-Nya). 

Yang semua itu membentuk tata nilai Sangkan Paraning Dumadi. Yang berarti kita sebagai manusia mestinya tidak lalai dari mana kita berasal, di dunia ini punya tugas apa, dan kelak hendak ke mana setelah meninggal dunia.
 

Aneka suvenir terkait Sumbu Filosofi/Dokpri Agustina



Dengan demikian, idealnya orang-orang Yogyakarta senantiasa eling lan waspada. Senantiasa ingat bahwa kelak setelah mati akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah dilakukan selama hidup.

Aku menyatakan "idealnya", ya. Seumpama ada yang tidak senantiasa eling lan waspada ya berarti belum ideal. Tepatnya belum ideal dan keterlaluan.

Mengapa kusebut keterlaluan? Karena sesungguhnya ke mana pun kaki melangkah, kalau rutenya enggak jauh-jauh amat dari kraton, niscaya bersinggungan dengan Kawasan Sumbu Filosofi. Berarti selalu diingatkan toh?

Tiga Atribut Utama Sumbu Filosofi 

Sultan Hamengku Buwana 1 memang arsitek yang keren. Konsep Sumbu Filosofi yang digagasnya dibikin mewujud nyata dalam bentuk bangunan-bangunan ikonik. 

Andai kata cuma dibiarkan sebagai konsep 'kan cenderung abstrak bagi kebanyakan orang. Jadi supaya lebih mudah diingat dan dipahami, direalitakanlah menjadi bangunan-bangunan.

Bangunan-bangunan yang dimaksudkan adalah Panggung Krapyak (Kandang Menjangan), Kraton Yogyakarta, dan Tugu Golong Gilig (Tugu Pal Putih). Ketiga bangunan inilah yang disebut atribut utama Sumbu Filosofi.

Kerennya, setelah melewati sekian abad, bangunan-bangunan tersebut masih eksis. Bahkan, sekarang menjadi penanda spesifik Yogyakarta. 

Penanda spesifik yang kumaksudkan tuh, begini. Kalau kamu mengunggah foto sedang berada di Tugu Golong Gilig, automatis warganet akan berpikir, "Wah, Tugu. Rupanya dia sedang di Yogyakarta."

You know what I mean 'kan ya? 

Kampanye Sumbu Filosofi

Kembali ke foto pertama di atas. Orang-orang dalam foto itu membawa spanduk bertuliskan "Dukung Sumbu Filosofi Menuju Warisan Dunia". Apakah mereka anggota partai yang sedang berkampanye?

Tentu tidak. Mereka bukanlah anggota partai. Memang benar bahwa mereka sedang berkampanye. Akan tetapi, mereka bukan anggota partai. 

Mereka adalah penumpang Bus Jogja Heritage Track yang sedang berfoto di Panggung Krapyak (Insyaallah nanti akan kutuliskan tentang bus tersebut).

Adapun yang mereka kampanyekan adalah Sumbu Filosofi Yogyakarta. Tujuannya agar masyarakat, terkhusus yang aseli Ngayogyakarta Hadiningrat, paham konsep Sumbu Filosofi tersebut. 

Mengapa orang-orang di Yogyakarta, baik yang asli maupun yang pendatang, perlu memahaminya? Karena saat ini Sumbu Filosofi sedang diajukan ke UNESCO agar diakui sebagai Warisan Budaya Dunia. 

Utusan dari UNESCO pun sudah melakukan visitasi ke Kawasan Sumbu Filosofi Agustus lalu. Tentu setelah sebelumnya mempelajari data-data yang dikirimkan ke markas UNESCO sana.

Nah, lho. Kalau Sumbu Filosofi Yogyakarta kemudian resmi diakui sebagai Warisan Budaya Dunia, masak sih warganya sendiri malah tidak paham apa-apa terkait hal tersebut? Itulah sebabnya kampanye Sumbu Filosofi belakangan dipergencar.

Baiklah. Informasiku dalam format aksara cukup sekian, ya. Sisanya silakan cermati saja foto-foto berikut ini. 
 

Di depan Museum Sonobudoyo Yogyakarta/Dokpri Agustina
Kraton Yogyakarta/Dokpri Agustina



Tugu Golong Gilig/Dokpri Agustina

Panggung Krapyak/Dokpri Agustina

Tentu saja tiap atribut utama Sumbu Filosofi punya makna tertentu. Insyaallah nanti akan kukisahkan tersendiri. Terlalu panjang kalau kutuliskan sekarang. Tunggu  ya.
 
 
 
 


Kamis, 22 September 2022

Serunya Pentas Musikan Kamardikan

2 komentar
HALO, Sobat PIKIRAN POSITIF? Apa kabar? Sudah membaca tulisan sebelum "Serunya Pentas Musikan Kamardikan" ini? Kalau belum, silakan bacalah. Ini tautannya
 
Perlukah membacanya? Perlu, dong. Mengapa? Karena tulisan tempo hari amat berkaitan dengan tulisan yang sedang kalian baca ini. 'Kan enak kalau sebelumnya kalian telah membaca "Konser Kamardikan di Kraton Yogyakarta". 
 
Di mana enaknya? Ya enak nyambungnya. Serasa berhasil menyambungkan kepingan-kepingan puzzle secara tepat gitu, lho. Hehehe .... 
 
Lagi pula, kedua tulisan tersebut memang berangkat dari dua acara yang sodaraan. Bahkan, lokasinya pun sama-sama di Regol Brajanala Kraton Yogyakarta.
 

Regol Brajanala/Dokpri Agustina

Khusus Alat Musik Tiup  
 
Baik, baik. Mari mulai membincangkan Pentas Musikan Kamardikan yang sesungguhnya bernama resmi panjaaang, yaitu Pentas Musikan Kamardikan Ensembel Tiup Yogyakarta Royal Orchestra. Yang sesuai dengan namanya, repertoar-repertoar hanya dimainkan dengan ensembel tiup. 
 
Ensembel tiup itu terdiri atas apa saja? Hmm. Berhubung aku kurang paham nama-nama alat musik, silakan cermati saja dua skrinsyutan berikut. 
 
Capture YT Kraton Yogyakarta
Capture YT Kraton Yogyakarta
 
Luar biasa toh? Rupanya di dunia ini ada berbagai jenis alat musik tiup. Tentu dengan ukuran dan spesifikasi masing-masing. Sebab beragam itulah, sampai-sampai mencukupi untuk memainkan reportoar-repertoar. 
 
Ibaratnya begini. Kalau sekeluarga inti saja sudah mampu membereskan kerjaan, kenapa pula mesti mencari bantuan tetangga? 
 
Menggelorakan Lagi Semangat '45  
 
Yup! Tak lain dan tak bukan, Pentas Musikan Kamardikan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hut ke-77 RI. Waktu pelaksanaannya pun tepat pada tanggal 17 Agustus. Sore hari. Pukul 16.00 WIB sampai selesai (kurang lebih sampai jelang Magrib). 
 
Bersamaan dengan upacara penurunan bendera. Saat euforia penampilan Farel di Istana Negara masih fresh from the oven
 
Namun, janganlah kemudian membanding-bandingkan penampilan Farel dengan pasukan Ensembel Tiup Yogyakarta Royal Orchestra ini. Tenan. Pokoke ojo dibanding-bandingke karena toh keduanya beda genre. 
 
Kalau diperbandingkan tidak apple to apple, dong. Yang terpenting 'kan sama-sama menarik dan bisa menghibur masyarakat. Lagi pula, format acaranya 'kan memang berbeda. 
 
Akan tetapi, aku yakin kalau kedua pertunjukan tersebut sama-sama bertujuan membangkitkan kembali jiwa nasionalisme dan patriotisme. Untuk menggelorakan lagi semangat '45. Demi menggugah kesadaran bahwa NKRI wajib dipertahankan eksistensinya.  
 
Ada Brian Jikustik 
 
Pentas Musikan Kamardikan Ensembel Tiup Yogyakarta Royal Orchestra persembahan Kawedanan Kridhamardawa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat ini tak hanya menyuguhkan repertoar tanpa vokalis. Ada satu repertoar, yaitu Kebyar Kebyar, yang menampilkan Brian Jikustik sebagai vokalis. 
 
Iya, Brian. Brian yang vokalis baru Jikustik itu. Tahu Jikustik 'kan? Kalau belum tahu perihal band asal Jogja itu, silakan googling sajalah. 
 
Namun, kalau soal Brian aku punya informasi valid. Kalian tak perlu repot-repot berselancar di internet. Informasi terkait apakah? Ya jelas terkait fakta bahwa dia itu bagus dalam hal rupa dan suara. Muehehehe .... 
 
Repertoar, Tiket, Dresscode 
 
Ada 11 repertoar yang dimainkan dalam Pentas Musikan Kamardikan. Yang rupanya hampir semua repertoar yang dimainkan itu dimainkan pula 10 hari kemudian, dalam Konser Kamardikan. 
 
Kupikir-pikir, para pemusiknya juga demikian. Walaupun kurang tahu pasti, aku meyakini bahwa semua pemusik yang tampil pada 17 Agustus sore juga tampil pada 27 Agustus malam. 
 
Hmm. Mungkin kalian membatin, "Kalau begitu, pas nonton Konser Kamardikan 10 hari kemudian = nonton siaran ulang, dong?" 
 
O, tentu tidak. Repertoarnya memang sama, tetapi format penyajiannya berbeda. Yang satu berbentuk pentas ensembel tiup, yang satu lagi berbentuk konser. Lebih beragam alat musiknya, bahkan ada gamelan dan paduan suaranya juga. 
 
Pengaturan penontonnya pun tak sama. Pentas Musikan Kamardikan bebas dihadiri siapa saja, tanpa tiket/undangan, asalkan mengenakan dresscode merah putih. Alas kakinya bebas. 
 
Sementara dresscode untuk nonton Konser Kamardikan adalah batik atau pakaian semi formal. Alas kakinya tidak boleh berupa sandal. Yang boleh nonton pun hanya para pemegang tiket/undangan.
 

Dokpri/Agustina
Dokpri/Agustina


Tipe penontonnya juga beda. Kurasakan lebih agresif dan ekspresif yang Pentas Musikan Kamardikan. Lebih bersemangat dalam menyanyi, baik saat melantunkan Indonesia Raya sebagai pembuka acara maupun saat sukarela berdendang mengikuti alunan musik. 
 
Terlebih saat dikomando untuk bersama-sama menyanyikan Hari Merdeka sebagai penutup. Wow! Semua antusias. Termasuk aku. Termasuk dua menantu dan dua cucu balita Ngarsa Dalem (Sri Sultan HB X).
 

Para pewaris tahta/Dokpri Agustina

Mungkinkah karena waktunya sore, masih ada cahaya matahari? Atau, karena tanpa kursi sehingga penonton bebas duduk lesehan atau berdiri? Atau, karena dresscode merah putih menyebabkan semangat '45 membara dalam diri para pemakainya? 
 
Atau, karena Ngarsa Dalem tidak hadir sehingga para penonton merasa rileks? Hahaha! Entahlah.  
 
Penutup 
 
Itulah ceritaku tentang serunya Pentas Musikan Kamardikan yang diselenggarakan Kawedanan Kridhamardawa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Semoga bisa menambah wawasan kalian tentang Yogyakarta. O, ya. Untuk lebih memperkaya wawasan terkait, silakan baca juga tulisanku tempo hari.
 
 
 

Kamis, 15 September 2022

Konser Kamardikan di Kraton Yogyakarta

12 komentar
APA kabar Sobat PIKIRAN POSITIF? Semoga sehat dan senantiasa dimampukan-Nya untuk berpikiran positif. 

Ingat. BerPIKIRAN POSITIF-nya yang proporsional lho, ya. Bukan berpikiran positif yang tanpa pertimbangan alias toxic positivity.

Konser Kamardikan 

Baiklah. Sesuai dengan judul di atas, kali ini aku akan bercerita tentang KONSER KAMARDIKAN Yogyakarta Royal Orchestra yang aku tonton Agustus lalu. Sudah pasti sesuai dengan labelnya, konser tersebut diselenggarakan dalam rangka Agustusan.

FYI, kamardikan adalah bahasa Jawa yang berarti 'kemerdekaan'. Jadi, Konser Kamardikan = Konser Kemerdekaan. Yang berarti konser yang digelar dalam rangka memperingati HUT ke-77 RI.
 

Dokpri/Agustina


KONSER KAMARDIKAN Yogyakarta Royal Orchestra berlangsung pada Sabtu, 27 Agustus 2022. Rencananya dimulai pukul 19.00 WIB sampai selesai. Namun, kenyataannya berbeda. 

Meskipun jarum jam telah menunjukkan pukul 19.00 WIB, acara belum dimulai. Jam karet? Memang iya. Akan tetapi, jangan buru-buru suuzon ataupun ngomel-ngomel karenanya.

Mengapa? Karena ternyataaa keterlambatan itu tampaknya disengaja. Sengaja menunggu azan Isya beserta iqomatnya sekalian. 

Begitu iqomat dari masjid terdekat* berakhir, langsuuung gamelan pembuka dimainkan. Rangkaian konser pun dimulai. Keren 'kan yang mengatur acara?

Lokasi Konser

Yang menjadi panggung untuk Konser Kamardikan ini adalah Kagungan Dalem Regol Brajanala Karaton Ngayogyakarta. Itu lho, pintu gerbang yang menghadap ke selatan, yang berada di Plataran Keben. Yang kerap dipakai latar berfoto oleh para pengunjung kraton. 

Hmm. Jangan-jangan ada di antara kalian yang bahkan pernah berfoto di situ juga? Coba ingat-ingat barang sejenak sembari mencermati foto berikut.
 

Regol Brajanala/Dokpri Agustina


Repertoar dan Kolaborasi 

Ada 11 repertoar yang disajikan Yogyakarta Royal Orchestra (YRO). Repertoar pembuka adalah Gendhing Gati Mardika, yang dimainkan secara kolaborasi dengan Abdi Dalem Wiyaga Kawedanan Kridhamardawa. 

Selanjutnya YRO--berkolaborasi dengan Vocalista Harmonic Choir dari ISI Yogyakarta--memainkan Api Kemerdekaan, Dari Sabang Sampai Merauke, Pahlawan Merdeka, Syukur, dan Tekad

Kemudian YRO berkolaborasi dengan seorang solois saksofon yang sekaligus merupakan Abdi Dalem Musikan, yaitu M.J. Praptowaditro. Yang dimainkan Tanah Airku dan Sepasang Mata Bola. Serasa menonton Kenny G versi Jawa, deh.

Repertoar berikutnya Kebyar Kebyar. Untuk repertoar ini YRO berkolaborasi dengan dua vokalis. Keduanya adalah (1) Okky Kumala Sari, vokal alto, seorang vokalis band pop keroncong Remember Entertainment & (2) Daniel Christianto, vokal tenor, seorang solois vokal yang telah banyak tampil di konser orkestra dan opera berskala nasional maupun internasional. 

Yang paling seru tentu saat Hari Merdeka dimainkan dua kali. Semula YRO berkolaborasi dengan Vocalista Harmonic Choir. Setelahnya berkolaborasi dengan semua orang yang hadir di lokasi. 

Iya. Kami yang duduk di kursi penonton pun diminta berdiri untuk kemudian menyanyikan Hari Merdeka bersama-sama. Para undangan kehormatan dan tuan rumah, yaitu Sultan HB X dan Ratu Hemas, pun ikut bernyanyi.

Alhasil, malam itu kami dua kali menyanyi bersama. Sebelumnya 'kan telah menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Adapun sebagai penutup, YRO dan Abdi Dalem Wiyaga Kawedanan Kridhamardawa kembali berkolaborasi memainkan Gendhing Bubaran Arum-Arum.

Teriakan "Raos" 

Ada yang lucu dan sungguh mengesankan bagiku tatkala konser belum dimulai. Begini ceritanya. Di tengah keresahan sebab acara tak kunjung dimulai, tiba-tiba ada teriakan, "RAOS!"

Raos? Apa itu? Demikian batinku. Lalu, kulihat orang-orang segera berdiri. Spontan aku ikut berdiri, dong. 

O la la! Ternyata teriakan "raos" adalah aba-aba (pemberitahuan) bahwa raja telah tiba di TKP. Jadi, semua orang mesti berdiri untuk memberikan penghormatan. 

Entahlah makna sebenarnya apa, tetapi itulah kesimpulanku sebagai hasil observasi on the spot. Serta-merta aku pun teringat restoran Bale Raos.

Setelah Acara Usai

Setelah konser usai, penonton ramai-ramai menghambur ke panggung. Seperti biasalah, ya, untuk foto bersama para pemusik serta anggota paduan suara dan vokalis. Seperti biasa pula, aku dan kedua temanku pilih memotret mereka. Hahaha!
 

Para pemusik dan vokalis/Dokpri agustina
 

Serbuan penonton/Dokpri Agustina

Selain itu, memang ada hal lain yang menarik perhatian kami. Hal apakah? Ini, nih. Silakan lihat aktivitas kedua temanku dalam foto berikut. 

Yoiii. Kami tertarik untuk memotret buklet susunan acara Konser Kamardikan itu. Yang hanya diberikan kepada Sultan dan tamu-tamu VIP.
 

Dokpri/Agustina
Dokpri/Agustina


Pantang Pulang Sebelum Berswafoto

Meskipun tidak berminat gabung dengan para penonton lain yang berfoto ria di panggung bersama para pemusik dan penyanyi, aku dan kedua temanku tak lupa berswafoto. 

Demikianlah adanya tradisi kami. Maksudnya tradisi berswafoto sekian jepretan, tetapi yang hasilnya bagus cuma satu dua. Yup! Masih amat butuh banyak latihan rupanya. 

Yang penting, ingatlah prinsipnya. "Pantang pulang sebelum berswafoto". Walaupun mesti bolak-balik njepret gara-gara kami kurang piawai memainkan kamera depan, berswafoto is a must. Teteeeeuup.
 

Hasil berswafoto/Dokpri Agustina


O, ya. Sebelum kuakhiri tulisan ini, aku hendak pamer e-ticket yang kuterima dari pihak Karaton Ngayogyakarta. Silakan lihat foto di bawah.

Nomor seri tiketku YRO - 00277. Sementara kedua temanku menerima tiket yang nomor serinya jauh lebih kecil. Yang satu YRO - 00055. Yang satu lagi entah berapa. 

Untung tempat duduk bebas memilih. Tidak seperti menonton bioskop. Jadi, kami bisa duduk bersebelahan. Ini penting ya, bisa barengan begini. Mengapa? Karena di sela-sela konser, kami bisa sesekali sembari ghibah sejarah. Muehehehe ...
 

Dokpri/Agustina


O, iyaaa. E-ticket yang kumiliki ini, yang juga dimiliki kedua temanku tadi, merupakan tiket kelas rakyat jelata. Bukan tiket VIP. Meja resepsionisnya saja berlainan. 

Tentu kami ditolak pas hendak registrasi ulang di meja resepsi VIP. Hahaha! Ampuuun, deh. Siapa kami? 

Namun, walaupun undangan untuk kami berkasta rendah, yang penting tetap bisa nonton konser musik bareng sultan. Itungannya tetap lumayan keren dong, ah. Iya 'kan?

Catatan
*Masjid terdekat ini memang masih bagian dari Kraton Yogyakarta. Letaknya di luar area Plataran Keben. Tak jauh dari gerbang plataran tersebut. Insyaallah lain kali akan kutuliskan tentang masjid ini.


 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template