Jumat, 03 Februari 2023

Ketandan Yogyakarta Bukan Pecinan?

3 komentar
HALO Sobat PIKIRAN POSITIF? Aku mau memenuhi janji, nih. Janji untuk kembali menulis tentang Kampung Ketandan Yogyakarta. Kali ini aku hendak membahas hal-hal yang terkait dengan sebutannya sebagai Pecinan. 

Begini. Selama ini sebutanku terhadap Kampung Ketandan sama dengan orang-orang pada umumnya, yaitu Pecinan. Iya, Pecinan. Begitu saja. Tanpa ada embel-embelnya.

Akan tetapi, beberapa waktu lalu aku membaca sebuah hasil wawancara di portal berita daring. Temanya PBTY (Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta). Narasumbernya salah satu warga Kampung Ketandan. 

Si narasumber mengatakan bahwa Ketandan lebih cocok disebut Pecinan Peranakan. Alasannya, sudah tidak ada lagi orang Tionghoa (Cina) Totok di situ. Yang tersisa adalah orang Tionghoa Peranakan. 

O la la! Benar juga perkataannya. Sangat masuk akal. Secara logika memang begitu. Realitanya pun aku yakin begitu. 
 

Mural di sebuah toko di Ketandan (Dokpri Agustina)

Hari gini? Masih ada orang Tionghoa Totok? Rasanya sulit dipercaya. Faktanya, sejak awal berdiri pun Ketandan tidak dihuni oleh orang Tionghoa yang langsung datang dari daratan Tiongkok. 

Perlu diketahui bahwa Kampung Ketandan mulai eksis sejak didatangkannya orang-orang Tionghoa dari daerah pantura. Antara lain dari Jepara dan Surabaya. Ini terjadi semasa pemerintahan Sultan HB 1. Ketika Kota Yogyakarta, ibukota Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat baru berdiri.

Tentu orang-orang Tionghoa didatangkan ke Yogyakarta dengan tujuan tertentu. Lalu, apa tujuannya? Tak lain dan tak bukan untuk "menghidupkan" aktivitas perdagangan di Pasar Gedhe (kini bernama Pasar Beringharjo) yang baru dibangun. 

Saudara-saudara kita yang berdarah Tionghoa tersebut memang dikenal piawai berdagang. Itulah sebabnya mereka yang ditugasi menyemarakkan perdagangan di Yogyakarta, terkhusus di Pasar Gedhe.

Sampai di sini jelas ya, kalau para penghuni Kampung Ketandan generasi pertama tidak langsung datang dari daratan Tiongkok. Mereka didatangkan dari pesisir pantura. Itu pun kemungkinan besar sudah bukan Tionghoa Totok, melainkan sudah Tionghoa Peranakan. 

Kiranya itu bukan kesimpulan yang mengada-ada. Karena berdasarkan catatan sejarah yang telah dikaji para ahli, penduduk Nusantara mulai berinteraksi dengan orang-orang Tionghoa sejak 200 tahun SM


Salah satu spot berfoto favorit di Ketandan (Dokpri Agustina)

Kugarisbawahi, ya. Tercatat 200 tahun SM. SM = Sebelum Masehi. Berarti sudah lama sekali. Kata Mas Erwin dari JWT by Malamuseum tempo hari, itu sebelum Yesus Kristus hadir di Yerusalem. Berarti pula sebelum Rasulullah SAW lahir. Sudah lama sekali 'kan? Tatkala itu yang berkuasa di Cina adalah Dinasti Han.

Silakan baca juga:
JWT Istimewa Imlek 2023. 
 
 
 
Sebuah warung yamie di Ketandan (Dokpri Agustina)

Kalian yang beragama Islam tentu tak asing dengan kalimat penyemangat untuk belajar ini, "Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke Negeri Cina." 

Terlepas dari perdebatan apakah kalimat nasihat itu merupakan hadis atau bukan, yang jelas Negeri Cina disebut-sebut. Berarti orang-orang di Jazirah Arab telah familiar dengan Negeri Cina walaupun lokasinya sangat jauh dari negeri mereka. 

Tentu saja hal tersebut akan menjadi sebuah tulisan tersendiri kalau mau dibahas lebih detil. Dengan demikian, ruang lingkup pembahasannya bukan di tulisan ini. 

Sekarang mari kembali ke Ketandan. Jadi, bila mengingat proses panjang kehadiran orang-orang Tionghoa di Indonesia (Nusantara), aku cenderung setuju kalau Ketandan lebih tepat disebut sebagai Pecinan Peranakan. 

Tan Jin Sing* saja sudah Peranakan. Terlebih bila menilik para penghuni Ketandan terkini. Logikanya tentu makin Peranakan, dong. Makin terakulturasi.

Jelas mereka mayoritas lebih bisa berbahasa Jawa daripada berbahasa Mandarin. Jangan-jangan malah tak ada yang bisa berbahasa Mandarin sama sekali.

Kuperhatikan kalau bertemu orang dari luar Jawa, walaupun sesama Tionghoa Peranakan, dalam berkomunikasi tetaplah mempergunakan bahasa Indonesia. Bukan bahasa Cina. 

Ketandan ini dekat dengan Malioboro, dekat pula dengan tempat tinggalku saat ini. Dengan demikian, aku cukup bisa mengamati bahwa akulturasi itu nyata adanya. 'Kan aku lumayan sering ke situ. 

Pernah pula satu kegiatan PKK dengan warga Ketandan di kelurahan. Kampungku dan Kampung Ketandan memang sama-sama tergabung di Kelurahan Ngupasan. Lurah kami sama.

Akulturasinya pun dalam banyak hal. Bersifat fisik dan nonfisik. Secara fisik kita bisa melihat adanya akulturasi  pada model bangunan yang ada di Ketandan. Silakan cermati foto-foto yang tersebar di tulisan ini. Ada yang terlihat Jawa banget, ada yang bernuansa Tionghoa. Sentuhan Belanda (Eropa)-nya juga ada.


Toko roti legendaris (Dokpri Agustina)

 
Dua bangunan toko yang serupa (Dokpri Agustina)

Mungkin kalian bertanya-tanya. Sejak tadi kusebut-sebut adanya Tionghoa atau Cina Totok dan Peranakan. Apa artinya? Baiklah. Meskipun artinya sudah tersirat dari penjelasan-penjelasan di atas,  akan kusuratkan saja supaya kian jelas. 

Begini. Tionghoa (Cina) Totok adalah sebutan untuk WNI etnis Tionghoa yang kedua orang tuanya asli dari Tiongkok. Sementara Tionghoa Peranakan (atau biasa disebut Peranakan saja) berdarah campuran. Salah satu dari kedua orang tuanya penduduk lokal (penduduk Nusantara).

Sekarang kalian kian mengerti 'kan? Pastinya tambah paham juga, mengapa aku cenderung setuju kalau Kampung Ketandan Yogyakarta disebut Pecinan Peranakan. 
 
 
Sebetulnya ini sebuah toko bahan bangunan (Dokpri/Agustina)

Demikian ceritaku seputar sebutan Pecinan untuk Kampung Ketandan yang berlokasi di utara Pasar Beringharjo Kota Yogyakarta. Semoga ada manfaatnya. Minimal dapat menghibur.

Ternyata membahas ketepatan penyebutan saja bisa sepanjang ini, ya? Hahaha! Namun, wajarlah bila mengingat bahwa semua memang butuh penjelasan sejarah.

Ingat. Sejarah nyaris tak pernah pendek, bahkan mungkin benar-benar tak pernah pendek. Termasuk sejarah Ketandan yang dikenal sebagai salah satu Pecinan (Peranakan) di Yogyakarta. 

*Tunggu tulisan sekuel tentang Tan Jin Sing





Jumat, 27 Januari 2023

JWT Istimewa Imlek 2023

4 komentar
Apa kabar Sobat PIKIRAN POSITIF? Tahun baru Imlek 2023 telah berjalan sekian hari, nih. Kalian punya cerita Imlek atau tidak?  Tenang saja kalau tidak punya. Silakan baca ceritaku ini saja. Hehehe .... 


Ceritaku memang bukan cerita tentang perayaan Imlek di kelenteng bersama keluarga, melainkan tentang jalan-jalan istimewa. 

Waktunya istimewa, yaitu bertepatan dengan Imlek 2023. Pada tanggal 22 Januari, pas dimulainya Tahun Kelinci Air. 

Nah. Waktu yang istimewa itu dipadukan dengan rute tematik yang istimewa, yaitu Kampung Ketandan. Adapun kampung tersebut termasuk ke dalam wilayah Kelurahan Ngupasan Kemantren Gondomanan Kota Yogyakarta. 

Lokasi Kampung Ketandan di utara Pasar Beringharjo. Kalian mudah mencapainya kalau dari Jalan Malioboro. Tinggal masuk gang di sebelah toko Ramayana. Yang gapuranya unik dan megah ini, nih.


Dokpri Agustina


Pokoknya masuk saja ke gang itu, lalu susuri saja sampai ke ujung-ujungnya. Cermati pula bentuk bangunan-bangunan yang ada di situ. Niscaya kalian akan menemukan banyak spot instagramable. Terkhusus yang berbau oriental. 

O, ya. Teman jalan-jalanku tempo hari juga tak kalah istimewa, yaitu "jamaah" JWT (Jogja Walking Tour) by Malamuseum. 


Dokpri Agustina


Asal tahu saja, nih. Yang berminat jalan-jalan bersama JWT by Malamuseum selalu banyak sekali. Aku saja kerap tertolak batas kuota peserta. Jadi kalau bisa terangkut sebagai peserta jalan-jalan, sungguh senang rasanya. Serasa jadi orang yang istimewa. Hahaha!


Dokpri Agustina


Mas Erwin, story teller andalan JWT by Malamuseum, sekaligus bertindak sebagai pemimpin rombongan. Untuk mengawali jalan-jalan, ia memberikan brainstorming tentang sejarah keberadaan orang Tionghoa di Indonesia (Nusantara). Tujuannya agar kami nanti "nyambung", ketika dijelaskan A-Z di Kampung Ketandan. 

Jangan lupa. Rute pilihan JWT saat Imlek 2023 adalah Kampung Ketandan. Salah satu dari kompleks Pecinan yang ada di Yogyakarta.  


Dokpri Agustina


Dahulu kawasan Ketandan memang menjadi pusat aktivitas bisnis dan kediaman warga Tionghoa. Mereka tinggal di bangunan-bangunan yang berfungsi sebagai toko sekaligus rumah (ruko = rumah toko). 

Walaupun sekarang sebagian besar ruko telah menjelma sebagai toko saja, jejak bangunan ala ruko masih bisa dilihat jelas. Bagian bawah untuk toko, bagian atas untuk tempat tinggal.


Dokpri Agustina


Lalu, di manakah warga Ketandan kini tinggal? Tentu saja menyebar ke mana-mana di seantero Yogyakarta. Sesuai dengan kemauan dan kemampuan finansial masing-masing. 

Ngomong-ngomong dalam tulisan lamaku di blog ini juga, kusebutkan tentang adanya rencana untuk melestarikan dan memugar bangunan-bangunan kuno di Ketandan. Kini setelah sekian tahun berlalu, rencana itu mulai tampak mewujud nyata. 

Salah satunya bangunan yang terlihat pada foto di bawah itu. Dahulu, bangunan yang berada di belakang orang-orang itu, tak sebagus sekarang. Kini dipugar setelah dibeli oleh Pemda DIY melalui Dinas Kebudayaannya. 


Dokpri Agustina

Dokpri Agustina


Perlu diketahui bahwa bangunan tersebut dahulu merupakan rumah Tan Jin Sing. Ia adalah keturunan Tionghoa pertama yang diangkat sebagai bupati Yogyakarta. *Insyaallah akan kudetilkan kisah tentang Tan Jin Sing di tulisan selanjutnya.*

Ngomong-ngomong, lihatlah tulisan yang tersemat pada bagian depan (bekas) rumah Tan Jin Sing itu. Persis di bawah atap teritisan ada papan nama bertulisan COSMOLOGICAL AXIS INFORMATION CENTER. Pusat Informasi Sumbu Filosofi. 

Apakah itu berarti bahwa kantor BPKSF (Balai Pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofi) di situ? Kalau iya, berarti dalam satu bangunan ada dua fungsi. Dugaanku ini berdasarkan pada informasi yang kuterima kurang lebih lima tahun lalu.  

Tatkala itu rumah Tan Jin Sing direncanakan menjadi Living Museum bertema kehidupan orang Tionghoa peranakan. Bahkan pada momentum PBTY, Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta, masyarakat umum telah boleh mengunjunginya. 

Hmm. Semoga sih, berfungsi ganda. Bukan malah meniadakan fungsi sebelumnya.

Selain rumah Tan Jin Sing, ada pula bangunan ruko yang menerima bantuan untuk pemugaran. Misalnya Toko Anton (sebuah toko kelontong). Terakhir kulihat masih kusam, tempo hari sudah tampak kembali kinclong. Dalam foto berikut ini tampak Mas Erwin sedang berdiri di antara pintu toko dan pintu untuk mengakses ruangan yang dipergunakan sebagai tempat tinggal. 


Dokpri Agustina


Seperti biasa, jalan-jalan bersama JWT by Malamuseum selalu menggoreskan kesan istimewa. Di mana letak istimewanya? Letaknya di pikiran yang jadi lebih terbuka. Kali ini sehubungan dengan rute yang ditempuh, yaitu Kampung Ketandan yang merupakan Pecinan, kami diajak membenci orang-orang Tionghoa secara kaaffah kalau tidak mau menghapus sentimen negatif terhadap mereka. 

Artinya, kalau memang membenci mereka ya jangan sampai mempergunakan apa pun yang ada kaitannya dengan mereka. Misalnya enggak usah makan bakpia, enggak usah makan bakso, bahkan enggak usah membubuhkan kecap setetes pun ke masakan/makanan. Muehehehe .... 

Untuk kaaffah memang beraaat. Itulah sebabnya aku memilih untuk tidak membenci. Tentu bukan semata-mata supaya leluasa makan bakso dan bakpia. Lalu, kenapa? Karena aku sadar bahwa aku tidak hidup di masa kolonial Belanda. Yang melakukan pendikotomian rasisme 'kan orang-orang zaman itu.

Alhasil, selepas jalan-jalan para peserta tak cuma membawa lelah dan foto-foto narsis di galeri HP ketika pulang. Inilah yang membedakan JWT by Malamuseum dari JWT lainnya. Kiranya inilah penyebab JWT by Malamuseum menjadi candu bagi kami, orang-orang yang kepo dengan masa lalu suatu tempat. 


Dokpri Artha


Demikianlah cerita Imlek 2023 yang kurangkai bersama "jamaah" JWT (Jogja Walking Tour) by Malamuseum. Beneran istimewa 'kan? Semoga bisa membahagiakan kalian dan ada faedahnya. Tunggu tulisan-tulisan sekuelnya, ya.







Sabtu, 07 Januari 2023

Nicholas Saputra dan Cerita PPKM

2 komentar

APA kabar Sobat PIKIRAN POSITIF? Sedang sehat lahir batin 'kan? O, ya. Bagaimana perasaan kalian setelah berpisah dengan PPKM? Sangat senang atau biasa saja? 

Dokpri Agustina

Seperti kita ketahui bersama, Presiden Joko Widodo secara resmi telah mencabut Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di seluruh Indonesia pada tanggal 30 Desember 2022 lalu. 

Nah. Berarti kita sudah bebas bepergian. Bebas menyelenggarakan aktivitas yang melibatkan banyak orang. Tidak lagi terkungkung PPKM.

Namun, tentunya (idealnya) tetap taat prokes. Antara lain sudah melakukan vaksinasi dan lebih baik tetap pakai masker bilamana berada dalam situasi kerumunan. 

Sebagai antisipasi, siapa tahu ada di antara mereka yang sakit. Mungkin batuk? Mungkin pilek? Atau, malah positif Covid? Jangan salah. Hingga sekarang si Covid-19 masih ada, lho.

Atau sebaliknya, justru kita sendiri yang sedang batuk-batuk dan pilek? Sehingga berpotensi menulari orang-orang lain? Nah. Foto di atas menunjukkan bahwa orang-orang yang agak flu taat prokes dengan bermasker.

Intinya begini. Walaupun telah resmi bilang bye bye dengan PPKM, gaya hidup sehat dan taat prokes tak boleh kita tinggalkan. Tidak ada ruginya kok mempertahankan gaya hidup sehat dan selalu taat prokes.

Ngomong-ngomong, PPKM tempo hari memang membuat bete. Meskipun bukan tipe orang yang hobi sekali bepergian, aku sempat agak jenuh juga ketika ada kebijakan #dirumahsaja. 

Untunglah di masa-masa itu ada Nicholas Saputra yang menjadi penyelamat. Whaaat? Kok bisa? Bisa, dong. Begini ceritanya. 

...

Tatkala itu November 2021. Saat PPKM masih berlangsung. Kegiatan keluar rumah baru diizinkan tipis-tipis. Termasuk kegiatan #kembalikebioskop. 

Langit sore Yogyakarta yang biasanya kelabu plus disusul curahan hujan, Alhamdulillah cerah. Secerah hati kami yang hendak menjemput peruntungan bisa melihat langsung sosok Nicholas Saputra.

Ada kejadian kecil yang menarik saat aku dan "adik" baru saja masuk taksi daring. Setelah menyambut dengan sopan, si bapak sopir bertanya, "Filmnya apa sih, Mbak? Sudah dua kali lho, saya nganter penumpang ke XXI. Cewek semua. Lalu, sekarang nganterin Mbak."

Otomatis aku nyengir lebar di balik masker, lalu menjawab, "Paranoia, Pak. Bintangnya Nicholas Saputra. Konon, ia nanti bakalan hadir. Pasti yang Bapak anterin tadi penggemar beratnya. Sudah berangkat awal banget."

"Ooo. Ada semacam gathering-nya, ya?" Saya mengiyakan saja dan curiga kalau si bapak sebenarnya tak paham Nicholas Saputra. Hahaha!

Sesampai di XXI saya dan "adik" berusaha bergabung dengan Kak Mesha dan Kak Dian (dua kawan seperhaluan terkait Nicholas Saputra). 

Akan tetapi, aku nyaris gagal bergabung gara-gara HP-ku enggak kunjung bisa membuka Aplikasi Peduli Lindungi. Sementara setelah cek ricek suhu tubuh, ada pemeriksaan sudah vaksin atau belum. 

Apesnya, kok ya kartu vaksinku tak kubawa. Bikin cemas saja. Aku sungguh tak ikhlas kalau gagal berjumpa dengan Nicholas Saputra hanya karena tak bisa membuka Aplikasi Peduli Lindungi. Tepat di titik itulah aku benci banget pada coronavirus.

Syukurlah bapak penjaga tiket baik hati sekali. Dipanggilnya aku dengan lambaian tangan, lalu dengan bahasa isyarat disuruhnya aku masuk lewat celah sempit di belakangnya. Menyusul teman-teman yang sudah menungguku di dalam.

"Sudah, cepat masuk sana. Beneran sudah vaksin toh?"

"Iya, beneran."

Huft! Alhamdulillah. Terima kasiiih, Paaak.

Singkat cerita, aku pun sukses refresing dari kejemuan akibat Covid-19 dan PPKM dengan menonton Nicholas Saputra, baik secara langsung maupun dalam layar lebar. 

Berdasarkan satu kisah di atas, sejujurnya aku termasuk orang yang hepi sekali sebab berpisah dengan PPKM. Kiranya itu sebuah perpisahan yang menyenangkan. 

Sungguh jera aku menghadapi kejadian kayak di bioskop, saat mau jumpa fans dengan Nicholas Saputra itu. Syukurlah tiada lagi PPKM. Syukurlah Nicholas Saputra dengan segala misterinya masih ada. Muehehe ....

Dokpri Agusina

Bye, bye. Sayonara PPKM beserta segala kenangan manis di dalamnya. 




Rabu, 21 Desember 2022

Kencan Cerdas dengan MPR RI

2 komentar
HALO, Sobat PIKIRAN POSITIF. Tetap semangat dan sehat selalu, ya. Kalau sehat 'kan bisa ikut memberikan sumbangsih bagi Indonesia kita tercinta. Enggak perlu jauh-jauh, deh. Misalnya yang kulakukan tempo hari, saat kencan cerdas dengan MPR RI. 

Andai kata tidak dalam kondisi sehat, aku tentu tak bisa berangkat ke Hotel Porta by Ambarukmo untuk kencan cerdas dengan MPR RI. Jika tidak bersemangat, sesehat apa pun aku pasti tidak mau pula berangkat ke acara tersebut. Tidak bisa ketemu kawan-kawan sesama blogger - netizen.

Nah, lihatlah! Semangat dan sehat memang dua hal yang harus bersinergi, ya.

Semangat tanpa didukung kesehatan, jatuh-jatuhnya mentok sebagai orasi belaka. Sementara kondisi sehat yang tidak dilengkapi semangat, ujungnya mager. MAlas GERak. 

Yuk, ah! Semangat, semangat. Sehat, sehat. Demi Indonesia yang lebih maju. Minimal biar bisa pepotoan dengan ceria barengan teman dan tas MPR RI seperti ini. Hihihi ....
 

Dokpri/Agustina


O, ya. Tentu saja sehatnya sehat lahir dan batin, ya. Fisiknya sehat. Psikisnya juga sehat. Ingat, ingat! Negara ini bakal kewalahan kalau punya banyak warga yang tak utuh kategori sehatnya.

Jalannya Acara 

Mungkin kalian bertanya-tanya, apa saja yang kulakukan selama kencan cerdas dengan MPR RI? Sudah pasti bersilaturahmi dengan kawan-kawan dan MPR RI, dong. Adapun dalam kesempatan ini, MPR RI diwakili oleh Ibu Siti Fauziah dan Bapak Muhammad Jaya.
 

Dokpri/Agustina


Acara berlangsung sejak pukul 12.00 WIB - 15.30. Diawali dengan registrasi ulang peserta, makan siang bersama, dan ramah tamah. 

Format acara awal yang santai dan interaktif ini mempererat rasa persaudaraan di antara kami, para narablog (blogger) - warganet (netizen). Plus kenalan tipis-tipis dengan sebagian tim tuan rumah (staf MPR RI).

Ketika jarum jam menunjukkan pukul 13.00 WIB, acara inti segera dimulai. Untuk mengawalinya, kami bersama-sama menyanyikan "Indonesia Raya". Tentu sambil berdiri tegap. Ini lagu kebangsaan kita, lho.
 

Dokpri/Agustina


Selanjutnya Ibu Siti Fauziah S. E., M. M., Plt. Deputi Administrasi sekaligus Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Sistem Informasi MPR RI, langsung menyapa peserta berikut menyampaikan keynote speech.

Terusterang saja aku beberapa kali terhenyak saat menyimak materi yang disampaikan oleh Ibu Siti Fauziah. Mendadak merasa jadi WNI yang kurang baik dan benar. 

Yeah, mau baik dan benar dari mana? Empat Pilar MPR RI saja aku tidak tahu. Baru tahu saat Ibu Siti Fauziah menjelaskannya. 

Bahkan, aku juga tidak tahu kalau ternyata ada perubahan nama UUD 1945. Sekarang namanya lebih panjang, yaitu UUD NRI Tahun 1945 (silakan cermati foto di bawah ini).  
 

Dokpri/Agustina



Ternyata, oh, rupanya. Setelah beberapa kali mengalami amandemen, namanya diubah menjadi lebih panjang. Oalaaah. Kukira amandemen-amandemen yang terjadi tak berpengaruh pada namanya.

Ngomong-ngomong, ada satu hal penting lagi yang baru kutahu dari kencan cerdas dengan MPR RI. Itu lho, terkait dengan statusnya bahwa sekarang MPR RI bukan lagi lembaga tertinggi, melainkan salah satu saja dari lembaga tinggi negara. 

Hadeeeh. Ke mana saja engkau selama ini, wahai diriku sendiri? Separah inikah keteledoranmu sebagai anak bangsa? *tutup muka* 

Oleh sebab itu, aku amat bersyukur diundang ke NETIZEN GATHERING pada 17 Desember 2022 lalu. Betul-betul menambah wawasanku tentang MPR RI terkini.
 

Dokpri/Agustina


Setelah sesi Ibu Siti Fauziah, kemudian ada tambahan materi dari Bapak Muhammad Jaya S. IP., M. SI., Plt. Kepala Biro Sumberdaya Manusia. Materinya terkait peran Humas dalam publikasi kegiatan MPR RI.

Waaainiii. Peran Humas! Jangan-jangan selama ini Humas MPR RI belum punya akun medsos, misalnya Instagram? O la la! Ternyata sudah ada @mprgoid .... 

Hmm. Kok sampai aku enggak tahu, ya? Sementara aku cukup aktif di Instagram. Mengapa tak pernah melihat postingan akun MPR RI sama sekali?

Usut punya usut, aku memang belum jadi pengikutnya. Namun, tenang saja. Sekarang sudah, kok. Tatkala itu langsung klik follow begitu tahu informasinya.

Semula kusangka kalau akun Instagram MPR RI belum lama dibuat. Atau, jarang posting sehingga jarang ada warganet (netizen) yang menemukannya. Faktanya? Kedua sangkaanku itu salah semua.

Ternyata akun Instagram MPR RI tidak baru-baru amat. Tidak pula jarang posting. Hanya saja, jumlah komentatornya memang sedikit. Timpang dengan jumlah pengikutnya.

Sepertinya karena postingan MPR RI terlalu serius. Formal gaya bahasanya. Caption panjang-panjang. Tidak melibatkan emosi pembaca. Foto yang diunggah kurang menarik. 

Pendek kata, gaya penyajian kontennya kurang kekinian. Jadinya kurang bisa memancing jari-jari warganet untuk meninggalkan jejak. 

Pihak MPR RI rupanya menyadari hal tersebut. Oleh karena itu, para narablog selaku warganet aktif diundang dalam rangka memberikan masukan. Gerangan apa penyebab kurang populernya akun @mprgoid ?

Yup! Sesi terakhir dari kencan cerdas tempo hari adalah penyampaian kritik dan saran dari masing-masing peserta. Maksudnya kritik dan saran terkait konten media sosial MPR RI. Dalam hal ini akun Instagram.

Sesi terakhir ini bikin aku degdegan. Tiap orang wajib memberikan masukan. Sementara aku merasa tidak percaya diri. Khawatir masukanku "ajaib" dan terlampau retjeh dari sudut pandang MPR RI.

Wuih, usulan konten dari kawan-kawanku keren-keren. Bernas semua. Ada yang menyoroti gaya berbahasanya, sisi fotografinya, format postingannya, dan lain-lain hal terkait teknis apalah-apalah yang berpotensi meningkatkan engangement.

Hingga tibalah giliranku. Simpel saja masukanku. Sesuai jiwaku. Aku hanya mengusulkan, "Gimana kalau bikin figur atau sosok semacam si kocheng oyen yang legendaris, kayak di akun Presiden Jokowi? Kucing itu selalu ditunggu-tunggu warganet dengan antusias."

Alhamdulillah usulanku ternyata malah bikin heran Pak Jaya. Muehehehe .... Beliau malah mengira kalau si oyen itu bisa tenar karena merupakan kucing milik Pak Jokowi.

Nah. Mendengar perkataan beliau gantian aku yang heran. Kukira semua orang paham tentang kocheng oyen yang legendaris sebab hobi ngereognya. Ternyata enggak. 

Penutup

Singkat cerita, aku sangat antusias dengan acara yang bertajuk "NETIZEN GATHERING Peran Media Sosial dalam Publikasi Kegiatan MPR RI" ini. Pastinya bisa mencerahkan wawasanku banget. Seru!

Plus memantik tekadku untuk lebih sering menengok akun Instagram MPR RI. Selain untuk tahu informasi terkininya, sekalian untuk cek ricek progres penyuguhan kontennya. Siapa tahu sudah ada kolega si kocheng oyen juga di situ?
 

Dokpri/Agustina




 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template