Sabtu, 24 Oktober 2020

Asyiknya Nyetatus di Layar HP

31 komentar

 Apa kabar Sobat PIKIRAN POSITIF? 

Semoga masih senantiasa sehat dan bahagia. Apalagi saat akhir pekan. Wajib bahagia, dong. Ngomong-ngomong, akhir pekan ini kalian berencana melakukan apa? Jalan-jalan di tepian sawah atau melakukan penyemprotan disinfektan? Hehehe ....  

Baiklah. Apa pun bentuk kegiatan pilihan kalian di akhir pekan, pastikan saja kategorinya positif. Dalam arti, tidak melanggar hukum dan norma. Apalagi hukum dan norma agama. *Mulai serius*

Mungkin kalian kepo, aku sendiri melakukan apa? Hmmm. Tenanglah. Tak perlu kepo. Melalui tulisan ini aku hendak blak-balakan mengenai aktivitas akhir pekanku, kok. 

Jadi rencanaku adalah ... mengutak-atik status di layar HP. Hayolooo. HP kalian bisa seperti ini juga atau tidak? *Silakan cermati tulisan yang ada di SS-an layar HP-ku ini* 










Nah. Sungguh bikin hepi 'kan kalau layar HP kita bisa untuk mengungkapkan perasaan seperti itu? Rasanya melegakan dan tidak monoton. Hihihi .... 

Sudah, ah. Sekian saja tulisan ini. Alhamdulillah bisa menyampaikan informasi (((maha penting))) kepada kalian. 

Siapa tahu sebelum membaca tulisan ini, kalian sedang bingung dengan kondisi layar HP yang tiba-tiba menampakkan tampilan seperti foto pertama. Kemudian seusai membaca tulisan ringanku ini, menjadi tercerahkan. 

MORAL CERITA: 

Isilah akhir pekan dengan ceria dan bahagia!




 

    

Selasa, 13 Oktober 2020

Aku Warga Kemantren Wirobrajan

18 komentar
HALO Sobat Pikiran Positif .... 
 
Tak terasa 2020 sudah nyaris berakhir, ya? Rasanya baru berjalan dua bulan, eh, tahu-tahu kok telah sampai pada medio Oktober. Ya Allah, cepaaat sekali masa berjalan. Resolusi tahun baru kalian telah tercapai berapa persen? Jangan bilang kalau baru tercapai nol persen, ya. Macam daku saja. Bhahahaha!
 
Sudah, sudah. Tak usah baper. Toh kali ini daku tak hendak menyoal resolusi-resolusian tersebut. Percayalah. Kali ini diriku cuma ingin  berbagi kabar yang mungkin belum kalian ketahui. Terlebih kalian yang bukan penduduk DIY. 
 
Kabar apa, sih? Tak lain dan tak bukan, kabar mengenai perubahan pada penyebutan kecamatan dan desa. Yang dimulainya pada tahun 2020 ini.
 
Untuk wilayah Kodya Yogyakarta, kini kecamatan disebut kemantren. Sementara untuk empat wilayah kabupaten yang ada di DIY, kini kecamatan disebut kapanewon. Adapun camatnya sekarang sama-sama disebut panewu.  
 
Jadi, kini alamat domisiliku sesuai KTP adalah Kemantren Wirobrajan. Sementara de facto, aku bertempat tinggal di Kemantren Kraton. Yup! Sama-sama kemantren sebab masih sama-sama di wilayah Kodya Yogyakarta. 
 
Andai kata aku pindah ke wilayah Kabupaten Sleman, jadinya ya bertempat tinggal di Kapanewon X atau Kapanewon Y. Demikian pula bila berpindah ke wilayah Kabupaten Bantul, Kulonprogo, atau Gunungkidul. Akan tetapi, di mana pun berpindah bakalan dipimpin oleh seorang panewu. 
 
Yoiii. Beda istilah untuk penyebutan wilayah, tetapi sama istilah untuk penyebutan penguasa wilayahnya. Sampai di sini, kalian paham dengan penjelasanku 'kan? Semoga. Namun supaya lebih jelas, silakan cermati juga foto berikut. 




Mengapa Berubah? 
 
Kalian mungkin bertanya-tanya, "Mengapa berubah?" Baik. Langsung saja kujawab, "Sebab penamaan tersebut disesuaikan dengan fungsi sejarahnya dan terkait dengan keistimewaan DIY. 
 
Dasar Hukumnya 
 
Tentu saja perubahan penyebutan itu tidak dilakukan asal-asalan. Ada dasar hukumnya, dong. Yup! Perubahan nomenklatur kelembagaan, kecamatan, dan kelurahan terkait keistimewaan DIY itu merupakan tindak lanjut dari Pergub DIY Nomor 25 Tahun 2019. 
 
Apakah Tidak Bikin Ribet? 
 
Mungkin kalian berpikir bahwa perubahan nama kelembagaan tersebut bikin ribet. Perlu penyesuaian banyak hal di sana-sini. Perlu bla-bla-bla. Hmm. Tenanglah dulu. Perubahan hanya terkait dengan nama, kok. Tidak sampai berpengaruh pada fungsi kecamatan dan desa. 
 
Pokoknya semua berjalan sebagaimana biasa. Penyebutannya belaka yang berubah. Ibarat Agustina yang berganti panggilan menjadi Raisa. Adapun keahliannya ya teteeeup. Agustina tetap blogger, Raisa tetap penyanyi. Bhahahahaha! 
 
Lurah dan Carik 
 
Di atas telah dijelaskan bahwa kecamatan berubah menjadi kemantren dan kapanewon. Demikian pula camat yang  kini disapa panewu. Lalu, bagaimana halnya dengan kepala desa dan sekretaris desa? Adakah perubahan sebutan untuk keduanya?
 
Untuk wilayah kapanewon, kepala desa dan sekretaris desa berubah penyebutan. Kepala desa menjadi lurah, sementara sekretaris desa menjadi carik.  Adapun untuk wilayahnya, yang semula disebut desa menjadi disebut kalurahan. Sementara kelurahan yang berada di wilayah Kodya Yogyakarta tidak berganti nama. Tetap disebut kelurahan (pakai e). 
 
Jadi sebagai pemilik KTP DIY terkhusus sebagai warga Kodya Yogyakarta, diriku kini punya panewu. Tak lagi punya camat. Sampai di sini, kalian sudah paham 'kan? Semoga.

Salam istimewa dari Yogyakarta yang istimewa. Dagh .... 




 
Bagaimana dengan papan namanya? Apakah telah diganti semua di tiap wilayah? Sejujurnya aku tak tahu. Hahahaha! Bagaimanapun pandemi covid-19 menyebabkanku tak leluasa ngider ke sana-sini. Maka wajar 'kan ya kalau diriku sungguh tak mampu menjawabnya? *Cari aleAdapun perubahan nomenklatur di Kecamatan Desa DIY secara lengkap adalah: Kapanewon adalah Penyebutan nama Kecamatan di tingkat Kabupaten Kemantren merupakan penyebutan Kecamatan di Kota Yogyakarta Panewu adalah penyebutan bagi Camat Kalurahan adalah penyebutan bagi Desa Lurah adalah penyebutan bagi Kepala Desa Carik adalah penyebutan bagi Sekretaris Desa Kelurahan yang berada di Kota Yogyakarta tidak berganti nama

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Saat Kecamatan di DIY Disebut dengan Kapanewon di 2020...", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/tren/read/2019/12/01/204600465/saat-kecamatan-di-diy-disebut-dengan-kapanewon-di-2020?page=2.
Penulis : Nur Rohmi Aida
Editor : Sari Hardiyanto

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L
Adapun perubahan nomenklatur di Kecamatan Desa DIY secara lengkap adalah: Kapanewon adalah Penyebutan nama Kecamatan di tingkat Kabupaten Kemantren merupakan penyebutan Kecamatan di Kota Yogyakarta Panewu adalah penyebutan bagi Camat Kalurahan adalah penyebutan bagi Desa Lurah adalah penyebutan bagi Kepala Desa Carik adalah penyebutan bagi Sekretaris Desa Kelurahan yang berada di Kota Yogyakarta tidak berganti nama

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Saat Kecamatan di DIY Disebut dengan Kapanewon di 2020...", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/tren/read/2019/12/01/204600465/saat-kecamatan-di-diy-disebut-dengan-kapanewon-di-2020?page=2.
Penulis : Nur Rohmi Aida
Editor : Sari Hardiyanto

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L

Kamis, 08 Oktober 2020

Mangut Iwak Pe KEN'S SRAWUNG

22 komentar
PANDEMI covid-19 masih berlangsung. Sobat PIKIRAN POSITIF masih sehat-sehat 'kan? Semoga. Pokoknya jangan pernah lelah untuk berpikiran positif. Demi menjaga imunitas tubuh dan pikiran. 

Sebagaimana kita ketahui dan rasakan bersama, pandemi covid-19 sungguh mendinamiskan kehidupan kita. Dalam bidang apa pun. Terlebih dalam bidang perekonomian. Enggak peduli bisnis skala besar ataupun kecil, semua terdinamiskan (baca: terdampak). 

PANDEMI covid-19 memang menumbangkan banyak usaha. Itu fakta. Namun kalau dikulik dengan teliti, ternyata juga menumbuhkan bibit usaha baru. Salah satu contohnya adalah KEN'S SRAWUNG.

KEN'S SRAWUNG yang berlokasi di seberang Pasar Ngasem (tepat di timur pertigaan) merupakan sebuah usaha kuliner yang dibuka pasca Lebaran 2020. Berbagai menu makanan berat, camilan, dan minuman tersedia di situ. Namun, signature-nya adalah paket mangut.  

Nah. lho. Apakah kalian penyuka mangut? Kalau iya, pastilah langsung menetes air liur melihat foto berikut. Muehehehe .... 





Di atas itu merupakan foto Mangut Iwak Pe (ikan pari yang diasapi) yang kupilih tempo hari. Sebagaimana penampakannya yang menggiurkan, citarasanya memang oke punya. Nendang. Kuah santannya segar pedas dan kekentalannya pas. 

Bagaimana harganya? Tak usah khawatir. Harganya pun pas. Seporsi begitu plus nasi hanya dibanderol belasan ribu (under 15 K). Jadi kalau cuma ada duit dua puluh ribu di saku, tetap bisa makan sembari kongkow di KEN'S SRAWUNG. 

Enggak minum, dong? Siapa bilang? Dengan uang sejumlah itu, kalian bisa tetap bergaya memesan Sereje (Sere Jahe) gula batu. Yang penyajiannya tidak langsung di gelas, tetapi di teko blirik. Asyik 'kan? Sudahlah minim bujet, masih pula teko bliriknya jepretable. Hahaha!






Selain bisa makan di tempat atau beli dibungkus, aneka menu KEN'S SRAWUNG dapat dipesan melalui Go Food dan Grab Food. Silakan tengok saja bila kalian punya aplikasinya. Namun saranku, jauh lebih bagus kalau kalian langsung datang ke lokasi. 

Mengapa? Sebab selain menikmati makanannya, kalau makan di tempat kalian bisa sembari nongki-nongki. Meskipun kecil, warungnya bersih dan nyaman. Bangunan dan perabotnya pun lumayan bernuansa kekunoan. Seperti kursi penjalin yang kududuki tempo hari. 





Ah, sudahlah. Tak perlu aku berpanjang-panjang kata lagi. Skuy, segera jumpai aku di situ. Enggak usah takut nyasar. Lokasinya strategis. Seberang Pasar Ngasem, pas timur pertigaannya. Kita bergaul alias srawung di situ. Yup! KEN'S SRAWUNG memang berarti 'disuruh srawung alias berkawan alias bergaul'.












Selasa, 22 September 2020

Covid-19 dan Budaya Cuci Tangan

26 komentar

COVID-19 benar-benar telah mengaduk-aduk perasaan kita. Mengubah banyak hal. Memangkas beberapa kebiasaan lama kita. Mendatangkan beberapa kebiasaan baru (yang insyaallah) baik. Terkhusus dalam hal menjaga kesehatan. Baik kesehatan jiwa maupun raga. Alhamdulillah. 

Terlepas dari pro dan kontra tentang eksistensinya, covid-19 tetaplah covid-19. Baik mereka yang percaya bahwa virus tersebut ada/nyata maupun mereka yang menganggapnya hoaks, covid-19 tetap berpotensi menjangkiti siapa saja. 

Yeah! Ketimbang lelah berdebat mengenai eksistensi covid-19, bukankah lebih baik kalau kita fokus pada upaya-upaya untuk meningkatkan imunitas tubuh? Salah satu di antaranya, membiasakan diri untuk mencuci tangan. 

Tolong jangan diremehkan. Membiasakan mencuci tangan memang terkesan sepele. Namun faktanya, banyak faedahnya. Tak hanya semasa pandemi ini, tapi kapan pun. Sedari dulu sampai nanti. 

Kalau mencuci tangan tidak penting bagi kesehatan, pastilah tak bakalan ada Hari Cuci Tangan Pakai Sabun.  Iya kan? 

Ya sudah. Kuakhiri saja tulisan ini. Sekali-sekali menulis singkat enggak apa-apa 'kan? Toh tujuan utamaku hanya untuk memamerkan dua wastafel cantik ini. Yang dipasang di beberapa titik di kampung Kauman Yogyakarta, setelah pasukan covid-19 menyerang. Hehehehe .... 

  





  

 

 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template