Selasa, 25 Januari 2022

Penulis Tanpa Honor Itu Horor

2 komentar

HALO Sobat PIKIRAN POSITIF? Sedang bahagia dan tidak resah 'kan? Semoga memang begitu keadaan kalian. Hanya saja, saya mohon izin untuk bercerita tentang sesuatu yang mungkin berpotensi mereduksi ketenangan hidup kalian. Plus membuat ambyar pikiran positif kalian terhadap redaksi majalah dan koran.

Muehehehe .... Intro tulisan ini kok malah cenderung meresahkan, ya? Yeah! Apa boleh buat? Kali ini aku memang hendak berbagi cerita tentang satu hal yang bikin resah para penulis.

Jreng jreeeng jreeeeng! Hal apakah itu? Tak lain dan tak bukan, hal yang kumaksudkan adalah TIDAK ADANYA HONOR BAGI PENULIS.

Sadis toh? Akan makin terasa sadisnya, jika penulis yang tak menerima honor itu memang menjadikan aktivitas menulis sebagai cara mencari nafkah. Wah, wah, wah. Menjadi terlalu parah sadisnya.

Sementara untuk menjadi penulis, terlebih penulis yang berkualitas, butuh kerja keras. Otak mesti diencerkan dengan cara membaca buku-buku bermutu.

Dari mana buku-bukunya? Bisa dari mana saja. Bisa pinjam dari perpustakaan dan kolega yang baik hati. Akan tetapi, kalau hendak membaca buku baru ya mau tidak mau harus beli. Itu butuh duit 'kan?

Kalaupun berhasil membaca semua buku tanpa harus beli, penulis juga tetap butuh uang. Istilahnya, cuma untuk menyeruput secangkir kopi sachetan pun butuh uang. Iya toh?

Jadi, sungguh tidak adil bila ada media yang tidak memberikan honor kepada penulis. Memberikan honor dalam jumlah kurang layak saja sudah keterlaluan. Eh, apalagi sampai tidak memberi sama sekali.

Kuteringat pada seorang penulis senior yang pada akhirnya berhenti menulis dan membuka warung mie ayam demi mencukupi kebutuhan hidupnya. Terpaksa ia tinggalkan dunia tulis-menulis yang dicintainya.

Maksud hati tetap akan sambil menulis. Apa daya kesibukan mengelola warung membuatnya kehabisan energi untuk tetap menulis? Terlebih ia tak merasa menemukan "harapan baik" lagi sebagai penulis.

Beliau itu penulis kawakan. Telah menerbitkan sekian banyak buku.  Laluuu, bagaimana denganku? *Cemas!*

Sebenarnya begini, lho. Lebih dari sekadar sebagai ongkos lelah, honor adalah sebentuk penghargaan. Tepatnya penghargaan sebab penulis telah berupaya keras menyajikan tulisan yang baik dan berguna.

Yang dalam arti luas, para penulis bekerja untuk mendidik masyarakat melalui kemampuan berliterasi mereka. Tentu sesuai porsi masing-masing.

Ekstremnya, kalau tidak ada lagi yang mau menjadi penulis gara-gara ketiadaan honor dan apresiasi positif, celakalah suatu bangsa. Ow! Mungkin pernyataanku ini terkesan lebay. Namun, sebenarnya ya memang begitu.

Mungkin kalian bertanya-tanya heran. Ini pemilik www.tinbejogja.com lama tak menayangkan tulisan kok tiba-tiba muncul dengan tulisan emosional begini? Muehehe ....

Maafkan daku bila datang-datang malah menyodorkan keresahan. Akan tetapi, kalian tak perlu suuzon bahwa diriku lama tak mengisi blog ini dan blog satunya ( Rak Buku Tinbe ) gara-gara ngambek tak mau nulis lagi.

Ketahuilah. Tulisan ini terinspirasi oleh status FB Mas Han Gagas tempo hari. Ia adalah seorang sastrawan. Kalau belum tahu banyak tentangnya, silakan berselancar saja. Oke?

Begini statusnya:

Tadi kami sumpah serapahi media/lembaga yg tidak ngasih honor bagi pemenang/penulis. Padahal media "besar". Penghargaan buat penulis nonsense di tangan kapitalis. Penulis tidak hanya butuh prestise/gengsi tapi juga makan dan kuota.

Banyak yang menanggapi postingan tersebut. Aku pun tergerak untuk ikut berkomentar. Berikut komentarku.

Aku mau berbagi pengalaman. Serupa, tetapi tak sama persis. Tahun lalu ada orang marketing sebuah usaha, menghubungi saya dan meminta saya menuliskan tentang usahanya itu di personal blog dan medsos.

Ujungnya pas saya menyampaikan fee yang saya minta, ia bilang, "Oh, bayar?" Parah dia. Sementara mendapatkan info tentang saya dari kolega dia dan koleganya itu pernah ngasih fee cukup buat saya (untuk job yang lebih ringan), kok dia maunya gratisan. Laaah produk jualannya aja dijual pakai dollar.

Akan tetapi, masih agak bisa dimaafkan sih ya pola pemikirannya gak mau bayar untuk tulisan begitu. Dia bukan orang literasi. Beda banget dengan media yang tak ngasih honor kepada para penulis.#malahtjurhat

Iya. Sepanjang itu komentarku. Jauh lebih panjang daripada postingan yang kukomentari. Nah. Bagaimana komentar kalian terhadap komentar tersebut? Setuju dengan absolut? Hahaha! 

Kalau boleh makin jujur, sesungguhnya orang marketing yang memintaku untuk publikasi gratis atas produk jualannya pun keterlaluan. Itulah sebabnya kukatakan agak bisa dimaafkan. Jadi, tidak benar-benar bisa dimaafkan. 

Enak saja maunya gratisan. Coba saja meminta sebuah media untuk mengekspose produknya. Apa iya bersedia nol cuan? Pastilah kalaupun tanpa cuan, ada kompensasi menguntungkan lainnya bagi media yang bersangkutan.

O, ya. Yang sedari tadi kubahas ini honor lho, ya. Bukan royalti buku. Kalau royalti buku, nanti beda lagi ketidakasyikannya buat penulis (baca: derita yang lain lagi bagi penulis). Hahaha!

Konyolnya, penulis yang bermasalah dengan honor begini adalah penulis yang tulisannya "bener". Yang hasil karyanya bermanfaat bagi umat manusia. Bukan yang model tulisan syur esek-esek bertabur adegan ranjang. Ironis sekali, bukan? *Di mana negara?* 

Yo wislah. Sekian tulisan beraroma curhatan ini. Semoga tetap berfaedah dunia dan akhirat. Minimal bagi diriku sebagai penulisnya. 

Yuk, ah. Ngopi dulu agar lebih tenang menjalani tiap ujian yang berupa seretnya honor tulisan. 


 

Sumber Gambar dari Internet


 

Jumat, 17 Desember 2021

Kampanye #KejuAsliCheck by KRAFT

26 komentar

APA kabar Sobat PIKIRAN POSITIF? Sudah makan sehatkah hari ini? Yoiii. Selalu upayakan untuk mengonsumsi makanan sehat, ya? Ingat. Yang bakalan menyehatkan badan adalah makanan sehat. Bukan makanan sembarangan.

Tentu akan lebih membahagiakan kalau selain sehat, makanan kita juga enak. Misalnya aneka hidangan yang  mengandung keju cheddar berkualitas, baik yang kejunya sekadar ditambahkan sebagai topping maupun dicampurkan sebagai salah satu bahan dasar. 

Fakta Sehat Keju Cheddar 

Sebagai turunan dari susu, pastilah keju cheddar mewarisi segala kebaikan susu.  Termasuk mewarisi kelezatan citarasanya. Yup! Selain enak, keju cheddar mengandung banyak kalsium dan protein plus vitamin D. 

 

Dokpri


Sebagaimana kita ketahui, kalsium dan vitamin D bermanfaat bagi kesehatan tulang dan gigi. Anak-anak hingga orang tua membutuhkannya. Adapun protein merupakan salah satu komponen esensial dalam pertumbuhan dan perkembangan anak.

Selain yang diuraikan di atas, masih ada beberapa kandungan nutrisi lain dalam keju cheddar. Jadi, tak perlu diragukan lagi bahwa keju cheddar merupakan sumber pangan bercitarasa lezat yang penuh manfaat sehat.

Namun, tolong digarisbawahi bahwa manfaat sehat itu hanya dapat diperoleh jika keju cheddarnya berkualitas. Iya, benar. Di sini kualitas adalah koentjie. Kalau tidak berkualitas, manfaat sehatnya pasti tidak maksimal atau malah tidak ada sama sekali.

Posisi Keju dalam Masyarakat Indonesia

Kini keju bukan sesuatu yang asing bagi orang Indonesia. Telah banyak makanan dan minuman, baik dalam kemasan instan maupun berupa fresh food, yang menawarkan citarasa keju. Terlepas dari tingkatan kualitasnya. Terlepas pula dari jenis keju yang dipakai.

 

Dokpri


Seiring dengan globalisasi (termasuk dalam bidang kuliner), memang terjadi pergeseran selera. Lidah masyarakat makin "terbuka" dan adaptif dengan rupa-rupa masakan dari belahan bumi mana saja.

Pernah mencicipi ayam geprek keju? Atau, gemar mengudap jasuke alias jagung susu keju? Atau, hobi sarapan dengan nasi goreng keju?

Itulah tiga contoh perkawinan keju dengan makanan ala Indonesia. Yang dahulunya sudah nikmat dimakan tanpa topping keju, sekarang menjadi lebih nikmat sebab ada taburan keju parutnya.

Pemakaian keju untuk aneka camilan tentu lebih masif. Bahkan sekarang, merambah pula ke pemakaian untuk minuman. Tentu di samping terkait dengan citarasa enak, pengonsumsian keju pastilah terkait dengan nutrisi yang dikandung.

 

Dokpri


Begitulah adanya. Dari tahun ke tahun, jumlah penikmat dan konsumen keju di Indonesia kian banyak. Kiranya merk-merk keju baru yang bermunculan di pasaran, dapat dijadikan indikator.

Keju Cheddar Paling Disukai

Secara garis besar ada dua macam keju, yaitu keju alami dan keju olahan. Keju alami dibuat dari susu segar, garam, kultur, dan enzim. Sementara keju olahan dibuat dari keju alami dengan tambahan bahan lain termasuk pengemulsi, padatan susu, pengatur keasaman, dan bahan pengawet.

Terkait dengan durasi proses pembuatan dan kepraktisan cara penyimpanan, amat wajar kalau pada akhirnya keju olahan yang lebih banyak beredar di pasaran. Terbukti kini banyak jenis dan merk keju olahan yang dapat kita beli di mana-mana dengan mudah.

Adapun di antara sekian banyak keju olahan, keju cheddar adalah sang juara. Masyarakat Indonesia menyukainya sebab rasa keju cheddar itu asin dan gurih. Cocok diaplikasikan ke berbagai macam makanan dan minuman.

Perlu diketahui bahwa tidak semua jenis keju cocok dipadupadankan dengan aneka makanan dan minuman. Masing-masing memiliki citarasa dan karakteristik tersendiri. Cenderung rumit dihafalkan oleh masyarakat awam.

Itulah sebabnya sangat dimaklumi kalau keju cheddar jadi pilihan utama banyak orang. Istilahnya, kalau punya stok keju cheddar sudah aman. One for all. Bisa dikreasikan dengan hidangan apa saja.

O, ya. Yang dimaksud dengan keju cheddar adalah jenis keju yang teksturnya sedikit keras dan berwarna kuning pucat atau cenderung putih gading. Selain menjadi sumber kalsium yang baik, keju cheddar kaya serat dan protein. 

Lalu, mengapa disebut keju cheddar? Karena asal-muasalnya dari Desa Cheddar yang berlokasi di Somerset, Inggris.

Hasil Survei yang Mengejutkan

Konsumsi keju cheddar yang demikian marak ternyata tidak berbanding lurus dengan pengetahuan khalayak tentangnya. Survei konsumen yang dilakukan oleh KRAFT menunjukkan hasil mengejutkan.

Sejumlah 50 % responden (yang terdiri atas ibu-ibu) mengaku bahwa dalam seminggu, mereka bisa menghidangkan makanan mengandung keju cheddar kepada keluarga sebanyak 1-7 kali.

Akan tetapi, sejumlah 61 % dari responden itu ternyata tidak tahu jika produk keju cheddar olahan di pasaran, tak semuanya berbahan utama keju cheddar. Yang berarti banyak keju cheddar yang kurang berkualitas.

Selanjutnya, sebesar 77 % responden mengaku selalu membaca label klaim nutrisi pada kemasan. Sayang sekali sejumlah 48 % dari mereka tidak paham  betul dengan hal-hal yang tercantum di situ.

Wah, wah, wah. Walaupun tidak menjadi responden, saya jelas termasuk ke dalam golongan orang-orang yang membaca label klaim nutrisi pada kemasan, tetapi minimal sekali kadar ngeh-nya. Belum menjadi konsumen cerdas.

Kampanye #KejuAsliCheck by KRAFT

Berdasarkan hasil survei yang mengejutkan itu, KRAFT melakukan kampanye #KejuAsliCheck. Tentu demi mengedukasi masyarakat yang notabene merupakan konsumen dan calon konsumen produk-produk keju.

Kampanye tersebut merupakan panduan untuk membaca label pangan pada kemasan keju, terutama keju cheddar. Tujuannya untuk membantu para ibu dalam memilih keju cheddar kualitas terbaik.

Seperti kita ketahui, di pasaran tersedia rupa-rupa keju cheddar dari berbagai merk. Kondisi tersebut pastilah lumayan membingungkan bagi orang-orang yang awam tentang dunia perkejuan.

Sementara kemampuan memilih keju cheddar bermutu bagus merupakan awal dari investasi sehat masa depan. Terkhusus investasi sehat bagi si buah hati. Jangan lupa. Hanya keju cheddar berkualitas yang dapat mendatangkan manfaat sehat.

Dian Ramadianti, Senior Marketing Manager Keju KRAFT, menjelaskan bahwa kampanye #KejuAsliCheck dapat diterapkan melalui dua cara mudah.

Pertama, memastikan keju pada urutan pertama komposisi (betul-betul disebut/ditulis pada urutan pertama).

Kedua, memiliki klaim nutrisi pada kemasan.

 

Dokpri


Yup! Melalui kampanye #KejuAsliCheck, KRAFT mengajak masyarakat (utamanya para ibu) untuk pintar dan cermat dalam memilih produk keju cheddar. Jangan sampai salah pilih.

Melalui label pangan yang tercantum pada kemasan, para ibu harus bisa memastikan bahwa keju cheddar yang hendak dibeli benar-benar berbahan utama keju cheddar. Keju cheddarnya mesti berada di urutan pertama komposisi bahan.

Luar biasa mencerahkan kampanye #KejuAsliCheck yang dilakukan KRAFT. Terusterang saja, sebelumnya saya tak tahu bahwa urutan penulisan bahan itu punya makna tertentu. Saya pikir ya asal ditulis lengkap saja. Eh, ternyata urutan penulisan bahannya pun mengandung makna.

KRAFT telah melakukan gerakan edukasi yang amat berfaedah. Tak mengherankan jika saat peluncuran kampanye #KejuAsliCheck, Dra. Indriemayatie Asri Gani, Apt. selaku koordinator BPOM menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh. 

Dalam Virtual Press Conference saat peluncuran kampanye #KejuAsliCheck by KRAFT tanggal 3 Desember 2021 itu, beliau menegaskan pula agar ibu-ibu menjadi konsumen yang cerdas. Dalam arti selalu cek ricek kondisi kemasan, label klaim nutrisi, izin edar, dan masa kadaluarsa sebelum membeli suatu produk pangan.  

Keju Cheddar KRAFT Itu Andalan Saya

Sungguh tidak berlebihan jika saya mengatakan, "Keju itu ya KRAFT. Keju cheddar itu ya KRAFT."  Bisa dicek ke anak saya, yang semenjak usia batita hingga sekarang telah akrab dengan keju cheddar KRAFT.

Sebenarnya pernah juga mengonsumsi keju jenis lain dari KRAFT. Akan tetapi, yang paling cocok di lidah kami ya keju cheddarnya. Hmm. Saya kira saya tahu penyebabnya sekarang. Iya, tidak salah lagi. Keju cheddar itu 'kan one for all.

Yoiii. KRAF cheddar memang pilihan produk keju yang tepat untuk berbagai kreasi sajian lezat bermanfaat bagi si buah hati. Standar keaslian kejunya terpenuhi dan telah diperkaya dengan nutrisi.

 

Dokpri


Saya punya kisah menarik terkait keju cheddar KRAFT. Eh? Menarik atau berkesan ya istilahnya? Entahlah. Yang jelas, begini kisahnya.

Dahulu anak saya gemar makan nasi hangat dengan lauk keju cheddar yang diparut. Betul-betul hanya berlauk keju cheddar. Tidak mau ditambahi lauk lain. Sekalipun lauk tambahannya berupa ayam goreng yang juga lauk favoritnya, ia tidak mau. Wow banget 'kan?

Namun seiring bertambahnya usia dan selera makan, ia menolak kalau makan nasi berlauk keju cheddar saja. Tanpa saya tawari pun ia duluan nembung ayam goreng sebagai tambahan lauk.

Lain halnya bila makan nasi goreng. Tanpa lauk apa pun asalkan dipenuhi taburan keju cheddar, ya ayo saja. Pendek kata, kedoyanannya pada keju cheddar KRAFT memudahkan saya dalam memenuhi kebutuhan kalsium hariannya. Setidaknya, keju cheddar KRAFT telah membantu hingga 30 %-nya.

Jangan-jangan kedoyanan anak saya itulah yang membuatnya seperti tak punya rasa lelah. Main kejar-kejaran, bersepeda, lompat-lompat, dan aneka kegiatan fisik yang lain. Pokoknya jejingkrakan melulu. Bahkan, ia sempat terpilih mewakili sekolah untuk lomba lari ketika SD.

Kiranya kesimpulan saya di atas sejalan dengan apa yang disampaikan dr. Rita dalam kampanye #KejuAsliCheck bersama KRAFT beberapa waktu lalu. Beliau menjelaskan, "Keju cheddar juga bisa berperan sebagai sumber energi agar buah hati bisa terus bergerak dan tidak mudah lelah."

Nah 'kan? Sesuai sekali toh? Muehehehe .... Ini ibarat saya berpraktik dulu, belajar teorinya belakangan.

Baiklah. Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin menegaskan bahwa keju cheddar KRAFT telah memenuhi semua kriteria sebagai keju cheddar berkualitas.

Komposisinya sesuai dengan kampanye #KejuAsliCheck, yaitu berbahan utama keju asli New Zealand (ditulis pada urutan pertama) serta dilengkapi nutrisi calcimilk yang kaya akan kalsium, protein, dan vitamin D.

Yoiii. Keju itu ya KRAFT. Keju cheddar itu ya keju cheddar KRAFT. Citarasa gurihnya yang khas dan tanpa perisa tambahan niscaya bikin nagih. Syukurlah ada kampanye #KejuAsliCheck by KRAFT, yang bikin saya tercerahkan dalam hal memilih keju cheddar berkualitas. Pasti ibu-ibu lain juga tercerahkan, deh. 

 

Dokpri


 

Referensi:

https://ibuibudoyannulis.com/wp-content/uploads/2021/12/KRAFT-KejuAsliCheck-Lembar-Fakta.docx

https://ibuibudoyannulis.com/wp-content/uploads/2021/12/KRAFT-KejuAsliCheck-Siaran-Pers.docx

https://katadata.co.id/safrezi/berita/6142edcacffe7/9-manfaat-keju-untuk-kesehatan-dan-diet

https://www.suara.com/lifestyle/2021/12/04/105227/banyak-produk-keju-cheddar-tidak-menggunakan-bahan-asli-pakar-ungkap-cara-membedakannya

 

Jumat, 19 November 2021

Pengalaman Ditolak Nicholas Saputra

44 komentar

HAI, Sobat PIKIRAN POSITIF. Tetap sehat dan tetap semangat 'kan? Semoga deh, ya. Kalaupun kadangkala menghalu sedikit tak jadi soal. Yang terpenting, tetaplah sadar bahwa kita hidup di alam nyata. Bukan di alam kehaluan.

Eeeeetapiii ....

Acap kali pula halu demi halu, kalau ditelateni ternyata bisa menjadi kenyataan. Beneran. Paling tidak, itulah yang baru saja terjadi pada saya dan dua kawan seperhaluan.

Kebiasaan kami berandai-andai (baca: halu) untuk mengobrol langsung dengan Nicholas Saputra, akhirnya menjadi fakta saat nobar Paranoia tempo hari ....

 

Dokpri


Kami #KembalikeBioskop

Yup! Pada tanggal 8 November 2021 lalu, akhirnya kami #kembalikebioskop dan beruntung bisa bertatap muka langsung dengan Nicholas Saputra. Sudah pasti ia hadir sebab menjadi salah satu pemain di film yang kami tonton, yaitu Paranoia. Bukan semata-mata untuk menemui kami. Hahaha!

 

Dokpri


Sesungguhnya Paranoia rilis resmi tanggal 11. Akan tetapi, sebelum tanggal tersebut ada nobar dengan #timparanoia untuk khalayak terbatas. Beruntunglah saya dan dua kawan seperhaluan bisa terangkut nobar tersebut.

Alhamdulillah sejak Oktober kami sudah menggenggam tiketnya. Walaupun saat itu belum tahu bakalan ada Nicholas Saputra atau tidak, yang penting punya tiket dulu. Toh anggota tim yang lain akan hadir.

Lagi pula, kami memang penasaran dengan filmnya. Iklan Paranoia yang wara-wiri di linimasa 'kan bikin kepo. Cuplikan adegan dan dialognya tampak tegang-tegang misterius. Bahkan, Babang Nicholas Saputra tampil enggak kiyut di situ. Bikin bertanya-tanya, "Dia berperan sebagai apa? Itu film tentang apa?"

Nah! Rancu memang. Motivasi terkuat kami untuk menonton Paranoia sebenarnya Nicholas Saputra atau cuplikan filmnya?

Namun apa pun jawabannya, yang jelas sore itu kami kembali mengirup aroma popcorn di bioskop. Yes! Kami #kembalikebioskop setelah setahun lebih terjeda Covid-19.

 

Dokpri


Nicholas Saputra dan Kamera Depan

Sesuai dengan harapan, Nicholas Saputra (pemeran tokoh Raka dalam Paranoia) bisa ikut hadir nobar di XXI Yogyakarta. Hadir pula Nirina  Zubir (pemeran tokoh Dina) serta Riri Riza (sutradara) dan Mira Lesmana (produser).

Sebelum film mulai ditayangkan, ada sambutan-sambutan pendek dari keempatnya. Seremonial tipis-tipislah. Sekalian mereka say hello to us.

 

Sepertinya ia tahu kalau saya zoom (Dokpri)


Saya tidak ingat isi sambutan singkat Mira dan Riri. Kalau Nic menekankan penonton agar taat prokes sehingga bioskop tidak kembali ditutup gara-gara menjadi kluster baru penyebaran Covid-19.

Sementara Nirina sedikit bercerita tentang Paranoia behind the scene. Ia pun berkisah tentang adegan yang paling berkesan baginya. Alhamdulillah bukan hanya sambutan Nic yang saya ingat.

Usai sambutan ada acara berswafoto bersama. Pakai HP Nicholas Saputra. Tentu dialah yang bertugas menjepret. Dengan konsekuensi, wajah indahnya yang tampil paling besar.

Di bawah ini bukan hasilnya, melainkan hasil jepretan fotografer Mirles Production. Hmm. Apakah engkau melihat saya dan kawan-kawan?

 

Diambil dari akun IG Mirles Production

 

Selepas berswafoto #timparanoia keluar ruangan. Film pun mulai diputar.

Ditolak Saat Meminta Berfoto Bareng

Pada awal tulisan telah saya singgung tentang sederet kehaluan kami yang menjadi fakta. Itu lho, yang akhirnya kami beneran bisa mengobrol langsung dengan Nicholas Saputra. Pasti engkau sekalian penasaran dengan isi obrolan tersebut. Iya 'kan?

Hmm. Tenanglah. Mohon tidak buru-buru merasa iri dengan kami.  Obrolannya tidak panjang, kok. Tidak sampai diselingi ngopi-ngopi, hahahihi, dan selfie-selfie.

Malah lebih tepatnya Nicholas Saputra saja yang bicara, sedangkan kami cuma manggut-manggut plus senyum-senyum dan sesekali bilang, "Iya, Mas. Baik, Mas. Paham, Mas."

Itu pun lima detik pertama kami malah nge-freeze. Terpana memandangi wajahnya yang saingan benderang dengan lampu outlet popcorn, padahal sesungguhnya ia sedang dalam versi kucel kelelahan.

Maklumlah. Kami 'kan sama sekali tak menyangka kalau malam itu akan bertatapan mata dengannya. Iya, lho. Serius bertatapan mata dan bukan kami yang mencari-cari matanya. Justru ia yang menatap kami satu per satu dengan jarak demikian dekat.

Yeah? Walaupun isi pembicaraan berupa penolakannya atas ajakan untuk berfoto bersama, Nicholas Saputra sukses menghindarkan kami dari rasa kecewa.

Bagaimana mau kecewa kalau ia bersikap takzim kepada kami? Menolak diajak berfoto (padahal satu dua jepretan cuma butuh beberapa detik), tetapi mau meluangkan waktu hampir dua menit untuk menjelaskan alasan penolakannya.

Kalau direnungkan, bukankah kami malah beruntung? Bisa menyimak suara dan tatapan matanya secara dekat sekali. Yang sensasinya jelas beda dengan tatkala menyimak suara dan wajahnya di Live IG atau film.

Sudah begitu, pakai acara pamitan segala ketika ia hendak berlalu menuju wawancara. Duileee. Jangan-jangan kami telah ditahbiskannya sebagai fans tersopan. 'Kan kami tidak nekad curi-curi momentum untuk cekrak-cekrek, padahal amat kondusif untuk memaksanya (menjebaknya) in frame with us.

Sungguh mengagumkan kami bisa sesopan itu. Tidak sampai lepas kendali yang berpotensi ditandai sebagai fans gila. Saya pun tidak mendadak khilaf untuk menggelendot manja di lengannya yang berjarak secentimeter saja di sebelah kanan diri ini. *Nyengiiir*

Begitulah pesona Nicholas Saputra. Alih-alih penolakannya bikin sakit hati. Yang ada justru menguatkan tekad kami untuk bikin perencanaan halu secara lebih detil dan terstruktur. Dengan harapan, kelak kehaluan itu menjelma realita.*Tekadnya ngeriii*

Terlebih kemudian kami tahu bahwa mengajaknya foto bareng dalam suasana ikhlas ternyata butuh perjuangan. Pada umumnya tak bisa sukses dalam sekali perjumpaan.Ckckck. Ngeselin juga, sih.

Dari sebuah akun IG kami mendapatkan fakta mencengangkan. Si Mbak pemilik akun dalam unggahan foto selfienya bareng Nicholas Saputra menuliskan caption panjang yang informatif.

Si Mbak menuturkan bahwa foto tersebut buah dari penantian panjangnya, setelah sekian lama berusaha untuk berfoto bareng sang idola. Sejak si Mbak masih lajang, bahkan jauh sebelum mengenal suaminya (sekarang anak mereka telah cukup besar).

Astaga sekali informasi faktualnya. Itu pun si Mbak tinggal di wilayah Jakarta. Yang notabene probabilitasnya untuk mengejar Nicholas Saputra, dalam acara-acara terkait perfilman, lebih besar daripada kami yang di daerah.

Terlebih kami sangat pemalu dan super sopan. Kekaleman kami pun enggak ketulungan. Jadi, mau minta foto bareng saja maju mundur tak karuan.

Kami bingung kapan ngambil celah minta izinnya. Gimana, ya? Silih berganti orang menyapa dan mewawancarainya. Bikin kami tak enak hati untuk menyela. Alhasil, kami selalu dikalahkan oleh penggemar lain yang lebih gagah berani merangsek ke dekatnya.

Sekalinya berani bilang minta foto bersama, eeeh, jatah mood berfoto Nicholas Saputra sudah musnah. Bertepatan pula dengan segera dimulainya jadwal Live IG-nya. Yo wis.

Untung kami sukses berpose dengan Mira Lesmana dan Nirina Zubir. Itu pun pakai acara menyela kesibukan mereka dengan khalayak. Untung pula ada Adiba yang bersedia memotret kami bertiga dan ia tak berminat gantian difoto. Yang antre foto bareng Mira dan Nirina banyak juga, lho. 

 

Bersama Mira Lesmana (Dokpri)

Bersama Nirina Zubir (Dokpri)


Ah, tapi hidup mesti berPIKIRAN POSITIF. Mestakung. Semesta mendukung. LOA. Law of Attraction.

Insyaallah kelak bakalan ada kesempatan mengobrol lebih lama dengan sebuah topik menarik. Tentunya plus bisa mengajak Babang Bule Nicholas Saputra berfoto dengan ikhlas. Hmm. Namanya juga halu (baca: cita-cita). Mesti semaksimal mungkin, dooong.

MORAL CERITA:

Alhamdulillah pernah ditolak NicSap sehingga lahirlah tulisan ini. Hahaha!

 

 

Sabtu, 06 November 2021

Life Hack Terkait Minyak Goreng

34 komentar

APA kabar Sobat PIKIRAN POSITIF? Masih setia jaga jarak dan menghindari kerumunan? Masih setia memakai masker? Eh, maukah kalau kuajak ngerumpiin minyak goreng? Mau, ya? Hehehehe ....

Begini. Beberapa hari lalu ketika sedang jalan-jalan di negeri twitter, kudapati cuitan seorang kawan. Baca berita hari ini. Harga minyak goreng naik, jadi semua gorengan ini digoreng dengan minyak minimalis. Tetap kriuk dan renyah.

Foto yang disertakannya sebagai pelengkap caption adalah foto sepiring gorengan. Seingatku ada risoles, samosa, dan kentang goreng.

Semua itu jualannya. Ia memang menjual aneka kudapan dalam bentuk frozen. Namun, boleh pula kalau pembeli minta digorengkan sekalian. Aku tahu karena termasuk salah satu pelanggannya.

Harga minyak goreng naik? Waaah. Malah enggak tahu aku. Seriuskah? Kubalas cuitannya.

Benar, Mbak. Ini beritanya. Ia menanggapi sekaligus memberikan sebuah tautan berita terkait.

Langsung aku klik tautan tersebut. Ingin tahu kabar detilnya. Seusai membaca, kubalas lagi cuitannya. Ternyata sudah sejak kemarin. Klo gak baca cuitanmu pasti aku gak sadar klo harganya naik. Hahaha!

Kamu futuristik, Mbak. Idemu memanggang lumpia dan samosa menjadi relate dengan situasi terkini. Tulisnya.

Spontan aku membalasnya dengan sederetan emotikon tertawa lebar.

Lumpia dan Samosa Panggang

Beberapa bulan sebelumnya aku mengunggah foto dua lumpia dan dua samosa dengan caption begini. Dibakar saja supaya lebih sehat dan pastinya hemat minyak goreng. Edisi frozennya kubeli di @namakawantersebut.

Biasalah. Sambil menyelam minum air. Sambil menuntaskan hasrat narsis, sekalian mempromosikan jualan kawan.

Sungguh tak disangka, kawan tersebut tertarik sekali dengan unggahanku. Tepatnya sih, tertarik cenderung heran. Tidak menyangka kalau jualannya kumatangkan dengan cara berbeda.

Baru tahu dia kalau diriku terbiasa mengkhianati resep gorengan. Pokoknya apa pun bahan makanan yang bisa dimatangkan sempurna dengan cara selain digoreng, pasti akan kukhianati walaupun lazimnya digoreng. Contohnya ya lumpia dan samosa tadi. 

 

Lumpia panggang (Dokpri)


Apakah siasat kreatif itu dilandaskan pada semangat untuk hidup lebih sehat? Atau, untuk mendukung gerakan nol emisi karbon?

Seiring waktu berjalan kedua hal tersebut memang menjadi pertimbangan. Namun sejujurnya, semula alasanku simpel belaka: tidak mau boros gara-gara keseringan buang-buang sisa minyak goreng.

Jika kudapan digoreng sesuai pakem, pastilah butuh banyak minyak goreng untuk bisa melakukan deep frying. Kurang lebih butuh dua sendok sayur, jika hendak bikin empat gorengan saja. Jelantah atau sisa minyak bekas pakainya pasti bakalan terbuang.

Lain halnya jika dipanggang. Hanya butuh sedikit minyak goreng untuk mengolesi  kudapan yang hendak dipanggang. Tak bakalan ada jelantah yang mesti dibuang.

Mengapa jelantah tak disimpan dulu? Bukankah masih bisa dipergunakan sekali lagi? Tidak harus dibuang sekali pakai sehingga dapat lebih hemat 'kan?

Mohon maaf. Bukannya sok kaya dan sok sehat, nih. Tradisi menyimpan jelantah memang tidak cocok kupraktikkan. Alasannya, tidak tiap hari dapurku beroperasi. Jadi, jelantah simpanan berpotensi kadaluarsa sebab tak kunjung dipakai. Malah menunda membuang saja.

Nah!  'Kan jatuhnya boros minyak banget kalau aku nekad menggoreng dua lumpia dan dua samosa saja? Itulah sebabnya kubudayakan memanggang.

Mengapa tidak memperbanyak saja jumlah kudapan yang digoreng? Ben sumbut. Wah, yang makan siapa? Anggota keluargaku minimalis sekali. Cuma dua termasuk diriku. 

Teflon Andalan

Bagaimana caraku membakar/memanggang bahan makanan? Pakai alat khusus? Oh, tentu tidak. Senjata andalanku di dapur hanyalah teflon. Jenis teflonnya pun yang standar saja. Bukan yang dilabeli anti lengket. Ini nih, penampakannya.

 

Teflonku (Dokpri)


Kalau untuk bikin telur mata sapi atau telur dadar tetap butuh sedikit minyak goreng atau mentega. Begitu pula jika hendak membakar pisang, tahu, tempe, sosis, nugget, dan aneka kudapan frozen. It's simple.

Tak Perlu Bergantung pada Minyak Goreng

Percayalah. Hidup tak akan berubah menjadi datar hanya karena berjarak dari minyak goreng. Faktanya, sekian lama saya mengkhianati resep gorengan dan hidup masih  terjalani dengan jungkir balik tak keruan.

Nah, lho! Bukankah itu bukti bahwa menjalani gaya hidup minim gorengan tak serta-merta mengubah hidup menjadi datar? Hehehe ....

Jadi kalau ditantang, apa aku sanggup puasa memasak goreng-gorengan? Secepat kilat kujawab, "Siapa takut?"

Mohon jangan salah paham. Puasa memasak dengan minyak goreng tak berarti tak mengonsumsi gorengan lagi, lho. Keduanya beda pengertian.

Tolong camkan baik-baik. Aku tetaplah doyan gorengan. Yang nyaris tidak kulakukan lagi adalah membuat aneka gorengan sendiri. Kalau sedang mengidam the real gorengan, aku beli barang dua atau tiga potong. Jadi, tak perlu ikut pening mikirin kenaikan harga minyak goreng segala.

MORAL CERITA:

Hidup hanyalah tentang adaptasi untuk menyiasati kesulitan ataupun kondisi baru.


 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template