Selasa, 08 Oktober 2019

HUT ke-263 Yogyakarta

22 komentar
"Keren Tanpa Narkoba" semoga tak sekadar slogan


TEPAT pada tanggal 7 Oktober 2019 Yogyakarta genap berusia 263 tahun. Wow! Kotaku makin berumur saja, ya. Sungguh tak terasa waktu berlalu menggerus usianya. Idem ditto dengan kalian dan aku. Haha!

Namun, jangan salah. Meskipun sudah berusia hampir 3 abad, makin hari Yogyakarta justru makin kinclong. Upaya revitalisasi yang giat dilakukan tahun-tahun belakangan ini mulai menampakkan hasil. Terutama di kawasan Sumbu Filosofi.

Iya. Kondisi Titik Nol dan sekitarnya kian menawan. Onde-onde marmer dan bangku kayu di seputaran situ juga ditambah jumlahnya. Alhasil, makin terfasilitasilah hasrat nongkrong orang-orang.

Demikianlah adanya. Sejauh pengamatanku, kaum wisatawan (dan penduduk lokal yang gemar pelesiran) memang dimanjakan betul oleh pemkot Yogyakarta. Ibarat kata, tiap hari selalu disediakan spot baru untuk berlibur.

Maka wajar kalau kemudian Yogyakarta tak ada sepinya. Entah musim liburan atau tidak, rombongan wisatawan dari luar kota/luar negeri selalu ada. Hingga tengah malam pun Yogyakarta tak kunjung senyap. Terlebih di kawasan Tugu Pal Putih dan Titik Nol.

Singkat cerita, sisi indah Yogyakarta memang penuh pesona. Tampak oke semua. Membuat siapa pun rentan untuk memproduksi kenangan. Membuat kangen siapa saja yang pernah terlibat dengannya. 

Akan tetapi sebagai warga ber-KTP Kodya Yogyakarta, masih ada beberapa hal yang kulihat kurang oke. Terutama untuk perkara-perkara yang undercover semacam penyalahgunaan narkoba dan kejahatan jalanan (klitih).

Apa boleh buat? Di balik geliat cantik Yogyakarta dalam bidang pariwisata, narkoba dan klitih rupanya juga ikut menggeliat. Belum lagi adanya kasus-kasus asusila dan intoleransi. Baik yang terdeteksi maupun tidak.

Aku yakin bahwa pihak berwenang telah semaksimal mungkin mengatasi problema yang ada. Hanya saja, tiap warga Yogyakarta mestinya juga tahu diri. Mau ikut membantu menciptakan Yogyakarta yang lebih baik.

Kalau belum mampu berkontribusi dalam hal positif, minimal tidak bikin onar. Yoiii. Mari kita berusaha menjadi warga yang tahu diri. Bukankah Yogyakarta pun telah berusaha membahagiakan kita sebagai warganya?    

Selamat ber-HUT ke-263, Yogyakarta tercinta!





Selasa, 24 September 2019

Vredeburg Fair 2019

39 komentar
HALO Sobat Ambyar, eh, Sobat Pikiran Positif  ....

Semoga kabar kalian baik-baik saja. Selalu sehat lahir dan batin. Selalu berPIKIRAN POSITIF. Sebab faktanya, berpikiran positif adalah pangkal bahagia.

Eh? Apa? Kalian belum bahagia? Masih sedikit galau? Baiklah. Tenangkan dulu hati kalian. Tarik napas dalam-dalam, embuskan pelan-pelan.

Lalu duduk manis, lanjut membaca tulisanku ini. Insyaallah kegalauan kalian bakalan hilang. Digantikan oleh rindu yang tebal. Yakni rindu pada Yogyakarta. Haha! Yaiyalaaah. Tulisan ini  'kan berkabar tentang VF19 yang diselenggarakan di Yogyakarta.

VF19? Apa itu? VF19 = Vredeburg Fair 2019. Yakni kegiatan pameran yang diselenggarakan oleh Museum Benteng Vredeburg. Mulai dari 19-24 September 2019, sejak pukul 08.00-21.00 WIB. Adapun tema yang diusung adalah "Prestasi Tanpa Batas".


Katalog VF19 yang berisi aneka informasi terkait VF19

Replika Tugu Pal Putih ikut meramaikan VF19


O, ya. Sesungguhnya tempo hari aku lupa kalau ada VF19. Namun syukurlah, sebab mesti menghadiri undangan Sarasehan Komunitas, aku jadinya malah bisa nonton VF19 pada hari pertama. Yaiyalaaah. Acara yang kudatangi bertempat di Museum Benteng Vredeburg dan ternyata (aku baru sadar saat sudah di acara) merupakan rangkaian dari VF19. Hehehe.... 

Begitulah adanya. VF19 resmi dibuka pada tanggal 19 September 2019. Yang membuka Direktur Kesenian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu Drs. Restu Gunawan, M. Hum.

Ada apa saja di VF19? Ada bermacam-macam hal menarik pastinya. Selain sederetan stan pameran dari berbagai museum dan komunitas, ada pula workshop dan talkshow. Panggung kesenian dan pemecahan rekor MURI pun ada.

Rekor MURI yang dipecahkan adalah "Museum mendongeng bersama 1.000 Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)". Yang faktanya malah mencapai 1.500 ABK. Demikian informasi yang disampaikan oleh narsum dari Museum Benteng Vredeburg, dalam talkshow (Sarasehan Komunitas)  yang kuhadiri.

Gogok, Poci, dan Zulkifli Lubis 

Sebagaimana kujelaskan di atas, tujuanku ke Museum Benteng Vredeburg siang itu adalah menghadiri Sarasehan Komunitas. Bukan menghadiri pembukaan dilanjut menonton pamerannya. Jadiii, aku datang saat anak-anak manis itu sudah bersiap pulang. Yeah! Tak kondusif buat difoto, deh. *Narablog macam apa aku iniiih?*

Alhasil, keterbatasan waktu membuatku tak bisa menyisir seluruh stan yang ada. Hanya beberapa yang sempat kusambangi dengan lumayan seksama. Yakni yang betul-betul menyedot perhatianku. Salah satunya stan tuan rumah. Terkhusus untuk koleksi yang tampak pada foto berikut. 


Narasi yang menjelaskan gogok dan poci 

Gogok (yang besar) dan poci 


Judul narasinya "Gogok dan Poci". Di situ dijelaskan bahwa Gogok adalah tempat penyimpan candu. Yup!  Candu yang opium itu. Yang ternyata selama masa perjuangan kemerdekaan kita, tepatnya saat menghadapi Agresi Militer Belanda II, menjadi sumber pembiayaan utama.

Kagetkah kalian dengan fakta sejarah tersebut? Bolehlah kalau sekadar kaget. Namun, tolong jangan menghujat. Kalau faktanya begitu, mau bagaimana lagi? Sejarah tak bisa diubah lho, ya.

Pahamilah. Tatkala itu pasca proklamasi, negara kita sungguh pailit. Komoditi pertanian dan perkebunan sama sekali tak dapat diandalkan. Padahal, negara sedang butuh dana besar. Nah! Candulah salah satu komoditi yang sangat bisa diandalkan. Apa boleh buat?

Lalu, poci apakah yang ditaruh di sebelah gogok? Rupanya itu poci yang pernah dipergunakan oleh Letkol Zulkifli Lubis selama menginap di Srunggo, Selopamioro, Imogiri, Bantul. Siapa beliau? Tak lain dan tak bukan, beliau adalah Bapak Intelijen Indonesia.


Bapak Intelijen Indonesia 


Museum feat Seniman dan Berbagai Komunitas 

Dalam perjalanan menuju ruangan acara, ada yang sangat menarik perhatianku. Yakni patung-patung menjulang yang bertebaran di arena pameran. Patung-patung itu menggambarkan sosok para penerbang. Silakan cermati dua foto di bawah ini. Malah seperti ada raksasa 'kan?

Selain yang tampak pada foto, ada pula patung-patung lain di seantero area VF19. Ukurannya bermacam-macam. Kiranya ini menjadi bukti bahwa museum pun butuh bersinergi dengan seniman.

Itulah sebabnya selain stan-stan museum dan instansi lain yang terkait, di VF19 juga ada stan-stan yang sepintas lalu tidak nyambung dengan museum. Di antaranya stan makanan zadoel, stan melukis gerabah, stan komunitas bersepeda, dan stan Omah Renda. Begitulah adanya. Bagaimanapun, museum memang butuh berkolaborasi dengan semua kalangan demi kelangsungan eksistensinya.


Patung kadet (1)
Patung kadet (2)


Prestasi Tanpa Batas 

Seperti Vredeburg Fair tahun-tahun sebelumnya, VF19 pun melibatkan banyak museum sebagai peserta. Adapun museum yang terlibat dalam VF19 (selain Museum Benteng Vredeburg selaku tuan rumah) adalah Museum Nasional Jakarta, Museum Negeri Sonobudoyo Yogyakarta, Balai Arkeologi Yogyakarta, Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta, Museum Sumpah Pemuda Jakarta, Museum Kesejarahan Jakarta, Museum Penerangan TMII Jakarta, Museum Olahraga Nasional TMII Jakarta, Monumen Pers Nasional Surakarta, dan Balai Konservasi Borobudur. Banyak juga 'kan?

Aku yakin bahwa tiap museum menampilkan hal menarik dan bermanfaat di stannya. Namun sekali lagi sebab keterbatasan waktu, aku hanya sempat mengeksplorasi dua stan. Keduanya dari Museum Olahraga Nasional TMII Jakarta dan Museum Penerangan TMII Jakarta. Mari simak ceritaku tentang yang sedikit itu.

MUSEUM OLAHRAGA NASIONAL TMII JAKARTA

Dari namanya jelaslah sudah bahwa museum ini merupakan gudang sejarah perolahragaan Indonesia. Namun khusus untuk VF19 yang bertema "Prestasi Tanpa Batas", yang ditampilkan di stan adalah cabor-cabor yang dipertandingkan/dilombakan di Asian Para Games 2018. Kalian masih ingat perhelatan akbar itu 'kan?

Sungguh. Aku tidak salah pilih. Di stan inilah bahuku serasa ditepuk keras. Yakni tepukan pengingat agar aku mampu memperbanyak syukur. Pendek kata, emosiku pun teraduk-aduk. Campur baur antara termotivasi dan merasa malu. Di seantero stan terpajang foto-foto para atlet Para Games yang sukses mendapatkan medali. Sebagai bukti bahwa mereka telah dapat berprestasi melampaui segala keterbatasan.

Yang paling menarik perhatianku adalah profil Muhammad Fadli Immamuddin (MFI). Siapa dia? Dia adalah atlet NBC balap sepeda. Namun dahulunya, ia pernah menjadi juara balap motor (bukan untuk kategori NBC). Yakni dalam Asian Road Racing Championship 2004. Bahkan pada tahun yang sama,  ia sukses menggondol medali emas dan perak dalam PON.

Nah! Penyebab MFI beralih cabor itulah yang membuatku angkat topi tinggi-tinggi. Ia berganti cabor bukan sebab bosan, melainkan karena keadaan. Pada tahun 2015 saat sedang melakukan selebrasi kemenangan, ia ditabrak dari belakang oleh pembalap motor Thailand.

Peristiwa tragis tersebut menyebabkan kakinya diamputasi. Yang berarti menghentikan langkahnya sebagai atlet balap motor. Kesedihan plus kekecewaan pastilah menyergapnya.

Namun, MFI terbukti bukan pemuda cengeng. Kecelakaan yang menimpa tak serta-merta meruntuhkan semangat hidupnya. Ia justru segera bangkit dan mencari peluang lain untuk berprestasi maksimal. Hebatnya, MFI hanya butuh 2 tahun untuk move on. *Sungguh, ia merupakan Sobat PIKIRAN POSITIF yang militan.*


Muhammad Fadli Immamuddin (MFI) 

Profil singkat dan medali milik MFI 


MUSEUM PENERANGAN TMII JAKARTA

Stan lain yang menarik perhatianku adalah stan Museum Penerangan TMII Jakarta. Kebetulan posisinya bersebelahan dengan stan Museum Olahraga Nasional TMII Jakarta. Jadi, sekalian saja aku sambangi. Terlebih ada sesuatu yang membuatku bernostalgia dengan masa kecil dulu.

Apakah itu? Yakni seperangkat alat yang dahulunya kerap kulihat di mobil produsen jamu, yang menggelar layar tancap di lapangan kecamatan. Yoiii. Itu memang alat pemutar film yang dibawa-bawa jupen (juru penerang). Sebagai pengunjung setia layar tancap, tentu aku hafal. Haha! Ketahuan deh kalau aku berasal dari  wilayah pelosok.

Tentu yang diputar jupen bukan film hiburan seperti yang diputar produsen jamu. Namanya juga jupen, juru penerangan yang digaji negara. Maka film-film peneranganlah yang diputarnya. Pokoknya penerangan tentang apa pun yang terkait dengan program pemerintah.

Selain alat pemutar film zadoel, dipajang pula sepeda onthel zadoel. Sepeda itu pun sepeda bersejarah. Dahulunya sepeda tersebut dipakai jupen untuk berkeliling demi menyampaikan informasi dan program pemerintah kepada masyarakat luas.

Menurut kacamata zaman sekarang, memang terkesan ribet. Akan tetapi, begitulah fakta sejarah. Akses informasi tatkala itu sungguh penuh kendala. Tidak seperti sekarang yang sangat lancar jaya. Boro-boro internet. Radio saja yang mendengarkan bisa orang sekampung. Yang punya satu orang, lainnya numpang mendengarkan.

Sejujurnya aku amat betah di stan Museum Penerangan. Mengapa? Sebab di situ aku bisa tahu alat-alat komunikasi tempo doeloe beserta manusia yang bertugas mengoperasikannya. Namun, acara talkshow keburu dimulai. Ya sudah. Aku pamit pada mas penjaga stan.

Apa boleh buat? Sepulang dari situ aku mendadak terkenang pada Pak Harmoko, Sang Menteri Penerangan RI yang mantan wartawan itu. Yang fotonya bersama bapakku terpajang di ruang tamu. Yeah, bapakku 'kan kader Golkar militan semasa mudanya dulu. Haha!

O, ya. Museum Penerangan berdiri pada tanggal 20 April 1993. Yang meresmikannya Presiden Soeharto. Adapun pengelolanya kini adalah Kementerian Komunikasi dan Informasi.


Masih adakah Jupen? 


Ada yang unik di stan ini. Di bagian pojok bawah dekat pintu keluar, ada papan untuk menuliskan prestasi terbaik kita. Wah! Ajang narsis banget ituuuh. Isinya bermacam-macam. Ada yang mengharukan, ada pula yang menggelikan. Misalnya seorang kakek 3/4 gaptek yang menuliskan bahwa prestasi terbaiknya adalah berhasil order ojek daring sendiri. Hehehe ....   


Papan untuk narsis 


Sarasehan Komunitas 

Sekarang marilah simak sekelumit cerita tentang talkshow yang kuikuti. Sesuai dengan judulnya, yaitu "Sarasehan Komunitas: Sinergi Museum dan Komunitas di Era Milenial", acara ini membahas hubungan antara museum dengan komunitas-komunitas yang ada di masyarakat. Ditegaskan bahwa museum bakalan makin tak dianggap eksistensinya, jika tak mau membuka diri.

Karena era milenial jelas berbeda dengan era-era sebelumnya, otomatis museum wajib tanggap situasi. Tak bisa lagi melangkah sendirian, tapi wajib bersinergi dengan berbagai kalangan masyarakat. Yang dalam hal ini direpresentasikan oleh komunitas-komunitas. Dengan kata lain, museum mesti bisa mempromosikan diri supaya makin dilirik oleh banyak orang dari berbagai generasi.

Salah satu narasumber menyatakan bahwa saat ini, idealnya museum mampu menjadi media penghubung. Misalnya ada sebuah brand hendak meluncurkan produk baru, museum bisa ikut dilibatkan. Mungkin dengan memfasilitasi pelaksanaannya. Atau, ikut terlibat dengan cara-cara yang lain. Yang tujuannya agar makin dikenal masyarakat.

Ditekankan pula bahwa museum zaman sekarang hendaknya mengubah fokus. Tidak lagi berorientasi pada koleksi benda bersejarahnya, tapi mesti lebih berorientasi pada manusianya (para pengunjung). Apa yang bakalan dirasakan/diperoleh seseorang,  jika ia mengunjungi museum. Jika kunjungan ke museum membuatnya nyaman dan senang, niscaya ia akan tergerak untuk selalu mengulangi kunjungan.

Itulah sebabnya museum harus segera diupayakan agar dapat menjadi ruang publik. Tak melulu untuk belajar/penelitian terhadap koleksi benda bersejarah, tapi bisa memiliki fungsi yang lebih luas. Misalnya sebagai tempat nongkrong, pertemuan komunitas, belajar kelompok, atau mencari ide. Wow! Asyik benar nongkrong di museum, ya?


Ini acara talkshow (Sarasehan Komunitas) yang kuikuti 


Baik Sobat PIKIRAN POSITIF, demikian laporan selayang pandangku tentang Vredeburg Fair 2019 a. k. a. VF19. Meskipun wujudnya berupa sebuah tulisan agak panjang, percayalah kalau dilisankan akan menjadi selayang pandang saja. Silakan coba deh, andai kata kurang percaya. Hehehe ....

***
Untuk mengetahui lebih jauh tentang Museum Benteng Vredeburg dan agenda kegiatannya, kalian bisa mengeksplorasi www.vredeburg.id dan akun IG @museum.benteng.vredeburg

MORAL CERITA:
Main-main ke museum,yuk!







 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template