Jumat, 16 Juli 2021

Pandemi Covid-19 dan Pikiran Positif

32 komentar

APA kabar, Sobat PIKIRAN POSITIF? Pandemi Covid-19 ternyata tak kunjung mereda, ya? Malah sedang kembali menggila eksistensinya. Semoga kita sama-sama bertahan sehat walaupun telah dikepung pandemi Covid-19 lebih dari setahun.

Harapannya tentu sehat lahir dan batin. Jiwa dan raga. Jasmani dan rohani. Sehat lahir tanpa sehat batin, apalah artinya? Sehat batin tanpa sehat lahir, repot juga sebab bakalan tergantung pada orang lain.

Begitulah adanya. Sehat batin dan sehat lahir wajib ada dalam diri ini. Keduanya mesti saling melengkapi agar kita bisa disebut sebagai manusia yang seutuhnya.

Sehat lahir dapat diupayakan dengan cara menjalani pola hidup yang sehat. Antara lain dengan mengonsumsi asupan makanan yang bernutrisi (kalau perlu ditambahi dengan suplemen vitamin), cukup bergerak (berolahraga), dan rehat yang memadai.

Sementara sehat batin dapat diupayakan dengan cara selalu mendekatkan diri kepada-Nya SWT. Senantiasa bersyukur dan berpikir positif atas segala hal yang terjadi. Selalu cepat-cepat menghempaskan pikiran negatif yang menggerogoti pikiran positif.

Sudah pasti tiap orang punya cara tersendiri untuk mencapai sehat lahir dan batinnya. Sesuai dengan kebutuhan, kesempatan, dan kemampuan masing-masing. It's normal. Tak jadi soal. Yang terpenting tujuan sehat lahir dan batinnya tercapai.

Caraku menjaga kesehatan lahir pastilah sama dengan caramu. Makan teratur dan semaksimal mungkin makanan kuatur yang bernutrisi. Pokoknya aku berkreasi supaya makan tetap hemat, namun nutrisinya tak terhenti.

Kalau soal gerak (olahraga), aku dan the gengs paling suka melakukan PPJ, yaitu Pura Pura Joging.

What's kind of it? Hahaha .... Sebenarnya sih, jalan kaki biasa yang dipadukan dengan refreshing plus semacam hunting foto. Kami biasa melakukannya pagi-pagi pada hari Senin. Mengapa? Sebab pada hari libur atau akhir pekan suasana lebih ramai.

 

PPJ di Yogyakarta bagian Rotowijayan

Motret Jokteng dulu

PPJ di Yogyakarta bagian Kadipaten


Rehat dulu PPJ-nya

 

Kami melakukan PPJ tentu untuk bakar lemak bin melemaskan kaki. Akan tetapi, rutenya dipilih yang blusukan Jogja. Tujuannya agar bisa hunting foto dan mengenali Jogja hingga ke bagian dalam-dalamnya, dong.

Alhasil sehat lahirnya dapet, sehat batinnya juga dapet. Kami berkeringat karena telah berolahraga, sekaligus menjadi bahagia sebab telah refreshing dengan melihat-lihat yang unik-unik. Bagi kami, PPJ sungguh mengasyikkan dan menyehatkan.

Yup. Beginilah cara kami menghadapi pandemi Covid-19 yang tidak kunjung mereda ini. Beginilah cara kami agar selalu kuat menggenggam pikiran positif. Tentu dalam upaya menjadi manusia yang seutuhnya, yang sehat lahir dan batin.

Nah! Bagaimana caramu meraih kesehatan lahir dan batin?

MORAL CERITA:
Dunia yang sedang tidak baik-baik saja tetap wajib kita jalani/hadapi dengan cara yang sebaik-baiknya.

Jumat, 09 Juli 2021

Sound of Borobudur: Wonderful Indonesia!

24 komentar

HAI, Sobat PIKIRAN POSITIF? Apa kabar? Semoga masih setia menggenggam erat pikiran positif. 

Aku tahu bahwa belakangan ini relatif sulit untuk bersikukuh memegangi pikiran positif. Akan tetapi, sulit enggak sulit ya harus bisa senantiasa berpikiran positif. Imunitas kita bisa kacau jika malah berkawan dengan pikiran negatif. 

Jadi jelas, ya. Sesulit apa pun prosesnya, pikiran negatif tetap wajib dihempaskan. Pokoknya jangan sampai kita diintimidasi oleh pikiran negatif. Jangan pula membiarkan diri untuk overthinking. Oke?

Salah satu cara jitu untuk selalu berpikiran positif adalah menghindari membaca/mendengar berita-berita hoaks. Benar bahwa membaca adalah aktivitas berfaedah. Namun, pastilah faedah tersebut tergantung pada apa yang kita baca. Iya 'kan?

Hmm. Kupikir, semua tulisan di www.tinbejogja.com ini bisa banget dijadikan alternatif bacaan berfaedah. Cobalah baca satu per satu untuk membuktikannya. Muehehehe ....

Jika awang-awangen untuk membaca semua satu per satu, ya baca saja tulisan yang berjudul "Sound of Borobudur: Wonderful Indonesia!" ini dulu. 


Foto Koleksi Sound Of Borobudur

O, ya. Di Kompasiana telah dua kali kutulis tentang Sound of Borobudur (SoB). Yang satu dalam rangka ikutan samber Ramadan (dilombakan); satunya lagi kutulis setelah ikutan Konferensi Internasional secara daring.

Aku beruntung diajak K-Jogja untuk ikutan International Conference Sound of Borobudur. Walaupun seharian wajib mantengin zoom, rasanya tak membosankan. Pengetahuan dan wawasanku tentang Candi Borobudur pun bertambah banyak. 

Diriku tampak terniat sekali ya, memperbincangkan Candi Borobudur? Harus, dong. Bagaimanapun candi tersebut pernah menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia. Kita harus bangga memilikinya.

Lalu, SoB itu apa? Baik. Akan kujelaskan secara singkat. Begini. SoB adalah sebuah gerakan (movement) untuk membunyikan Candi Borobudur.  

Dalam arti, alat-alat musik yang terpahat di relief-relief candi keren itu direka-reka bentuk dan bunyinya. Dilacak jejaknya, kira-kira berasal dari daerah mana, alunan nadanya bagaimana, dan sebagainya. 

 

Foto Koleksi Sound of Borobudur

Foto Koleksi Sound of Borobudur


Tentu proses itu butuh waktu tahunan. SoB telah meneliti relief tentang musik sejak 2016, lho. Inisiatornya Mbak Iie (Trie Utami).

Menarik sekali 'kan ngomongin tentang Sound of Borobudur itu? Hmm. Daripada sekadar membayangkan bunyinya, silakan langsung mendengarkannya via YouTube resmi Sound of Borobudur, ya.

Sebelum kuakhiri tulisan ini, aku hendak memberitahukan kepadamu sekalian bahwa kini berwisata ke Borobudur tidak melulu mesti ke candinya. 

Selain berswafoto enggak jelas di samping stupa, kita bisa belajar membatik dan bikin keramik. Kelak malah bisa gabung juga untuk mainin "replika" alat musik yang ada di relief Candi Borobudur.

MORAL CERITA:

Hidup ini dinamis. Demikian pula halnya dengan objek wisata.


 


Jumat, 18 Juni 2021

Mural Art di Yogyakarta (3)

34 komentar

Apa kabar Sobat PIKIRAN POSITIF? Apakah kalian merasakan lambatnya up date-an blog ini? Idem dong perasaan kita, kalau begitu. Hahahaha!

Namun, tenang saja. Aku belum berhenti menulis, kok. Kelambatan bin kelambanan terjadi sebab aku sedang fokus ikut lomba-lomba menulis dan menulis di tempat lain. Bukan karena stop menulis. 

Apakah menang? Banyak kalahnya. Yang berhasil kudapatkan hadiahnya baru yang retjeh-retjeh saja. 

Eh? Sudahlah tak usah membahas hal tersebut. Sesuai dengan judul di atas, ayo kita menikmati mural di Yogyakarta saja. Sudah seri (3), lho. Jika ketinggalan seri-seri sebelumnya, silakan baca di sini:  Mural Art di Yogyakarta 

Yogyakarta memang istimewa. Komplet keistimewaannya, baik yang terkait dengan hal menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Nah! Keberadaan mural art ini termasuk keistimewaan yang menyenangkan. 

Kalau penasaran dengan keistimewaan yang menyenangkan itu, bisa banget dinikmati di sini: Mural Art di Yogyakarta (2)

Mengapa Mural Menyenangkan? 

Mengapa mural menyenangkan? Sebab kita dapat terhibur saat melihatnya. Lebih dari itu, kita bisa mendapatkan inspirasi dan pencerahan tertentu, selaras dengan tema yang disampaikan mural yang sedang kita lihat.

Begitulah adanya. Selain berfaedah sebagai penghias kota, mural memang merupakan media penyampaian suatu pesan dengan cara santuy kepada khalayak. Katakanlah, mengedukasi tanpa menggurui. 

Tembok yang semula tampak lusuh, kumuh, dan mulai dipenuhi lumut pun dapat beralih rupa. Makin cantik dan bisa menceriakan suasana. Tidak lagi menimbulkan teror tersendiri bagi pejalan kali yang tengah melintas sendirian.  

Mural di Jalan Suronatan Yogyakarta

Melalui tulisan ini aku hendak berbagi informasi tentang mural yang ada di Jalan Suronatan Yogyakarta. Tepatnya yang mempergunakan pagar tembok sisi barat SD Negeri Ngabean sebagai kanvasnya. Tentu tembok bagian luar (jalan), ya. Bukan yang berada di halaman sekolahan.  
 
Apa tema mural di situ? Setelah kutelaah semaksimal mungkin sesuai dengan kapasitas otakku, mural di situ menyuguhkan tema umum tentang ekologi. Terkhusus menyampaikan ajakan untuk menjaga bumi dan lingkungan kita masing-masing.

Hmm. Ketimbang penasaran lebih lama, mari langsung saja simak detil estetika dan pesan yang disampaikan oleh mural di tembok SD Negeri Ngabean tersebut.







Siapa Pelukisnya?

Aku menyangka bahwa pembuat mural di tembok SD Negeri Ngabean adalah seniman Yogyakarta atau mahasiswa ISI. Sementara kawanku menduga pembuatnya para siswa SD Negeri Ngabean. Eh, ternyata sangkaan dan dugaan kami salah kabeh (salah semua).

Ternyata setelah kami cari informasinya, pelukis mural di Jalan Suronatan itu para santri Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta. Tepatnya para santriwati. Bukankah yang bersekolah di Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah hanya perempuan? Hehehe ....

Keren sekali mereka, ya? Cantik, salehah, dan kreatif. Semoga kelak di masa depan mereka menjadi para pemimpin yang dicintai bumi dan langit. 

MORAL CERITA:

Selalu ada cerita di balik sesuatu, sesederhana apa pun itu.

 

 

Sabtu, 29 Mei 2021

Malioboro dan Pecel Lele Viral Itu

26 komentar

"Kenapa kapitalis banget?!!" Demikian ucapan viral seorang wisatawan yang merasa dipecundangi saat beli pecel lele di Malioboro. 
Malioboro terkini sejak pandemi (Dokpri)

MENURUT penuturannya, pecel lele yang dibelinya dihargai super mahal dan tidak dijual paketan. Dalam arti, tiap komponen dalam menu yang disebut pecel lele itu ada harganya masing-masing. Sepiring nasi dihargai Rp7.000,00, seekor lele goreng seharga Rp20.000, dan lalapannya Rp10.000,00. 

Hmm. Nyebelin memang. Itu asliii nyebelin bin ngeselin. Kalau nasi dan lelenya terpisah masih dapat dimaklumi. Kalau lalapannya juga disendirikan begitu, gimana logikanya dong? Terlebih harganya menjadi sangat mahal untuk kategori menu pecel lele di warung biasa. 

Iya, sih. Saya paham bahwa harga makanan di destinasi wisata kondang seperti Malioboro, pada umumnya di atas rata-rata. Akan tetapi, di atas rata-ratanya tetap masih masuk akal. Tidak seugal-ugalan itu. 

Kalau seporsi pecel lele komplet dengan nasi, lalapan, dan sambal dihargai Rp10.000,00, mestinya di Malioboro cukup dihargai di kisaran Rp20.000,00-an. 

Itu mauku, sih. Andai kata aku bukan orang Jogja, itulah yang kuinginkan saat berwisata ke Jogja. Kalau sampai seporsi pecel lele mencapai Rp37.000,00 dan belum termasuk minum, wah .... 

Itu harga yang mencekik, Jenderal! Auto jera ke Malioboro, deh. Jangankan wisatawan dengan kocek secekak kocekku. Lhah si Mbak wisatawan yang cantik dan keren itu saja protes, kok. 

Aku yakin, ia protes bukan sebab enggak punya duit banyak. Yang ia protes pastilah ketidakwajaran kenaikan harganya. Jadi, ia merasa dipecundangi. 

Bukannya aku membela wisatawan dan malah menyerang sesama warga Jogja, lho. Ini bicara masalah kewajaran belaka. Namun, mau bagaimana lagi? 

Masalah serupa ini sedari dulu memang tak kunjung kelar. Usai ada yang berani speak up sehingga viral, memang dikondusifkan. Sayang sekali sekian waktu setelahnya bisa kumat lagi. Entahlah. Mungkin karena penjualnya selalu berganti-ganti atau bagaimana. 

Konon harga sewa lahan buat jualan di kawasan Malioboro sangat muahaaal. Maka wajar kalau banyak penjual yang kemudian tak memperpanjang sewa. Buat apa jualan di tempat keren jika hasilnya tak ada. Iya toh? 

Yeah. Mengingat cadasnya persaingan hidup di balik makin kerennya Malioboro, gegeran pecel lele tempo hari sebenarnya dapat dimaklumi. Akan tetapi, 'dimaklumi' di sini tidak berarti dibebaskan pasang tarif. 

Eladalaaah. Enak saja mau bebas menaikkan harga. No, no. Kesimpulannya tidak begitu, dong. 

Hmm. Aku yakin bahwa respons kalian beraneka macam. Ada yang kaget sebab baru pertama kali tahu. Ada pula yang telah tahu sehingga hanya bergumam, "Dan terjadi lagi ...." 

O, ya. Sebelum mengakhiri tulisan ini aku hendak memberikan sedikit saran terkait kulineran di Malioboro. 

Begini. Kalau merasa lapar saat berada di jalan tenar itu, sementara merasa malu untuk nanya-nanya detil perihal harga makanan dan minumannya, makanlah di Mal Malioboro saja. 

Di situ ada lapak beberapa waralaba makanan  bermerk internasional, menu Nusantara, bahkan warung padang khusus vegetarian. Harganya malah jelas. Jelas enggak begitu murah, namun terkendali. 

O, ya. Terlepas dari keruwetan harga makanannya, Malioboro sesungguhnya tetaplah menarik. Selalu bikin penasaran untuk dikunjungi. Bagi sebagian orang, bahkan selalu bikin rindu.

Kiranya beberapa foto berikut dapat membuat kalian menjadi kian merindukannya.






MORAL CERITA: 

Telitilah sebelum jajan.

 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template