Senin, 16 Mei 2022

Di Teras Malioboro 1

0 komentar
APA kabar Sobat PIKIRAN POSITIF? Masih dalam kondisi sehat dan hepi 'kan? Semoga. Masih setia taat prokes juga 'kan?

Baiklah. Sekarang berarti telah siap menyimak ceritaku ini. Muehehehe .... 
 
Cerita apakah? Tak lain dan tak bukan, cerita tentang situasi long weekend tempo hari di Malioboro. Terkhusus di Teras Malioboro 1.
 

Dokpri/Tinbe Jogja


O la la! Andai kata tahu, saya pasti akan membatalkan niat ke area super macet itu. Biasanya aku memang menghindari Malioboro saat akhir pekan dan liburan. 

Alasannya apa? Karena terlalu banyak wisatawan. Kalau kondisi berjubel pengunjung begitu, mana bisa memotret dengan leluasa? Mau minta dipotret pun susah. Salah satu buktinya ya tadi.

Duileee. Alangkah sukar mencari momentum njepret tulisan yang terpampang di halaman Teras Malioboro 1. 
 

Dokpri/Tinbe Joga

Dokpri/Tinbe Jogja

Berhubung lama enggak kosong-kosong, ya sudah. Terpaksa hasil jepretanku mengandung penampakan orang-orang. Adapun rencana untuk narsis di situ, terpaksa kubatalkan. 'Ntar aja kalau situasi dan kondisi Teras Malioboro 1 kondusif.

O, ya. Sesungguhnya ada hal yang bikin sedih dari foto tulisan di atas. Itu 'kan sesungguhnya cuplikan puisi karya Penyair Joko Pinurbo. 

Semula nama sang penyair tak dicantumkan. Kini dicantumkan meskipun yaaa terkesan apa adanya. Kurang niat gitu, deh. Parah nian!
 

Dokpri/Tinbe Jogja
Dokpri/Tinbe Jogja

Apa boleh buat? Perjalananku ke Teras Malioboro 1 sore tadi ternyata bikin sedih. Membuatku tersadarkan bahwa predikat kota pelajar tak cukup mendorong para pengelolanya di segala lini untuk mau B-E-L-A-J-A-R. 

Buktinya banyak orang menyukai kalimat viral karya Joko Pinurbo, tetapi sedikit banget yang tahu bahwa itu karya beliau. Bahkan pihak yang memerintahkan pencantuman karya tersebut di Teras Malioboro 1 pun, enggak paham.

Ini baru satu kasus. Tentu saja masih banyak kasus yang lainnya. Hmm. 

MORAL CERITA:
Masih banyak orang yang tak paham tentang hak cipta. Tidak menganggap penting pencantuman nama si empunya karya.




Minggu, 08 Mei 2022

Mohon Maaf Lahir Batin

0 komentar
HALOOO, Sobat PIKIRAN POSITIF. Mohon maaf lahir batin, ya. Bagaimana Lebaran dan liburan kalian kali ini? Membahagiakan? Mengesalkan? 

Baiklah. Apa pun warna Lebaran dan liburan kalian, mari bersyukur saja. Kalau mampu bersyukur atas apa pun warna Lebaran dan liburan itu, niscaya bakalan terasa nikmat-nikmat saja kok.

O, ya. Aku hendak menyambung cerita, nih. Dalam postingan sebelumnya, aku 'kan bercerita mengenai kondisi kami, warga Kauman Ngupasan Yogyakarta, yang tengah menunggu kepastian perihal lokasi salat Idulfitri. 

Yoiii. Pastilah tulisan tersebut kubuat jelang Lebaran, yang berarti masih Ramadan. Adapun sekarang semua sudah berlalu dan ternyata atas takdir-Nya, kami menunaikan salat Idulfitri di pelataran Masjid Gede Kauman. 

Tak berbeda jauh dengan salat Idulfitri yang kami lakukan setahun lalu, saat pandemi Covid-19 masih mencengkeram kuat.
 

Salat Idulfitri 2022
 
 

Salat Idulfitri 2021 (jamaahnya khusus warga RW 13)


Kerinduan kami untuk kembali salat idulfitri di alun alun utara tak bisa dilunaskan. Kondisinya tak memungkinkan sebab rerumputannya on process menjadi pasir. Sementara projek tersebut baru dimulai jelang Ramadan dan diperkirakan selesai Juli nanti. 



Kondisi altar alias alun alun utara jelang Lebaran 2022


Namun terlepas dari projek itu, surat permohonan izin pemakaian alun alun utara (altar) memang ditolak. Kami dipinjami hanya yang selatan. Sementara dahulu alun alun utara dan selatan dipakai semua dan jamaahnya sama banyak.

Jadi, tak mungkinlah kami serta-merta pindahan salat ke alun alun selatan (alkid). Yang biasa salat idulfitri dan Iduladha di altar bukan warga Kauman saja, lho. Penghuni kampung-kampung lain di tepian altar juga salat di situ. 

Yeah? Salat Idulfitri itu 'kan istimewa. Tak mengherankan jika orang-orang yang berdomisili jauh dari altar pun ada yang bela-belain melakukannya di altar. Sekalian syiar dan pesiar.

Terlebih sudah dua kali Idulfitri dan dua kali Iduladha tiada pelaksanaan salat di altar. Eh, tahunya malah sami mawon. Sama saja. 

Sungguh. Kami tak menyangka bahwa seiring dengan datangnya pandemi Covid-19, datang pula pagar besi tinggi di sekeliling alun alun utara. 

Yang baru kami sadari pada Lebaran 2022 ini, ternyata eksistensi pagar = hilangnya akses kami ke alun alun utara. Termasuk akses untuk numpang salat Idulfitri. 

Apa hendak dikata? Nasib rakyat jelata. Hahaha! Namun, kami tetap berharap ada keajaiban pada saat Iduladha nanti. Tak jadi soal jika kelak kami salat Iduladha dikelilingi pagar besi tinggi macam dalam kandang singa. Hiyaaah.

Demikian ceritaku tentang Lebaran, terkhusus mengenai salat Idulfitri yang kutunaikan bersama para tetangga dan bukan tetangga. Hmm. Yogyakarta memang istimewa. Selalu punya cerita dan "cerita".

Mohon maaf lahir batin ya, Yogyakarta. Aku malah ngerumpiin situasi dan kondisi altarmu terkini. Hahaha!

MORAL CERITA:
Tak semua rindu bisa dibayar lunas. Buktinya, rindu kami untuk salat Idulfitri di altar masih harus berstatus kredit.
 

Pengumuman resmi pelaksanaan salat Idulfitri 1443 H/2022 M acuan kami tempo hari







Minggu, 24 April 2022

Altar Yogyakarta dan Idulfitri 2022

20 komentar
HALO, Sobat PIKIRAN POSITIF. Gimana? Apakah sudah punya rencana, nanti hendak salat Idulfitri di mana? Eeiiit! Jangan berencana salat di  altar (alun alun utara) Yogyakarta, ya.

Mengapa? Apa sekarang ada aturan bahwa salat Idulfitri dan Iduladha di altar hanya untuk warga sekitar? Yang orang Yogyakarta coret tak boleh?

Tenanglah. Sama sekali tak ada aturan "rasis" serupa itu, kok. Adanya justru ... Kami yang warga sekitaran altar masih bingung mau salat Id di mana nanti? Hahaha!

Kalau di altar jelas tidak. Why? Karena surat permohonan izin meminjam altar telah kami terima jawabannya, yang isinya tidak diizinkan. Lagi pula, mana mungkin bisa dipakai kalaupun diizinkan? 

Mari lihat situasi terkininya ....
 

Dokpri


Yup! Selain dikelilingi pagar tinggi, altar sedang dipenuhi gundukan pasir. Truk-truk projek pun hilir mudik ke situ. Diperkirakan baru beres pada Juli 2022 nanti.

Yang boleh dipinjam alkid (alun alun kidul alias selatan). Hanya saja, alkid pun biasa dipakai salat Id. Rasanya mustahil bila seluruh jamaah yang biasa salat Id di altar dapat eksodus ke alkid. Tak bakalan cukup tempatnya.

Sementara pada waktu-waktu lalu, saat masih ada penyelenggaraan salat Id di altar, jamaahnya saja nyaris mencapai depan Gedung Agung.

Kalau kupikir-pikir, kocak juga nih kisah kami. Ibarat digantung harapan oleh Nicholas Saputra. Hahaha! 

Seriusan. Hingga kutulis ini, kami masih belum tahu pasti, di manakah kelak mesti melaksanakan salat Idulfitri? 

Saat ini sesungguhnya kami sedang menunggu jawaban atas surat permohonan izin untuk bisa salat Idulfitri1443 H/2022 M di ... Gedung Agung! 

Mungkin bisa dikatakan agak nekad, ya. Gedung Agung 'kan istana negara. Kantor presiden. Pasti cenderung ribet dengan protokol keamanannya. 

Terlebih kalau Pak Jokowi beneran jadi berlebaran di Yogyakarta. Wah, wah. Paspampresnya pastilah akan rempong banget. Kalau presidennya secara pribadi sih, santuy. 

Nah! Jika permohonan untuk numpang salat Idulfitri itu dikabulkan (diizinkan), kami bakalan salat Idulfitri di Gedung Agung. Bila tidak, ya berdesak-desakan di pelataran Masjid Gede Kauman. Atau, gabung ke alkid.

Apa boleh buat? Nasib rakyat jelata ya begini ini. Hahaha!

Minggu, 17 April 2022

Kearifan Lokal di Kauman Yogyakarta

6 komentar

Dokpri

APA kabar Sobat PIKIRAN POSITIF?  Semoga tetap sehat lahir dan batin. Jadi, bisa menyimak ceritaku tentang kearifan lokal di Kauman Yogyakarta ini dengan baik. 

Pasti Orang Nyasar, Bukan Pak Pos

Mendadak terdengar sepeda motor melaju dengan pedenya di jalan kampung. Meskipun berada di dalam rumah masing-masing, serentak daun telinga kami pun menegak. Serentak pula membatin, "Ada orang nyasar, niiih."

Kemudian sebagian dari kami menengok keluar rumah dan ramai-ramai berteriak, "WOIII .... TUUURRUUUN! TURUUUN! Motornya dituntuuun. Enggak boleh dinaiki!"

 

Dokpri

Demikian itulah teriakan kami. Terdengar sedikit sadis, ya? Hahaha!  Bikin panik pengendara yang berhati lembut pokoknya.  

Betapa tidak panik kalau tiba-tiba diteriaki ramai-ramai oleh warga setempat. Mulai dari yang rumahnya di ujung selatan hingga ujung utara, semua bersemangat berteriak. 

Jika pengendara tetap melaju santuy dengan motornya,  volume teriakan kami tambah. Jika ia masih bandel dan tak responsif terhadap perintah (teriakan) kami,  baik karena memang membandel maupun sebab tidak paham kalau diteriaki, volume teriakan kian brutal. Hahaha!

Kalau teriakan peringatan pun masih dicuekin, hohoho .... Jangan menyesal bila teriakan peringatan menjadi teriakan kemarahan. 

Nah! Biasanya setelah merasa dimarahi orang sekampung, si pengendara menjadi tersadar dan menghentikan motor. Sebuah kesadaran yang terlambat! 

Alhasil, ia kemudian diceramahi tentang tatacara berkendara di kampung kami, Kauman, Ngupasan, Yogyakarta.

Apa peraturannya? Peraturannya ya tidak boleh menaiki motor di dalam kampung. Hanya Pak Pos yang boleh. 

O, ya. Kadangkala saya ikut pula mengingatkan para pengendara nyasar serupa itu. Tentu dengan cara yang lebih halus, dong. Bukan dengan cara berteriak-teriak gegap gempita. Terlebih bila sedang sendirian. 

Namun,  tak perlu khawatir. Saat hujan ada dispensasi, kok. Sepeda dan sepeda motor boleh dinaiki. Asalkan hujannya memang cukup deras. Bukan sekadar gerimis tipis-tipis.

Dampak dari kearifan lokal tersebut signifikan. Walaupun tepat berada di pusat kota, satu kelurahan dengan Malioboro dan Titik Nol Yogyakarta, kampung tempatku berdomisili bebas polusi suara dan udara. Keren 'kan?

Sebagai pendatang aku kurang tahu pasti sejak kapan peraturan unik yang dapat disebut kearifan lokal itu berlangsung. Sudah bertanya-tanya ke para tetangga yang lebih tua, jawabannya tidak pasti. 

Namun,  aku memperoleh informasi bahwa peraturan tersebut dahulunya dibuat demi menjaga ketenangan suasana kampung. Demi tidak terganggunya para santri yang sedang belajar mengaji. 

Demikian sekelumit cerita tentang kearifan lokal di kampungku. Yang rasanya tak ada kampung lain yang punya peraturan berkendara seunik itu.


 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template