Senin, 30 Maret 2026
Dinamika Suguhan Lebaran
Rabu, 04 September 2024
Serbuan Bakpia Kukus
Sampai di sini kita sudah satu pemahaman ya, bahwa yang disebut bakpia adalah kudapan yang bentuknya seperti itu. Kalau dideskripsikan dalam bentuk tulisan, bakpia adalah kue berbentuk bulat pipih yang terdiri atas kulit dan isi. Cara pematangannya dengan dipanggang.
Kulit bakpia tipis berwarna putih tepung (karena memang dibuat dari adonan tepung). Kalau sampai ada yang berkulit tebal, berarti isinya sedikit. Itu dianggap sebagai bakpia yang kurang berkualitas. Kurang lezat. Karena enak atau tidaknya bakpia, memang tergantung pada kualitas isinya. Kalau citarasa kulitnya sih tawar-tawar saja.
Lalu, bagaimana halnya dengan isi bakpia? Dibuat dari apa? Kalau sebagai oleh-oleh khas Yogyakarta edisi zadoel, isinya kacang hijau dan kumbu hitam. Kemudian seiring perjalanan waktu, ada penambahan varian isi. Misalnya keju, cokelat, dan ubi ungu.
Kaum lansia, setengah lansia, dan jelang lansia biasanya lebih menyukai bakpia kacang hijau dan bakpia kumbu. Kedua varian itulah yang pada umumnya disebut bakpia asli. Original. Adapun yang isi keju, cokelat, dan ubi ungu disebut bakpia inovasi baru. Biasanya lebih disukai kalangan yang lebih muda.
Sampai di sini semua masih relatif baik-baik saja. Apa pun inovasi varian isinya, bentuk bakpia ya tetap seperti di atas itu. Bentuk dan citarasanya tak berubah drastis. Pembedanya cuma rasa pada adonan isi.
Dalam perkembangannya sekarang, bakpia keju dan bakpia cokelat justru telah makin diakrabi masyarakat. Tidak lagi dianggap asing seperti saat pertama kali muncul. Bolehlah dibilang telah setara dengan bakpia original isi kumbu hitam dan kacang hijau. Dengan kata lain, inovasinya berjalan mulus. No protes-protes.
Namun, lain cerita dengan saat kemunculan bakpia kukus. Terlebih kemunculannya secara masif dan ugal-ugalan. Betapa tidak ugal-ugalan kalau dalam kurun waktu kurang dari setahun, tempat tinggalku dikepung outlet bakpia kukus? Luar biasa 'kan?
Tentu tidak jadi soal kalau bentuk dan citarasa bakpia kukus linier dengan bakpia original yang dipanggang itu. Yang menimbulkan masalah 'kan bentuk dan citarasa bakpia kukus sangat berbeda dengan versi originalnya.
Kulit bakpia original tipis, sedangkan kulit bakpia kukus sangat tebal dan sesungguhnya itu bolu. Bukan the real kulit dari adonan tepung seperti pada bakpia original. Jika makan bakpia kukus, aku bahkan tidak merasa makan bakpia. Yang kurasakan, aku sedang makan bolu. Cake.
Bakpia Kukus
Memang enak, sih. Namun, enaknya bukan dalam kapasitas sebagai bakpia melainkan sebagai cake. Itu pendapatku. Pun, menurut generasi zadoel.
Lain halnya dengan gen Z dan gen alpha. Rupanya mereka lebih suka bakpia kukus. Citarasa bakpia kekinian itu ternyata lebih masuk ke selera mereka. Selera zaman telah berubah tampaknya. Apa boleh buat?
Bisa kumaklumi. Perubahan memang keniscayaan. Hanya saja kalau bakpia original lambat-laun punah, tergantikan total oleh bakpia kukus yang notabene merupakan cake, keterkaitannya dengan sejarah bagaimana? Terputus, dong?
Mungkin aku OVT. Akan tetapi, aku sungguh berharap pemda DIY terkhusus dinas terkait yang berwenang peduli akan hal ini. Jangan sampai bentuk dan citarasa bakpia original hilang begitu saja ditelan waktu.
Artikel ini adalah bagian dari latihan komunitas LFI supported by BRI.
Minggu, 05 Mei 2024
Coto Makassar Lao Manre
HALO, Sobat PIKIRAN POSITIF? Aku mau cerita tentang kebahagiaan kecil yang belum lama kurasakan, nih. Hmm. Tak lain dan tak bukan, kebahagiaan kecil yang kumaksudkan adalah tercapainya cita-citaku, yaitu nyicip coto Makassar. Hehe ...
Bagi orang lain, terutama orang Makassar, makan coto tentu hal biasa. Tak patut dijadikan sebuah cita-cita. Namun, jangan lupa. Aku orang Jawa tulen yang berdomisili di DIY. Plus tak punya kerabat/keluarga yang solid buat diajak kulineran. Jadi begitu nemu kawan-kawan yang mau diajak sarapan coto Makassar, senang banget rasanya.
Siapa yang tak hepi? Setelah sekian lama menantikan momentum makan coto, tempo hari bertepatan dengan Hari Buruh 1 Mei 2024, akhirnyaaa aku sukses nyicip coto sekalian burasnya.
Aku dan kawan-kawan tentunya makan coto di Yogyakarta. Tidak jauh-jauh ke Makassar sana. Yeah! Untunglah kotaku merupakan Indonesia mini. Dengan demikian, relatif mudah untuk mencari ragam kuliner dari segala penjuru negeri.
O, ya. Tempo hari aku dan kawan-kawan sarapan coto di Coto Makassar Lao Manre. Lokasinya di depan UNY Karangmalang, Yogyakarta. Tempatnya tak terlalu luas, tapi lumayan nyaman. Malah di sana sini dindingnya dihiasi mural juga.
Gimana menurut kalian? Menyenangkan atau tidak pengalaman sepeleku ini? Haha!
Minggu, 22 Oktober 2023
Abon Brambang Pemboros Nasi
Minggu, 24 September 2023
Sekuel Songgo Buwono
Kulit sus menyimbolkan bumi.
Daging sapi/daging ayam menyimbolkan penduduk bumi.
Telur menyimbolkan keberadaan gunung.
Selada, menyimbolkan tumbuhan.
Kuah (mayonaise) menyimbolkan langit.
Acar menyimbolkan bintang-bintang di langit.
***
Minggu, 17 September 2023
Songgo Buwono atau Songgobuwono?
O, ya. Segala yang berasal dari kraton selalu mengandung filosofi. Demikian juga halnya songgo buwono. Kudapan yang merupakan akulturasi budaya Jawa dan Eropa ini memuat filosofi kehidupan manusia.
Jumat, 17 Desember 2021
Kampanye #KejuAsliCheck by KRAFT
APA kabar Sobat PIKIRAN POSITIF? Sudah makan sehatkah hari ini? Yoiii. Selalu upayakan untuk mengonsumsi makanan sehat, ya? Ingat. Yang bakalan menyehatkan badan adalah makanan sehat. Bukan makanan sembarangan.
Tentu akan lebih membahagiakan kalau selain sehat, makanan kita juga enak. Misalnya aneka hidangan yang mengandung keju cheddar berkualitas, baik yang kejunya sekadar ditambahkan sebagai topping maupun dicampurkan sebagai salah satu bahan dasar.
Fakta Sehat Keju Cheddar
Sebagai turunan dari susu, pastilah keju cheddar mewarisi segala kebaikan susu. Termasuk mewarisi kelezatan citarasanya. Yup! Selain enak, keju cheddar mengandung banyak kalsium dan protein plus vitamin D.
| Dokpri |
Sebagaimana kita ketahui, kalsium dan vitamin D bermanfaat bagi kesehatan tulang dan gigi. Anak-anak hingga orang tua membutuhkannya. Adapun protein merupakan salah satu komponen esensial dalam pertumbuhan dan perkembangan anak.
Selain yang diuraikan di atas, masih ada beberapa kandungan nutrisi lain dalam keju cheddar. Jadi, tak perlu diragukan lagi bahwa keju cheddar merupakan sumber pangan bercitarasa lezat yang penuh manfaat sehat.
Namun, tolong digarisbawahi bahwa manfaat sehat itu hanya dapat diperoleh jika keju cheddarnya berkualitas. Iya, benar. Di sini kualitas adalah koentjie. Kalau tidak berkualitas, manfaat sehatnya pasti tidak maksimal atau malah tidak ada sama sekali.
Posisi Keju dalam Masyarakat Indonesia
Kini keju bukan sesuatu yang asing bagi orang Indonesia. Telah banyak makanan dan minuman, baik dalam kemasan instan maupun berupa fresh food, yang menawarkan citarasa keju. Terlepas dari tingkatan kualitasnya. Terlepas pula dari jenis keju yang dipakai.
| Dokpri |
Seiring dengan globalisasi (termasuk dalam bidang kuliner), memang terjadi pergeseran selera. Lidah masyarakat makin "terbuka" dan adaptif dengan rupa-rupa masakan dari belahan bumi mana saja.
Pernah mencicipi ayam geprek keju? Atau, gemar mengudap jasuke alias jagung susu keju? Atau, hobi sarapan dengan nasi goreng keju?
Itulah tiga contoh perkawinan keju dengan makanan ala Indonesia. Yang dahulunya sudah nikmat dimakan tanpa topping keju, sekarang menjadi lebih nikmat sebab ada taburan keju parutnya.
Pemakaian keju untuk aneka camilan tentu lebih masif. Bahkan sekarang, merambah pula ke pemakaian untuk minuman. Tentu di samping terkait dengan citarasa enak, pengonsumsian keju pastilah terkait dengan nutrisi yang dikandung.
| Dokpri |
Begitulah adanya. Dari tahun ke tahun, jumlah penikmat dan konsumen keju di Indonesia kian banyak. Kiranya merk-merk keju baru yang bermunculan di pasaran, dapat dijadikan indikator.
Keju Cheddar Paling Disukai
Secara garis besar ada dua macam keju, yaitu keju alami dan keju olahan. Keju alami dibuat dari susu segar, garam, kultur, dan enzim. Sementara keju olahan dibuat dari keju alami dengan tambahan bahan lain termasuk pengemulsi, padatan susu, pengatur keasaman, dan bahan pengawet.
Terkait dengan durasi proses pembuatan dan kepraktisan cara penyimpanan, amat wajar kalau pada akhirnya keju olahan yang lebih banyak beredar di pasaran. Terbukti kini banyak jenis dan merk keju olahan yang dapat kita beli di mana-mana dengan mudah.
Adapun di antara sekian banyak keju olahan, keju cheddar adalah sang juara. Masyarakat Indonesia menyukainya sebab rasa keju cheddar itu asin dan gurih. Cocok diaplikasikan ke berbagai macam makanan dan minuman.
Perlu diketahui bahwa tidak semua jenis keju cocok dipadupadankan dengan aneka makanan dan minuman. Masing-masing memiliki citarasa dan karakteristik tersendiri. Cenderung rumit dihafalkan oleh masyarakat awam.
Itulah sebabnya sangat dimaklumi kalau keju cheddar jadi pilihan utama banyak orang. Istilahnya, kalau punya stok keju cheddar sudah aman. One for all. Bisa dikreasikan dengan hidangan apa saja.
O, ya. Yang dimaksud dengan keju cheddar adalah jenis keju yang teksturnya sedikit keras dan berwarna kuning pucat atau cenderung putih gading. Selain menjadi sumber kalsium yang baik, keju cheddar kaya serat dan protein.
Lalu, mengapa disebut keju cheddar? Karena asal-muasalnya dari Desa Cheddar yang berlokasi di Somerset, Inggris.
Hasil Survei yang Mengejutkan
Konsumsi keju cheddar yang demikian marak ternyata tidak berbanding lurus dengan pengetahuan khalayak tentangnya. Survei konsumen yang dilakukan oleh KRAFT menunjukkan hasil mengejutkan.
Sejumlah 50 % responden (yang terdiri atas ibu-ibu) mengaku bahwa dalam seminggu, mereka bisa menghidangkan makanan mengandung keju cheddar kepada keluarga sebanyak 1-7 kali.
Akan tetapi, sejumlah 61 % dari responden itu ternyata tidak tahu jika produk keju cheddar olahan di pasaran, tak semuanya berbahan utama keju cheddar. Yang berarti banyak keju cheddar yang kurang berkualitas.
Selanjutnya, sebesar 77 % responden mengaku selalu membaca label klaim nutrisi pada kemasan. Sayang sekali sejumlah 48 % dari mereka tidak paham betul dengan hal-hal yang tercantum di situ.
Wah, wah, wah. Walaupun tidak menjadi responden, saya jelas termasuk ke dalam golongan orang-orang yang membaca label klaim nutrisi pada kemasan, tetapi minimal sekali kadar ngeh-nya. Belum menjadi konsumen cerdas.
Kampanye #KejuAsliCheck by KRAFT
Berdasarkan hasil survei yang mengejutkan itu, KRAFT melakukan kampanye #KejuAsliCheck. Tentu demi mengedukasi masyarakat yang notabene merupakan konsumen dan calon konsumen produk-produk keju.
Kampanye tersebut merupakan panduan untuk membaca label pangan pada kemasan keju, terutama keju cheddar. Tujuannya untuk membantu para ibu dalam memilih keju cheddar kualitas terbaik.
Seperti kita ketahui, di pasaran tersedia rupa-rupa keju cheddar dari berbagai merk. Kondisi tersebut pastilah lumayan membingungkan bagi orang-orang yang awam tentang dunia perkejuan.
Sementara kemampuan memilih keju cheddar bermutu bagus merupakan awal dari investasi sehat masa depan. Terkhusus investasi sehat bagi si buah hati. Jangan lupa. Hanya keju cheddar berkualitas yang dapat mendatangkan manfaat sehat.
Dian Ramadianti, Senior Marketing Manager Keju KRAFT, menjelaskan bahwa kampanye #KejuAsliCheck dapat diterapkan melalui dua cara mudah.
Pertama, memastikan keju pada urutan pertama komposisi (betul-betul disebut/ditulis pada urutan pertama).
Kedua, memiliki klaim nutrisi pada kemasan.
| Dokpri |
Yup! Melalui kampanye #KejuAsliCheck, KRAFT mengajak masyarakat (utamanya para ibu) untuk pintar dan cermat dalam memilih produk keju cheddar. Jangan sampai salah pilih.
Melalui label pangan yang tercantum pada kemasan, para ibu harus bisa memastikan bahwa keju cheddar yang hendak dibeli benar-benar berbahan utama keju cheddar. Keju cheddarnya mesti berada di urutan pertama komposisi bahan.
Luar biasa mencerahkan kampanye #KejuAsliCheck yang dilakukan KRAFT. Terusterang saja, sebelumnya saya tak tahu bahwa urutan penulisan bahan itu punya makna tertentu. Saya pikir ya asal ditulis lengkap saja. Eh, ternyata urutan penulisan bahannya pun mengandung makna.
KRAFT telah melakukan gerakan edukasi yang amat berfaedah. Tak mengherankan jika saat peluncuran kampanye #KejuAsliCheck, Dra. Indriemayatie Asri Gani, Apt. selaku koordinator BPOM menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh.
Dalam Virtual Press Conference saat peluncuran kampanye #KejuAsliCheck by KRAFT tanggal 3 Desember 2021 itu, beliau menegaskan pula agar ibu-ibu menjadi konsumen yang cerdas. Dalam arti selalu cek ricek kondisi kemasan, label klaim nutrisi, izin edar, dan masa kadaluarsa sebelum membeli suatu produk pangan.
Keju Cheddar KRAFT Itu Andalan Saya
Sungguh tidak berlebihan jika saya mengatakan, "Keju itu ya KRAFT. Keju cheddar itu ya KRAFT." Bisa dicek ke anak saya, yang semenjak usia batita hingga sekarang telah akrab dengan keju cheddar KRAFT.
Sebenarnya pernah juga mengonsumsi keju jenis lain dari KRAFT. Akan tetapi, yang paling cocok di lidah kami ya keju cheddarnya. Hmm. Saya kira saya tahu penyebabnya sekarang. Iya, tidak salah lagi. Keju cheddar itu 'kan one for all.
Yoiii. KRAF cheddar memang pilihan produk keju yang tepat untuk berbagai kreasi sajian lezat bermanfaat bagi si buah hati. Standar keaslian kejunya terpenuhi dan telah diperkaya dengan nutrisi.
| Dokpri |
Saya punya kisah menarik terkait keju cheddar KRAFT. Eh? Menarik atau berkesan ya istilahnya? Entahlah. Yang jelas, begini kisahnya.
Dahulu anak saya gemar makan nasi hangat dengan lauk keju cheddar yang diparut. Betul-betul hanya berlauk keju cheddar. Tidak mau ditambahi lauk lain. Sekalipun lauk tambahannya berupa ayam goreng yang juga lauk favoritnya, ia tidak mau. Wow banget 'kan?
Namun seiring bertambahnya usia dan selera makan, ia menolak kalau makan nasi berlauk keju cheddar saja. Tanpa saya tawari pun ia duluan nembung ayam goreng sebagai tambahan lauk.
Lain halnya bila makan nasi goreng. Tanpa lauk apa pun asalkan dipenuhi taburan keju cheddar, ya ayo saja. Pendek kata, kedoyanannya pada keju cheddar KRAFT memudahkan saya dalam memenuhi kebutuhan kalsium hariannya. Setidaknya, keju cheddar KRAFT telah membantu hingga 30 %-nya.
Jangan-jangan kedoyanan anak saya itulah yang membuatnya seperti tak punya rasa lelah. Main kejar-kejaran, bersepeda, lompat-lompat, dan aneka kegiatan fisik yang lain. Pokoknya jejingkrakan melulu. Bahkan, ia sempat terpilih mewakili sekolah untuk lomba lari ketika SD.
Kiranya kesimpulan saya di atas sejalan dengan apa yang disampaikan dr. Rita dalam kampanye #KejuAsliCheck bersama KRAFT beberapa waktu lalu. Beliau menjelaskan, "Keju cheddar juga bisa berperan sebagai sumber energi agar buah hati bisa terus bergerak dan tidak mudah lelah."
Nah 'kan? Sesuai sekali toh? Muehehehe .... Ini ibarat saya berpraktik dulu, belajar teorinya belakangan.
Baiklah. Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin menegaskan bahwa keju cheddar KRAFT telah memenuhi semua kriteria sebagai keju cheddar berkualitas.
Komposisinya sesuai dengan kampanye #KejuAsliCheck, yaitu berbahan utama keju asli New Zealand (ditulis pada urutan pertama) serta dilengkapi nutrisi calcimilk yang kaya akan kalsium, protein, dan vitamin D.
Yoiii. Keju itu ya KRAFT. Keju cheddar itu ya keju cheddar KRAFT. Citarasa gurihnya yang khas dan tanpa perisa tambahan niscaya bikin nagih. Syukurlah ada kampanye #KejuAsliCheck by KRAFT, yang bikin saya tercerahkan dalam hal memilih keju cheddar berkualitas. Pasti ibu-ibu lain juga tercerahkan, deh.
| Dokpri |
Referensi:
https://ibuibudoyannulis.com/wp-content/uploads/2021/12/KRAFT-KejuAsliCheck-Lembar-Fakta.docx
https://ibuibudoyannulis.com/wp-content/uploads/2021/12/KRAFT-KejuAsliCheck-Siaran-Pers.docx
https://katadata.co.id/safrezi/berita/6142edcacffe7/9-manfaat-keju-untuk-kesehatan-dan-diet
https://www.suara.com/lifestyle/2021/12/04/105227/banyak-produk-keju-cheddar-tidak-menggunakan-bahan-asli-pakar-ungkap-cara-membedakannya
Sabtu, 06 November 2021
Life Hack Terkait Minyak Goreng
APA kabar Sobat PIKIRAN POSITIF? Masih setia jaga jarak dan menghindari kerumunan? Masih setia memakai masker? Eh, maukah kalau kuajak ngerumpiin minyak goreng? Mau, ya? Hehehehe ....
Begini. Beberapa hari lalu ketika sedang jalan-jalan di negeri twitter, kudapati cuitan seorang kawan. Baca berita hari ini. Harga minyak goreng naik, jadi semua gorengan ini digoreng dengan minyak minimalis. Tetap kriuk dan renyah.
Foto yang disertakannya sebagai pelengkap caption adalah foto sepiring gorengan. Seingatku ada risoles, samosa, dan kentang goreng.
Semua itu jualannya. Ia memang menjual aneka kudapan dalam bentuk frozen. Namun, boleh pula kalau pembeli minta digorengkan sekalian. Aku tahu karena termasuk salah satu pelanggannya.
Harga minyak goreng naik? Waaah. Malah enggak tahu aku. Seriuskah? Kubalas cuitannya.
Benar, Mbak. Ini beritanya. Ia menanggapi sekaligus memberikan sebuah tautan berita terkait.
Langsung aku klik tautan tersebut. Ingin tahu kabar detilnya. Seusai membaca, kubalas lagi cuitannya. Ternyata sudah sejak kemarin. Klo gak baca cuitanmu pasti aku gak sadar klo harganya naik. Hahaha!
Kamu futuristik, Mbak. Idemu memanggang lumpia dan samosa menjadi relate dengan situasi terkini. Tulisnya.
Spontan aku membalasnya dengan sederetan emotikon tertawa lebar.
Lumpia dan Samosa Panggang
Beberapa bulan sebelumnya aku mengunggah foto dua lumpia dan dua samosa dengan caption begini. Dibakar saja supaya lebih sehat dan pastinya hemat minyak goreng. Edisi frozennya kubeli di @namakawantersebut.
Biasalah. Sambil menyelam minum air. Sambil menuntaskan hasrat narsis, sekalian mempromosikan jualan kawan.
Sungguh tak disangka, kawan tersebut tertarik sekali dengan unggahanku. Tepatnya sih, tertarik cenderung heran. Tidak menyangka kalau jualannya kumatangkan dengan cara berbeda.
Baru tahu dia kalau diriku terbiasa mengkhianati resep gorengan. Pokoknya apa pun bahan makanan yang bisa dimatangkan sempurna dengan cara selain digoreng, pasti akan kukhianati walaupun lazimnya digoreng. Contohnya ya lumpia dan samosa tadi.
| Lumpia panggang (Dokpri) |
Apakah siasat kreatif itu dilandaskan pada semangat untuk hidup lebih sehat? Atau, untuk mendukung gerakan nol emisi karbon?
Seiring waktu berjalan kedua hal tersebut memang menjadi pertimbangan. Namun sejujurnya, semula alasanku simpel belaka: tidak mau boros gara-gara keseringan buang-buang sisa minyak goreng.
Jika kudapan digoreng sesuai pakem, pastilah butuh banyak minyak goreng untuk bisa melakukan deep frying. Kurang lebih butuh dua sendok sayur, jika hendak bikin empat gorengan saja. Jelantah atau sisa minyak bekas pakainya pasti bakalan terbuang.
Lain halnya jika dipanggang. Hanya butuh sedikit minyak goreng untuk mengolesi kudapan yang hendak dipanggang. Tak bakalan ada jelantah yang mesti dibuang.
Mengapa jelantah tak disimpan dulu? Bukankah masih bisa dipergunakan sekali lagi? Tidak harus dibuang sekali pakai sehingga dapat lebih hemat 'kan?
Mohon maaf. Bukannya sok kaya dan sok sehat, nih. Tradisi menyimpan jelantah memang tidak cocok kupraktikkan. Alasannya, tidak tiap hari dapurku beroperasi. Jadi, jelantah simpanan berpotensi kadaluarsa sebab tak kunjung dipakai. Malah menunda membuang saja.
Nah! 'Kan jatuhnya boros minyak banget kalau aku nekad menggoreng dua lumpia dan dua samosa saja? Itulah sebabnya kubudayakan memanggang.
Mengapa tidak memperbanyak saja jumlah kudapan yang digoreng? Ben sumbut. Wah, yang makan siapa? Anggota keluargaku minimalis sekali. Cuma dua termasuk diriku.
Teflon Andalan
Bagaimana caraku membakar/memanggang bahan makanan? Pakai alat khusus? Oh, tentu tidak. Senjata andalanku di dapur hanyalah teflon. Jenis teflonnya pun yang standar saja. Bukan yang dilabeli anti lengket. Ini nih, penampakannya.
| Teflonku (Dokpri) |
Kalau untuk bikin telur mata sapi atau telur dadar tetap butuh sedikit minyak goreng atau mentega. Begitu pula jika hendak membakar pisang, tahu, tempe, sosis, nugget, dan aneka kudapan frozen. It's simple.
Tak Perlu Bergantung pada Minyak Goreng
Percayalah. Hidup tak akan berubah menjadi datar hanya karena berjarak dari minyak goreng. Faktanya, sekian lama saya mengkhianati resep gorengan dan hidup masih terjalani dengan jungkir balik tak keruan.
Nah, lho! Bukankah itu bukti bahwa menjalani gaya hidup minim gorengan tak serta-merta mengubah hidup menjadi datar? Hehehe ....
Jadi kalau ditantang, apa aku sanggup puasa memasak goreng-gorengan? Secepat kilat kujawab, "Siapa takut?"
Mohon jangan salah paham. Puasa memasak dengan minyak goreng tak berarti tak mengonsumsi gorengan lagi, lho. Keduanya beda pengertian.
Tolong camkan baik-baik. Aku tetaplah doyan gorengan. Yang nyaris tidak kulakukan lagi adalah membuat aneka gorengan sendiri. Kalau sedang mengidam the real gorengan, aku beli barang dua atau tiga potong. Jadi, tak perlu ikut pening mikirin kenaikan harga minyak goreng segala.
MORAL CERITA:
Hidup hanyalah tentang adaptasi untuk menyiasati kesulitan ataupun kondisi baru.
Sabtu, 03 April 2021
4 Fakta Unik Mi Instan
HALO, Sobat PIKIRAN POSITIF? Sudahkah makan mi instan hari ini? Yang edisi rebus atau edisi goreng? Berapa bungkus? Satu bungkus terasa kurang namun dua bungkus kebanyakan, ya? Ditambahi telur dan sayur atau tidak? Masak sendiri? Beli di warung burjo atau warkop?
Nah, nah. Mengapa kalian senyum-senyum dikulum saat membaca paragraf pembuka di atas? Karena baru saja melahap seporsi mi instan? Atau, malah dua porsi? Hehehe ....
Enggak usah merasa berdosa gitu, deh. Percayalah. Mi instan itu bukan aib. Mengonsumsinya pun bukanlah sebuah perbuatan dosa. Santuy sajalah.
Sejauh tidak keseringan dan berlebihan dalam mengonsumsinya, it's ok. Tak jadi soal, apalagi kalau sudah jelas-jelas bersertifikasi halal. Lagi pula, kita dapat menambahkan bahan lain yang lebih bernutrisi (misalnya telur dan sayuran) supaya mi instan yang kita makan lebih berfaedah.
Yeah! Mi instan memang menggoda. Apa boleh buat? Gurih nikmat MSG-nya bahkan bisa menjadi penghalau gejala flu. Bisa juga menjadi pengusir rasa galau.
Sudahlah. Pokoknya mi instan itu sesuatu. Kerap dinyinyiri sekaligus dijadikan solusi. Dikatakan sebagai makanan tak sehat, tetapi kenyataannya selalu dijadikan bahan pangan andalan dalam banyak situasi.
Silakan baca juga tulisanku di Kompasiana -- Mi Instan: Dinyinyiri Sekaligus Dijadikan Solusi.
Berdasarkan pengamatan dan pengalaman selama bergaul dengan mi instan, akhirnya kutarik kesimpulan bahwa bahan pangan tersebut punya 4 fakta unik. Mari simak satu per satu.
Pertama, mi instan lahir di Jepang, namun pelahap terbesarnya justru warga Cina. Berdasarkan catatan World Instant Noodle Association, pada tahun 2019 Cina mengonsumsi mi instan sebesar 40 miliar porsi. Sementara Indonesia 'cukup' menghabiskan 12 miliar porsi. Berada di urutan kedua setelah Cina,
Kedua, mi instan kerap dikampanyekan tidak sehat, namun sering dipakai sebagai isi paket bantuan sembako.
Ketiga, banyak orang sadar bahwa sering mengonsumsi mi instan tidak baik bagi kesehatan, namun kenyataannya banyak pula yang nekad menjalankan pola makan tiada hari tanpa mi instan.
Keempat, kuah mi instan rebus, terutama yang rasa kari atau gulai, ternyata makin lezat kalau dicampuri dengan susu bubuk putih (plain).
Demikian keempat fakta unik mi instan. Tentu keunikannya berdasarkan sudut pandangku, ya. Kalau ternyata menurut kalian keempatnya bukan fakta unik, ya tak jadi soal.
MORAL CERITA:
Mari mengonsumsi mi instan secara baik dan benar.
Kamis, 08 Oktober 2020
Mangut Iwak Pe KEN'S SRAWUNG
Selasa, 17 Desember 2019
Lopis Mbah Satinem Yogyakarta
Kali ini izinkan aku untuk bercerita tentang lopis yang mendunia. Tepatnya, yang mendunianya dari Yogyakarta. Nah, nah. Pasti kalian langsung kepo. Haha! Lopisnya seperti apa, sih? Kok bisa mendunia? Bisa, dooong. 'Kan lopis bikinan Mbah Satinem.
MORAL CERITA:
Banggalah dengan jajanan tradisional yang kita punya. Buktinya bisa terkenal di dunia internasional. Iya 'kan?
Jumat, 22 Februari 2019
Ayo Sertifikasikan Kehalalan Produkmu
![]() |
| Pintu masuk ke pameran |
![]() |
| Berswafoto sebelum acara dimulai |
![]() |
| Para narasumber beraksi |
Meskipun pemerintah telah berdaya upaya agar para pelaku usaha mengurus sertifikasi halal, konsumen yang kurang peduli lebih berpengaruh. Padahal, ada banyak manfaat dari sertifikasi halal. Di antaranya (1) menambah nilai jual produk, (2) memperluas pasar hingga mancanegara, (3) memperbesar omzet penjualan.
Sekali lagi, apa boleh buat? Para pelaku usaha mesti disadarkan tentang esensi halal. Dengan demikian, mereka dapat bersegera melakukan sertifikasi halal atas produk mereka. Imbauan ini termasuk ditujukan kepada kalian, ya. Siapa tahu kalian pelaku usaha yang juga belum melakukan sertifikasi halal?
Demikian oleh-oleh ilmu yang kudapat dari Jogja Halal Food Expo 2019. Yang narasumbernya dari Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta (yang kantornya sekompleks dengan markas PLUT-KUMKM DI Yogyakarta), MUI DIY, dan Fania Food. Adapun oleh-oleh yang kubawa pulang adalah tahu bakso dan Bakpia Obong.
![]() |
| Penampakan sebagian stan peserta |
![]() |
| Tahu bakso yang kubeli |
![]() |
| Bakpia Obong yang kubeli |
















