Selasa, 10 September 2019

Beli Radio Bekas di Pasar Beringharjo

SEBAGAI penggemar radio, terkhusus saluran RRI, medio September selalu istimewa bagiku. Haha! Padahal, aku hanyalah seorang pendengar setia. Bukan karyawan radio. Bukan penyiar radio. Tak pernah pula diundang sebagai narasumber di stasiun radio mana pun.

Lalu, apa kaitan antara medio September dengan radio? Hmm. Kaitannya ya dalam hal ulang tahun. Tanggal 11 September (yang berada di medio September) adalah HUT RRI sekaligus Hari Radio Nasional.

Ngomong-ngomong, tahukah kalian kalau 11 September 2019 bertepatan dengan 74 tahun RRI? Sementara tagline yang dipakai adalah 'untuk Indonesia lebih bertoleransi'? Kalau belum tahu, sekarang menjadi tahu 'kan? Hehehe ....

Sebegitu pentingkah radio bagiku? Oh, tentu. Sebab radio selalu mau menemani tanpa menuntut minta ditonton layarnya. Jadi, aku enggak tergoda untuk memandanginya sehingga lalai dengan apa yang kukerjakan.

Itulah sebabnya aku sangat antusias ketika seorang kawan minta ditemani untuk membeli radio. Terlebih ketika ia bilang hendak membeli yang bekas saja. Alasannya, sesuai dengan jumlah uang yang tersedia dan supaya unik. Wah! Cari barang unik pasti seru 'kan?

Maka pergilah kami ke Pasar Beringharjo Yogyakarta. Tepatnya di bagian penjualan barang loakan, yang berada di lantai 3 sayap utara. Wow! Aku terkesan, dong. Betapa tidak? Setelah ratusan kali menyambangi pasar legendaris tersebut, ya baru sekali itu aku ke bagian situ. *Terima kasih, Kawankuuu! *


Simbah putri penjual yang mahir mereparasi jualannya


Andai kata tidak bersama kawan yang sudah hafal seluk-beluk lokasi, aku pasti bagaikan rusa masuk kampung. Bingung. Bukan sebab takut tersesat, sih. Hanya bingung mau melihat apa? Mau mampir ke lapak yang menjual apa?

Alhasil, aku mengekor kawanku saja. Tanpa sedikit pun memiliki inisiatif untuk berhenti sejenak melihat nganu atau apa. Yeah! Daripada ketinggalan malah bakalan susah aku mencari kawanku. *Lagi kumat malasnya*


Apakah ini yang kalian cari? (1)

Apakah ini yang kalian cari? (2)


Kami pun terus berjalan hingga ke tujuan. Yakni lapak-lapak radio bekas. Setelah mempertimbangkan beberapa menit, kawanku akhirnya memilih berhenti di salah satu lapak. Ahaiii .... Perhatikanlah tiga foto di atas. Nuansa zadoel jelas terpancar 'kan? Maaf, penjualnya juga produk lama. Haha!  *Nyuwun pangapunten njih, Mbah. *

Namun, jangan salah. Simbah putri penjual radio itu keren, lho. Paham betul jualannya. Profesional. Paham komponen kecil-kecil yang terdapat dalam radio. Tahu arah kabel-kabel. Nah, lho! Bandingkan denganku yang bahkan tak paham arah hatinya. *Gubraks! *


Aku baru tahu kalau ada radio yang bermerk PESONA

Sungguh. Aku benar-benar memperoleh pengalaman baru hari itu. Di lantai 3 sayap utara Pasar Beringharjo itu. Gara-gara radio. Waaah. Ujung-ujungnya aku makin cinta pada radio. Radio yang manual lho, ya. Yang ada tombol-tombolnya untuk mencari gelombang. Seperti radio-radio yang tampak pada foto-foto di tulisan ini. 

Luar biasa. Di tengah onggokan radio zadoel itu aku seperti berada di labirin peradaban masa silam. *Halah! * Ibaratnya mendadak diajak bernostalgia. Terkhusus nostalgia dengan segala hal yang berbau radio. 

Aku menjadi teringat pada radio-radio yang pernah dipunyai oleh keluargaku. Mulai dari yang ukuran mungil hingga yang super besar. Teringat pula pada radioku sekarang, yang belinya tatkala itu bersama mantan. *Halah kuadrat! *


Ada jam dinding dan kipas angin juga

Simbah putri sedang melayani calon pembeli


Secara finansial, usaha penjualan radio bekas zadoel mungkin tak lagi bisa diandalkan. Tak bisa lagi untuk menjadi topangan hidup. Namun, cinta adalah cinta. Simbah putri penjual radio bekas itu pastilah seorang radio lover. Para pembelinya pun demikian. Jadi, mereka bertransaksi sepenuh cinta. Tak sekadar transaksi jual-beli atas nama roda perekonomian.

Apa boleh buat? Bagaimanapun harus diakui bahwa makin canggihnya teknologi radio telah membuat radio manual tersisih. Lambat-laun makin banyak orang yang mendengarkan radio secara live streaming. Bisa jadi radio manual tinggal menunggu waktu kepunahannya. Duh!

Ah, sudahlah. Itu soal nanti. Mari nikmati dulu kondisi saat ini. Yakni saat sebagian orang, termasuk aku dan kawanku, masih lebih suka mendengarkan radio manual daripada live streaming. Kiranya tak bijak untuk meresahkan sesuatu yang belum kita hadapi 'kan? Lagi pula siapa tahu satu dekade lagi, radio manual justru kembali berjaya.

O, ya. Kalau kalian ingin seperti kawanku, membeli radio bekas di Pasar Beringharjo, silakan langsung ke bagian belakang. Sayap utara itu letaknya berdekatan dengan area parkir Toko Progo. Oke? Jika tetap bingung mencarinya, silakan tanya saja. Insyaallah orang-orang paham. kok.

MORAL CERITA:
Ayo melarisi simbah putri penjual radio bekas itu.



26 komentar:

  1. Membaca artikel ini, saya jadi flashback zaman SMP. Mampir ke toko elektronik buat mencari komponen trafo biar radio di rumah gak boros baterai.
    Zaman itu ternyata gak bisa diganti sama sekali dengan radio di smartphone maupun podcast di spotify.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yoiii, Mas. Ada sensasi dan romantika yang berbeda dengan radio nonmanual.

      Hapus
  2. Betul sekali, radio manual semakin tersisih dan terpinggirkan.
    Sekarang tiap gadget ada frekuensi radionya, sehingga tampak lebih praktis dan fleksibel.
    Saya sangat salut, ketekunan dan bertahannya. Jempol buat mbah putri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak-anak zaman now, yang masih TK-SMP gitu, banyak yang gak tahu tentang radio manual.

      Hapus
  3. Ya di kota kami itu malah sudah langka, kalau bisa saya pingin koleksi radio zaman penjajahan Jepang yang besarnya kayak tv itu lho...saya memang belum pernah melihat aslinya tapi gambarnya masih ada di Google.

    BalasHapus
    Balasan
    1. weih, saya kok rasanya pernah lihat radio segede tipi itu ... lamat-lamat saya ingat, tetangga di kampung halaman sono ada yang punya...

      Hapus
  4. Ih suka, klasik gitu, jadi pengen.. salam kenal mba aku juga lagi domisili di jogja nih hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haloo, salam kenal balik, ayoklah ke penjual radio klasik itu ...

      Hapus
  5. radio radio oh radio, sampai sekarang selalu setia menemaniku di pagi hari, dengerin kultum via radio.

    BalasHapus
  6. Ah mbak bisa aja. Ya, pasti bingung lah nyarinya, ke Jogja juga belum pernah, hihi.
    Tapi ga apa, radio tua saya masih setia mengantarkan berita dan hiburan.
    Selamat Ulang Tahun yang ke-74 buat RRI.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tenang, Mbak, kalau ada kesempatan ke Jogja silakan hubungi saya, insyaallah ntar saya pandu ... hahaha...

      Hapus
  7. Wah radio nostalgia banget , tiap shubuh pasti acara ceramah paginya berita olahraga siang ampe full musiikk kangenn jaman-jaman sebelum gadget berkeliaran deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Mas. Tatkala gadget masih menjadi barang mihil, kirim-kiriman salam di radio adalah vurys yang merajalela...hahaha!

      Hapus
  8. Aaaa keren nih beli radio di bringharjo. Kl aku mentok2nya ke bringharjo cm beli batik doang. huhuhu
    Kl ke sana lagi coba mampir lapak radio mbah putri ah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... Itu yang keren kawanku, aku sih beli sate gajihnya ajaaaa.

      Hapus
  9. Si Mbahnya pasti pinter ngutak ngatik radio nih. Saya barusan beli speaker aktif, eh ada radio nya, jadi enak nih bisa dengerin radio juga... Kalo dari Depok jauh ya, hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa, kalau dari Depok Jakarta, Pasar Beringharjo memang jauuuh ... hahaha ...

      Hapus
  10. Hai Kak... kok seru sih beli radio bekas di Pasar Beringharjo. Apalagi suasananya juga cocok buat foto-foto nih. Eh... karena aku belum membutuhkan radio bekas.
    Cuma keren banget ya Mbak Putri bisa mengotak-atik radio, sepertinya beliau memang pecinta radio sejati nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. haii ... yoiii, seru juga main-main ke situ, bisa mendadak bernostalgia...

      Hapus
  11. beberapa radio jaman saya masih SMP tuh mba, utamanya jenis compo... aih sudah jadi barang antik sekarng yah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah hahaha ... lihat foto-foto di atas bisa bernostalgia, Bang jadinya ...

      Hapus
  12. Walah ini ada beneran di pasar beringharjo?
    Aku pengen radio jadul yg slurannya masih AM
    ada ga ya?
    cma yg siaran ada ga ya?
    itu klasik abis,, bikin asik aja pakai yg klasik :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Adaa dooong, yang saluran AM pun ada...tapi ta entag kalau uang siaran...hahaha ... coba aja dulu, Kak.

      Hapus
  13. waahh barang-barang kayak gini, bikin paksu jadi kalap nih, blio paling suka barang lama, katanya antik ke blio hahaha

    Btw saya masih punya radio sih, masih sering saya puter.
    Biar anak-anak masih tahu ada benda bernama radio hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha ....bisa aha, Mbah Rey .... iya, aku pun masih punya radio zadoel yang berfungsi.

      Hapus

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!

 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template