Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Maret 2026

Dinamika Suguhan Lebaran

23 komentar

HALO, Sobat Pikiran Positif? Kamu mengalami atau menyadari dinamika suguhan Lebaran atau tidak? Dari yang semula kekunoan menjadi kekinian? 

Suguhan yang kekunoan itu kalau di Jawa Tengah dan DIY (sejauh pengalamanku) misalnya tape ketan sendok emping. Tape ketannya dibungkus daun pisang dengan ukuran kecil-kecil. Adapun cara makannya disendoki dengan emping. 

Iya, disendoki pakai emping. Camilan kriuk yang berpotensi bikin kumat asam urat itu. Ehehehe ...  tapi enak luar biasa citarasanya. Bagi yang sehat-sehat saja tentunya. Foto tape ketan sendok emping yang di atas itu, ya.

Lalu, ada pula kue kembang goyang. Yang entah gimana alasannya, oleh sebagian orang disebut ampyang. Sementara ampyang kalau seingatku, merujuk pada jajanan yang dibuat dari kacang tanah yang dicampurkan dengan gula merah (gula jawa). Itulah sebabnya ampyang sering juga disebut gula kacang.

Terkadang memang begitu. Sejauh pengalamanku, banyak nama jajanan tradisional yang simpang siur penyebutannya. Tidak sama di tiap daerah meskipun bahan dan wujudnya sama. Nah. Kalau di daerahmu kue kembang goyang yang penampakannya kayak di bawah ini disebut apa? 



Selain tape ketan sendok emping dan kue kembang goyang, tentu masih banyak suguhan Lebaran yang zadoel. Antara lain wajik, kue lapis, rempeyek, jenang (dodol), kacang bawang, marning, dan rengginang. Nah, nah. Kamu yang gen Z tahu semua jajanan yang kusebut itu atau tidak?

Begitulah adanya. Suguhan Lebaran zaman dulu, sejauh pengalaman masa kecilku, mayoritas bukan produk pabrikan. Jajanan tradisional merajalela saat Lebaran tatkala itu. Maklumlah, ya. Aku tinggal di pedesaan. Bolu dan kue kering homemade pun masih asing.

Jadi di kampung halamanku dulu, jelang malam takbiran orang-orang sibuk bikin kue-kue tradisional untuk suguhan esok hari. Kalau tape ketan bikinnya beberapa hari sebelumnya karena butuh proses fermentasi. 

Apakah tidak bikin ketupat dan opor? Tidak. Tradisi makan ketupat dan opor plus lepet bukan pada tanggal 1 Syawal. Selepas Shalat Idulfitri makan nasi biasa. Lauknya apa saja sesuai kemampuan. Yang kaya pastilah menyembelih ayam dan bikin opor. Namun, tetap tanpa ketupat. Belum saatnya ketupat muncul.

Lalu, kapan ketupat opor muncul di daerah kami? Seminggu setelah Shalat Idulfitri, dong. 'Kan pada hari kedua Lebaran orang-orang mulai berpuasa Syawal (puasa sunan). Hingga 6 hari ke depan. Pada hari keenam berpuasa sunah itulah, yakni bertepatan dengan tanggal 7 Syawal, orang-orang bikin ketupat dan lepet. Esok harinya tibalah Lebaran Ketupat kami.

Mari balik ke suguhan Lebaran. Seiring bertambahnya usiaku, terjadilah dinamika suguhan Lebaran. Pelan-pelan tape ketan sendok emping dan pasukan jajanan tradisional lainnya tergeser biskuit kalengan. Hingga akhirnya sekarang keberadaan tape ketan sendok emping saat Lebaran menjadi eksklusif.

Apa boleh buat? Sekarang pun saya mesti berbesar hati menerima suguhan Lebaran kekinian. Semacam yang tampak dalam foto-foto berikut ini.


Tidak apa-apa. Lidahku ini adaptif banget, kok. Mau disuguhi jajanan yang kekunoan atau yang kekinian, yang tradisional Indonesia atau yang mengandung unsur Belanda kayak kaastengels, ayo sajalah. Yang penting halalan thoyyiban. Haha! 

Kalau kamu gimana, nih? Apa pendapatmu tentang dinamika suguhan Lebaran? Idem denganku atau tidak? Yuk, sampaikan di kolom komentar.


Minggu, 16 Maret 2025

IAD dari Galeri HP

20 komentar
HALO Sobat PIKIRAN POSITIF? Sehatkah? Bahagiakah? Semoga, ya. Semangat, semangat. Ayolah songsong Lebaran dengan gembira. Hehe ...

Kegiatan kalian apa selama Ramadan 2025 ini? Selain bekerja bagi yang pekerja kantoran? 

Kalau aku sebagai penulis dan editor lepas, kegiatanku pun tak jauh-jauh dari dunia tulis-menulis. Bahkan sebagaimana beberapa tahun sebelumnya, aku ikutan blog competion di Kompasiana. 

Nah. Itu berarti tiap hari selama Ramadan, aku mesti mengunggah sebuah tulisan yang temanya telah ditentukan admin. 

Tidak capek? Capek juga, sih. Namun, kalau sampai bolong sehari didiskualifikasi dari hadiah utama. 😁😁

Jadi, capek enggak capek aku tetap maksain diri buat nulis. Sejadinya sajalah. Demi menuntaskan komitmen awal, yaitu bersedia ikut menulis sebulan penuh.

Lagi pula, aku 'kan ingin juga menjadi penulis kaya dan beken seperti IAD. Hahaha! Ngomong-ngomong, adakah di antara kalian yang kenal dengan IAD? 

Iqbal Aji Daryono itu, lho. Salah satu mentor menulis yang terkenal dari Yogyakarta. Yang dalam foto-foto di bawah ini beliau tampak dikerumuni kaum wanita.  


Entah bagaimana ini tadi. Ketika sedang beres-beres galeri HP, ketemulah foto-foto saat acara Workshop Menulis  Essay. Tentu dengan IAD sebagai narasumber.





Minggu, 16 Februari 2025

Efisiensi Anggaran dan UGM

26 komentar
Gedung Pusat UGM (Dokpri Agustina)


HALO, Sobat Pikiran Positif? Semoga kalian tidak sedang galau gara-gara isu Efisiensi Anggaran, ya. Woilah. Bukan isu. Maaf, maaf. Itu betulan. Fakta.

Gimana, ya? Sejujurnya aku bingung juga dengan persoalan Efisiensi Anggaran ini. Ketika awal tahu adanya kebijakan tersebut, responsku seketika sangat setuju. Aku bahkan kesal kepada orang-orang yang menentangnya.

Dalam bayanganku, kebijakan tersebut bisa memusnahkan kebiasaan buang-buang anggaran saat jelang penghujung tahun. Pun, instansi-instansi negara bakalan lebih hemat dalam menyelenggarakan kegiatan masing-masing.

Misalnya pertemuan tak lagi dilakukan di hotel, tetapi di kantor saja. Lebih hemat jadinya. Tak perlu bayar sewa tempat. Tak perlu juga ada ongkos transportasi. 

Kemudian untuk akomodasi makan dan minum, bisa dikurangi jumlah dan jenisnya. Misalnya selama ini isi kotak snack adalah 3 jenis kudapan, sekarang dijadikan 2 jenis saja.

Akan tetapi, suatu hari aku bertemu dengan seorang kawan. Dia seorang ASN di sebuah kementerian. Perihal Efisiensi Anggaran pun menjadi topik obrolan kami. 

Nah. Obrolan tersebut membuatku tahu kalau ada sudut pandang kami yang berlainan. Insyaallah kawanku objektif meskipun seorang ASN. Tidak semata-mata menentang kebijakan Efisiensi Anggaran secara membabibuta.

Dia menyampaikan bahwa kantornya bukanlah tipe kantor yang terbiasa melakukan mark up anggaran kegiatan. Dengan demikian, pengurangan anggaran lumayan berpengaruh dalam pelaksanaan program-program kegiatan.

Aku masih biasa-biasa saja tatkala menyimak penuturannya itu. Namun, saat dia menyampaikan bahwa yang paling menyedihkan adalah bakalan adanya putus hubungan dengan beberapa UMKM, hatiku mencelos. 

Di situlah aku tersadarkan. Kebijakan Efisiensi Anggaran mau tidak mau pasti akan berdampak secara luas. Seketika aku teringat snack-snack yang kuterima dalam acara-acara di UGM. 

Di kotak kardus snack-snack tersebut selalu tertera nama jasa penyedianya. Adapun jasa penyedianya bermacam-macam. Yang berarti UGM menjalin kerja sama dengan beberapa usaha kuliner.

Kiranya itulah pula yang terjadi di kantor kawanku. Instansi pemerintah itu menjalin kerja sama dengan beberapa UMKM di sekitarnya. Mulai dari UMKM penyedia makan dan minum hingga transportasi dan akomodasi lain.

Iya, iya. Jalinan kerja sama dengan UMKM pelbagai bidang itu berarti ikut menggerakkan roda perekonomian. Alhasil, Efisiensi Anggaran besar-besaran berpotensi memutus kerja sama tersebut. Yang berarti mengganggu pergerakan roda perekonomian. Wah?!

Setelah tahu bahwa dampak Efisiensi Anggaran tak cuma ditanggung ASN, aku menjadi  resah. Sungguh tak kusangka kalau hal-hal yang terdampak bakalan sebanyak itu. 

Keresahanku kian memuncak saat membaca informasi di X. Informasi tentang apakah? Tentang pengaruh Efisiensi Anggaran terhadap pemberian beasiswa dan KIP Kuliah. 

Duh, duh. Apa jadinya ini nanti? Apa kabar sekian banyak mahasiswa UGM yang merupakan penerima beasiswa dan KIP Kuliah? Masak iya harus diputus tiba-tiba? Sementara banyak mahasiswa UGM yang memutuskan kuliah sebab adanya beasiswa.

Semoga cerita buruk terkait Efisiensi Anggaran dan beasiswa pendidikan tidak bakalan ada. Semoga.




Minggu, 17 November 2024

MuseumKu Gerabah Timbul Raharjo

44 komentar
HALO, Sobat PIKIRAN POSITIF? Aku mau bercerita tentang sebuah museum baru. Lokasinya di Kawasan Desa Wisata Kasongan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tak lain dan tak bukan, museum yang kumaksudkan adalah MuseumKu Gerabah Timbul Raharjo.

Dokpri Agustina

Cara penulisannya memang "MuseumKu", ya. Bagian "Ku" memang diawali huruf kapital meskipun terletak di tengah kata. Tentu saja hal demikian diizinkan sebab  yang dipergunakan konteks estetika. Bukan konteks EYD.

Mengapa pakai embel-embel "Ku"? Bukankah pada umumnya cukup ditulis "museum"? Karena museum ini memang spesial. Milik pribadi. Bukan museum pada umumnya yang notabene milik instansi atau komunitas tertentu.

Lalu, milik pribadi siapa? Sudah pasti milik seseorang yang bernama Timbul Raharjo. Sebagaimana yang tertera di bagian depan museum.

Baca juga sebagai pelengkap, tulisanku di Kompasiana ini.

Mungkin kalian merasa tak asing dengan nama tersebut. Terlebih kalau berkuliah di ISI Yogyakarta. Yup! Bapak Timbul Raharjo adalah seorang seniman, pengusaha, dan akademisi.

Puncak karier beliau sebagai akademisi adalah menjadi Rektor ISI Yogyakarta periode 2023-2027. Namun, Tuhan berkehendak lain. Ternyata baru 5 bulan menjalani amanah sebagai rektor, beliau dipanggil pulang oleh-Nya. 

Seniman yang sekaligus profesor itu rupanya ditakdirkan segera menghadap-Nya. Mewariskan banyak kebaikan, inspirasi, dan rencana-rencana. Salah satu rencana yang belum dilaksanakannya adalah meresmikan pembukaan museum pribadinya.

MuseumKu Gerabah Timbul Raharjo direncanakan dibuka secara resmi pada tanggal 8 November 2023. Tepat pada HUT ke-54 beliau. Akan tetapi, pada tanggal 5 September 2023 Allah Swt memanggil beliau pulang ke haribaan-Nya.

Apa saja isi MuseumKu Gerabah? Tentu sesuai dengan namanya, isinya mayoritas karya gerabah yang dibuat oleh Profesor Timbul Raharjo.

Dokpri Agustina
Dokpri Agustina
Dokpri Agustina
Dokpri Agustina
Dokpri Agustina
Dokpri Agustina
Dokpri Agustina

Foto-foto di atas memperlihatkan karya gerabah, yaitu karya yang berbahan dasar tanah liat. Namun, MuseumKu Gerabah Timbul Raharjo juga menyimpan karya berbahan dasar lain. Misalnya yang tampak pada foto-foto berikut.

Dokpri Agustina
Dokpri Agustina

Koleksi museum tidak hanya diletakkan di dalam ruangan. Yang berukuran besar diletakkan di luar ruangan. Dijadikan penghias di seantero kawasan museum. Ada yang di halaman luar. Ada yang tersebar di sela-sela meja kursi kafe.

Dokpri Agustina

MuseumKu Gerabah tidak semata-mata museum. Selain menikmati keindahan koleksi gerabah dan koleksi lainnya, di situ kita bisa menikmati kudapan dan minuman. Konsepnya menyatukan museum dan kafe. Plus menyediakan sarana edukasi tentang karya gerabah sekalian workshop-nya.

Dokpri Agustina
Dokpri Agustina

Tidak perlu ragu untuk berlama-lama nongki estetik di MuseumKu Gerabah. Jam bukanya sejak pukul 08.00 WIB-20.00 WIB. Terlebih fasilitas kamar mandi dan musala juga tersedia. Makin tak ada alasan buat ragu. Begitu azan Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya berkumandang, kamu bisa langsung menunaikan salat fardu.

Perlu diketahui, MuseumKu Gerabah Timbul Raharjo didedikasikan Profesor Timbul Raharjo untuk Kasongan yang merupakan kampung halamannya. Plus sebagai tanda cinta dan terima kasih.

Keren, keren. Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati meninggalkan budi. Insyaallah Profesor Timbul Raharjo mewariskan banyak karya yang menginspirasi dan mengedukasi.

Jadi, kapan kamu berkunjung ke MuseumKu Gerabah Timbul Raharjo? Agendakanlah waktu untuk ke situ, ya.

Dokpri Agustina

Sebagai pemanasan sebelum betulan datang ke MuseumKu Gerabah Timbul Raharjo, kamu bisa mengintip videonya terlebih dulu. Silakan klik saja tautan di bawah ini.



Rabu, 11 September 2024

Memori Wastafel Covid-19

28 komentar
HALO, Sobat Pikiran Positif? Masih ingatkah kamu dengan situasi semasa pandemi Covid-19? Tatkala tiap saat digaungkan anjuran untuk di rumah saja dan bekerja dari rumah, hingga akhirnya tiba pada masa PPKM dan berujung bebas beraktivitas di luar lagi, tetapi dengan kenormalan baru.

Adapun kenormalan baru (new normal) yang dimaksudkan, tak lain dan tak bukan berupa kewajiban untuk memakai masker. Tiap orang harus bermasker jika berkegiatan di luar rumah. Terutama kalau kegiatannya mesti berinteraksi dengan orang lain. Bahkan, porsi interaksinya dibatasi. Tidak boleh lama-lama dan jumlah orangnya tidak boleh banyak-banyak. Harus pula jaga jarak.

Lalu, ke mana-mana kita mesti membawa hand sanitizer. Kalau mau menggaruk area muka yang gatal, kita mesti membersihkan tangan dulu. Hendak makan atau minum pun demikian. Bisa dengan hand sanitizer yang kita bawa atau dengan mencuci tangan di wastafel umum, yang mendadak bermunculan bagaikan cendawan di musim hujan.

Iya, lho. Selama pandemi Covid-19 di seantero kotaku bermunculan wastafel umum. Bentuknya beragam. Ukurannya berlainan. Ada yang tampilannya mewah, ada yang simpel saja. Ada yang disediakan oleh instansi tertentu, ada yang disediakan perorangan. Salah satunya yang tampak pada foto berikut.



Wastafel yang tampak pada foto di atas merupakan wastafel resmi dari pemkot Yogyakarta. Dibagikan ke kampung-kampung yang termasuk ke dalam wilayah Kota Yogyakarta. Dengan demikian, kamu pasti tidak familiar dengan wastafel hijau itu kalau tidak berdomisili di Kota Yogyakarta.

Kupikir-pikir, seruan untuk cuci tangan sangatlah keren. Terlebih disertai dengan disediakannya wastafel di berbagai titik. Jadi, bukan model anjuran omdo alias omong doang.

Makin keren ketika ternyata penyedia wastafelnya berasal dari berbagai kalangan. Tidak hanya dari pihak pemerintah. Bukankah ini menunjukkan kepedulian tinggi dari masyarakat?



Mungkin sebetulnya ada yang kurang peduli. Mereka bisa jadi ikut menyediakan wastafel demi tujuan tertentu. Misalnya untuk keperluan branding. Namun sebagai rakyat jelata, hal itu tak jadi masalah bagiku. Yang terpenting adalah manfaat dan fungsinya.

Sejujurnya aku merasa hepi dengan kehadiran wastafel di tempat-tempat umum. Terlebih kalau bentuknya estetik. Sebab selain memudahkan kalau hendak mencuci tangan pada saat nongkrong, wastafelnya bisa dipotret. Koleksi foto wastafelku banyak, lho. Sampai kubuat album di Facebook.



Namun seperti yang biasa terjadi, wastafel-wastafel itu kini tiada berbekas. Apa boleh buat? Pandemi berhenti, budaya cuci tangan juga dipaksa berhenti. Kalau wastafelnya saja dihilangkan, otomatis kita tidak bisa mencuci tangan. Karena fasilitasnya tidak ada, lama-kelamaan budaya cuci tangan yang telah terbangun menjadi runtuh. Dipaksa berhenti.

Ke manakah wastafel-wastafel itu? Entahlah. Akan tetapi, kuyakin kalau semuanya pasti dijadikan rongsokan. Saat masih berada di lokasinya saja dibiarkan berkarat. Pun, tak ada air bersihnya.



Sayang banget sebetulnya. Andai kata semua wastafel umum warisan zaman pandemi Covid-19 itu dirawat, dipelihara baik-baik sehingga tetap berfungsi, tentu orang-orang hingga sekarang masih bisa mempergunakannya. Dengan demikian, ajaran gaya hidup sehat melalui kebiasaan mencuci tangan tetap lestari.

Perlu diketahui, kebiasaan mencuci tangan (apalagi dengan sabun) adalah salah satu kunci hidup sehat. Bukan cuma saat pandemi Covid-19, melainkan kapan pun. Bahkan ada Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia, lho. Yang jatuhnya tiap tanggal 15 Oktober.

Nah 'kan? Sayang bangeeet, malah peranti penunjang kebiasaan cuci tangannya dimusnahkan. Tanpa jejak sama sekali. Untung saja aku sempat mendokumentasikan sebagiannya.

Heran juga. Kenapa kita selalu begini? Di awal berlomba-lomba membuat wastafel aneka bentuk, ujungnya berlomba-lomba mengabaikan pemeliharaannya. Sementara kalau semua wastafel terpelihara baik, bisa sekaligus berfungsi sebagai monumen pengingat. Pengingat bahwa kita pernah melewati pandemi Covid-19.

Sekali lagi, apa boleh buat? Suka tidak suka memang harus diakui bahwa kita ini punya budaya "bisa membuat, tetapi tidak piawai merawat". Apakah perlu diruwat?

Artikel ini adalah bagian dari latihan komunitas LFI supported by BRI.

 

Minggu, 25 Agustus 2024

Bung Karno di Titik Nol Jogja

30 komentar
HALO, Sobat Pikiran Positif? Mumpung masih Agustus, kita ngomongin pahlawan yuk. NKRI yang resmi berdiri tanggal 17 Agustus 1945 'kan sebab perjuangan para pahlawan. Mulai dari pahlawan yang namanya tercatat oleh tinta emas sejarah, hingga pahlawan tak dikenal.

Nah. Kali ini yang hendak kubicarakan adalah Bung Karno. Mengapa Bung Karno yang kupilih? Simpel saja alasannya. Karena tempo hari ketika malam-malam lewat Titik Nol Jogja, ada patung Bung Karno di pojokan perempatan. Patungnya pun berukuran raksasa sehingga mencolok mata.


Kalian pasti tahu beliau 'kan? Kalau sampai tidak tahu kok ya sungguh keterlaluan. Bung Karno atau yang nama lengkapnya Soekarno adalah proklamator kita. Dengan didampingi oleh Bung Hatta, beliau menyatakan kemerdekaan Indonesia 79 tahun silam. Di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta, pada Jumat tanggal 17 Agustus 1945.

Sungguh. Luar biasa besar ukuran patung Bung Karno yang kujumpai itu. Aku malah penasaran, bagaimana cara mengangkutnya dari studio (tempat pembuatan) sampai ke situ. Ke pojokan Gedung BNI yang ada di perempatan Titik Nol Jogja itu.


Namun, sayang sekali aku tidak menemukan keterangan tentang patung Bung Karno tersebut. Sudah celingukan ke sekitar patung, di bawah-bawah dekat kedua telapak kakinya, tetap tak kutemukan keterangan. Jadi, diriku tak tahu itu karya siapa dan dibuat dari bahan apa. 

Memang sih, aku dan dua temanku malam itu langsung tahu kalau patung berukuran raksasa tersebut adalah patung Bung Karno. Kukira orang-orang Indonesia pada umumnya juga tahu. Akan tetapi, para wisatawan mancanegara 'kan rata-rata tidak tahu. Tatkala malam itu pun aku sempat melihat seorang mas bule nan tamvan celingukan ke sekitar kaki patung. Rupanya dia mencari keterangan juga. Yang tentu saja hasilnya nihil.

Yeah! Apa boleh buat?

Minggu, 09 Juni 2024

Nongkrong Nangkring di Vredeburg

29 komentar
HALO, Sobat PIKIRAN POSITIF? Gimana nih, akhir pekan kalian? Ke luar kotakah? Berlibur di dalam kota sajakah? Tetap kerjakah? O, baiklah. Apa pun jawabannya, semoga kalian menjalaninya dengan hepi.

Ngomong-ngomong, adakah di antara kalian yang saat ini sedang berkunjung di Yogyakarta? Terkhusus di Museum Benteng Vredeburg (MBV), yang mulai 7 Juni 2024 lalu kembali dibuka untuk umum setelah renovasi besar-besaran?


Baiklah. Kalau ternyata tidak ada, tak jadi soal. Cuma sediiih. Mengapa kalian tidak berkunjung ke MBV? Lokasinya mudah sekali dijangkau. Sangat strategis sebab berseberangan dengan istana kepresidenan dan berdekatan sekali dengan Titik Nol Yogyakarta. 

Sementara sehabis direnovasi besar-besaran, MBV kian nyaman dan bersih. Terlebih ada tambahan spot istimewa di sisi selatannya. Begini ini nih, penampakannya. Nyaman buat nongkrong di ketinggian sembari memandangi kesibukan kota nun jauh di sana.

Bayangkan bila nongkrong di situ saat senja. Tatkala lampu-lampu kota mulai dinyalakan. 🥰🥳







Yup! Spot istimewanya berupa tempat nongkrong di ketinggian. Dari situ kita bisa melayangkan pandangan ke gedung-gedung bersejarah di sekitar MBV. Antara lain Gedung Bank Indonesia, Kantor Pos Besar, dan Gedung BNI.

Nah. Gimana menurut kalian? Indah atau indah banget?

FYI, seiring dengan adanya renovasi tentu ada perubahan HTM. Penyesuaian. Disesuaikan agar tidak terlalu murah. Hehe ... Namun, jangan khawatir. Sampai tanggal 14 Juni nanti HTM masih Rp0,00. Jadi, silakan segera berkunjung.


 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template