Minggu, 31 Januari 2021

New Normal Tamansari Yogyakarta

APA kabar Sobat PIKIRAN POSITIF? Semoga senantiasa sehat dan sehat, baik lahir maupun batin. O, ya. Kalian masih ingat pada tulisan di blog ini yang berjudul Pandemi Corona dan Tamansari? Semoga masih. Kalau lupa atau malah belum baca, silakan klik di sini dulu supaya lebih afdal dalam membaca tulisan ini. Hahaha!

Yeah .... Setelah sempat sepi sekali sebab ditutup sekian waktu, objek wisata Tamansari kembali semarak setelah wisatawan kembali diizinkan berkunjung. Namun, tentu saja tata cara berkunjungnya tak sama dengan dahulu. Jangan lupa. Kini era kenormalan baru alias new normal, Bung! Wisatawan tak lagi bebas berseliweran dan berkerumun di seantero kompleks Tamansari.

Tata Cara Berkunjung

Lalu, bagaimana tata cara piknik ke Tamansari pada era kenormalan baru ini? Oke. Mari simak penjelasan berikut. 

Pertama, pikirkan baik-baik apakah kalian memang urgen sekali untuk berpiknik atau tidak. Kalau memang urgen demi keberlangsungan kesehatan psikis, berangkatlah dengan disertai doa yang serius. Namun, pastikan bahwa kondisi tubuh kalian memang sehat. Pastikan pula kalian telah memakai masker dan/atau face shield.

Kedua, jangan lupa menyiapkan duit lebih banyak ketimbang saat piknik pada masa old normal (sebelum pandemi). Lho? Kok gitu? Iya, dong. Kalau dulu 'kan cuma untuk beli tiket masuk plus biaya kamera sudah cukup. Tak sampai Rp10.000,00. Kalau sekarang mesti siap-siap untuk membayar jasa pemandu wisata juga. 

Ketiga, bersedia untuk dicek suhu tubuh ketika tiba di lokasi. Andai kata suhu tubuh kalian tinggi dan tak diizinkan masuk, ya pasrah saja. Tak usah bandel dan berdemonstrasi. Pulanglah dengan ikhlas dan tak perlu mengomeli petugas. 

Keempat, bila lolos cek ricek suhu tubuh, kemudian silakan cuci tangan pakai sabun di tempat yang telah disediakan. Keran cuci tangannya sistem pedal, kok. Jadi, tangan kalian tak usah menyentuh keran untuk mematikan air. 

Kelima, beli tiket secara tunai. Enggak perlu dicicil segala dan memang enggak boleh.

Keenam, tak usah kecewa dilanjut marah-marah sebab sekarang kunjungan ke Tamansari dibatasi durasinya. Maksimal 45 menit. Hmm. Berniat memolorkan waktu kunjungan? Mana bisa? 'Kan pemandu wisata dan petugas pemantau di tiap pos sigap mengawasi?  

Ketujuh, wisatawan wajib mengurangi kontak dengan penduduk setempat. Tak boleh lagi sok akrab sok dekat seperti ketika kunjungan pada era kenormalan lama dahulu. Kalau mau jajan ya berkomunikasi seperlunya, seefektif mungkin.

Mengapa Wajib Memakai Jasa Pemandu Wisata?

Dahulu sih, wisatawan bebas melenggang sendirian tanpa pemandu. Tentu dengan risiko tak mendapatkan keterangan detil tentang situs Tamansari. Namun, pada era kenormalan baru sekarang, wisatawan mesti dipandu. Pemandu wisata kini tak hanya bertugas memberikan informasi terkait situs, tetapi juga bertugas menjaga jarak antarwisatawan.

Maksudnya begini, lho. Sebelum pandemi, wisatawan bebas masuk dengan rombongan besar ataupun kecil. Kalau sekarang, ada pengaturan. Satu rombongan diisi 5-10 orang. 

Jika satu rombongan mulai memasuki gerbang Tamansari, rombongan berikutnya mesti menunggu beberapa waktu. Tidak boleh langsung menyusul. Setelah rombongan pertama meninggalkan spot pertama dan menuju spot kedua, barulah rombongan berikutnya boleh masuk. Demikian seterusnya.

Tentu tujuannya agar tak terjadi penumpukan wisatawan di satu spot. Untuk menjaga jarak. Kabar baiknya, kondisi demikian membuat wisatawan tak perlu mengantre lama untuk jeprat-jepret. Iya 'kan?

Tiap pemandu wisata baru akan mengajak rombongannya beranjak ke spot lain jika telah dikabari petugas terkait. Pokoknya HP dan HT dimaksimalkan penggunaannya, deh. 

O, ya. Jangan coba-coba menyusul rombongan lain di tengah perjalanan. Mengapa? Sebab di titik-titik tertentu ada petugas yang mengawasi pergerakan wisatawan. Misalnya jarak antarrombongan terlalu dekat, bakalan disemprit. Rombongan depan diminta segera bergegas, rombongan belakangnya diminta berhenti dulu. Kalau hal ini terjadi, berarti pemandu wisatanya agak melamun. Hmm.

Senarai Harga

Silakan cermati daftar berikut. Meskipun sewaktu-waktu bisa berubah, insyaallah perubahannya tetap masuk akal. 

WISATAWAN DOMESTIK

Tiket masuk Rp5.000,00, tiket kamera Rp3.000,00, foto prewedding ++ Rp250.000,00, foto session pelajar/mahasiswa++ Rp150.000,00, foto session++ Rp250.000,00, dan foto produk++ Rp500.000,00.

WISATAWAN MANCANEGARA

Tiket masuk Rp15.000,00, tiket kamera Rp5.000,00, foto prewedding++ Rp500.000,00, foto session++ Rp500.000,00, dan foto produk++ Rp500.000,00.

Sekarang, ayo teliti diri masing-masing. Termasuk wisatawan domestik atau mancanegara? Hehehe ....

Jam Buka dan Alamat

Situs Tamansari Yogyakarta berlokasi di Kampung Patehan, Kemantren Kraton, Yogyakarta. Jam bukanya 09.00 WIB-15.00 WIB. 

Kemantren adalah sebutan untuk kecamatan yang berada di wilayah Kodya (Kota) Yogyakarta. Jika ingin tahu lebih detil tentang kemantren, bisa dibaca di tulisan berjudul "Aku Warga Kemantren Wirobrajan" ini.  

Cara Tiba di Lokasi

Ada banyak cara untuk menjangkau Tamansari. Bisa dengan jalan kaki, berlari, naik sepeda, naik motor, naik mobil, atau  naik andong. Pilih yang ternyaman dan paling masuk akal saja, deh. Yang penting, kalian tidak kesasar. Namun rasanya, kalian tak perlu kesasar. Tamansari ini 'kan dekat sekali dengan kraton. Dari kraton tinggal berjalan sedikit ke arah barat.

Tak usah khawatir tentang tempat parkir bila menaiki kendaraan pribadi. Area parkirnya cukup luas, kok. Terlebih pada masa pandemi begini. Masih relatif lengang.

Suasana di Tamansari Pagi Hari Sekali 

Sekarang tiba saatnya aku memamerkan foto. Tenang, tenang. Kali ini bukan berupa foto-foto narsisku, kok. Percayalah. Hanya ada satu fotoku. Itu pun tampak dari kejauhan.

O, ya. Semua foto kuambil sekitar pukul setengah delapan. Selepas pura-pura joging. Di tengah perjalanan menuju rumah kawanku yang domisilinya memang satu RW dengan objek wisata ini. Yang asyiknya, demi menyingkat durasi perjalanan, kami mesti menempuh jalan pintas, yaitu area pelataran bagian dalam Tamansari. 

Beginilah serunya punya kawan yang tinggal di dekat destinasi wisata.  Punya akses masuk sebelum jam buka resmi. Tanpa dimarahi.

Ngomong-ngomong, kalau kalian pernah ke sini, pasti pernah pula melewati gerbang yang tampak di foto pertama. Di balik gerbang yang tertutup itu terdapat kolam-kolam yang dahulu dipakai untuk mandi para putri dan permaisuri. 

Aku memotretnya dari arah dalam, ya. Andai kata saat memotret tiba-tiba pintu terbuka bagi wisatawan, posisiku tentu bagaikan penerima tamu. *Ya ampuuun, terobsesi banget jadi penerima tamu di acara mantenan.*



Kini di bagian kiri dan kanan gerbang ada tempat cuci tangan


Tempat cuci tangan yang keren 'kan?

Tiga logo instansi di tempat cuci tangan

Sebenarnya aku kepo dengan adanya logo Candi Borobudur di tempat cuci tangan itu. Apa maksudnya, tempat cuci tangan tersebut merupakan bantuan dari institusi pengelola Candi Borobudur? Entahlah. Kawanku juga tak tahu jawabannya. Lalu, kami sama-sama bingung hendak menanyakannya kepada siapa. 

Sudahlah. Nanti kucari tahu lagi kapan-kapan. Sekarang, mari nikmati kesenyapan kondisi Tamansari menjelang jam buka kunjungan. Ada seorang nenek yang menyapu. Ada mas-mas yang menyiapkan lapak jualan minumannya. Ada warga setempat yang melintas. Jangan lupa, ada pula aku yang memotret. Hehehe ....




 

Yang tak kusangka, kalau pagi-pagi sekali ternyata di pelataran bagian dalam Tamansari ini mendarat banyak burung dara. Sepertinya sih, cari makan. Terlihat jinak dan mudah didekati. Akan tetapi faktanya, susah sekali bagiku untuk mendekat demi sekadar berfoto bersama. Atau mungkin, dasar akunya saja yang keliru memilih metode pendekatan. Hahaha!



 

Baiklah. Kukira cukup sekian tulisan ini. Sudah lumayan panjang. Semoga berfaedah dan membahagiakan kalian. Terima kasih telah sudi membacanya. Semoga sudi pula memberikan komentar. 

Kalau ingin tahu keindahan sisi lain Tamansari, kalian dapat membacanya di "Wisata Kamera di Pulo Kenanga" ini.

 

MORAL CERITA:  

Kalau mau berwisata ke Tamansari atau ke mana pun, pastikan tubuh kalian beneran sehat dan tidak ketinggalan dompet.




23 komentar:

  1. tambah ruwet ya mbak, mau masuk ke sana :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bhahahaha! Iyaaa memang jadi ruwet. Mesti cepet-cepet pula.

      Hapus
  2. Ribet juga ya peraturannya ??? Dan ??? Itu seriuskah lokasinya bisa untuk pre- wedding ??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, jadi agak ribet sebab lokasinya amat mepet dengan rumah warga.

      Silakan lihat, klik tautan di alinea terakhir ini. Kalau ingin tahu keindahan sisi lain Tamansari, kalian dapat membacanya di "Wisata Kamera di Pulo Kenanga" ini.

      itu baguuuuus, buat prewed.

      Hapus
  3. Duh nggak bisa berlama - lama photo-photo donk kalau dibatasi cuma 45 menit. Harusnya ada cara lain biar melakukan protokol kesehatan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saat ini cara itulah yang dianggap paling logis, mas. Mengingat jumlah pengunjung dan kondisi lokasi yang sungguh di tengah perkampungan padat.

      Namun, saya pun berpendapat bahwa 45 menit memang terlalu singkat. Saran saya, kalau punya kawan orang Jogja, mending selain masuk resmi, minta anterin kelilingan secara pribadi di kampung sekitar obwis Tamansari ini.

      Hapus
  4. bener banget kak pesan terakhirnya...terpenting itu dompet dan isinya...sayang isi dompetku tebal tapi tebal karena struck infomaret xixixixix


    mantul tenan liputan taman sarinya...tak ke sana ah kalo pas sowan yogya...dulu jaman esemoe cuma sampe pelataran ngarep kak...nda masuk e malah aku sibuk tuka tuku brem dan salak hahahaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ealaaahhhh, malah shopping oleh-oleh. Padahal, kalau dahulu mau masuk Sumur Gumuling, masih boleh naik-naik pepotoan. Sekarang sudah gak boleh.

      Hapus
  5. Bersyukurpah saiaaaaa .. ,sebelum corona datang udah berkali2 datang ke Taman Sari, hahaha.

    Sekarang gegara ada kororo jadi ngga leluasa begitu.
    Eh, tapi kalau buat lokasi fefotoan asik juga sih ngga ada kerumunan.
    Hasil foto lokasinya ngga kelihatan rame kayak cendol dawet *lol

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha .... Bersyukurlah Anda dan selamat berbahagia. Iya, klo dari segi hasil foto menguntungkan sekali. Sepiii. Hihihi ....

      Hapus
  6. Kok bisa mahal banget yak foto session nyaa.? Kalau buat foto doang apa gak bisa free aja? Jiwa diskonan dan pencari gratisan ku meronta ronta

    BalasHapus
    Balasan
    1. Klo pakai kamera HP gratis, Kak. Namun, klo kliatan bawa kamera beneran apalagi plus ubarampe macam tripod dll, ya udah dicegat di depan, disuruh bayar. Ngeselin sih, sejak ngehitz kian mahal. Dahulunya pas belum begitu tenar gak kayak gitu juga.

      Hapus
  7. Wah, kalau ke Tamansari mendingan pagi-pagi kali ya. Tentunya nggak waktu weekend atau hari libur. Masih sepi, jadi masih lebih mudah jaga jarak.

    BalasHapus
  8. cara mengatur agar tidak terjadi penumpukan pengunjung, patut ditiru di tempat lain

    BalasHapus
  9. Ketat juga peraturan di Tamansari, mau tunggu sampai keadaan normal biar bebas juga tidak tahu sampai kapan, bahkan tahun 2022 juga belum tentu sudah bebas korona.

    Berarti sekarang tiap mau ke Tamansari wajib pakai pemandu ya mbak biar tidak ada penumpukan pengunjung?

    BalasHapus
  10. Wisata di Jogja memang selalu mempesona. Duh pengen lain main2 ke sana. Dua kali ke jogja taunya cuma malioboro. wwkkwkwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itulah masalah banyak wisatawan dari luar Jogja. Malioboro lagi Malioboro lagi, Hehehehe .....

      Hapus
  11. wah aku engga ke taman sari lagi sejak corona
    jadi pengen ke sini lagi bu

    BalasHapus
  12. Kalau menurut saya wajar sih harus pakai pemandu, karena memang ada prokes jaga jarak.
    Kalau nggak pake pemandu, pengunjung itu susaaahhh banget dibilangin, apalagi kalau udah kena mak-mak egois, waahh kelar urusannya hahaha.

    Tapi diri saya sedih, bahkan belom pernah ke sini sama sekali hahaha

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!

 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template