Tampilkan postingan dengan label kopi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kopi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Mei 2020

Solo+Imlek+Hujan = Syahdu

6 komentar
Lampion Imlek di seputaran Pasar Gede Solo

... dan kami berteduh di Kedai Kopi Pak Agus ...


SELASA ini, tanggal 5 Mei 2020, para sobat ambyar  benar-benar merasakan keambyaran massal. Iya. Sang Maestro musik campursari, Didi Kempot, kembali ke pangkuan-Nya pagi tadi. Linimasa medsos pun penuh dengan ungkapan bela sungkawa. Mau tidak mau, diriku yang sejatinya juga mengidap keambyaran akut (tapi enggan memproklamasikan diri sebagai sobat ambyar), ikut terbawa suasana. 

Alhasil terjadilah pembelokan tema, untuk up date –an blog yang tayang hari ini. Semula akan menayangkan tulisan bertema bangunan heritage di Yogyakarta, lalu berbelok arah menjadi tulisan beraroma baper semacam ini. Yang sedang kalian baca ini. 

Hmm. Apa hubungan antara kabar duka tersebut dengan pembelokan tema? Lho, lho, lho. Jangan lupa. Solo ‘kan kota asal Lord Didi Kempot? Itulah benang merahnya. Hehehe .... 

Pokoknya apa pun istilahnya, yang jelas kabar duka hari ini bikin aku terkenang pada Solo. Terkhusus saat perayaan Imlek, Januari 2020 lalu. Yang rasanya demikian romantis dan syahduuu.

Jalanan depan pasar selepas hujan

Mereka di sana ....

Entah apa yang membuatku belakangan ini, demikian antusias pada Solo. Kalau sebab kangen pada makanannya, jelas tidak. Kalau sebab pekerjaan, sangat jelas tidak sama sekali. Please, deh. Tolong jangan paksa aku untuk menjawabnya secara tepat. Lhah wong aku sendiri tak tahu. 

Bisa jadi penyebabnya adalah kenangan. Namun, entah kenangan yang mana dan yang seperti apa? Aku bahkan ragu, benarkah aku punya kenangan di Solo atau terhadap Solo? Wah, mbulet.

Sudahlah. Tak penting semua itu. Intinya di sini, aku cuma hendak berbagi perasaan saja. Yakni perasaanku tatkala berkunjung ke Solo tempo hari. Terkhusus di seputaran Pasar gede. Tepatnya ketika perayaan Imlek berlangsung.   


Di depan klenteng bersejarah

Ada apa dengan Imlek dan Solo? Hmm. Ada lampion-lampion dan hujan yang menerbitkan kesyahduan, dong. Plus kisah-kisah unik dan konyol yang kami alami. Salah satunya keterkejutanku saat beli nasi kucing di HIK (di Solo angkringan disebut HIK). Lhah?! Kok ukuran nasinya beneran sedikiiit? Lebih kecil ketimbang nasi kucing di angkringan Jogja.



....

....

Selain cerita tentang nasi kucing, ada pula cerita tentang kami yang nyaris ketinggalan kereta saat hendak pulang ke Jogja. Apa penyebabnya? Tak lain dan tak bukan, penyebabnya adalah kemacetan dan keengganan kami meninggalkan Solo. 

Parah memang. Sebab makin malam suasananya makin syahdu, kami merasa sangaaat berat untuk pulang. Padahal, sudah sejak pagi kami muter-muter di seputar Pasar Gede itu. Ah, Solo. Mengapa perasaanku mesti begini ini terhadapmu? Muehehe ....        


Sebenarnya dua ABG itu yang berfoto, tapi aku iseng nimbrung



Kiranya begini saja celotehan ke-baper-anku kali ini. Semoga (walaupun sedikit dan entah bagaimanapun bentuknya) ada manfaatnya bagi kalian. Semoga pula bisa menginspirasi kalian untuk pergi ke Solo juga. Kelak. Saat pandemi COVID-19 sudah berakhir. Ketika perayaan Imlek tahun depan kembali diselenggarakan.

MORAL CERITA: 
Ternyata hujan tetap menjadi komponen sangat penting untuk menyusun perasaanku!









Selasa, 25 Desember 2018

Rembugan di Rembug Kopi

8 komentar
BELAKANGAN ini di mana-mana kedai kopi bermunculan. Bak cendawan di musim hujan. Tak terkecuali di Jogja. Tentu dengan konsep, menu, dan rentang harga yang berbeda-beda. Sudah pasti masing-masing kedai punya plus minus. Punya poin unggulan yang ditawarkan. Punya juga sisi kurang yang dikeluhkan konsumen. Alhasil, para calon konsumen bisa memilih sesuai dengan kondisi dan kebutuhan mereka.




Salah satu kedai kopi yang baru-baru ini kukunjungi adalah Rembug Kopi. Itu lho, yang berlokasi di Jalan Veteran. Yang persis berada di samping masjid. Jadi mau nongkrong selama apa pun di situ, dijamin tak bakalan ketinggalan shalat lima waktu berjamaah. Bila sampai ketinggalan, kesalahan pasti terletak pada diri orang yang ketinggalan itu. Bukan semata-mata kesalahan setan.

Nah! Lokasi dekat masjid adalah poin utama yang bikin aku merekomendasikan Rembug Kopi sebagai tempat nongkrong. Poin selanjutnya adalah variasi menu dan harga yang terjangkau. Wah!  Singkong dan pisang gorengnya endeuusss, lho.



Meskipun bukan penikmat kopi, jangan menolak bila diajak nongkrong di Rembug Kopi. Sebab ada banyak jenis minuman selain kopi di situ. Camilannya pun rupa-rupa. Dan rata-rata, porsinya mengenyangkan.





Tapi ada hal yang bikin kesal. Pelayanannya kurang cepat. Aku bagi pengalamanku tempo hari, ya. Tatkala itu aku dan temanku memesan jus alpukat. Kami tunggu lamaaa, eh, yang muncul pemberitahuan kalau alpukatnya ternyata belum matang.

Lalu, kami ganti menu. Aku memilih rembug anget. Temanku memilih smooties pisang. Eh, ternyata pisangnya enggak ada. Temanku pun kembali berpindah haluan. Dia memilih smooties mangga. Alhamdulillah ada.

Etapiii ... jamur krispi kami lamaaa bangeeet tersuguhkannya. Untung enak. Jadi, lumayan bisa meredam kekesalan kami. Haha! Untung pula desain interiornya membahagiakan. Kalau tidak, waaah ....

Demikian ceritaku tentang Rembug Kopi. Kapan kalian mengajakku untuk bercerita-cerita di situ? Jangan menjawab kapan-kapan lho, ya.





Jumat, 13 April 2018

Fungsi Air Bagiku

0 komentar
DEMI membaca judul di atas, jangan serta-merta berpikir tentang hal yang serius. Bukan. Tulisan ini tak bakalan membahas tentang air dari sudut pandang IPA.

Lalu, dari sudut pandang apa? Dari sudut pandang yang asyik bermanfaat, dong. Hehehe ....

Begini ceritanya. Semua bermula dari siangku yang sedikit berbalut mendung. Dan kurasakan, udara lumayan gerah. Menyebabkanku kerap kali merasa haus.

Lalu, pikiranku yang memang mudah melantur ke mana-mana mendadak teringat pada sesuatu. Ya, gara-gara haus melulu aku jadi teringat pada air. Air, air, dan air. Bukan pada senyumanmu. Haha! *Memangnya kamu bisa menjadi peredam haus?*

Hingga pada satu titik aku tercenung. Bertanya-tanya serius dalam benak, "Andaikata tak ada air, sehariii saja, apa yang akan terjadi?"

Tak usah dipikirkan lama-lama, jawabannya jelas, "Dunia akan kacau balau."

Minimal, orang-orang bakalan tidak mandi seharian. Pokoknya bakalan susah untuk melakukan aneka kegiatan yang terkait MCK. Daaan tentu saja, mereka terancam tidak bisa ngopi seharian. Nah, nah. Ini! Justru inilah yang paling berbahaya. Orang-orang terancam tidak bisa ngopi. Haha!

Jadi, kesimpulannya .... Jreng jreng jreeeng ....

Fungsi utama air adalah untuk bikin kopi! Kalian setuju atau tidak? Kalau tidak setuju tak apa-apa, kok. Toh jawabanku itu kurang serius. Kalau serius 'kan mestinya langsung dipinang. Eh? Hehehe ....




Untuk menyeduh kopi adalah salah satu fungsi air



Apakah kalian masih menunggu jawaban seriusku? Oalaaah. Ternyata masih toh. Tatap mata kalian menunjukkannya begitu. Baiklah, baiklah. Inilah jawabanku. Sebab sesungguhnya merupakan orang yang sangaaat serius, insya Allah aku senantiasa memfungsikan air sebagai sarana bersyukur.

Hmm. Sekarang aku nanya, dong. Apa fungsi air bagi kalian? Samakah denganku?


MORAL CERITA:
Rasa syukur itu bisa dipantik oleh apa saja dan dari mana saja.



 

Selasa, 27 Maret 2018

Ada Kopi Luwak di Teras Candi Pawon

6 komentar

MASIH ingat dengan ceritaku saat berwisata ke Candi Pawon 'kan? Hmm. Kalau lupa atau malah belum membacanya, bisa banget lho kalau langsung klik "Candi Pawon" ini.

Nah! Seusai mengelilingi kompleks Candi Pawon yang seuprit, ternyata kami mendapatkan bonus. Bonusnya berupa kunjungan ke Pawon Luwak Coffee. Yakni sebuah tempat ngopi yang berada di satu lokasi dengan kompleks Candi Pawon.

Meskipun sekadar berkunjung, hanya melihat-lihat dan tidak mencicipi seduhan kopinya, aku tak kecewa. Buat apa kecewa? Toh masih banyak hal lain yang kudapatkan dari situ.

Belum juga masuk ke Pawon Luwak Coffee, pengetahuanku tentang kopi sudah bertambah. Betapa tidak? Di depan kedai kopi tersebut aku--untuk pertama kalinya--melihat bebijian kopi luwak yang fresh from the oven. Alias ... masih menggumpal sebab masih bercampur dengan kotoran luwak!


Kopi luwak yang fresh from the oven


Lalu begitu di dalam, mau tak mau aku ber-WOW-ria. Ternyata di halaman dalam ada beberapa ekor luwak. Aku senang, dong. Tak menyangka kalau akhirnya aku bisa kopdaran dengan binatang yang bernama luwak. Haha!


Sepasang luwak ini sedang bermalas-malasan


Tapi jangan salah duga. Bukan luwak-luwak di situ yang "memproduksi" kopi. Yang dijemur di halaman tadi "diproduksi" oleh luwak-luwak liar yang menyambangi perkebunan kopi di Wonosobo. Demikian informasi yang kami terima dari Mbak Penjaga.

Kopi Luwak Tulen

Yang dijual di Pawon Luwak Coffee adalah kopi luwak tulen. Citarasanya betul-betul asli kopi luwak. Baik berjenis arabica maupun robusta.

Lalu, apa sebenarnya keistimewaan kopi luwak itu? Konon kopi luwak selalu berkualitas premium. Sebab secara naluriah, luwak selalu mencaplok biji-biji kopi yang oke punya. Yang kurang oke pasti diabaikannya.

Selain itu, kopi luwak dipercaya lebih aman untuk lambung. Mengapa begitu? Karena fermentasi alami dari luwak bikin tingkat keasaman kopi menurun.

Sebab kualitas dan proses panjangnya sebelum bisa diseruput, harga kopi luwak menjadi mahal. Tahukah Anda? Harga secangkir kopi luwak di Pawon Luwak Coffee mencapai ratusan ribu rupiah, lho. Informasi yang kuperoleh, harga terendahnya sekitar Rp20.000,00.

Pengunjung Pawon Luwak Coffee mayoritas orang asing. Yang notabene merupakan kaum wisatawan mancanegara. Jadi, bandrol puluhan hingga ratusan ribu rupiah untuk secangkir kopi luwak segar tak terhitung mahal. Kalau dikonversi ke dalam dolar 'kan menjadi jauh lebih murah.

O, ya. Jika tak punya waktu untuk minum di tempat, Anda bisa membeli bubuk kopi luwak yang siap seduh. Yang tampilannya seperti ini, nih.

 
Silakan dipilih ...

Asyik dan Punya Sensasi Tersendiri

Pawon Luwak Coffe mujur sekali bisa punya lokasi di dekat situs bersejarah. Namun, sebaiknya kian mempergencar promosi. Mengapa demikian? Sebab sejauh pengamatanku, banyak orang yang belum tahu akan keberadaan Pawon Luwak Coffee.

Yeah! Pokoknya kalau ingin menikmati sensasi ngopi di teras candi, datanglah ke Pawon Luwak Coffee.Tapi jangan datang malam, ya. Jam bukanya sekitar pukul 7 pagi hingga jelang Magrib saja. Oke?


Salah satu sudut di teras belakang Pawon Luwak Coffee

Khusyuk banget si Mas main HP-nya

Ngopi di bawah payung memang syahdu (asalkan tidak sedang hujan)

Menurutku, ngopi syantik di Pawon Luwak Coffee itu punya sensasi tersendiri. Hmmm. Kubayangkan asyik banget rasanya. Sudahlah (serasa) bisa nongkrong di teras Candi Pawon sembari ngopi; sudahlah pula bisa mencecap kesegaran kopi luwak asli.

Suatu hari nanti aku mesti "iseng" ngopi syantik di situ, deh. Ada yang mau nemenin? Ehem.

MORAL CERITA:
Bepergian itu selalu bisa mendatangkan informasi baru. Maka banyak-banyak bepergianlah agar bijak dan tak baperan!


Selasa, 27 Februari 2018

Tiga Menu Baru Tirana

0 komentar
SEBUAH senja pada suatu Kamis yang manis ... 

Aku--yang manis--bersama dengan Mini GK (sang novelis) dan Ardian Kusuma (sang fotografer)--mereka juga manis--dijamu manja oleh Mbak Nunuk. Iya. Mbak Nunuk yang pemilik Tirana Art House and Kitchen itu. Tentu saja kami dijamunya di #tempatngopiasyik tersebut. 

Diselingi aneka obrolan dan kelakar yang bermanfaat, Mbak Nunuk mengenalkan tiga menu baru yang ada di Tirana Art House and Kitchen. Ketiganya adalah (1) Banana Crispy; (2) Risoles; (3) Double Cream Latte. Wuiiih! Makin lengkap saja kudapan yang dapat dinikmati di situ.

Banana Crispy
Menilik namanya, sudah pasti kudapan ini berbahan dasar banana alias pisang. Tepatnya pisang kepok kuning yang dipotong-potong seukuran satu suapan, lalu dibaluri gandum plus tepung panir, kemudian digoreng kering. Jadi, sangat keren efek kriuknya.

Jangan salah paham. Keringnya bukanlah kering yang seperti tempe keripik lho, ya. Pokoknya kering maksimal yang sewajarnya bagi pisang goreng. Yang kerennya, tak ada sisa-sisa minyak goreng yang menetes-netes dari si banana crispy.

Lalu, bagaimana dengan rasanya? Alhamdulillah rasanya cucok wow-wow di lidahku. Nagih bangetlaaah. Memuaskan. Terlebih pada dasarnya, aku ini 'kan penggemar pisang goreng. Sudah begitu, satu porsinya bisa mengenyangkan dua orang (tentu yang tidak sedang kelaparan). Haha! 

Banana Crispy bertabur keju (jika tak suka keju, bisa ditaburi cokelat meises)


Risoles
Menu berikutnya adalah risoles. Bila memesan satu porsi risoles, kita bakalan mendapatkan 3 potong risoles yang berukuran lumayan besar. Tentu sangat mengenyangkan. Satu porsinya cukup untuk dimakan berdua atau malah bertiga.

Risoles di Tirana Art House and Kitchen berisikan sayuran, daging ayam, dan keju mozarela. Hmm. Cleguk! Para penggemar keju sepertiku pasti suka dengan kehadiran si keju mozarela itu. O, ya.  Untuk menikmati risoles tersebut disediakan saus  sambal yang tak terlalu pedas.


Satu porsi risoles


Double Cream Latte
Kok kudapan melulu? Minumannya enggak ada? Kopi apa gitu? 'Kan Tirana Art House and Kitchen merupakan tempat ngopi? Hmm. Baiklaaah. Sekarang, mari kita rumpiin menu baru yang berupa minuman.




Double Cream Latte! Itulah nama yang disematkan untuk jenis minuman terbaru di Tirana. Komposisinya antara lain ekspresso, susu cair, krim, dan es batu. Yang dicampur dengan takaran dan cara tertentu ala Tirana Art House and Kitchen. Dan selanjutnya, dikocok dengan hitungan (durasi) tertentu. Sesuai dengan hitungan yang paling pas menurut barista Tirana.

Bagaimana rasanya? Uenaaak, dooong. Cucok wow-wow diminum tatkala senja terasa gerah atau ketika kita sedang ingin menyeruput yang dingin-dingin. Tingkat kemanisannya pun pas. Tipis-tipis sahaja.

Namun, tak usah khawatir. Kalau Anda ingin menambah kadar kemanisannya--supaya semanis senyumanku--juga boleh, kok. Tinggal ngomong secara santun kepada sang barista. Haha!

Itulah 3 menu baru yang ditawarkan Tirana Art House and Kitchen. Kapan Anda akan mencicipinya? Sttt. Bawa seratus rebu untuk berdua sudah bisa hang out cantik dan kenyang, lho.



Jumat, 02 Februari 2018

Tentang Rinduku

6 komentar
Just because you miss someone, doesn't mean you need them back in your life. Missing is just a part of moving on... (Macklemore) 



MUMPUNG Jumat, mari bicara tentang rindu dan kerinduan. Etapiii .... Selain pada Hari Jumat sebenarnya ya tetap boleh-boleh saja kok, memperbincangkan rindu dan kerinduan. Bebas. Sejauh tidak sampai mengikis keutuhan bangsa dan negara, juga keutuhan hubungan orang lain, bebaskan saja. 

Lalu, ada apa dengan rindu dan kerinduan? Mengapa tiba-tiba kali ini aku ingin mengulasnya? Hmm. Mengapa, ya? Sesungguhnya memang tidak ada penyebab khususnya, sih. Aku hanya ingin mengulasnya. Begitu saja.

Mungkin karena hatiku sedang dirundung rindu. Jadi aku amat berharap, kerinduanku akan tertuntaskan-terkurangi setelah memperbincangkannya. Apalagi setelah menuliskannya begini. Di blog ini. Haha!

Duileee! Memang merepotkan bila kita tengah didera rindu pada seseorang. Segala ingatan dan energi kita seolah-olah tersedot pada orang tersebut.

Lalu tak jarang, kita tercebur dalam penyesalan-penyesalan enggak jelas. Merasa ingin kembali memutar waktu. Merasa ingin kembali bersama orang yang kita rindukan, padahal sebenarnya kita sama sekali tak membutuhkannya lagi .... #sadis

Apa boleh buat? Faktanya, rindu memang tak selalu bisa tersampaikan-tertuntaskan. Gawat memang. Sementara kondisi demikian berpotensi merisaukan hati di sepanjang waktu 'kan?

Untung saja aku kemudian teringat pada sebuah "nasihat". Konon, kopi selalu bisa menenangkan hati yang rindu meskipun kerinduan yang menderanya belum tersampaikan-tertuntaskan. Maka berhubung dia yang kurindukan berada jauh di sono, terlebih sebenarnya memang tak berhak kurindui, aku memutuskan untuk ngopi syantik saja.


Aku dan DC Latte by Tirana Art House & Kitchen (pic - Ardian K)



MORAL CERITA:
Pandai-pandailah mengelola perasaan rindu. Bila memang tak layak dituntaskan, ya diredam dengan ngopi syantik saja. Oke?

Jumat, 17 November 2017

It's Tirana Art House & Kitchen

4 komentar
HUJAN menderas Sabtu siang itu. Tapi syukurlah pada sekitar pukul empat sore sudah beranjak menjadi gerimis. Dan setengah jam kemudian, tatkala kumulai perjalanan, langit tak lagi mengirimkan tetesan airnya. 

Aih! Mau ke mana, Maaak? Mau malam mingguan Ke Tirana Art House & Kitchen, dong. Mau ngopi-ngopi mesra di situ. Eeeeaaaa! *Eh? Ngopi mesra atau ngopi akrab, ya? Ngopinya 'kan ramai-ramai dengan anak KBJ?* 

Singkat cerita, sampailah aku di lokasi tujuan. Yakni yang beralamat di Jalan Suryodiningratan Nomor 55 Jogja. Tentu seperti biasanya, diantar oleh driver gojek. Ndilalah aku diturunkan tepat di sebelah plang papan nama dan papan pengumuman ini. Ya wis. Sekalian kufoto saja.


O la la! Ternyata di seberang papan pengumuman yang pertama ada satu papan lagi. Yang tulisannya menginformasikan tentang pelaksanaan pameran tunggal dari seniman yang bernama Cahaya Novan. Tempat pelaksanaan pameran ya di Tirana Art House & Kitchen.



Aha! Pahamlah aku mengapa tempat ini dinamakan Tirana Art House & Kitchen. Yup, yup! Sebab di sini food-beverage (terkhusus kopi)-art dipadupadankan sebagai suatu harmoni.

Kopi dan Seni: It's Tirana Art House & Kitchen!
Setelah puas mengamati dan memotret bagian luar, aku beranjak ke dalam. Dan begitu kubuka pintu, aku langsung merasa jatuh cinta. Sama halnya dengan saat pertama kali aku berjumpa denganmu. *Halah!*


Hamparan meja dan kursi kayu di depanku bagaikan merayu. Memintaku untuk segera duduk berlama-lama di situ. Untuk mengobrolkan apa saja dengan teman-teman. Apalagi di beberapa meja diberi tulisan seperti ini ....


Heh? Pada sebuah sudut ada rak berisi sederetan cangkir lucu. Yakni cangkir-cangkir model zadoel yang dihiasi dengan aneka quote dan gambar. Hmmm. I love it! 

Mataku kembali menyapu segala penjuru. Kulihat tujuh manekin penuh goresan seni menempati sudut-sudut tertentu. Itulah karya-karya Cahaya Novan yang sedang dipamerkan. Yang informasinya di papan pengumuman tadi, lho.


Tepat di atas itu adalah manekin ungu, salah satu karya Cahaya Novan yang Alhamdulillah sudah laku terjual. O, ya. Kaulihatkah buku-buku yang di kejauhan sana? Itu adalah buku-buku tentang art, seni. Sementara di sebelah kirinya (tapi tak tampak dalam foto) ada setumpuk kain batik Lasem. Masing-masing boleh dilihat-lihat dan dibeli.

Sudah pasti masih ada aneka benda lain bernuansa seni yang dipajang dan dijual di Tirana Art House  & Kitchen. Di antaranya recycle bottle, syal rajut, gelas enamel, lukisan kaca, tas cantik berbahan dasar recycle, dan sabun ramah lingkungan (nonkimiawi). Hmm. Semua menarik. Sampai-sampai aku lupa tujuan utama kedatanganku. 



Untung saja pandangan mataku terbentur pada sebuah papan informasi menu. Astaga! Iya, iya. Aku ke Tirana Art House & Kitchen 'kan untuk ngopi-ngopi bersama teman-teman KBJ. Dan, ingatan untuk ngopi pun makin sempurna manakala kulihat setumpuk kotak biji kopi aneka jenis. Di sana, di satu sudut ruangan.

O, ya. Para barista di Tirana Art House & Kitchen sigap meracik 10 jenis kopi organik dari seluruh Indonesia. Di antaranya Arabica Bali Kintamani, Arabika Ijen, Arabika Flores, Robusta Temanggung, dan Robusta Dampit. 



Ternyata Aku Belumlah Seorang Penikmat Kopi
Para tetangga dekat kerap menganggapku sebagai pengopi berat. Padahal, itu jelas hoax. Lha wong hanya rutin menikmati kopi di pagi dan sore hari kok disebut pengopi berat. Padahal pula, yang kuminum kopi hitam instan. Maklumlah. Mereka memang tidak doyan kopi. Bahkan, yang paling instan sekalipun. Hihihi ....

Oalaaah, para tetangga dekatku. Andai kalian tahu betapa masih culunnya aku soal kopi, tentu kalian tak lagi menganggapku pengopi berat. Bagaimana tidak culun kalau faktanya aku terkagum-kagum pada aneka alat pembuat minuman kopi ini? 










Meskipun kurang ingat secara detil nama dan cara kerja masing-masing alat tersebut, setidaknya aku kini tahu bahwa  di Tirana Art House & Kitchen kita bisa memesan secangkir Arabica Gayo dengan metode penyajian Vietnam Drip. Yup! Itulah kopi hitam alias single origin yang kupesan. Rasanya? Sungguh membuatku terhenyak dan berbisik tegas, "Inilah rasa kopi yang sesungguhnya."

Para barista di Tirana Art House & Kitchen sigap menyajikan kopi dengan 7 metode pilihan. Selain Vietnam Drip ada Syphon, Rockpress, Aeropress, French Press, V-60, Turkish, dan Moca Pot. Wow! Beberapa jam saja di sini pengetahuanku tentang dunia kopi bertambah drastis. Alhamdulillah. Jadi makin mencintai kopi, deh.  Haha! 


Pada akhirnya di hadapan setengah gelas ekspresso, yang dibuat dengan metode Rockpress itu, aku menjadi tersadarkan. Yakni tersadarkan bahwa selama ini aku merupakan seorang pengabdi (kopi sa-) setan. Hadeeeh.

Alternatif Lain dan Peminimalan Sisa
Kalau tidak doyan kopi, padahal ingin nongkrong di Tirana Art House & Kitchen bagaimana? Apa mesti bawa minuman dari rumah? Aih! Tidak perlulah begitu. Tirana Art House & Kitchen juga menyediakan minuman selain kopi, kok. Ada milk tea, black tea, matcha latte, capuccino, kopi campur susu, dan cascara tea.

Apa sih, cascara tea itu? Cascara tea adalah teh yang dibuat dari kulit kopi. Kamu pasti penasaran ingin mencicipinya 'kan? Tapi sekarang melihat fotonya dulu saja, ya. Nih .... Malah komplet dengan penampakan seorang anggota KBJ juga.



Apakah Tirana Art House & Kitchen menyediakan makanan? Tentu, dong. Ada beberapa kudapan yang bisa dipilih. Di antaranya croissant, empek-empek, frutten cake, dan sweet potato. Harganya terjangkau bagiku. Berhubung aku belum menjadi orang kaya, jika aku berani bilang terjangkau berarti memang terjangkau, lho. Jika dibandingkan dengan wifi-nya yang lancar jaya, jatuh-jatuhnya ya malah murah.




 

Yang atas adalah sweet potato. Penampilannya mirip dengan kentang goreng, ya? Kalau yang bawah frutten cake. Keduanya lumayan mengenyangkan bila dijadikan makanan pendamping ASI, eh, kopi.

O, ya. Penyajian keduanya memang simpel. Tanpa ada hiasan daun warna-warni di piring. Sekalipun dedaunan yang bisa dimakan sekalipun. Itu disengaja, lho. Tujuannya untuk meminimalkan sisa makanan. Pihak Tirana Art House & Kitchen tidak mau "aksesoris" yang disematkan terbuang percuma. Bukankah tidak tiap pemesan makanan mau memakannya?

Lalu, bagaimana dengan kacang? Mengapa selalu hadir dalam tiap foto? Haha! Sudah pasti bakalan selalu hadir. Sebab di tiap meja memang disediakan setoples kacang bawang. Dan, itu free alias gratis. Asyik banget 'kan?

Mitra Pengembang Kreativitas 
Yang perlu digarisbawahi, selain tentang suasananya yang asyik untuk ngopi dan menikmati seni, Tirana Art House & Kitchen pun aktif menyelenggarakan kegiatan-kegiatan. Yang selama ini sudah berjalan adalah workshop, pameran, dan diskusi.

Itulah sebabnya Tirana Art House & Kitchen terbuka bagi siapa pun yang ingin bermitra dengannya. Yakni bermitra dalam hal pengembangan kreativitas di bidang apa pun. Misalnya bidang seni, edukasi, parenting, dan literasi.

Mbak Nunuk Ambarwati, selalu pengelola, mengatakan bahwa saat ini terutama sedang fokus menawarkan kemitraan di bidang literasi. Mengapa literasi? Sebab untuk bidang yang lainnya sudah berjalan, sementara yang literasi belum.

Nah, lho. Apakah kamu tertantang untuk bermitra dalam bidang literasi dengan Tirana Art House & Kitchen? Kalau iya, silakan langsung kontak ke Mbak Nunuk Ambarwati saja. Bisa dengan langsung datang ke Tirana Art House & Kitchen atau bikin janji dulu untuk ketemuan di 0274-411615, 0818277073.

============
IG @tiranahouse  @tiranaartmanagement  @tiranakitchen



Selasa, 18 April 2017

Membaca + Minum Kopi = Berbahagia

0 komentar
YUP! Membacalah sembari menyeruput kopi. Maka engkau akan berbahagia. Wow. W-O-W! Rumusan apa itu? Kok menyenangkan begitu? Haha! Memang menyenangkan .... 

Tahukah Anda  bahwa ada sebuah novel yang berjudul Happy People Read and Drink Coffee? Penulisnya Agnes Martin-Lugand. Kalau belum tahu, sekarang sudah tahu 'kan. Baru saja tahu dari membaca paragraf ini. Hihihi .... 

Terjemahan bebas dari Happy People Read and Drink Coffee itu kurang lebihnya begini: Orang-orang yang berbahagia adalah para pembaca dan peminum kopi. Wuih! Dan, aku selalu tertawa-tawa sendiri tatkala mendengar (membaca) kalimat tersebut.

Tentu saja aku tertawa-tawa. Lha wong faktanya, aku (merasa) memenuhi dua kriteria bahagia yang dimaksudkan. Orang bahagia itu wajar kalau tertawa-tawa 'kan? Haha! 

Menurutku, judul novel tersebut provokatif. Tapi provokatif yang positif. Bukankah membaca buku merupakan kebiasaan positif?

Lalu, bagaimana dengan minum kopi? Yeah! Sejujurnya aku tak tahu, apakah minum kopi itu baik dan perlu? Kalau menurutku yang penikmat kopi, ya memang begitu. Entah kalau menurut Kang Armand Maulana .... #Halah  

Sudahlah. Tak perlu dipikirkan terlampau dalam, deh. Nanti malah pusing tujuh keliling. Sudah, ya. Aku mau menyeruput kopiku dulu. Lalu, melanjutkan membaca buku. Hmm. Aku 'kan ingin menjadi bagian dari happy people. Tidak inginkah Anda menjadi bagian dari orang-orang yang berbahagia tersebut?

MORAL CERITA:
Selalu ada kopi dan buku di kehidupan kita.




Selasa, 08 November 2016

Mana Kopinya?

0 komentar
Lho? Mana kopinya? kalau ini sih sebab gelasnya bocor.... :p


TERNYATA sejak zaman baheula hingga zaman uh sya la la saat ini, aku sangat menyukai coffee break. Malah boleh dibilang, sedikit tergila-gila padanya. Tapi hanya sedikit lho, ya. Tidak sepenuhnya tergila-gila. Masih termasuk ke dalam kelompok terwaras-waras nyaris full.... #Eh? Cuma nyaris?

Jadi tiap kali datang ke suatu acara, yang kuduga ada coffe break-nya, aku selalu H2C (= Harap-Harap Cemas). Isi H2C-ku: Ada coffee break-nya atau tidak, ya? Haha! Tentunya pula H2C-ku terdesain elegan. Tidak celingak-celinguk sarkasme. Aku toh pernah mengambil mata kuliah Teori Drama. Maka lumayan mampu berakting lah yaa.... #SokNgartisSokNyinetron 

Yeah! Begitulah adanya diriku. Kok bisa ya sampai terobsesi pada coffee break? Entah sampai kapan? Eh! Tunggu, tunggu. Terobsesi di sini masih dalam batas normal lho, ya. Bukan terobsesi yang tingkat tinggi, yang sampai norak-norak bergembira begitu. Katakanlah, ini sebuah obsesi yang terukur.

Aku sendiri tak paham mengapa diriku sampai segitunya terhadap coffee break. Kalau kupikir-pikir secara lebih mendalam, bukan sebab kopinya. Bukan karena kue-kue pelengkapnya. Bukan pula karena gretongannya (kalau pas datang ke acara berbayar dan aku bisa free).

Lalu? Sepertinya gegara suasana dan peranti minumnya, deh. Minum kopi di warkop atau kafe tentu lain suasana dengan minum kopi dalam sesi coffee break di suatu acara. Apalagi dengan minum kopi di rumah. Sensasinya beda, dong. Paling tidak, minum kopi dalam sesi coffee break mempergunakan cangkir yang jauh lebih bagus daripada cangkirku sendiri. 

Akan tetapi, suatu ketika aku pernah kecewa terhadap coffee break. Kala itu aku hadir ke suatu acara untuk "belajar". Setelah beberapa jam mendengarkan paparan para pembicara, tibalah saatnya untuk coffe break. Maka dengan langkah antusias aku menuju meja hidangan. Setelah mengambil kue pelengkap, aku sigap mengantre di belakang seseorang untuk menuang kopi. 

Eh? Tapi kok aroma yang menguar dari cangkir orang yang di depanku bukan aroma kopi? Sebab penasaran, aku beringsut ke depan. "Lho? Bukan kopi toh, Mas?" Tanyaku seraya melongok ke cangkirnya. Ya, memang bukan kopi melainkan teh. Jadi, aku berpindah ke meja minuman yang satunya. Sebab tak ada antrean, aku langsung menuangkan isi jumbo ke cangkirku. 

Oh la la! Ternyata  teh juga! Dan kenyataannya, tak ada jumbo yang ketiga. Tapi untuk meyakinkan diri, aku bertanya pada petugas yang berwenang. "Kopinya di mana, Mas?"

Sungguh, jawabannya bikin aku patah hati. Ini jawabannya, "Mohon maaf, kami memang tidak menyediakan kopi."

Oalaaah.... Baru kali ini aku terlibat dengan sesi coffee break yang tidak melibatkan kopi sama sekali. Haha! 

MORAL CERITA:
Peristiwa ini bikin aku mempertanyakan ulang makna dari sebuah sesi coffee break. Apakah pakemnya harus ada kopinya ataukah boleh tidak melibatkan kopi sama sekali?

   

Jumat, 02 September 2016

Kopi Itu Hitam

0 komentar



AYO bicara mengenai kopi. Sejenak saja. Sekilas saja. Secara umum. Tidak secara detil. Pokoknya kopi. Iya, kopi yang umumnya berwarna hitam itu. Walaupun di masa sekarang ada kopi putih dan kopi hijau, rasanya kok tak ada yang semantap kopi hitam. Itu menurutku, lho. Entah kalau menurut Anda.

Lalu, ada apa dengan kopi? Ah, sebetulnya tidak ada apa-ada dengannya. Aku hanya mencintainya. Iya, begitu saja. Dengan takaran cinta yang proporsional. Pas. Enggak lebih, enggak kurang; sebab kalau kelebihan aku kurangi, kalau kekurangan aku tambahi. Jadi, selalu pas. Haha!

O, ya. Di atas kukatakan bahwa kini dikenal pula adanya kopi putih dan kopi hijau. Tapi bagiku, begitu mendengar kata “kopi” yang terlintas di benak ya kopi hitam. Yang istilah kerennya black coffee. Bukan kopi susu, kopi putih, kopi hijau, ataupun cappuccino. Yoi, pren. Tiada kopi selain kopi hitam. Sekali lagi, itu menurutku. Kalau menurut Anda bagaimana?

Okeee. I drink a cup of coffee every morning. A cup of coffee = semangat seharian full. Hahaha….  :D

MORAL CERITA:
Kopi bikin aku terkenang pada kencan Rangga dan Cinta di Klinik Kopi….




Kamis, 23 Juni 2016

Hujan, Pagi, Tanpa Kopi

2 komentar
PAGI ini hujan menderas. Sebenarnya hujan lanjutan semalam, sih. Dan seperti biasa, aku pun menikmati tiap rinainya dengan sukacita. Yang tak biasa, aku menikmatinya tanpa secangkir kopi panas. 'Kan puasa, bro....

Namun tanpa kopi atau dengan kopi, pagi adalah pagi. Yakni sebuah waktu di mana segala sesuatunya bermula. Ketika semuanya masih terasa segar bugar. Pepohonan segar. Rerumputan yang ditimpa embun pun segar. Apalagi kalau lagi hujan begini. makin segar sebab bekas air hujan terletak di mana-mana.

Pikiranku juga segar. Buktinya, banyak ide jail berseliweran di benakku. Sepagi ini. Hanya saja sedari tadi aku pilah-pilah, kok ide kreatifnya malah belum ada? Di mana engkau wahai ide kreatifku? Masihkah engkau tenggelam dalam secangkir kopiku yang bahkan belum sempat kubuat? Haha!

Sudahlah. Mari menikmati hujan saja. Tanpa kopi tak mengapa. Toh masih ada kuota internet dan sinyal yang enggak lelet. Jadi, bisa curhat-curhat online seperti ini toh? Alhamdulillah.

MORAL CERITA:
Hujan adalah rakmat dan nikmat yang mesti disyukuri semaksimal mungkin. 

#Sebab Ramadan tak ada foto secangkir kopi panasnya
#Sebab hujan pagi hari, tak bisalah aku main-main di kabut pagi seperti yang tampak di foto berikut ini    


Mereka menikmati pagi (juga) tanpa kopi....



Jumat, 13 Mei 2016

ADIBA & KOPI

4 komentar
Ini Adiba? Hah? Tatap matanya serasa menghunjam dan menikam jiwa siapa pun! Aihhh...hihihi....


YUK! Mari kita ngobrol cantik lagi tentang Adiba. Hmm. Kali ini bukan tentang kisah buruknya, kok. Bukan pula perihal tingkah antimainstream-nya yang kerap kali bikin daku geleng-geleng kepala. Bukan tentang celetukan-celetukan ajaibnya yang sering bikin sang bunda baper. Baper-baper suebbel gitu.... :D

Lalu tentang Adiba yang bagaimana, dong? Hmm. Lihatlah judul postingan di atas. Sudah jelas kan ya, kalau kali ini aku ingin membahas Adiba beserta keterkaitannya dengan kopi. Hihi.... Ini kalimatnya serius amat. Semacam kalimat yang untuk skripsi. Wah, skripsi! Zaman kapankah aku bikin skripsi? OMG. Long loooong time ago.

Oke. Langsung saja kita mulai ngobrolnya. Enggak usah dibahas kelamaan soal skripsi tadi. Lupakan. Lupakan. Lupakan. Haha! Malah dibahas lagi pada alinea ini. Sudah. Kita ganti alinea lagi sekarang.

Jadi, Adiba cantikku ternyata mulai menunjukkan tanda-tanda suka kopi. Mulai dari kopi instan yang ringan pakai krimer, hingga kopi hitam kental. Mulai dari kopi yang palsu, hingga kopi yang asli. Eh? Masak minum kopi palsu sih? Hehehe....

Apa boleh buat? Aku tidak mengajarinya. Tapi dia terbiasa melihatku minum kopi. Bahkan seingatku, sejak balita dia sudah mulai senang menyeruput-nyeruput kopi di cangkirku. Semacam nyolong-nyolong gitu. Padahal, menyeruputnya pas ada aku. Haha! Berarti bukan nyolong-nyolong sejati.

Sebab aku penggemar kopi, tentu tak patut jika begitu saja aku melarangnya minum kopi. Maka aku hanya memberikan saran, boleh ngopi namun tak terlalu sering. Kalau yang diminum kopi sejati, bikin setengah cangkir saja. Dan cangkirnya, yang ada gambar Tante Ety dibonceng sepeda oleh Om GJ. Bukan cangkir besar yang bergambar Om NicSap. Alhamdulillah tanpa banyak cingcong, Adiba setuju.

Satu hal lagi yang menarik tentang Adiba dan kopi. Tak kuduga tak kusangka, dia ternyata sering mengulang-ulang baca buku kumcer Dee yang berjudul Filosofi Kopi. Tapi cerpen favoritnya justru bukan yang tentang kopi. Cerpen favoritnya dalam buku tersebut adalah "Rico de Coro".

Mengapa "Rico de Coro" jadi cerpen favoritnya? Karena dia punya teman sekelas yang bernama Coro, eh, Rico. Dan ketika membaca cerpen tersebut dengan tertawa geli, sebenarnya Adiba sedang membayangkan Rico menjelma jadi coro. Wuaduh! Andai Rico tahu, dijamin bakalan marah.

Jadi, bagaimana pendapat Anda tentang Adiba? Hmm. Keren 'kaaan anakkuuhh? Qiqiqi.... :D

MORAL CERITA:
Orang tua, terutama ibu, memang betul-betul teladan nyata bagi anak-anaknya.
    


 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template