Selasa, 03 September 2019

Budaya Lokal feat Teknologi Informasi

BUDAYA Lokal feat Teknologi Informasi? Featuring? Duet? Yang benar saja? Iya, benar. Judul di atas tidak salah. Sebab sesungguhnya, Budaya Lokal dapat bergandengan mesra dengan Teknologi Informasi. 

Benarkah demikian? Bukankah Budaya Lokal dan Teknologi Informasi berbeda ranah? Lagi pula, keduanya lahir dari zaman yang berlainan. Budaya Lokal berasal dari masa lalu dan terkesan kuno. Sementara Teknologi Informasi berasal dari masa kini dan jelas dianggap modern.

Budaya Lokal adalah kebudayaan yang tumbuh dan berkembang serta dimiliki dan diakui oleh masyarakat suku bangsa setempat. Budaya Lokal biasanya tumbuh dan berkembang dalam suatu masyarakat suku atau daerah tertentu karena warisan turun-temurun yang dilestarikan. 

Teknologi Informasi (Information Technology) adalah istilah umum untuk teknologi apa pun yang membantu manusia dalam membuat, mengubah, menyimpan, mengomunikasikan, dan/atau menyebarkan informasi. 

Apa mungkin kekunoan dan kekinian berjalan berdampingan? Tidakkah keduanya saling bertentangan dan berjalan ke arah yang berbeda? Harmoni apa yang terjadi bila kedua hal tersebut disandingkan? 

Jangan salah. Kalau dicari titik temunya, pemanfaatan Teknologi Informasi justru dapat memperkuat akar Budaya Lokal. Percayalah. Kedua hal itu bisa saling dikerjasamakan. Istilahnya, bisa terjadi simbiosis mutualisme antara Budaya Lokal dan Teknologi Informasi.

Paling tidak sebagai awalan, Teknologi Informasi bisa dimanfaatkan sebagai ajang perkenalan terlebih dulu. Yakni untuk memperkenalkan Budaya Lokal kepada khalayak. Membuat khalayak familiar dengannya. Sebelum akhirnya secara bertahap, bisa memperkuat akar Budaya Lokal tersebut.

Tak kenal maka tak sayang 'kan? Jadi, bagaimana mungkin masyarakat yang tak kenal (tak paham) dengan Budaya Lokal mau melestarikannya? Alih-alih melestarikan. Cara bersikap terhadapnya saja tak bakalan tahu kalau tidak paham.

Itulah sebabnya Budaya Lokal wajib disosialisasikan secara masif dan konsisten. Tujuannya agar masyarakat dari semua kalangan tahu. Dengan demikian, generasi lama (tua) bisa kembali mengingat dan mengakrabinya. Sementara generasi baru (muda) bisa mulai mengenal untuk kemudian mengakrabinya.

Nah! Bukankah untuk urusan sosialisasi secara efektif, Teknologi Informasi adalah jagonya? Melalui aneka media sosial, yang notabene merupakan bagian dari Teknologi Informasi, dalam tempo singkat sesuatu bisa diviralkan. Begitu sebuah informasi ditayangkan di portal media daring (dalam jaringan) dan media sosial, seketika itu pula bisa menjangkau banyak orang. Di mana pun mereka berada. Sejauh punya akses internet.

Teknologi Informasi mesti dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk memperkuat akar Budaya Lokal. Mengapa? Sebab Teknologi Informasi memungkinkan segala hal tentang Budaya Lokal dapat diakses oleh banyak orang secara cepat. Meskipun sosialisasi luring (luar jaringan) juga perlu dilakukan, sosialisasi daring tetap wajib dimaksimalkan demi efektivitas. Inilah yang disebut Budaya Lokal feat Teknologi Informasi.    

Maka bayangkanlah andai kata yang diviralkan adalah hal-hal yang berkaitan dengan Budaya Lokal. Tentu dampaknya positif 'kan? Khalayak akan heboh memperbincangkannya. Selanjutnya sebab terus-menerus diperbincangkan, bakalan makin banyak orang yang tahu. Dari yang semula sekadar tahu, lalu menjadi paham (tahu lebih dalam), dan akhirnya  mau melestarikan.

Contoh konkretnya adalah pengalaman saya sendiri. Sebagai warga pendatang, dahulunya saya sekadar tahu bahwa Yogyakarta adalah sebuah kota tua penuh sejarah dan budaya. Yang punya sebutan sebagai Kota Pelajar, Kota Sepeda, Kota Gudeg, dan Indonesia Kecil.

Saya mengunjungi keraton. Bolak-balik ke Malioboro. Berfoto di Tugu Pal Putih. Bepergian ke tempat-tempat ikonik lain di  seantero Yogyakarta. Namun, tanpa tahu cerita/makna yang tersimpan di baliknya. Seiring berjalannya waktu, terutama setelah akrab dengan internet, pengetahuan saya tentang Yogyakarta pun meningkat pesat.

Kerap kali saya mendatangi sebuah acara budaya dengan berbekal informasi dari internet. Iya. Saya memang mengikuti akun medsos Keraton Yogyakarta, Museum Sonobudoyo, Malamuseum, dan beberapa komunitas pecinta seni/budaya/sejarah. Bermula dari akun-akun medsos itulah pengetahuan saya mengenai Yogyakarta bertambah. Salah satunya pengetahuan saya tentang Sumbu Filosofi dan Sumbu Imajiner.


Poster Sumbu Filosofi

Poster Sumbu Imajiner


Dua poster di atas saya potret tatkala Reresik Malioboro Selasa Wage, 27 Agustus 2019, di kompleks Kepatihan (kantor Gubernur DIY). Namun dua tahun sebelumnya, yaitu pada tahun 2017, sebenarnya saya telah menemukan poster serupa di sebuah pameran. Sayang sekali saya lupa tajuk pamerannya. Yang jelas, lokasinya di halaman dalam Museum Benteng Vredeburg. Saat itu Yogyakarta baru saja mengajukan diri sebagai City of Philosophy kepada UNESCO.

Terus terang saja ketika pertama kali menjumpainya, saya kurang begitu paham. Iya. Pengetahuan saya tentang Sumbu Filosofi dan Sumbu Imajiner masih sangat mengambang. Otomatis saya belum begitu mengerti hubungan kedua sumbu tersebut dengan pengajuan ke UNESCO.

Meskipun sudah membaca penjelasan-penjelasan yang tercantum di situ, bahkan menyempatkan diri untuk berfoto di depan dua poster segala, pemahaman saya tetap belum utuh. Mungkin sebab membacanya sepintas lalu. Didorong oleh rasa penasaran, saya kemudian berselancar di internet untuk menggali informasi lebih jauh.

Berhasilkah upaya tersebut? Syukurlah berhasil. Akhirnya saya paham, betapa Yogyakarta amat layak menjadi City of Philosophy. Faktanya, Yogyakarta sekian abad lalu dibangun oleh Pangeran Mangkubumi (yang kemudian dikenal sebagai Sultan HB 1) dengan konsep Sumbu Filosofi dan Sumbu Imajiner.

Sumbu Filosofi adalah tata ruang kota yang membujur selatan-utara. Meliputi Panggung Krapyak-Keraton Yogyakarta-Tugu Pal Putih. Ini merupakan gambaran konsep mikrokosmos, yaitu alam kehidupan nyata yang menjadi laku peziarahan manusia.

Lalu paralel dengan Sumbu Filosofi tersebut, ada Sumbu Imajiner. Yakni garis lurus yang membujur selatan-utara, yang menghubungkan Laut Selatan dengan Gunung Merapi. Ini merupakan gambaran konsep makrokosmos.

Kerennya lagi, Sumbu Filosofi itu pun ternyata menyimbolkan perjalanan hidup manusia. Dari Panggung Krapyak ke Keraton Yogyakarta dan Tugu Pal Putih memberikan gambaran tentang konsep sangkan paraning dumadi (dari mana asal manusia dan hendak ke mana). Jadi menyimbolkan alam manusia dari embrio, lahir, berproses, berkembang, eksis, hingga kembali kepada-Nya.

Adapun rinciannya begini. Dari Panggung Krapyak ke Keraton Yogyakarta merepresentasikan makna sangkan paran, yaitu asal-muasal manusia untuk berproses menuju eksistensi diri. Sementara dari Tugu Pal Putih ke Keraton Yogyakarta merepresentasikan makna paraning dumadi. Yakni manusia yang eksis berproses untuk menjalankan kehidupannya.

Sungguh. Tidak sia-sia saya menghabiskan waktu untuk berselancar di internet demi mencari tahu penjelasan mengenai Sumbu Filosofi dan Sumbu Imajiner. Pada akhirnya saya menjadi makin paham tentang kota yang kini saya tinggali. Bukankah ini merupakan bukti nyata bahwa Budaya Lokal feat Teknologi Informasi adalah sebuah keniscayaan?


Papan kaca dwibahasa di Jalan Malioboro


Karena jangkauan internet adalah seluruh dunia, sudah pasti pengenalan Budaya Lokal mesti dilakukan pula dalam bahasa internasional. Minimal dalam bahasa Inggris. Jangankan pengenalan secara daring. Pengenalan secara luring pun butuh dilakukan dalam bahasa internasional.

Maka saya angkat topi pada instansi terkait yang telah berinisiatif memasang papan-papan kaca dwibahasa (bahasa Indonesia dan bahasa Inggris) di beberapa titik di kawasan Sumbu Filosofi. Papan kaca apakah itu? Yakni papan kaca yang berisi informasi tentang Sumbu Filosofi dan Sumbu Imajiner.

Pemerintah kota rupanya sangat serius dalam menyebarkan informasi perihal pengajuan Yogyakarta sebagai City of Philosophy. Propagandanya sampai ke tingkat kelurahan. Maklumlah. Seluruh lapisan masyarakat Yogyakarta memang diharapkan tahu bahwa kota mereka sedang bersiap untuk menjadi kawasan Warisan Budaya Dunia.

Banner tentang Sumbu Filosofi di Kantor Kelurahan Ngupasan


Berdasarkan pengalaman pribadi itulah, saya sangat yakin bahwa kerja sama antara Budaya Lokal dan Teknologi Informasi mutlak dilakukan. Sepintas lalu keduanya mungkin tampak tak terhubung. Namun kalau mau berpikir kreatif, pasti akan ketemu banyak cara untuk memanfaatkan Teknologi Informasi demi memperkuat akar Budaya Lokal.

Akar Budaya Lokal perlu diperkuat supaya masyarakat pengusungnya (pemiliknya) tak tercerabut dari tata cara kehidupan yang diwariskan oleh nenek moyang mereka. Adapun memperkuatnya dengan cara memastikan bahwa masyarakat pengusungnya, terutama dari kalangan generasi muda, paham tentang budaya tersebut.

Modernitas pasti tak terhindarkan. Namun sejauh masyarakat mau melestarikan, sebuah budaya pasti bisa tetap eksis di tengah perkembangan zaman. Sebab sesungguhnya, budaya tersebut tak pernah punah. Yang membuatnya punah adalah ketiadaan manusia yang mengusungnya. Maka kolaborasi Budaya Lokal dan Teknologi Informasi adalah keniscayaan.         

Baiklah. Sebelum membubuhkan tanda titik terakhir, izinkan saya untuk memasang foto narsis berikut ini sebagai simbol. Simbol apakah? Yakni simbol bahwa sebagai warganet sekaligus narablog, saya siap membantu mewartakan budaya dan kearifan lokal yang dimiliki Yogyakarta kepada dunia.


Saya dan banner tentang pengajuan Yogyakarta sebagai City of Philosophy


Sumber Referensi:

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id
https://www.jogjakota.go.id
https://id.wikipedia.org.


Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Pagelaran TIK yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika DIY 2019.




  

18 komentar:

  1. Wah pasti keren banget ya Sumbu Filosofi ini kalau diterima sama UNESCO sbg warisan dunia, dari banyak hal Jogja memang berkembang pesat bgt. Oh iya, best of luck buat kompetisinya ya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Saat ini Yogyakarta sedang giat berbenah. Terutama yang berkaitan dengan persiapan untuk menggali kearifan lokal Sumbu Filosofis dan Sumbu Imajiner.


      BTW terima kasih atas dukungannya. Semoga menang. Aamiin.

      Hapus
  2. kalau dapat pengiktirafan UNESCO, itu kira sangat2 hebat!

    BalasHapus
  3. Asyiknya bisa tinggal di Yogya, kota budaya, sejarah, pendidikan dan wisata dan segala julukan lainnya memang sepantasnya sudah bersiap-siap menuju Yogyakarta warisan dunia UNESCO. Saya pun pastinya akan turut bangga jika itu terwujud. Good luck ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yoiii, Mas. Kebetulan takdirku saat ini menjadi warga Yogyakarta. Andai kata pengajuan ke UNESCO itu diterima, seluruh bangsa Indonesia pastilah ikut bangga.

      Oke. Terima kasih atas dukungannya, ya.

      Hapus
  4. Makin asyik aja ya kota Jogja, paling asyik lagi yang jadi warga Jogja.
    Sayapun ikut bangga mba, jika diterima UNESCO. Itu berarti membawa nama Indonesia lebih besar, bukan cuman Bali doang :)

    BalasHapus
  5. semoga jogja makin mendunia :)
    yang saya sukai dari jogja adalah para musisinya, ada musisi jogja itu dibikin grup dan pakai alat-alat tradisional pula hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh iya, itu ternyata disukai oleh banyak orang luar Jogja.

      Hapus
  6. Iya, Mbaak. Semoga yogyakarta bisa sejajar terkenalnya dg Bali.

    BalasHapus
  7. Setuju, kearifan lokal idenkota sebagai identitas bangsa juga dikombinasikan dengan IT yang notabene sebagai bagian budaya barat yang positif, tentunya akan menjadi perhatian dunia

    BalasHapus
  8. Yogyakarta is one of my favourite cities in the country. Kota banyak sejarah dan punya peranan penting dalam memerdekakan negara ini dulu. Sure dengan adanya teknologi informasi yg semakin berkembang pesat bisa membantu memberikan informasi ke banyak orang di luar sana secara banyak orang sekarang cari info dengan menggunakan internet. Dan yah, jangan bali mulu ah. Bosen.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes! Semoga Yogyakarta dan kota-kota lain di Indonesia segera menyusul Bali dalam hal menginternasional.

      Hapus
  9. jogja kota favoritku, apalagi sekarang makin banyak destinasi wisata yang tjantik dan kekinian. semoga menambah banyaknya wisatawan asing yang berkunjung sehingga bisa dikenal di dunia dan go internasional

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan, semoga masyarakat Yogyakarta mampu menjadi pelaku wisata dan tuan rumah yang baik.

      Hapus
  10. Budaya Lokal + Teknologi Informasi = Bisa dikenal nih budaya lokal kita hingga mancanegara..

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!

 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template