Sabtu, 06 November 2021

Life Hack Terkait Minyak Goreng

APA kabar Sobat PIKIRAN POSITIF? Masih setia jaga jarak dan menghindari kerumunan? Masih setia memakai masker? Eh, maukah kalau kuajak ngerumpiin minyak goreng? Mau, ya? Hehehehe ....

Begini. Beberapa hari lalu ketika sedang jalan-jalan di negeri twitter, kudapati cuitan seorang kawan. Baca berita hari ini. Harga minyak goreng naik, jadi semua gorengan ini digoreng dengan minyak minimalis. Tetap kriuk dan renyah.

Foto yang disertakannya sebagai pelengkap caption adalah foto sepiring gorengan. Seingatku ada risoles, samosa, dan kentang goreng.

Semua itu jualannya. Ia memang menjual aneka kudapan dalam bentuk frozen. Namun, boleh pula kalau pembeli minta digorengkan sekalian. Aku tahu karena termasuk salah satu pelanggannya.

Harga minyak goreng naik? Waaah. Malah enggak tahu aku. Seriuskah? Kubalas cuitannya.

Benar, Mbak. Ini beritanya. Ia menanggapi sekaligus memberikan sebuah tautan berita terkait.

Langsung aku klik tautan tersebut. Ingin tahu kabar detilnya. Seusai membaca, kubalas lagi cuitannya. Ternyata sudah sejak kemarin. Klo gak baca cuitanmu pasti aku gak sadar klo harganya naik. Hahaha!

Kamu futuristik, Mbak. Idemu memanggang lumpia dan samosa menjadi relate dengan situasi terkini. Tulisnya.

Spontan aku membalasnya dengan sederetan emotikon tertawa lebar.

Lumpia dan Samosa Panggang

Beberapa bulan sebelumnya aku mengunggah foto dua lumpia dan dua samosa dengan caption begini. Dibakar saja supaya lebih sehat dan pastinya hemat minyak goreng. Edisi frozennya kubeli di @namakawantersebut.

Biasalah. Sambil menyelam minum air. Sambil menuntaskan hasrat narsis, sekalian mempromosikan jualan kawan.

Sungguh tak disangka, kawan tersebut tertarik sekali dengan unggahanku. Tepatnya sih, tertarik cenderung heran. Tidak menyangka kalau jualannya kumatangkan dengan cara berbeda.

Baru tahu dia kalau diriku terbiasa mengkhianati resep gorengan. Pokoknya apa pun bahan makanan yang bisa dimatangkan sempurna dengan cara selain digoreng, pasti akan kukhianati walaupun lazimnya digoreng. Contohnya ya lumpia dan samosa tadi. 

 

Lumpia panggang (Dokpri)


Apakah siasat kreatif itu dilandaskan pada semangat untuk hidup lebih sehat? Atau, untuk mendukung gerakan nol emisi karbon?

Seiring waktu berjalan kedua hal tersebut memang menjadi pertimbangan. Namun sejujurnya, semula alasanku simpel belaka: tidak mau boros gara-gara keseringan buang-buang sisa minyak goreng.

Jika kudapan digoreng sesuai pakem, pastilah butuh banyak minyak goreng untuk bisa melakukan deep frying. Kurang lebih butuh dua sendok sayur, jika hendak bikin empat gorengan saja. Jelantah atau sisa minyak bekas pakainya pasti bakalan terbuang.

Lain halnya jika dipanggang. Hanya butuh sedikit minyak goreng untuk mengolesi  kudapan yang hendak dipanggang. Tak bakalan ada jelantah yang mesti dibuang.

Mengapa jelantah tak disimpan dulu? Bukankah masih bisa dipergunakan sekali lagi? Tidak harus dibuang sekali pakai sehingga dapat lebih hemat 'kan?

Mohon maaf. Bukannya sok kaya dan sok sehat, nih. Tradisi menyimpan jelantah memang tidak cocok kupraktikkan. Alasannya, tidak tiap hari dapurku beroperasi. Jadi, jelantah simpanan berpotensi kadaluarsa sebab tak kunjung dipakai. Malah menunda membuang saja.

Nah!  'Kan jatuhnya boros minyak banget kalau aku nekad menggoreng dua lumpia dan dua samosa saja? Itulah sebabnya kubudayakan memanggang.

Mengapa tidak memperbanyak saja jumlah kudapan yang digoreng? Ben sumbut. Wah, yang makan siapa? Anggota keluargaku minimalis sekali. Cuma dua termasuk diriku. 

Teflon Andalan

Bagaimana caraku membakar/memanggang bahan makanan? Pakai alat khusus? Oh, tentu tidak. Senjata andalanku di dapur hanyalah teflon. Jenis teflonnya pun yang standar saja. Bukan yang dilabeli anti lengket. Ini nih, penampakannya.

 

Teflonku (Dokpri)


Kalau untuk bikin telur mata sapi atau telur dadar tetap butuh sedikit minyak goreng atau mentega. Begitu pula jika hendak membakar pisang, tahu, tempe, sosis, nugget, dan aneka kudapan frozen. It's simple.

Tak Perlu Bergantung pada Minyak Goreng

Percayalah. Hidup tak akan berubah menjadi datar hanya karena berjarak dari minyak goreng. Faktanya, sekian lama saya mengkhianati resep gorengan dan hidup masih  terjalani dengan jungkir balik tak keruan.

Nah, lho! Bukankah itu bukti bahwa menjalani gaya hidup minim gorengan tak serta-merta mengubah hidup menjadi datar? Hehehe ....

Jadi kalau ditantang, apa aku sanggup puasa memasak goreng-gorengan? Secepat kilat kujawab, "Siapa takut?"

Mohon jangan salah paham. Puasa memasak dengan minyak goreng tak berarti tak mengonsumsi gorengan lagi, lho. Keduanya beda pengertian.

Tolong camkan baik-baik. Aku tetaplah doyan gorengan. Yang nyaris tidak kulakukan lagi adalah membuat aneka gorengan sendiri. Kalau sedang mengidam the real gorengan, aku beli barang dua atau tiga potong. Jadi, tak perlu ikut pening mikirin kenaikan harga minyak goreng segala.

MORAL CERITA:

Hidup hanyalah tentang adaptasi untuk menyiasati kesulitan ataupun kondisi baru.


32 komentar:

  1. Makanan memang tidak harus selalu digoreng, kita bisa memanggang seperti lumpia diatas. merebus, mengkukus, membakar dll. Tapi sesekali saja minyak goreng digunakan untuk menikmati kriuk kriuk. n_n sesekali jadi dua kali nanti

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe ... Mesti diwaspadai yg sesekali jadi dua kali itu.

      Hapus
  2. Betul, kurangi minyak goreng dengan cara memanggang.

    BalasHapus
  3. Idenya boleh juga mbak, mengurangi minyak goreng dengan cara memanggang, kalau tidak, bisa juga dengan direbus, misalnya makan pisang goreng, jadinya pisang rebus, malah minim kolesterol.

    Sekarang harga minyak goreng memang lagi naik daun, biasanya satu liter cuma 14 ribu, kini naik 18k bahkan ada yang 20k tergantung merk.😟

    Yang kasihan tukang gorengan, mau naikin harga takut pembeli berkurang, tidak naik keuntungan berkurang.😂

    BalasHapus
  4. Gorengan gorengan gorengan...rong ewu teluuu #naikharga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebelum minyak goreng naik, tahu goreng mercon di angkringan dekatku sdh rongewu teluuuu.

      Hapus
  5. Aku jadi keinget wajannya orang Belanda, Mbak. Temenku yang pindah ke sana pernah nunjukin di Fb-nya wajan orang sana yang nggak ngebutuhin minyak goreng. Waktu itu sekitar tahun sebelum 2010, waktu wajan marble belum hits kayak sekarang. Batinku waktu itu, kok cek enake ga atek tuku minyak goreng. Irit men uripe ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha benar,urip irit praktis dan sehat bgitu memang bikin iri yaaa hihihi ....

      Hapus
  6. Wah ... Benermbak. Sekarang memang kudu pinter-pinter adaptasi. Pandemi gini kudu terbiasa dengan 5M. Minyak naik hayo ga usah nggoreng-nggoreng. Lauk rebusan ya lebih hemat. Cemilan ganti buah. Malah sehat to?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yoiiii. Pokoke adaptasi dari waktu ke waktu. Itulah hidup.

      Hapus
  7. Minyak goreng semakin naik harganya nih Mba. Kenapa ya Naik terus? Naluri emak-emak bertanya. Saya setuju sih kalau minyak jelantah jangan dipakai goreng lagi. Paling saya pakai minyak maksimal dua kali gorenglah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Entahlah itu, kapankah akan turun dan turun? Hahaha ....

      Hapus
  8. Ih iya loh, minyak goreng sekarang lagi mahal. Akhirnya buat tumis" saya pakai minyak ayam. Beli lemak ayam terus jadiin minyak, lumayan jadi lebih hemat dan masakkan lebih wangi hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah hidup. Kita mesti pandai-pandai menyiasatinya.

      Hapus
  9. Kebetulan baca pas harga minyak lagi naik banget nih, opsi bakar emang jadi solusi yang asik. Cuma kadang ngebayangin harus nyiapin ini itu untuk bakar-bakar jadi males. E, ternyata dikaish tips bakar-bakar anti ribet wkwk, pake teflon biasa aja ya, Kak wkwk. makasih

    BalasHapus
  10. Wkwkwk,, saya baru tau ada triknya,, mungkin karena saya dari kecil dijarin masak selalau pakai minyak goreng 🤣,, sebagai laki2 minang harus bisa masak dong,, tapi karena dijari selalu pakai minyak goreng, sampai saat ini saya masih bergantung dengan minyak goreng.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masakan Minang itu sungguh enak-enak, Bang. Kulihat, klo nggoreng lauk memang banyak makai minyak goreng, ya ... Jadi mihil. Bhahahaha

      Hapus
  11. minyak goreng naik ya. baru tahu. hehhe dasar jarang masak. lumpianya bikin ngiler

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha ...iya, saya pun ngiler liat foto lumpia itu.

      Hapus
  12. Aku juga sempet kaget kak. Soalnya aku ada usaha kuliner yang menyediakan menu yang digoreng. Akhirnya sempet mencoba mengarahkan pembeli ke menu yang dipanggang. Secara yaa, naik dua rebu aja kadang bisa bikin mikir.

    BalasHapus
  13. Malem-malem lihat foto lumpia goreng kok jadi kepengin yaaaa hihihi

    BalasHapus
  14. aku juga kurang suka menyimpan jelantah lama mbak
    masalah kesehatan menjadi pemikiran
    betul memanggang dengan sedikit minyak adalah solusi
    daripada membuang banyak minyak goreng ya

    BalasHapus
  15. Saya juga kadang memanfaatkan hal yang sama. Apalagi Saya cukup doyan dengan olahan telur, kalau ndak mata sapi ya telur dadar hehehe

    Jadi biar hemat biasa pakai teflon dengan sedikit minyak atau pakai mentega

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, iya. Kalau olahan telur pastinya cuma perlu sedikit minyak atau mentega.

      Hapus
  16. Pantas aja bala-bala yang biasa aku beli kok ukurannya makin kecil. Oalaaaaaah, ternyata gara-gara harga minyak goreng naik 🤔. Kalau harga minyak goreng naik, kayaknya emang penjual gorengan nih, Mbak, yang paling pusing. Kalau kita-kita yang di rumah sih bisa ikut tipsnya Mbak Agustina 🤭. Btw thanks tipsnya, Mbak. Bisa dipraktekkan di rumah nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Yang paling pusing penjual gorengan.

      Hapus

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!

 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template