Kiranya pertanyaan yang menjadi judul di atas kerap mengusik pikiran kita. Kalaupun tidak kerap, mungkin pernah sekali waktu. Yeah? Benarkah diversifikasi pangan adalah kunci ketahanan pangan? Mengapa belakangan ini acap kali ada diskusi yang memberi penekanan bahwa diversifikasi pangan adalah kunci ketahanan pangan?
Tentu saja benar. Faktanya memang begitu. Diversifikasi pangan adalah kunci ketahanan pangan. Karena benar itulah, wacana tentang diversifikasi pangan dilempar ke publik. Kementerian Pertanian RI adalah salah satu instansi yang melakukan hal tersebut.
Diversifikasi pangan adalah program yang dimaksudkan agar masyarakat tidak terpaku pada satu jenis makanan pokok saja dan terdorong untuk mengonsumsi bahan pangan lain sebagai pengganti makanan pokok yang selama ini dikonsumsi. (Wikipedia)
Apa tujuannya? Tak lain dan tak bukan, tujuannya untuk menginformasikan manfaat diversifikasi pangan kepada khalayak seluas mungkin. Agar masyarakat Indonesia tersadarkan, betapa diversifikasi pangan adalah kunci ketahanan pangan. Plus tersadarkan bahwa potensi keanekaragaman pangan lokal Indonesia wajib dimaksimalkan pemanfaatannya.
Kemudian setelah tahu perihal diversifikasi pangan beserta manfaatnya, khalayak diharapkan tergerak untuk melakukan diversifikasi pangan dalam hidup keseharian. Jadi, setelah paham teori disarankan untuk berpraktik.
Ide dan semangatnya sudah tepat. Namun menurut pengamatan saya, sejauh ini wacana diversifikasi pangan belum digaungkan secara intensif dan masif. Seolah-olah terhenti pada tataran pelemparan wacana secara seremonial, padahal Departemen Pertanian RI (kini Kementerian Pertanian RI) telah mengembangkan Program Diversifikasi Pangan sejak tahun 1990-an.
Tindak lanjutnya secara riil belum masif atau malah belum ada. Entahlah bagaimana kenyataannya. Yang jelas, demikian itulah yang saya rasakan sebagai anggota masyarakat awam.
Alhasil, banyak orang yang tidak mengetahui perihal diversifikasi pangan dan ketahanan pangan. Informasi detil terkait wacana diversifikasi pangan belum menyentuh golongan ini.
Sebagian yang lain sekadar tahu, tetapi tidak mempraktikkan wacana diversifikasi pangan itu. Baru sebatas mengetahui. Teoretis belaka. Praktiknya belum.
Tentu alasannya bermacam-macam. Namun intinya satu saja, yaitu susah move on dari bahan pangan pokok yang selama ini dikonsumsi. Alibi andalannya "belum kenyang kalau belum makan nasi", padahal sebenarnya telah makan banyak ubi atau singkong atau jagung.
Beras adalah bahan pangan pokok yang biasa dikonsumsi orang Indonesia. Saking tergantungnya pada beras, jenis bahan pokok pangan lain dipandang sebagai kudapan belaka. Sugesti belum kenyang kalau belum makan nasi sungguh nyata adanya.
Sementara sebagian yang lain (golongan dengan persentase terkecil), sudah paham diversifikasi pangan dan telah berusaha mempraktikkannya dalam keseharian. Syukurlah saya tergolong ke dalam golongan yang sedikit ini.
Andai kata bukan warganet aktif plus suka kepo dengan isu keanekaragaman pangan lokal Indonesia, bisa jadi saya pun belum paham mengenai diversifikasi pangan. Karena kenyataannya, sebagian warganet aktif pun kurang paham tentang isu itu.
Kiranya perpaduan antara tidak kepo (terhadap isu keanekaragaman pangan lokal) dan kurang masifnya kampanye isu tersebut menjadi penyebab utama belum suksesnya ajakan untuk melakukan diversifikasi pangan.
Logikanya, bagaimana mungkin terjadi gerakan massal diversifikasi pangan jika sebagian besar masyarakat belum paham tentangnya? Bukankah seseorang tergerak untuk melakukan sesuatu karena ia paham arti dan manfaat dari sesuatu yang dilakukannya?
Oleh sebab itu, sosialisasi mengenai pentingnya diversifikasi pangan mutlak digalakkan. Tentu tujuan utamanya supaya gerakan diversifikasi pangan segera terwujud.
Sebelum terlambat. Sebelum kemajemukan sumber pangan kita tersia-siakan. Sebelum ketahanan pangan nasional kian keropos karena banyak di antara kita yang tak mampu memanfaatkan kekayaan sumber pangan lokal yang kita punya.
Hubungan antara Diversifikasi Pangan dan Keanekaragaman Pangan Lokal Indonesia
Adakah hubungan antara diversifikasi pangan dan keanekaragaman pangan lokal Indonesia? Sangat ada, dong. Bahkan, keduanya tak terpisahkan.
Diversifikasi pangan adalah upaya untuk mencari alternatif sumber pangan pokok selain yang biasa kita konsumsi. Karena bahan pangan pokok yang biasa kita konsumsi beras, berarti kita mesti berusaha mengonsumsi bahan pangan pokok nonberas sebagai diversifikasinya.
Sementara yang dimaksud dengan keanekaragaman pangan lokal Indonesia adalah deretan bahan pangan pokok nonberas yang banyak terdapat di Indonesia. Di antaranya singkong, ubi, jagung, sagu, pisang, talas, dan kentang.
Mari ingat-ingat sejenak. Bukankah deretan bahan pangan nonberas itu umum kita jumpai? Tak sulit didapatkan. Harganya pun tak mahal. Rasanya? Tak perlu khawatir. Citarasa makanan yang diolah dari bahan-bahan pangan pokok nonberas tak kalah lezat dari nasi.
Bagaimana dengan kandungan nutrisinya? Tenanglah. Semua bahan pangan pokok nonberas itu pun mengandung nutrisi yang setara. Terlebih kalau mampu mengolahnya dengan kreatif.
Tidak sekadar memasaknya dengan cara merebus, mengukus,
atau menggoreng; tetapi mampu memodifikasi dan melengkapinya dengan
bahan pangan lain. Misalnya ditambahi dengan sayuran dan sumber protein
hewani. Dengan demikian selain tampilannya berbeda, nutrisinya juga
lebih komplet. Setara dengan seporsi nasi plus sayur dan lauk.
Silakan cermati beberapa gambar yang saya capture-kan dari akun IG Kementerian Pertanian RI berikut ini.
![]() | |
| IG Kementan RI |
![]() |
| IG Kementan RI |
![]() |
| IG Kementan RI |
![]() |
| IG Kementan RI |
![]() |
| IG Kementan RI |
Gambar-gambar di atas menunjukkan bahwa beras bisa digantikan oleh bahan-bahan pangan pokok lokal yang lain. Kandungan nutrisinya pun setara. Jadi, sungguh tak ada yang perlu dicemaskan dari diversifikasi pangan.
Justru sebaliknya, kita patut cemas jika tidak melakukan diversifikasi pangan dan hanya tergantung pada beras sebagai bahan pangan pokok. Ketahanan pangan nasional bakalan terancam. Walaupun stok bahan pangan pokok lain memadai, pasti tetap terjadi gejolak ketika ketersediaan beras terbatas.
Bisa sangat ironis. Mengapa? Karena negeri kita punya keanekaragaman pangan lokal. Sementara keanekaragaman pangan lokal adalah modal utama untuk melakukan diversifikasi pangan.
Jadi kalau kita amat tergantung pada beras, berarti kita kurang pandai mengelola karunia dari-Nya. Tentu saja karunia yang saya maksudkan berupa keanekaragaman Indonesia yang membanggakan. Terkhusus keanekaragaman pangan lokal Indonesia.
Diversifikasi Pangan dan Perlindungan Flora Indonesia
Terlepas dari segala kekurangannya, saya bersyukur ditakdirkan menjadi orang Indonesia. Betapa tidak? Karena terbentang luas dari ujung barat hingga ujung timur, bahkan meliputi tiga wilayah waktu, pastilah Indonesia memiliki sederet kemajemukan.
Penduduknya berlainan tradisi dan budaya. Karena makanan termasuk salah satu unsur kebudayaan, otomatis cara makan dan jenis makanan yang disantap penduduknya berlainan.
Begitulah adanya. Makanan pokok tiap daerah sebenarnya sesuai dengan ketersediaan bahan pangan utama di daerah tersebut. Tergantung pada pohon dan tanaman (flora) apa yang dapat tumbuh subur di situ.
Tidak perlu mengubah semua lahan pertanian menjadi lahan padi. Biarkanlah tetap ada kearifan lokal. Biarkanlah tiap daerah punya kekhasan sumber makanan pokok yang berasal dari kekayaan flora aslinya.
Dengan demikian, selain berkontribusi dalam menguatkan ketahanan
pangan nasional. berarti kita telah ikut menjaga
dan melindungi flora Indonesia. Iya. Bagaimanapun memelihara keanekaragaman pangan lokal yang ada di Indonesia mutlak dilakukan.
Perlu digarisbawahi pula bahwa dalam kaitannya dengan diversifikasi pangan, keanekaragaman pangan lokal Indonesia pastilah amat memudahkan. Lumbung pangan masyarakat tak melulu berisi padi, tetapi bisa diisi apa saja sesuai ketersediaan pangan saat itu.
Mengubah Pandangan Terhadap bahan Pangan Pokok Nonberas
Sebelumnya telah saya nyatakan bahwa saya telah menjadi bagian yang sedikit dari masyarakat. Maksudnya, saya telah paham diversifikasi pangan sekaligus telah berusaha mempraktikkannya dalam keseharian.
Iya. Sudah beberapa tahun saya sekeluarga tak tergantung pada beras. Tak makan nasi hingga seminggu pun kami sanggup. Tidak malnutrisi? Tidak, dong. Bukankah ada banyak bahan pangan lain sebagai pengganti nasi?
![]() |
| Dokpri |
![]() |
| Dokpri |
Kami tidak lagi merasa jatuh gengsi sebab sarapan dengan menu utama jagung atau ubi. Apakah tidak membosankan? Tentu tidak sebab bahan pangan pokok nonberas dapat dimodifikasi penyajiannya.
Misalnya saya merebus atau mengukus jagung, lalu menghidangkannya dengan taburan keju dan meises. Adapun pisang selain dikonsumsi segar, kadangkala saya bakar sebentar kemudian diberi tambahan seperti halnya jagung.
![]() |
| Dokpri |
![]() |
| Dokpri |
Upaya diversifikasi pangan tersebut memang menyebabkan penggunaan beras di keluarga saya jauh berkurang. Lagi pula, tak melulu beras kami tanak menjadi nasi. Kadangkala kami jadikan bubur beras dan itu pun disengaja sedikit saja berasnya sebab dicampurkan dengan bahan lain. Misalnya saya tambahkan sawi dan tahu plus kuah rendang.
![]() |
| Dokpri |
Sesederhana itu praktik diversifikasi pangan berbasis kenekaragaman pangan lokal Indonesia. Tidak ribet.
Sekali lagi, keanekaragaman pangan lokal adalah modal untuk melakukan diversifikasi pangan. Itulah sebabnya kita mesti segera melakukannya secara masif dan berkesinambungan. Demi memperkuat ketahanan pangan nasional serta menjaga dan melindungi flora Indonesia. Demi memelihara keanekaragaman pangan lokal Indonesia.
Karena diversifikasi pangan adalah kunci ketahanan pangan, berarti kita tak perlu menunda-nunda lagi untuk melakukannya. Jika diversifikasi pangan dilakukan oleh sebuah keluarga, ketahanan pangan keluarga menguat. Jika diversifikasi pangan dilakukan oleh orang-orang senegara, ketahanan pangan nasional menguat. Jadi, benarkah diversifikasi pangan adalah kunci ketahanan pangan? Iya, dong. Benar bangeeet.
***
Diolah dari berbagai sumber (antara lain dari website Kementerian Pertanian RI, akun IG Kementerian Pertanian RI, Kompas.com ) dan pengalaman pribadi.






















