Senin, 16 Agustus 2021

Diversifikasi Pangan Kunci Ketahanan Pangan?

46 komentar

Kiranya pertanyaan yang menjadi judul di atas kerap mengusik pikiran kita. Kalaupun tidak kerap, mungkin pernah sekali waktu. Yeah? Benarkah diversifikasi pangan adalah kunci ketahanan pangan? Mengapa belakangan ini acap kali ada diskusi yang memberi penekanan bahwa diversifikasi pangan adalah kunci ketahanan pangan?

Tentu saja benar. Faktanya memang begitu. Diversifikasi pangan adalah kunci ketahanan pangan. Karena benar itulah, wacana tentang diversifikasi pangan dilempar ke publik. Kementerian Pertanian RI adalah salah satu instansi yang melakukan hal tersebut.

Diversifikasi pangan adalah program yang dimaksudkan agar masyarakat tidak terpaku pada satu jenis makanan pokok saja dan terdorong untuk mengonsumsi bahan pangan lain sebagai pengganti makanan pokok yang selama ini dikonsumsi.   (Wikipedia)

Apa tujuannya? Tak lain dan tak bukan, tujuannya untuk menginformasikan manfaat diversifikasi pangan kepada khalayak seluas mungkin. Agar masyarakat Indonesia tersadarkan, betapa diversifikasi pangan adalah kunci ketahanan pangan. Plus tersadarkan bahwa potensi keanekaragaman pangan lokal Indonesia wajib dimaksimalkan pemanfaatannya. 

Kemudian setelah tahu perihal diversifikasi pangan beserta manfaatnya, khalayak diharapkan tergerak untuk melakukan diversifikasi pangan dalam hidup keseharian. Jadi, setelah paham teori disarankan untuk berpraktik.

Ide dan semangatnya sudah tepat. Namun  menurut pengamatan saya, sejauh ini wacana diversifikasi pangan belum digaungkan secara intensif dan masif. Seolah-olah terhenti pada tataran pelemparan wacana secara seremonial, padahal Departemen Pertanian RI (kini Kementerian Pertanian RI) telah mengembangkan Program Diversifikasi Pangan sejak tahun 1990-an.

Tindak lanjutnya secara riil belum masif atau malah belum ada. Entahlah bagaimana kenyataannya. Yang jelas, demikian itulah yang saya rasakan sebagai anggota masyarakat awam.

Alhasil, banyak orang yang tidak mengetahui perihal diversifikasi pangan dan ketahanan pangan. Informasi detil terkait wacana diversifikasi pangan belum menyentuh golongan ini.

Sebagian yang lain sekadar tahu, tetapi tidak mempraktikkan wacana diversifikasi pangan itu. Baru sebatas mengetahui. Teoretis belaka. Praktiknya belum.

Tentu alasannya bermacam-macam. Namun intinya satu saja, yaitu susah move on dari bahan pangan pokok yang selama ini dikonsumsi. Alibi andalannya "belum kenyang kalau belum makan nasi", padahal sebenarnya telah makan banyak ubi atau singkong atau jagung.

Beras adalah bahan pangan pokok yang biasa dikonsumsi orang Indonesia. Saking tergantungnya pada beras, jenis bahan pokok pangan lain dipandang sebagai kudapan belaka. Sugesti belum kenyang kalau belum makan nasi sungguh nyata adanya.

Sementara sebagian yang lain (golongan dengan persentase terkecil), sudah paham diversifikasi pangan dan telah berusaha mempraktikkannya dalam keseharian. Syukurlah saya tergolong ke dalam golongan yang sedikit ini.

Andai kata bukan warganet aktif plus suka kepo dengan isu keanekaragaman pangan lokal Indonesia, bisa jadi saya pun belum paham mengenai diversifikasi pangan. Karena kenyataannya, sebagian warganet aktif pun kurang paham tentang isu itu.

Kiranya perpaduan antara tidak kepo (terhadap isu keanekaragaman pangan lokal) dan kurang masifnya kampanye isu tersebut menjadi penyebab utama belum suksesnya ajakan untuk melakukan diversifikasi pangan.  

Logikanya, bagaimana mungkin terjadi gerakan massal diversifikasi pangan jika sebagian besar masyarakat belum paham tentangnya? Bukankah seseorang tergerak untuk melakukan sesuatu karena ia paham arti dan manfaat dari sesuatu yang dilakukannya?

Oleh sebab itu, sosialisasi mengenai pentingnya diversifikasi pangan mutlak digalakkan. Tentu tujuan utamanya supaya gerakan diversifikasi pangan segera terwujud.

Sebelum terlambat. Sebelum kemajemukan sumber pangan kita tersia-siakan. Sebelum ketahanan pangan nasional kian keropos karena banyak di antara kita yang tak mampu memanfaatkan kekayaan sumber pangan lokal yang kita punya.

Hubungan antara Diversifikasi Pangan dan Keanekaragaman Pangan Lokal Indonesia

Adakah hubungan antara diversifikasi pangan dan keanekaragaman pangan lokal Indonesia? Sangat ada, dong. Bahkan, keduanya tak terpisahkan.

Diversifikasi pangan adalah upaya untuk mencari alternatif sumber pangan pokok selain yang biasa kita konsumsi. Karena bahan pangan pokok yang biasa kita konsumsi beras, berarti kita mesti berusaha mengonsumsi bahan pangan  pokok nonberas sebagai diversifikasinya.

Sementara yang dimaksud dengan keanekaragaman pangan lokal Indonesia adalah deretan bahan pangan pokok nonberas yang banyak terdapat di Indonesia. Di antaranya singkong, ubi, jagung, sagu, pisang, talas, dan kentang.

Mari ingat-ingat sejenak. Bukankah deretan bahan pangan nonberas itu umum kita jumpai? Tak sulit didapatkan. Harganya pun tak mahal. Rasanya? Tak perlu khawatir. Citarasa makanan yang diolah dari bahan-bahan pangan pokok nonberas tak kalah lezat dari nasi.

Bagaimana dengan kandungan nutrisinya? Tenanglah. Semua bahan pangan pokok nonberas itu pun mengandung nutrisi yang setara. Terlebih kalau mampu mengolahnya dengan kreatif.

Tidak sekadar memasaknya dengan cara merebus, mengukus, atau menggoreng; tetapi mampu memodifikasi dan melengkapinya dengan bahan pangan lain. Misalnya ditambahi dengan sayuran dan sumber protein hewani. Dengan demikian selain tampilannya berbeda, nutrisinya juga lebih komplet. Setara dengan seporsi nasi plus sayur dan lauk.

Silakan cermati beberapa gambar yang saya capture-kan dari akun IG Kementerian Pertanian RI berikut ini.

 

IG Kementan RI

IG Kementan RI

IG Kementan RI

IG Kementan RI

IG Kementan RI


Gambar-gambar di atas menunjukkan bahwa beras bisa digantikan oleh bahan-bahan pangan pokok lokal yang lain. Kandungan nutrisinya pun setara. Jadi, sungguh tak ada yang perlu dicemaskan dari diversifikasi pangan.

Justru sebaliknya, kita patut cemas jika tidak melakukan diversifikasi pangan dan hanya tergantung pada beras sebagai bahan pangan pokok. Ketahanan pangan nasional bakalan terancam. Walaupun stok bahan pangan pokok lain memadai, pasti tetap terjadi gejolak ketika ketersediaan beras terbatas.

Bisa sangat ironis. Mengapa? Karena negeri kita punya keanekaragaman pangan lokal. Sementara keanekaragaman pangan lokal adalah modal utama untuk melakukan diversifikasi pangan.

Jadi kalau kita amat tergantung pada beras, berarti kita kurang pandai mengelola karunia dari-Nya. Tentu saja karunia yang saya maksudkan berupa keanekaragaman Indonesia yang membanggakan. Terkhusus keanekaragaman pangan lokal Indonesia.

Diversifikasi Pangan dan Perlindungan Flora Indonesia

Terlepas dari segala kekurangannya, saya bersyukur ditakdirkan menjadi orang Indonesia. Betapa tidak? Karena terbentang luas dari ujung barat hingga ujung timur, bahkan meliputi tiga wilayah waktu, pastilah  Indonesia memiliki sederet kemajemukan. 

Penduduknya berlainan tradisi dan budaya. Karena makanan termasuk salah satu unsur kebudayaan, otomatis cara makan dan jenis makanan yang disantap penduduknya berlainan. 

Begitulah adanya. Makanan pokok tiap daerah sebenarnya sesuai dengan ketersediaan bahan pangan utama di daerah tersebut. Tergantung pada pohon dan tanaman (flora) apa yang dapat tumbuh subur di situ. 

Tidak perlu mengubah semua lahan pertanian menjadi lahan padi. Biarkanlah tetap ada kearifan lokal. Biarkanlah tiap daerah punya kekhasan sumber makanan pokok yang berasal dari kekayaan flora aslinya. 

Dengan demikian, selain berkontribusi dalam menguatkan ketahanan pangan nasional. berarti kita telah ikut  menjaga dan melindungi flora Indonesia. Iya. Bagaimanapun memelihara keanekaragaman pangan lokal yang ada di Indonesia mutlak dilakukan.  

Perlu digarisbawahi pula bahwa dalam kaitannya dengan diversifikasi pangan, keanekaragaman pangan lokal Indonesia pastilah amat memudahkan. Lumbung pangan masyarakat tak melulu berisi padi, tetapi bisa diisi apa saja sesuai ketersediaan pangan saat itu.   

Mengubah Pandangan Terhadap bahan Pangan Pokok Nonberas

Sebelumnya telah saya nyatakan bahwa saya telah menjadi bagian yang sedikit dari masyarakat. Maksudnya, saya telah paham diversifikasi pangan sekaligus telah berusaha mempraktikkannya dalam keseharian. 

Iya. Sudah beberapa tahun saya sekeluarga tak tergantung pada beras. Tak makan nasi hingga seminggu pun kami sanggup. Tidak malnutrisi? Tidak, dong. Bukankah ada banyak bahan pangan lain sebagai pengganti nasi? 

 

Dokpri

Dokpri

 

Kami tidak lagi merasa jatuh gengsi sebab sarapan dengan menu utama jagung atau ubi. Apakah tidak membosankan? Tentu tidak sebab bahan pangan pokok nonberas dapat dimodifikasi penyajiannya.

Misalnya saya merebus atau mengukus jagung, lalu menghidangkannya dengan taburan keju dan meises. Adapun pisang selain dikonsumsi segar, kadangkala saya bakar sebentar kemudian diberi tambahan seperti halnya jagung. 

 

Dokpri

Dokpri

 

Upaya diversifikasi pangan tersebut memang menyebabkan penggunaan beras di keluarga saya jauh berkurang. Lagi pula, tak melulu beras kami tanak menjadi nasi. Kadangkala kami jadikan bubur beras dan itu pun disengaja sedikit saja berasnya sebab dicampurkan dengan bahan lain. Misalnya saya tambahkan sawi dan tahu plus kuah rendang. 

 

Dokpri

 

Sesederhana itu praktik diversifikasi pangan berbasis kenekaragaman pangan lokal Indonesia. Tidak ribet. 

Sekali lagi, keanekaragaman pangan lokal  adalah modal untuk melakukan diversifikasi pangan. Itulah sebabnya kita mesti segera melakukannya secara masif dan berkesinambungan. Demi memperkuat ketahanan pangan nasional serta menjaga dan melindungi flora Indonesia. Demi memelihara keanekaragaman pangan lokal Indonesia. 

Karena diversifikasi pangan adalah kunci ketahanan pangan, berarti kita tak perlu menunda-nunda lagi untuk melakukannya. Jika diversifikasi pangan dilakukan oleh sebuah keluarga, ketahanan pangan keluarga menguat. Jika diversifikasi pangan dilakukan oleh orang-orang senegara, ketahanan pangan nasional menguat. Jadi, benarkah diversifikasi pangan adalah kunci ketahanan pangan? Iya, dong. Benar bangeeet. 

***

Diolah dari berbagai sumber (antara lain dari website Kementerian Pertanian RI, akun IG Kementerian Pertanian RI, Kompas.com ) dan pengalaman pribadi.


Jumat, 16 Juli 2021

Pandemi Covid-19 dan Pikiran Positif

40 komentar

APA kabar, Sobat PIKIRAN POSITIF? Pandemi Covid-19 ternyata tak kunjung mereda, ya? Malah sedang kembali menggila eksistensinya. Semoga kita sama-sama bertahan sehat walaupun telah dikepung pandemi Covid-19 lebih dari setahun.

Harapannya tentu sehat lahir dan batin. Jiwa dan raga. Jasmani dan rohani. Sehat lahir tanpa sehat batin, apalah artinya? Sehat batin tanpa sehat lahir, repot juga sebab bakalan tergantung pada orang lain.

Begitulah adanya. Sehat batin dan sehat lahir wajib ada dalam diri ini. Keduanya mesti saling melengkapi agar kita bisa disebut sebagai manusia yang seutuhnya.

Sehat lahir dapat diupayakan dengan cara menjalani pola hidup yang sehat. Antara lain dengan mengonsumsi asupan makanan yang bernutrisi (kalau perlu ditambahi dengan suplemen vitamin), cukup bergerak (berolahraga), dan rehat yang memadai.

Sementara sehat batin dapat diupayakan dengan cara selalu mendekatkan diri kepada-Nya SWT. Senantiasa bersyukur dan berpikir positif atas segala hal yang terjadi. Selalu cepat-cepat menghempaskan pikiran negatif yang menggerogoti pikiran positif.

Sudah pasti tiap orang punya cara tersendiri untuk mencapai sehat lahir dan batinnya. Sesuai dengan kebutuhan, kesempatan, dan kemampuan masing-masing. It's normal. Tak jadi soal. Yang terpenting tujuan sehat lahir dan batinnya tercapai.

Caraku menjaga kesehatan lahir pastilah sama dengan caramu. Makan teratur dan semaksimal mungkin makanan kuatur yang bernutrisi. Pokoknya aku berkreasi supaya makan tetap hemat, namun nutrisinya tak terhenti.

Kalau soal gerak (olahraga), aku dan the gengs paling suka melakukan PPJ, yaitu Pura Pura Joging.

What's kind of it? Hahaha .... Sebenarnya sih, jalan kaki biasa yang dipadukan dengan refreshing plus semacam hunting foto. Kami biasa melakukannya pagi-pagi pada hari Senin. Mengapa? Sebab pada hari libur atau akhir pekan suasana lebih ramai.

 

PPJ di Yogyakarta bagian Rotowijayan

Motret Jokteng dulu

PPJ di Yogyakarta bagian Kadipaten


Rehat dulu PPJ-nya

 

Kami melakukan PPJ tentu untuk bakar lemak bin melemaskan kaki. Akan tetapi, rutenya dipilih yang blusukan Jogja. Tujuannya agar bisa hunting foto dan mengenali Jogja hingga ke bagian dalam-dalamnya, dong.

Alhasil sehat lahirnya dapet, sehat batinnya juga dapet. Kami berkeringat karena telah berolahraga, sekaligus menjadi bahagia sebab telah refreshing dengan melihat-lihat yang unik-unik. Bagi kami, PPJ sungguh mengasyikkan dan menyehatkan.

Yup. Beginilah cara kami menghadapi pandemi Covid-19 yang tidak kunjung mereda ini. Beginilah cara kami agar selalu kuat menggenggam pikiran positif. Tentu dalam upaya menjadi manusia yang seutuhnya, yang sehat lahir dan batin.

Nah! Bagaimana caramu meraih kesehatan lahir dan batin?

MORAL CERITA:
Dunia yang sedang tidak baik-baik saja tetap wajib kita jalani/hadapi dengan cara yang sebaik-baiknya.

Jumat, 09 Juli 2021

Sound of Borobudur: Wonderful Indonesia!

24 komentar

HAI, Sobat PIKIRAN POSITIF? Apa kabar? Semoga masih setia menggenggam erat pikiran positif. 

Aku tahu bahwa belakangan ini relatif sulit untuk bersikukuh memegangi pikiran positif. Akan tetapi, sulit enggak sulit ya harus bisa senantiasa berpikiran positif. Imunitas kita bisa kacau jika malah berkawan dengan pikiran negatif. 

Jadi jelas, ya. Sesulit apa pun prosesnya, pikiran negatif tetap wajib dihempaskan. Pokoknya jangan sampai kita diintimidasi oleh pikiran negatif. Jangan pula membiarkan diri untuk overthinking. Oke?

Salah satu cara jitu untuk selalu berpikiran positif adalah menghindari membaca/mendengar berita-berita hoaks. Benar bahwa membaca adalah aktivitas berfaedah. Namun, pastilah faedah tersebut tergantung pada apa yang kita baca. Iya 'kan?

Hmm. Kupikir, semua tulisan di www.tinbejogja.com ini bisa banget dijadikan alternatif bacaan berfaedah. Cobalah baca satu per satu untuk membuktikannya. Muehehehe ....

Jika awang-awangen untuk membaca semua satu per satu, ya baca saja tulisan yang berjudul "Sound of Borobudur: Wonderful Indonesia!" ini dulu. 


Foto Koleksi Sound Of Borobudur

O, ya. Di Kompasiana telah dua kali kutulis tentang Sound of Borobudur (SoB). Yang satu dalam rangka ikutan samber Ramadan (dilombakan); satunya lagi kutulis setelah ikutan Konferensi Internasional secara daring.

Aku beruntung diajak K-Jogja untuk ikutan International Conference Sound of Borobudur. Walaupun seharian wajib mantengin zoom, rasanya tak membosankan. Pengetahuan dan wawasanku tentang Candi Borobudur pun bertambah banyak. 

Diriku tampak terniat sekali ya, memperbincangkan Candi Borobudur? Harus, dong. Bagaimanapun candi tersebut pernah menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia. Kita harus bangga memilikinya.

Lalu, SoB itu apa? Baik. Akan kujelaskan secara singkat. Begini. SoB adalah sebuah gerakan (movement) untuk membunyikan Candi Borobudur.  

Dalam arti, alat-alat musik yang terpahat di relief-relief candi keren itu direka-reka bentuk dan bunyinya. Dilacak jejaknya, kira-kira berasal dari daerah mana, alunan nadanya bagaimana, dan sebagainya. 

 

Foto Koleksi Sound of Borobudur

Foto Koleksi Sound of Borobudur


Tentu proses itu butuh waktu tahunan. SoB telah meneliti relief tentang musik sejak 2016, lho. Inisiatornya Mbak Iie (Trie Utami).

Menarik sekali 'kan ngomongin tentang Sound of Borobudur itu? Hmm. Daripada sekadar membayangkan bunyinya, silakan langsung mendengarkannya via YouTube resmi Sound of Borobudur, ya.

Sebelum kuakhiri tulisan ini, aku hendak memberitahukan kepadamu sekalian bahwa kini berwisata ke Borobudur tidak melulu mesti ke candinya. 

Selain berswafoto enggak jelas di samping stupa, kita bisa belajar membatik dan bikin keramik. Kelak malah bisa gabung juga untuk mainin "replika" alat musik yang ada di relief Candi Borobudur.

MORAL CERITA:

Hidup ini dinamis. Demikian pula halnya dengan objek wisata.


 


Jumat, 18 Juni 2021

Mural Art di Yogyakarta (3)

36 komentar

Apa kabar Sobat PIKIRAN POSITIF? Apakah kalian merasakan lambatnya up date-an blog ini? Idem dong perasaan kita, kalau begitu. Hahahaha!

Namun, tenang saja. Aku belum berhenti menulis, kok. Kelambatan bin kelambanan terjadi sebab aku sedang fokus ikut lomba-lomba menulis dan menulis di tempat lain. Bukan karena stop menulis. 

Apakah menang? Banyak kalahnya. Yang berhasil kudapatkan hadiahnya baru yang retjeh-retjeh saja. 

Eh? Sudahlah tak usah membahas hal tersebut. Sesuai dengan judul di atas, ayo kita menikmati mural di Yogyakarta saja. Sudah seri (3), lho. Jika ketinggalan seri-seri sebelumnya, silakan baca di sini:  Mural Art di Yogyakarta 

Yogyakarta memang istimewa. Komplet keistimewaannya, baik yang terkait dengan hal menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Nah! Keberadaan mural art ini termasuk keistimewaan yang menyenangkan. 

Kalau penasaran dengan keistimewaan yang menyenangkan itu, bisa banget dinikmati di sini: Mural Art di Yogyakarta (2)

Mengapa Mural Menyenangkan? 

Mengapa mural menyenangkan? Sebab kita dapat terhibur saat melihatnya. Lebih dari itu, kita bisa mendapatkan inspirasi dan pencerahan tertentu, selaras dengan tema yang disampaikan mural yang sedang kita lihat.

Begitulah adanya. Selain berfaedah sebagai penghias kota, mural memang merupakan media penyampaian suatu pesan dengan cara santuy kepada khalayak. Katakanlah, mengedukasi tanpa menggurui. 

Tembok yang semula tampak lusuh, kumuh, dan mulai dipenuhi lumut pun dapat beralih rupa. Makin cantik dan bisa menceriakan suasana. Tidak lagi menimbulkan teror tersendiri bagi pejalan kali yang tengah melintas sendirian.  

Mural di Jalan Suronatan Yogyakarta

Melalui tulisan ini aku hendak berbagi informasi tentang mural yang ada di Jalan Suronatan Yogyakarta. Tepatnya yang mempergunakan pagar tembok sisi barat SD Negeri Ngabean sebagai kanvasnya. Tentu tembok bagian luar (jalan), ya. Bukan yang berada di halaman sekolahan.  
 
Apa tema mural di situ? Setelah kutelaah semaksimal mungkin sesuai dengan kapasitas otakku, mural di situ menyuguhkan tema umum tentang ekologi. Terkhusus menyampaikan ajakan untuk menjaga bumi dan lingkungan kita masing-masing.

Hmm. Ketimbang penasaran lebih lama, mari langsung saja simak detil estetika dan pesan yang disampaikan oleh mural di tembok SD Negeri Ngabean tersebut.







Siapa Pelukisnya?

Aku menyangka bahwa pembuat mural di tembok SD Negeri Ngabean adalah seniman Yogyakarta atau mahasiswa ISI. Sementara kawanku menduga pembuatnya para siswa SD Negeri Ngabean. Eh, ternyata sangkaan dan dugaan kami salah kabeh (salah semua).

Ternyata setelah kami cari informasinya, pelukis mural di Jalan Suronatan itu para santri Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta. Tepatnya para santriwati. Bukankah yang bersekolah di Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah hanya perempuan? Hehehe ....

Keren sekali mereka, ya? Cantik, salehah, dan kreatif. Semoga kelak di masa depan mereka menjadi para pemimpin yang dicintai bumi dan langit. 

MORAL CERITA:

Selalu ada cerita di balik sesuatu, sesederhana apa pun itu.

 

 

 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template