Jumat, 12 Maret 2021

Mural Art di Yogyakarta (2)

 



 

APA kabar Sobat PIKIRAN POSITIF? Selamat menikmati akhir pekan lagi, ya. Di mana pun, dengan cara apa pun, dan bersama siapa pun. Pokoknya apa pun yang terjadi, mari biasakan diri untuk menyikapinya dengan positif. 

Jangan salah paham. Selalu bersikap positif tidak berarti tak boleh memberi ruang untuk kesedihan, lho. Bagaimanapun kesedihan itu manusiawi. Sesekali perlu dituntaskan supaya di kemudian waktu perasaan kita menjadi lebih baik. Namun, jangan lupa. Jangan kelamaan dan kebanyakan memberi ruangnya. 'Ntar jadinya terperangkap perasaan negatif, dong.

Baik. Kukira cukup salam pembukanya yang entahlah kok bisa seserius itu. Habis baca apa ya, aku? Habis ketemu siapa, ya? Kok bisa-bisanya ketularan serius begini? Padahal, tulisan sudah secara santuy kuawali dengan tiga gambar nyeni yang mungkin agak bikin senewen. Hehehe ....

Oke. Supaya kembali santuy, kuberi gambar lagi sajalah. Obral foto mural tak jadi soal. 'Kan malah sesuai dengan judul tulisan. 

 





Bagaimana menurut kalian? Mural yang kutampilkan di sini sama keren dengan mural yang kutampilkan di Mural Art di Yogyakarta 'kan? Iya, tulisan ini memang sekuel dari tulisan tersebut. Kalau belum membacanya, silakan langsung klik saja di sini

Lokasi semua mural di atas juga di dekat SMPN 16 Yogyakarta. Tepatnya di sebelah kirinya dan di bagian belakangnya. Kalau berniat mencarinya gampang, kok. Tinggal cari SMPN 16 Yogyakarta yang beralamat di Jalan Nagan Lor Nomor 8. 

Setelah ketemu, masuklah gang di sebelah kiri sekolahan tersebut. Sesampainya di pertigaan, pilih jalur ke kiri. Ya sudah. Berjalanlah terus menyusuri gang sempit dan sepi itu. Jangan lupa perhatikan tembok-tembok di sebelah kiri dan kanan kalian. Di situlah mural yang kupamerkan ini berada. 

Gangnya sepi. Kalian bakalan jarang berpapasan dengan orang. Sebab pandemi, sekolahannya pun senyap tanpa keriuhan para siswa. Demikian pula rumah-rumah yang di situ. Tertutup rapat. Sekalipun penghuninya di rumah, hanya tirai jendela yang dibuka. Sekian lama bolak-balik lewat situ, alunan musik dan suara TV pun tak pernah kudengar. Alhasil, kalian bisa bebas mengeksplorasi pose berfoto di depan mural yang mana pun. 

O, ya. Kondisi sunyi tersebut sungguh tertolong oleh eksistensi mural. Sebelum ada mural, tembok-temboknya ya kusam-kusam seram gitu deeeh. Maka aku kadangkala merasa agak gimanaaa kalau sendirian berjalan kaki di situ. Kini setelah ada muralnya, rasa takut itu tereduksi.

 



Baiklah. Sekian saja ya, tulisanku ini. Jangan lupa baca Mural Art di Yogyakarta untuk tahu lebih banyak terkait topik ini. Salam hangat dari Yogyakarta yang konon berhati nyaman.

 

MORAL CERITA: 

Blusukan estetis adalah caraku menikmati Yogyakarta tercinta.

 


20 komentar:

  1. Bagus2 mbak gambarnya, meskipun kadang aku ga paham sama semua maksud dari mural2 itu.

    Di Jogja pasti bisa ya blusukan estetis gini, kalau di jakarta yg kejepret pasti sampah, sungai, pinggiran kali sama macet dan macet mbak hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku pun kadangkala gak gitu paham pesan-pesan yang disampaikan oleh deretan mural yang kujumpai, kok.


      O,ya,Mbak, tampaknya dalam hal beginian wong Yogyakarta memang berkelimpahan energi dan ide. 😀😀😀

      Hapus
  2. bagus - bagus semua gambarnya , tapi saya kurang paham tentang mural itu sebenarnya. pengen deh rasanya ke yogya apalagi ke sananya sama keluarga semoga jika nanti saya ke yogya kita bisa bertemu ya tante ?'' terus kopi darat bareng deh terus bikin kenang - kenangan dengan foto bersama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayolah Tari. Ntar klo ke Jogja kontakan dulu ya. Insyaallah aku siap diajakin jalan-jalan.

      Hapus
  3. Mural art nya keren keren, mbak... Pasti punya makna tersendiri dan sedikit kritik bernada satire.. Walaupun trkadang saya tak terlli faham hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oiyaaa, muralnya memang jadi semacam ajang demo dan lontaran ide. Gak semua mural itu aku pahami juga, kok. Sama kitaaah. Hehehe....

      Hapus
  4. Keren muralnya, jadi cakep temboknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, benar. Tembok tak lagi tampak kusam ditelan zaman.

      Hapus
  5. Apa arti mural-mural di atas, sepertinya hanya yang mengerti karya seni yang paham arti dari mural-mural di atas.

    BalasHapus
  6. Dulu yang punya kostan keponakan waktu kuliah di Jogja seniman, rumah dan seisinya estetis banget.

    ada mural juga yang menghiasi tembok-tembok. Meski ga paham maknanya tapi ya aku seneng aja lihatnya.

    Katanya keponakan sih sudah nggak senyaman dulu, yang paling bikin ruwet pas ketemu macet dan klitih

    untung saya pas dulu di jogja masih berhati nyaman, hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak, Jogja kian ruwe macetnya. Klo soal klitih, itu sudah ada sejak th 90-an.

      BTW seru banget itu koskosannya.

      Hapus
  7. Keren2 lukisan muralnya.
    Semoga menginspirasi bangunan gedung sekolah dekat rumahku akh ..., dindingnya dilukis2 gini kan jadi lebih eye catching, ngga serem lagi.

    BalasHapus
  8. Aku suka loh kalo tembok2 digambari mural begini. Mural yg bgs dan berseni yaa, bukan cm asal coret. Malah sbnrnya ini jd salah satu daya tarik wisata kalo memang cakep kan :). Di lingkungan rumahku skr temboknya digambarin mba, Ama anak2 mudanya yg suka gambar. Jd bagus, warna warni :). Kesannya lingkungan jd ceria yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benaar. Ini jadi spot wisata kota yang menarik. Bikin ceria dan segar memang ketimbang tembok dibiarin kusam atau tercoret coretan liar.


      Bagus tuuuh, Mbak, inisiatif anak-anak muda di lingkungan rumah Mbak.

      Semoga kreativitas mereka konsisten.

      Hapus
  9. Saya selalu terkagum kagum dengan gambar mural mural yang ada di pinggir jalan. Bisa WOW gitu gambarnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, iyaa. Aku sebagai orang yang tak piawai menggambar pun jadi pingin bisa nggambar. Hehehe...

      Hapus
  10. uwowwww, liat lukisan muralnya, kenarsisan saya seketika memanggil-manggil nih hahaha.

    Salah satu wish list saya ke Jogja nih, pengen foto di lukisan mural, di sana banyak ya, mana lucu-lucu pula muralnya, kan lumayan buat tabungan foto narsis di IG hahahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak, buanyaaak dan kuperhatikan selama satu periode tertentu bisa diganti tema muralnya. Jadi andai kata hari ini kita poto di mural A, bisa jadi tahun depanbya di aitu udah jadi mural B. Jadi, memang butuh dicekrek berkali-kali untuk dokumentasi dan tabungan narsis hahaha...

      Hapus

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!

 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template