Senin, 16 Agustus 2021

Benarkah Diversifikasi Pangan Adalah Kunci Ketahanan Pangan?

Kiranya pertanyaan yang menjadi judul di atas kerap mengusik pikiran kita. Kalaupun tidak kerap, mungkin pernah sekali waktu. Yeah? Benarkah diversifikasi pangan adalah kunci ketahanan pangan? Mengapa belakangan ini acap kali ada diskusi yang memberi penekanan bahwa diversifikasi pangan adalah kunci ketahanan pangan?

Tentu saja benar. Faktanya memang begitu. Diversifikasi pangan adalah kunci ketahanan pangan. Karena benar itulah, wacana tentang diversifikasi pangan dilempar ke publik. Kementerian Pertanian RI adalah salah satu instansi yang melakukan hal tersebut.

Diversifikasi pangan adalah program yang dimaksudkan agar masyarakat tidak terpaku pada satu jenis makanan pokok saja dan terdorong untuk mengonsumsi bahan pangan lain sebagai pengganti makanan pokok yang selama ini dikonsumsi.   (Wikipedia)

Apa tujuannya? Tak lain dan tak bukan, tujuannya untuk menginformasikan manfaat diversifikasi pangan kepada khalayak seluas mungkin. Agar masyarakat Indonesia tersadarkan, betapa diversifikasi pangan adalah kunci ketahanan pangan. Plus tersadarkan bahwa potensi keanekaragaman pangan lokal Indonesia wajib dimaksimalkan pemanfaatannya. 

Kemudian setelah tahu perihal diversifikasi pangan beserta manfaatnya, khalayak diharapkan tergerak untuk melakukan diversifikasi pangan dalam hidup keseharian. Jadi, setelah paham teori disarankan untuk berpraktik.

Ide dan semangatnya sudah tepat. Namun  menurut pengamatan saya, sejauh ini wacana diversifikasi pangan belum digaungkan secara intensif dan masif. Seolah-olah terhenti pada tataran pelemparan wacana secara seremonial, padahal Departemen Pertanian RI (kini Kementerian Pertanian RI) telah mengembangkan Program Diversifikasi Pangan sejak tahun 1990-an.

Tindak lanjutnya secara riil belum masif atau malah belum ada. Entahlah bagaimana kenyataannya. Yang jelas, demikian itulah yang saya rasakan sebagai anggota masyarakat awam.

Alhasil, banyak orang yang tidak mengetahui perihal diversifikasi pangan dan ketahanan pangan. Informasi detil terkait wacana diversifikasi pangan belum menyentuh golongan ini.

Sebagian yang lain sekadar tahu, tetapi tidak mempraktikkan wacana diversifikasi pangan itu. Baru sebatas mengetahui. Teoretis belaka. Praktiknya belum.

Tentu alasannya bermacam-macam. Namun intinya satu saja, yaitu susah move on dari bahan pangan pokok yang selama ini dikonsumsi. Alibi andalannya "belum kenyang kalau belum makan nasi", padahal sebenarnya telah makan banyak ubi atau singkong atau jagung.

Beras adalah bahan pangan pokok yang biasa dikonsumsi orang Indonesia. Saking tergantungnya pada beras, jenis bahan pokok pangan lain dipandang sebagai kudapan belaka. Sugesti belum kenyang kalau belum makan nasi sungguh nyata adanya.

Sementara sebagian yang lain (golongan dengan persentase terkecil), sudah paham diversifikasi pangan dan telah berusaha mempraktikkannya dalam keseharian. Syukurlah saya tergolong ke dalam golongan yang sedikit ini.

Andai kata bukan warganet aktif plus suka kepo dengan isu keanekaragaman pangan lokal Indonesia, bisa jadi saya pun belum paham mengenai diversifikasi pangan. Karena kenyataannya, sebagian warganet aktif pun kurang paham tentang isu itu.

Kiranya perpaduan antara tidak kepo (terhadap isu keanekaragaman pangan lokal) dan kurang masifnya kampanye isu tersebut menjadi penyebab utama belum suksesnya ajakan untuk melakukan diversifikasi pangan.  

Logikanya, bagaimana mungkin terjadi gerakan massal diversifikasi pangan jika sebagian besar masyarakat belum paham tentangnya? Bukankah seseorang tergerak untuk melakukan sesuatu karena ia paham arti dan manfaat dari sesuatu yang dilakukannya?

Oleh sebab itu, sosialisasi mengenai pentingnya diversifikasi pangan mutlak digalakkan. Tentu tujuan utamanya supaya gerakan diversifikasi pangan segera terwujud.

Sebelum terlambat. Sebelum kemajemukan sumber pangan kita tersia-siakan. Sebelum ketahanan pangan nasional kian keropos karena banyak di antara kita yang tak mampu memanfaatkan kekayaan sumber pangan lokal yang kita punya.

Hubungan antara Diversifikasi Pangan dan Keanekaragaman Pangan Lokal Indonesia

Adakah hubungan antara diversifikasi pangan dan keanekaragaman pangan lokal Indonesia? Sangat ada, dong. Bahkan, keduanya tak terpisahkan.

Diversifikasi pangan adalah upaya untuk mencari alternatif sumber pangan pokok selain yang biasa kita konsumsi. Karena bahan pangan pokok yang biasa kita konsumsi beras, berarti kita mesti berusaha mengonsumsi bahan pangan  pokok nonberas sebagai diversifikasinya.

Sementara yang dimaksud dengan keanekaragaman pangan lokal Indonesia adalah deretan bahan pangan pokok nonberas yang banyak terdapat di Indonesia. Di antaranya singkong, ubi, jagung, sagu, pisang, talas, dan kentang.

Mari ingat-ingat sejenak. Bukankah deretan bahan pangan nonberas itu umum kita jumpai? Tak sulit didapatkan. Harganya pun tak mahal. Rasanya? Tak perlu khawatir. Citarasa makanan yang diolah dari bahan-bahan pangan pokok nonberas tak kalah lezat dari nasi.

Bagaimana dengan kandungan nutrisinya? Tenanglah. Semua bahan pangan pokok nonberas itu pun mengandung nutrisi yang setara. Terlebih kalau mampu mengolahnya dengan kreatif.

Tidak sekadar memasaknya dengan cara merebus, mengukus, atau menggoreng; tetapi mampu memodifikasi dan melengkapinya dengan bahan pangan lain. Misalnya ditambahi dengan sayuran dan sumber protein hewani. Dengan demikian selain tampilannya berbeda, nutrisinya juga lebih komplet. Setara dengan seporsi nasi plus sayur dan lauk.

Silakan cermati beberapa gambar yang saya capture-kan dari akun IG Kementerian Pertanian RI berikut ini.

IG Kementan RI

IG Kementan RI

IG Kementan RI

IG Kementan RI

IG Kementan RI


Gambar-gambar di atas menunjukkan bahwa beras bisa digantikan oleh bahan-bahan pangan pokok lokal yang lain. Kandungan nutrisinya pun setara. Jadi, sungguh tak ada yang perlu dicemaskan dari diversifikasi pangan.

Justru sebaliknya, kita patut cemas jika tidak melakukan diversifikasi pangan dan hanya tergantung pada beras sebagai bahan pangan pokok. Ketahanan pangan nasional bakalan terancam. Walaupun stok bahan pangan pokok lain memadai, pasti tetap terjadi gejolak ketika ketersediaan beras terbatas.

Bisa sangat ironis. Mengapa? Karena negeri kita punya keanekaragaman pangan lokal. Sementara keanekaragaman pangan lokal adalah modal utama untuk melakukan diversifikasi pangan.

Jadi kalau kita amat tergantung pada beras, berarti kita kurang pandai mengelola karunia dari-Nya. Tentu saja karunia yang saya maksudkan berupa keanekaragaman Indonesia yang membanggakan. Terkhusus keanekaragaman pangan lokal Indonesia.

Diversifikasi Pangan dan Perlindungan Flora Indonesia

Terlepas dari segala kekurangannya, saya bersyukur ditakdirkan menjadi orang Indonesia. Betapa tidak? Karena terbentang luas dari ujung barat hingga ujung timur, bahkan meliputi tiga wilayah waktu, pastilah  Indonesia memiliki sederet kemajemukan. 

Penduduknya berlainan tradisi dan budaya. Karena makanan termasuk salah satu unsur kebudayaan, otomatis cara makan dan jenis makanan yang disantap penduduknya berlainan. 

Begitulah adanya. Makanan pokok tiap daerah sebenarnya sesuai dengan ketersediaan bahan pangan utama di daerah tersebut. Tergantung pada pohon dan tanaman (flora) apa yang dapat tumbuh subur di situ. 

Tidak perlu mengubah semua lahan pertanian menjadi lahan padi. Biarkanlah tetap ada kearifan lokal. Biarkanlah tiap daerah punya kekhasan sumber makanan pokok yang berasal dari kekayaan flora aslinya. 

Dengan demikian, selain berkontribusi dalam menguatkan ketahanan pangan nasional. berarti kita telah ikut  menjaga dan melindungi flora Indonesia. Iya. Bagaimanapun memelihara keanekaragaman pangan lokal yang ada di Indonesia mutlak dilakukan.  

Perlu digarisbawahi pula bahwa dalam kaitannya dengan diversifikasi pangan, keanekaragaman pangan lokal Indonesia pastilah amat memudahkan. Lumbung pangan masyarakat tak melulu berisi padi, tetapi bisa diisi apa saja sesuai ketersediaan pangan saat itu.   

Mengubah Pandangan Terhadap bahan Pangan Pokok Nonberas

Sebelumnya telah saya nyatakan bahwa saya telah menjadi bagian yang sedikit dari masyarakat. Maksudnya, saya telah paham diversifikasi pangan sekaligus telah berusaha mempraktikkannya dalam keseharian. 

Iya. Sudah beberapa tahun saya sekeluarga tak tergantung pada beras. Tak makan nasi hingga seminggu pun kami sanggup. Tidak malnutrisi? Tidak, dong. Bukankah ada banyak bahan pangan lain sebagai pengganti nasi? 

 

Dokpri

Dokpri

 

Kami tidak lagi merasa jatuh gengsi sebab sarapan dengan menu utama jagung atau ubi. Apakah tidak membosankan? Tentu tidak sebab bahan pangan pokok nonberas dapat dimodifikasi penyajiannya.

Misalnya saya merebus atau mengukus jagung, lalu menghidangkannya dengan taburan keju dan meises. Adapun pisang selain dikonsumsi segar, kadangkala saya bakar sebentar kemudian diberi tambahan seperti halnya jagung. 

 

Dokpri

Dokpri

 

Upaya diversifikasi pangan tersebut memang menyebabkan penggunaan beras di keluarga saya jauh berkurang. Lagi pula, tak melulu beras kami tanak menjadi nasi. Kadangkala kami jadikan bubur beras dan itu pun disengaja sedikit saja berasnya sebab dicampurkan dengan bahan lain. Misalnya saya tambahkan sawi dan tahu plus kuah rendang. 

 

Dokpri

 

Sesederhana itu praktik diversifikasi pangan berbasis kenekaragaman pangan lokal Indonesia. Tidak ribet. 

Sekali lagi, keanekaragaman pangan lokal  adalah modal untuk melakukan diversifikasi pangan. Itulah sebabnya kita mesti segera melakukannya secara masif dan berkesinambungan. Demi memperkuat ketahanan pangan nasional serta menjaga dan melindungi flora Indonesia. Demi memelihara keanekaragaman pangan lokal Indonesia. 

Karena diversifikasi pangan adalah kunci ketahanan pangan, berarti kita tak perlu menunda-nunda lagi untuk melakukannya. Jika diversifikasi pangan dilakukan oleh sebuah keluarga, ketahanan pangan keluarga menguat. Jika diversifikasi pangan dilakukan oleh orang-orang senegara, ketahanan pangan nasional menguat. Jadi, benarkah diversifikasi pangan adalah kunci ketahanan pangan? Iya, dong. Benar bangeeet. 

 

***

Diolah dari berbagai sumber (antara lain dari website Kementerian Pertanian RI, akun IG Kementerian Pertanian RI, Kompas.com ) dan pengalaman pribadi.


45 komentar:

  1. Jujur. Saya sedih kalau berbicara diversifikasi pangan. Pikiran saya melayang ke ere 60-an. Karena punya beras sedikit emak masak nasi bercampur pisang mentah. Sekarang apapun istilahnya, perut saya yang nasibanget ini belum sanggup menggantinya dengan jenis pangan apapun. He he ...biarlah derita tahun enam puluhan itu berlalu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, saya baru sadar akan adanya sudut pandang lain dari topik diversifikasi pangan ini, Bu. Terima kasih atas tambahan sudut pandangnya.

      Hapus
  2. Saya pribadi setuju banget dong klo diversifikasi pangan itu kunci ketahanan pangan. Contoh yang saya alami deh. Saat beras dari padi harganya menjulang, sy bisa beralih ke sego singkong, atau nasi dari singkong yang juga sehat dan mengenyangkan. Saat mie konvensional berbahan terigu itu habis, sy tinggal memasak mie berbahan dasar tepung mocaf... Sama-sama enak. Memang sungguh kaya saya ini, eh Indonesia ding
    Kaya sumber pangan. Bersyukurlah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, kita menjadi tidak gagap manakala beras susah didapat atau sedang mihil.

      Hapus
  3. Ngomongin ketahanan pangan jadi inget era order baru. Saya perhatikan di setiap repelita, nomor satunya adalah swasembada beras. Namanya pangan, sampe sekarang ya pastinya harus dinomorsatukan, ya. Perut gak bisa nunggu lama2 kalo lagi laper. Bangga banget Indonesia punya makanan beragam. Sumber karbohidrat pun banyak banget macamnya. Semoga bisa mendukung ketahanan pangan di negeri ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, benar banget. Orde Baru memang turut berperan dalam membentuk mindset "bahan pangan pokok ya nasi".

      Hapus
  4. Aku pingin icip bubur kuah rendang dan jakemeisnyaa ... jagung keju meises. Aku dukung diversifikasi pangan, walau isik doyan sego hehehe

    BalasHapus
  5. Gara-gara pemerintah zaman dulu mindset kita makanan pokok ya beras..

    BalasHapus
  6. Aku suka ganti nasi dengan makanan pokok lainnya, karena jujur aja aku kadang bosen sama nasi.. tapi ya nasi tetep masih dominan sih. Btw, aku baru tau biar kenyang seperti seporsi nasi itu bisa diganti jadi 2 kentang.. biasanya aku cuma satu kentang..

    BalasHapus
  7. Memang betul, Mbak. Selama ini kalau belum makan beras jadi mengaku belum makan lantaran sudah kebiasaan. Ketergantungan kita pada beras akhirnya meningkat dan memberatkan kita sendiri padahal banyak opsi lain sebagai sumber karbohidrat. Di desa saya dulu masih lazim makan gembili dan talas, kini kudapannya beralih. Lalu ada mbote dan sorgum. Sayangnya edukasi dan praktik di departemen menurutku masih kurang, masih mengagungkan beras. Nah belakangan ini aku pengin nyobain hanjeli alias jali-jali, Mbak. Buat ngurangin beras, moga ana-anak suka. Semoga ketahanan pangan bisa diwujudkan dengan diversifikasi makanan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, benar memang. Ketergantungn pada beras kian kuat bila kita tidak open minded.

      Ah,semangat berhanjeli ria, Mas.

      Hapus
  8. Duh,, belum kebayang nih ganti bahan makan pokok,, selama ini kalau belum makan nasi dianggap belum makan,, 🤣🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaa ... untuk pertama kali dilatih dulu aja, Mas. Lagi pula, diversifikasi bukanlah berarti sama sekli tak makan nasi lagi.

      Hapus
  9. Udah mulai sih ga rutin hanya makan nasi 3x sehari. Cukup 1x aja, sisanya ganti yg lain. Berbasis gandum sih paling. Mau coba pisang juga kalau pagi cocok utk diet. Krn cukup kenyang n sehat ganti sarapan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pun mulainya dulu dengan pembiasaan bgitu, Mas.

      Hapus
  10. Saat ini keluarga masih tergantung dengan beras. Tentang Diversifikasi beras ini saya rasa macam diet yang coba saya lakukan, yang mencoba tidak memasukkan nasi sebagai menu makan, Sebenarnya enak banget rasanya diperut dan ya, badan jadi lebih segar. Dan juga jadi nggak tergantung dengan nasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Agak lain dengan diet nasi sih ini, kalau diversifikasi pangan masih konsumsi nasi, tetapi tidak rutin sehingga ketyerhantungan

      Hapus
  11. Menarik nih soal diversifikasi pangan. Aku pertama kenalan dengan diversifikasi pangan ini waktu SD. Pelajaran IPS. Dan itu tertanam banget di benakku sampai sekarang. Bagiku (dan kubiasakan ke anak-anak), makan nggak harus nasi karena sumber karbohidrat ada banyak banget. Kendalanya pada kelurga besar yang masih kuat berpaham: makan ya mesti pakai nasi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, Mbak. Tantanganku ya di keluarga besar.

      Hapus
  12. Wahhh ak sempat merasakan hal itu dan akhirnya masih kuterapkan hingga saat ini, lebih bersyukur aja dengan apa yang ada.. Jadi tidak melulu harus makan ini itu.. Tinggal dikolaborasikan dengan yang lain atau jika nasi tidak ada bisa digantikan dengan sumber karbohidrat yang lain yang juga lebih sehat..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Malah lebih nyaman bersikap fleksibel begitu, Mas. Iya kan?

      Hapus
  13. saya pernah ikut sebuah webinar beberapa bulan lalu, dan disana pula saya baru mengetahui jika keanekaragaman pangan lokal ini sangat banyak di tanah air dan yang terdata cukup banyak. Nah untuk diversifikasi pangan ini terkadang resource nya yang susah di dapat. Memang dari kecil sudah seharusnya ada edukasi dan sosialisasi pada diri dan keluarga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Bang. Soal pemanfaatan keanekaragaman pangan lokal sebagai modal untuk diversifikasi pangan ini memang idealnya sudah diperkenalkan sejak dini. Tentu beserta pembiasaannya.

      Hapus
  14. Tapi sepertinua di beberapa daerah masih sulit bgtu ya krna menganggap beras adalah makanan pokok dn sulit menggantinya ke yang lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada kesalahan dari program pemerintah puluhan tahun silam, yaitu malah menyamaratakan makanan pokok di seantero negeri dengan beras.

      Hapus
  15. Orang Indonesia memang ga bisa tanpa nasi hehehe kecuali mungkin lagi kepengen diet karbo hahah :D Padahal diversifikasi pangan mesti didukung bersama ya. Sesekali kita bisa sarapan dengan jagung rebus misalnya, atau singkong dengan kelapa kukus dll. Nilai gizinya tinggi loh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua kembali ke pembiasaan, Mbak. Kita pun mesti pintar memodifikasi dan berkreasi dalam mengolah bahan pangan pokok alternatif itu.

      Hapus
  16. kita memang masih belum makan kalau belum makan nasi, padahal perut terkadang sudah kenyang dengan makan mie goreng atau bubur kacang hijau...semoga mindset kita lebih kepada gizi nya bukan luarnya saja, tetap 4 sehat lima sempurna meski bukan dengan nasi saja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, ini yang ternyata masih menjadi PR kita bersama. Makan nasi kalau hanya berlauk kerupuk ya buat apa? Lebih baik makan ubi bercampur taburan keju. Iya kan? Hehehehe ...

      Hapus
  17. kalo sereal termasuk pangan pokok gak ya? soalnya saya sering banget sarapan pagi pake sereal (kokokran) + susu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Termasuk, tetapi itu dari bahan pangan impor, bukan keanekaragaman pangan lokal Indonesia.

      Hapus
  18. Rasanya biarpun sudah makan singkong, pisang, ketela, misro, dan lain-lain, kalo ditanya emak, sudah makan belum? Pasti jawab belum soalnya belum makan nasi.😂

    Disertifikasi pangan sudah dari dulu sih aku baca, cuma ya memang masih banyak yang belum tahu. Entah kurang sosialisasi dari pemerintah atau memang ketergantungan terhadap beras sudah tinggi kali ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaa .. Belum makan, padahal perut sudah kenyang.

      BTW divertifikasi pangan kurang dikenal sebab memang kurang sosialisasi dan ketambahan ketergantungan pada beras sudah telanjur tinggi.

      Hapus
  19. padahal keanekaragaman pangan lokal Indonesia cukup banyak ya mba tina, ada singkong, ubi, jagung, sagu, pisang, talas, dan kentang. Lainnya juga masih banyak lagi sebenarnya. Jadi ingat jaman kecil dulu aku dititipin ke tetangga, di tempat tetangga itu maemnya ga nasi sih tapi kecrek atau tiwul ya dikasih sayur dan lauk juga, aku icipin malah seperti nyemil hehehe...tapi memang mengenyangkan seperti nasi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waiyaa, makan tiwul pakai sayur dan lauk, itu pernah kulakukan saat ada acara di bulan Ramadan, di Gunungkidul.

      Hapus
  20. Diversifikasi pangan itu kunci ketahanan pangan setuju banget, kalau tak ada nasi kita bisa makan Indomie atau mie pangsit atau gado-gado bisa membuat kenyang juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bhahahahaa ... Iya, dalam skala pribadi dan keluarga aja sudah kelihatan, ya.

      Hapus
  21. Diversifikasi dan merubah budaya makanan mesti berjalan seiring. Program Diversifikasi juga didukung dengan program pengembangan komoditi yang menjadi basic diversifikasi seperti benih, varietas unggul dan Pola tanam kewilayahan. Nanti slogan diversifikasi hanya angan angan, tanpa didukung infratruktur yang memadai dan mendukung program diversifikasi. Salam sehat dan salam semangat diversifikasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, benar sekali, Pak. Kalau infrastrukturnya dan budaya makannya tak disesuaikan, jelas hanya akan menjadi slogan.

      Hapus
  22. Setuju mba. Aku sendiri makan nasi hanya sesekali :D. Aku udah bbrp bulan ini ganti nasi Ama kentang. Kadang roti. Suami yg masih nasi, tapi kalo sedang masak steak di rumah, dia langsung switch ke kentang juga.

    Anak2ku aku biasain utk ga selalu nasi. Biar perutnya terbiasa Ama makanan pokok lainnya. Biasanya mereka paling suka Ama roti sih. Nasi ga makan seharian, GPP. Yg penting ttp ada gantinya :D. Kalo si Adek yg suka eksplor pengganti lain, kayak jagung, kentang :D. Pokoknya aku bebasinnaja sih. Yg penting jgn terlalu nasi Mulu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, anakku pun paling suka nasi diganti roti. Namun, sekarang mulai suka diganti jagung dan kentang. Sekarang jadinya makin variatif kami makannya.

      Hapus
  23. wah bisa susun curriculum Vitae ni...buat lamar pekerjaan he he he...sayangnya sistem sekarang dapat mendeteksi segala hal melaui algoritma ya...online soalnya

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!

 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template