Jadi begini. Rabu lalu setelah long weekend, aku dan dua kawan blusukan ke Tamansari dan sekitarnya. Tidak mau kalah dari wisatawan luar kota, dong. Lagi pula, satu kawan (yang tidak berkostum merah) itungannya dari luar kota juga.
Dia tinggal di Jalan Kaliurang bagian atas. Bukan akamsi seperti aku dan temanku yang pakai jersey Arsenal itu. Kalau kami berdua 'kan berdomisili di Kota Yogyakarta. Di sekitaran Tamansari pula. Akamsi banget 'kan?
Nah, blusukan kami jadwalkan Rabu. Bertepatan dengan tanggal 20 Mei, Hari Kebangkitan Nasional.
Bertepatan pula dengan kesuksesan Arsenal megang piala setelah 22 tahun berpuasa gelar. Itulah sebabnya temanku yang suporter setia Arsenal merayakannya dengan pakai jersey itu.
Adapun aku sebagai suporter setia MU, berbesar hati ikut merayakannya. Pakai merah, sebab merah juga warna kebanggaan MU. Yaelah. Penting banget membahas warna merah di sini. Haha!
Kami sepakat ngumpul di Pasar Ngasem pukul 7 pagi. Yang ternyata ... ramai bangeeet. Penuh wisatawan yang antre buat beli sarapan. Sebab terlalu ramai, kami sampai kesulitan untuk saling menemukan.
Sungguh tak terduga. Rabu-rabu kok ya serasa akhir pekan. Serasa long weekend. Ya sudah. Akhirnya kami langsung meninggalkan tikum. Menuju ke barat. Ke bekas kampus Universitas Widya Mataram Yogyakarta.
Di satu sudut sepi yang ada bunga kambojanya, tetapi bukan kuburan, aku disuruh berpose oleh temanku. Entah apa tujuannya. Aku pun patuh-patuh saja. Entah apa pula motivasiku saat itu.
Eh, malah patuh lagi ketika disuruh berpose di depan pintu estetik yang ... sesungguhnya terasa kurang nyaman di hati saat itu. Aku sampai minta izin; bilang permisi dan ucap salam, lho. Alhamdulillah tak ada dampak apa-apa.
Nah. Kalau yang di atas itu memang akunya yang niat narsis. Alasannya apa? Ya senang saja nemu latar belakang yang kontras dengan baju dan kerudung. Haha! Hasilnya oke juga "kan? Jarang lho, aku berani pede dalam berpose.
Dua foto berikutnya adalah swafoto kami bertiga di bekas Kampus UWMY. Yang juga merupakan ndalem Mangkubumen. Suasananya sepi, lho. Itulah sebabnya kami pede buat berpose-pose.
Eh? Ada seorang sekuriti yang kesepian, sih. Ia bertugas sendirian saja. Bukan sekuriti Kampus UWMY, melainkan sekuriti Sekolah Tumbuh. Sepertinya tingkat SD. Entahlah. Tapi ya itungannya memang sepi. Tidak seperti SD pada umumnya yang punya banyak siswa.
Swafoto berikutnya lagi, satu suporter Arsenal dan satu suporter MU, juga berlatar belakang bekas Kampus UWMY. Luar biasa glowing 'kan kami? Hihi ... Itu bukan kameranya, melainkan cahaya mataharinya yang pas. Kebetulan si kamera kalau cocok formula cahaya alaminya, hasilnya ngedab-ngedabi. Glowing maksimal. Ckckck. Sungguh pembohongan terhadap publik.
Akhirnya foto terakhir adalah aku bersama si Arsenal itu lagi. Itu berfotonya di Gedong Carik. Kalau kalian pernah ke Tamansari Watercastle Yogyakarta dan pemandunya eksploratif, kemungkinan besar kalian pernah ke sini.
Oiyaaa. Nyaris lupa menjelaskan dua fotoku yang paling atas dan tepat persis setelahnya. Itu aku berpose di area Tamansari juga, tetapi yang paling pinggir selatan. Jadi kalau tidak eksploratif, walaupun kalian sudah ke Tamansari yang kolam-kolam itu, bisa jadi belum sampai sini. Yang itu berada persis di belakang SMPN 16 Kota Yogyakarta.

Wa..seru sekali blusukannya! Rasanya seperti ikut jalan-jalan saya..
BalasHapusFoto-fotonya juga keren, apalagi outfit merah, kontras dengan latar bangunan bersejarah sehingga hasilnya makin estetik. Ternyata jadi akamsi pun masih bisa menemukan banyak spot menarik untuk dieksplorasi
Menyala syekali, kak! 🤣🤣
BalasHapus