Untuk tahu lebih jauh tentang Selasa Wagen, silakan klik DI SINI.
Ngomong-ngomong sudah Mei saja, nih. Sudah mau setengah tahun kita jalani 2026. Semoga kita tetap semangat memperjuangkan resolusi-resolusi yang belum tereksekusi, ya ... #toyordirisendiri
Sudah, sudah. Ngomongin resolusinya cukup di sini dulu. Sekarang mari ngomongin masa lalu saja. Masa lalunya bukan tentang sejarah yang berat-berat, kok. Cuma masa lalu terkait ... sepeda-sepeda dalam foto itu!
Bila kamu pada akhir-akhir 2018 ke Jogja, coba ingat-ingat. Pernah lihat sepeda-sepeda itu atau tidak? Ketika sedang berkunjung di Malioboro atau di sekitarannya? Atau, malah pernah menaikinya?
Kalau pernah melihatnya, beruntung. Kalau pernah menaikinya, jauh lebih beruntung. Kenapa? Karena sekarang sudah tidak bisa dilihat, apalagi dinaiki.
Sudah lama sekali sepeda-sepeda itu raib dari peredaran. Seingatku bahkan sebelum pandemi. Aku masih ancang-ancang mau download aplikasinya untuk nyoba, eh malah mendadak hilang. Ya sudah. Aku tuh kurang gercep.
Namun kupikir-pikir aku beruntung sedikitlah, ya ... masih sempat memotretnya. Tatkala itu, saat di Malioboro ada Selasa Wagen.
Apa itu Selasa Wagen? Itulah masa ketika Malioboro dibersihkan para PKL sehingga mereka libur jualan dan sejak pagi sampai malam diselenggarakan kegiatan kesenian di jalanannya.
Serukah? Banget. Kapan lagi bisa bebas berjalan dan pepotoan di tengah jalan raya yang biasanya dipadati kendaraan?
Hmm. Sayangnya itu sudah masa lalu. Selasa Wagen era sekarang agak berbeda detil pelaksanaannya. Sama menariknya dengan format lama, tetapi berlainan nuansa.
Begitulah adanya Malioboro dan Yogyakarta. Sangat dinamis perkembangan terkininya ...

Isu sepeda di Malioboro ini memang cukup menarik karena berkaitan dengan kenyamanan dan fungsi ruang publik. Pengaturan seperti ini pasti butuh pertimbangan yang matang supaya semua tetap nyaman
BalasHapusWah, jadi kini sepeda-sepeda itu sudah ga berseliweran lagi di area Malioboro ya? Bisa jadi maksudnya untuk menertibkan agar pejalan kaki makin aman dan nyaman. Kangen juga sih dengan keramaian tempo doeloe ya. Padahal kalau bisa disewa kayak di Kota Tua Jakarta, seruuuu hihihihi. Asalkan diatur khusus pesepeda :D
BalasHapusAku pernah lihat fotonya, sayang banget kini malah sudah tak ada...Padahal belum sempat nyoba sepeda Malioboro ini..hiks
BalasHapusSemoga format Selasa Wagen sekarang makin nyaman dan menyenangkan
Eh maksudnya raib, ini hilang atau owner usaha sudah tutup usaha mba?
BalasHapusAku ga pernah liat malah sepada2 ini pas sebelum pandemi. Mungkin Krn tiap ke Jogja aku selalu stay jauh dari kota 😅. Memang cari yg sejuk dan ga crowded.
woww... diriku jadi ikutan nostalgia masa-masa Selasa Wagen dulu! Memang beda banget ya rasanya, apalagi keberadaan sepeda ikonik itu yang sekarang tinggal kenangan di galeri foto.
BalasHapusJogja memang selalu dinamis dan penuh kejutan, tapi memori jalan kaki bebas di Malioboro tanpa bising kendaraan tetap yang paling juara di hati.
Padahal bersepeda seharusnya menjadi salah satu identitas kuat bagi Jogja, bukan sekadar pelengkap visual pariwisata. Apalagi sekarang malah menghilang. Memang menjadi tantangan besar bagi pemerintah kota untuk menyeimbangkan hak pejalan kaki, pesepeda, dan penataan kawasan, nih.
BalasHapusSepertinya terakhir ke Malioboro aku nggak lihat sepedanya mbak. Wah sayang sekali kalau udah nggak ada ya. Padahal asyik tu kalau bisa sewa sepeda dan berkeliling sendiri naik sepeda kek gitu.
BalasHapusTapi emang kalau banyak kendaraan bermotor malah jadinya mengkhawatirkan, kecuali kalau disewakannya pas CFD kali ya. Apa ini yg jadi salah satu pertimbangan sepedanya "dihilangkan" ya?
Mantap banget Mbak. Update informasi dari warga lokal emang keren, aktual. Kebetulan pas ke Yogyakarta emang udah nggak ada sepeda-sepeda sih di kawasan Malioboro.
BalasHapusBener adanya, Malioboro sangat dinamis banget, tetapi tidak pernah membosankan, selalu menarik buat di datangi.
baca ini jadi bikin pengen ke jogja lagi :D
BalasHapus