Minggu, 08 Oktober 2023

Serunya Garebeg Mulud 2023

HALO, Sobat PIKIRAN POSITIF? Sekarang aku akan bercerita tentang Garebeg Mulud Jimawal 1957. Yang artinya, garebeg yang diselenggarakan pada Rabiul Awal 1445 H. 

Hajat Dalem Garebeg Mulud dilakukan pagi hari setelah Kondur Gongso. Jadi pada tahun 2023 ini, karena Kondur Gongso-nya pada Rabu malam, Garebeg Mulud dilaksanakan Kamis pagi. Bertepatan dengan tanggal Masehi 28 September 2023.

Prosesi Garebeg Mulud tersebut dimulai pukul 10.00 WIB. Bermula dari Bangsal Pancaniti di Kamandungan Lor, melewati Regol Brajanala, Sitihinggil Lor, Bangsal Pagelaran, dan berakhir di Pelataran ingkang Kagungan nDalem Masjid Gedhe Kraton (Masjid Gedhe Kauman).



Dokpri Agustina


Pelataran Masjid Gedhe Kauman adalah titik terakhir dari prosesi Garebeg Maulud, yang sekaligus menjadi tempat rayahan (rebutan) gunungan. Oleh karena itu, orang-orang yang berniat ikut rayahan gunungan akan langsung menuju area Masjid Gedhe Kauman. 

Jika ingin menonton betapa "gilanya" situasi rayahan gunungan, silakan cek saja di akun-akun IG, Tiktok, atau Youtube yang menayangkannya. Sebab tempo hari fokusku di sekitar Bangsal Pagelaran, aku cuma bisa mendokumentasikan situasi di situ setelah gunungan tinggal sisa-sisa. 
 

Dokpri Agustina

Dokpri Agustina

Dokpri Agustina


Perlu diketahui bahwa ada 5 gunungan yang diperebutkan di Pelataran Masjid Gedhe Kauman. Lalu, siapa yang membawa semuanya ke situ? Tim kanca abrit, dong

Kanca abrit pula yang membawa pulang peranti memikulnya. Kasihan juga kupikir-pikir. Keluar kraton berat, masuk kraton masih lumayan berat. Untunglah saja tim ini seragamnya memakai alas kaki. Kalau tanpa alas kaki, alangkah makin berat beban tugasnya. 
 

Dokpri Agustina


Dokpri Agustina

Dokpri Agustina


Dokpri Agustina


Ada 10 bregada (kesatuan prajurit) yang menyertai 5 gunungan yang akan dirayah di Pelataran Masjid Gedhe Kauman. Kesepuluh bregada itu adalah wirabraja, dhaeng, patangpuluh, jagakarya, prawiratama, ketanggung, mantrijero, nuytra, bugis, dan surakarsa.

Baiklah. Supaya lebih bersemangat, mari lihat beberapa penampilan bregada Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. 
 

Dokpri Agustina

Dokpri Agustina

Dokpri Agustina

Dokpri Agustina

Dokpri Agustina

Dokpri Agustina


O, ya. Sesungguhnya gunungan yang dibuat Kraton Yogyakarta berjumlah 7. Namun, yang 2 dikirim ke Pura Pakualaman dan Kepatihan. Di kedua tempat tersebut, gunungannya juga dirayah.

Bagaimana nih, menurut kalian? Prosesi Hajat Dalem Garebeg Mulud dengan rayahan gunungannya memang seru toh?
 
 
 


42 komentar:

  1. Artikel ini memberikan wawasan yang menarik tentang Garebeg Mulud Jimawal 1957 di Yogyakarta. Prosesi Garebeg Mulud dan tradisi rayahan gunungan adalah bagian dari budaya dan warisan yang kaya di Yogyakarta. Ini adalah momen yang penuh semangat dan penting dalam kalender budaya masyarakat setempat.

    Penting untuk memahami dan menghargai tradisi-tradisi seperti ini, karena mereka mencerminkan kekayaan budaya dan warisan yang unik dari daerah tersebut. Semoga acara seperti ini terus dijaga dan dirayakan, sehingga dapat terus diteruskan kepada generasi mendatang.

    Terima kasih telah berbagi informasi ini, dan saya harap untuk membaca lebih banyak tentang budaya dan acara-acara khas Yogyakarta di masa depan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Teruslah menulis tentang kearifan budaya lokal...
      agar anak dan cucu kita nanti tidak lupa akan budaya leluhur dan sejarah bangsa
      lanjutkan !!!

      Hapus
  2. sebuah perhelatan agama yang kental dengan budaya yang selalu dilakukan setiap tahun. memiliki makna yang dalam dan selalu jadi hal mutlak dan wajib dibeberapa daerah di Jawa sebagai bentuk wujud syukur

    BalasHapus
  3. Begitu banyak budaya yang kaya akan makna kehidupan serta perlunya pelestarian budaya seperti ini agar tidak lekang oleh gempuran budaya luar yang sekarang kuat menghampiri generasi saat ini.

    BalasHapus
  4. Acaranya seperti salah satu upacara adat di bali. Di bali juga suka ada acara kaya gitu yang berkaitan dengan perayaan keagamaan.

    BalasHapus
  5. terima kasih kak tulisannya, jadi tambahan pengetahuan budaya. padahal saya pernah tinggal di jogja tapi baru tahu ada acara ini. bolehlah nanti diagendakan untuk ikut menyaksikannya, sepertinya seru

    BalasHapus
  6. Saya tinggal di Jogja tapi justru sering melewatkan acara-acara seperti ini karena kalau tanggal merah sering pulang ke kampung halaman. Nice sharing kak!

    BalasHapus
  7. Saya belum pernah lihat langsung perayaan seperti ini. Kalau berkesempatan, pasti bakal antusias banget, deh. Karena akan menjadi pengalaman pertama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. He'em, Mbak. Kita pasti antusias liat orang-orang rayahan.

      Hapus
  8. Seru ya kalau bisa ikutan menyaksikan tradisi mauludan. Euforianya sampai ke wisatawan juga lo. Kalau di Malang, ini maulud-annya ke pawai telor, yang di susun dan dibentuk-bentuk jadi kubah masid atau aneka bentuk boneka islami. ❤️❤️

    BalasHapus
  9. Baru tau bakunya Grebeg jadi Garebeg ya? Kapan2 pingin ikut nonton ah , bikin nambah wawasan juga pingin merasakan atmosfernya. Sepertinya seru banget!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. BTW tinggal di Semarang kan ya? Dekatlah klo mau liat garebeg.

      Hapus
  10. apa makna filosofis dari bentuk rayahan gunungan ?
    dan kena jumlahnya 7 ?

    tq

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sejauh ini saya belum mendapatkan penjelasan "ilmiah dan filosofis" terkait bentuk gunungan. Belum nemu referensinya dan klo nanya para pinisepuh, jawabnya ya "tak ada makna tertentu". Justru nama gunungan muncul sebab bahan sayuran, buah, sembako ditumpuk jadi satu sehingga menggunung.

      Hapus
  11. apa makna filosofis dari bentuk rayahan gunungan ?
    dan kenapa jumlahnya harus 7 ?
    misalnya knp bukan angka 8 karena angka delapan secara bentuk seperti tidak ada putusnya, dimana dalam kebudayaan tertentu dipakai sebagai simbol kemakmuran..

    tq

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setahu saya, soal angka ini gak harus 7. Konon dahulu malah gunungannya sampai belasan.

      Hapus
  12. sesekali pengin banget ikut acara grebeg maulud. rebutan buah atau kue di gunungan. Tapi dulu nggak pernah kepikiran, pas sudha merantau malah pengin ikutan acara seperti itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya cuma berani nonton, Mbak. Enggak mau ikut mimbrung rebutan.

      Hapus
  13. Bekum pernah ikut bahkan ngeliat doang jg gak pernah. Kayaknya seru banget ini. Salut liat bregada kratonnya.. ada yg udah tua juga ya..

    BalasHapus
  14. Seru banget grebeg mulud kaya gini, soalnya aku yang bukan muslim suka ikutan 😎👌

    BalasHapus
  15. seneng banget kalau udah menyaksikan budaya-budaya seperti ini, rasanya bangga banget kalau Indonesia itu kayak banget akan budaya, kalau di saya acaranya maish seputar pengajian, lomba-lomba anak-anak, dan masak bareng gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tak jadi soal, Kak. Yang penting merayakan kelahiran Rasulullah SAW dg kebaikan.

      Hapus
  16. Seru juga kalo bisa menyaksikan budaya grebek maulud ini. Btw makasih infonya kak, menambah wawasan ku tentang berbagai macam budaya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama. Alhamdulillah klo tulisan ini bermanfaat.

      Hapus
  17. Seragam prajutritnya kayak seragam kompeni ala Eropa gitu ya mba, emang begitukah dari awalnya? terbayang prajurit jaman majapahit gitu=)
    kalau "garebeg" sendiri ada artinya ga mba?
    terima kasih ulasannya ya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Memang ada pengaruh Eropa. Ini 'kan prajurit Kraton Yogyakarta, yg dalam banyak hal, di kraton ybs memang banyak akulturasi budaya dg Eropa.

      Hehe ... klo prajurit Majapahit pasti lebih sederhana seragamnya. Gak pakai baju klo dlm lukisan2. Era Majapahit memang jauuuuh sebelum era Kraton Yogyakarta.

      Garebeg atau kerap disebut pula grebeg, kurang lebih berarti persembahan. Dalam hal ini persembahan untuk Sang Pemberi Rezeki.

      Hapus
  18. Seru banget ya kak acaranya. Dan masing-masing daerah punya cara dan tradisi sendiri-sendiiri dalam merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW

    BalasHapus
  19. Wah ternyata seru juga ya acara maulidnya kak disana kalau disini mah hanya sekedar dimasjid memang tiap daerah mempunyai cara dan tradisi masing-masing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti di tempatmu lebih khusus, Kak. Lebih Islami.

      Hapus
  20. Ini beneran seru bgt. Pengen deh kpn2 pada wkt deket2 maulid nabi main2 ke jogja biar bisa liat grebeg maulud kyk gini.

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!

 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template