Selasa, 31 Juli 2018

Masjid Soko Tunggal

0 komentar
PARA pengunjung obwis Pemandian Taman Sari mestinya tahu masjid ini. Kalaupun tidak sempat untuk menyinggahinya, paling tidak ya sekilas sempat melihat papan namanya. Hehehe .... 

Ini lho, penampakan bagian depannya 


Hmm. Rasanya agak keterlaluan kalau pengunjung Taman Sari sampai tidak ngeh dengan keberadaan masjid ini. Iya lho, keterlaluan. Sebab lokasinya tepat di dekat pintu gerbang kompleks Taman Sari. Di area parkir yang tak jauh dari jalan umum. 

Jadi begitu memasuki kompleks Taman Sari, niscaya bakalan segera menemukannya. Asalkan bersedia menengok ke kiri. Yakni ke sisi selatan.

Soko Tunggal 

Sesuai dengan namanya, yaitu Masjid Soko Tunggal, masjid ini benar-benar disangga oleh satu (tunggal) soko guru saja. Lalu, apa yang dimaksud dengan soko guru? Soko guru adalah tiang penyangga utama. Padahal bangunan berkonsep Jawa seperti halnya Masjid Soko Tunggal, pada umumnya minimal punya empat soko guru. 

Penampakan soko tunggal dari balik kaca jendela 


Sebab pagi itu pintu masuk ke bagian dalam tertutup, soko tunggal hanya kupotret dari balik jendela kaca. Aku berupaya tahu diri, dooong. Tidak ugal-ugalan menerobos masuk tanpa izin. Apesnya, tak seorang pun pengurus masjid yang kemliwer. #nasibkuuuh 

O,  ya. Dari referensi yang kubaca, soko tunggal tersebut punya empat soko bentung di bagian atasnya.  Yakni (semacam) empat cabang kayu yang langsung menempel pada atap. Sayang sekali pada fotoku itu soko bentung nyaris tak tampak. Wuaaah. 

Ngomong-ngomong, soko tunggal plus empat soko bentung tersebut menyimbolkan Pancasila. Soko tunggal merupakan simbol dari sila pertama, Ketuhanan Yang Mahaesa. Sementara keempat soko bentung menyimbolkan empat sila berikutnya.

Berkonsep Jawa 




Atas saran dari Sultan HB IX, bangunan Masjid Soko Tunggal berkonsep Jawa. Hasilnya? Ya sebagaimana yang terlihat pada foto-foto di atas. 

Sudah pasti arsitekturnya bertabur makna tertentu. Tak sekadar dibuat dengan alasan keindahan. Terlebih arsitek perancangnya adalah Raden Ngabehi Mintobudoyo, sang arsitek Keraton Yogyakarta, yang ditunjuk langsung oleh Sultan HB IX. 

Proses Pembangunan yang Lancar 

Proses pembangunan Masjid Soko Tunggal berjalan sangat lancar. Tak tanggung-tanggung, selain ada campur tangan Sultan HB IX, Presiden Soeharto (Presiden RI tatkala itu)  juga turun tangan memberikan bantuan. Keren 'kan? Padahal masjidnya bukan masjid besar, lho. 

Prasasti peresmian Masjid Soko Tunggal 


Maka tak perlu waktu berlarut-larut, masjid pun selesai dibangun. Menurut prasasti yang ditempel di dinding masjid, proses pembangunan usai pada tahun 1972. Kemudian diresmikan penggunaannya oleh Sultan HB IX pada tahun 1973.  

Monumen Pejuang 

Selain unik sebab tiang penyangga utamanya yang tunggal, Masjid Soko Tunggal juga punya keistimewaan. Tahukah Anda?  Masjid Soko Tunggal ternyata juga merupakan sebuah monumen peringatan bagi sekelompok pejuang bangsa. Tepatnya bagi sepuluh pejuang RI yang gugur pada peristiwa  Serangan Umum 1 Maret 1949. 

Kiranya bukan tanpa alasan Sultan HB IX memutuskan untuk memilih tanah yang kini menjadi lokasi berdirinya Masjid Soko Tunggal. Yup! Sebab di lokasi masjid itulah jasad para pejuang dikebumikan.  Jadi, Sultan HB IX bermaksud memberikan penghargaan atas jasa besar mereka terhadap bangsa ini. 

Demikian sekelumit kisahku tentang Masjid Soko Tunggal. Sudah pasti aku juga tak lupa untuk sekadar narsis di serambinya. Tentu dalam edisi pose yang sopan dan kalem, dooong. 

Maaf, numpang narsis sebentar yaaa


MORAL CERITA:
Plis,  deh. Tolong kenali objek wisata di sekitarmu. 

Jumat, 27 Juli 2018

Copet dan Diriku

4 komentar

SELEMBAR peringatan yang tertempel di tembok itu sukses bikin aku cengar-cengir sendiri. Yeah, copet! Yakni sebuah profesi yang menyebalkan dan merugikan khalayak ramai.

Yoiii. Tentu saja copet itu menyebalkan. Kelihaiannya "bermain tangan" bikin para korban merugi. Bahkan ruginya akan dobel bila si copet terpaksa merusak tas sang korban. Sudahlah kehilangan uang, masih pula tasnya rusak mendadak. Syedddiiih.

Berurusan dengan kaum copet memang amat menyebalkan. Apesnya, semasa kuliah dulu aku kerap kali berurusan dengan mereka. Sekali menjadi korban, selebihnya menjadi semacam saksi mata.

Maklumlah. Aku 'kan pengguna setia bus kota. Sementara bus kota merupakan ladang berkarya para pencopet. Jadi mau tak mau, tiap hari berjumpa dengan mereka. Bahkan, aku hafal wajah sebagian dari mereka.

Dan, tahukah Anda? Ketika sudah bekerja aku malah tetanggaan dekat (satu dasawisma) dengan pasutri copet legendaris. Gila enggak, siiih?

Apa boleh buat?  Takdir is takdir. Allah Yang Maha Mengetahui pasti punya maksud tertentu atas takdir yang kuterima itu. Dan kukira, Sang Maha Mengetahui bermaksud menyadarkanku untuk belajar dari pasutri copet tersebut.

Belajar apa? Sudah pasti bukan untuk belajar mencopet. Jangan sembarangan dong, ah. Bagaimanapun aku juga paham kalau harta hasil mencopet tuh haram. Enggak berkah sama sekali.

Itulah sebabnya aku galau setengah mati tatkala mereka  bagi-bagi makanan ke tetangga. Iya. Kalau hasil copetan bagus (berlimpah ruah), mereka memang suka berbagi kebahagiaan dengan cara begitu.

Hendak kutolak, aku takut melukai perasaan mereka. Hendak kuterima lalu kubuang, aku takut berdosa sebab memubazirkan makanan. Hendak kuterima lalu kukasihkan orang, aku takut dianggap njlomprongke orang untuk mengonsumsi hasil copetan. Hadeeeh. Mumet.

Eh, hampir lupa. Mari balik ke soal belajar tadi. Menurut penangkapanku, Allah SWT menyuruhku belajar bijak dari pasutri copet yang menjadi tetangga dekatku itu.

Bijak? Bijak yang bagaimanakah? Hmm. Maksudnya supaya aku tak terbiasa seenak perut untuk menghakimi orang. Sebab belum tentu seseorang yang terlihat baik, memang betul-betul baik. Demikian pula sebaliknya.

Yeah! Setidaknya ketika bertetangga dengan pasutri copet tersebut, mau tak mau aku terkondisikan untuk senantiasa bijak. Dan, itu sungguh tak mudah. Perlu banyak belajar.

Sejujurnya tatkala itu aku agak kesulitan. Bayangkan saja.  Aku mati-matian berusaha untuk mampu tersenyum tulus kepada mereka. Sementara pada detik yang bersamaan harus dapat bersikap tegas. Yakni tegas menyatakan bahwa profesi mereka tak halal.

Ya Allah Ya Rabbi. Untunglah kini semua tinggal kenangan. Aku tak perlu galau lagi jika menerima kiriman makanan dari tetangga depan rumah. Tetanggaku tersebut jelas-jelas bukan pencopet.

Ini cerita tentangku dan copet. InsyaAllah masih ada satu cerita lagi dengan tema serupa. Nantikan saja, ya.

MORAL CERITA :
Siapa pun yang dihadirkan-Nya dalam kehidupan kita, pastilah ada manfaatnya.



Selasa, 24 Juli 2018

Jajan di Pasar Kotagede

14 komentar




AKHIRNYA ....

Iya. Akhirnya keinginanku untuk jajan di Pasar Kotagede kesampaian. Alhamdulillah. Bahkan tak tanggung-tanggung, aku sekaligus jajan dalam arti konotatif dan dinotatif. 

Apa maksudnya tuh?  Jajan saja kok diberi embel-embel istilah linguistik? Bikin ngeriiih. Haha! 

Tenang dulu. Janganlah terbiasa untuk serta-merta merasa baper dalam menghadapi sesuatu dong, ah. Enggak bagus ituuuh. Segala sesuatu 'kan pasti ada penjelasannya. 



Baiklaaah. Santai saja. Mari kita mulai penjelasannya dengan cara ... memandangi foto di atas!

Hmm. Kalian pasti langsung paham bahwa foto tersebut merupakan foto lumpia. Bahkan, mungkin sudah langsung cleguk bin ngiler juga. Gara-gara membayangkan kerenyahannya. Hehehe ....



Lalu, bagaimana halnya dengan foto bakso itu? Menggoda selera juga 'kan? Ayolah mengaku saja. Apalagi kalau saat membaca postingan ini perut kalian memang sedang lapar. Haha!



Nah, nah. Bagaimana pula dengan foto kudapan warna-warni di atas? Kian menggugah selera 'kan? Sungguh terbayang kelezatannya toh?

Yoiii. Bila memang hal itu yang terjadi, berarti projek jajanku di Pasar Kotagede berhasil. Tidak sia-sia.

Pertama, berhasil dalam arti dinotatif. Dalam arti yang sebenarnya. Iya. Sore itu pada akhirnya aku berhasil beli jajanan di Pasar Kotagede. #Makasih KJog yang telah memungkinkannya

Kedua, berhasil dalam arti konotatif. Yakni hasil jepretanku dengan objek makanan, sudah (lumayan) oke. Buktinya kalian langsung tergoda selera tatkala memandanginya. Iya 'kan? #Aku GR berat



Daaan itu berarti, aku mampu mempraktikkan hasil jajanku dari Mbak Nela. Yakni jajan ilmu fotografi makanan. Mbak Nela 'kan owner of @jogjataste (IG).

***Tampak pada foto paling bawah itu, Mbak Nela sedang berbagi ilmu fotografi makanan kepada para kompasianer Jogja***

Sampai di sini, perihal berhasil secara konotatif dan dinotatif sudah jelas toh? Baiklah. Alhamdulillah kalau begitu. Andaikan ternyata belum jelas, apa boleh buat? Berarti aku mesti belajar mengolah kata lagi. Wuaaah!

N. B. 

Tentu ada sederet istilah teknis yang disampaikan Mbak Nela. Berhubung aku menerimanya antara ngeh dan enggak ngeh, lebih baik tak kusebut-sebut di sini. Kalau salah malah bakalan menyesatkan kalian.

Tapi kunci mudahnya begini. Sebuah potret makanan dianggap berhasil jika orang yang melihatnya langsung paham. Dalam arti, seketika bisa tahu jenis makanan apa yang terdapat dalam potret. Jika itu bakso ya jelas terlihat sebagai bakso. Tidak tampak sebagai soto.

Selanjutnya, foto makanan tersebut mampu membangkitkan selera makan orang yang melihatnya. Hmmm.  Istilahnya, bisa bikin orang geregetan untuk segera mencicipinya. Begituuuh.

#Maafkeun NB-nya kepanjangan

  

Jumat, 20 Juli 2018

Prestise Seragam Sekolah

0 komentar
USAI sudah hiruk pikuk PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru). Kini tibalah saatnya untuk berpijak pada bumi kenyataan. Mau kecewa atau puas, yang jelas anak-anak peserta PPDB sudah memasuki sekolah baru masing-masing.

Dan, sekolah baru berarti seragam baru. Suka atau tidak suka dengan seragamnya itu, tiap anak toh wajib mengenakannya. Masak hendak menolak dengan alasan tidak suka? Iseng amat.

Yup! Meskipun faktanya ada anak yang pada awalnya tak rela memakai seragam sekolah barunya, rasanya belum pernah ada huru hara terkait hal tersebut. Hehehe ....

Tapi tahukah Anda? Di mata seorang penjahit profesional, seragam sekolah ternyata memang ada prestisenya. Terkhusus seragam untuk sekolah lanjutan. Baik lanjutan pertama maupun lanjutan atas.

Intinya begini.  Makin ngehitz sebuah sekolah, makin hafallah sang penjahit dengan motif seragam sekolah tersebut. Jadi begitu kita datang ke seorang penjahit, lalu mengeluarkan lembaran kain seragam, sang penjahit bisa langsung mengenalinya. "Oooh, diterima di SMP X,  ya?  Diterima di SMA Y,  ya? "

Lain halnya bila yang kita jahitkan adalah seragam sekolah yang tak ngehitz. Sang penjahit pasti akan bertanya, "Ini seragam sekolah mana, sih? Rasanya kok saya belum pernah melihatnya."

Duh!  Gubraks banget 'kan? Kalau kita baperan, pastilah jadi sedikit terluka hati. #lebay

Padahal sesungguhnya, sang penjahit tak bermaksud melukai hati kita. Hati sang calon konsumen jasanya. Dia hanya bertanya. Sekadar kepo maksimal. Itu saja. Hehehe ....

MORAL CERITA:
Belajar maksimallah agar diterima di sekolah ngehitz sehingga seragammu dikenali.  Haha!

*****
Sebagai penutup, coba tebak. Berikut ini seragam sekolah mana? Kuncinya terletak pada seragam batiknya. Bila ternyata tak seorang pun dari pembaca yang tahu jawabannya, berarti seragam sekolah tersebut kurang ngehitz. Wuuuaaah!








Selasa, 17 Juli 2018

Pasar Kangen Jogja 2018

7 komentar
PADA tanggal 7-16 Juli 2018 lalu kembali diselenggarakan Pasar Kangen Jogja. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, Pasar Kangen Jogja tahun ini pun berlokasi di kompleks Taman Budaya Yogyakarta. Formatnya juga tak jauh berbeda dari penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya. Yeah! Selaku pengunjung lumayan setia, aku menyimpulkannya begitu. 

Sejauh pengamatanku, perbedaan paling mencoloknya terletak pada papan nama. Eh? Sebutannya papan nama atau logo, sih? Ya sudahlah. Apa pun sebutannya, yang jelas para pengunjung antre mengular di situ. Termasuk aku dan dua temanku itu. Haha!

 
Ini papan nama atau logo?


Selain di situ, ada satu spot lagi yang menjadi rebutan pengunjung. Yakni spot Jembatan Kangen. Wow! Bagaimana bentuknya? Yang begini ini, nih. 


Yang ini dipotret dari sisi selatan, pada suatu senja ...

Kalau yang ini dipotret dari sisi utara, pada sebuah siang ...



Komoditi Apa yang Dijual?

Masih menurutku, dari tahun ke tahun sejak tahun 2008 lalu, Pasar Kangen Jogja terutama menjual kenangan. Sementara yang namanya kenangan identik dengan hal-hal masa lalu. Itulah sebabnya di Pasar Kangen Jogja dijual aneka barang lawasan dan beragam makanan-minuman tempo doeloe. Hmm. Katakanlah, kenangan itu mewujud nyata dalam bentuk barang serta makanan dan minuman.

Karena dijual, setannya jadi enggak punya ceker lagi deeeeh ...

Mie lethek Bantul punya
 
Awas ya, hati-hati membacanya. Haha!

Lewat sini aku jadi ingat pada sawah



Foto-foto di atas memperlihatkan sebagian stan makanan dan minuman tempo doeloe. Selain yang tampak pada foto-foto tersebut, di Pasar Kangen Jogja 2018 dijual pula aneka kudapan zadoel yang lain. Di antaranya cenil, lemet, mendut, geblek, klethak, apem beras, sate kere, sate gajih, dan bakso lawas.

Ngomong-ngomong, mana foto barang lawasannya? Hmm. Berhubung aku lebih suka menyambangi stan-stan makanan dan minuman, stok fotoku untuk barang lawasan amat minim deeeh. Haha!


Entahlah. Barang apa saja ini? #ngeblur

Baki yang ada iklan pasta giginya

Baki yang ada iklan filmnya


Majalah dan buku lawasan juga tersedia di Pasar Kangen Jogja ini. Kalau telaten dan teliti, insyaallah Anda bakalan sukses menemukan "harta karun". Yakni yang berupa referensi zadoel yang sedang Anda butuhkan. Dengan demikian, Pasar Kangen Jogja tuh tak melulu urusan tentang rindu masa lalu.

Selain ratusan stan jual-beli, di Pasar Kangen Jogja juga ada panggung kesenian. Panggung tersebut berada tak jauh dari pintu masuk. Maka siapa pun pasti melewatinya. Jadi mau tak mau ya menoleh ke panggung, tatkala sedang ada pentas.

Apa saja yang dipentaskan? Bermacam-macam kesenian, dong. Di antaranya jathilan, wayang kulit, tari-tarian tradisional, dan dolanan anak.

O, ya. Di tengah-tengah lokasi stan makanan-minuman, tepat di samping tulisan "Pasar Kangen Jogja", ada spot spontanitas. Di situ siapa pun boleh unjuk gigi dalam hal bernyanyi. Musisinya sudah tersedia, kok. Tak perlu pula bernyanyi dengan sempurna. Lha wong seperti si Mbak itu, sambil membaca lirik lagu dari HP juga boleh. Hehehe ....


Yang penting pede

Menjadi Destinasi Wisata 

Pasar Kangen Jogja merupakan agenda tahunan. Digelar sejak tahun 2008. Jadi, Pasar Kangen Jogja tahun ini merupakan gelaran yang kesebelas. Alhamdulillah sejauh ini animo masyarakat lumayan besar. Indikasi yang paling nyata dilihat, tiap hari pengunjungnya berjubel. Kian sore (malam) kian ramai. Terutama di stan-stan makanan-minuman.

O, ya. kebetulan pada tahun ini penyelenggaraan Pasar Kangen Jogja masih dalam suasana liburan sekolah. Maka tak mengherankan bila beberapa kali aku berjubelan antre di stan makanan, dengan rombongan dari luar DIY. Mereka bilang pas liburan ke Jogja, pas tahu informasi mengenai Pasar Kangen Jogja. Ya sudah. Sekalian mampir saja. Terlebih lokasinya sangat dekat dengan Malioboro dan titik nol.

Fakta tersebut menjadi semacam bukti pencapaian. Yeah! Pasar Kangen Jogja 'kan memang digagas untuk menjadi salah satu destinasi wisata di DIY. Kalau banyak wisatawan yang mampir di situ, berarti tujuan penyelenggaraannya tercapai 'kan?

Namun, tentunya penyelenggaraan Pasar Kangen Jogja tetap butuh inovasi-inovasi terkini. Jangan sampai masyarakat merasa jenuh sebab formatnya monoton dari tahun ke tahun. Bisa berabe 'kan kalau sampai terjadi hal buruk seperti itu?


Senja telah datang. Saatnya pulang. dooong!



MORAL CERITA:
Bersemangatlah untuk mempromosikan pariwisata di di kota/daerah kalian. Tentu dengan cara dan gaya kalian masing-masing. Oke?

*Contohlah aku yang sampai tiga kali mengunjungi Pasar Kangen 2018 ini*





Jumat, 13 Juli 2018

Malioboro dan Rezekiku

0 komentar
BEBERAPA hari setelah Idul Fitri seorang kawan lama berkirim pesan WA. Ia mengajakku ketemuan. O la la! Rupanya ia yang kini berdomisili di bumi Andalas tengah mudik ke Jawa (Pati). 

Tapi apesnya, aku sudah balik ke Jogja. Alhasil, aku cuma mupeng melihat foto-fotonya saat reunian dengan kawan-kawan yang lain. Haha! Dasar nasib. 

Beberapa hari kemudian aku kembali menerima pesan WA-nya.  Aku sedang perjalanan ke Jogja. Mungkin sampai jam sepuluhan.  Bisa ketemuan? 

Tercekatlah aku. Saat itu aku sedang berada di wilayah Jogja utara.  Sedang bersiap mengikuti sebuah acara blogger. Menurut jadwal yang kuterima, acara usai bakda Zuhur.

Dengan tak yakin kubalas.  Oke. Aku lagi ada acara sekarang. Selesainya 'ntar siang. Dirimu sampai pukul berapa di Jogja. Bubaran acara nanti insyaAllah aku segera meluncur. 

Kawanku membalas lagi. Ya. Aku punya waktu sampai jam duaan. 

Sungguh. Aku pesimis kami bisa ketemuan. Meskipun telah membisikkan harapan besar kepada-Nya, rasa pesimisku tetap sulit tertepis. Tak mungkin aku bolos acara. Sementara waktunya di Jogja, demikian terbatas.

Namun, sungguh aku ini manusia yang kurang sabaran. Astaghfirrullah. Aku lalai bahwa Allah itu Maha Pengertian. Faktanya di luar dugaanku, acara usai sebelum Zuhur. Alhamdulillah.

Maka begitu seremonial pamitan dengan panitia pengundang usai, aku segera menuju Malioboro. Yoiii. Kawanku beserta keluarganya menungguku di situ. Mereka jauh-jauh ke Jogja memang untuk melihat Malioboro.

Bukti bahwa aku telah ketemuan dengan mereka 


Sekali lagi, Alhamdulillah. Terima kasih banyak, Ya Allah.  Lagi-lagi Malioboro Kaujadikan fasilitas untuk menyerahkan rezekiku.

Yup! Bukankah bertemu dengan kawan lama juga merupakan sebuah rezeki? Sudah baca postinganku yang Tentang Rezeki itu 'kan?

MORAL CERITA:
Kalau  sesuatu sudah menjadi rezeki kita, pastilah tak akan ke mana.




Jumat, 06 Juli 2018

Mengenal Rumah Syaamil Quran Sleman

4 komentar
SUNGGUH! Dia SWT, Yang Maha Mengingatkan, selalu punya cara untuk mengingatkan hamba-hamba-Nya. Baik dengan cara haluuus maupun cara yang super duper blak-blakan. 

Dan setelah sekian lama agak membandel, Alhamdulillah kemarin aku mendapatkan giliran diingatkan oleh-Nya. Hehehe .... Jadi malu. Tapi menurutku sih, memang begitu. Kemarin aku memang diingatkan oleh-Nya. Melalui cara yang menyenangkan. Bukan melalui cara yang merobek-robek perasaan. #Halah 

Jadi, ceritanya begini. Kemarin pagi aku dan beberapa teman menghadiri sebuah acara keren. Yakni keren muatannya meskipun tanpa gebyar hip hip hura musik cadas. Eh? Duh, maafkan istilahku. Tapi maksudku, acara yang kami datangi itu syahdu dan penuh makna. 

Acara apa, sih? Itu lho, acara penyerahan hadiah MTQ Syaamil Quran. Yakni MTQ yang diselenggarakan oleh perusahaan penerbitan Quran P. T. Sygma Examedia Arkanleema atau Syaamil Quran. Yang kantor pusatnya di Bandung. 

Berhubung juara umumnya Rumah Syaamil Quran Sleman, penyerahan hadiah pun secara simbolik dilakukan di situ. Alhamdulillah juara umumnya dari Rumah Syaamil Quran Sleman sehingga aku ikut kecipratan berkah. Buktinya sebab kemenangan itu, aku menjadi berkesempatan tahu dan mengunjunginya. Iya 'kan?

 
Ibu Ully Theristawati dari Rumah Syaamil Quran Sleman tengah menerima penghargaan dari Syaamil Quran

O, ya. Rumah Syaamil Quran Sleman adalah salah satu dari 141 Rumah Syaamil Quran yang tersebar di seluruh Indonesia. Yakni semacam komunitas yang gigih melaksanakan aneka program pembelajaran Alquran. Mulai dari membaca, menulis, menghafal, hingga mengkaji makna dan mempelajari tafsir dari ayat-ayat Alquran.

Selain itu sebagaimana halnya Rumah Syaamil Quran yang lain, Rumah Syaamil Quran Sleman pun berfungsi sebagai salah satu outlet resmi distributor produk Syaamil Quran. Kalau ingin tahu lebih detil mengenai produk-produk tersebut bisa langsung dilihat di sini, ya. 

Begitulah adanya. Rumah Syaamil Quran memang berfungsi ganda. Dengan demikian, masyarakat umum bisa sekaligus mendapatkan dua manfaat darinya. Pertama, bisa membeli produk dari Syaamil Quran. Kedua, bisa belajar Alquran di Rumah Syaamil Quran

Jadi konsumen tak sekadar membeli produk, kemudian dibiarkan membacanya begitu saja. Sebagai tindak lanjut, bila memang membutuhkan, konsumen pun diberi kesempatan untuk mempelajari produk yang dibelinya dengan lebih mendalam. Yakni dengan cara ikut belajar di Rumah Syaamil Quran

Program Andalan Rumah Syaamil Quran Sleman  

Lalu, program apa saja yang ditawarkan oleh Rumah Syaamil Quran Sleman milik Ibu Ully Theristawati? Wah. Program-programnya istimewa, lho. Tak kalah istimewa dari martabak dan Jogja. Hehehe .... Di antaranya program Tabuba, Talia, dan Tamimah.

Tabuba (Tahfidz Ibu dan Balita) merupakan program pembelajaran Alquran untuk ibu dan balita. Adapun kategori balita di sini dimulai dari usia 1-5 tahun. Menurutku, program ini amat seru. Dan rupanya, memang menjadi andalan dari Rumah Syaamil Quran Sleman

Karena terkait dengan balita, pelaksanaan Tabuba pun sangat fleksibel di segala lini. Disesuaikan dengan situasi dan kondisi si balita. Yang penting bisa belajar dan menghafal Alquran. 

Bagaimana Tabuba itu dijalankan? Begini. Si balita diajari/dikenalkan dengan huruf hijaiyah. Diajari pula untuk membaca Alquran mulai juz 30, dengan metode answer and question. Sementara untuk sang ibu, ada materi parenting dan seputar kerumahtanggaan. 

 
Unsur bermain sudah pasti dominan di program Tabuba ini

Talia (Tahfidz Belia) merupakan program pembelajaran Alquran untuk anak-anak usia 6-12 tahun. Kalau program yang ini sih, para pesertanya sudah lumayan bisa berdisiplin. 

Para peserta program Talia

Yang ketiga adalah Tamimah (Tahfidz dan Tahsin Muslimah). Sementara ini program Tamimah belum berjalan rutin. Penyebabnya, para peserta masih belum bisa saling klop dalam menyusun jadwal belajar.

Alhamdulillah ....

Sungguh. Kemarin itu aku betul-betul disadarkan kembali oleh-Nya untuk kembali on the track. Terkhusus untuk selalu mencintai Alquran. Tentu bukan cinta yang sekadar cinta, ya. Tapi mau rutin membacanya serta bersedia mengkaji dan mengamalkan isinya. 

Hmm. Tapi sejujurnya aku yo isin berada di Rumah Syaamil Quran Sleman itu. Malu sama anak-anak SD yang hafalan Qurannya jauh lebih banyaaak dariku. #Tepok jidat kuat-kuat 

O, iyaaa. Hampir saja kelupaan. Rumah Syaamil Quran Sleman itu beralamat di Pogung Dalangan Nomor 27 B, Sinduadi, Mlati, Sleman. Tepatnya di depan Masjid Pogung Raya. Adapun nomor kontak yang bisa dihubungi 0857-3034-2136 (Ibu Ully Theristawati).

Bila tertarik untuk mengikuti salah satu program yang ditawarkan, silakan langsung hubungi nomor kontak yang tertera

Selasa, 03 Juli 2018

Asyiknya Mezzanine Jogja

4 komentar
AKHIRNYA aku berkesempatan berkunjung ke Mezzanine. Setelah beberapa kali sebelumnya batal, tempo hari atas takdir-Nya semata aku bisa ke situ. Hehehe .... Syukurlah. Rasa penasaranku akan tempat ini pun tertuntaskan sudah. 


Kotak gelato

Tempat nyiapin makanan dan minuman

Salah satu sudut untuk nongkrong


O la la! Begitu masuk, mataku langsung bersirobok dengan aneka kehijauan. Yoi. Tentu saja begitu. Sebab konsep Mezzanine adalah Summer Tropical Garden. Maka penuh dengan hijau-hijau yang nyegerin mata gitu, deeeh. 


Salah satu spot yang kulihat dari lantai 2

Salah satu ruang pertemuan


Selain bernuansa hijau alami, Mezzanine bernuansa seni. Lihat saja kurungan-kurungan merah di belakang sana itu. Lihat pula karya seni rupa berbahan dasar botol yang tergantung di langit-langit itu. Unik dan indah 'kan? Mau tak mau, banyak pengunjung yang berminat untuk mendokumentasikannya. Baik di hati maupun di memori HP masing-masing. 


Mendadak ingin berfoto di sini

Mereka sibuk memotret dan dipotret


Singkat cerita, berkunjung ke Mezzanine = refreshing. Maka tak mengherankan jika beberapa bank dan perusahaan memilihnya sebagai tempat pertemuan. Terlebih Mezzanine memang menyediakan aneka fasilitas untuk kepentingan tersebut. Lokasi ruang pertemuannya pun dibikin sedemikian rupa sehingga para peserta dapat langsung memandang sawah di balik jendela. 


Sawah di balik jendela ruang pertemuan


Mezzanine adalah tempat nongkrong keluarga. Berarti orang-orang dari segala usia memang sengaja dibikin betah untuk berlama-lama di situ. Termasuk pengunjung yang berusia anak-anak. Tahukah Anda? Demi mereka inilah Mezzanine mengeluarkan produk gelato. Anak-anak selalu suka dengan es krim 'kan? 

Lalu, bagaimana dengan menu lainnya? Jangan khawatir. Ada banyak menu enak berharga terjangkau di situ. Baik yang berupa makanan maupun minuman. 

Segaaar
  
Udang dan cumi pedas

Entahlah ini apa

Khusus untuk mereka yang mager, malas gerak, Mezzanine menyediakan Mezza Box. Yakni 9 menu yang hanya dapat dipesan melalui aplikasi Go Food. 


3 menu dari 9 yang ditawarkan

Itulah pengalamanku berkunjung ke Mezzanine. Seru dan hijau segar. Sudah pasti sebelum pulang, aku sekali lagi menyempatkan diri untuk berfoto. Dan, kali ini pilihanku jatuh pada tanaman seledri. Haha!




*****
Mezzanine Eatery and Coffee
Jalan Palagan Tentara Pelajar KM 8 No.30, Sariharjo, Ngaglik, Sariharjo, Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 

IG: @mezzanine.jogja 


 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template