Jumat, 31 Maret 2017

Linimasa dan Kekuatan Menahan

0 komentar

Pagi ini aku sangat sedih. Begitu membuka FB, mataku langsung bersirobok dengan sebuah akun FB (grup) yang sedang lewat di linimasa. Nama akun dan foto profilnya amat provokatif. Jiwa kepo yang kumiliki bikin aku penasaran terhadapnya. Maka pergilah aku ke situ. Wah! Parah. Isinya postingan kemarahan dan hujatan melulu. Penuh bahasa amarah dan sama sekali tidak sopan. Ckckck ...

Kupikir-pikir, ada apa dengan orang-orang itu ya? Daripada beli pulsa internet hanya untuk marah-marah, bukankah lebih baik untuk tebar-tebar pesona dan cinta? Untuk tebar-tebar jala rezeki juga. Menurutku sih, begitu. Perjalanan hidupku toh sudah banyak masalah. Maka sungguh tak ada alasan bagiku untuk menyukai hal-hal yang berbau keributan. Sekalipun "hanya" keributan di linimasa FB.

Tahukah Anda? Bagiku, menengok linimasa FB itu butuh kekuatan tersendiri. Yakni kekuatan untuk menahan. Menahan apa? Hmmm. Yang jelas bukan menahan rindu kepadamu .... #Eeeeaaaa

Begini, lho. Linimasa FB itu 'kan selalu hiruk-pikuk temanya. Mulai dari hal yang remeh-temeh hingga yang berat dan pelik. Mulai dari yang bahasa penyampaiannya syahdu hingga yang sarkasme. Mulai dari yang sesuai dengan pendapat kita hingga yang sangat bertentangan.

Pendek kata, isi linimasa FB itu berpotensi bikin baper. Emosi pun dapat meningkat. Bikin jari jemari ini gatal untuk ikut mengetikkan komentar pedas. Nah, nah! Di sinilah letak perlunya kekuatan untuk menahan.

Andai kita tak mampu menahan emosi, lalu hanyut dalam kebaperan tak berguna, kemudian berkomentar pedas di status orang, apa jadinya? Pasti kita tak bakalan bahagia ketika menengok FB. Sudah begitu, teman-teman FB kita akan jaga jarak. Enggan berkomunikasi lagi dengan kita. Duileee, rugilah kita jadinya.

Jadi, kekuatan untuk menahan memang wajib kita miliki saat menengok linimasa FB. Ini pendapatku. Kalau menurut Anda bagaimana?

MORAL CERITA:
Siap main FB berarti siap mengelola emosi.

Rabu, 29 Maret 2017

Kamu Hari Ini Jajan Apa, Nak?

4 komentar
"JAJAN apa tadi di sekolah?" Begitu selalu tanyaku pada Adiba tiap kali ia pulang sekolah. Lalu, bidadari kecilku itu pun menyebutkan satu per satu makanan dan minuman yang tadi dibelinya.

Jika yang dibelinya makanan dan minuman yang relatif sehat (misalnya telur puyuh dadar, buah, pisang goreng, susu kedelai, atau es jeruk), perasaanku lega. Aku pun memberinya pujian sebagai anak hebat. Kukatakan kepadanya, "Pinter, deh. Jajanannya tidak berpengawet."

Sebaliknya, jika yang dibelinya jajanan kemasan murahan, aku beranjak galau. O, ya. Yang kumaksud itu jajanan kemasan harga lima ratus atau seribu rupiah. Yang kandungan MSG, zat pewarna, dan zat pengawetmya sangat tinggi. Anda tentu sudah mafhum kalau jajanan sejenis itu kosong gizi.

Demi melihat wajah galauku, biasanya Adiba langsung paham. Dia kemudian buru-buru minta maaf karena telah melanggar kesepakatan kami. Katanya, "Maaf ya, Bunda. Tadi Diba pingiiin banget. Soalnya teman-temanku beli semua."

Apa boleh buat? Namanya juga anak-anak. Masih belum mampu bersikap. Masih kerap kali terpengaruh oleh teman. Kalau sudah begitu, sekali lagi aku hanya bisa mengingatkannya. Yakni mengingatkan tentang bahaya memakan jajanan tak sehat.

Kuakui, kadang-kadang diri ini merasa bosan dan kesal juga. Sudah ratusan kali diulang-ulang, eh, masih saja saja si Adiba melupakannya. Tapi demi kebaikan, kutikam saja rasa bosan dan kesal tersebut. Inilah kiranya salah satu perjuanganku untuk meraih masa depan yang lebih baik. Hehe ....

Begitulah pengalamanku terkait jajanan sekolah untuk anak. Yup! Sejak Adiba masuk SD hingga kelas VI sekarang, aku tetap merasa perlu untuk menanyainya. Dengan pertanyaan yang sama, "Di sekolah tadi jajan apa?"

MORAL CERITA:
Menanamkan kebiasaan sehat pada anak-anak memang tak mudah. Perlu proses dan waktu.




Senin, 27 Maret 2017

Asyiknya Berkelana di Grhatama Pustaka

8 komentar

MELIHAT brosur di atas, Anda tentu langsung ngeh bahwa Grhatama Pustaka adalah sebuah perpustakaan. Namanya pun sudah jelas menunjukkan begitu: GRHATAMA PUSTAKA. Namun menurutku, tempat tersebut merupakan tempat multifungsi. Tak sekadar berfungsi sebagai tempat berkumpulnya aneka referensi, tapi bisa pula berfungsi untuk hal lain.

Hal lain apa? Hmm. Maksudku begini. Meskipun resminya sebagai perpustakaan, kita bisa berkunjung ke situ dengan rupa-rupa tujuan. Tidak melulu untuk tujuan meminjam buku dan membaca-baca.

Sekadar nongkrong di gazebo yang terletak di halaman pun boleh. Duduk berbincang dengan kawan-kawan di udara terbuka. Baik bincang-bincang dengan tema ringan maupun berat. Kalau lapar atau haus tinggal bergeser ke kantin yang terletak di seberangnya.  

Grhatama Pustaka juga asyik untuk dijadikan sebagai meeting point. Kencan dengan siapa pun di situ, dengan tujuan apa pun, dijamin nyaman dan bermanfaat. Nyaman sebab suasananya menyenangkan. Bermanfaat sebab Grhatama Pustaka merupakan gudang ilmu. Di situ 'kan banyak buku. Kalau ketemuan, mengobrol lama, lalu merasa bosan, bisa bergeser ke ruang koleksi buku umum. Iya toh?


Kita boleh selonjoran sambil baca-baca buku di karpet merah itu ....

Lokasi Grhatama Pustaka memang strategis. Di tepi jalan raya dan mudah diakses. Di dekatnya pun ada halte transjogja. Oleh sebab itu, para pengguna moda transportasi umum--termasuk daku--tak perlu galau kalau hendak ke situ.

Asyiknya lagi, Grhatama Pustaka berdampingan dengan JEC (Jogja Expo Center). Kalau di JEC sedang ada pameran atau acara lain, kita dapat sekalian mampir. Jadi sekali naik transjogja, Grhatama Pustaka dan JEC sekaligus terengkuh.

Yang seru, Grhatama Pustaka bisa pula dimanfaatkan sebagai objek wisata edukatif. Terkhusus bagi anak-anak. Ruangan-ruangan di lantai paling bawah sepertinya memang didedikasikan untuk mereka. Di situ terdapat satu ruangan koleksi buku anak. Siapa saja bebas membaca di dalamnya. Anak yang sudah bisa membaca pasti senang dan betah di situ.

Sementara di sebelah ruangan tersebut, ada ruangan lain yang tak kalah menarik. Yakni ruangan untuk anak-anak usia PAUD-TK. Mereka dapat belajar sembari bermain-main di dalamnya. Termasuk belajar memainkan alat musik.

Dinding luar ruang musik yang bermural menarik.

Sebuah sudut yang nyaman, asri, teduh, dan ramah anak.

Grhatama Pustaka sangat ideal untuk kaum emak yang sedang berjuang menyelesaikan kuliah. Maksudnya? Begini. Sementara si emak bersuntuk dengan buku-buku referensi di ruangan yang lain, anaknya bisa ditinggal di sudut ramah anak. Cukup sesekali ditengok. Lebih aman daripada ditinggal di rumah sendirian 'kan? 

Tagline Grhatama Pustaka adalah "kunjungi dan jadi tahu dunia". Dan, itu benar sekali. Sangat sesuai dengan kondisi yang ada. Koleksinya memang tergolong komplet. Meliputi koleksi buku umum, buku anak, buku braille, buku elektronik, dan jurnal elektronik.

Ada pula fasilitas penunjang yang lainnya. Antara lain wifi gratis supercepat, mini bioskop, ruang audio visial, ruang pamer, auditorium, ruang seminar dan diskusi, serta mushala. Memang komplet 'kan? Jadi seharian di situ, tak bakalan dirundung bosan. Justru bakalan asyik-asyik saja rasanya. 

MORAL CERITA:
Perpustakaan yang baik adalah perpustakaan yang bikin betah para pengunjungnya.




Sabtu, 25 Maret 2017

Selalu Kosongkan Gelasmu

4 komentar

YUP! Selalu kosongkan gelasmu. Eh? Mengapa begitu? Apa tujuannya? Tentu supaya selalu bisa diisi lagi, lagi, dan lagi. Dengan demikian, makin banyaklah minuman yang dapat kaunikmati.

Eit! Jangan keburu mengajukan protes. Jangan buru-buru bilang, "Perutnya nanti kepenuhan, lho. 'Ntar membuncit. Blendhingen (kata orang Jawa)."

Jangan salah sangka dululah. Ini bukan dalam arti denotatif, melainkan konotatif. Gelas yang kumaksud bukan gelas betulan.

Itu kiasan belaka. Maksudnya agar kita selalu mau membuka diri. Yakni membuka diri untuk mau belajar dari siapa saja. Sekalipun dari orang yang lebih muda ataupun lebih sedikit pengalaman.

Salah satu contohnya begini. Meskipun sudah lama berkecimpung di dunia penulisan, seorang penulis kawakan tak boleh jemawa. Tak boleh meremehkan penulis-penulis lainnya. Sekalipun jam terbang mereka belum banyak.

Mengapa begitu? Sebab di atas langit masih ada langit. Jam terbang para penulis muda itu memang belum banyak. Akan tetapi, bisa jadi mereka menguasai hal-hal lain yang justru belum dikuasai oleh si penulis kawakan.

Pendek kata, jangan pernah lelah untuk belajar. Jangan sampai enggan untuk menambah ilmu. Alasannya, ilmu-ilmu senantiasa berkembang dari waktu ke waktu.  Kalau kita enggan belajar lagi, ya bakalan ketinggalan.

Jadi, selalu kosongkan gelasmu! Oke? Deal, ya.

*Tulisan ini terinspirasi oleh salah satu status fesbukku*

MORAL CERITA:
Jangan pernah lelah dan bosan untuk menambah ilmu.  


Kamis, 23 Maret 2017

Aneka Hal yang Telah Hilang

0 komentar

COBA renungkan barang sejenak. Berapa banyak hal yang telah hilang, sejauh ini, dari hidup Anda? Baik hal yang besar maupun yang kecil.

Apa boleh buat? Waktu yang berlalu, ternyata punya konsekuensi-konsekuensi tertentu. Di antaranya ya menghilangnya hal-hal yang dahulu menjadi keseharian kita. Dulu terasa biasa-biasa saja sebab mudah dijumpai tiap hari. Tapi kini jadi istimewa sebab sudah tinggal kenangan.

Lagi-lagi, apa boleh buat? Sudah hukum alam. Ada yang punah, ada yang baru. Rasanya selalu ada kesedihan yang melintas bila memikirkan ini.

Iya, terutama aku merasa sedih ketika tak lagi pernah berjumpa dengan sekawanan kunang-kunang. Demikian pula, sekawanan belibis putih yang beberapa tahun lalu masih kerap kulihat. Lalu, bis kota oranye jalur 9 ....

Ah! Rasanya menyesal sekali, dahulu aku acuh tak acuh pada kunang-kunang dan belibis putih itu. Menyesal pula, mengapa saat si oranye jalur 9 masih ada, aku tidak kerap menaikinya?

Sekali lagi, apa boleh buat? Penyesalan selalu datangnya belakangan. Sementara yang datangnya duluan, berarti anak rajin. Atau, anak tak rajin tapi kebetulan datang awal ....

MORAL CERITA:
Sesuatu atau seseorang acap kali baru disadari arti kehadirannya bila telah menghilang.

 

Rabu, 22 Maret 2017

Perbaikilah Hubunganmu dengan Air

2 komentar

TAHUKAH Anda bahwa hari ini merupakan Hari Air Sedunia? Kalau baru tahu setelah membaca statusku ini, berarti kita sebelas dua belas. Hehehe .... Aku pun baru tahu setelah mendengarkan radio tadi pagi.

(((RADIOOO .... Iya, betul. Radioku yang zadoel itu)))

Kiranya amat tepat bila pada Hari Air Sedunia ini kita sejenak melakukan refleksi. Yakni refleksi mengenai hubungan kita dengan air. Terutama dengan air bersih, ya. Bukan dengan air comberan.

Nah! Sudah idealkah hubungan kita dengan air? Dalam arti, sudah bijakkah sikap kita saat mempergunakannya? Jika sudah, berarti Anda sangat keren. Jika belum, berarti Anda TERLALU!

Sementara banyak orang yang kesulitan mengakses air bersih, berarti kita kejam bila suka membuang-buang air bersih yang mudah kita akses. Apalagi mereka mesti keluar duit hanya untuk air, sedangkan kita gratis tis tis. 

Yuk, ah. Mari bersikap bijak dalam mempergunakan air.

Selamat Hari Air Sedunia!



Minggu, 19 Maret 2017

Terumbu Karang Raja Ampat dan Hatiku

11 komentar
TERUMBU karang di kawasan wisata laut Raja Ampat, Papua, rusak ditabrak kapal. Menurut informasi yang dapat dipercaya, yang menabraknya adalah kapal pesiar MV Caledonian Sky. Yang nahkodanya pemegang paspor Inggris, tapi kapalnya dioperasikan oleh perusahaan asal Swedia. 

Bagaimana bisa sebuah kapal pesiar ugal-ugalan menyelonong ke area terumbu karang? Yang notabene merupakan wilayah perairan yang dangkal? Padahal, kapal tersebut dilengkapi dengan peralatan navigasi yang canggih. Padahal pula konon kabarnya, sudah beberapa kali dengan nahkoda yang sama, kapal tersebut melintas di sekitar situ. Mestinya 'kan hafal rute? Jadi, mengapa sampai menabrak terumbu karang kebanggaan Indonesia itu? 

Ah, sudahlah. Aku tak hendak melontarkan prasangka yang bukan-bukan. Tak juga bermaksud merangkai-rangkai kemungkinan di balik peristiwa menyedihkan tersebut. Takut salah, bok. Lagi pula, aku ini siapa? Cuma rakyat jelata. Bukan pejabat yang berwenang. Nanti malah menambah kisruh saja. Tak paham masalah, tapi getol ikut-ikutan melontarkan justifikasi. Iya 'kan?

Tapi begini ...  

Segala investigasi dan perjanjian sedang diupayakan, kok. Tujuannya untuk mengembalikan kondisi si terumbu karang agar seperti sediakala. Jadi, lebih baik kita tunggu saja dengan sabar. Bukan sembari berkoar-koar dengan kalimat-kalimat buruk sangka.

Daripada koar-koar dengan nada negatif, lebih baik berdoa dengan khusyuk. Berdoa? Iya, berdoa supaya "kasus" tersebut betul-betul ditangani serius. Terumbu karang Raja Ampat itu 'kan mutiara berharga bagi dunia pariwisata Indonesia. Yang menjadi kebanggaan kita di mata masyarakat internasional. 

Yeah, apa boleh buat? Bagaimanapun peristiwa itu merupakan takdir-Nya. Hal-hal yang menjadi penyebab "hanyalah" rangkaian proses terjadinya takdir tersebut. Tentu supaya masuk di logika kita sebagai manusia. Jadi, tak usahlah kita mendramatisasinya.

Hanya saja begini ...

Sesempurna apa pun upaya perbaikan dilakukan, pasti tak bakalan bisa persis sama dengan sebelumnya. Sama sajalah dengan hatiku. Tak akan bisa kembali utuh seperti sediakala, bila telah sempat terpatahkan. Semaksimal apa pun upaya yang kulakukan untuk mengutuhkannya .... #Eeeaaa

MORAL CERITA:
Membangun ulang terumbu karang dan merekatkan kembali hati yang sempat terpatahkan itu sama sulitnya. Maka lebih baik tidak pernah merusakkan terumbu karang dan mematahkan hati, deh.

  

Jumat, 17 Maret 2017

Museum Sri Sultan Hamengku Buwono IX

0 komentar
TAHUKAH Anda, di mana letak Museum Sri Sultan Hamengku Buwono IX? Atau jangan-jangan, Anda kurang ngeh dengan museum ini? Hehehe .... Kalau belum ngeh ya segera dibikin ngeh, dong. Melalui tulisan ini tentunya.

Museum Sri Sultan Hamengku Buwono IX terletak di dalam kompleks Keraton Yogyakarta. Tak usah bingung-bingung mencarinya. Kalau kita berkunjung ke keraton, pasti oleh sang pemandu wisata akan diarahkan ke ruangan museum tersebut.  Tak usah membayar tiket masuk lagi.

Museum Sri Sultan Hamengku Buwono IX berukuran kecil. Namun, di dalamnya tersimpan banyak sekali stori dan histori. Jadi, sangat salah bila kita mengunjunginya secepat kilat. Mestinya nih ya, kita menikmati tiap koleksi di dalamnya dengan cermat. Mengapa begitu? Sebab tiap barang yang ada mengandung stori dan histori. Dan, kita dapat lebih mengenali sosok Sri Sultan Hamengku Buwono IX dari situ.

Baiklah. daripada daku sekadar bercerita, lebih baik langsung cermati saja foto-foto di bawah ini. Tapi maaf, ya. Memotretnya kurang maksimal. Hehehe ...

Foto kenangan saat Sri Sultan Hamengku Buwono IX berada di Jepang


Seragam pramuka Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Tampan juga beliau, ya?

Coba tebak, apa ini?

Mobil-mobilan Sri Sultan Hamengku Buwono IX (saat beliau masih kecil)

Cuplikan amanat penobatan Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai raja


Meja kerja Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Itulah sebagian koleksi yang tersimpan di Museum Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Kalau mau melihat lebih lengkap, silakan datang ke sana ya. Buka tiap hari. Jam buka-tutup mengikuti jam buka-tutup keraton. 

MORAL CERITA:
Sesekali main ke museum, dong. Jangan ke mal melulu ....

 



Rabu, 15 Maret 2017

Mengapa Selalu Dimatikan Idenya?

0 komentar
SEORANG batita ceria dan sehat. Aktif bergerak ke sana kemari. Pegang ini dan itu. Lari ke sini dan ke situ. Memanjat ini dan itu. Bermain ini dan itu. Pendek kata, ia selalu punya ide untuk melakukan sesuatu.

Namun, sayang sekali. Sang orang tua kerap kali meneriakinya. Teriakan larangan. Kalau si batita tak menggubris teriakan larangan itu, lalu dihardik. Wah! Kadang kala si batita sampai menangis keras sekali sebab hardikannya juga keras.

OMG! Katanya disuruh pintar. Kalau tiap kali mengeksekusi ide diteriaki, mana bisa tumbuh jadi anak pintar? Hmmm. Apakah Anda tergolong orang tua yang seperti itu? Semoga tidak.

Jangan beralasan bahwa teriakan dan hardikan itu tanda sayang. Tanda memiliki perhatian berlimpah. Kalau tidak diteriaki dan dihardik, si bocah bisa celaka. Bisa jatuh hingga terluka bla-bla-bla. Ih? Mana bisa begitu? Tanda perhatian apa? Tanda sayang cap apa?

Begini, lho. Sejauh yang kuketahui, justru kerapnya teriakan larangan akan menyebabkan si bocah terbunuh ide-idenya. Atau, terkebiri keberaniannya. Alhasil saat usianya bertambah, ia akan tumbuh menjadi sosok yang penakut dan kosong ide. Serius lho, ini.

Aku bukanlah ahli parenting kenamaan. Belum pula menjadi orang tua yang sesempurna bundarnya bulan purnama. Tapi aku telah menerapkan cara pengasuhan anak yang lebih damai. Dulu aku bebaskan saja Adiba berkreasi apa pun. Maksudnya berkreasi itu ya mengacak-acak isi rumah.  Dan kalau sedang bermain-main di luar rumah, hilir mudik ke sana kemari bereksperimen dengan apa pun. Yang tentunya, eksperimen-eksperimen si bocah acap kali bikin emaknya mengelus dada.

Lelah? Capek? Pasti, dong. Tapi kalau ikhlas, insya Allah semua akan baik-baik saja. Lelah dan capek itu akan menghilang dengan sendirinya. Si batita pun tidak bakalan terbunuh ide-idenya. Tidak bakalan terpasung keberaniannya. 

Tapi mohon maaf. Jangan buru-buru salah paham dulu. Ini bukanlah parenting dengan cara memanjakan dan meliarkan anak lho, ya. Sama sekali tidak seperti itu. Justru parenting model begini bisa memaksimalkan proses kreativitas si bocah.

Yup! Kalau ada cara mengasuh dan mendidik yang lebih damai, mengapa pilih yang brutal? Kalau si bocah bisa dimaksimalkan ide-idenya, mengapa malah selalu dimatikan idenya?

MORAL CERITA:
Orang tua perlu selalu belajar supaya tidak salah jalan dalam mendidik dan mengasuh anak-anaknya.




Senin, 13 Maret 2017

Sepeda Pria dan Sandal Jinjit

0 komentar
Yang setia mengantarku ke mana-mana. Hmm. So sweet. Haha!

TAK ada yang salah dengan sepeda ini. Sangat nyaman kok untuk dikendarai. Namun, kadangkala bikin diri ini sedikit salah tingkah. Keki bin kikuk begitu, deh. Seperti pagi tadi, tatkala sedang mengangkat kaki hendak menaikinya, di halaman sebuah toko waralaba, dua anak muda yang kuduga mahasiswa senyum-senyum mendekat. Lalu, salah seorang mendekat sembari berkata, "Wih, Tante keren euyy. Berani tampil beda. Baru kali ini aku lihat orang bersepeda balap pakai sandal high heel .... "

Demi menata hati, sekaligus untuk menjaga kesopanan, aku menanggapinya dengan senyuman. Padahal, sesungguhnya aku ingin tertawa keras-keras. Hmm. Dia tidak tahu sih kalau sandal jinjit tinggiku itu merupakan solusi. Ini bukan soal berani tampil beda, bro. Tapi soal kenyamanan nyongkok bila berhenti di lampu merah.

Kalau pakai sandal atau sepatu tanpa hak, yang datar-datar saja, aku merasa kurang mantap dalam menjejakkan kaki. Iya, iya. Sandal jinjitku itu memang berfungsi sebgai penyambung kaki pendekku. Haha! Tampaknya saja modis, feminin. Tapi sesungguhnya ada udang di balik batu. 

Nah, Anda punya pengalaman sejenis ini?

MORAL CERITA:
Kalau punya kekurangan, kreatiflah dalam menyikapinya. Oke?

 

Sabtu, 11 Maret 2017

Balada OTW

4 komentar
SEBUAH sore, selepas Ashar. Udara lumayan gerah. Aku duduk di bawah pohon bersama beberapa orang. Di depan kami ada seseorang yang mondar-mandir gelisah. Sebentar-sebentar ia sibuk dengan HP-nya. Melihat pakaiannya yang necis, aku bertanya, "Mau pergi, ya?"

"Iya. Ini nunggu kakakku menjemput. Janjinya jam empat. Sekarang sudah jam lima."

Aku lalu bertanya lagi, "Lho? Kayaknya dari tadi kamu sibuk dengan HP. Dia enggak bisa dihubungi?"

"Sudah ku-SMS. Sudah balas juga. Katanya OTW."

"Bilangnya OTW. Tapi jangan-jangan baru mau mandi," celetukku.

Dia menjawab, "Kadang-kadang aku juga begitu, kok."

"Heh? Astaga! Jelas saja bilang OTW tapi enggak datang-datang. Lha wong OTW-nya baru OTW ke kamar mandi. Belum di jalan. Payah, ah. Menyalahi arti OTW," kataku panjang lebar.

"Lha terus? OTW tuh artinya apa?" Dia menatapku dengan pandangan penuh tanya. Orang-orang yang duduk di sampingku pun ikut kepo.

O la la! Jadilah sore itu aku memberikan kursus singkat perihal makna OTW. Bahkan, masih kulengkapi pula dengan makna BTW.

Tak kusangka, banyak orang yang hanya ikut-ikutan memakai kata tanpa tahu maknanya. 

MORAL CERITA:
Betapa masyarakat kita butuh pendidikan literasi yang berlimpah.

Kamis, 09 Maret 2017

Malioboro dan Adiba

0 komentar
SEJAK pertama kali mengunjungi New Malioboro, rupanya Adiba langsung jatuh hati. "Sekarang makin bagus, ya. 'Ntar ke sini lagi ya, Bund. Kapan-kapan," katanya waktu itu. Tatkala kunjungan kami yang pertama. Wajahnya terlihat antusias.

Bocah yang jatuh hati pada New Malioboro

Sebagai emak, aku sih mengiyakan saja. Entah kalau Mas Anang. Lagi pula, mengantarkan Adiba ke Malioboro tidak butuh ongkos besar, kok. Pulang dan pergi dengan taksi hanya sekitar Rp50.000,00. Tidak belanja? Kalau sedang tidak butuh apa-apa, tentunya tidak. Boros amat kalau belanja tidak berdasarkan kebutuhan. Iya 'kan?

Bagaimana kalau haus? Ah, itu perkara gampang. Bawa saja air (matang) segar dari rumah. Atau, beli air mineral. Bisa pula beli es dawet di kaki lima. Es dawet Malioboro itu 'kan multifungsi. Segarnya menghapus haus, manisnya menggusur rindu, eh, lapar ....
 
Jeprat-jepret sepuas hati, dong!

Usaha terus demi memperoleh gambar sempurna. Hihi ....

Sebab domisili kami sepelemparan batu dari Malioboro, piknik ke situ sungguh-sungguh bukan momok. Pokoknya piknik murah meriah hip hip hura ceria. Haha! Sekadar menapaki trotoarnya di kala pagi atau senja, cukuplah bikin bahagia. Kalau lelah, stop berjalan. Cari tempat duduk cantik buat rehat plus. Yakni plus selfie-selfie sepuas hati. 

Nah, nah. Selfie-selfie sepuas hati itulah alasan utama kejatuhhatian Adiba kepada New Malioboro. Dahulunya dia tidak terlalu suka berlama-lama di situ. Kupikir Anda sekalian pasti juga begitu. Sekarang pasti kian betah kalau singgah di Malioboro. Jadi, kapan Anda berkunjung ke Malioboro?

Adiba (baju kotak-kotak merah) saat pertama kali menikmati New Malioboro.

MORAL CERITA:
Malioboro memang selalu bikin kangen.



Selasa, 07 Maret 2017

CITA-CITA

4 komentar
BANYAK orang salah sangka terhadap cita-cita. Mereka beranggapan bahwa cita-cita hanya milik anak sekolahan dan kaum mahasiswa. Orang-orang dewasa, apalagi yang sudah mulai berusia senja, dianggap aneh bila masih punya segambreng cita-cita. Duh! Kasihan deh mereka yang sudah tua ....

Padahal, bilangan usia bukanlah penghalang untuk bercita-cita. Cita-cita itu milik siapa saja, kok. Milik anak SD, milik anak SMP, milik anak SMA-SMK, milik mahasiswa, milik orang-orang dewasa muda, milik orang paro baya, milik orang-orang lanjut usia, dan milik siapa pun jua. 

Maka berapa pun usia Anda saat ini, jangan takut untuk bercita-cita. Sejauh semua syarat Anda penuhi, insya Allah cita-cita tersebut bisa tercapai. Lalu, apa syaratnya? Syaratnya adalah mau bekerja keras dan bekerja cerdas. Lalu, melengkapinya dengan doa yang tak kunjung padam.

Ada banyak buktinya, kok. Misalnya emak-emak lulusan Sekolah Perempuan-Indscript.creative. Cita-cita mereka untuk jadi penulis tercapai meskipun memulainya tidak pada usia belia. 

Dengan bukti tersebut, apakah Anda masih belum percaya kalau cita-cita itu bebas dimiliki oleh siapa saja? Hmmm. Mengapa tidak percaya saja sih? Haha! #maksa.com

MORAL CERITA:
Orang yang punya cita-cita adalah orang yang keren. Jadi supaya keren, yuk kita ramai-ramai bercita-cita.

 

Minggu, 05 Maret 2017

Tiap Orang Butuh Curhat

0 komentar


TAKDIRKU hari ini adalah menghabiskan senja di tengah kota. Tepatnya di sebuah pos satpam, yang merupakan bagian dari sebuah hotel di seputaran Tugu Jogja. Tebak sendirilah apa nama hotelnya.

Sedang isengkah aku? Tentu tidak. Aku lagi menunggu jemputan pulang, bro. Sebab yang menjemput si mbak ojek online, aku menunggu di tepi jalan. Tidak menunggu di lobi hotel. Tapi mendadak derai hujan menderas. Dan, tiada tempat berteduh di dekatku selain pos satpam.

Alhasil hingga penjemputku tiba, aku sibuk berbincang dengan Pak Satpam. Oh, tidak. Beliau yang lebih banyak bicara; curhat tentang pekerjaannya. Ternyata beliau awet kerja di situ. Sejak 1995. Sempat keluar kerja, tapi dipanggil lagi dua tahun kemudian. 

Sempat galau juga untuk memenuhi panggilan kembali tersebut. Galau sebab enggan jika tidak diangkat menjadi karyawan tetap. Sebelumnya 'kan keluar kerja sebab hanya berstatus karyawan kontrak.

Pak Satpam juga bercerita soal gaji. Dulu, pada tahun 1995, gajinya per hari hanya Rp5.000,00. Tapi cukup untuk beli beras. Beliau memperkirakan, mungkin itu setara dengan Rp50.000,00 sekarang. Singkat cerita, pokoknya bla-bla-bla deh.

Tahukah Anda? Tidak kali ini saja aku berhadapan dengan situasi serupa. Alhamdulillah aku ditakdirkan kerap dicurhati oleh orang-orang yang tak kukenal. Kiranya, itulah cara Tuhan untuk membuatku tak kekurangan stok ide untuk menulis. Hehehe ....

MORAL CERITA:
Tiap orang memang butuh curhat.



Jumat, 03 Maret 2017

Gurihnya Soto Sapi di Tanjakan Jalan Itu

6 komentar
ADA banyak warung soto di sekitar tempat tinggalku. Namun, rata-rata yang dijual soto ayam. Amat jarang yang menjual soto sapi. Hanya ada satu warung yang menjual soto sapi. Jadi harus siap-siap patah hati jika warung itu tutup, sementara keinginan makan soto sapi demikian membuncah. Malas deh kalau mesti pergi ke warung yang jauh di tengah kota sana. Boros di ongkos transportasi dan waktu perjalanan.

Maka kemarin hatiku bersorak kegirangan sebab menemukan Warung Soto Pak Tono. Iya, betul-betul menemukan.  Sebab selama ini aku tak tahu keberadaannya, padahal kerap wara-wiri di daerah situ. Mungkin karena letaknya yang nyempil di tengah rerimbunan pohon dan bukan berada di tepi jalan raya. Atau bisa jadi, ini merupakan warung baru. Atau ... memang aku yang kuper plus kudet.   

Banner menu dan daftar harga yang menempel di tembok warung.
Alhamdulillah rasa soto sapinya "benar". Dalam arti, kuahnya gurih dan lumayan kental. Citarasanya sedikit di atas standar warung soto yang berlokasi di pinggiran kota. Daging sapinya pun empuk. Harganya standar.  Porsinya pas. Kondisi warungnya juga bersih dan rapi. Jadi, aku berani mengulasnya di blog ini.

Mengapa kusebut rasanya "benar"? Sebab di Jogja ini aku beberapa kali kecewa soal rasa soto. Terutama bila makan soto di soto asli Jogja. Maksudku bukan di warung soto yang pasang papan nama khusus seperti Soto Lamongan, Soto Kudus, atau Soto Madura. Mengapa kecewa? Sebab kuahnya kerap kali terlalu encer. Yang paling menyebalkan, ada yang kuahnya manis. 

Bayangkanlah sejenak. Kuah soto kok manis. Mentang-mentang di Jogja 'kali ya? Gudheg agak manis saja aku enggan memakannya. Apalagi soto. Duh, duh. Maka aku senang ketika nemu soto asli Jogja yang gurih dan berkuah kental. Mana lokasinya tak begitu jauh pula dari rumah.

Kalau ada yang kukeluhkan dari Warung Soto Pak Tono adalah bihunnya. Menurutku, bihunnya terlalu eksis alias terlampau banyak. Tidak imbang dengan eksistensi irisan kol, seledri, kecambah, dan taburan brambang gorengnya. Mbokyao bihunnya dikurangi dan sebagai gantinya, irisan daging sapinya ditambah .... Haha! 

Penampakan seporsi soto sapi Warung Soto Pak Tono.

Yang paling istimewa dari warung soto ini adalah lokasinya. Karena berada di tepi jalan desa, bukan jalan raya, relatif bebas polusi. Suasananya teduh dan asri. Apalagi berada dekat sungai dan di tengah rerimbunan pohon. Walaupun interior warung tidak instagramable, lingkungan sekitarnya amat memanjakan mata. Semua serba hijau alami bila kita memandang luar warung.

O, ya. Pengunjungnya rata-rata juga masih berusia hijau. Maklumlah. Lokasi warung 'kan di antara kampus UMY ( Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) dan UPY (Universitas PGRI Yogyakarta). Jadi, yang makan di situ kebanyakan mahasiswa. 

Tertarik mencicipi soto sapi Pak Tono? Yuk, langsung satroni saja langsung warungnya. Kalau dari arah kampus UMY, masuk gang ke timur. Bablas saja ke timur ketika sampai di perempatan kecil. Tak jauh dari perempatan, setelah jembatan pas jalan menanjak, tengoklah ke kiri. Tuh, sudah sampai 'kan?

 

Rabu, 01 Maret 2017

Ada Snorkeling di Pantai Sadranan

4 komentar
BERSAMA warga sekampung, tempo hari aku berkesempatan ke Pantai Sadranan. Yakni sebuah pantai indah yang berlokasi di Kabupaten Gunungkidul. Tepatnya berada di wilayah Dusun Pulegundes II, Desa Sidoarjo, Kecamatan Tepus. Untuk mencapainya dari Jogja, dengan kendaraan bermotor kecepatan sedang, kurang lebih memakan waktu 2 jam. 

Pantai Sadranan ini berada di antara Pantai Sundak dan Pantai Krakal. Pantai Sundak di sebelah timurnya, sedangkan Pantai Krakal di sebelah baratnya. Adapun jarak di antara ketiga pantai tersebut tidaklah berjauhan. Menurut catatanku, perpindahan dari Pantai Sadranan ke Pantai Krakal--dengan bus--hanya 20 menit.  Kukira begitu pula halnya dengan jarak antara Pantai Sundak dan Pantai Sadranan ini.

Yang tampak seperti pulau di kejauhan adalah perbukitan di Pantai Krakal.


Pantai Sadranan merupakan salah satu dari 10 pantai istimewa di Gunungkidul. Faktanya, pantai ini memang indah. Di tepiannya ada beberapa bongkahan karang yang menawan. Ombaknya besar bergulung-gulung. Seolah berlarian mengejar entah. Pergerakan ombak besar itu pun sangat cepat.

Sebenarnya cantik nian, tapi perlu diwaspadai. Mengapa? Sebab ombak besar itu bisa tiba-tiba sampai di daratan yang jauh. Maksudnya, yang jauh dari batas air biasanya. Melampaui karang-karang yang menawan itu. Bahkan kalau malam, air laut bisa mencapai gubuk-gubuk tempat rehat. Padahal, letak gubuk-gubuk tersebut sangat jauh dari batas air.

Dengan demikian, Pantai Sadranan bisa disebut sebagai keindahan yang melenakan. Bila kita terlena saat bermain-main air di sekitar karang, akibatnya fatal. Apalagi kalau posisi kita duduk membelakangi laut. Wah, sangat riskan. Membelakangi laut berarti tidak tahu kalau ada ombak besar yang tiba-tiba datang. 

Salah satu remaja anggota rombongan kami nyaris tersambar ombak besar itu. Dia bercanda dengan temannya dalam posisi menghadap ke darat. Tak tahunya, mendadak segulung ombak besar menghantamnya. Dia pun terjatuh. Bajunya tersangkut runcingnya karang. Susah dilepaskan sehingga terpaksa dirobek. Alhamdulillah dia selamat meskipun tubuhnya tergores-gores karang.


Karang inilah yang menjadi TKP ....

Selain cantik di permukaan, Pantai Sadranan juga cantik di kedalaman. Biota lautnya menjadi objek wisata yang difavoritkan pengunjung. Tapi tidak terlampau dalam juga, sih. Itulah sebabnya di Pantai Sadranan hanya ada snorkeling. Tidak ada diving.

Lalu, apa beda snorkeling dan diving? Begini. Snorkeling adalah aktivitas menyelam di permukaan laut. Karena dilakukan di permukaan, tabung udara pun tidak perlu digunakan. Aktivitas snorkeling hanya membutuhkan snorkel--yakni berupa selang berbentuk huruf ‘J’--sebagai alat bantu pernapasan. Namun, ada pula yang menggunakan masker selam untuk melakukan snorkeling. 

Lain snorkeling, lain pula diving. Diving adalah aktivitas menyelam di bawah permukaan laut. Maka untuk melakukan diving butuh keahlian tersendiri. Tidak semua orang mampu melakukannya. Sementara untuk melakukan snorkeling, kita tak mesti bisa berenang. 

Demikianlah sekeping ceritaku mengenai Pantai Sadranan. Mungkin dapat menjadi penggugah selera Anda untuk ke Pantai Sadranan juga. Siapa tahu saat melakukan snorkeling di sana bisa berjumpa dengan Dude Herlino. Serius ....

MORAL CERITA:
Pergi ke Pantai Sadranan membuatku tahu bedanya snorkeling dengan diving.




 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template