Sabtu, 24 April 2021

Ambil-Makan-Habiskan = KEREN

Sumber Gambar: https://bandungfoodsmartcity.org/

 

Alkisah .... 

Fragmen 1 - Saat Jajan di Mal 

"Lho? Makannya sudah? Itu masih ada dua pangsitnya," kata saya seraya menunjuk piring dengan dagu.

"Sudah kenyang," sahut Winda. 

"Lah? Itu juga masih ada satu pastel."

"Biarin ajalah. Perutku gak bisa dipaksa. Nih. Minuman yang ini saja enggak sanggup menghabiskannya," sahut Winda lagi. 

"Kamu kebanyakan sih, ordernya. Camilannya sudah kelebihan. Eh, minumannya juga dua gelas. Akhirnya enggak habis toh?" 

Lagi-lagi saya terpaksa menegur terkait kebiasaannya menyisakan makanan. Lagi-lagi pula saya terpaksa buang gengsi untuk memunguti semua yang tersisa, lalu saya bungkus tisu untuk dibawa pulang.   

Fragmen 2 - Lik Dal Membuang Bestik Daging Sapi

Dua hari setelah Hari Raya Idul Qurban, sore yang cerah di tepi sawah. Saya sibuk mengarahkan kamera HP ke hamparan hijau padi ketika Lik Dal muncul membawa panci. Ia langsung menumpahkan seluruh isi panci ke parit kecil tepi sawah. 

Saya bertanya, "Apa itu?" 

Sambil senyum-senyum Lik Dal menjawab, "Bestik sapi." 

"Lho? Kok dibuang? Katanya bisa makan daging kalau pas Idul Adha saja? Kok malah sekarang dibuang?" 

"Sudah bosan. Sudah dipanasi bolak-balik. Sudah eneg makan daging terus."

Huft! Saya hanya bisa menghela napas.

Fragmen 3 - Ketika Saya Ikut Rewangan di Desa

Seratus besek berisi nasi beserta ubarampe lauknya telah dibawa ke ruangan depan. Saatnya beres-beres. Eh, kami malah menemukan sebaskom bakmi basi. 

"Laaah. Ini yang kemarin dicari-cari. Ternyata ketutupan kardus toh? Bakmi segini banyak kok harus dibuang," kata seseorang.

Hadeh! Bikin sampah makanan lagi, deh.

Selesai beres-beres kami makan. Prasmanan. Dua anak berusia 8 tahunan turut bergabung. Biasa saja sebetulnya. Yang luar biasa itu takaran makanan yang mereka ambil. Tampak terlalu banyak. Saya tegur, "Nanti habis?" 

Mereka jawab dengan anggukan kepala. Akan tetapi, kenyataannya tidak begitu. Tak sampai setengah yang mereka makan. Wah, wah, wah. Anak-anak ini sungguh harus diajari rumusan AMBIL-MAKAN-HABISKAN.

O, ya. Rewangan adalah aktivitas bantu-bantu tetangga yang sedang hajatan.

Fragmen 4 - Sampah Makanan Eyang Kesuma

Lagi-lagi saya menemukan seplastik gorengan di tempat sampah depan rumah. Kali ini malah didampingi seplastik sayuran busuk. Pastilah pembuangnya Eyang Kesuma. 

 

Tumpukan sampah depan rumah (Dokpri)

 

Menurut saya, Eyang Kesuma segolongan dengan Winda. Mentang-mentang berduit banyak, mudah saja mereka membuang-buang makanan/bahan pangan. Muehehehe ... *Kok saya bernada julid begini, ya?*

Sementara saya tipe pengiritan banget. Maklumlah. Duit saya pas-pasan sehingga dituntut cermat dalam berbelanja. Terlebih pantang bagi saya untuk membuang-buang makanan.

Yang ternyata ..... Gaya hidup minim sampah makanan adalah suatu kampanye tersendiri. Tepatnya kampanye menuju penyelamatan lingkungan. Go green. Jadi tanpa paham betul duduk perkaranya, saya justru telah berkampanye tentang sesuatu yang baik. Alhamdulillah.

Ternyata Tak Sekadar Mubazir

Bermula dari keengganan berkawan dengan setan, sedapat mungkin saya menghindarkan diri dari perbuatan memubazirkan makanan. Selain itu, saya takut kualat jika berbuat sia-sia terhadap makanan. Ngeri kalau di kemudian hari gantian saya dijauhi makanan. 

Hingga suatu ketika saya menemukan website Bandung Food Smart City

Bermula dari membaca-baca artikel di situ, akhirnya saya paham bahwa  kondisi bebas sampah makanan merupakan suatu cita-cita mulia yang wajib diwujudkan. Tak hanya tentang pemubaziran, tetapi  berhadapan dengan persoalan yang lebih besar, yakni krisis pangan.

Saya tak menyangka bahwa sesuai laporan Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO), jumlah sampah makanan di dunia mencapai sepertiga dari total jumlah makanan yang diproduksi. 

Lebih tak menyangka bahwa sampah makanan (food waste) yang pengelolaannya salah pun bisa membunuh manusia. Peristiwa buruk ini telah terjadi pada tahun 2005 di TPA Leuwigajah Cimahi Jawa Barat.

Ironi Indonesia 

Perlu diketahui, Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam hal food waste (peringkat satunya Arab Saudi). Tercatat, rata-rata orang Indonesia menghasilkan 300 kg sampah makanan per tahun. Jumlah tersebut setara dengan biaya untuk memberi makan puluhan juta orang. 

Ironis dan kontradiktif. Di satu sisi orang Indonesia gemar bikin food waste, yang berarti boros. Sementara di sisi lainnya gemar teriak-teriak tak bisa makan, bahkan masih ada juga stunting yang menjadi momok. 

See! 

Betapa besar ongkos kesia-siaan pangan yang mesti kita tanggung. Maka siapa pun tak perlu menunggu apa pun, wajib segera peduli pada persoalan ini.

Tanamkan AMBIL-MAKAN-HABISKAN Sejak Dini

Winda, Lik Dal, orang-orang di acara rewangan, dan Eyang Kesuma pastilah sama awam dengan saya perihal bahaya sampah makanan. Paling jauh mereka beranggapan bahwa makanan yang tak dihabiskan berarti mubazir. Tidak sampai paham tentang adanya potensi ledakan berbahaya gas methana, yang dihasilkan sampah makanan tersebut. 

Maka sosialisasi intensif menjadi kunci utama agar mereka (dan semua orang) peduli pada food waste.

Harus diakui, ketidakpedulian tak jarang bersumber dari ketidakpahaman. Sebelas dua belas dengan istilah 'kalau tak kenal maka tak sayang'. Itulah sebabnya orang-orang mesti dipahamkan dengan sepaham-pahamnya tentang food waste. Sebelum krisis pangan dunia betul-betul datang.

Cara paling simpel untuk memahamkan adalah mengulang-ulang kampanye Ambil-Makan-Habiskan=KEREN. Terbaik memang dikampanyekan sejak dini sehingga menjadi "akhlak"

 

Sumber Gambar: https://bandungfoodsmartcity.org/

Sumber Gambar: https://bandungfoodsmartcity.org/

Demikianlah adanya. Yang mula-mula harus dilakukan untuk meminimalkan food waste, menurut saya, adalah mengedukasi masyarakat. Tegaskan berulang-ulang bahwa penampilan keren itu berarti bijak dalam mengonsumsi makanan; bahwa KEREN = Ambil-Makan-Habiskan. 

Tidak perlu malu bila piring kita licin tandas seusai makan. Itu bukan pertanda rakus, melainkan pertanda keren. Tepatnya keren sebab bertanggung jawab. Berani ambil ya berani menghabiskan. 

Tiap orang mesti dididik untuk piawai memperhitungkan jumlah makanan yang akan diambilnya/dipersiapkannya/dibelinya. Tujuannya jelas, yaitu meminimalkan sampah makanan sejak tahap persiapan.

Memang tak mudah melakukan sosialisasi gaya hidup bebas sampah makanan. Terutama di kalangan masyarakat yang dalam hal penyediaan makanan di hajatan, memegang erat tradisi 'Lebih baik kelebihan daripada kurang'. Akan tetapi, tak mudah tak berarti tak bisa toh?

Waktu dan Tempat Sosialisasi yang Efektif

Waktu paling tepat untuk melakukan sosialisasi adalah setiap saat, di berbagai kesempatan yang relevan. Bila terus-menerus mendengar tentang gaya hidup minim sampah makanan, lambat-laun orang akan kepo. Bermula dari kepo inilah, kemudian ia akan mencari informasi lebih banyak. 

Paling efektif, sosialisasi yang kontinu dilakukan melalui bangku pendidikan; mulai dari jenjang PAUD hingga PT/akademi. Sementara untuk kalangan masyarakat umum, jalur kegiatan dasawisma dan PKK dapat dimanfaatkan. 

***

Jadi, bagaimana? Siapkah Anda menjadi keren? Kita menuju keren bersama-sama, yuk.



Referensi

https://bandungfoodsmartcity.org/about-us-2/

https://bemkm.ugm.ac.id/opini-rapuhnya-kedaulatan-pangan-di-negeri-gemah-ripah-loh-jinawi/ 

https://gaya.tempo.co/read/1187834/intip-gaya-hidup-zero-waste-dalam-hal-pola-makan

https://www.paprikaliving.com/tidak-disadari-banyak-makanan-terbuang-di-indonesia/

https://www.wastereduction.gov.hk/sites/default/files/resources/leaflet_indo.pdf


42 komentar:

  1. Man eman yo mbak kalau makanan tuh gak dimakan dan dibuang gitu aja.kadang sedih akutuh 😢

    BalasHapus
    Balasan
    1. sangaaaat eman-eman, mubazir dan ternyata..BERBAHAYA.

      Hapus
    2. Iya mbak, ternyata bekas makanan menimbulkan emisi dan itu gak baik untuk bumi kita. Padahal keluhatannya sepele yak, tapi pengaruhnya luar biasa

      Hapus
    3. Nah, iya. Karena kelihatan sepele, orang-orang pun abai.

      Hapus
  2. waah? setelah saya baca sampai selesai, ternyata oh ternyata sedang ikut even lomba blog ya ? semoga menang lah ya, berbicara akan makanan rasanya sangat disayangkan kalau ambil banyak nyatanya gak habis padahal orang dilaur sana lho belum tentu bisa makan apa yang kita kunsumsi hari ini, esok, atau lusa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Tari. Ini tulisan dalam rangka lomba. Semoga menang. Kalaupun belum ditakdirkan menang, semoga isinya bisa menginspirasi khalayak.

      Hapus
  3. Wkwk jujur, aku dulu tipe gengsian kalau makan di mall mbak. Sengaja sisain dikit gitu. Sekarang mah anti! Sekarang ambil atau order makanan secukupnya. Sadar setelah punya uang part time, kerja nggak gampang .Hihii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kalau sudah bertobat. Semoga taubatan nasuha ya. Hahaha

      Hapus
  4. Suka sebel juga lihat orang buang makanan ya mba. Aku dulu juga suka gitu. Eh, sekarang belajar biar selalu habiskan makanan yang dipesan. Kalo pun tidak habis, bungkus bawa pulang, haha. Buang deh rasa gengsi, mau dibilang pelit sama orang lain, juga biarin. Yang penting nggak buang-buang makanan :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar. Lebih baik dibilang pelit sama orang. Yang penting kita tidak berbuat aniaya terhadap bumi daaan irit doong.

      Hapus
  5. Fakta mengejutkan kalo Indo dapat predikat food waste nomor 2 😱 .., sungguh sangat disayangkan.
    Padahal di banyak tempat di Indo masih banyak orang hidup dibawah garis kemiskinan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itu dia masalahnya. Mestinya hak perlu ada kelaparan kalau food waste diminimalkan.

      Hapus
  6. Saya paling tak suka dengan kebiasaan membuang makanan. Orang lain di muka bumi ini banyak yang kelaparan. Seringnya di kondangan. Ambil makanan banyak. Cicip sedikit ditinggalkan. Orang belakangan gak kebagian. Mereka tidak mikir tuan rumah entah dapat duit dari mana biaya pesta. Ngumpul/nabung sedikit demi sedikit, terpaksa berhemat, ngutangkah, atau pinjaman bank? Agama pun melarang hal yang mubazir. Dan menyabutnya seagai teman setan. Terima kasih telah berbagi, ananda Agustina.

    BalasHapus
  7. Emang bener sih ini.
    Di saat banyak orang-orang yang kekurangan makanan, kekurangan gizi, tapi malah banyak juga diantara kita yang membuang-buang makanan.
    Karena itu harus dibiasakan sejak kecil untuk ambil seperlunya saja, biar nggak mubazir.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, Bang. Kita ini sering kali bersikap kontradiktif begitu.

      Hapus
  8. KEREN = Ambil-Makan-Habiskan. ?
    kalau Ambil makanan, habiskan, ambil lagi bungkus bawa pulang = masuk kategori keren kwadrat kah mbak? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bhahahaha. Hiyahiyahya. Triple kereen malahan.Lanjuuut.

      Hapus
  9. Memang kita semua kudu berkontribusi optimal, demi planet Bumi yg makin sehat.
    Ambil Makan habiskan itu KEREN BANGET!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yoiii, MbAk. Klo bukan kita yg menjaga bumi, siapa lagi?

      Hapus
  10. Makan harus dihabiskan, sayang kalau dibuang. Di luaran sana masih banyak orang tidak seberuntung kita karena mereka belum tentu bisa makan enak setiap hari

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali. Bahkan makan tak enak sekalipun, belum tentu semua orang bisa.

      Hapus
  11. Sejak dini memang perlu diajarkan anak2 untuk menghabiskan makanan, krna skrg ternyata sampah makanan sisa pertahunnya banyak banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebelum itu, penting ditanamkan bahwa klo ambil maknan secukupnya saja. Klo ternyata kurang bisa nambah. Ketimbang dibuang.

      Hapus
  12. Setuju ambil makan dan habiskan..kita harus tanamkan sejak dini ke anak anak biar mereka bisa menghargai alam, lingkungan, orangtua,tokoh sepanjang proses pengolahan makanan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Anak-anak wajib diajari bahwa dalam sepiring makanan yang dihadapinya ada banyak kerja keras orang lain.

      Hapus
  13. Dulu aku nggak pernah tahu makna ucapan nenek kalau makan dihabiskan. Sekarang aku paham betapa dampak makanan yang teebuang- buang itu juga nggak bagus untuk alam ya mbak. Makanya, sekarang aku juga lagi belajar buat membuat makanan secukupnya untuk diolah di rumah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, Mbak. Dahulu tahunya saya juga cuma mubazir klo buang-buang makanan. Ternyata merusak alam juga.

      Hapus
  14. Alhamdulillah aku sih kalo makan selalu abis cuma kadang2 aja klo lg mual atau ga enak makan baru makannya ga diabisin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Klo gitu, pas mual atau ga selera makan, lebih baik jangan maksain makan dulu Mbak ..

      Hapus
  15. Suamiku paling kesel kalau anak-anak makan enggak habis, jadilah makan itu ambil secukupnya. Ini Uminya yang suka ngabisin makan anak2 plus Abinya makanya badannya membengkak hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itulah sebabnya orang tua susah langsing hihihi

      Hapus
  16. Waduh jadi keinget kebiasaan jelek yang suka nggak ngabisin makanan :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, perlu direformasi tuh Mas kebiasannya.

      Hapus
  17. iya mbak
    aku juga dari kecil udah dibiasain untuk ngabisin makanan
    apa yg kuambil, ya harus kumakan sampe habis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagus itu. Lanjutkan hingga ke anak cucu, Mbak.

      Hapus
  18. Tanpa disadari sampah dari hasil sisa makanan itu ternyata banyak banget tiap tahunnya, klh syg bumi, memang kebiasaan menghabiskan makanan itu hrus disosialisasikan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau tidak segera disosialisasikan tentang bahaya food waste sangat bahaya.

      Hapus
  19. Aku juga gemes loh mba kalau ada yang hobi buang-buang makanan. Mbokya ditakar kemampuan perutnya gitu ya ketika mengambil sesuatu, jadi tidak menghasilkan sampah makanan yang banyak.

    Setuju nih, harus ada langkah khusus untuk mengenalkan perilaku keren ambil-makan-habiskan ini sejak usia dini. Agar di benak anak-anak selalu tersimpan prinsip tidak nyampah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup. Kemampuan mengenali kapasitas perut ini yang perlu sekali untuk ditanamkan juga. Tidak asal lapar mata, ingin, ambil, lalu gak dimakan.

      Hapus
  20. Paling sebel klo lihat sisa makanan numpuk di piring-piring yang diletakkan di pojok meja, di bawah kursi dll saat kondangan. Sedih banget. Pas ngambil aja sampe rebutan, giliran makan gak habis seenaknya aja taro trus ngambil yang lain
    Duuuuuh semoga kita semua dijauhkan dari sifat seperti itu ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, Mbak. Semoga kita justru bisa menginspirasi orang-orang untuk tidak melakukan food waste.

      Hapus

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!

 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template