Jumat, 30 November 2018

Kapan Penulis Berdemonstrasi?

MAHASISWA berdemonstrasi sudah biasa. Sudah sejak zaman baheula 'kan? Buruh berdemonstrasi juga sudah jamak terjadi. Meskipun tentu saja, tujuan demonstrasi keduanya berlainan. 

Era berubah. Zaman bergerak. Hingga tiba pada masa kini. Yakni masa ketika kian beragam elemen masyarakat yang berdemonstrasi. Para guru yang mulia pun sekarang mulai berani berdemonstrasi. 

Laluuu, kapan penulis berdemonstrasi? Mengapa sejauh ini belum terdengar kabar adanya demonstrasi penulis? Apakah hidup para penulis sudah sangat sejahtera? Sehingga mereka tak perlu berdemonstrasi demi menuntut peningkatan kesejahteraan? Yuhuuu.... Tentu tidak begitu, dooong. 

Tahukah kalian? Kalau perkara kesejahteraan hidup (baca: jumlah honor), rata-rata penulis ya tak beda jauh dengan guru-guru honorer. Malah menurutku, lebih enakan guru honorer. 'Kan tinggal menerima honor rutin tiap bulan, setelah memenuhi kewajiban mengajar. Tak perlu gigih menagih bagian keuangan. 

Lhah kalau penulis? Tidak selalu ketika tulisannya terbit, otomatis honor langsung cair. Acap kali honor baru cair setelah sekian waktu terbit. Bahkan tak jarang, ada honor tulisan yang cairnya setelah ditagih-tagih dulu. Setelah kita nyaris depresi menagih, barulah cair. Sudah begitu, jumlahnya pun tak seberapa. Begitu pula halnya dengan royalti buku. Kadangkala juga mesti ditagih-tagih dulu. Hehehe .... 

Tolong garisbawahi, kubilang rata-rata penulis. Bukan penulis yang bukunya laris manis sekali. Bukan penulis yang royaltinya besar. Bukan pula yang sering mendapatkan undangan jadi pembicara di sana sini. 

Sekali lagi, yang rata-rata seperti aku ini. Bukan penulis yang tenarnya tiada tara. Bukan pula penulis yang punya sumber penghasilan lain. Oke? #Malah curhat niiih

Jadi, mengapa para penulis tersebut tak kunjung berdemonstrasi? Sejujurnya semula aku berpikir, mereka adalah sosok-sosok bijak. Kaum pengabdi literasi sejati. Sudah siap menanggung konsekuensi  dari pilihan hidup berliterasi. Yakni berupa tipisnya dompet. Haha! 

Namun di kemudian hari, muncullah pemikiranku yang lain. Jangan-jangan para penulis tidak berdemonstrasi bukan sebab bijak. Jangan-jangan sebab tak tahu mesti mendemo siapa? Wah!  

MORAL CERITA: 
Kalau para penulis berdemonstrasi demi peningkatan jumlah honor dan royalti, insyaAllah aku gabung ah .... Hahaha .... 



14 komentar:

  1. ide yang keren...jadi kepingin juga...hehehe

    BalasHapus
  2. Hayuukk mba tapi emang susah ya sekarangxx kadang juga kita ga harus mengharapkan harus cepet dibayar... kadang pernah sebulan lebih baru dibayar uda hal biasa ya ka... btw salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa... Sebulan lebih itu tergolong cepet lhooh.


      Salam kenal balik, ya.

      Hapus
  3. Wah... Gitu ya mb.. Pdhl nulis buku tu sulit..perlu effort yang luar biasa untuk bisa menulis dan mnj sebuah buku. Semoga ke depannya bisa ada mou yang mutualisme antara kedua belah pihak ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe ... Untuk sementara ini, apa boleh buat kondisinya masih demikian adanya

      Hapus
  4. Hahaha jangan lupa kabari mbak kalau emang ada demonya saya mau ikut meramaikan ...kebetulan remaja saya dirumah lagi merintis untuk bisa menerbitkan bukunya ��..moga2 nanti ada perbaikan kedepannya ✍��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaw... Salam buat si remaja yaaaks, pokoknya tetap semangat untuk menulis

      Hapus
  5. Waduh penulis mendemo siapa ya mbak?

    Urusan seperti ini memang membuat pusing kepala. Kalau lagi butuh kayak diuber-uber DL, tapi ketika selesai, hak penulis malah terlantar.

    BalasHapus
  6. Ya Alloh, Mbakyu, tulisanmu mewakili isi hatiku banget, wkwkwkkwk. Dan sekarang aku lagi malas-malasnya menulis karena "job". Embuh kenapa lagi suka eksplor sana-sini. Mencoba berbagai gaya menulis biar ketemu yang pas banget ngono lho

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha Alhamdulillah bisa mewakili hatimuuuhh

      Hapus
  7. Kalau saya lebih tepatnya mendemo pun percuma..bahkan kita baru ngomong aja udah kalah duluan walapun kita berada di posisi yang benar. Pernah sampai editor menyerah dan minta maaf berkali-kali karena keputusan atasannya yang tiba-tiba..pada akhirnya ihlasin aja walaupun buat lupa aja susah *malah curhat kwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, apa daya penulis? Duuuh. Kalau mendemo pun percuma, lalu kita mesti gimana ya?

      Hapus

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!

 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template