Senin, 31 Agustus 2026

Kakiku Jangan Diganti Kimpul

2 komentar

HALO, Sobat Pikiran Positif? Semoga dirimu dalam kondisi baik. Sehat lahir dan batin. Kaki dan tangan bisa leluasa digerakkan tanpa kurang suatu apa. 

Jangan tiru aku, ya. Gara-gara kurang olahraga dan pola makan tak sehat, plus asupan air minumnya dingiiin melulu, tubuhku protes. Terkhusus bagian kaki kanan nih yang protes.

Protesnya gini. Dalam suatu aktivitas keseharian, aku salah gerakan. Tidak sampai jatuh. Eh? Apa sih, istilahnya? Salah tumpuan gerakan? Hmm. Pokoknya gitulah, ya. I think you know what I mean deeeh. 

Tidak sampai jatuh. Tidak pula sampai ada suara kreeek atau yang sejenisnya. Bahkan sesungguhnya, aku tidak tahu kapan kejadiannya.Tahu-tahu si kaki sakit saja. 

Mula-mula sakitnya masih tertahankan. Aku masih ke sana kemari. Kemudian tibalah malam itu, yakni bakda Isya yang kelabu. 

Usai Magriban di musala aku sempat omong-omong ke tetangga saat perjalanan pulang. Kubilang kalau kakiku makin sakit. Dia merespons, "Lha piye? Periksa ke dokter sajakah?"

Idenya baik dan benar. Namun,  aku takut ke dokter. Tentu saja aku tidak menjalankan ide tersebut. Hehe ...

Konyolnya, aku menunggu keajaiban. Siapa tahu bangun tidur esok hari mendadak sembuh? Sungguh sebuah harapan kosong. Sampai 2 minggu berlalu, tak ada perubahan menuju sembuh.

Apa boleh buat? Bagian lutut dan sekitarnya tetap aduhai sakit jika digerakkan. Automatis tidak leluasa berjalan, sampai-sampai nyaris tak sanggup berjalan. 

Itulah yang bikin aku hilang dari peredaran jalanan kampung. Menyebabkan para tetangga bertanya-tanya. Ada apakah gerangan denganku yang mendadak menghilang? Padahal biasa sluman-slumun ngiderin kampung? Hehe ... 

Jangankan ngiderin kampung. Berjalan kaki ke musala yang cuma beberapa meter saja tidak sanggup. Alhasil, ada banyak hal/acara yang aku lewatkan. Terpaksa bangeeet. 

Kakiku betul-betul tak kuat diajak melangkah. Sementara sepanjang Agustus, di sekitaran Titik Nol Yogyakarta dan Malioboro ada banyaaak kegiatan menarik. Termasuk gelaran Pesta HUT Komunitas Agus-Agus.

Jangankan acara Agustusan yang digelar pemkot dan pemprov. Yang digelar pengurus RW tempatku berdomisili saja, aku tak kuasa ikut. Jompo banget deh rasanya. Heu heu heu ... 

Singkat cerita di tengah kesakitanku, seorang teman chatt WA. Saat ditanya tentang kabar, entah kenapa aku menjawab jujur. Lalu dia tegas menyatakan kalau esok hari akan menjemputku, untuk mengantarkanku ke ahli urut atlet. 

Syukurlah aku tatkala itu menurut. Alhasil, sakitku teratasi. Ketahuanlah bahwa penderitaanku itu akumulasi dari jatuh-jatuh selama 15 tahun sebelumnya. Jatuh yang menimbulkan cedera di tempat sama. 

Dahulu tubuh mudaku masih tangguh. Kondisinya pun pasti sedang sehat. Cukup nutrisi dan aktivitas fisik yang menyehatkan. Jadi, cedera ringan lewat saja nyerinya. 

Tempo hari aku salah gerakan dalam kondisi tubuh buruk. Dalam usia yang telah menua pula. Ya sudah. Hasilnya fatal begitu. Syukurlah aku manut untuk segera diurut. Jika nekad dibiarkan tanpa solusi, konon bisa saraf kejepit. Duh, seram. 
  
Demikian cerita tentang kengambekan kaki kananku. Jujur bikin kapok. Demi memperbaiki metabolisme tubuh sehingga recovery otot berjalan cepat, aku bertekad patuh pada semua anjuran si bapak yang mengurut. 

Aku pun berjanji pada diriku sendiri, "Harus banyak minum air segar dan tidak dingin!" Ini yang kupikir terpenting bagiku. Aku kerap lalai dengan kecukupan asupan air minum. Sekalinya ingat untuk minum, malah pilih minum air dingin atau es apalah-apalah.

Janji berikutnya berderet, dong. Harus memperbanyak konsumsi sayur dan buah, meminimalkan konsumsi gorengan dan makanan berminyak, serta membatasi konsumsi daging merah. 

Oke, oke. Untuk diet makanan dan memperbanyak minum air relatif gampang dikendalikanlah, ya. Yang sulit itu anjuran, "Jangan sampai jatuh atau cedera lagi."

Hmm. Itu berarti aku wajib memperhalus gerakan dalam aktivitas keseharian. Tak boleh pethakilan. Tak boleh buru-buru supaya tak kesandung atau kejengkang.

Baiklah, baiklah. Kiranya takdirku memang harus menjadi sehalus putri kerajaan buaya darat. Lagi pula, aku tetanggaan dengan Sultan Yogyakarta. Wajarlah ya, kalau aku mesti berperilaku serba halus.

Moral ceritanya, bisa berjalan kaki dengan lancar tak kurang suatu apa adalah karunia besar. Akan tetapi, kerap kita lalai untuk mensyukurinya. Baru terasa kalau itu karunia besar bila sudah sakit kayak aku gini heu heu ...

Ya Allah, aku tidak mau kaki sakitku ini diganti dengan kimpul. Cukup nasiku saja yang sesekali kuganti kimpul. Haha!



Senin, 25 Mei 2026

Pepotoan di Tamansari dan Sekitarnya

27 komentar
HALO, Sobat Pikiran Positif? Aku mau pamer foto-foto, nih. Haha! Sengaja pamer fotonya aku garis bawahi tebal-tebal, ya. Karena memang niatnya hendak pamer foto. Mumpung aku pakai merah menyala tiada tara. Hehehe ...

Jadi begini. Rabu lalu setelah long weekend, aku dan dua kawan blusukan ke Tamansari dan sekitarnya. Tidak mau kalah dari wisatawan luar kota, dong. Lagi pula, satu kawan (yang tidak berkostum merah) itungannya dari luar kota juga. 

Dia tinggal di Jalan Kaliurang bagian atas. Bukan akamsi seperti aku dan temanku yang pakai jersey Arsenal itu. Kalau kami berdua 'kan berdomisili di Kota Yogyakarta. Di sekitaran Tamansari pula. Akamsi banget 'kan?

Nah, blusukan kami jadwalkan Rabu. Bertepatan dengan tanggal 20 Mei, Hari Kebangkitan Nasional. 

Bertepatan pula dengan kesuksesan Arsenal megang piala setelah 22 tahun berpuasa gelar. Itulah sebabnya temanku yang suporter setia Arsenal merayakannya dengan pakai jersey itu. 

Adapun aku sebagai suporter setia MU, berbesar hati ikut merayakannya. Pakai merah, sebab merah juga warna kebanggaan MU. Yaelah. Penting banget membahas warna merah di sini. Haha!


Kami sepakat ngumpul di Pasar Ngasem pukul 7 pagi. Yang ternyata ... ramai bangeeet. Penuh wisatawan yang antre buat beli sarapan. Sebab terlalu ramai, kami sampai kesulitan untuk saling menemukan. 

Sungguh tak terduga. Rabu-rabu kok ya serasa akhir pekan. Serasa long weekend. Ya sudah. Akhirnya kami langsung meninggalkan tikum. Menuju ke barat. Ke bekas kampus Universitas Widya Mataram Yogyakarta.


Di satu sudut sepi yang ada bunga kambojanya, tetapi bukan kuburan, aku disuruh berpose oleh temanku. Entah apa tujuannya. Aku pun patuh-patuh saja. Entah apa pula motivasiku saat itu. 

Eh, malah patuh lagi ketika disuruh berpose di depan pintu estetik yang ... sesungguhnya terasa kurang nyaman di hati saat itu. Aku sampai minta izin; bilang permisi dan ucap salam, lho. Alhamdulillah tak ada dampak apa-apa.

Nah. Kalau yang di atas itu memang akunya yang niat narsis. Alasannya apa? Ya senang saja nemu latar belakang yang kontras dengan baju dan kerudung. Haha! Hasilnya oke juga "kan? Jarang lho, aku berani pede dalam berpose.

Dua foto berikutnya adalah swafoto kami bertiga di bekas Kampus Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY). Yang juga merupakan ndalem Mangkubumen. Suasananya sepi, lho. Itulah sebabnya kami pede buat berpose-pose. 

Eh? Ada seorang sekuriti yang kesepian, sih. Ia bertugas sendirian saja. Bukan sekuriti Kampus UWMY, melainkan sekuriti Sekolah Tumbuh. Sepertinya tingkat SD. Entahlah. Tapi ya itungannya memang sepi. Tidak seperti SD pada umumnya yang punya banyak siswa. 

Mungkin kalian bertanya-tanya. Pindah ke mana Kampus UWMY-nya? Mengapa pindah? Begini. Pindahnya ke Kampus Terpadu yang ada di Banyuraden Kapanewon Gamping Sleman DIY. Sementara nDalem Mangkubumen yang bersejarah ini, kembali dikelola Kraton Yogyakarta sepenuhnya. 


Swafoto berikutnya lagi, satu suporter Arsenal dan satu suporter MU, juga berlatar belakang bekas Kampus UWMY. Luar biasa glowing 'kan kami? Hihi ... Itu bukan kameranya, melainkan cahaya mataharinya yang pas. Kebetulan si kamera kalau cocok formula cahaya alaminya, hasilnya ngedab-ngedabi. Glowing maksimal. Ckckck. Sungguh pembohongan terhadap publik.

Akhirnya foto terakhir adalah aku bersama si Arsenal itu lagi. Itu berfotonya di Gedong Carik. Kalau kalian pernah ke Tamansari Watercastle Yogyakarta dan pemandunya eksploratif, kemungkinan besar kalian pernah ke sini.


Oiyaaa. Nyaris lupa menjelaskan dua fotoku yang paling atas dan tepat persis setelahnya. Itu aku berpose di area Tamansari juga, tetapi yang paling pinggir selatan. Jadi kalau tidak eksploratif, walaupun kalian sudah ke Tamansari yang kolam-kolam itu, bisa jadi belum sampai sini. Yang itu berada persis di belakang SMPN 16 Kota Yogyakarta.

Senin, 04 Mei 2026

Quo Vadis Sepeda Malioboro?

16 komentar

Untuk tahu lebih jauh tentang Selasa Wagen, silakan klik DI SINI.

HALO, Sobat PIKIRAN POSITIF? Semoga kabar kalian baik semuanya. Sehat, hepi, dan senantiasa diberkahi Allah Swt. Pokoknya semangat, semangat, semangat. 

Ngomong-ngomong sudah Mei saja, nih. Sudah mau setengah tahun kita jalani 2026. Semoga kita tetap semangat memperjuangkan resolusi-resolusi yang belum tereksekusi, ya ... #toyordirisendiri

Sudah, sudah. Ngomongin resolusinya cukup di sini dulu. Sekarang mari ngomongin masa lalu saja. Masa lalunya bukan tentang sejarah yang berat-berat, kok. Cuma masa lalu terkait ... sepeda-sepeda dalam foto itu!

Bila kamu pada akhir-akhir 2018 ke Jogja, coba ingat-ingat. Pernah lihat sepeda-sepeda itu atau tidak? Ketika sedang berkunjung di Malioboro atau di sekitarannya? Atau, malah pernah menaikinya?

Kalau pernah melihatnya, beruntung. Kalau pernah menaikinya, jauh lebih beruntung. Kenapa? Karena sekarang sudah tidak bisa dilihat, apalagi dinaiki.

Sudah lama sekali sepeda-sepeda itu raib dari peredaran. Seingatku bahkan sebelum pandemi. Aku masih ancang-ancang mau download aplikasinya untuk nyoba, eh malah mendadak hilang. Ya sudah. Aku tuh kurang gercep.

Namun kupikir-pikir aku beruntung sedikitlah, ya ... masih sempat memotretnya. Tatkala itu, saat di Malioboro ada Selasa Wagen. 

Apa itu Selasa Wagen? Itulah masa ketika Malioboro dibersihkan para PKL sehingga mereka libur jualan dan sejak pagi sampai malam diselenggarakan kegiatan kesenian di jalanannya.

Serukah? Banget. Kapan lagi bisa bebas berjalan dan pepotoan di tengah jalan raya yang biasanya dipadati kendaraan? 

Hmm. Sayangnya itu sudah masa lalu. Selasa Wagen era sekarang agak berbeda detil pelaksanaannya. Sama menariknya dengan format lama, tetapi berlainan nuansa.

Begitulah adanya Malioboro dan Yogyakarta. Sangat dinamis perkembangan terkininya ...


Senin, 13 April 2026

Buuun, Payung LPDP-nya Hilang!

22 komentar
(Suasana kampus JBNU - Dokpri Adiba)


HALO, Sobat Pikiran Positif? Kali ini aku tidak akan bercerita tentang Jogja. Mau intermezzo dulu. Itung-itung sebagai pelepas rindu pada anak semata wayangku. Sekaligus sebagai pelipur lara sebab payung kesayanganku hilang di negeri orang. 

*
Sejak Februari lalu hingga Juni nanti anakku melaksanakan student exchange di Korea. Sudah pasti komunikasi kami menjadi terbatas secara daring (dalam jaringan) alias online. Nah! Dari hasil obrolan daring kami, kusimpulkan kalau dinamika cuaca di sana sedang mirip dengan dinamika cuaca di Indonesia kita tercinta saat ini.

Maksudnya mirip tuh, sama-sama mengalami salah mangsa juga. Kadang panaaas, lalu mendadak hujan yang membadai. Musim tidak datang setertib zaman dulu semasa aku anak-anak. Maklumlah, ya. Makin ke sini bumi makin tua-makin rusak. 

Secara teori sudah masuk musim semi, eh ternyata suatu malam turun salju. Suhu udara sampai turun 7 derajat celcius. Anakku dan teman-temannya yang tidak menyangka bakalan ketemu salju pun menggigil kedinginan. 

Untunglah kemudian salju tak datang lagi. Akan tetapi, hujan dan angin masih kerap menyambangi. Tak beda dengan cuaca di tanah air 'kan? Dari sinilah cerita bermula ...

Suatu malam anakku berkabar melalui pesan WA. Tadi kebasahan aku, Bun. Pas ke kampus hujan angin.

Kurespons begini. Lho? Kenapa gak pakai payung?

Anakku menjawab. Kalau anginnya kencang tetap saja basah. Eee hehehe. Tapi payungnya memang hilang.

Tentu saya kaget dan kecewa. Lhah? Ditaruh mana kok bisa hilang? 

Jawab anakku. Pas ke toko ditinggal di luar. Eh, selesai belanja kucari-cari gak ada. Mau berpikir tertukar, tapi kok gak ada payung pink lainnya? 

Tanyaku lagi. Tidak terbawa angin?

Tidak, Buuun. Aman tempat naruh payungnya. Ini betulan sengaja diambil, deh. Dicuri heu heu ... Di Korea aman ninggalin barang, tapi tidak aman ninggalin payung. Payung temanku juga hilang pas ke toko. Jawab anakku.

Ya sudahlah. Apa boleh buat? Berarti bukan rezeki kami lagi untuk memiliki payung itu. Sebagai penutup obrolan tentang payung, aku menyampaikan begini ke anakku. Kalau dipakai orang Korea asli bakal ketahuan kalau itu payung colongan. Eh? Atau bisa juga dianggap payung hadiah dari orang Indonesia. 

Akan tetapi, apa pun anggapannya ... yang jelas-jelas fakta adalah payung LPDP milik kami itu enggak mau lagi jadi WNI. Hahaha!


 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template