Senin, 11 Maret 2019

Wisata Kamera di Pulo Kenanga

HAI, hai, hai ....

Apa kabar kalian? Masih tetap berpikiran positif 'kan? Syukurlah kalau masih. Aku bahagia jika kalian senantiasa memelihara pikiran positif. Kalau bisa berpikiran positif, mengapa mesti berpikiran negatif? Iya 'kan?

Ngomong-ngomong, kalian masih bersedia menyimak ceritaku tentang Jogja? Baiklah. Kuanggap saja kalian bersedia. Jadi, aku bisa langsung bercerita. Haha!

Dan kali ini, aku hendak berkisah tentang sebuah tempat menarik di Jogja. Yang lokasinya tak jauh dari pusat kota. Dekat dengan keraton. Sangat dekat dengan Sumur Gumuling. Tapi sepertinya, belum banyak wisatawan yang ngeh akan keberadaannya. Terbukti di tempat tersebut wisatawannya tidak seberjubel di Sumur Gumuling.

Hmm. Tempat apakah itu? Tak lain dan tak bukan, itulah Situs Pulo Kenanga. Yang di kalangan warga Jogja lebih beken dengan sebutan Pulo Cemeti.


Papan namanya

Ini juga papan namanya

Harga tiketnya murah sekali


Situs Pulo Kenanga merupakan salah satu bagian dari Situs Pesanggrahan Tamansari. Lokasinya sekompleks dengan Sumur Gumuling dan Pemandian Tamansari. Bahkan, Sumur Gumuling dan Pulo Kenanga hanya berjarak satu rumah.

Tiket masuk ketiganya pun jadi satu. Entah beli tiketnya di loket Pemandian Tamansari ataupun di loket Pulo Kenanga, sama-sama bisa untuk menjelajah ketiganya. Berapa duit? Muraaah. Rp5.000,00 saja untuk wisatawan domestik.

Perihal Nama 

Situs ini disebut Situs Pulo Kenanga sebab dahulunya dipenuhi bunga kenanga. Lalu, mengapa warga Ngayogyakarta Hadiningrat biasa menyebutnya Pulo Cemeti? Sebab bentuk asli bangunannya seperti cemeti. Demikian informasi yang kuperoleh dari berbagai sumber.

Namun sayang sekali, sekarang tiada lagi kenanga. Bentuk cemeti bangunannya pun tak lagi tampak. Untungnya masih ada reruntuhan yang separo utuh. Tepatnya reruntuhan menawan meskipun separo utuh.


Sesuatu banget 'kan?

Tinggal reruntuhan saja masih menawan. Apalagi saat utuhnya. Saat belum terdampak peperangan antara Kerajaan Inggris dan Keraton Yogyakarta (Geger Spehi pada tahun 1812). Saat belum terdampak bencana gempa bumi dahsyat (1840). Saat kondisi bangunannya belum serapuh sekarang. Pasti jauh lebih menawan. Iya 'kan?

Abad boleh berjalan. Tahun boleh berganti. Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat pun telah mengalami dinamikanya. Sultan demi sultan naik dan turun tahta. Tapi menurutku sebagai orang awam, kemegahan Pulo Kenanga tak serta-merta luntur. Iya. Kondisinya memang kian rapuh. Tapi pesonanya belumlah sirna. Hingga saat ini.



Mengintip langit dari dalam reruntuhan bangunan

Barisan pintu


Mengapa "Pulo"?

Mengapa ada embel-embel "pulo" pada nama situs ini? Bukankah "pulo" (bahasa Jawa) berarti "pulau" (dalam bahasa Indonesia)? Sementara situs ini berada di tengah perkampungan padat penduduk. Tidak berada di tengah danau ataupun dikelilingi laut sebagaimana lazimnya sebuah pulau.

Baiklah. Mari kujelaskan barang sekelumit. Kondisi terkini Situs Pulo Kenanga memang kering kerontang. Sama sekali tak terkait dengan air. Akan tetapi, dahulunya tempat ini dikelilingi oleh air. Yup! Situs ini sebenarnya dibangun di atas pulau buatan. Yang berada di tengah segaran (bahasa Jawa) alias danau buatan. Jadi kalau hendak ke situ, mesti bersampan ria. Duh, emejing  ....

Bayangkanlah. Betapa syahdunya bila saat kami sibuk narsis, mendadak reruntuhan menawan ini kembali utuh. Kemudian perkampungan padat di sekelilingnya berubah jadi segaran. Wow, wow, wow. Pastilah kalau hal itu terjadi, kami otomatis berganti status. Dari rakyat jelata yang  jelita menjadi putri raja. Haha!

Narsis itu perlu (1)

Narsis itu perlu (2)

Narsis itu perlu (3)


Terima Kasih, Sultan HB I

Menurutku, siapa  pun yang narsis di Pulo Kenanga wajib menyampaikan terima kasih pada Sultan HB I. Mengapa? Sebab beliau adalah sang pemrakarsa dibangunnya kompleks Pesanggrahan Tamansari. Nah, lho. Andaikata beliau tidak menitahkan begitu, bisa jadi aku tak punya spot narsis sekeren ini. Iya 'kan?

Kukira kalian pasti setuju total bila Pulo Kenanga kusebut keren. Silakan amatilah foto-foto narsis ala fotografer amatiran di postingan ini. Terkhusus amatilah latar tempatnya. Bukan para modelnya. Benar 'kan? Memang keren 'kan?



Hasil pemanfaatan celah reruntuhan untuk memotret (1)

Hasil pemanfaatan celah reruntuhan untuk memotret (2)

Ada banyak gaya yang bisa dilakukan untuk berpose di situs ini. Demikian pula, ada banyak cara untuk menentukan cara memotret. Misalnya dengan memanfaatkan lubang di dinding rapuh penuh lumut. Yang hasilnya seperti terlihat pada dua foto di atas itu, lho. Keren 'kan?

Yeah! Apa boleh buat? Rasanya tiap sudut Pulo Kenanga kok menarik. Menyenangkan dipakai untuk berwisata kamera. Alias jeprat-jepret. Sekadar berwisata kamera di gapura berjelaga pun sudah membahagiakan sekali. Hehehe ....



 
Di gapura utara (dari arah Plaza Ngasem)

Masih di gapura utara (dari arah Plaza Ngasem)


Tak Kalah dari Kastil Eropa

Di sela-sela kesibukan jeprat-jepret kawanku berkata, "Kita kok seperti berfoto di kastil-kastil, ya? Kayak bukan di Jogja. Rasanya seperti di bangunan kuno Eropa."

Aku mengiyakan perkataan kawanku. Tentu sembari mencatat di benak, "Apa memang benar demikian? 'Ntar kucari informasi lebih detil tentang Pulo Kenanga, ah."

Beberapa hari kemudian, setelah membaca beberapa referensi, aku menemukan jawabannya. Ternyata dugaan kami benar. Selain ada corak Jawanya, arsitektur Pulo Kenanga memang bercitarasa Eropa. Hal demikian dapat dimaklumi mengingat arsiteknya (atau salah seorang arsiteknya) adalah orang Portugis.



Serasa main film ... (1)

Serasa main film ... (2)

Entah mengapa saat berpose di bagian dalam reruntuhan, aku merasa sedang bermain film. Haha! Sungguh, deh. Itu semacam perasaan yang absurd dan imajinasi yang terlalu liar. Mestinya kalau imajinasiku lebih terkendali, aku membayangkan sebagai permaisuri raja. Yakni permaisuri yang sedang mendampingi raja untuk menikmati Jogja dari ketinggian.

Sebenarnya kedua imajinasiku itu sama liarnya, sih. Tapi imajinasi sebagai permaisuri lebih dekat dengan sejarah. Yup! Dahulu Sultan HB 1 memang kerap rehat ke sini. Baik untuk menikmati Jogja dari ketinggian maupun untuk mengawasi kanal air di seantero kompleks Pesanggrahan Tamansari.

Sebagai tambahan informasi, kini pengunjung Pulo Kenanga tak boleh memanjat ke puncak bangunan. Sudah pasti dengan alasan keamanan. Selain memang sudah terlalu tua, kerapuhan Pulo Kenanga kian bertambah dengan adanya gempa bumi 2006 silam.



Bayangkan kemegahan bangunan ini di masa lalu


Abaikan lumut-lumut itu (fokuslah ke kami hehehe ...)


Tak adakah upaya pemerintah untuk merenovasinya? Ada, dong. Apalagi Situs Pesanggrahan Tamansari tergolong salah satu dari 100 situs dunia yang terancam hancur. Pastilah pemerintah pusat dan daerah, beserta instansi dan pihak terkait, telah berupaya keras untuk melestarikannya.

Demikian ceritaku tentang Situs Pulo Kenanga (Pulo Cemeti). Demikian pula pameran foto-foto narsisku di situ. Dan ngomong-ngomong, tidakkah kalian menjadi tertarik untuk mengunjunginya juga? Jogja memanggil kalian, lho. Haha!

MORAL CERITA:
Narsis habis di suatu tempat sih, boleh-boleh saja. Tapi akan lebih baik kalau kita tahu juga sejarah yang terkandung di dalamnya.


 

65 komentar:

  1. Benar-benar keren sekali. Dan harga tiket masuknya murah pula. Kapan saya bisa kesana ya ,biar bisa narsis, photo-photo gitulah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo agendakan segera selagi masih boleh dikunjungi nihh

      Hapus
  2. abis lihat foto2nya, ternyata sama dgn lokasi syuting di salah satu video klip.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah, video klipnya siapaaa

      Hapus
    2. Vierratale - Faith (Official Video)

      Hapus
    3. Abang Ichal, aku sudah menonton videonya, iya...betttul...itu syutingnya di tempat ini....di Sumur Gumuling (sebelahnya) juga

      Hapus
  3. Ga tau kenapa aku selalu suka kalau main ke sana. Walaupun sudah ada perubahan dan perbaikan, tapi ciri khas tempatnya ga pernah berubah. Cuma ya itu kalau mau foto-foto di Pulo Kenanga harus sabar dan cari waktu yang tepat.. Biar hasilnya juga maksimal..

    Desember lalu aku kesana pas rame-ramenya. Jadi ga puas. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mas, kalau pas ramai pengunjung kita kesulitan banget untuk berfotoria sesuai mau kita. BTW habis dari tempat ini aku bergeser sedikit ke Sumur Gumuling...halah berjubel sehalii...mau foto aja antre lama, terus ada dua ibu yang diteriaki sekelompok anak muda sebab mereka sdh terlalu lama nunggu kedua ibu itu berpose ria...hehehe ...

      Hapus
  4. Eh kapan hari saya baca mengenai tempat ini di mana ya? lupa saya saking sering blog walking ke mana-mana.
    Ih kereeeenn banget mbaa..
    Noted banget kalau ke Jogja, saya harus foto2 di situ hahaha.
    Harus bener2 ditulis nih sebagai destinasi ke Jogja :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wajiiiib, Mbak. Sebab lokasinya tak jauh dari Titik Nol dan Malioboro...

      Hapus
  5. sayangnya sudah gak ada lagi pohon kenanga, yang tinggal hanyalah kenangan semoga kedepannya bisa ditanami kembali supaya lebih asri dan tentu semerbak baunya bisa menambah pesona pulo ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, yang tertinggal hanyalah kenangan akan kenanga-kenanga itu.... hahaha .... Sepertinya perlu upaya ekstra keras deh kalau hendak menanaminya dengan pohon kenanga lagi.... Tapi dengan upaya keras, tak ada yang tak mungkin. Tentu seizin-Nya. Hehehe ... kenapa ujungnya jadi religius begini?

      Hapus
  6. Bangunanya emang udh tua bangt yah kak kelihatannya. Banyak lumut juga hehe tapi seru buat wisata krna masih unik. Jadi pengen๐Ÿ˜…

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak lumut dan berserakan kisah masa lalu... hahaha .... Iya, ini sudah sangat tua usianya. Dibangun pada tahun 1750-an.

      Hapus
  7. Mbak,itu kalo direstorasi pasti jadi bagus banget yah? Orang reruntuhan bangunan jadul aja keliatan megah itu. Apalagi bangunan aslinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasti akan makin anggun dan megah kalau direstorasi. Tapi butuh waktu lama sebab mesti berhati-hati dan teliti. Maklumlah, ini heritage 'kan? Setahuku ada upaya-upaya untuk itu dari sebuah foundation dari Portugal yang bekerja sama dengan sebuah foundation Jogja.

      Hapus
  8. Mbak sempet aku dulu k area tamansari tapi belum sempat ke area pulo ini.. padahal keren ya spotnya.. hihi jd pengen kesana

    BalasHapus
    Balasan
    1. ohh, waktu itu belum tahu info tentang Situs Pulo Kenanga ini, ya? Yoiii. Wajib kunjungan ulang deh, Mbak. Hahaha ...

      Hapus
  9. selalu menarik untuk wisata ke tempat bersejarah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mas. Apalagi tatkala kita tahu kisah sejarahnya secara detil ...

      Hapus
  10. Wah seru banget nih bisa travelling. Aku jadi pingin travelling lagi nih

    BalasHapus
  11. waktu ke jogja, gak tau ada situs ini. Seru juga ya, apalagi kalau bisa ngambil foto yang unik di sini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti kode untuk kembali berlibur ke Jogja, Mbak. Hehehe....

      Hapus
  12. Foto-fotonya keren semua...pasti karena ada dua bidadari cantik, kalau ga ada sang bidadari, bangunan2 itu cuma bangunan tua doang...
    warna bajunya warna favoritku....

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha ....bidadari tanpa sayap atau bidadari bersayap belati?

      Hapus
  13. Sudah lama gak melipir kesana, ternyata masih sama dengan zaman dahulu ya bu. Jepretannya bagus-bagus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Relatif masih sama dengan beberapa tahun lalu, tapi kalau dibandingkan dengan kondisinya puluhan tahun lalu ya bedalah...

      Hapus
  14. Wah, sekarang ada tiket masuknya ya mbak? Jamanku dulu kok gratis aja, aku sering main kesana soalnya aku sekolah di smp n 16 jogja, deket banget sama situs wisata ini.

    Dan dari fotonya kelihatan kalau habis pemugaran yaa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa, aku beberapa kali ke situ yo baru tempo hari itu byr tiketnya, ada petugas dan meja tiket di pintu utara (dari Pasar Ngasem)... Ini kayaknya memang ada sedikit pemugaran.... Kan sempat ditutup untuk umum selama beberapa waktu.


      Iya tuuuh. SMPN 16 sekompleks dg Pesanggrahan Tamansari.

      Hapus
  15. ๐Ÿ‘๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus
  16. ini tempat main saya waktu kecil dulu, hahaha......
    jadi ingat masa kecil.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah klo postingan ini bikin bernostalgia.... Hihihi....

      Hapus
    2. bikin kangen masa kecil mbak, masa bebas, serasa tanpa beban,
      hahaha............

      Hapus
    3. Mari ke Jogjaaa... Ada banyak perubahan lho, di Jogja.

      Hapus
    4. iya mbak, 3 bulan kemarin pulang rasanya udah seperti tempat asing, hahaha

      Hapus
    5. oalaaah, sudah pernah mudik thooo

      Hapus
  17. Meskipun situs ini tinggal reruntuhan, tapi nilai artistik dan hitsnya tetap dapat. Pernah satu kali ke sini dan emang keren sih mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, ternyata dijadikan tempat syuting video klip Vierratale juga dan hasilnya kereeeeen...

      Hapus
    2. Iyaa, ternyata dijadikan tempat syuting video klip Vierratale juga dan hasilnya kereeeeen...

      Hapus
  18. wah, di jogja banyak wisata yang menari ya mba..
    bangunannya bersejarah banget, bagus banget buat foto-foto..
    udah gitu tiket masuknya murah yaa cuma 5ribu aja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mbak, Jogja kaya obwis heritage yang menarik. Ayuklaah ke Jogja.

      Hapus
    2. Betul Mbak, Jogja kaya obwis heritage yang menarik. Ayuklaah ke Jogja.

      Hapus
  19. ini tempat wisata yang menarik sih, sesekali ke lokasi bersejarah kayak gini.

    meskipun tinggal puing2, tapi untuk foto2 boleh juga nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yoiiii, puing-puing yang bersejarah dan indah.

      Hapus
  20. Waahh!! Tempat wisata yang klasik menarik meski bernuansa sedikit mistik karena mungkin pesona dari bangunannya yang banyak mengisahkan sejarah.
    ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, betul. Klasik dan menarik. Tapiiii mistiknya agak menakutkaankuu. Haha!

      Hapus
  21. Tamansari ini meski dikunjungi berkali-kali nggak pernah ngebosenin. Tempatnya fotogenic alias instagramable.
    Saya pernah lihat gambar Tamansari di masa lampau mbak, keren abis emang ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, karya adiluhung tenan iniiih. BTW bangunan asli Tamansari memang top banget. Ada semacam kebun raya Bogornya juga.

      Hapus
  22. Oh, ternyata penampakan pulau Kenanga itu seperti ini ... , unik juga ya ternyata buat lokasi fefotoan.
    Selama ini cuma lihat penampakannya dari pasar Ngasem, sama sekali belum pernah naik kesana, padahal udah ke Taman Sari :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. walaahhhh, kenapa gak sekalian mampiiirr? Hehehe ...

      Hapus
  23. Bucketlist nanti kalau ke Jogja wajib ke sini.
    Murah pula.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, murah bersejarah. Pokoknya wajib mampir sini ya klo ke Jogja

      Hapus
  24. Sepertinya kesana harus ramai2 mba. Klo berdua aja sereem hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha ...iya, dan tak boleh melamun-melamun... takutnya pas ada "sesuatu" yang lewat jadinya mampir ke tubuh kita sebab kura melamun...hehehe ...

      Hapus
  25. Bangunan tua, sampai yang reruntuhannya tetap instagrammable buat kita yang hobi cekrak-cekrek. Lebih bagus kalau kita tahu sejarahanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Kita bangga dan bersyukur banget dikadih kado beginian oleh-Nya.

      Hapus
  26. nice post mba saya dah follow ..boleh follow saya balik

    BalasHapus
  27. saya kira tempat ini pasti jadi tumpuan para pengantin untuk outdoor photoshoot๐Ÿ˜Š

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masalahnya, banyak orang Jogja sendiri yang gak ngeh dengan kehadiran dan keeksotisan tempat ini. Hehehe...

      Hapus
  28. Sayang ya danau buatannya sudah menghilang dan terganti dengan rumah penduduk. Jadi kemegahan masa lalu berkurang drastis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bwgitulah adanya. Faktanya memang menyedihkan. Kemegahannya tergerus zaman.

      Hapus

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!

 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template