Selasa, 02 Februari 2016

PREMAN PENSIUN

Dalam kelam malam pun kita tetap bisa berjalan. Secercah sinar, cukuplah sebagai penerang untuk menuntun perjalanan menuju harapan. Kalaupun secercah sinar itu akhirnya sirna juga, tak mengapa. Toh malam sebentar lagi berganti pagi. Dan pagi, pertanda hari terang telah tiba....

ANDA mungkin tak asing dengan serial Preman Pensiun yang tayang di RCTI. Nah, beberapa hari lalu serial tersebut ternyata telah sampai pada penghujung kisahnya. Beruntunglah aku berkesempatan nonton episode terakhirnya. 

Hmmm. Bagiku, kesempatan itu memang merupakan sebuah keberuntungan. Maklum saja. Aku menggemari Preman Pensiun 1, 2, 3, tapi amat jarang berkesempatan nonton. Biasalah. Sok tidak punya waktu buat nonton. Padahal aslinya, enggak punya TV normal. Nah, nah, nah. Berhubung belakangan hari aku punya TV normal, maka jadi bisa lebih intensif nonton. Hingga akhirnya beruntung menyaksikan secara langsung episode terakhirnya.

Ah! Anda mesti tahu. Aku ini hampir tak pernah nonton TV. Jadi tatkala bela-belain nonton suatu acara secara rutin, berarti ada yang istimewa. Memang begitulah adanya. Preman Pensiun ini menurutku adalah tontonan yang dapat memberikan hiburan sekaligus pencerahan. Makanya setia aku tonton. Hihihi....

Bolehlah dibilang sebagai sinetron. Tapi bukan sinetron biasa. Para pemainnya tampil sesuai dengan peran masing-masing. Dalam arti, mereka tidak tampil terlalu mulus. Ya. Dalam Preman Pensiun ini kita banyak menjumpai para tokoh bertampang pas-pasan ataupun memprihatinkan. Sama halnya dengan kehidupan sehari-hari kita. Ada orang yang cakep, ada pula orang yang jelek. 

Kalau dalam dalam sinetron-sinetron lebay itu 'kan rerata semua tokohnya cakep. Gelandangan pun terlihat amat kinclong dan berwajah indo. Duh, pokoknya nonton sinetron lebay malah bikin orang jelek makin tertohok perasaannya.... #malah-curhat

Baiklah. Mari kita balik memperbincangkan Preman Pensiun. Hmmm. Selain aku suka sebab penokohannya yang realistis, aku juga suka dialog-dialognya yang kocak dan manusiawi. Latar tempatnya pun bikin aku tahu Kota Bandung. 

O, ya. Satu hal lagi, aku jadi tidak terlalu negative thinking terhadap orang-orang bertato dan mereka yang dilabeli preman. Ya, aku jadi sadar bahwa bagaimanapun mereka punya keluarga dan punya perasaan sebagai manusia. Pikiranku jadi terbuka dan wawasanku meluas. Aku jadi makin bijak menilai manusia. Halahhh.... #lebayisme-mulai-keluar

Tapi memang, kok. Beberapa pengalamanku (di kehidupan nyata) membuktikan bahwa bodi kekar bertato dan tampang sangar tidak selalu menyimpan hati yang garang. Bahkan sebaliknya, bodi tipis dan wajah romantis ternyata berpotensi menjadi pecundang tiada tara. Halahhhh... opo ikiiihhh.....#lebay-lagi

Sudahlah. Singkat cerita, Preman Pensiun ini menyuguhkan kisah kehidupan yang senyatanya ada di sekitar kita. Yang mestinya bisa menginspirasi kita untuk bersikap lebih baik kepada para preman. Lebih dari sekadar bersikap baik, kita mesti bersedia memberikan kesempatan hidup dan kesempatan kerja, yang dapat lebih membanggakan diri mereka. Juga membanggakan anak, istri, dan seluruh keluarga besar mereka.

Sadarkah Anda? Mereka itu sebenarnya tahu bahwa pekerjaan mereka tidak baik. Hanya saja untuk pensiun dari situ, tentu butuh keberanian tersendiri. Entah berani mendadak tidak punya duit, entah berani selalu dicurigai bila terjadi hal-hal buruk di tempat kerja/lingkungan barunya. Pokoknya gitu deeeh, gak gampang buat insyaf dari dunia premanisme.

Pada akhirnya ada satu hal penting yang harus kusampaikan. Yakni tingkat kesetiakawanan para preman yang kerap kali justru melebihi kesetiakawanan orang-orang nonpreman. Dengan mata kepala sendiri, aku pun pernah melihat hal itu. Mengharukan. Sebuah jalinan persahabatan yang tulus, menguar dari tubuh-tubuh bertato. Sementara di lain kesempatan aku juga melihat, aroma busuk pengkhianatan yang menguar dari wajah-wajah mulus para pecundang. Ah!

Sudahlah. Daripada terbawa emosi, aku akan tuntaskan postingan ini dengan mengutip kata-kata Kang Mus yang disampaikan di hadapan segenap bekas anak buahnya. Pada suatu sore, di sebuah ladang ilalang hijau di tepian kota yang sibuk.

"Saya bukan pemimpin kalian. Saya kakak dan bapak kalian. Seperti dulu Kang Bahar menjadi kakak dan bapak bagi saya. Kita bukanlah kelompok apa pun yang disebut orang. Kita adalah keluarga. Kita dipertemukan oleh bisnis yang disebut Kang Bahar sebagai bisnis yang bagus tapi bukan bisnis yang baik. Bisnis yang sudah ada sejak kita belum ada di bisnis ini. Dan akan tetap ada, sampai nanti kita jauh meninggalkannya.

Kita boleh  menengok ke belakang untuk belajar, untuk menengok sejarah. Tapi tidak untuk kembali.

Ketika kita akan berubah, tidak serta merta akan mudah. Kita akan menempuh masa sulit dan sakit. Tapi kita tidak boleh menyerah!"

Woww! Coba Anda rasakan. Betapa dahsyatnya makna dari kata-kata Kang Mus. Kukira, kita yang bukan preman pun patut meresapinya baik-baik. Untuk kemudian mempraktikkannya di kehidupan kita masing-masing, ketika kita ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Dan kukira pula, dalam kata-kata Kang Mus itulah moral cerita dari postingan ini bersembunyi. Coba Anda rasakan, rasakan....!


              


3 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Waduh bu, sama aku juga jarang melihat televisi.... televisi bagiku barang kedua setelah buku......... hehehe.... silahkan berkunjung di blog saya bu... hehehe

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!

 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template