Selasa, 09 Februari 2016

MIRAS OPLOSAN YOGYAKARTA


Kukira, minuman yang tampak pada foto di atas bukanlah miras oplosan. Namun sesungguhnya, aku pun tak paham tentang minuman tersebut. Maksudku, apakah itu termasuk miras sejati ataukah tidak kalau menurut para penenggak miras. Kalau menurutku sih, jelas minuman haram.

Oiyaa, foto di atas aku upload dari HP-ku. Tapi bukan aku ataupun Adiba yang memotret. Itu tangkapan layar dari BBM. Yang berasal dari kiriman foto seorang tetangga, seorang remaja SMA. Duuuh!

YOGYAKARTA rupanya tak mau kalah pamor dari Jakarta dalam urusan minuman mematikan. Duh, dalam hal beginian kok ya saling bersaing? Hmm. Namun bedanya, kalau yang di Jakarta gegara racun sianida dalam segelas kopi; sedangkan yang di Yogjakarta gegara miras oplosan. Beda yang berikutnya, korban kopi sianida hanya seorang; sedangkan korban miras oplosan puluhan orang.

Yang bikin aku marah nih, korban miras oplosan itu banyak yang berstatus mahasiswa. Bahkan tak hanya mahasiswa, yang jelas-jelas pria, dua di antara korban tewas adalah mahasiswi cantik. Maklum sajaaa. Mungkin sebab penjualnya (sekaligus peraciknya) adalah jebolan salah satu STIE, maka dia pintar mencari pelanggan dari kalangan kampus. Duh, Indonesiaaa... bahkan warga negaramu sendiri rela menghancurkan tunas-tunas muda harapan masa depan!

Sungguh, sebenarnya aku tak ada hubungan apa pun dengan berita miras Yogyakarta itu. Alhamdulillah tak ada teman, keluarga, atau kerabatku yang mejadi korban. Peraciknya pun aku tak kenal sama sekali. Tapi aku punya perhatian lebih pada persoalan miras oplosan ini. Alasanku peduli, aku telah terlampau sering melayat mereka yang menjadi korban miras oplosan. 

Apa boleh buat? Dengan sedih harus kuakui bahwa banyak tetanggaku yang telah menjadi korban miras oplosan. Satu orang tetangga se-RT, sedangkan yang dari RT sebelah dan dusun-dusun sebelah tak kuingat lagi jumlahnya. Oke. Yang tewas mungkin hanya sekitar sepuluh orang. Tapi masalahnya, yang ikut berpesta miras dan terselamatkan setelah dibawa ke RS jumlahnya jauh lebih banyak. 

Sebersit tanya di hatiku, juga di hati para tetangga yang "normal", "Kok enggak kapok-kapok mereka pesta miras oplosan? Toh korbannya sudah banyak. Teman mereka, tetangga mereka, semua tewas karena menenggak miras oplosan?"

Lagi-lagi, apa boleh buat? Para penenggak miras oplosan itu tak pernah belajar dari pengalaman buruk teman-teman mereka! Aku pun gagal paham untuk mengimajinasikan isi benak mereka. Di benak mereka itu, seberapa ciamik sih nilai segelas miras oplosan? Lebih bernilaikah daripada anak, istri, orang tua, kerabat? Atau gimana???

Untuk penenggak yang berstatus mahasiswa, duh! Orang tua susah-susah mengongkosi kuliah, eh uang saku hanya untuk mabuk-mabukan. Nauzubillahi min dzalik. Mahasiswa gitu, lho. Pekerjaan utamanya 'kan kuliah, belajar. Bukan pesta miras oplosan! 

Untuk kawan-kawan mahasiswa yang masih hidup, jangan sampai deh kalian menjadi korban miras oplosan. Yuk kembali ke kampus, kembali hanyut dalam buku-buku! Ayolah membangun peradaban. Bukan malah ikut-ikutan menghancurkan peradaban dengan berkelakuan kurang beradab. 

MORAL CERITA:
Aku sungguh enggak tahu moral cerita dari tulisan ini apa? Yang aku tahu pasti, dari satu persoalan ini saja, yaitu persoalan miras oplosan, Yogyakarta tercinta punya PR besar. Ya, PR besar untuk dicarikan solusi terbaiknya; terkait dengan status Yogyakarta sebagai kota budaya dan kota pelajar yang malah "membunuh" para mahasiswa perantauan dengan miras oplosannya.





0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!

 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template