Senin, 25 Maret 2019

Aku di Museum Benteng Vredeburg


Promo buku teman di depan Museum Benteng Vredeburg


HAI, hai, hai ...

Apa kabar lagi Sobat PIKIRAN POSITIF? Semoga pikiran positif senantiasa menyelimuti hari-hari kalian. Apa pun yang terjadi.

Kali ini aku kembali menyapa kalian dari salah satu destinasi wisata di Jogja. Yakni Museum Benteng Vredeburg. Nah, itu. Baru pada foto pembuka saja aku sudah narsis (meskipun dengan dalih mempromosikan buku teman). 

Sampai di sini, kalian pasti langsung ngeh mengapa postingan ini kuberi judul "Aku di Museum Benteng Vredeburg". Iya. Sebab di sini, aku adalah pusat perhatian.

Tolong ingat baik-baik pemberitahuan tersebut, ya. Jangan sampai usai membaca postingan ini kalian protes keras, "Kok isinya foto penulis melulu?" Hehehe ....


Syahdunya sore di halaman luar Vredeburg


Lokasi Strategis, Tiketnya Murah

Tempat ini memang menjadi salah satu tempat favoritku. Terbukti dari masa ke masa, dari satu presiden ke presiden berikutnya, telah demikian kerap aku menyambanginya. Sampai-sampai aku tahu kalau meriam-meriam di halamannya telah beberapa kali berubah letak.

***Silakan baca juga Menakar Cinta kepada Jogja.***

Mungkin kalian bertanya-tanya, "Ada hubungan apa antara aku dan Museum Benteng Vredeburg?" Hmm. Sebenarnya sih, tak ada hubungan khusus di antara kami. Aku tak punya kenangan spesial di situ. Kukira, ini perkara takdir dan kemudahan akses semata.

Lokasi Museum Benteng Vredeburg memang strategis. Yakni di pojokan Titik Nol Jogja, di ujung selatan Jalan Malioboro. Tepat di seberang Gedung Agung. Jadi, aku mudah sekali untuk mengaksesnya. Kalau ingin mampir kapan pun tak perlu repot. Tinggal membelokkan langkah begitu saja. Seperti sore itu ....



Tiket yang sangat murah


Iya. Sore itu aku janjian dengan seorang teman. Janjian untuk serah terima buku karyanya. Dan, Titik Nol Jogja adalah lokasi yang kami pilih untuk ketemuan. Sekalian cuci mata dan sekalian bergaya ala wisatawan domestik. Haha!

Begitulah adanya. Mula-mula kami nongkrong di tepian jalan depan Vredeburg. Lalu, memutuskan pindah ke halaman luarnya. Setelah cekrak-cekrek sekian lama, kami kemudian berminat untuk membeli tiket masuk. Kepalang tanggung. Sekalian saja bernarsis ria di halaman dalam.

Sebagaimana terlihat pada foto, harga tiket masuknya sangat murah. Per satu orang dewasa Rp3.000,00 saja. Sementara untuk anak-anak hanya Rp2.000,00. O la la! Betapa murah meriah! Padahal, di dalamnya ada banyak pengetahuan sejarah yang bisa kita ambil. Daaan, ada banyak spot bagus untuk berfoto.

Megah, Indah, dan Luas 

Aku paham. Idealnya berkunjung ke museum itu menelusuri koleksi-koleksi benda bersejarah. Yang tersimpan dan tersusun rapi di balik tembok-tembok kokoh museum. Pokoknya belajar sejarah dengan cara yang berbeda. Tak melulu dari buku dan penjelasan dari sang guru sejarah. Yang mungkin bagi sebagian dari kalian, tetap saja terasa kurang menarik.

Hmm. Baiklah, baiklah. Kalau pada dasarnya tidak berminat, museum yang koleksinya selengkap apa pun tetap saja tak menarik. Namun, tenang saja. Kalian tak perlu bete bila diajak ke Museum Benteng Vredeburg. Meskipun enggan menengok koleksi-koleksi bersejarahnya, kalian bakalan tetap mendapatkan sesuatu dari halamannya. Yakni udara segar ....




Di halaman dalam (di belakangku itu adalah loket tiket masuk)


Di halaman dalam (aku menghadap loket tiket masuk)



Ketahuilah, duhai kawan-kawanku. Kompleks Museum Benteng Vredeburg itu sungguh luas. Halaman luar dan halaman dalamnya asri. Tanaman dan rerumputannya bikin adem. Membuat pengunjung betah berlama-lama nongkrong di situ. Patung-patungnya lumayan lucu. Bangunan-bangunannya pun sedap dipandang mata dan keren dibidik kamera.




Mula-mula jempol sama jempol

Lalu, aku yang menang ....


Maka selain udara segar, serangkaian foto keren adalah hal lain yang bakalan kalian dapatkan. Bila berkunjung ke sini. Ke kompleks museum yang megah, indah, luas, dan bersejarah ini.

Jadi tatkala nongkrong di halaman Museum Benteng Vredeburg, terbangkanlah imajinasi ke masa kolonial. Bayangkanlah adanya pasukan-pasukan Belanda yang berbaris di tiap sudut halaman asrinya. Yang siap bertempur dengan bangsa kita. Hiks!



Bayangkan bila ternyata ada tentara penjajah yang mengintaiku dari dalam gedung itu


Pesanku satu. Kalian boleh saja narsis habis di tempat ini, boleh pula tak tuntas menengok koleksi-koleksi bersejarahnya, asalkan JAS MERAH. Jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Sebab bagaimanapun, kenarsisan kalian tersebut terkait dengan masa lalu bangsa kita. Jika dulu Benteng Vredeburg dibangun asal-asalan, kalian mungkin enggan menjadikannya sebagai latar berfoto. Iya 'kan?

Siapa yang Membangun Benteng Vredeburg? 

Berdasarkan namanya, mungkin kalian menyangka bahwa Benteng Vredeburg dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda. Terlebih sejak awal berdirinya hingga sebelum kemerdekaan Indonesia, pihak Belandalah yang lebih banyak menguasainya. Namun ketahuilah, sebenarnya yang membangun Benteng Vredeburg adalah Sultan HB 1.

Inisiatif memang datang dari pihak Belanda. Namun andaikata beliau tak berkenan mengeluarkan perintah untuk membangunnya, niscaya Benteng Vredeburg tak pernah ada. Dan aku, tak bakalan pernah narsis di situ.




Mari berlarian di lapangan ini ....


Yang ada merah-merahnya itu tempat ngopi (kafe)


Permadani terbang atau matras yoga?



O, ya. Beberapa referensi yang kubaca menginformasikan bahwa Sultan HB 1 sebenarnya berat hati untuk membangun benteng tersebut. Mungkin penyebabnya, beliau mencium gelagat licik Belanda.

Saat meminta Sultan HB 1 untuk membangun benteng, Belanda beralasan demi keamanan kraton. Padahal alasan yang sebenarnya, supaya pihak Belanda bisa memantau "pergerakan" apa pun yang terjadi di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Itulah sebabnya Sultan HB 1 sengaja menunda-nunda pembangunan benteng.

Tatkala didesak untuk segera membangunnya, beliau berkilah. Menyatakan bahwa benteng akan dibangun setelah pembangunan kraton selesai total. Namun saat kraton  telah beres, Sultan HB 1 masih saja ingin menunda. Maka beliau menambahinya dengan projek Pesanggrahan Taman Sari.

***Jika ingin tahu betapa indahnya kompleks Pesanggrahan Taman Sari, bisa dibaca kepingannya di Wisata Kamera di Pulo Kenanga ini.***


Hal-hal Misterius di Museum Benteng Vredeburg 

Suatu ketika foto-foto narsis di Vredeburg kuposting di FB. Mayoritas temanku pun berkomentar, "Ingin berfoto di situ juga." Atau bertanya, "Lokasi fotonya di mana?" Yang tak terduga, seseorang berkomentar, "Saat di situ, ketemu yang aneh-aneh enggak?"

Yeah! Kiranya telah menjadi rahasia umum bahwa Vredeburg sedikit seram. Sebagaimana halnya bangunan tempo doeloe pada umumnya. Meskipun sekarang kondisinya diupayakan seceria mungkin, tetap saja nuansa seram itu tersisa. Terkhusus di spot-spot yang sepi dan tersembunyi.

***Pengalaman misteriusku di Museum Benteng Vredeburg bisa kalian baca di Aku dan Buku Sejarah Lokomotif Uap.***



Aku merasa mata jendela ini menatapku tajam

Berharap tak ada yang mendorongku dari balik pintu


Beruntunglah aku yang kurang peka dengan dunia lain. Aku 'kan penakut. Jadi kupikir, kepekaan dalam hal tersebut bakalan bikin runyam hidupku. Pastinya pula, aku tak akan sepercaya diri itu berpose di pintu dan jendela kayu itu. Haha!

Kebetulan teman jalanku kali ini sensitif terhadap hal begituan. Beberapa kali ia menolak ajakanku untuk berfoto di spot-spot tertentu. Salah satunya, ia tak mau kuajak ke bagian atas suatu bangunan. Alhasil, aku hanya berpose sedang menuruni tangga. Di bagian yang tak terlalu tinggi.




Ada apa di atas?


Semula kukira temanku capek. Tidak mau naik sebab sudah tak kuasa menahan lelah. Ternyata, oh, rupanya. Di kesempatan lain ia bercerita kalau merasakan kehadiran "sesuatu". Wah ....

Bangunan Awal yang Sederhana dan Perubahan Nama 

Saat ini kompleks Museum Benteng Vredeburg demikian megah dan indah. Menyenangkan untuk dijadikan sebagai latar berfoto. Akan tetapi, kalian wajib tahu kalau dahulunya tempat ini sangatlah sederhana. Tidak sekeren sekarang. Yup! Benteng ini pada awalnya beratap ilalang, dindingnya berbahan tanah, serta tiang-tiangnya dari pohon kelapa dan aren.

Seiring berjalannya waktu, demi lebih terjaminnya keamanan, benteng pun dibikin lebih permanen. Lalu diberi nama Rustenburg, yang artinya 'peristirahatan". Namun, sayang sekali. Ketika gempa bumi hebat melanda Jogja, bangunan di kompleks Benteng Rustenburg banyak yang runtuh.

Mau tidak mau, renovasi besar-besaran kembali dilakukan. Yang hasilnya kurang lebih seperti yang kita saksikan saat ini. O, ya. Selain direnovasi fisiknya, benteng juga berganti nama.  Dari Rustenburg (peristirahatan) menjadi Vredeburg (perdamaian). Adapun perdamaian yang dimaksud adalah perdamaian antara kraton dan pemerintah kolonial Belanda.

Status Kepemilikan

Sejak awal berdirinya, kompleks bangunan tempatku narsis ini memang dinamis. Baik dinamis model bangunannya, namanya, maupun status kepemilikannya. Nah! Karena dua poin pertama telah dibicarakan di atas, kini kita bisa bicarakan poin ketiga: status kepemilikan.

Jadi, siapa pemilik hati ini? Haha! Tenang, tenang. Mari kita kembali serius. Siapa pemilik Benteng Vredeburg yang sebenarnya?

Begini. Kalau bentengnya sih, dibangun di atas tanah milik kraton. Namun, pengelolaan benteng pada awal berdirinya ditangani oleh Belanda. Lalu seiring dengan dinamika situasi zaman, Inggris pun sempat mengelola benteng ini. Setelah Inggris terusir dari bumi pertiwi, pihak Belanda kembali mengelola Benteng Vredeburg.

Hingga akhirnya Jepang datang dan menjadi pengelolanya. Dan akhirnya saat kemerdekaan Indonesia diraih, Benteng Vredeburg diserahkan kembali kepada kraton. Akan tetapi, kraton kemudian menyerahkan pengelolaannya kepada pemerintah RI.

Tentu tidak serta-merta Benteng Vredeburg menjadi museum. Sebelum diresmikan menjadi museum pada tahun 1992, Benteng Vredeburg pernah memiliki aneka macam fungsi. Diantaranya menjadi tempat tahanan politik terkait peristiwa G 30 S/PKI.

Demikian sekelumit kisah mengenai Museum Benteng Vredeburg. Yang kebetulan kali ini menjadi latar tempat dari foto-fotoku. Tentu saja untuk tahu lebih detil tentang sejarahnya, kalian perlu membaca referensi-referensi dari sumber lain. Oke?      

Baiklah. Sekian tulisanku ini. Aku sudah lelah mengetik. Sekarang izinkan aku membaca buku dulu, ya. Salam hangat dari Jogja.
 


Asyik buat rehat sembari membaca buku





MORAL CERITA:
Ayo berkunjung ke Museum Benteng Vredeburg di Jogja dan dapatkan udara segar di halamannya. Haha!








45 komentar:

  1. tiketnya memang murah meriah, 3ribu saja, itu juga dewasa.
    biasa ramai kalau malam 1 suro atau malam tahun baru islam ya mbak, banyak orang pada kesana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, iya toh? Saya malah nggak tau kalau malam satu suro Vredeburg banyak pengunjung.

      Hapus
  2. Baru tau ni sejarah panjangnya vredeburg yang kalau dulu dinamakan persinggahan, dan sekarang vredeburg atau perdamaian, tapi saya bukan jas merah lho...

    Iya deh, lanjutin membacanya, ga diganggu lagi...thanks udah diajak keliling halaman museum yang lega

    BalasHapus
  3. Harga tiketnya masih tergolon murah ya, terus tempat photo yang paling akhir itu, dulu saya menjumpai sepasang kasih sedang bermesraan, karena ditempat itu paling sepi. Saya jadi malu melihatnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, murah meriah beneraaan...

      Eh? Uedyaaan, bermesraan di museum.... Padahal itu tempay yang lumayan seram lho, kok berani-beraninya

      Hapus
  4. Mbaa... keren banget spot-spot fotonya.
    Saya berkali2 ke Jogja, belum pernah masuk di lokasi ini, padahal kepo juga, ternyata bagus ya dalamnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe.... Iya, lain waktu kalau ke Jogja lagi sempetin masuk Vredeburg yaa

      Hapus
  5. museum yang indah dan masih terjaga kelestarian nya, bangunan tersebut merupakan bukti sejarah masa lalu bahwa indonesia pernah dijajah oleh belanda ya kak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yoii, begitulah adanya. Yang terlama dijajah Belanda. Tapi juga pernah dijajah Inggris, Jepang..

      Hapus
  6. Aduh narsisnya... Ini museum kesukaan adekku, kita sering ke sini sampai aku hampir (bosan) khatam πŸ˜„

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huaahahahahaaaa... Emak2 super narsis... Weih, berarti adikku cocok main denganku klo ke situ

      Hapus
  7. Tiket masuknya murah sekali ya, aksesnya memang mudah kalau jalan2 ke jogja kayaknya wajib dikunjungi nih apalagi ternyata pembuatan bentengnya ternyata diperlambat karena sultan ggak begitu setuju kayaknya perlu di lihat seperti apa bentuknya ya...jadi penasatan pengen kesana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waiyaaa... Wajib je sini pokoknya kalau ke Jogja. Daripada cuma lewat di depannya, sekalisn saja masuk. Tiketnya kan murah bingiitz. Hehehe...

      Hapus
  8. Aku pernah sekali kesini. Waktu itu niatnya cuma mau foto-foto di titik nol. Tapi tanggung sih kalau nggak sekalian mampir di benteng Vredeburg. Untungnya aku nggak lihat ada yang "sesuatu" yang aneh atau serem. Aku orangnya juga penakut kok mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak. Nanggung bangeet kalau nyampai Titik Nol gak sekalian ke Vredeburg.

      Hapus
  9. mula2 saya sangka mbak berada di museum di belandaπŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

    luas betul ya kawasannya.. insya allah 1 hari nanti saya pasti akan ke sini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... Itu museum di Jogja rasa Belanda. Iya, memang sangat luas. Wajib ke sini ya kalau ke Jogjaa..

      Hapus
  10. Tiketnya murah ya.. mana tempatnya bagus dan bersejarah. Worth it ini mah buat liburan sekaligus belajar sejarah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Tiketnya kurang sebanding dengan apa yang kita peroleh. Mestinya kita bayar lebih mahal

      Hapus
  11. udah bertahun-tahun hidup di jogja, tapi aku belum pernah masuk benteng vredeburg ini. huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh? Seriusaaaan? Astaga, Naak. Tak kusangka hehehe...

      Hapus
  12. Aku abis baca tulisanmu ini kok jadi pengen ngajak anak ku ke Vredeburg ya.. Terakhir kali masuk itu pas masih pacaran sama nyonya.. wkwkwk.. Ternyata udah banyak perubahannya.. :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, iyo, wis suwe kuwi cenan. Sudah banyak berubahlaaah. Hahaw!

      Hapus
  13. Tempatnya keren sekali mbak, tiketnya juga murah, ada patungnya lagi....bangunan kuno emang hawanya beda, ngeri bikin merinding apalagi kalau masuknya malam hari

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itu, maka kegiatan Jelajah Malam di Museum memang terasa sangaaat sesuatuu.. Hehehe...

      Hapus
  14. Murah meriahh banget yaa mbak, selain itu bisa eksis foto ditempat2 keren sekaligus wisata edukasi, hini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha.. Iyaaa, padahal yang kutampilkan di sini baru sebagian kecil dari hasil jeprat-jepretku..

      Hapus
  15. Wisata ke museum mengasyikkan juga kok. Tapi, emang sih masih jarang yang mau ke museum.

    Dan sejarah museum ini panjang banget. Serem lagi waktu kakak bilang temennya sensitif.
    Itu pasti nggak enak banget.

    Aah, aku tuh pengen maen ke museum sekitaran sini juga tapi temen nggak ada yang mau nemenin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itu. Wisata ke museum memang termasuk minat khusus. Susah cari kawan untuk berkunjung ke museum. Lebih mudah cari kawan untuk ke mal. Hehehe...

      Hapus
  16. wah ternyata bagus ya dalemnya mbak, aku sering ke jogja tp blm masuk ke museum ini, next time mungkin aku coba

    BalasHapus
  17. Kayaknya tempatnya asri banget yak. Enak buat nyantai hihi....pdhal museum. πŸ˜…

    BalasHapus
  18. biar mudah untuk berkunjung dan berkomentar di blog sobat, izinkanlah ane untuk mem-follow blog sobat, terimakasih banyak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baiklah, Kakak...terima kasih banyak atas kunjungannya san follow-annya...salam kenal ..

      Hapus
  19. OK. saya baru pindah ke yogya. masukin list dulu nih Museum Benteng Vredeburg nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wow...selamat datang di kota seribu satu kenangan...

      Hapus
  20. Sekarang areanya ditambahi patung pria tokoh pria Jawa lucu ya 😁 ..., kesannya jadi nJawani banget.

    Pengin kesini lagi, tapi kok ya tutupnya di hari Senin pas offnya jam kerjaku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha ....kamu kok keren, Kak.... libur di saat orang lain kerja

      Hapus
  21. Tempatnya bagus... di tambah lagi cara ibu foto membuat artikel ini semakin menarik. Semoga Wisata indonesia dapat terus berkembang ke arah yang lebih baik lagi..


    Digital Printing Jakarta

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Memang bagus dan terpelihara. Semoga ke depannya wisata Indonesia, terkhusus yang wisata heritage kian berkembang. Terima kasih.

      Hapus
  22. Mbak, itu gak salah harga tiket masuknya 3 ribu????

    BalasHapus
    Balasan
    1. Engggaaak... Hehehe... Dulu malah cuma Rp2.000,00

      Untuk anak-anak masih Rp2.000,00 juga.

      Kalau turis asing Rp. 10.000,00.

      Hapus
  23. Aku pernah satu kali berkunjung ke Museum Vredeburg. Pernah nonton filmnya juga di sebuah ruangan. Enaknya jalan2 ke sini kita tuh bisa dapat wawasan dan pengetahuan tentang benteng. Trus dekeeet juga sambil keliling Malioboro ya jadi satu dua pulau terlampaui hehehe.

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!

 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template