Kamis, 24 Agustus 2017

Bapakku, Guru Sepanjang Waktu

 SUDAH dua hari berturut-turut aku menulis tentang (profesi) guru dalam balutan tepung keseriusan. Yakni dalam Catatan Mengenai Profesi Guru dan Profesi yang Setengahnya adalah Pengabdian. Kini, mari kembali ke khittah. 

Maksudku, kembali ke gaya tulisanku yang hip-hip hura. Yang isinya ringan-ringan bergembira. Huft! Ternyata--bagiku--menulis sesuatu yang serius itu amat melelahkan jiwa dan raga. *statemen berlebihan*

Hmmm. Sudah tahu 'kan kalau bapakku seorang pensiunan guru? *ini pertanyaan retoris, tak perlu dijawab* Oleh sebab itu, bapakku terkenal di kampung halamanku sana. Cie, cie, cie. Terkenal nih, yeee. Yang beken, yang beken. Tentu saja terkenal sebagai guru. Bukan sebagai penyanyi dangdut. 


Bersama para (mantan) murid laki-laki; by Agus Purwanto.

Bersama para (mantan) murid laki-laki; by Agus Purwanto.



Meskipun sudah lama sekali pensiun, tetap saja beliau disebut (dipanggil) guru. Iya. Sekarang tepatnya dipanggil Mbah Guru atau Eyang Guru. Mengapa begitu? Sebab bapakku memang sudah sepuh. Masak hendak dipanggil Mas Guru atau Adik Guru? Hehehe ....



Mbah Guru in action; by Agus Purwanto

Aura keguruannya tetap ada: by Agus Purwanto


Dan rupanya, aura keguruan beliau masih pekat. Sepekat malam yang tiada berbintang *ih, enggak nyambung ini metaforanya*  Maksudku begini. Sebab sekian puluh tahun menjalankan tugas (dan hobi) mengajar-mendidik, ternyata dalam keseharian--dari dulu sampai sekarang--gaya bapakku tetaplah gaya khas seorang pendidik. 

Kabar baiknya, beliau termasuk yang tidak iyik menggurui. Keras, tegas, dan penuh disiplin memang iya. Lumayan galak juga. Tapi Alhamdulillah, tetap menarik minat para muridnya. Dalam arti, para murid tidak kemudian mendendam sebab pernah dihukum. 

Alih-alih menaruh dendam kesumat. Justru yang kerap terjadi, seorang (mantan) murid bengalnya sowan ke bapak. Memberikan buah tangan dan serangkum ucapan terima kasih. Yakni terima kasih atas hukuman yang dulu--semasa sekolah--telah diterimanya dari bapak. 

Kata si (mantan) murid bengal, "Terima kasih, Pak. Untunglah dulu panjenengan menghukum saya. Kalau tidak dihukum keras seperti itu, mungkin saat ini hidup saya awut-awutan. Saya pasti tidak bakalan mampu berdisiplin seperti ini. Siapa yang menyangka nggih pak, saya bisa menjadi tentara?"

Kalau sudah begitu, tersenyum bahagialah bapakku. Aih! Kukira semua guru pasti akan berperasaan sama manakala tahu bahwa (mantan) murid mereka dalam kondisi jauh lebih baik daripada saat menjadi murid dahulu.

Dan, itu membuat bapakku tak mau menanggalkan sedikit pun label keguruannya. Haha! Tentu saja, ya ....

 

Bersama salah satu alumni tersukses ....

  
#ODOP
#BloggerMuslimahIndonesia





4 komentar:

  1. Pak Guru, meskipun sudah pensiun tetap dipanggil Pak Guru. Sampai kapanpun panggilan itu nggak akan ganti, palingan jadi Mbah Guru. Biasanya, sih, gitu. Salam hormat untuk Bapak.

    BalasHapus
  2. Masya Allah, senangnya menjadi guru saat melihat murid-muridnya sukses ya kak.. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya. Dan sebaliknya, alangkah sedih manakala muridnya ada yang salah jalan

      Hapus

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!

 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template