Senin, 25 Maret 2019

Aku di Museum Benteng Vredeburg

44 komentar

Promo buku teman di depan Museum Benteng Vredeburg


HAI, hai, hai ...

Apa kabar lagi Sobat PIKIRAN POSITIF? Semoga pikiran positif senantiasa menyelimuti hari-hari kalian. Apa pun yang terjadi.

Kali ini aku kembali menyapa kalian dari salah satu destinasi wisata di Jogja. Yakni Museum Benteng Vredeburg. Nah, itu. Baru pada foto pembuka saja aku sudah narsis (meskipun dengan dalih mempromosikan buku teman). 

Sampai di sini, kalian pasti langsung ngeh mengapa postingan ini kuberi judul "Aku di Museum Benteng Vredeburg". Iya. Sebab di sini, aku adalah pusat perhatian.

Tolong ingat baik-baik pemberitahuan tersebut, ya. Jangan sampai usai membaca postingan ini kalian protes keras, "Kok isinya foto penulis melulu?" Hehehe ....


Syahdunya sore di halaman luar Vredeburg


Lokasi Strategis, Tiketnya Murah

Tempat ini memang menjadi salah satu tempat favoritku. Terbukti dari masa ke masa, dari satu presiden ke presiden berikutnya, telah demikian kerap aku menyambanginya. Sampai-sampai aku tahu kalau meriam-meriam di halamannya telah beberapa kali berubah letak.

***Silakan baca juga Menakar Cinta kepada Jogja.***

Mungkin kalian bertanya-tanya, "Ada hubungan apa antara aku dan Museum Benteng Vredeburg?" Hmm. Sebenarnya sih, tak ada hubungan khusus di antara kami. Aku tak punya kenangan spesial di situ. Kukira, ini perkara takdir dan kemudahan akses semata.

Lokasi Museum Benteng Vredeburg memang strategis. Yakni di pojokan Titik Nol Jogja, di ujung selatan Jalan Malioboro. Tepat di seberang Gedung Agung. Jadi, aku mudah sekali untuk mengaksesnya. Kalau ingin mampir kapan pun tak perlu repot. Tinggal membelokkan langkah begitu saja. Seperti sore itu ....



Tiket yang sangat murah


Iya. Sore itu aku janjian dengan seorang teman. Janjian untuk serah terima buku karyanya. Dan, Titik Nol Jogja adalah lokasi yang kami pilih untuk ketemuan. Sekalian cuci mata dan sekalian bergaya ala wisatawan domestik. Haha!

Begitulah adanya. Mula-mula kami nongkrong di tepian jalan depan Vredeburg. Lalu, memutuskan pindah ke halaman luarnya. Setelah cekrak-cekrek sekian lama, kami kemudian berminat untuk membeli tiket masuk. Kepalang tanggung. Sekalian saja bernarsis ria di halaman dalam.

Sebagaimana terlihat pada foto, harga tiket masuknya sangat murah. Per satu orang dewasa Rp3.000,00 saja. Sementara untuk anak-anak hanya Rp2.000,00. O la la! Betapa murah meriah! Padahal, di dalamnya ada banyak pengetahuan sejarah yang bisa kita ambil. Daaan, ada banyak spot bagus untuk berfoto.

Megah, Indah, dan Luas 

Aku paham. Idealnya berkunjung ke museum itu menelusuri koleksi-koleksi benda bersejarah. Yang tersimpan dan tersusun rapi di balik tembok-tembok kokoh museum. Pokoknya belajar sejarah dengan cara yang berbeda. Tak melulu dari buku dan penjelasan dari sang guru sejarah. Yang mungkin bagi sebagian dari kalian, tetap saja terasa kurang menarik.

Hmm. Baiklah, baiklah. Kalau pada dasarnya tidak berminat, museum yang koleksinya selengkap apa pun tetap saja tak menarik. Namun, tenang saja. Kalian tak perlu bete bila diajak ke Museum Benteng Vredeburg. Meskipun enggan menengok koleksi-koleksi bersejarahnya, kalian bakalan tetap mendapatkan sesuatu dari halamannya. Yakni udara segar ....




Di halaman dalam (di belakangku itu adalah loket tiket masuk)


Di halaman dalam (aku menghadap loket tiket masuk)



Ketahuilah, duhai kawan-kawanku. Kompleks Museum Benteng Vredeburg itu sungguh luas. Halaman luar dan halaman dalamnya asri. Tanaman dan rerumputannya bikin adem. Membuat pengunjung betah berlama-lama nongkrong di situ. Patung-patungnya lumayan lucu. Bangunan-bangunannya pun sedap dipandang mata dan keren dibidik kamera.




Mula-mula jempol sama jempol

Lalu, aku yang menang ....


Maka selain udara segar, serangkaian foto keren adalah hal lain yang bakalan kalian dapatkan. Bila berkunjung ke sini. Ke kompleks museum yang megah, indah, luas, dan bersejarah ini.

Jadi tatkala nongkrong di halaman Museum Benteng Vredeburg, terbangkanlah imajinasi ke masa kolonial. Bayangkanlah adanya pasukan-pasukan Belanda yang berbaris di tiap sudut halaman asrinya. Yang siap bertempur dengan bangsa kita. Hiks!



Bayangkan bila ternyata ada tentara penjajah yang mengintaiku dari dalam gedung itu


Pesanku satu. Kalian boleh saja narsis habis di tempat ini, boleh pula tak tuntas menengok koleksi-koleksi bersejarahnya, asalkan JAS MERAH. Jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Sebab bagaimanapun, kenarsisan kalian tersebut terkait dengan masa lalu bangsa kita. Jika dulu Benteng Vredeburg dibangun asal-asalan, kalian mungkin enggan menjadikannya sebagai latar berfoto. Iya 'kan?

Siapa yang Membangun Benteng Vredeburg? 

Berdasarkan namanya, mungkin kalian menyangka bahwa Benteng Vredeburg dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda. Terlebih sejak awal berdirinya hingga sebelum kemerdekaan Indonesia, pihak Belandalah yang lebih banyak menguasainya. Namun ketahuilah, sebenarnya yang membangun Benteng Vredeburg adalah Sultan HB 1.

Inisiatif memang datang dari pihak Belanda. Namun andaikata beliau tak berkenan mengeluarkan perintah untuk membangunnya, niscaya Benteng Vredeburg tak pernah ada. Dan aku, tak bakalan pernah narsis di situ.




Mari berlarian di lapangan ini ....


Yang ada merah-merahnya itu tempat ngopi (kafe)


Permadani terbang atau matras yoga?



O, ya. Beberapa referensi yang kubaca menginformasikan bahwa Sultan HB 1 sebenarnya berat hati untuk membangun benteng tersebut. Mungkin penyebabnya, beliau mencium gelagat licik Belanda.

Saat meminta Sultan HB 1 untuk membangun benteng, Belanda beralasan demi keamanan kraton. Padahal alasan yang sebenarnya, supaya pihak Belanda bisa memantau "pergerakan" apa pun yang terjadi di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Itulah sebabnya Sultan HB 1 sengaja menunda-nunda pembangunan benteng.

Tatkala didesak untuk segera membangunnya, beliau berkilah. Menyatakan bahwa benteng akan dibangun setelah pembangunan kraton selesai total. Namun saat kraton  telah beres, Sultan HB 1 masih saja ingin menunda. Maka beliau menambahinya dengan projek Pesanggrahan Taman Sari.

***Jika ingin tahu betapa indahnya kompleks Pesanggrahan Taman Sari, bisa dibaca kepingannya di Wisata Kamera di Pulo Kenanga ini.***


Hal-hal Misterius di Museum Benteng Vredeburg 

Suatu ketika foto-foto narsis di Vredeburg kuposting di FB. Mayoritas temanku pun berkomentar, "Ingin berfoto di situ juga." Atau bertanya, "Lokasi fotonya di mana?" Yang tak terduga, seseorang berkomentar, "Saat di situ, ketemu yang aneh-aneh enggak?"

Yeah! Kiranya telah menjadi rahasia umum bahwa Vredeburg sedikit seram. Sebagaimana halnya bangunan tempo doeloe pada umumnya. Meskipun sekarang kondisinya diupayakan seceria mungkin, tetap saja nuansa seram itu tersisa. Terkhusus di spot-spot yang sepi dan tersembunyi.

***Pengalaman misteriusku di Museum Benteng Vredeburg bisa kalian baca di Aku dan Buku Sejarah Lokomotif Uap.***



Aku merasa mata jendela ini menatapku tajam

Berharap tak ada yang mendorongku dari balik pintu


Beruntunglah aku yang kurang peka dengan dunia lain. Aku 'kan penakut. Jadi kupikir, kepekaan dalam hal tersebut bakalan bikin runyam hidupku. Pastinya pula, aku tak akan sepercaya diri itu berpose di pintu dan jendela kayu itu. Haha!

Kebetulan teman jalanku kali ini sensitif terhadap hal begituan. Beberapa kali ia menolak ajakanku untuk berfoto di spot-spot tertentu. Salah satunya, ia tak mau kuajak ke bagian atas suatu bangunan. Alhasil, aku hanya berpose sedang menuruni tangga. Di bagian yang tak terlalu tinggi.




Ada apa di atas?


Semula kukira temanku capek. Tidak mau naik sebab sudah tak kuasa menahan lelah. Ternyata, oh, rupanya. Di kesempatan lain ia bercerita kalau merasakan kehadiran "sesuatu". Wah ....

Bangunan Awal yang Sederhana dan Perubahan Nama 

Saat ini kompleks Museum Benteng Vredeburg demikian megah dan indah. Menyenangkan untuk dijadikan sebagai latar berfoto. Akan tetapi, kalian wajib tahu kalau dahulunya tempat ini sangatlah sederhana. Tidak sekeren sekarang. Yup! Benteng ini pada awalnya beratap ilalang, dindingnya berbahan tanah, serta tiang-tiangnya dari pohon kelapa dan aren.

Seiring berjalannya waktu, demi lebih terjaminnya keamanan, benteng pun dibikin lebih permanen. Lalu diberi nama Rustenburg, yang artinya 'peristirahatan". Namun, sayang sekali. Ketika gempa bumi hebat melanda Jogja, bangunan di kompleks Benteng Rustenburg banyak yang runtuh.

Mau tidak mau, renovasi besar-besaran kembali dilakukan. Yang hasilnya kurang lebih seperti yang kita saksikan saat ini. O, ya. Selain direnovasi fisiknya, benteng juga berganti nama.  Dari Rustenburg (peristirahatan) menjadi Vredeburg (perdamaian). Adapun perdamaian yang dimaksud adalah perdamaian antara kraton dan pemerintah kolonial Belanda.

Status Kepemilikan

Sejak awal berdirinya, kompleks bangunan tempatku narsis ini memang dinamis. Baik dinamis model bangunannya, namanya, maupun status kepemilikannya. Nah! Karena dua poin pertama telah dibicarakan di atas, kini kita bisa bicarakan poin ketiga: status kepemilikan.

Jadi, siapa pemilik hati ini? Haha! Tenang, tenang. Mari kita kembali serius. Siapa pemilik Benteng Vredeburg yang sebenarnya?

Begini. Kalau bentengnya sih, dibangun di atas tanah milik kraton. Namun, pengelolaan benteng pada awal berdirinya ditangani oleh Belanda. Lalu seiring dengan dinamika situasi zaman, Inggris pun sempat mengelola benteng ini. Setelah Inggris terusir dari bumi pertiwi, pihak Belanda kembali mengelola Benteng Vredeburg.

Hingga akhirnya Jepang datang dan menjadi pengelolanya. Dan akhirnya saat kemerdekaan Indonesia diraih, Benteng Vredeburg diserahkan kembali kepada kraton. Akan tetapi, kraton kemudian menyerahkan pengelolaannya kepada pemerintah RI.

Tentu tidak serta-merta Benteng Vredeburg menjadi museum. Sebelum diresmikan menjadi museum pada tahun 1992, Benteng Vredeburg pernah memiliki aneka macam fungsi. Diantaranya menjadi tempat tahanan politik terkait peristiwa G 30 S/PKI.

Demikian sekelumit kisah mengenai Museum Benteng Vredeburg. Yang kebetulan kali ini menjadi latar tempat dari foto-fotoku. Tentu saja untuk tahu lebih detil tentang sejarahnya, kalian perlu membaca referensi-referensi dari sumber lain. Oke?      

Baiklah. Sekian tulisanku ini. Aku sudah lelah mengetik. Sekarang izinkan aku membaca buku dulu, ya. Salam hangat dari Jogja.
 


Asyik buat rehat sembari membaca buku





MORAL CERITA:
Ayo berkunjung ke Museum Benteng Vredeburg di Jogja dan dapatkan udara segar di halamannya. Haha!








Senin, 11 Maret 2019

Wisata Kamera di Pulo Kenanga

65 komentar
HAI, hai, hai ....

Apa kabar kalian? Masih tetap berpikiran positif 'kan? Syukurlah kalau masih. Aku bahagia jika kalian senantiasa memelihara pikiran positif. Kalau bisa berpikiran positif, mengapa mesti berpikiran negatif? Iya 'kan?

Ngomong-ngomong, kalian masih bersedia menyimak ceritaku tentang Jogja? Baiklah. Kuanggap saja kalian bersedia. Jadi, aku bisa langsung bercerita. Haha!

Dan kali ini, aku hendak berkisah tentang sebuah tempat menarik di Jogja. Yang lokasinya tak jauh dari pusat kota. Dekat dengan keraton. Sangat dekat dengan Sumur Gumuling. Tapi sepertinya, belum banyak wisatawan yang ngeh akan keberadaannya. Terbukti di tempat tersebut wisatawannya tidak seberjubel di Sumur Gumuling.

Hmm. Tempat apakah itu? Tak lain dan tak bukan, itulah Situs Pulo Kenanga. Yang di kalangan warga Jogja lebih beken dengan sebutan Pulo Cemeti.


Papan namanya

Ini juga papan namanya

Harga tiketnya murah sekali


Situs Pulo Kenanga merupakan salah satu bagian dari Situs Pesanggrahan Tamansari. Lokasinya sekompleks dengan Sumur Gumuling dan Pemandian Tamansari. Bahkan, Sumur Gumuling dan Pulo Kenanga hanya berjarak satu rumah.

Tiket masuk ketiganya pun jadi satu. Entah beli tiketnya di loket Pemandian Tamansari ataupun di loket Pulo Kenanga, sama-sama bisa untuk menjelajah ketiganya. Berapa duit? Muraaah. Rp5.000,00 saja untuk wisatawan domestik.

Perihal Nama 

Situs ini disebut Situs Pulo Kenanga sebab dahulunya dipenuhi bunga kenanga. Lalu, mengapa warga Ngayogyakarta Hadiningrat biasa menyebutnya Pulo Cemeti? Sebab bentuk asli bangunannya seperti cemeti. Demikian informasi yang kuperoleh dari berbagai sumber.

Namun sayang sekali, sekarang tiada lagi kenanga. Bentuk cemeti bangunannya pun tak lagi tampak. Untungnya masih ada reruntuhan yang separo utuh. Tepatnya reruntuhan menawan meskipun separo utuh.


Sesuatu banget 'kan?

Tinggal reruntuhan saja masih menawan. Apalagi saat utuhnya. Saat belum terdampak peperangan antara Kerajaan Inggris dan Keraton Yogyakarta (Geger Spehi pada tahun 1812). Saat belum terdampak bencana gempa bumi dahsyat (1840). Saat kondisi bangunannya belum serapuh sekarang. Pasti jauh lebih menawan. Iya 'kan?

Abad boleh berjalan. Tahun boleh berganti. Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat pun telah mengalami dinamikanya. Sultan demi sultan naik dan turun tahta. Tapi menurutku sebagai orang awam, kemegahan Pulo Kenanga tak serta-merta luntur. Iya. Kondisinya memang kian rapuh. Tapi pesonanya belumlah sirna. Hingga saat ini.



Mengintip langit dari dalam reruntuhan bangunan

Barisan pintu


Mengapa "Pulo"?

Mengapa ada embel-embel "pulo" pada nama situs ini? Bukankah "pulo" (bahasa Jawa) berarti "pulau" (dalam bahasa Indonesia)? Sementara situs ini berada di tengah perkampungan padat penduduk. Tidak berada di tengah danau ataupun dikelilingi laut sebagaimana lazimnya sebuah pulau.

Baiklah. Mari kujelaskan barang sekelumit. Kondisi terkini Situs Pulo Kenanga memang kering kerontang. Sama sekali tak terkait dengan air. Akan tetapi, dahulunya tempat ini dikelilingi oleh air. Yup! Situs ini sebenarnya dibangun di atas pulau buatan. Yang berada di tengah segaran (bahasa Jawa) alias danau buatan. Jadi kalau hendak ke situ, mesti bersampan ria. Duh, emejing  ....

Bayangkanlah. Betapa syahdunya bila saat kami sibuk narsis, mendadak reruntuhan menawan ini kembali utuh. Kemudian perkampungan padat di sekelilingnya berubah jadi segaran. Wow, wow, wow. Pastilah kalau hal itu terjadi, kami otomatis berganti status. Dari rakyat jelata yang  jelita menjadi putri raja. Haha!

Narsis itu perlu (1)

Narsis itu perlu (2)

Narsis itu perlu (3)


Terima Kasih, Sultan HB I

Menurutku, siapa  pun yang narsis di Pulo Kenanga wajib menyampaikan terima kasih pada Sultan HB I. Mengapa? Sebab beliau adalah sang pemrakarsa dibangunnya kompleks Pesanggrahan Tamansari. Nah, lho. Andaikata beliau tidak menitahkan begitu, bisa jadi aku tak punya spot narsis sekeren ini. Iya 'kan?

Kukira kalian pasti setuju total bila Pulo Kenanga kusebut keren. Silakan amatilah foto-foto narsis ala fotografer amatiran di postingan ini. Terkhusus amatilah latar tempatnya. Bukan para modelnya. Benar 'kan? Memang keren 'kan?



Hasil pemanfaatan celah reruntuhan untuk memotret (1)

Hasil pemanfaatan celah reruntuhan untuk memotret (2)

Ada banyak gaya yang bisa dilakukan untuk berpose di situs ini. Demikian pula, ada banyak cara untuk menentukan cara memotret. Misalnya dengan memanfaatkan lubang di dinding rapuh penuh lumut. Yang hasilnya seperti terlihat pada dua foto di atas itu, lho. Keren 'kan?

Yeah! Apa boleh buat? Rasanya tiap sudut Pulo Kenanga kok menarik. Menyenangkan dipakai untuk berwisata kamera. Alias jeprat-jepret. Sekadar berwisata kamera di gapura berjelaga pun sudah membahagiakan sekali. Hehehe ....



 
Di gapura utara (dari arah Plaza Ngasem)

Masih di gapura utara (dari arah Plaza Ngasem)


Tak Kalah dari Kastil Eropa

Di sela-sela kesibukan jeprat-jepret kawanku berkata, "Kita kok seperti berfoto di kastil-kastil, ya? Kayak bukan di Jogja. Rasanya seperti di bangunan kuno Eropa."

Aku mengiyakan perkataan kawanku. Tentu sembari mencatat di benak, "Apa memang benar demikian? 'Ntar kucari informasi lebih detil tentang Pulo Kenanga, ah."

Beberapa hari kemudian, setelah membaca beberapa referensi, aku menemukan jawabannya. Ternyata dugaan kami benar. Selain ada corak Jawanya, arsitektur Pulo Kenanga memang bercitarasa Eropa. Hal demikian dapat dimaklumi mengingat arsiteknya (atau salah seorang arsiteknya) adalah orang Portugis.



Serasa main film ... (1)

Serasa main film ... (2)

Entah mengapa saat berpose di bagian dalam reruntuhan, aku merasa sedang bermain film. Haha! Sungguh, deh. Itu semacam perasaan yang absurd dan imajinasi yang terlalu liar. Mestinya kalau imajinasiku lebih terkendali, aku membayangkan sebagai permaisuri raja. Yakni permaisuri yang sedang mendampingi raja untuk menikmati Jogja dari ketinggian.

Sebenarnya kedua imajinasiku itu sama liarnya, sih. Tapi imajinasi sebagai permaisuri lebih dekat dengan sejarah. Yup! Dahulu Sultan HB 1 memang kerap rehat ke sini. Baik untuk menikmati Jogja dari ketinggian maupun untuk mengawasi kanal air di seantero kompleks Pesanggrahan Tamansari.

Sebagai tambahan informasi, kini pengunjung Pulo Kenanga tak boleh memanjat ke puncak bangunan. Sudah pasti dengan alasan keamanan. Selain memang sudah terlalu tua, kerapuhan Pulo Kenanga kian bertambah dengan adanya gempa bumi 2006 silam.



Bayangkan kemegahan bangunan ini di masa lalu


Abaikan lumut-lumut itu (fokuslah ke kami hehehe ...)


Tak adakah upaya pemerintah untuk merenovasinya? Ada, dong. Apalagi Situs Pesanggrahan Tamansari tergolong salah satu dari 100 situs dunia yang terancam hancur. Pastilah pemerintah pusat dan daerah, beserta instansi dan pihak terkait, telah berupaya keras untuk melestarikannya.

Demikian ceritaku tentang Situs Pulo Kenanga (Pulo Cemeti). Demikian pula pameran foto-foto narsisku di situ. Dan ngomong-ngomong, tidakkah kalian menjadi tertarik untuk mengunjunginya juga? Jogja memanggil kalian, lho. Haha!

MORAL CERITA:
Narsis habis di suatu tempat sih, boleh-boleh saja. Tapi akan lebih baik kalau kita tahu juga sejarah yang terkandung di dalamnya.


 

 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template