Sabtu, 16 Februari 2019

Inspirasi dari EXPO UKM Istimewa 2019

20 komentar


Jauh-jauh hari saya sudah tahu kalau akan ada EXPO UKM Istimewa 2019. Yang berlangsungnya tanggal 14-16 Februari. Karena lokasinya mudah dijangkau, yaitu di halaman kantor Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta, saya bertekad untuk mendatanginya. Biasalah. Saya memang selalu bersemangat untuk mendatangi acara-acara serupa itu. Bisa untuk "berwisata" sekaligus menambah pengalaman dan pengetahuan 'kan? 

Terlebih di EXPO UKM Istimewa 2019 itu tak sekadar ada bazaar. Beberapa seminar, workshop, dan talkshow pun melengkapinya. Alhasil sejak hari pertama hingga hari terakhir, kita bisa menimba banyak ilmu terkait dunia bisnis. Pokoknya "daging" semua deh, yang bisa kita peroleh. Ada Seminar Menjadi Entrepreneur Itu Asik, Talkshow Pintar Literasi Keuangan Bersama Jurnal.id, Workshop Foto Produk, Seminar Pintar Menangkap Peluang Bisnis Repackaging bareng Dikemas.com & RPX Logistic, Talkshow Naik Kelas Bersama UMKMJogja.id, Talkshow  Pintar Mengelola Keuangan untuk UMKM, dan Workshop Cara Membuat Content Writing yang Menjual bareng Gapura Digital. 

Tema-tema yang ditawarkan memang menarik. Baik yang berupa seminar, talkshow, maupun workshop sama-sama berpotensi menggoda iman. Terutama bagi orang-orang yang sedang ingin belajar berwirausaha. Salah seorang di antaranya ya saya ini. Hehehe .... 

Tapi hidup itu pilihan dan prioritas 'kan? Maka saya memilih yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pribadi. Setelah melalui beberapa pertimbangan, saya memutuskan ikut Talkshow Pintar Literasi Keuangan Bersama Jurnal.id. Yang pelaksanaannya dijadwalkan pada hari pertama, 14 Februari 2019, pukul 10.00 WIB.

Namun sayang sekali, hingga H-1 acara saya disergap galau. Kok tidak ada pesan WA/SMS dari panitia EXPO UKM, ya? Pendaftaran saya tempo hari diterima atau tidak, ya? Kalau kuota peserta habis dan saya tidak bisa ikut, mengapa tak ada pemberitahuan? Kalau saya masih bisa ikut, mengapa pula tidak ada respons dari panitia?

Saya kemudian menghubungi seorang teman yang sama-sama mendaftar. Ternyata dia juga senasib dengan saya. Akhirnya kami sepakat untuk langsung datang saja ke acara meskipun tanpa kepastian. Nekad. Siapa tahu tetap boleh ikut walaupun sebagai peserta gelap?

Keesokan paginya kami betul-betul datang. Betapa senang hati kami. Ternyata di situ hadir pula tiga teman kami. Tapi mereka hendak ikut seminar entrepreneur. Bukan talkshow keuangan seperti kami. Baiklah. Tak jadi soal. Yang penting sebelum menuju ruang masing-masing, kami sudah ramai-ramai berkeliling bazaar. Tentu tak lupa untuk berswafoto bersama di depan banner idola. Pokoknya sembari menunggu acara dimulai, yang rupanya tidak begitu tepat waktu, kami cekrak-cekrek tiada tara.





Kami baru beranjak dari depan banner setelah ada informasi bahwa acara telah dimulai. Naiklah kami ke lantai dua. Saat tiba di depan ruangan yang sudah penuh orang, saya bertanya kepada teman yang sama-sama mendaftar talkshow keuangan, "Ini bukan acara yang kita pilih, ya? Tapi acara kita di mana, dong? Informasinya sih, di panggung EXPO. Tapi panggungnya sedang dipakai untuk kegiatan lain. Terus, ruangan di sebelah itu kosong. Kita bagaimana, nih?"

Daripada kelamaan bikin gaduh, kami berdua memutuskan ikut masuk. Siapa tahu kami yang benar dan tiga teman itu yang salah masuk ruangan? Apalagi di depan ruangan tak ada meja absensi. Kalau peserta harus mengisi daftar hadir sebelum masuk, kami bisa tahu kepastiannya 'kan?

Lalu, apa yang terjadi di dalam? Hmm. Saya menjadi bingung. Katanya seminar tentang entrepreneur. Tapi tulisan di belakang narasumber kok begitu?




Tapi menilik muatan perbincangannya, jelas bukan tentang literasi keuangan. Terlebih setelah panitia mengedarkan daftar hadir. Wah, iya. Ternyata ruangan yang kami masuki adalah tempat seminar yang bertema "Menjadi Entrepreneur Itu Keren".

Jelas sudah. Saya salah ikut acara. Jengkelkah saya? Tidak, dong. Saya justru bersyukur. Ini saya anggap sebagai berkah terselubung. Andaikata tidak salah ruangan, saat ini saya mungkin belum tahu Mbak Marizna dan Bakpiapia. Pastinya tak bakalan memperoleh inspirasi dan motivasi bisnis dari beliau.

Alih-alih inspirasi dan motivasi. Bakpiapia saja saya belum begitu ngeh. Sepertinya pernah melewati salah satu tempat penjualannya, tapi entah di mana. Sudah pasti saya pun belum pernah mencicipinya. Apa boleh buat? Kadangkala saya memang demikian absurd. Tinggal di seputaran Malioboro, yang berarti dekat dengan dua (dari sekian banyak) tempat penjualan Bakpiapia, tapi belum tahu tentangnya.

Padahal, Bakpiapia telah lahir sejak 2004. Sudah menginjak usia 15 tahun.  Sebaya dengan anak kelas 9. Maka tak mengherankan bila Bakpiapia telah mengembangkan sayap hingga ke Australia. Iya, betul. Bakpiapia punya lapak di sana. Labelnya Blasteran Oz. Yang tentu wujud dan rasanya sedikit berbeda dengan Bakpiapia. Kata Mbak Marizna, Blasteran Oz lebih mendekati konsep pastry. Kulitnya lebih tebal (menyerupai roti) daripada Bakpiapia yang merupakan bakpia jomblo, he, bakpia single. Hehehe ....

Kalau melihat pencapaian Mbak Marizna sekarang bikin iri, ya? Betul-betul beliau itu seorang pengusaha alias entrepreneur yang keren. Tapi jangan lupa. Di balik kesuksesannya pastilah ada proses yang tak mudah. Kalian mesti tahu bahwa di masa lalu, beliau pernah door to door juga untuk menjual Bakpiapia. Mbak Marizna menuturkan, "Saya pernah lho, membawa bakpia sebanyak 21 Tupperware besar. Naik motor sendirian."

Wow! Saya sejujurnya terpukau berat pada penuturan tersebut. Maklumlah. Saya tidak bisa mengendarai sepeda motor. Jadi, selalu takjub pada orang-orang yang bisa membawa banyak barang dengan motor.

Selanjutnya Mbak Marizna bercerita bahwa pernah juga rasa lelah menderanya dalam menjalankan bisnis. Tapi kesadaran bahwa ada orang-orang yang nafkah mereka tergantung pada kelancaran bisnis Bakpiapia kembali melecut semangatnya. Iya. Kurang lebih Mbak Marizna menyatakan, kita berbisnis itu mestinya juga diniatkan untuk membantu orang lain.

Masya Allah. Luar biasa. Saya yang memang sudah memendam keinginan untuk berwirausaha pun merasa terprovokasi. Terbakar semangat untuk lekas bergerak. Saya ingin menjadi keren. Eh? Tapi bisnis apa yang hendak saya jalankan, ya? Haha!

Setelah Mbak Marizna, tampillah Ibu Anggorowati dari BPD DIY. Sudah pasti topik perbincangannya seputar permodalan untuk berwirausaha. Tentang bagaimana cara mendapatkan pinjaman lunak untuk menjalankan UKM dan penjelasan hal-hal terkait.

Ketika seorang peserta menanyakan perihal pinjaman yang syar'i dari BPD DIY, Alhamdulillah Ibu Anggorowati menjawab ada. Bahkan sigap merekomendasikan sebuah nama dan alamat kantor cabang BPD DIY, bila peserta yang bersangkutan memang hendak mengurus kredit usaha.

Secara garis besar seminar ini menarik dan bermanfaat. Perbincangannya lumayan mengasyikkan. Hingga tak terasa, waktu habis. Tapi sang moderator mengatakan, bila peserta masih ingin menimba ilmu dari Mbak Marizna, nanti bisa dibuatkan acara khusus. Demikian pula bila ingin tahu lebih detil mengenai kredit usaha yang ditawarkan BPD DIY. Nanti juga dapat dibuatkan kelas khusus.

Saat keluar ruangan, teman saya masih penasaran dengan ruang sebelah. Sekali lagi dia menengoknya. Hasilnya? Kosong. Memang tak ada aktivitas apa pun di situ. Setelah sampai di lantai satu, dari area panggung yang tadi untuk acara pembukaan, terdengar ada orang berbicara. Entahlah apa yang dibahas.

"Jangan-jangan itu acara kita?"

Saya cengar-cengir mendengar celetukan teman saya. "Entahlah. Yang penting kita cari minum dulu. Haus banget, nih." Jawabanku diaminkan oleh tiga orang lainnya.

Usai mendapatkan minuman, kami bingung mencari tempat untuk menikmatinya. Setelah tengok sana tengok sini, kami melihat bahwa tempat ternyaman untuk duduk hanyalah di depan panggung. Di situ 'kan tersedia kursi-kursi lipat. Yang tadi untuk duduk para tamu undangan.

Ya sudah. Kami berlima dengan cuek duduk di situ. Tujuan utamanya numpang minum. Sampai akhirnya kami sadar, bapak yang di panggung itu ternyata sedang berbicara tentang keuangan. Astaga! Mungkin inilah Talkshow Pintar Literasi Keuangan Bersama Jurnal.id yang sedianya hendak kuikuti.

Faktanya? Faktanya memang demikian. Pertanyaan kami terjawab tuntas ketika seorang panitia menyodorkan daftar hadir. Alhasil tanpa sengaja, kami berlima sama-sama belajar dua tema pada pagi hingga siang itu. Alhamdulillah.

Saya pun pulang dengan riang meskipun perut keroncongan. Dengan satu tekad, kalau sudah bisa menentukan satu bisnis untuk ditekuni, saya akan berkonsultasi ke kantor PLUT-KUMKN DI Yogyakarta saja. Ya, saya kira begitu lebih baik. Daripada bingung tanpa bimbingan. Iya 'kan? Tapi mengapa mesti berkonsultasi ke PLUT-KUMKN? Sebab saya mendapatkan informasi EXPO UKM Istimewa 2019 dari akun IG-nya. Hehehe ....


Selasa, 12 Februari 2019

Jogja Heboh, Jogja Sarungan

8 komentar
MINGGU sore,  10 Februari 2019, aku menonton Fashion Show 1000 Sarung. Acara yang merupakan bagian dari Jogja Heboh 2019 itu dihelat di kawasan Titik Nol Jogja. Sesuai dengan labelnya, Fashion Show 1000 Sarung, acara tersebut memang menampilkan sarung-sarung.

Iya. Sarung yang itu. Yang biasa dipakai para lelaki untuk ke masjid, pergi ke tempat kenduri, atau dikenakan sebagai busana bersantai di rumah. Bahkan sudah jamak oleh segala kalangan usia dan gender, sarung difungsikan sebagai selimut.

Tapi jangan salah. Seribu sarung yang tampil di acara tersebut terlihat beda, lho. Tampak lebih artistik, modis, penuh gaya, dan kekinian. Baik dalam hal motif maupun cara memakainya. Apalagi para pemakainya bening-bening. Wow! Benar-benar sarung naik kelas, deh.


Hanya Pak Kapolda DIY dan Pak Celana Hitam yang tak bersarung


Dan sesungguhnya, meningkatkan harkat martabat sarung itulah tujuan digelarnya Fashion Show 1000 Sarung. Melalui acara ini, masyarakat diajak untuk tak lagi mengidentikkan sarung sebagai busana rumahan. Sekaligus disadarkan bahwa sarung pun memiliki nilai estetis.

Faktanya setelah didesain dengan kreativitas maksimal, sarung-sarung bisa dikenakan dengan cara yang modis. Dengan demikian, sangat mungkin untuk dipakai dalam segala aktivitas sehari-hari. Misalnya untuk jalan-jalan di mal, nonton bareng kawan-kawan, atau ke nikahan mantan. Haha!

Intinya, masyarakat diberi informasi bahwa sarung bisa difungsikan sebagaimana laiknya denim. Pantas dipakai untuk keperluan apa saja. Bisa dikenakan tanpa ribet, tanpa bikin kesrimpet, aman tanpa potensi melorot, dan modis sesuai selera gaya si pemakai. Mungkin itulah sebabnya jargon yang diusung adalah "Sarong is my new denim. Create your own sarong in a modern style". 


Cowok-cowok bersarung itu bersiap untuk tampil di karpet merah 


Mas bersarung ini ternyata fotografer, tidak ikut tampil di karpet merah


Sebagai orang yang awam mode, acara ini kunilai menarik. Seru. Asyik. Menghibur. Menambah wawasanku tentang dunia persarungan terkini.  Kukira para penonton (awam mode) lainnya pun sepertiku. Berarti boleh dibilang tujuan panitia berhasil, dong.  Hehehe ....

Perlu diketahui, pemilihan lokasi di Titik Nol memang bertujuan mendatangkan banyak penonton. Agar banyak orang (awam mode) yang menonton. Yang berarti makin banyak yang tahu "kampanye sarung" ini.

Yeah! Sebagaimana kita tahu, di kawasan Titik Nol banyak wisatawan dan penduduk setempat yang berlalu lalang. Jadi mereka yang semula tak tahu ada acara Fashion Show 1000 Sarung, bisa mendadak tahu. Tentu bila kebetulan sedang lewat kawasan situ. 

Sekelumit Jalannya Acara  

Fashion Show 1000 Sarung secara resmi dibuka oleh Wakil Walikota Jogja. Yang tentu saja, beliau hadir dengan kostum sarung nan trendi. Sebagaimana halnya para tokoh lainnya yang juga hadir. Eh? Kecuali Kapolda DIY yang tetap bercelana seragam, sih. Hmm. Rasanya agak susah kubayangkan jika beliau juga sarungan dalam seragam resmi Polri. Haha!

Baik. Mari lanjut ke jalannya acara. Setelah resmi dibuka, tampillah kelompok penari dari Kabaret Hamzah Batik. Duuuh! Kocak nian tariannya. Bahkan, baru melihat para penarinya saja aku sudah ngakak. Silakan amati sendiri di video berikut, deh.





Ketika tarian usai, tampil 6 polwan cantik. Mereka tidak sarungan dan tidak menari. Tapi tetap berseragam dinas resmi. Dan membawa spanduk yang mempromosikan sebuah acara, yang hendak dilaksanakan Maret nanti. Ngomong-ngomong, mbak-mbak polwan itu kok malah mengingatkanku pada Mbak Puput. Haha! Dasar, ya. Pikiran dan ingatan memang suka meliar dengan sendirinya.

Lalu, kapan pasukan bersarung tampil? Tepat persis di belakang para polwan cantik, dong. Mereka pun tak kalah cantik. Dengan aneka jenis dan model sarung, sesuai pilihan masing-masing. Gerakan mereka luwes-luwes pula. Padahal, tak semua yang berlenggak-lenggok di karpet merah merupakan peragawan atau peragawati. Ada pula yang merupakan anggota komunitas-komunitas yang ikut berpartisipasi. Misalnya saja dari Perempuan Berkebaya.

O, ya. Sebenarnya seniman kondang Didik Nini Thowok ikut berpartisipasi. Tapi sebelum dia tampil, aku sudah mesti pulang. Mesti pindah ke acara lainnya, Beiibb.









Bagian dari JOGJA HEBOH 2019 

Fashion Show 1000 Sarung merupakan salah satu agenda dari Festival Jogja Heboh 2019. Yakni sebuah acara yang resmi digelar sejak 31 Januari 2019 - 28 Februari 2019. Yang diinisiasi oleh Kadin (Kamar Dagang dan Industri) DIY, Asita (Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia)  DPD DIY, dan PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) DIY. Yang tujuannya menggairahkan kembali pariwisata Jogja, yang sedang melesu selama Februari.

Ada banyak acara menarik dalam Festival Jogja Heboh 2019. Yang detil kompletnya bisa kalian cermati di poster  berikut ini.





Oke. Sekian ceritaku tentang Fashion Show 1000 Sarung di Festival Jogja Heboh 2019. Semoga bermanfaat bagi kalian. Membuat kalian tergoda untuk segera berkunjung ke Jogja pada Februari ini.



 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template