Rabu, 22 Mei 2019

Dolan ke Jogja Airsoft Wargame

14 komentar


By KJog


PUCUK dicinta ulam tiba. Sebagaimana terekam dalam video di atas, akhirnya impianku bermain tembak-tembakan terwujud. Alhamdulillah. Sabtu, 27 April 2019, menjadi salah satu hari bersejarah bagiku. Haha!

Iya. Sejujurnya aku sudah sekian tahun memendam impian tersebut. Saat pertama kali melihatnya di TV, aku sudah langsung ingin mencobanya. Namun, apa dayaku? Lingkaran pergaulanku tak ada yang meminatinya.

Hingga akhirnya aku berkenalan dengan KJog, komunitas Kompasianer Jogja. Yang ternyata di kemudian hari menjadi Mak Comblang bagiku untuk berkenalan dengan JAW (Jogja Airsoft Wargame). Dan, JAW inilah yang memfasilitasi/mengundang kami untuk bermain tembak-tembakan. Airsoft Wargame!

Apa Itu JAW?  

Baiklah. Mari sedikit berkenalan dengan JAW. Telah disebutkan sebelumnya bahwa JAW adalah Jogja Airsoft Wargame. Yakni arena bermain Airsoft yang berada di bawah naungan PORGASI (Persatuan Olah Raga Airsoft Seluruh Indonesia) cabang DIY. 

Mengapa ada JAW? Sebab takdirnya memang ada dan mengada. Haha! Begini, begini. JAW berdiri dengan tujuan untuk memperkenalkan olah raga Airsoft kepada masyarakat Jogja. Yeah .... Kenyataannya jenis olah raga ini memang belum dikenal luas. Iya 'kan? 

Secara resmi JAW mulai beroperasi pada tanggal 17 Februari 2019. Lokasinya di lahan parkir P3 Lippo Plaza Jogja. Jadi, jenis permainan yang ditawarkan adalah permainan indoor.

JAW beroperasi setiap hari. Dimulai dari pukul 14.00 WIB - 22.00 WIB. Khusus untuk weekend, JAW juga melayani reservasi sejak pagi. Mulai dari pukul 10.00 WIB - 22.00 WIB.

Siapa saja boleh bermain asalkan sudah berusia 17 tahun, bebas asma, dan tidak punya riwayat penyakit jantung. Ongkosnya sangat terjangkau. Cukup membayar Rp50.000,00 per orang, minimal 4 orang.

Jangan khawatir. JAW memegang teguh prinsip RSSF (Responsible Smart Safe Fun). Jadi, ongkos segitu sudah mendapatkan fasilitas komplet. Sesuai dengan prosedur standar keamanan yang berlaku. Sejauh prosedur tersebut dipatuhi tiap pemain, insya Allah segalanya bakalan berjalan baik-baik saja.


By JAW



Olah Raga Ekstrem

Saat briefing sebelum turun ke arena permainan, aku baru tahu kalau Airsoft Wargame tergolong sebagai olah raga ekstrem. Wow! Semula kukira sejenis permainan belaka tanpa unsur olah raga. Apalagi sifatnya rekreatif. Eh, ternyata  .... 

Begitu terjun ke arena, aku langsung percaya kalau itu memang olah raga. Betapa tidak? Kami harus berlarian ke sana kemari untuk mengejar atau menghindari musuh. Masih pula sembari menenteng unit (senjata imitasi) yang beratnya sekitar 2-3 kg. 

Padahal, tubuh kami juga terbebani kostum. Ada rompi pelindung badan yang bagaimanapun membuat begah dan gerah. Ditambah pula dengan goggle (pelindung mata dan wajah) yang membuat pengap.


By KJog

Alhasil, aku merasa turun berat badan saat pulang. Haha! Serasa kena batunya, deh. Menyepelekan Airsoft Wargame sebagai olah raga, malah akhirnya diolahragakan oleh Airsoft Wargame. Ya sudah. Jadi ngos-ngosan di ujungnya.

Lalu, bagaimana halnya dengan label ekstrem yang tersemat pada Airsoft Wargame? Hmm. Sejauh pemahamanku setelah serius menyimak briefing, label ekstrem tersemat sebab kadar bahayanya. Meskipun pelurunya kecil dan berbahan plastik, kalau langsung tertembak ke mata bisa menyebabkan kebutaan.

Itulah sebabnya saat berfoto pun aku--sebab terlalu khawatir--enggan melepas goggle. Takut ada kawan yang tak sengaja jarinya menarik pelatuk dan aku terkena peluru nyasar.  Haha!

Selama berada di arena permainan, memang haram hukumnya untuk membuka goggle. Apa pun alasannya. Walaupun status si pemain sudah mati, tidak serta-merta ia boleh melepas kostum pengaman. Melepasnya harus setelah berada di luar arena. Mengapa begitu? Demi menghindari peluru nyasar, dong.

Peralatan Bermain

Demi keamanan, tiap pemain Airsoft Wargame wajib mengenakan kostum pengaman. Yakni berupa rompi dan goggle (pelindung mata dan wajah). Adapun "peralatan tempurnya" adalah sebuah unit (senjata imitasi) yang diisi peluru plastik.


By KJog

Jangan sepelekan peluru plastik yang mungilnya seukuran pilus Garuda itu, ya. *Sengaja menyebut merk supaya kalian paham. Hehehe ....* Bila menyerempet kulit bisa bikin memar-memar nyeri, lho. Bekasnya pun setia hadir selama beberapa hari.

O, ya. Selain bertempur dengan unit beserta pelurunya, di final kami juga bertempur dengan menggunakan bom. Tentu saja bom mainan. Bukan bom betulan.


Peluru plastik (By Tinbe Jogja)

Bom imitasi (By Tinbe Jogja)

Goggle (By Tinbe Jogja)


Dan akhirnya, beginilah penampilan kami sesaat sebelum "bertempur". Bagaimana? Lumayan sangar 'kan? Dan, cobalah amati baik-baik jari telunjuk kanan kami. Sudah dalam kondisi siap menarik pelatuk unit!



By KJog


O, ya. Kalian bisa membaca deskripsi lain tentang permainan ini di 120 Menit Bersama JAW (Jogja Airsoft Wargame) Tulisanku juga, tapi di Kompasiana.


Veni Vidi Vici 

Satu hal yang tak kusangka-sangka, ternyata timku menjadi juara dalam kompetisi mini Airsoft Wargame yang digelar JAW tersebut. Haha! Kurasa-rasakan kok malah menjadi kejutan kecil nan manis di malam minggu itu.

Sejujurnya aku tak tahu kalau dibikin kompetisi mini dan ada pialanya segala. Niatku datang ya untuk bermain belaka. Demi menuntaskan rasa penasaranku terhadap Airsoft Wargame. Eh, ternyata malah terjadi semacam Veni Vidi Vici. Aku datang, aku bermain (aslinya aku lihat), dan aku menang. Horeee!


Tim kami juaraaa (By Tinbe Jogja)

Usut punya usut, jumlah kami yang 20 orang itulah yang menyebabkan dibuat kompetisi mini. Tujuannya agar permainan berlangsung lebih seru. Dengan cara kompetisi mini, tiap tim otomatis berlomba-lomba untuk selalu menang. Kalau selalu menang berarti main sampai final. Berarti bisa menikmati Airsoft Wargame lebih lama. Asyik 'kan?


Lelaaah tapi menang (By KJog)
O, ya. Kami dibagi menjadi 5 tim. Berarti masing-masing tim terdiri atas 4 orang. Kebetulan aku setim dengan Kakak Monyoku, Kakak Wardha, dan Kakak Dody. Yang kebetulan pula ketiganya kutilang (kurus tinggi langsing).

Nah, nah.  Kondisi fisik mereka plus aku yang mungil ini semula membuatku pesimis kami bisa menang pada pertempuran pertama. Hihihi ... Underestimate banget, deh. Bagaimana aku tidak pesimis, coba? Calon-calon musuh kami kelihatannya berfisik tangguh semua, lho.

Namun, takdir kami berempat sore itu adalah menjadi juara. Ya sudah. Alhamdulillah. Yeah! Menang memang menyenangkan. Meskipun konsekuensinya, ya bikin aku tepar. Hehehe ....



Foto bersama selepas acara hukumnya wajib (By Kjog)

Demikian kisah seruku ketika dolan ke JAW. Bila kalian tertarik untuk bermain Airsoft Wargame, silakan langsung ke Lippo Plaza Jogja saja. Atau, bisa mengintip informasi-informasinya dahulu di IG @jogjaairsoftwargame




Jumat, 17 Mei 2019

Rukun Aja 'Napa?

32 komentar





HALO .... 

Semoga sobat PIKIRAN POSITIF senantiasa dalam kondisi sehat. Baik lahirnya maupun batinnya. Semoga pula selalu mampu menjauhkan diri dari segala suuzon. Terhadap apa pun. Kepada siapa pun. 

Tahu sendiri 'kan? Suuzon alias prasangka buruk itu enggak ada untungnya sama sekali. Alih-alih menguntungkan. Yang pasti ada justru merugikan. 

Bentuk kerugiannya bermacam-macam. Di antaranya hidup tidak tenang, maunya nyinyir terus, curiga melulu pada orang lain, dan kondisi fisik terganggu. Pendek kata, suuzon itu merusak jiwa raga. 

Itulah sebabnya orang-orang yang hobi bersuuzon ria susah untuk berbahagia. Yeah .... Bagaimana bisa berbahagia kalau jiwa raga rusak?  Iya 'kan? 

Namun celakanya, sejak menjelang pilpres-pileg 2019, rasa-rasanya kita malah terkungkung budaya suuzon. Pihak sini mencurigai pihak sana. Sebaliknya, pihak sana mencurigai pihak sini. Ya ampuuun! Tjapek, deeeh. 

Belum lagi ditambah dengan tebaran aneka hoaks yang ngeri-ngeri sedap. Alhasil akibat masing-masing gemar mengedepankan suuzon, situasi bermasyarakat kita hari-hari ini terasa kurang kondusif. Tidak sehat. Berpotensi bikin gila. 

Meskipun tidak terlibat aktif dalam "pertempuran" tersebut, mau tak mau kita terpengaruh juga 'kan? Apa boleh buat? Pilpres-Pileg 2019 faktanya telah membuat perasaanku jungkir balik tak karuan. 

Rasanya ada terlalu banyak hal yang menyebabkan hatiku terserempet. Bahkan, nyaris tergores. Rasanya pula hatiku mendadak labil. Sebentar optimis, sebentar agak pesimis. Halah banget pokoknya. 

Kukira, perasaan kalian kurang lebih juga begitu. Kita toh sama-sama berdarah merah putih. Pastilah (normalnya) kepikiran juga dengan adanya peristiwa-peristiwa tak mengenakkan yang terjadi di sini. Di bumi pertiwi kita ini. 

Yang sedihnya, terjadinya secara beruntun. Dalam hitungan hari saja. Yang rasanya, sama sekali tak memberikan jeda bagi kita untuk sejenak merenung. Demi sekadar memahami apa yang sesungguhnya terjadi. 

Huft! Tapi hidup terus berjalan 'kan? Apa pun yang terjadi, kita wajib menuntaskan kewajiban-kewajiban yang mesti dituntaskan. Tak peduli siapa pun presidennya. Tak peduli pula siapa jodoh kita. Eh?!! 

Yuk, ah. Mari move on saja. Ayolah kita sama-sama menahan diri, agar tak saling melukai dengan saudara sebangsa dan setanah air. Indonesia butuh karya kita. Bukan gerutuan dan protesan kita. Tolong camkan ini. 

Be Epic Be Patriotic. Rukun aja 'napa? Apa enggak lelah bersitegang melulu? 

MORAL CERITA:
Rukun itu keren dan menentramkan. 


 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template