Jumat, 14 Juni 2019

Aku menulis Maka Aku Ada

5 komentar
pada suatu hari nanti
jasadku tak akan ada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau tak kan kurelakan sendiri
("Pada Suatu Hari Nanti", Sapardi Djoko Damono)

KELAK kita bakalan mati. Jasad kita akan binasa. Lenyap dari muka bumi. Terurai menjadi tanah. Seiring waktu berlalu, secara alamiah kita menjadi terlupakan oleh mereka yang masih hidup. Mungkin hanya sesekali ingatan mereka kepada kita (semasa hidup) menyeruak. Itu pun terbatas di kalangan keluarga dan orang-orang yang sempat mengenal kita. 

Namun, lain halnya jika kita menulis. Dengan menulis, sekalipun jasad kita telah menyatu dengan tanah, kita bisa mengabadi dalam ingatan orang-orang. Baik orang-orang yang kenal dengan kita secara pribadi maupun yang sebatas tahu karya (tulisan) kita. Iya. Tulisan-tulisan kita akan setia menemani mereka yang masih hidup. Sebagaimana yang disampaikan secara indah oleh Sapardi Djoko Damono, pada penggalan puisi di atas.

Dalam genre yang berbeda, Pramoedya Ananta Toer juga menyatakan hal serupa. Menurut Pram, menulis adalah kerja untuk keabadian. Selengkapnya begini, "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian." 

Itulah sebabnya Pram menaruh respek khusus pada Kartini. Bahkan, suatu ketika Pram menulis begini untuk Kartini, "Tahukah kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu tak 'kan padam ditelan angin, akan abadi sampai jauh, jauh di kemudian hari."

Buktinya, Kartini menjadi tokoh perempuan paling eksis jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh perempuan lainnya. Yup! Sebab Kartini menulis, yang kemudian tulisan-tulisannya itu menjadi semacam monumen  untuk mengingatnya. Dan lebih dari itu, jejak perjuangannya jadi mudah terlacak sebab ada bukti autentiknya.

Pernyataan dari kedua maestro itu sungguh mengesankanku. Membuatku kian sadar bahwa menulis memang penting. Terlebih aku tahu bahwa aku cukup punya "sesuatu" yang layak untuk dibagikan. Maaf. Ini bukan sebuah pernyataan kesombongan lho, ya. Sekadar upaya untuk tahu diri saja.

Alhasil, aku pun terinspirasi untuk rajin menulis. Dalam media apa saja, baik daring maupun luring. Apalagi seiring perjalanan waktu, aku bertemu kawan-kawan baru. Dan, salah satu dari mereka mengatakan, "Tulisan bisa membawa kita ke surga. Bila kita meniatkannya untuk beribadah, memulai menulis dengan doa semata-mata kepada-Nya."

Wow! Luar biasa. Iming-iming surga pastinya membuatku kian termotivasi untuk menulis, dong. Hingga .... 

Di sinilah aku sekarang. Meskipun belum menjadi penulis kondang sejagad raya, sudah lumayan banyaklah pencapaianku di dunia kepenulisan. Belum maksimal memang. Namun setidaknya, aku telah memulai eksistensiku sebagai penulis. Iya, iya. Karena tulisankulah aku merasa sedikit berfaedah untuk sesama. Merasa punya harga diri di hadapan kawan-kawan semasa sekolah dulu, bilamana kami sedang bereuni. Haha!

Namun tentunya, ada hal khusus yang kulakukan untuk bisa eksis dengan tulisan. Hal khusus apa? Yakni meluangkan banyak waktu untuk membaca dan berlatih menulis. Yang kelihatannya mudah dilakukan, tapi pada praktiknya bisa terasa amat membosankan. Terlebih bila mengingat bahwa acap kali honornya tak seberapa. 

Nah, nah. Kalau semangat mulai kendur begitu, cepat-cepatlah aku mengucapkan mantra, "Aku menulis maka aku ada." Berulang kali. Sampai termotivasi penuh kembali.


N.B.
Tulisan ini telah tayang di website GNFI "Aku Menulis Maka Aku Ada" untuk diikutkan lomba menulis dalam rangka ultah ke-9 IIDN. 




Selasa, 11 Juni 2019

Sisi Depan Kantor Gubernur DIY

0 komentar
AKU tak ingat pasti, kapan tepatnya Kantor Gubernur DIY berubah akses masuk resmi. Akses yang semula dari barat (Jalan Malioboro), sekarang menjadi akses dari selatan (Jalan Suryatmajan). Kalau menurut perkiraanku, berdasarkan ingatanku yang acap kali maju mundur galau, belum ada dua tahun berubahnya. 

Ah! Tak pentinglah itu kapannya. Yang jauh lebih penting, perubahan akses masuk resmi tersebut sukses menyenangkan banyak orang. Terkhusus warga DIY sepertiku. Hmm. Maksudnya sepertiku adalah ... warga yang gemar berfoto ria di mana pun asalkan ada lokasi yang menarik. Haha! 

Iya, lho. Akses masuk resmi ke kompleks Kantor Gubernur DIY kini makin keren. Lebih representatif daripada sebelumnya. Selain itu (yang lebih penting bagi kaum swafoto mania), lebih instagramable. Maka tak mengherankan, kawasan situ menjadi idola baru kaum wisatawan. 


Halaman rumputnya sedang dibenahi agar kelak makin cantik

Trotoarnya sama keren dengan trotoar di Jalan Maliobpro

Yang paling keren, kawasan situ lumayan syahdu untuk dijadikan sebagai lokasi berburu senja. Eh! Berburu matahari terbit juga, sih. Namun sayang sekali, aku belum berkesempatan mereguk nuansa senja secara langsung di situ. Baru bisa menikmatinya dari hasil jepretan kawan-kawan.

Yeah .... Apa boleh buat? Hingga detik ini, aku sempat ke situnya selalu saat pagi jelang siang. Tak mengapa. Kukira ini soal waktu belaka. Aku percaya, suatu saat nanti Insya Allah aku bakalan bisa menikmati rekahan pagi dan senja di situ. *Optimis. Pikiran Positif* 



Warga yang berpose di depan papan nama kantor gubernurnya

O, ya. Perubahan akses masuk resmi ke kompleks Kepatihan a.k.a. Kantor Gubernur DIY tak sekadar perkara perpindahan pintu gerbang, lho. Ketahuilah, duhai kawan-kawanku. Ada hal yang jauh lebih bermakna dari itu. Yakni meningkatnya kemudahan dan kenyamanan para tamu yang hendak berkunjung ke kantor tersebut.

Mengapa menjadi lebih mudah dan nyaman? Sebab tak perlu lagi melewati Jalan Malioboro nan padat-padat merayap. Bisa langsung menuju TKP dari arah timur (Kalan Mataram). Selain itu, kesan megah alias repesentatif sebagai tempat ngantor seorang kepala daerah tingkat I pun lebih terpancar. Sesuai dengan harapan Sultan HB X selaku Gubernur DIY.

Hmm. Bagaimana menurut kalian? Tjakep enggak poseku itu? Haha!

MORAL CERITA:
Rajin-rajinlah untuk berswafoto di berbagi lokasi penting di kotamu.

Alamat Kantor Gubernur DIY (Kepatihan):
Jalan  Malioboro 16, Suryatmajan, Danurejan, Yogyakarta

Ancer-ancere iki, lho ....
- Seberang Matahari Departement Store (bukan yang di Malioboro Mall, ya)
- Ujung utara (pertigaan) Kampung Ketandan








 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template