Senin, 10 Desember 2018

Bagaimanapun Kita Tetap Butuh Narkoba

10 komentar
PADA suatu kesempatan tatap muka dengan BNN Kabupaten Sleman ....

"Bro dan sist, bagaimanapun narkoba itu ada manfaatnya. Kita tetap butuh narkoba. Itulah sebabnya tak mungkin pabrik narkoba ditutup. Penutupan pabrik bukanlah solusi bagi penyalahgunaan narkoba." Demikian penjelasan dari Ibu Siti Alfiah.


Ibu Siti Alfiah sedang memaparkan seluk-beluk narkoba dan penyalahgunaannya

Aku tertegun. Setengah heran, setengah tak percaya. Aku salah dengar? Atau, beliau yang salah ucap?

O la la! Aku memang tidak salah dengar. Sang ketua BNN Kabupaten Sleman itu pun tidak salah ucap. Dari penjelasan lanjutannya aku menjadi paham. Ternyata, oh, rupanya. Narkoba memang tetap kita butuhkan untuk keperluan medis.

Tentu dengan resep dokter. Dalam takaran yang terukur. Sesuai dengan kebutuhan. Misalnya nih ya, penggunaan narkoba sebagai peredam sakit pasca khitan. Bayangkan saja andaikata tak ada narkoba. Bagaimana nasib mereka yang khitan? Bisa jadi akan meringis sampai pingsan sebab tak kuasa menahan sakit. Haha!


STOP narkoba


Namun amat perlu disadari bahwa di balik kegunaannya, ada sederet bahaya besar jika narkoba disalahgunakan. Itulah sebabnya genderang perang terhadap narkoba selalu ditabuh sekencang-kencangnya. Bukan terhadap narkobanya an sich, melainkan terhadap PENYALAHGUNAANnya.

Aku tegaskan sekali lagi, ya. PENYALAHGUNAAN narkoba itulah yang wajib kita perangi. Nah, lho. Sebutannya saja "penyalahgunaan". Ya pasti salah. Sudah salah sejak awalnya. Iya 'kan?

Percayalah. PENYALAHGUNAAN narkoba adalah ancaman nyata terhadap kelangsungan bangsa. Sejauh ini telah terlalu banyak generasi bangsa yang tumbang gara-gara kecanduan narkoba. Maka kita wajib bergandengan tangan, demi memberantas penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.

Presiden Jokowi pun sudah menyatakan dengan tegas bahwa Indonesia berada dalam situasi darurat narkoba. Yang kemudian direspons oleh aparat terkait dengan kerja maksimal, dalam upaya memberantas penyalahgunaan narkoba. Yang hasilnya bisa kita pantau dari pemberitahuan media massa.

Ketidaktahuan dan Mitos Seputar Narkoba 

Tak dapat dimungkiri. Meskipun kerap ada pemberitaan tentang penyalahgunaan narkoba, tak banyak dari kita yang betul-betul ngeh. Maksudku, yang paham sepenuh jiwa mengenai dampak buruknya. Termasuk aku (sebelum beruntung ikutan acara BNN tempo hari).

Bahkan ketika kawan adikku meninggal sebab over dosis, aku tetap santai. Dalam arti, aku tidak merasa bahwa kematiannya merupakan semacam warning. Idem ditto dengan kebanyakan tetangga, aku cuma kepo. Kok bisa ya, anak yang tak banyak tingkah, bukan dari keluarga broken home, justru tumbang oleh narkoba? Di kos-kosan. Di kota tempatnya kuliah.

Aku pun tak serta-merta mencemaskan adikku, yang juga anak kos. Sementara adikku lumayan akrab dengan almarhum ketika TK-SMA. Yeah .... Kukira, ketidaktahuan tentang bahaya narkoba adalah penyebabnya. Aku (dan banyak orang di luaran sana) tidak merasa cemas sebab kurang paham.

Apa boleh buat? Faktor ketidaktahuan itulah yang menyebabkan orang cenderung abai. Apalagi ditambah dengan adanya mitos-mitos menyesatkan seputar narkoba.


Beberapa mitos seputar narkoba

Banyak orang yakin bahwa tidak semua narkoba berbahaya. Faktanya apa pun jenisnya, penyalahgunaan narkoba selalu berbahaya. Banyak pula yang yakin, penyalahgunaan narkoba hanya berdampak pada si korban. Faktanya, orang lain di sekitarnya juga terdampak.

Percayalah. seorang pengguna narkoba itu mengganggu. Betapa tidak? Sebab selalu butuh duit untuk membeli narkoba, kebutuhan duitnya senantiasa bertambah pesat. Akibatnya, orang tua (bila si pengguna belum berpenghasilan sendiri) kewalahan. Bila orang tua sudah tak sanggup lagi menyuplai duit, ia bisa nekad mencuri. Nah! Kalau kalau sudah berani mencuri tentu sudah mengganggu masyarakat 'kan? Belum lagi jika ia juga mengganggu dengan hal-hal lainnya. 

O, ya. Dalam kasus kawan adikku, berhubung orang tuanya kaya raya ia tak sampai mencuri. Tapi ibu dan bapaknya memang mengeluh sebab sedikit-sedikit dimintai duit. Dalam jumlah yang besar pula. 

Namun, faktor ketidaktahuan mengenai penyalahgunaan narkoba beserta dampaknya tak membuat mereka curiga. Mereka hanya bertanya-tanya, sesungguhnya uang itu untuk apa? Sama sekali tak berpikiran, jangan-jangan untuk membeli narkoba. Alhasil putra sulung mereka, yang makin lama makin tak pernah pulang kampung, kian terpuruk. 

Aku yakin. Hingga detik ini masih banyak orang tua yang sangat awam narkoba. Sekalipun ciri-ciri pengguna narkoba ada pada diri anak-anaknya, mereka tak ngeh. Jadi, alangkah lebih baiknya jika sosialisasi perihal penyalahgunaan narkoba kian digencarkan. Di berbagai kesempatan.

Kupikir, pertemuan PKK pun butuh disisipi sosialisasi rutin tentang bahaya narkoba. Sayang sekali lho, jika forum tersebut hanya disisipi iklan panci atau sepeda motor. Selaku anggota PKK yang rajin hadir ke pertemuan, aku bahkan tak mengerti, mengapa ada sales sepeda motor melakukan "sosialisasi" di forum PKK. Dan ia dengan percaya diri mengatakan, "Saya ke sini sudah seizin kelurahan lho, ya." 

Ngomong-ngomong, ada satu mitos seputar narkoba yang menurutku "halah bangeeet". Yakni mitos bahwa narkoba bisa melupakan masalah. Duileee! Alih-alih melupakan masalah. Yang terjadi justru sebaliknya. Menjadikan narkoba sebagai tempat berlindung dari belitan masalah merupakan kesesatan yang nyata. 

Ketika fly di bawah pengaruh narkoba, kita memang lupa daratan. Segala permasalahan hidup terlupakan sesaat. Iya. Sesaat belaka. Begitu pengaruh narkoba berangsur memudar, datang lagi tuh si masalah. Apa mau fly lagi? Tentu. Si pecandu narkoba tentu bakalan fly lagi, lagi, dan lagi. Entah sampai kapan? Andaikata tak ada seorang pun yang menolong, kemungkinan ya sampai ajal menjemputnya. Sungguh miris! 

Demikianlah mitos-mitos seputar narkoba. Yang menyesatkan dan sedikit menggerus informasi perihal tingginya bahaya narkoba. Terlebih bila ditambah dengan ketidaktahuan. Maka sungguh sempurna untuk dijadikan celah oleh para bandar/pengedar narkoba. 

Fakta Penyalahgunaan Narkoba di Yogyakarta  

Menyandang predikat sebagai kota pelajar adalah satu kebanggaan bagi Yogyakarta. Namun di sisi lain, ada konsekuensi tersendiri yang mesti ditanggung. Salah satunya konsekuensi menjadi sasaran empuk bagi pengedar narkoba. 

Sebagai kota pelajar yang dihuni oleh banyak pendatang, pastilah Yogyakarta rentan penyalahgunaan narkoba. Apalagi banyak pendatang yang berusia muda (usia SMA dan kuliah S-1) hidup sebagai anak kos. Di kos-kosan umum yang notabene bebas aturan. Bukan di asrama milik sekolah atau yayasan tertentu yang aturannya ketat.

Alhasil, Yogyakarta menduduki peringkat pertama dalam kategori penyalahgunaan narkoba pernah pakai di kalangan pelajar dan mahasiswa. Sebuah prestasi yang sungguh-sungguh memprihatinkan kita semua 'kan? Mereka adalah masa depan bangsa Indonesia, lho.

Sementara secara umum pada tahun 2008, Yogyakarta menempati peringkat ke-2 nasional dalam penyalahgunaan narkoba. Syukurlah dengan kerja keras dan kerja sama seluruh pihak terkait, peringkat itu dapat diperbaiki. Dari tahun ke tahun bisa diturunkan. Dan pada tahun 2017, sudah sampai di peringkat ke-31. 



Peta penyebaran narkoba di wilayah hukum Yogyakarta



Tahukah kalian? Berapa rentang usia para penyalahguna narkoba di Yogyakarta? Sungguh menyedihkan. Ternyata usia 10-59 tahun. Bukankah itu sama saja dengan sepanjang usia produktif? Ketika anak-anak mulai remaja, yang berarti mulai mampu menemukan potensi terbaik mereka, hingga orang dewasa yang mestinya sedang produktif berkarya.

Sekali lagi, apa boleh buat? Narkoba memang punya manfaat bila tak dipergunakan secara serampangan. Tapi jahatnya tiada terkira bila disalahgunakan.  

Sekarang terserah kita. Hidup adalah pilihan. Jika ada pilihan yang baik, mengapa kita mesti memilih yang buruk? Jika mulai detik ini kita bisa menghindari narkoba, mengapa mesti berpikir untuk coba-coba mencicipinya? Plis, deh. Sekalipun kalian berhobi wisata kuliner (yang berarti suka dengan icip-icip), tak usah iseng mencicipi narkoba. 

Kalau memang merasa bete dirundung masalah, curhatkan saja ke keluarga. Ke teman juga boleh. Tapi pastikan dulu, teman kalian bukan bandar narkoba. Kalau curhat pada bandar narkoba ya sudahlah. Berarti kalian telah masuk ke lubang buaya yang ganas.

Maka memilih dan memilah teman memang wajib dilakukan. Orang tua pun mesti melakukan pengawasan ketat terhadap pergaulan anak-anaklnya. Terlebih bila di lingkungan pergaulan anak kok banyak yang merokok. Selain terkait dengan masalah kesehatan yang bakalan muncul sebab rokok, perlu dipikirkan pula keterkaitannya dengan narkoba. Mengapa? Sebab rokok adalah jembatan menuju narkoba. Nah ....

Percayalah. Mendekati narkoba berarti mendekati masalah. Padahal, hidup tanpa narkoba saja sudah penuh dengan masalah. Apa enggak capek tuh jadinya? Maka daripada menjadi pecandu atau mantan pecandu narkoba, lebih baik tak usah melakukan pedekate sama sekali terhadapnya. Plis, deh. Tolong camkan ini!




Jumat, 30 November 2018

Kapan Penulis Berdemonstrasi?

14 komentar
MAHASISWA berdemonstrasi sudah biasa. Sudah sejak zaman baheula 'kan? Buruh berdemonstrasi juga sudah jamak terjadi. Meskipun tentu saja, tujuan demonstrasi keduanya berlainan. 

Era berubah. Zaman bergerak. Hingga tiba pada masa kini. Yakni masa ketika kian beragam elemen masyarakat yang berdemonstrasi. Para guru yang mulia pun sekarang mulai berani berdemonstrasi. 

Laluuu, kapan penulis berdemonstrasi? Mengapa sejauh ini belum terdengar kabar adanya demonstrasi penulis? Apakah hidup para penulis sudah sangat sejahtera? Sehingga mereka tak perlu berdemonstrasi demi menuntut peningkatan kesejahteraan? Yuhuuu.... Tentu tidak begitu, dooong. 

Tahukah kalian? Kalau perkara kesejahteraan hidup (baca: jumlah honor), rata-rata penulis ya tak beda jauh dengan guru-guru honorer. Malah menurutku, lebih enakan guru honorer. 'Kan tinggal menerima honor rutin tiap bulan, setelah memenuhi kewajiban mengajar. Tak perlu gigih menagih bagian keuangan. 

Lhah kalau penulis? Tidak selalu ketika tulisannya terbit, otomatis honor langsung cair. Acap kali honor baru cair setelah sekian waktu terbit. Bahkan tak jarang, ada honor tulisan yang cairnya setelah ditagih-tagih dulu. Setelah kita nyaris depresi menagih, barulah cair. Sudah begitu, jumlahnya pun tak seberapa. Begitu pula halnya dengan royalti buku. Kadangkala juga mesti ditagih-tagih dulu. Hehehe .... 

Tolong garisbawahi, kubilang rata-rata penulis. Bukan penulis yang bukunya laris manis sekali. Bukan penulis yang royaltinya besar. Bukan pula yang sering mendapatkan undangan jadi pembicara di sana sini. 

Sekali lagi, yang rata-rata seperti aku ini. Bukan penulis yang tenarnya tiada tara. Bukan pula penulis yang punya sumber penghasilan lain. Oke? #Malah curhat niiih

Jadi, mengapa para penulis tersebut tak kunjung berdemonstrasi? Sejujurnya semula aku berpikir, mereka adalah sosok-sosok bijak. Kaum pengabdi literasi sejati. Sudah siap menanggung konsekuensi  dari pilihan hidup berliterasi. Yakni berupa tipisnya dompet. Haha! 

Namun di kemudian hari, muncullah pemikiranku yang lain. Jangan-jangan para penulis tidak berdemonstrasi bukan sebab bijak. Jangan-jangan sebab tak tahu mesti mendemo siapa? Wah!  

MORAL CERITA: 
Kalau para penulis berdemonstrasi demi peningkatan jumlah honor dan royalti, insyaAllah aku gabung ah .... Hahaha .... 



 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template