Selasa, 16 Oktober 2018

Seberapa Greget Teplokmu?

3 komentar

Teplok zadoel berhiaskan foto artis zadoel (tanpa semprong sebab semprongnya dijual terpisah)



BELAKANGAN ini di linimasa FB-ku berseliweran status yang diawali dengan kalimat "Seberapa greget hidupmu?  atau "Seberapa gregetnya kamu?" atau kalimat lain yang serupa. Maka wajar bila aku tergoda untuk memberikan judul "Seberapa Greget Teplokmu?" pada postingan ini. Hehehe .... 

Ngomong-ngomong, kalian tahu teplok 'kan? Yup! Foto di atas adalah foto si teplok. Dua foto di bawah juga merupakan foto teplok. Maka tanpa aku deskripsikan dengan kata-kata, kalian pasti sudah langsung paham. Jadi tak ada alasan bagi kalian untuk mempertanyakan what is the teplok, ya?

Tapi baiklaaah. Karena aku baik hati dan tidak sombong, 'kan kusampaikan sekalian definisi teplok. Tak main-main. Yang akan kusampaikan adalah definisi menurut KBBI, lho. Maka silakan disimak baik-baik. Oke?

Begini. Menurut KBBI, teplok adalah lampu tempel yang bersumbu dan menggunakan bahan bakar minyak. Maka jika ada benda berbentuk teplok yang sumber cahayanya dari aliran listrik, itu pasti teplok gadungan. Sebenarnya bohlam atau bola lampu listrik. Bukan teplok melainkan bohlam berbentuk teplok. 
 

Dihiasi foto artis zadoel semua


Barang Kenangan dan Saksi Sejarah

Eh? Tunggu, tunggu. Teplok itu berbahan bakar minyak? Pasti maksudnya minyak tanah 'kan? Bukan minyak goreng? Yaiyalaaah minyak tanah. Masak minyak goreng?

Nah, itu dia masalahnya. Pada zaman now, bukankah minyak tanah langka di pasaran? Susah mendapatkannya. Harganya pun lebih mahal daripada abonemen listrik. Berarti pengguna teplok siap hidup boros, dong. Berani ribet juga demi mendapatkan minyak tanah? Hohohoho .... 

Begini, begini. Teplok ini 'kan memang barang zadoel. Pada zaman now sudah menjadi barang kenangan. Rasa-rasanya sekalipun listrik sedang padam, orang lebih memilih menyalakan lilin daripada teplok. Jadi artinya, pada zaman now orang memiliki teplok bukan difungsikan sebagai alat penerang. 

Lalu difungsikan sebagai apa, dong? Tak lain dan tak bukan, ya difungsikan sebagai hiasan belaka. Tepatnya sebagai hiasan dan saksi sejarah. Coba deh, perhatikan baik-baik. Bukankah teplok-teplok dalam foto itu lumayan unyu bentuknya? Cocok dijadikan sebagai pemanis ruangan.

Bagaimana halnya dengan fungsi sebagai saksi sejarah? Hmmm. Maksudnya si teplok bisa menjadi pengingat akan perjalanan hidup pemiliknya. Yakni perjalanan hidup tatkala listrik belum merambah ke segenap pelosok Indonesia.

Dahulu ketika senja tiba, semua orang sibuk menyalakan teplok dan aneka jenis lampu minyak lainnya. Maklumlah. Listrik masih terbatas mengalir di wilayah perkotaan.  Alhasil, teplok menjadi sahabat bagi para pelajar. Yang setia menemani malam-malam mereka dalam mengupayakan masa depan cerah (baca: dalam belajar dan bikin PR). 

Yang seru, bila nyala teplok kebesaran saat kita tidur. Dijamin ketika bangun tidur wajah kita bakalan berjelaga. Haha! Ini sih, sakti sejarah untuk para remaja angkatan Dilan. Terkhusus yang berdomisili di pedesaan. Termasuk dakuuuh. Huahahahaa ....

Model lain yang dikompleti semprong (semprong adalah tutup kacanya itu)

Tahukah kalian? Pada zaman now selain diproduksi untuk kepentingan hiasan, teplok pun diproduksi dalam bentuk kecil-kecil. Tujuannya sebagai souvenir. Misalnya sebagai souvenir pernikahan. Unik bin seru 'kan? Jadi, kapan kalian nikah dan souvenirnya berupa teplok mungil unyu? #nyengiiiir

O, ya. Yang paling asyik tuh bila kalian punya teplok warisan. Yakni teplok zaman old yang dulunya berfungsi sebagai alat penerangan di rumah kalian. Selain dapat difungsikan sebagai hiasan, bukankah bisa menjadi the original saksi sejarah perjalanan hidup kalian? Malah jauh lebih greget daripada teplok hiasan yang terpampang di foto-fotoku itu. Haha!

Demikian cerita singkatku mengenai teplok. Semoga bisa membahagiakan dan menambah wawasan perteplokan kalian. Ngomong-ngomong, teplok berhiaskan foto artis zadoel seperti itu bisa dibeli di Toko Progo Yogyakarta, ya. 

MORAL CERITA:
Selalu ada kisah menarik di balik barang zadoel. 

 

Jumat, 12 Oktober 2018

Perihal 'Unfinished Business'

6 komentar
SEMALAM aku membaca sebuah status FB yang menarik. Tepatnya menarik dan sangat berfaedah. Statusnya panjang dan membahas sesuatu yang serius bin penting. Iya. Pentiiing bangeeet. Betapa tidak penting? Terkait dengan psikologi, lho. Sementara kita sama-sama mafhum bahwa hal-hal yang berbau psikologi notabene berhubungan dengan kesehatan jiwa.

FINISH YOUR 'UNFINISHED BUSINESS' .... Demikian judul status panjang tersebut. O, ya. Penulisnya Mbak Andri, lulusan Fakultas Psikologi UGM. Maka aku berani memastikan bahwa status tersebut sahih adanya.  Dan selanjutnya, sukses bikin aku merenung. Haha! Sungguh syahdu, bukan? Semalam tuh malam Jumat dan aku melewatinya dengan melakukan sebuah perenungan psikologis.

Lalu, apa arti 'unfinished-business’? Mbak Andri menjelaskannya begini. 'Unfinished-business’ itu secara sederhana bisa dimaknai sebagai ganjalan di masa lalu yang belum terselesaikan dan masih terbawa sampai sekarang. Contohnya cinta yang belum kelar, rasa sayang yang belum terucap, rindu yang tak pernah sampai, dendam yang tak berkesudahan, rasa bersalah pada seseorang, perasaan menyesal atas sebuah kesalahan di masa lalu, kemarahan yang disimpan, maaf yang belum sempat terucap, dan banyak hal lainnya.

Nah, nah. Contoh yang diberikan Mbak Andri itu sukses bikin aku tertawa-tawa geli. Terkhusus pada tiga contoh pertama. Hehehe .... Betapa tidak geli, coba? Membaca tiga hal pertama yang dicontohkan tersebut, mendadak tiga wajah terpampang di benakku. Komplet beserta 'unfinished business' masing-masing. Dahsyat 'kaaan?

Wajah pertama punya 'unfinished business' berupa rasa sayang yang belum terucap. Wajah kedua punya 'unfinished business' berupa rindu yang tak pernah sampai. Dan, wajah ketiga punya 'unfinished business' berupa rasa cinta yang belum kelar. Huahahahaha ....

Dan aku sungguh penasaran, masing-masing pemilik wajah tersebut sekarang sudah bisa move on atau belum. Idealnya sih, sudah bisa mulai move on. Tapi itu 'kan idealnya. Faktanya bagaimana? Faktanya segala perilaku ketiga pemilik wajah tersebut masih terlihat labil-labil bergembira. Belum dapat disebut mulai move on.

Yeah! Parah mereka tuuuh. Rupanya mereka masih menggendong 'unfinished business' ke mana-mana. Padahal idealnya, 'unfinished business' harus diselesaikan. Sebab kalau tidak, selamanya bakalan menjadi ganjalan di hidup kita. Bakalan merongrong kebahagiaan kita. Enggak asyik banget 'kan? 

Etaaapiii, bagaimana halnya dengan diriku sendiri? Haha! Setelah kuingat-ingat, beberapa jam sebelum membaca status Mbak Andri, aku ternyata barusan marah-marah pada sosok yang memang ingin kumarahi sedari dulu. Sejak ia dengan kurang ajar bin jahat mempecundangi hidupku. Alhamdulillah. Hihihi .... Berarti aku telah menyelesaikan 'unfinished business' yang kupunyai. 

Demikian ocehanku mengenai 'unfinished business'. Semoga bermanfaat dunia wal akhirat bagi kalian dan aku. Aamiin. 

MORAL CERITA: 
Sudahlah, sudah. Move on aja, kuuuy! Mari selesaikan 'unfinished business' yang kita punya.





 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template