Jumat, 21 September 2018

Susahnya Mengintimi Sayur dan Buah

2 komentar




YUHUUU .... 

Apa kabar Sobat Pikiran Positif? Semoga kalian tetap riang gembira di hari ini. Hari Jumat yang insyaAllah penuh dengan keberkahan.  Q. S. al-Kahfi sudah dibaca juga 'kan? #ini sih lebih ke upaya untuk nepok jidat sendiri 

Waktu melaju dengan cepat, deh. Rasanya baru kemarin memasuki Senin pagi. Eh? Lha kok tahu-tahu sudah Jumat lagi. Berarti saatnya aku untuk memposting lagi sesuatu yang inspiratif. 

Yoiii. Dan entah mengapa, kali ini aku ingin menulis tentang sayur dan buah. Hehehe .... Mungkin sebab barusan berhasil bikin "gambar" di atas itu. Haha!

Baiklah, baiklah. To the point saja, ya. To the point bahwa aku ingin mengajak kalian untuk berkawan dengan buah dan sayur. Tepatnya berkawan baik. Bukan berkawan sambil lalu, tanpa pernah saling mengobrol. Dengan kata lain, kita menjadikan buah dan sayur sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari. 

Aku yakin, kalian pasti sudah paham kalau sayur dan buah itu menyehatkan. Merupakan bahan pangan yang segar dan bikin tubuh segar. Membuat kulit menjadi cantik pula. Hanya saja faktanya, banyak di antara kita yang enggan untuk mengonsumsi keduanya.

Nah, nah. Kebetulan aku termasuk orang yang enggan mengonsumsi buah dan sayur. Padahal aku sangat tahu, tubuhku membutuhkan asupan nutrisi dari buah dan sayur.

Oleh sebab itu, aku memaksa diri untuk rutin mengonsumsi keduanya. Kalau tidak kupaksa-paksa, mana mungkin nutrisi sayur dan buah memasuki tubuhku?  Haha!  

Sederhana saja tips yang aku praktikkan untuk memaksa diri begitu. 

Pertama, aku mulai dari mengonsumsi buah yang banyak tersedia di warung makan. Di warung biasanya tersedia pisang, pepaya, semangka, dan melon. Nah, nah. Saat membeli lauk aku sekalian mencomot buah. Kalau sudah kubeli, pasti mau tak mau bakalan kumakan. Aku 'kan pantang membuang makanan. 

Kedua, membeli lotis (rujak iris) dan rujak es krim. Kalau sudah dibeli, mana mungkin kubiarkan merana? 

Ketiga, punya stok bumbu pecel. Tujuanku untuk menambahi bumbu tatkala membeli pecel atau lotek. Yeah! Kalau bumbunya banyak, rasa sayuran yang tak kusuka bakalan tersamarkan. Iya 'kan? 

O, ya. Bumbu pecel favoritku tuh yang rasa pedas. Yang bermerk Mbah Kaji. Yang ini nih, penampakannya.



Demikian kisahku terkait buah dan sayur. Berbahagialah kalian yang pada dasarnya sudah menyukai kedua bahan pangan sehat tersebut. Kalau yang senasib denganku, silakan tiru saja tiga tips di atas. Siapa tahu cocok. 

MORAL CERITA:
Adakalanya demi kebaikan, kita mesti memaksa diri kuat-kuat. 


Selasa, 18 September 2018

Toko yang Punya Sikap

7 komentar
HALOOO Sobat Pikiran Positif .... 

Kali ini kalian hendak kuajak untuk "berkenalan" dengan sebuah toko tua. Yakni toko tua yang berada di kampung tempatku berdomisili kini. Itu tuh, yang bangunannya kujadikan sebagai latar untuk berfoto.





Bagi yang baru pertama kali melihatnya, kemungkinan besar kurang ngeh kalau itu sebuah toko. Hmmm. Itulah pula yang dulu terjadi padaku. Sepintas lalu memang seperti rumah biasa 'kan? Terlebih bila sedang tertutup rapat pintunya.





Tapi jangan salah. Komoditi yang dijual di toko tua tersebut terhitung komplet dan kekinian, lho. Segala rupa minuman sachet ada. Mi instan aneka merk dan rasa juga ada. Sampo, sabun mandi, sabun cuci, pasta gigi, dan rupa-rupa barang keperluan sehari-hari tersedia. ATK pun tersedia. 

Tapi harap dicatat baik-baik nih, yaaa. Jangan coba-coba mencari rokok di situ. Bila nekad, engkau dijamin bakalan kecewa. Mengapa begitu? Sebab toko tua tersebut tidak menjual rokok merk apa pun. 

Jangan tanyakan alasannya kepadaku. Aku juga tak tahu dan rasanya sulit untuk tahu. Mengapa sulit? Sebab aku takut untuk menanyakannya kepada si pemilik toko. Haha! Yeah, apa boleh buat? Aku termakan omongan temanku yang merupakan penduduk asli kampung situ. Kata temanku, Eyang Putri (maksudnya si pemilik toko) galak. Nah, nah. Jadinya 'kan aku takut duluan sebelum bertanya. 

Baiklah. Sekian saja ceritaku tentang sebuah toko tua di sebuah kampung tua di Yogyakarta. Sungguh sebuah toko yang istimewa 'kan? Istimewa sebab berani TIDAK berjualan rokok. Padahal, rokok merupakan komoditi yang selalu laris manis tanjung kimpul. 

MORAL CERITA:
Toko saja berani punya sikap. Masak kita enggak? Hehehe ....

 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template