Sabtu, 08 April 2017

#MemesonaItu Selalu Bikin Nyaman

4 komentar
Percayalah, #MemesonaItu selalu bikin nyaman. Selalu lho, ya. S-E-L-A-L-U. Maka ketika Anda merasa terpesona pada seseorang, mestinya orang itu selalu menyamankan Anda. Dia tidak pernah bikin jengah sama sekali. Sekalipun pandangan politik dan sikap keagamaannya berseberangan dengan Anda. 

Jika sekali saja bikin jengah, berarti sebenarnya dia kurang memesona. Atau, pendar-pendar pesonanya memudar. Tidak lagi secemerlang sebelumnya. Makin sering dia bikin jengah, yang berarti merusak kenyamanan Anda, daya pesonanya pun langsung terbang melayang entah ke mana. Sebab--sekali lagi--#MemesonaItu selalu bikin nyaman. Baik nyaman secara fisik maupun psikis. 

#MemesonaItu selalu bikin nyaman dan selalu merasa nyaman di mana pun, bersama siapa pun.


Tentu saja pada awalnya, kondisi lahiriah seseoranglah yang akan membuat kita terpesona. Baru setelahnya, kondisi batiniah (sikap kepribadian) yang akan mengambil alih. Diakui atau tidak, memang begitulah kenyataannya.

Apa boleh buat? Kita pasti merasa lebih nyaman ketika berjumpa dengan orang-orang yang penampilannya menarik. Yang selalu bersih, sehat, bersemangat, dan necis. Apalagi kalau dilengkapi dengan akhlak dan kepribadian yang bagus. Aura pesonanya pasti kian bersinar. Pendek kata, apa pun yang terdapat pada dirinya senantiasa meneduhkan mata dan jiwa. Bikin kita merasa nyaman dan betah berlama-lama di dekatnya. 

Ada beberapa hal yang menandakan bahwa seseorang memang memesona.  Hal-hal apa sajakah itu? Antara lain (1) tidak jorok; (2) cara berpakaiannya tidak serampangan; (3) murah senyum; (4) senantiasa berbagi keceriaan dan kebahagiaan; (5) tidak suka mengeluh; (6) punya wawasan berpikir yang luas; (7) selalu punya ide dan solusi; (8) selalu menerima kritikan dengan elegan. 

Seseorang tidak bakalan memesona jika dia jorok. Alih-alih bikin nyaman. Yang ada justru sebaliknya. Mana mau kita berdekatan dengan orang jorok? Didekati pun kita pasti menjauh. 

Demikian pula halnya dengan orang yang cara berpakaiannya serampangan. Kriteria serampangan di sini meliputi kesesuaiannya dengan situasi dan kondisi. Sama sekali tidak terkait dengan mahal atau murahnya pakaian yang dikenakan. Misalnya berpakaian serba terbuka dalam sebuah acara formal. Secantik dan seseksi apa pun seseorang, jika dia salah kostum tentu bikin gerah ‘kan? 

Tak ayal lagi, orang yang murah senyum pasti disukai oleh banyak orang. Mengapa? Sebab dia membuat semua orang merasa nyaman. Senyuman tulusnya menebarkan virus-virus keceriaan dan kebahagiaan. 

Senyum itu menebarkan virus keceriaan


Ya, orang yang #MemesonaItu enggan menunjukkan kegalauannya pada dunia. Bukan demi pencitraan. Hanya saja, dia tak mau merusak kebahagiaan orang lain dengan wajah galaunya. Dia tak mau mengeluh kepada sesama manusia. Kalau mengeluh hanya kepada-Nya SWT. Sebab dia mafhum, tiap orang punya problema sendiri-sendiri. Jadi, tak perlu ditambahi dengan masalahnya.

Orang yang #MemesonaItu pasti tidak membosankan bila diajak mengobrol. Karena wawasannya luas, dia tak bakalan kehabisan bahan obrolan. Tema obrolannya pun selalu segar dan kekinian. Dengan demikian, para teman mengobrolnya dapat bertambah pintar. 

Orang yang memesona pun tak pernah mengecewakan saat dimintai bantuan. Baik bantuan yang berupa tenaga, pikiran, maupun dana. Kalau ternyata tak mampu membantu, dia tetap berusaha untuk mencarikan ide dan solusi alternatifnya. 

Yang paling keren, orang yang #MemesonaItu tidak antikritik. Jika suatu ketika melakukan kesalahan dan ditegur atau dikritik, dia tidak marah. Tidak pula mencari-cari kambing hitam. Kritik dan teguran tersebut disikapinya dengan elegan. 

Jika seseorang memiliki semua tanda di atas, niscaya dirinya merupakan pribadi yang memesona. Nah! Anda tentu ingin menjadi pribadi yang memesona juga ‘kan? Kalau begitu, Anda pun wajib memiliki semuanya. Tak usah buru-buru pesimis. Daya pesona itu tidak semata-mata kita miliki sejak lahir, kok. Masih bisa diupayakan dan dimaksimalkan, sejauh kita mau mengupayakan dan memaksimalkannya. 

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk memaksimalkan daya pesona kita. Di antaranya selalu menjaga kebersihan dan kesehatan badan; tidak memelihara pikiran-pikiran negatif; berusaha untuk memperbanyak senyuman tulus; senantiasa memperlakukan orang dari kalangan mana pun dengan cara yang sama (yakni sama-sama baik); selalu bersyukur atas apa pun yang terjadi dalam hidup, serta rajin menambah ilmu dan wawasan pengetahuan. 

Demikianlah definisi memesona menurutku. Kalau definisi memesona versimu apa? Kalau tidak sama dengan definisiku, malah kebetulan. Bisa kautulis, lalu diikutkan lomba #MemesonaItu. Hadiahnya menggiurkan, lho.  Untuk info lebih detil, silakan lihat persyaratannya di sini:  http://www.pancarkanpesonamu.com/memesonaitu/

   #MemesonaItu

Rabu, 29 Maret 2017

Kamu Hari Ini Jajan Apa, Nak?

4 komentar
"JAJAN apa tadi di sekolah?" Begitu selalu tanyaku pada Adiba tiap kali ia pulang sekolah. Lalu, bidadari kecilku itu pun menyebutkan satu per satu makanan dan minuman yang tadi dibelinya.

Jika yang dibelinya makanan dan minuman yang relatif sehat (misalnya telur puyuh dadar, buah, pisang goreng, susu kedelai, atau es jeruk), perasaanku lega. Aku pun memberinya pujian sebagai anak hebat. Kukatakan kepadanya, "Pinter, deh. Jajanannya tidak berpengawet."

Sebaliknya, jika yang dibelinya jajanan kemasan murahan, aku beranjak galau. O, ya. Yang kumaksud itu jajanan kemasan harga lima ratus atau seribu rupiah. Yang kandungan MSG, zat pewarna, dan zat pengawetmya sangat tinggi. Anda tentu sudah mafhum kalau jajanan sejenis itu kosong gizi.

Demi melihat wajah galauku, biasanya Adiba langsung paham. Dia kemudian buru-buru minta maaf karena telah melanggar kesepakatan kami. Katanya, "Maaf ya, Bunda. Tadi Diba pingiiin banget. Soalnya teman-temanku beli semua."

Apa boleh buat? Namanya juga anak-anak. Masih belum mampu bersikap. Masih kerap kali terpengaruh oleh teman. Kalau sudah begitu, sekali lagi aku hanya bisa mengingatkannya. Yakni mengingatkan tentang bahaya memakan jajanan tak sehat.

Kuakui, kadang-kadang diri ini merasa bosan dan kesal juga. Sudah ratusan kali diulang-ulang, eh, masih saja saja si Adiba melupakannya. Tapi demi kebaikan, kutikam saja rasa bosan dan kesal tersebut. Inilah kiranya salah satu perjuanganku untuk meraih masa depan yang lebih baik. Hehe ....

Begitulah pengalamanku terkait jajanan sekolah untuk anak. Yup! Sejak Adiba masuk SD hingga kelas VI sekarang, aku tetap merasa perlu untuk menanyainya. Dengan pertanyaan yang sama, "Di sekolah tadi jajan apa?"

MORAL CERITA:
Menanamkan kebiasaan sehat pada anak-anak memang tak mudah. Perlu proses dan waktu.




 

Inilah Catatanku Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template