Selasa, 13 Februari 2018

Kampung Ketandan Yogyakarta

14 komentar
Satu-satunya penanda bahwa kawasan sini merupakan Pecinan

11-2-2018 ....

AHAD pagi yang kelewat cerah. Sang surya sudah sangat garang meskipun jarum jam belum genap menunjukkan pukul 8. Sungguh. Hal demikian kurang kondusif untuk berkegiatan di luar ruangan. Kepala berpotensi pusing sebab kepanasan, ciiin.

Namun sebagai peserta Jelajah Kampung Ketandan, yang diselenggarakan oleh Komunitas Malamuseum, kami mesti tangguh. Baik tangguh lahir maupun batin. Yup! Kondisi cuaca tak sepatutnya kami jadikan sebagai penghambat untuk berkegiatan. 

Jangan lupa. Kami ini 'kan peserta Jelajah Kampung Ketandan. Berarti (saat itu) sebutan kami adalah "penjelajah". Masak sih, kaum penjelajah lembek? Ya harus tangguh, dong.

Kaum penjelajah khusyuk mendengarkan penjelasan dari Kakak Faiz dari Malamuseum. Situasi Jalan Ketandan yang ramai lalu lintasnya pun tak jadi soal. Konsentrasi tetap terjaga meskipun sedikit kurang utuh. Haha!


Lokasi 

Sesuai dengan nama acaranya, tentu saja yang kami jelajahi adalah Kampung Ketandan. Tepatnya Kampung Ketandan Yogyakarta; bukan Kampung Ketandan kota lain. Jangan sampai salah, ya. Sebab di kota lain, ada pula tempat yang bernama Kampung Ketandan.

Lalu, di manakah lokasi Kampung Ketandan Yogyakarta itu? Yang disebut Kampung Ketandan merupakan kawasan Pecinan, yang terletak di seputaran Malioboro. Yakni meliputi daerah di sebelah tenggara perempatan antara Jalan Malioboro, Jalan Margo Mulyo, Jalan Pajeksan, dan Jalan Suryatmajan. 

Paling mudah untuk mencapainya ya melalui gapura megahnya itu. Itu lho, yang fotonya kupampang di awal postingan. Gapura tersebut gampang ditemukan, kok. Sebab berada di Jalan Malioboro, persis di sebelah kanan Ramayana (toko busana). Kalau Anda berjalan dari utara, dari arah Stasiun Tugu, gapura itu berada di sisi kiri Anda. 


Ada Apa dengan Kampung Ketandan?

Sebenarnya ada apa dengan Kampung Ketandan? Mengapa perlu dijelajahi? Hmm. Pastilah ada sesuatu yang asyik bin seru di situ. Sebab kalau tidak, bagaimana mungkin Malamuseum sampai mengadakan #kelas heritage untuk menjelajahinya? 

Yoiii. Kampung Ketandan memang istimewa. Seistimewa rasa rinduku kepadamu. Beneran. Kalau kurang percaya dengan pernyataanku itu, silakan amati dululah foto-foto berikut ini.


Pada jajaran biru itu aku menyimpan sebagian rinduku kepadamu

Sementara sebagian yang lain, aku titipkan pada langit biru itu

Begitulah kau dan aku. Eh? Begitulah adanya kondisi Kampung Ketandan. Di situ banyak terdapat bangunan dengan arsitektur Tionghoa. Yeah .... Meskipun di sana sini sudah mulai terlibas arsitektur kekinian, Alhamdulillah jejak arsitektur Tionghoanya masih bisa terasa. 

Selain perihal arsitektur yang mulai terlibas kemoderenan, ada pula perubahan signifikan dalam hal fungsi bangunan. Begini. Dahulunya bangunan-bangunan di Kampung Ketandan berfungsi sebagai ruko; rumah-toko. Tapi kini fungsi "ru"-nya banyak yang hilang. Tinggal fungsi "ko"-nya. Jadi bangunan yang di situ hanya untuk berjualan. Sementara sang penjual banyak yang berumah di wilayah lain.  



Mirip lampu jalan khas Jogja, tapi yang ini lebih terlihat jejak Tionghoanya

Jika dibandingkan dengan kota lain, kawasan Pecinan Yogyakarta memang paling samar-samar eksistensinya. Idem ditto dengan eksistensimu di hidupku. *Halah* Untung saja masih ada bangunan-bangunan ngejreng seperti di bawah ini. Jadi, nuansa Tionghoanya masih bisa terasa.



Datanglah pagi-pagi sekali untuk bisa narsis di pintu ini. Sebab kalau waktunya tiba, sang pemilik akan membukanya. Itu 'kan sebenarnya warung ....

Maaf, aku numpang narsis di sini

Maksudku bukan mau narsis, melainkan ingin menunjukkan keunikan jajaran pintu kayu merah-kuning ini. Haha!

Karena banyak bangunan menarik sekaligus penting dan bersejarah di Kampung Ketandan, pemkot Yogyakarta pun menetapkannya sebagai kawasan khusus. Dan kelak, kawasan Pecinan ini akan dikembangkan lebih lanjut. Semua bangunannya akan dibuat berarsitektur Tionghoa. Adapun yang sudah berarsitektur Tionghoa tinggal diperbaiki dan pertahankan.

Angkringan di pojok jalan itu pun dibikin ngejreng


Bangunan serupa inilah yang akan dipertahankan


Orang-orang Cina yang tinggal di Kampung Ketandan mayoritas membuka toko emas dan perhiasan. Hal ini sangat melegenda, lho. Anda mesti tahu, nih. Wong Ngayogyakarto itu kalau hendak membeli ataupun menjual emas serta-merta pasti menuju Kampung Ketandan. Sebab memang di situlah, terdapat deretan toko emas dan perhiasan.


Tentang Gapura

Mari sedikit bicara tentang gapura masuk Kampung Ketandan. Yang fotonya mengawali postingan ini. Gapura itu ternyata merupakan bangunan baru. Dibangun pada tahun 2012, untuk menyongsong penyelenggaraan PBTY (Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta) ke-8. 

Gapura tersebut dibangun atas inisiatif sultan. Adapun pembiayaannya ditanggung dengan danais. Yakni dana keistimewaan Yogyakarta. Syukurlah ada inisiatif untuk membangun gapura. Sebab hingga kini, gapura itulah satu-satunya penanda bahwa kawasan situ merupakan kawasan Pecinan Yogyakarta.

Demikianlah sekelumit cerita mengenai Kampung Ketandan. Semoga ada manfaatnya bagi Anda sekalian. Terutama bila Anda ingin narsis di lokasi yang sama denganku. Narsis sembari belajar sejarah di situ tepatnya. Hehehe ....

Terimakasih ya, Malamuseum. Tanpamu aku kemungkinan belum ngeh mengenai masa lalu Kampung Ketandan ini. Daaan ... enggak bakalan punya pose-pose narsis di situ. Haha!

MORAL CERITA:
Menjelajahi kota sendiri memang wajib diupayakan agar kita paham sejarah dari kota yang kita tinggali.






Selasa, 23 Januari 2018

Candi Pawon

6 komentar
HALO lagi ....

Masih belum bosan kuajak berwisata candi 'kan? Pasti belum, dong. Meskipun yang menjadi objek wisatanya berupa sesuatu yang zadoel punya, kadar keasyikannya tetap maksimal 'kan? 

Seperti yang tempo hari kukatakan dalam "Kutunggu di Bawah Pohon Bodhi". Berwisata candi itu toh bisa seru juga. Tentu bila tahu cara menikmatinya. Kalau tidak tahu ya bisa sangat membosankan.

Yang dimaksud tahu cara menikmatinya adalah paham sejarahnya. Sebab tanpa pemahaman terhadap sejarah yang tersimpan di baliknya, mengunjungi candi bagaikan melihat-lihat seonggok batu saja. Atau, sekadar narsis seperti aku ini .... *Tapi syukurlah aku tak sekadar narsis*


Sebab pengunjungnya amat minimal, aku bebas narsis tanpa gangguan di Candi Pawon ini


Mengapa Aku ke Candi Pawon?

Aku dan rombongan mengunjungi Candi Pawon sebab jadwalnya memang mesti begitu. Hehehe .... Adapun jadwalnya dibikin begitu karena Candi Pawon merupakan satu rangkaian dengan Candi Mendut. Jaraknya pun amat dekat. Kurang lebih 1 kilometer saja.

Lagi pula dalam perjalanan menuju destinasi ketiga, kami melewatinya. Sudah lewat kok tidak mampir sekalian. Toh untuk mampir tak butuh waktu lama. Selain karena kompleks candinya tak luas, area parkirnya pun tak jauh dari candi. Ibarat si candi itu rumah, area parkirnya ya cuma di halaman depan begitu. 

Sedikit reruntuhan yang teronggok di pojok halaman Candi Pawon


Mengapa Dinamai Pawon?

Konon candi kecil ini dinamai pawon sebab sesuai dengan peruntukannya. Yakni untuk menyimpan abu jenazah Raja Indra, yang merupakan salah satu raja dari Dinasti Syailendra. Para sejarawan pun memiliki pendapat yang senada.

O, ya. Kata "pawon" berasal dari bahasa Jawa yang artinya 'dapur'. Dan, kata "pawon" tersebut merupakan turunan dari kata "pawuan" yang artinya 'perabuan'. Nah! Sementara kata "pawuan" itu diambil dari kata dasar "awu" yang artinya 'abu'.

 
Abu jenazah Raja Indra mestinya tersimpan di dalam Candi Pawon ini

Tangan-tangan jahil pun membuat isi candi tak lagi seperti aslinya


Sesuai dengan namanya, Candi Pawon ini mestinya berfungsi sebagai penyimpan abu jenazah Raja Indra. Namun faktanya, sekarang abu tersebut tak ada lagi di situ. Kata Mas Guide entah di mana keberadaannya. Demikian pula beberapa patung dan ornamen candi yang raib entah ke mana.

Dicuri adalah kemungkinan paling logis. Dicuri? Untuk apa? Untuk dijual, dong. Kalau dijual 'kan harganya bisa sangat mahal. Terlepas dari moralitasnya, seorang kolektor benda seni dan antik yang berduit melimpah tentu mau-mau saja membelinya. Huft! Miris memang.


Mirip Candi Borobudur dan Candi Mendut

Karena sama-sama merupakan candi bercorak Budha, pendirinya pun dari dinasti yang sama, Candi Pawon sungguh mirip dengan kedua candi tersebut. Hanya saja, Candi Pawon berukuran paling kecil. Lebih kecil daripada Candi Mendut.

Itulah sebabnya arsitektur dan relief Candi Pawon mirip sekali dengan Candi Mendut dan Candi Borobudur. Kita lihat, yuk ....


Salah satu relief yang terdapat pada dinding bagian luar candi

Relief ini tak sempurna lagi ....

Meskipun sulit memahami makna dari relief-relief tersebut, aku tetap merasa bangga. Bukan bangga sebab kelemotan otakku dalam memahami penjelasan Mas Guide, lho. Perasaan bangga itu kutujukan kepada nenek moyang kita. Yakni nenek moyang yang telah mewariskan sekian banyak peninggalan bersejarah ini.

Duh! Betapa mereka telah berpikir mendetil untuk semuanya? Untuk membangun candi-candi beserta segala lekuk liku yang super keren itu. Sudahlah. Pokoknya T.O.P-B.G.T.


Betapa tidak top banget kalau soal jari kaki saja sudah dibikin detil, persis kaki kita sekarang
 

Maka aku gemes-gemes gimanaa kalau ada yang berpikiran negatif terhadap patung dan candi terkait keyakinan. Bukan gimana-gimana, sih. Hanya saja menurutku, ranah pembahasannya berbeda. Maka sebetulnya, tak perlu ada pro dan kontra serupa itu.  *Maaf, kebawa emosi*

Masih Sepi Pengunjung

Sebenarnya tidak sulit untuk menemukan lokasi Candi Pawon. Lokasinya 'kan berada di antara Candi Mendut dan Candi Borobudur. Kalaupun Anda tersesat, tanya orang sekitar pasti tahu. Namun entah mengapa, pengunjungnya sedikit. Mungkin rata-rata wisatawan terlalu fokus pada Candi Borobudur. Jadi, candi ini sekadar dilewati.

Padahal, harga tiketnya murah meriah. Lingkungan sekitar candi juga kondusif untuk wisatawan. Tersedia area parkir yang naik. Ada pula andong-andong wisata yang bisa kita sewa. Penjual souvenirnya pun ada.

Entahlah. Kuduga kalau promosinya dipergencar, tentu bakalan bisa mendongkrak jumlah pengunjung. Hmm. Semoga saja begitu.

Jadi, kapan Anda akan singgah di Candi Pawon ini?


MORAL CERITA:
Ternyata kita masih acap kali lalai untuk menjaga warisan budaya. Dan, Candi Pawon adalah salah satu korban kelalaian kita itu.





 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template