*
Sejak Februari lalu hingga Juni nanti anakku melaksanakan student exchange di Korea. Sudah pasti komunikasi kami menjadi terbatas secara daring (dalam jaringan) alias online. Nah! Dari hasil obrolan daring kami, kusimpulkan kalau dinamika cuaca di sana sedang mirip dengan dinamika cuaca di Indonesia kita tercinta saat ini.
Maksudnya mirip tuh, sama-sama mengalami salah mangsa juga. Kadang panaaas, lalu mendadak hujan yang membadai. Musim tidak datang setertib zaman dulu semasa aku anak-anak. Maklumlah, ya. Makin ke sini bumi makin tua-makin rusak.
Secara teori sudah masuk musim semi, eh ternyata suatu malam turun salju. Suhu udara sampai turun 7 derajat celcius. Anakku dan teman-temannya yang tidak menyangka bakalan ketemu salju pun menggigil kedinginan.
Untunglah kemudian salju tak datang lagi. Akan tetapi, hujan dan angin masih kerap menyambangi. Tak beda dengan cuaca di tanah air 'kan? Dari sinilah cerita bermula ...
Suatu malam anakku berkabar melalui pesan WA. Tadi kebasahan aku, Bun. Pas ke kampus hujan angin.
Kurespons begini. Lho? Kenapa gak pakai payung?
Anakku menjawab. Kalau anginnya kencang tetap saja basah. Eee hehehe. Tapi payungnya memang hilang.
Tentu saya kaget dan kecewa. Lhah? Ditaruh mana kok bisa hilang?
Jawab anakku. Pas ke toko ditinggal di luar. Eh, selesai belanja kucari-cari gak ada. Mau berpikir tertukar, tapi kok gak ada payung pink lainnya?
Tanyaku lagi. Tidak terbawa angin?
Tidak, Buuun. Aman tempat naruh payungnya. Ini betulan sengaja diambil, deh. Dicuri heu heu ... Di Korea aman ninggalin barang, tapi tidak aman ninggalin payung. Payung temanku juga hilang pas ke toko. Jawab anakku.
Ya sudahlah. Apa boleh buat? Berarti bukan rezeki kami lagi untuk memiliki payung itu. Sebagai penutup obrolan tentang payung, aku menyampaikan begini ke anakku. Kalau dipakai orang Korea asli bakal ketahuan kalau itu payung colongan. Eh? Atau bisa juga dianggap payung hadiah dari orang Indonesia.
Akan tetapi, apa pun anggapannya ... yang jelas-jelas fakta adalah payung LPDP milik kami itu enggak mau lagi jadi WNI. Hahaha!
Cerita kehilangan seperti ini pasti bikin panik, apalagi kalau berkaitan dengan hal penting. Aku bisa membayangkan rasa khawatirnya di situasi seperti itu. Semoga bisa jadi pelajaran untuk lebih hati-hati ke depannya, terutama saat membawa barang berharga di tempat umum
BalasHapusHebat anaknya Mba...Barakallah, sehat dan sukses selalu ya..
BalasHapusPunya cerita yang sama. Anakku ikut event MUN di Korea bulan Des tahun lalu. Dan, payungnya ditaruh di luar toko, ditinggal beli jajanan apa gitu. Eh pas keluar udah kosong, enggak ada payung di situ huhuhu...Teman rombongannya dua orang bernasib sama di tempat yang berbeda
seru sekaligus nyesek ya, Bun! Baca ceritanya jadi ikut membayangkan suasana di JBNU. Ternyata benar kata orang, di luar negeri boleh aman ninggalin dompet atau laptop di kafe, tapi kalau payung, hukum rimba tetap berlaku!
BalasHapusMungkin payung LPDP itu memang sudah jatuh cinta sama suasana spring di Korea dan ogah diajak pulang ke Indonesia. Anggap saja sedang "pengabdian" di sana, ya? Sehat-sehat buat ananda yang lagi exchange, semoga tetap hangat meski tanpa payung kesayangan.
Tulisan ini seru dan cukup relate, bahasanya ringan jadi gampang diikuti, semoga makin banyak cerita inspiratif seperti ini.
BalasHapushyaaa sayang banget ya payungnya hilang di negara seterkenal itu.. semoga nanti ketemu lagi payungnya *masih positif thinking :D
BalasHapusBarang receh yang kalau hilang atau ketinggalan bikin "mood" ilang. Selain payung ada lagi yaitu " Sandal jepit" yang ilang saat selesai shalat di masjid.
BalasHapusMirip2 kek di Jepang yaaa, kalau barang ketinggalan biasanya ketemu, tapi kalau payung suka ada yang nyuri huhu.
BalasHapusBTW jadi penasaran sama payungnya deh penampakannya gimana hehe.
Semoga nanti kalau ada kumpul2 LPDP atau apalah bisa dapat souvenir payung yang sama ya :D
Wha, ternyata di Korea Selatan payung tuh jadi barang yang harus hati-hati menyimpannya ya. Katanya memang di sana itu terdapat sebuah fenomena sosial unik, tingkat kejujurannya sangat tinggi, tapi payung sering jadi pengecualian. Barang berharga seperti laptop atau dompet aman ditinggalkan di meja kafe, tapi beda dengan payung, yang kalau sembarangan di simpan di tempat umum, mudah untuk tertukar atau diambil orang.
BalasHapusSemenarik itulah payung di sana sampai dicuri juga 😅😅😅. Tp kalau dah bukan rezeki, mau bilang apa ya mba..
BalasHapusSamaaa memang cuaca kalau dah bulan2 segini. Istilahnya pancaroba. Msh galau gitu, kayak hujan, panas, eh taunya salju pun bisa turun 😄