Senin, 13 April 2026

Buuun, Payung LPDP-nya Hilang!

(Suasana kampus JBNU - Dokpri Adiba)


HALO, Sobat Pikiran Positif? Kali ini aku tidak akan bercerita tentang Jogja. Mau intermezzo dulu. Itung-itung sebagai pelepas rindu pada anak semata wayangku. Sekaligus sebagai pelipur lara sebab payung kesayanganku hilang di negeri orang. 

*
Sejak Februari lalu hingga Juni nanti anakku melaksanakan student exchange di Korea. Sudah pasti komunikasi kami menjadi terbatas secara daring (dalam jaringan) alias online. Nah! Dari hasil obrolan daring kami, kusimpulkan kalau dinamika cuaca di sana sedang mirip dengan dinamika cuaca di Indonesia kita tercinta saat ini.

Maksudnya mirip tuh, sama-sama mengalami salah mangsa juga. Kadang panaaas, lalu mendadak hujan yang membadai. Musim tidak datang setertib zaman dulu semasa aku anak-anak. Maklumlah, ya. Makin ke sini bumi makin tua-makin rusak. 

Secara teori sudah masuk musim semi, eh ternyata suatu malam turun salju. Suhu udara sampai turun 7 derajat celcius. Anakku dan teman-temannya yang tidak menyangka bakalan ketemu salju pun menggigil kedinginan. 

Untunglah kemudian salju tak datang lagi. Akan tetapi, hujan dan angin masih kerap menyambangi. Tak beda dengan cuaca di tanah air 'kan? Dari sinilah cerita bermula ...

Suatu malam anakku berkabar melalui pesan WA. Tadi kebasahan aku, Bun. Pas ke kampus hujan angin.

Kurespons begini. Lho? Kenapa gak pakai payung?

Anakku menjawab. Kalau anginnya kencang tetap saja basah. Eee hehehe. Tapi payungnya memang hilang.

Tentu saya kaget dan kecewa. Lhah? Ditaruh mana kok bisa hilang? 

Jawab anakku. Pas ke toko ditinggal di luar. Eh, selesai belanja kucari-cari gak ada. Mau berpikir tertukar, tapi kok gak ada payung pink lainnya? 

Tanyaku lagi. Tidak terbawa angin?

Tidak, Buuun. Aman tempat naruh payungnya. Ini betulan sengaja diambil, deh. Dicuri heu heu ... Di Korea aman ninggalin barang, tapi tidak aman ninggalin payung. Payung temanku juga hilang pas ke toko. Jawab anakku.

Ya sudahlah. Apa boleh buat? Berarti bukan rezeki kami lagi untuk memiliki payung itu. Sebagai penutup obrolan tentang payung, aku menyampaikan begini ke anakku. Kalau dipakai orang Korea asli bakal ketahuan kalau itu payung colongan. Eh? Atau bisa juga dianggap payung hadiah dari orang Indonesia. 

Akan tetapi, apa pun anggapannya ... yang jelas-jelas fakta adalah payung LPDP milik kami itu enggak mau lagi jadi WNI. Hahaha!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!