Jumat, 09 Juni 2023

Kenanganku di Masjid Sheikh Zayed

HALO Sobat PIKIRAN POSITIF? Tak terasa, ya? Tahu-tahu Lebaran Haji hendak datang lagi. Tahu-tahu pula sekian bulan terlewati, sejak kunjunganku ke Masjid Sheikh Zayed Solo. 

 

Di jalan depan masjid (Dokpri Agustina)


Ampun, deh. Rasanya baru kemarin ke sana. Kok ternyata telah beranjak jadi kenangan lama.

Faktanya? Hmm. Faktanya memang bukan kemarin. Aku dan kawan-kawan berkunjung ke Masjid Sheikh Zayed itu sebelum Ramadan. Sementara sekarang sudah tiba musim berhaji.

Akan tetapi, keseruan kunjungan tersebut masih membekas kuat di ingatan. Hingga sekarang.

Maklumlah. Pergi ke masjid baru itu memang salah satu rencana jangka panjangku. Pokoknya rencana saja dulu. Berniat kuat dulu untuk ke situ. Eksekusinya entah kapan. Jadinya wajar dong ya, kalau aku bersukacita karena berhasil terlaksana. 
 

Hmm ... (Dokpri Agustina)


Terlebih terlaksananya jauh lebih cepat daripada rencana semula. Plus perginya bersama para kompasianer dari berbagai kota. Yang baru kopdaran sesaat sebelum sama-sama naik kereta api menuju Solo.


Alhasil, kian besarlah rasa sukacita itu. Ibarat menerima rezeki yang tak disangka-sangka. Eh, sebentar.  Bukan ibarat deh, melainkan memang sungguhan rezeki.

Walaupun gagal menunaikan ibadah salat di dalam ruangan utama, tak jadi soal. Yang penting masih bisa salat di selasar. Toh judulnya tetap salat di Masjid Sheikh Zayed.
 

Di selasar habis salat zuhur (Dokpri Agustina)


Kok bisa gagal salat di ruangan utama masjid? Nah, itu. Justru itulah kenangan (kurang manis)-nya.  Semua terjadi akibat ketidaktahuan. Plus keleletan diri ini tentunya.

Masjid Sheikh Zayed Solo menerapkan kebijakan khusus terkait penggunaan ruang utama untuk salat. Ruangan tersebut rupanya baru dibuka kurang lebih satu jam sebelum azan. Kemudian kurang lebih satu jam seusai salat fardu berjamaah, ruangan utama akan kembali disterilkan.

Kami (aku dan dua orang yang tampak dalam foto di atas) tidak paham itu. Sama sekali tak tahu adanya aturan tersebut.

Akibatnya ya begitu. Hanya bisa melakukan salat di selasar. Tidak dapat menikmati keindahan ruang utama Masjid Sheikh Zayed Solo. Sementara masuk ruangan tersebut adalah tujuan utamaku berkunjung ke situ.

Konyolnya, kami sampai di masjid megah tersebut sekitar pukul 10.00 WIB. Sebenarnya sudah merupakan waktu yang ideal. Ada jeda waktu kurang lebih 2 jam dengan saat berkumandangnya azan zuhur.

Jadi sesungguhnya, kesempatan untuk ngadem dahulu sebelum berwudu lumayan memadai. Hanya saja kami 'kan lupa daratan. Begitu sampai langsung jeprat-jepret. Mana cuaca sedang terik tiada tara. Lalu, kepanasan dan kehausan. 
 

Swafoto di halaman dalam (Dokpri Agustina)


Selanjutnya cari spot buat berteduh dan ternyata tak ketemu yang betul-betul teduh. Hasilnya pastilah tak adem-adem amat. Hingga akhirnya azan zuhur berkumandang.

Demi mendengar azan, baru buru-buru mencari tempat wudu. Namun, ternyata tak segampang ituuu 'tuk menjangkau tempat wudu. Kami lupa kalau kompleks masjid amat luas. Ketambahan kami baru pertama kali ke situ. Belum paham medan jadinya.

Ternyata tempat wudu perempuan terletak di basement. Sudah begitu, antrean menujunya padat tak kelar-kelar. Ya sudah. Kami ketinggalan salat berjamaah. Salat berjamaahnya saja kelar sebelum kami mulai berwudu.

Yeah. Apa boleh buat? Berarti lain waktu wajib mengulang kunjungan ke Masjid Sheikh Zayed Solo.

O, ya. Ada hal "kecil" yang menjadi catatan besarku dalam perjalanan ke masjid tersebut.

Hal apakah itu? Tak lain dan tak bukan, hal itu terkait dengan penampakan Masjid Sheikh Zayed.  pemandangan dari area belakang masjid sungguh syahdu dan indah.

Sungguh perjalanan tak terlupakan dan ingin kuulang. Sepertinya pula ingin kutulis cerita khusus mengenai area belakang Masjid Sheikh Zayed itu. Hmm. Tunggu, ya.
 

Penampakan dari area belakang (Dokpri Agustina)






4 komentar:

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!