Minggu, 19 Juni 2022

Gereja Santo Yusup Bintaran

HALO, Sobat PIKIRAN POSITIF? Semoga sedang sehat dan berbahagia. Jadi, bisa menyimak kisah kunjunganku ke Gereja Santo Yusup Bintaran ini dengan nyaman. Iya, Yusup. Pakai "p". Aku tidak salah ketik, kok. 

 

Bagian Depan Gereja/Dokpri


Eh? Adakah di antara kalian yang merupakan jemaat gereja tersebut? Jika ada, tolong berilah komentar untuk postingan ini. Bisa berupa koreksi atau tambahan informasi. Siapa tahu ada yang terlewat atau kurang tepat. 

Namun, tak perlu khawatir. Insyaallah semua yang kusampaikan di sini valid. Selain merupakan hasil menyimak penjelasan pemandu dan pihak gereja, aku 'kan buka-buka referensi juga. 

Hanya saja, aku menyadari bahwa diri ini manusia biasa. Yang berarti bisa salah dan lupa. Begituuu.

 

Bagian Belakang Gereja/Dokpri

 

Cagar Budaya 

Mungkin kalian bertanya-tanya kepo, " Kok aku yang beragama Islam dan berjilbab bisa berkunjung ke gereja? Berfoto-foto di dalamnya pula?"

Yaelah. Tak perlu heranlah. Why not? Tentu saja bisa bangeeet. Jangan lupa. Kita ini 'kan tinggal di Indonesia yang majemuk dalam banyak hal. 

Terlebih aku ke situ bersama rombongan JWT (Jogja Walking Tour) by Komunitas Malamuseum. Jadi, kunjungan kami legal. Sang pemandu sudah mengantongi surat izin resmi dari pihak gereja. 

 

Altar/Dokpri

Seberang Altar (Pintu Depan Gereja)/Dokpri

 

Sesungguhnya pula Gereja Santo Yusup Bintaran telah ditetapkan sebagai bangunan Cagar Budaya. Hanya saja, sekarang belum terbuka untuk umum. Baru dalam tahap persiapan ke sana. 

Adapun dasar hukummnya Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata PM. 25/PW.007/MKP//2007 tentang Penetapan Situs dan Bangunan Tinggalan Sejarah dan Purbakala. 

Indah Bersejarah 

Sebuah bangunan yang ditetapkan sebagai Cagar Budaya pastilah bukan bangunan biasa. Tak sekadar karena keindahan dan kemegahannya. Demikian pula halnya dengan Gereja Bintaran, yang selain indah juga bersejarah. 

Arsitektur bangunan di kompleks gereja tersebut bergaya campuran Eropa dan Jawa. Jadi, kalau ke situ kita bakalan menyaksikan semacam keindahan yang unik. 

Saat berada di dalam ruangan gerejanya, aku merasakan nuansa Eropa era 1930-an. Sementara ketika berada di pendoponya, aku serasa dikelilingi pernak-pernik kejawaan. 

Hmm. Untuk membuktikannya silakan berkunjung sendiri, deh. Hehehe ....

 

Pendopo/Dokpri


Pintu Kapel/Dokpri


Sebagaimana yang terlihat pada seluruh foto di atas, terbukti 'kan bahwa Gereja Santo Yusup Bintaran memang indah? Begitu pula yang tampak pada foto Window Rose berikut.

 

Window Rose/Dokpri

Window Rose, yaitu jendela berbentuk bunga mawar (seperti yang tampak pada foto di atas), merupakan penanda bahwa bangunan ini adalah Gereja Katolik.

Lalu, bersejarahnya terletak di mana? Begini. Perlu diketahui bahwa Gereja Santo Yusup Bintaran merupakan gereja Katolik pertama di Yogyakarta, yang dibangun untuk pribumi. Ini termasuk sejarah toh?

Dibangunnya pada tahun 1934. Diarsiteki oleh orang Belanda yang bernama J.H. van Oijen. Berarti gereja tersebut berdiri pada masa kolonial Belanda. Jauh sebelum Indonesia merdeka.

Dengan demikian, corak arsitekturnya pun mencerminkan corak kekinian tatkala itu. Termasuk bersejarah juga 'kan?

Ditambah lagi dengan fakta yang diungkapkan oleh Pak Wiranto (pemandu dari pihak gereja) berikut.

"Dahulu penduduk pribumi duduknya lesehan kalau ke gereja. Bangku disediakan untuk kalangan khusus, bahkan diberi plakat nama. Kalau yang punya nama tak datang kebaktian, kursi dibiarkan kosong."

 

Pak Wiranto yang bermasker dan berkaus abu-abu/Dokpri

 

Duileee. Sungguh menunjukkan era penjajahan banget, ya? Syukurlah setelah Indonesia merdeka, aturan begitu tak berlaku lagi. 

Sekarang perhatikan foto berikut. Di atas sandaran bangku ada lempengan besi tipis 'kan? Itulah plakat nama yang dikisahkan Pak Wiranto tadi.

 

Bangku Berplakat Nama/Dokpri


Pada masa yang kebih kemudian, Gereja Bintaran juga terkait dengan perjuangan bangsa Indoneia dalam mempertahankan tegaknya NKRI. Presiden Soekarno bahkan menunjuk gereja ini sebagai mediator perundingan antara Indonesia dan Belanda.

Presiden Soekarno kerap berdiskusi dengan Mgr. Soegijapranata S.J. di sini. Kalian mestinya tahu sosok Mgr. Soegijapranata S.J. ini. Beliau telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional, lho. 

Ketika Presiden Soekarno diasingkan ke Bangka, ibu negara dan bayinya diamankan di Gereja Santo Yusup Bintaran. O, ya. Bayi itulah yang kelak di kemudian hari menjadi presiden perempuan pertama di negeri kita. Yup! Bayi yang dimaksud bernama Megawati. 

Demikianlah adanya. Gereja Katolik yang beralamat di Jalan Bintaran Nomor 5 itu memang bersejarah. Di bawah pimpinan Mgr. Soegijapranata S.J. ada sejumlah pejuang dari kalangan agama Katolik, yang gigih mempertahankan tegaknya NKRI.

Silakan baca juga tulisanku di Kompasiana ini "Pengalaman Ikutan Jogja Walking Tour dan Eksistensi Pancasila". 

 

MORAL CERITA:

Untung ada JWT ke Gereja Santo Yusup Bintaran Yogyakarta. Aku jadi paham sejarahnya, deh.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!