Rabu, 22 Juni 2022

Berdaya Berkarya Bersama IIDN

APA kabar Sobat PIKIRAN POSITIF? Sedang sehat dan masih setia berpikiran positif 'kan? Syukurlah. Berarti siap menyimak kisah perjalanan saya untuk menjadi perempuan berdaya bersama IIDN, dong.
 
IIDN lho, ya. Dobel "I". Jangan sampai kurang satu. Jika kurang, pasti bakalan keliru dengan tetangga sebelah. Diingatnya mudah, kok. IIDN = Ibu Ibu Doyan Nulis. Yang berarti sekumpulan ibu. Bukan cuma satu ibu. 
 
Adapun ibu di sini mengacu pada makna yang lebih luas, yaitu perempuan. Perlu diketahui, IIDN adalah sebuah komunitas penulis. Sesuai dengan namanya, anggota IIDN memang terbatas kaum perempuan. 
 
Akan tetapi, status para anggotanya tak harus sudah menjadi ibu. Yang penting perempuan. Entah sudah menjadi ibu atau belum. Entah sudah berkeluarga atau belum. 
 
Dengan demikian, IIDN juga berstatus sebagai komunitas perempuan. Tepatnya komunitas perempuan yang anggota-anggotanya aktif menulis dan punya cita-cita menjadi penulis. 
 
Nah! Karena spesifikasinya di dunia kepenulisan itulah, saya yang dalam keseharian tak jauh-jauh dari dunia tersebut, akhirnya mantap memilih IIDN sebagai wahana berkomunitas. Sebelumnya saya tak pernah ikut komunitas apa pun. 
 
Praktis, IIDN menjadi komunitas pertama yang saya ikuti. Itu pun secara daring. Iya. Saya menemukan IIDN (pusat/nasional) di Facebook. Lalu, entah bagaimana kronologinya, saya bisa menemukan teman-teman dari IIDN Yogyakarta.  
 
Pastilah saya senang. Kalau sekota bisa lebih mudah untuk mengadakan pertemuan luring 'kan? Perkenalan sesama anggota pun bisa lebih intim dan nyata. 
 
Singkat cerita, pertemuan luring IIDN Yogyakarta betul-betul dapat saya hadiri. Tempatnya di sebuah desa di Sleman. Di rumah Mbak Astuti Rahayu, sang ketua IIDN Yogyakarta saat itu. 
 
Sungguh keajaiban saya bisa sampai ke situ. Sebagai pengguna transportasi umum, lokasi tersebut lumayan bertele-tele bin sulit untuk dijangkau. Kita tahu sama tahulah. Sistem transportasi publik di negeri ini seperti apa. Hehehe .... 
 
Entah siapa yang dahulu memberikan tumpangan kendaraan, saat pertama kali saya menghadiri pertemuan luring? Yang jelas ia sungguh berjasa telah menjadi pembuka jalan bagi saya, untuk aktif di IIDN hingga sekarang. 
 
Duh! Kok saya bisa betul-betul lupa, ya? Astagfirullah. Maaf bangeeet ya, Kawan.  
 
Namun, kiranya dapat dimaklumi kalau saya sampai lupa. Ceritanya, saya 'kan orang baru. Belum kenal, apalagi hafal, dengan para anggota lama. Pokoknya waktu itu fokus saya lebih ke "yang penting bisa sampai lokasi". Bukan "maunya ke lokasi barengan X atau Y". 
 
Jadi, begitu ada yang menawari tumpangan hingga ke lokasi, saya langsung tancap gas. Demikian kisah awal saya mengenal IIDN dan IIDN Yogyakarta. 
 
Selanjutnya bagaimana?
 
Alhamdulillah pertemuan luring pertama dilanjut pertemuan luring kedua yang istimewa. Betapa tidak istimewa kalau Teh Indari Mastuti, sang ketua umum IIDN pusat/nasional waktu itu, berkenan hadir di antara kami? 
 
Jauh-jauh dari Bandung ke pedalaman Sleman, lho. Sudah pasti sangat meriah suasana pertemuan tersebut. Para anggota IIDN dari seantero Yogyakarta dan sekitarnya hadir. Yaiyalah. Semua tak ingin melewatkan kesempatan untuk bertatap muka langsung dengan Teh Indari.  
 
Vibrasi beliau amat positif. Bisa membangkitkan semangat hadirin. Tak terbatas pada semangat menulis. tetapi juga semangat untuk melakukan apa saja yang bermanfaat dalam hidup.  
 
Itu yang saya rasakan! 
 
Itu pula yang sesungguhnya amat saya butuhkan tatkala itu.  
 
Iya. Sejujurnya saya bergabung dengan IIDN, baik yang nasional/pusat maupun yang regional Yogyakarta, memang demi mencari lingkungan yang kondusif. Dalam arti, yang bisa menjadi penyemangat untuk menulis. 
 
Bagi saya, semangat menulis yang senantiasa menyala-nyala hukumnya wajib ada. Mengapa? Sebab saya menulis dengan tujuan manusiawi* cari duit. Tak sekadar menyalurkan hobi atau demi eksistensi. 
 
Kalau sampai tak bersemangat untuk menulis, berarti tak bersemangat cari duit. 'Kan gawat? Mau minta uang kepada siapa? Sementara selalu menulis saja belum tentu tulisan saya berhasil jadi duit. 
 
Apesnya, tatanan hidup saya justru awut-awutan. Ruwetnya melebihi benang kusut. Penyebabnya faktor XYZ yang bersifat eksternal. Bukan berasal dari diri sendiri. Jadi, susah nian untuk sedikit dikendalikan. 
 
Tentu sangat mengganggu produktivitas menulis. Itulah sebabnya saya berusaha mencari lingkungan yang kondusif demi kelangsungan aktivitas kepenulisan. 
 
Syukurlah bermula dari suntikan motivasi dari Teh Indari tersebut, hingga usia IIDN mencapai 12 tahun sekarang ini, saya masih menjadikan IIDN sumber motivasi dalam menulis. 
 
 
Tart 12 Tahun dari IIDN Yogyakarta untuk IIDN/Dokpri

 
 
Iya. Sejujurnya begitu. Walaupun de facto saya tak begitu aktif sebagai anggota IIDN, diam-diam saya berusaha terus mengikuti perkembangannya. 

Demi apa? 
 
Tentu demi menjaga nyala semangat menulis. Agar saya bisa konsisten berkarya, semaksimal potensi yang saya punya. 
 
Meskipun faktanya ....  
 
Acap kali saya malah menjadi turun rasa percaya diri gara-gara menyaksikan perkembangan pesat teman-teman dalam bidang tulis-menulis. 
 
Aduh! Saya memang labil. Sudahlah labil, kurang percaya diri pula. Plus tak punya dukungan moril dari keluarga. Runyam.  
 
Makna Berdaya Berkarya Bersama IIDN Bagi Saya
 
Bila anggota lain memaknai berdaya dan berkarya bersama IIDN secara riil, betul-betul berkarya dan mengembangkan karier kepenulisan dengan IIDN, kiranya pemaknaan saya berbeda. Yup! Makna berdaya dan berkarya bersama IIDN, bagi saya lebih cenderung kepada spiritnya. Semangat yang menyengat saya untuk senantiasa berkarya!
 
O, ya. Terusterang saya menyadari bahwa status keanggotaan saya di IIDN tidak terlalu tampak. Bukan sebab sengaja menyembunyikannya, melainkan karena kurang aktif dalam kegiatan-kegiatannya. Kurang aktifnya pun bukan sebab malas, melainkan karena merasa kurang mumpuni. Saya tahu dirilah.
 
Namun, syukurlah. Beberapa tahun lalu saya yang remahan rengginang ini diajak IIDN Yogyakarta untuk terlibat dalam projek penerbitan buku Inspirasi Nama Bayi Islami Terpopuler.
 
Alhamdulillah.
 
 
Dokpri

Dokpri

 
 
Demikian kisah perjalanan saya menjadi perempuan berdaya bersama IIDN. Semoga berfaedah dan bisa menginspirasi. 
 
Terima kasih, IIDN.
 
Selamat menapaki usia yang ke-12! 
 
 
---
*Cari duit adalah tujuan manusiawi saya. Sementara di atasnya ada tujuan surgawi yang pastilah juga ingin saya gapai, yaitu menulis dengan niatan lillahi ta'ala dalam rangka beribadah dan memohon berkah kepada Allah SWT. 
 
 


4 komentar:

  1. selamat ulang tahun untuk grup IIDN dan untuk mbak nya :)

    BalasHapus
  2. Selamat ulang tahun IIDN, semoga selalu berkembang dan tentunya selalu jadi wadah buat ibu2 yg pengen berkembang juga

    BalasHapus
  3. Terima kasih atas ucapan dan dukungannya, Mbak.

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!