Senin, 05 Juni 2017

(Repost) Balada YTH

SUATU pagi mendadak kuteringat pada seorang kawan lama. Maka segera kukirim sapaan via WA. 

Hai? YTH Om X ...  Apa kabar? 

Pesan itu pun dibalas seperti ini: 
Alhamdulillah, baik. Yang biasa saja. Jangan pakai yang terhormat..

Saya balas lagi:
Oke siap, bos. Kalau begitu saya ulang, ya. ‘Kan tidak boleh YTH.  Saya ganti, deh. YTC Om X .... Apa kabar? Hehehe ....

(tentu saja saya menuliskan semua pesan itu dengan riang gembira). Tanpa pretensi apa pun kecuali mengajak bercengkerama seorang kawan lama yang kini jadi PNS berpangkat tinggi. Sebab pangkat tingginya inilah, di awal tadi ia saya sebut YTH..)

Tak diduga tak dinyana, inilah balasan pesan darinya:

Jangan suka latah pakai yang terhormat, yang tercinta, yang ter-… yang ter-… lainnya! Hanya Allah SWT yang berhak pakai yang ter-…. Hati-hati kamu! Kesempurnaan hanya milik Allah SWT . Tak ada yang lebih ter- daripada Allah SWT.

DEG! Seketika saya merasa hati ini terpatahkan. Mendadak saya merasa sedih, terluka, dan merasa jadi makhluk-Nya yang tak tahu diri. Saya juga merasa sangat malu atas tegurannya. Meskipun sebenarnya, saya pun merasa tak salah ucap/salah ketik.

Sungguh, membaca pesan tegurannya itu saya tak tahu harus membalas apa. Maka hingga hari ini, saya tak pernah lagi mengirim pesan apa pun via BBM kepadanya. Saya trauma. Kalau tiba-tiba diksi yang saya pilih dianggapnya melecehkan Allah lagi, bagaimana? Saya kan bisa malu dua kali.

Sebab merasa semuanya baik-baik saja, hingga hari ini kerap kali saya baca ulang rangkaian obrolan kami yang berujung terlukanya hati saya. Sebagai editor bahasa, terkhusus bahasa Indonesia, saya tak menemukan kerancuan makna di situ. Apalagi makna yang mengarah bahwa saya menomorsekiankan-Nya.

Apa boleh buat? Saya menyapanya YTH (yang terhormat) menirukan kata pembuka sebuah surat dinas resmi. Tujuan saya untuk menggodanya sebab dia seorang kepala bagian di kantornya. 

Lalu saya sebut dia YTC (yang tercinta) sebab saya mencintainya sebagai kawan baik. Ini pun dengan nada bercanda.

Tapi ternyata, oh, rupanya. Demikian serius dia menanggapi candaan saya. Dia koreksi candaan saya dari sudut pandang agama dengan cara yang naif. Yang justru bikin saya merasa jadi seorang pendosa. 

Astaghfirullah. Saya yakin kalau Tuhan pasti paham dengan candaan saya. Lagi pula, ketika mengucapkan YTH ataupun YTC pun saya tak punya pikiran sedikit pun untuk menyekutukan-Nya.  Terlalu deh, tuduhannya ke saya itu.

Tapi saya tahu bahwa banyak orang yang sejenis dengan kawan lama saya itu. Duh! Bikin obrolan jadi tak asyik. Mengeluarkan kesan bahwa ketakwaan kepada-Nya berakibat seseorang tak lagi punya selera humor. Padahal, Tuhan itu tidak katrok. Saya yakin itu. Yakiiin sekali.


*Tulisan ini awalnya ditayangkan di website milik indoblognet. Ditayangkan ulang di sini untuk keperluan arsip pribadi. Namun, ada sedikiiit revisi*






2 komentar:

  1. yang membaca ini juga ikut tertampar mbak, semoga. karena terbuai dengan pujian seperti yang mbak tulis :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha ... Makasih telah singgah dan berjejak di sini, ya. Asal tahu saja, gara-gara teguran teman yang satu itu daku batal ikutan reuni SMA ... Traumaku gedeee ternyataa 😀

      Hapus

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!