Kamis, 17 Maret 2016

KOMPOR MERAH

ENTAH mengapa pagi ini aku tergerak untuk menulis tentang kompor. Iya, kompor. Sejauh-jauhnya aku dari dunia perkomporan, toh akhirnya lari kembali ke kompor. Bilamana.... malas pergi ke warung dan memutuskan untuk bikin mie instan saja. Hehehe.... #Emak-macam-apa-ini?

Yeah! Sejujurnya aku mendadak ingin menulis tentang kompor sebab terpicu sesuatu. Tepatnya sesuatu yang bernama rasa tak tentu. Haiyyah.... #Lebay-dimulai!

Hmm. Rasaku menjadi tak tentu sebab pagi ini komporku satu-satunya rewel. Rewel dalam diam, sih. Tidak sambil menangis tersedu-sedu macam Adiba. Maapkeun Bunda ya, Naaak. Kamu Bunda komparasikan dengan kompor. Hihihi.... #Pasti-Adiba-protes-berat-bila-baca-postinganku-ini

Apa boleh buat? Rencanaku bikin bubur pun batal total. Lha wong kompornya mati pet. Sudah kupasang colokannya dengan baik dan benar, tapi tetap tak membara tungkunya. Malah tercium aroma gosong. Ih, ngeriiiih. Ya, sudah. Kucabut lagi colokannya. Demi keamanan nurani, jiwa, dan raga.

Oke. Berarti agenda selanjutnya adalah beli kompor baru. Huft. Tapi kapan, ya? Pasalnya dua hari lalu barusan beli magic com. Kalau si kompor kubawa ke bengkel, rasanya malah tak efektif. Beberapa waktu lalu si kompor sudah kubengkelkan, sih. Dan kata Mas Bengkelnya, kalau sudah rusak dua kali mesti diganti.

Baiklah. Berarti aku harus beli yang baru. Mikir positif saja lah. Kiranya inilah cara Tuhan untuk menyingkirkan masa laluku, eh, barang-barang lamaku. Agar aku beneran segera move on. Walaupun untuk sementara aku sempat merasa kehilangan, toh itu tak bakalan lama. Meskipun masa laluku itu, eh, barang lamaku itu pernah sangat bermanfaat bagiku; aku toh wajib mengikhlaskan kenyataan. Hiks.... #Halah-ini-ngomongin-apa-sih-sebenarnya?

Satu hal yang agak OOT dan ingin kutanyakan pada rumput yang bergoyang adalah: mengapa kompor listrik selalu berwarna merah? Punyaku merah. Punya Mbak Vanny merah. Punya Pak Purwandi merah. Mengapa? Tak adakah warna lain untuk kompor listrik?

    
 
Kompor Mbak Vanny Mediana

Komporku


MORAL CERITA:
Acap kali kita baru tergerak untuk mengungkapkan sebentuk penghargaan kepada seseorang/barang tatkala ia telah tiada/sudah rusak. Hihihi.... :D

4 komentar:

  1. selamat mup-on Tante Tinbe. Semoga segera menemukan kompor yang genateng, biar dapurnya main berwarna warni

    BalasHapus
    Balasan
    1. heheh Tante Pika, komentarmu ini barusan lolos dari jeratan kotak SPAM lhooo...kuloloskan...kasihan...

      Hapus
  2. kompor listrik ya, aku belum berani pakai kompor listrik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Astin...iyaa...dulunya aku juga masih takuuttt, tapi keadaan menuntutku beranii...hehe...emang harus ekstra hati-hati, Mbak, tak sembarang peralatan masak bisa dipakai, bisa kesetrum klo salam milih peralatan :)

      Hapus

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!