Minggu, 20 Maret 2016

KARTU POS

HARI ini aku ingin posting sesuatu dari masa lalu. Sebuah tulisan yang ringan-ringan saja adanya. Tanpa pretensi apa pun. Hanya ingin menulis tentang ini. Hanya ingin sekadar mengenang secuil masa lalu. Masa lalu yang entah bagaimanapun bentuknya itu. Pokoknya masa lalu.... #Hadeewh-ini-merupakan-sebuah-paragraf-yang-penuh-aroma-perngeyelan

Hmmm. Entah mengapa di Ahad pagi ini aku merasa deja vu. Haiyyah... sok-sokan pakai istilah asing. Gek artine apa? Hehehe.... Ya sudahlah, pokoknya sedang agak mellow-mellow bergembira. Mungkin gegara terintimidasi pekerjaan yang tak kunjung kelar. Mungkin pula gegara lama gak dapet honor dari naskah buku. Huft! Yang ini sih merupakan efek dari pekerjaan yang tak kunjung kelar. Hiyyyaaah... baliknya ke pekerjaan lagi! #Malah-curhat

Sudah, sudah. Lupakan deja vu, lupakan mellow-mellow yang kurasai itu. Hihihi.... Yang jelas begini. Aku lagi baper gegara lihat foto kartu pos. Oh la la! Mungkin Anda heran bin terpukau mengetahui alasan di balik kebaperanku. Lihat foto kartu pos saja bikin baper. Apatah lagi kalau memandangi foto mantan? #Huft-malah-jadi-baper-betulan-nih-akhirnya

Hssh, hssh. Yuk, ah. Balik fokus ke tema kartu pos. Hehehe... Tulisan macam apa ini? Belok-belok melulu. Mulai serius lagi, ah.  S-E-R-I-U-S!

Begini lho, latar belakangnya (malah kayak skripsi). Pada masa lalu aku ternyata pernah mengirim selembar kartu pos. Tapi tidak melalui jasa pengiriman pos. Hanya kuselipkan saja di bawah pintu kamar si penerima. Lha kok bisa? Tentu saja bisa. 'Kan penerimanya Shinta Oktani Retnani, teman satu kos. Jadi, tak perlu pakai perangko segala.

Nah, lho! Di sinilah awal mula kebaperanku terjadi. Shinta adalah teman satu kosku. Jelas-jelas dia terkait dengan masa laluku sebagai anak kos. Masa-masa penuh pengiritan. Mas-masa keprihatinan. Masa-masa sebagai jomblo high quality nan penuh misteri. Haiyyah.... :D

Bahkan, rak buku mungil Shinta sampai kini masih kupakai. Rak sederhana itu pun mengandung sejarah tersendiri. Dahulu Shinta hendak mudik ke Semarang, tapi tak punya duit sepeser pun. Solusinya, aku bayari rak buku setengah baru itu. Dengan harga yang cukup buat naik bis Jogja-Semarang, plus sedikit jajan minuman. Siapa tahu dia dehidrasi di tengah perjalanan?

Baperku berlanjut sebab kemudian aku terkenang pada pertemuan reuni kami. Iya, Alhamdulillah takdir-Nya memperjumpakan kami pada tahun 2015 lalu. Shinta sekarang sudah kaya raya namun tetap bersahaja gayanya. Wuihh. Pokoknya go internasional banget lah. Gak kalah dari AgnezMo. 

Aku terharu sekali sebab aku ditraktir habis-habisan kala reuni berdua itu. Demikianlah adanya. Aku memang selalu terharu berat pada orang-orang yang mentraktirku. Hahaha.... :D

O, ya. Akhir 2015 hingga awal 2016 Shinta mudik ke negeri Paman Sam. Lho? 'Kan dia pribumi total? Orang Semarang yang kini tinggal di Ubud, Bali? Kok mudik ke Amerika? Yeah.... Dia mudik ke kampung halaman pacarnya yang bule Amerika, kok.  Hihihi.... :D

Pas masih di Amerika, Shinta minta alamatku. Terus dia berkirim kartu pos cakep (katnya sih cakep) made in USA buatku. Tapiii... sampai detik ini kartu pos cakep itu belum kuterima. Duh, apakah si kartu pos akan sampai 1000 tahun lagi? Kayak yang ditulis di kisah-kisah unik dunia itu? Sepucuk surat cinta sampai ke alamat setelah si penerima dan si pengirim berusia malam. Tak sekadar berusia senja. 

Ah, entahlah. Mungkin mestinya yang kau kirim duit saja kok, Shin. Hmmm. Dasar emak-emak mata indah bola pingpong, tapi suka nerima duit dan aneka barang gretongan. Ah! Aku toh tak sematre itu kaleee. Shinta yang kini go internasional bingitz dan masih mau berjumpa denganku, lalu mengobrol ngalor ngidul lamaaa, itu saja sudah amat membahagiakanku.

Ajaib. Begitu sampai pada urusan duit, aku kok gak baper lagi. Malah laper lho, jadinya. Ya sudah, aku tutup tulisan ini. Mau sarapan. 

MORAL CERITA:
Jangan sekali-sekali Anda sepelekan kondisi buruk seseorang. Apalagi kalau itu teman Anda sendiri. Kelak kalau dia sukses berat, sementara kehidupan Anda kembang-kempis gak jelas, Anda akan merasa sangat malu. Hmm. Alhamdulillah dulu aku tak tergoda setan untuk menyepelekan Shinta.... :D



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!