Senin, 30 Maret 2026

Dinamika Suguhan Lebaran


HALO, Sobat Pikiran Positif? Kamu mengalami atau menyadari dinamika suguhan Lebaran atau tidak? Dari yang semula kekunoan menjadi kekinian? 

Suguhan yang kekunoan itu kalau di Jawa Tengah dan DIY (sejauh pengalamanku) misalnya tape ketan sendok emping. Tape ketannya dibungkus daun pisang dengan ukuran kecil-kecil. Adapun cara makannya disendoki dengan emping. 

Iya, disendoki pakai emping. Camilan kriuk yang berpotensi bikin kumat asam urat itu. Ehehehe ...  tapi enak luar biasa citarasanya. Bagi yang sehat-sehat saja tentunya. Foto tape ketan sendok emping yang di atas itu, ya.

Lalu, ada pula kue kembang goyang. Yang entah gimana alasannya, oleh sebagian orang disebut ampyang. Sementara ampyang kalau seingatku, merujuk pada jajanan yang dibuat dari kacang tanah yang dicampurkan dengan gula merah (gula jawa). Itulah sebabnya ampyang sering juga disebut gula kacang.

Terkadang memang begitu. Sejauh pengalamanku, banyak nama jajanan tradisional yang simpang siur penyebutannya. Tidak sama di tiap daerah meskipun bahan dan wujudnya sama. Nah. Kalau di daerahmu kue kembang goyang yang penampakannya kayak di bawah ini disebut apa? 



Selain tape ketan sendok emping dan kue kembang goyang, tentu masih banyak suguhan Lebaran yang zadoel. Antara lain wajik, kue lapis, rempeyek, jenang (dodol), kacang bawang, marning, dan rengginang. Nah, nah. Kamu yang gen Z tahu semua jajanan yang kusebut itu atau tidak?

Begitulah adanya. Suguhan Lebaran zaman dulu, sejauh pengalaman masa kecilku, mayoritas bukan produk pabrikan. Jajanan tradisional merajalela saat Lebaran tatkala itu. Maklumlah, ya. Aku tinggal di pedesaan. Bolu dan kue kering homemade pun masih asing.

Jadi di kampung halamanku dulu, jelang malam takbiran orang-orang sibuk bikin kue-kue tradisional untuk suguhan esok hari. Kalau tape ketan bikinnya beberapa hari sebelumnya karena butuh proses fermentasi. 

Apakah tidak bikin ketupat dan opor? Tidak. Tradisi makan ketupat dan opor plus lepet bukan pada tanggal 1 Syawal. Selepas Shalat Idulfitri makan nasi biasa. Lauknya apa saja sesuai kemampuan. Yang kaya pastilah menyembelih ayam dan bikin opor. Namun, tetap tanpa ketupat. Belum saatnya ketupat muncul.

Lalu, kapan ketupat opor muncul di daerah kami? Seminggu setelah Shalat Idulfitri, dong. 'Kan pada hari kedua Lebaran orang-orang mulai berpuasa Syawal (puasa sunan). Hingga 6 hari ke depan. Pada hari keenam berpuasa sunah itulah, yakni bertepatan dengan tanggal 7 Syawal, orang-orang bikin ketupat dan lepet. Esok harinya tibalah Lebaran Ketupat kami.

Mari balik ke suguhan Lebaran. Seiring bertambahnya usiaku, terjadilah dinamika suguhan Lebaran. Pelan-pelan tape ketan sendok emping dan pasukan jajanan tradisional lainnya tergeser biskuit kalengan. Hingga akhirnya sekarang keberadaan tape ketan sendok emping saat Lebaran menjadi eksklusif.

Apa boleh buat? Sekarang pun saya mesti berbesar hati menerima suguhan Lebaran kekinian. Semacam yang tampak dalam foto-foto berikut ini.


Tidak apa-apa. Lidahku ini adaptif banget, kok. Mau disuguhi jajanan yang kekunoan atau yang kekinian, yang tradisional Indonesia atau yang mengandung unsur Belanda kayak kaastengels, ayo sajalah. Yang penting halalan thoyyiban. Haha! 

Kalau kamu gimana, nih? Apa pendapatmu tentang dinamika suguhan Lebaran? Idem denganku atau tidak? Yuk, sampaikan di kolom komentar.


22 komentar:

  1. Aduhh baru lebaran kemaren. Kenapa cepat banget hari raya lebaran ya. Ga tauh kenapa lebaran terasa biasa aja. Mungkin vibes nya beda dari tahun ke tahun.

    BalasHapus
  2. Momen lebaran memang selalu identik dengan berbagai hidangan khas. Tiap daerah biasanya punya ciri khas sendiri, dan itu yang bikin suasana jadi lebih hangat. Btw aku tim yng suka ngabisin kue kembang goyang wkwkw

    BalasHapus
  3. dinamika suguhan Lebaran ini memang cerminan perubahan zaman yang unik. Dulu, keriuhan dapur menyiapkan tape ketan atau kembang goyang adalah "nyawa" menjelang hari raya. Sekarang, biskuit kalengan memang lebih praktis, tapi rasanya ada sisi sentimental yang hilang.
    Paduan tape ketan dan emping itu juara, lho—keseimbangan rasa manis-asam dan gurih yang ikonik! Meskipun sekarang jajanan kekinian lebih mendominasi meja tamu, melihat camilan zadoel tetap punya daya tarik eksklusif tersendiri. Apapun suguhannya, yang paling penting memang silaturahminya tetap terjaga, ya!

    BalasHapus
  4. Nah, ini yang sering saya rasakan tiap mudik Lebaran, semakin ke sini semakin susah nemuin suguhan tradisional di meja tamu. Yang ada malah toples-toples cantik berisi kue kering homemade atau biskuit import. Yang menarik dari tulisan ini adalah soal Lebaran Ketupat di tanggal 7 Syawal, tradisi ini ternyata punya makna yang dalam banget dan sayangnya banyak yang belum tahu. Terima kasih sudah mengingatkan kembali kekayaan tradisi Lebaran yang mulai terlupakan ini! 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe ... Lebaran kini suguhannya makin tidak spesifik.

      Hapus
  5. Aku baru tahu soal tape ketan sendok emping..jadi penasaran coba, gimana rasanya ya..
    Kalau kembang goyang sama seperti di penampakan itu, dan ampyang benar sama juga gula kacang..
    Lha kalau kembang goyang sebutan buat ampyang, ampyangnya disebut apa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Soal ampyang yang bukan kembang goyang, mungkin disebut gula kacang gitu saja.

      Hapus
  6. Aku kangen banget sama suguhan jadul lebaran. Kalo kembang goyang di sini namanya Lemtari, dan itu cuma ada kalo kita silaturahmi ke rumah kakek nenek di desa gitu. terus tape ketan juga cuma ada di beberapa rumah tapi jarang pwooool. Yang ada kuker hits sama khong guan. Jajan kalengan ama yuppy!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuppy ini sejak kapan jadi suguhan Ä·has Lebaran, ya?

      Hapus
  7. Pemahaman kita tentang kembang goyang dan ampyang sama, Mbak.
    Kadang aku khawatir, penamaan yang berbeda itu bukan karena memang berbeda, tetapi karena kesalahan yang menyebar dan dinormalisasi.

    BalasHapus
  8. tape ketan ini memang unik, deh. Pake emping enak. Pake es krim juga enak. Jadi inget di kulkas masih ada tape ketan. Belum dimakan lagi pasca mudik :D

    BalasHapus
  9. Kalau di Priangan Timur daerah nenekku, kue kembang goyang namanya saroja.
    Oiya dulu sempet tinggal di salah satu kabupaten Jawa Timur, dan baru tau kalau ketupat munculnya di H+7 lebaran setelah beres puasa syawal. Jadi kayak ada lebaran kedua, ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Kak, lebaran kedua setelah sukses puasa sunah Syawal.

      Hapus
  10. Huaaaahahah... Jujur kangen malahan sama jajan rengginang mbak. Kalau di rumah eyang di kampung tuh wadah rengginang malah jajan kekinian cem wafer nissin. Kata alm eyang, meski isinya rengginang, tapi sehat, karena rengginangnya masih bikin sendiri. 🥹

    Sekarang kalau bertamu pas lebaran, apalagi kota besar, jarang sekali aku ketemu rengginang atau tape ketan yang warnanya hijau. Hihihi.. padahal jajanan itu hits di masanya.. 😛

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rengginang itu enak lho, pakai bangeet.😀

      Hapus
  11. Dinamika suguhan lebaran ini menarik sekaligus bikin khawatir. Di era sekarang, sampah plastik makin menggunung, sebenernya kembali ke tempo dulu dengan makanan berbungkus daun pisang jauh lebih ramah lingkungan.

    Aku ngalami makan tape Ketan di bungkus sama daun pisang. Almarhumah nenek suka bikin dan kembang goyang sampai saat ini Mama ku suka bikin karena enak, kue jadul masih kami pertahankan karena buat menghidupkan suasana dan lebih ramah lingkungan juga sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul nih jajanan kekinian berpotensi nyampah plastik tiada tara.

      Hapus

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!