Senin, 01 Desember 2025

Haruskah ke Malioboro?


HALO, Sobat Pikiran Positif? Kagetkah karena tiba-tiba Desember? Hmm, padahal rasanya baru sebulan lalu memasuki tahun 2025. Hehe ...

Enggaklah, ya. Kalau Desember hadir, berarti Januari sampai November telah mendahului hadir. Mana bisa loncat bulan?

Nah. Senyampang 2025 belum habis, apakah rencana kalian ke Yogyakarta bakalan segera dilaksanakan? Kalau iya, apakah Malioboro kalian masukkan ke dalam daftar tempat yang wajib dikunjungi? 

Lalu kalau kalian mewajibkan Malioboro untuk dikunjungi, apa alasannya? Hal apa yang paling menarik dari Malioboro? Yang menyebabkannya terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja? 

Ngomong-ngomong, sekarang emperan toko di sepanjang Malioboro relatif bersih. Tidak ada lagi deretan lapak-lapak yang jualan kaus khas Malioboro, pakaian bercorak batik, dan aneka aksesoris yang bisa dijadikan oleh-oleh bagi wisatawan. Lapak-lapak itu telah dipindahkan ke Teras Malioboro.

Nah. Menurut kalian, itu bikin kecewa atau bikin hepi sebab malah menghilangkan ciri khas Malioboro? Yuk, mari berdiskusi di kolom komentar. 



9 komentar:

  1. Kalo ku harus sih dikunjungi kalo mau liburan ke jogja. Apalagi suasana disana bikin beda gimana gitu. Lama bgt udah gak kesana, heheh


    Aminudin AZ

    BalasHapus
  2. Main ke Malioboro sudah menjadi keharusan kayaknya ahahaha..Langsung belanja deh di kaki limanya, duluuuu. Keseruannya menjadi ciri khas tersendiri ya, sekalian kulineran juga. Sekarang semenjak Malioboro dipercantik, aku belum sempat main ke Jogja lagi.

    BalasHapus
  3. Pertanyaan “Haruskah ke Malioboro?” itu menarik banget karena jawabannya tergantung pengalaman masing-masing. Tapi penjelasan di artikel ini nunjukin kalau Malioboro bukan cuma tempat wisata, tapi juga ruang budaya dan cerita kota

    BalasHapus
  4. Sebetulnya saya gak pernah tertarik ke Malioboro. Sebetulnya bukan karena Malioboronya. Sayanya yang kurang suka ke tempat yang terlalu ramai. Tapi, keluarga besar saya suka banget ke Malioboro. Biasanya saya nongkrong di salah satu resto nungguin mereka belanja hehehe.

    Sekarang saya malah tertarik ke Malioboro dengan kondisi seperti itu. Tapi, belum ada kesempatan lagi untuk main ke Jogja.

    BalasHapus
  5. Jujur aku tipe yang setuju kalau lapak itu dirapikan. Dengan rapi bukannya lebih membuat wisatawan betah. Waktu aku ke Malioboro beberapa tahun lalu tuh, aku rada sewot. Tahu² disamperin pedagang nawarin baju batik² gitu rada maksa pula. Makanya aku lebih prefer di rapikan sih jadi nggak ada lagi kesemerawutan di sana.. ❤️❤️

    BalasHapus
  6. Kalo ke Jogja aku sering mampir sih ke Malioboro, pasang muka tidak ramah biar ga ditawarin banyak pedang hha. Dan itu efektif

    BalasHapus
  7. Meskipun lapak-lapak legendaris pindah ke Teras Malioboro, berjalan kaki di sepanjang Malioboro yang lebih lega justru memberikan pengalaman baru yang lebih nyaman. Kita bisa menikmati arsitektur dan suasana tanpa harus berdesakan. Jadi, saya justru hepi karena Malioboro berevolusi.

    BalasHapus
  8. Ke Jogja sudah pasti lebih mantap mampirin juga ke Malioboro. Meski belum kesana lagi setelah ada beberapa perubahan, tetapi saya bisa melihat itu sebagai sebuah upaya menata lebih rapi lagi. Semoga saja ya, jadinya area Malioboro makin nyaman buat penjelajah. Lebih leluasa ngonten, mungkin ya. Ini cuma bayangan dan harapan saya selaku orang luar dari kota dan area tersebut.

    Kalau menurut mba gimana?

    BalasHapus
  9. Malioboro memang jadi dilema antara ikon wisata dan kenyamanan pengunjung. Dengan penataan yang lebih rapi, kawasan ini bisa tetap hidup tanpa membuat orang enggan berlama-lama.

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!