Sabtu, 12 Februari 2022

Pilih Malioboro Tanpa PKL atau Penuh PKL?

APA kabar Sobat PIKIRAN POSITIF? Mau nanya, nih. Di antara kalian ada yang tinggal di Yogyakarta? Terkhusus dekat Malioboro? Kalau ada, berarti kita tetanggaan. Ayo, ketemuan! 

Gimana? Enggak ada yang berdomisili di Yogyakarta? Ya sudah. Tak jadi soal. Kita ketemuannya di tulisan ini saja. 

Wokeee. Sesuai dengan judul di atas, kali ini aku akan bercerita tentang Malioboro. Kuyakin seyakin-yakinnya bahwa kalian tak asing dengan Malioboro. Malah keterlaluan kalau sampai merasa asing dan tak tahu. 

 

Malioboro 27.1.2022 pagi, saat PKL mulai hengkang dari jalur pedestrian (Dokpri)

 

Kok bisa sampai tak tahu? Terlepas dari segala kekurangannya, bukankah Malioboro itu tenar? Bersejarah pula. 

Kangenable, Rinduable

Sejalan dengan kepopulerannya, sudah pasti Malioboro banyak dikenal oleh khalayak. Tak tanggung-tanggung. Khalayaknya pun tidak hanya yang tinggal di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.

Buktinya banyak warganet alias netizen yang mengaku rindu Malioboro. Ajaibnya, yang belum pernah mengunjunginya pun ada yang mengaku rindu. 

 

Mumpung masih ada PKL-nya (Dokpri/Mesha)

 

Rindu adalah rindu. Tetap susah dihapusnya. Satu-satunya cara menghapus tuntas rindu ya bertemu.

Jadi kalau kalian rindu Yogyakarta, terutama Malioboro, mengapa tak segera mengatur  waktu dan dana untuk mengunjunginya? Yogyakarta memanggil. Malioboro memanggil.

Kabar Malioboro Terkini

Kiranya kalian telah membaca atau mendengar berita tentang relokasi PKL Malioboro. Jadi, tak perlu kaget kalau nanti datang ke situ. Yoiii. Jalur pedestriannya sekarang terasa lapang. Steril dari PKL.

Direlokasi ke manakah PKL (Pedagang Kaki Lima)-nya? Ada dua lokasi yang disediakan, yaitu di bekas Bioskop Indra (depan Pasar Beringharjo) dan bekas kantor Dinas pariwisata (sebelah Hotel Inna Garuda). 

Bekas Bioskop Indra menjadi Teras Malioboro 1. Sementara bekas kantor Dinas Pariwisata menjadi Teras malioboro 2. Sayang sekali aku hanya punya foto Teras Malioboro 1. Enggak apa-apa, ya.

Silakan baca pula "Relokasi PKL Malioboro, Pertarungan Antara Kenangan dan Harapan".


 

Bagian Depan Teras Malioboro 1 (Dokpri/Dian)

Bagian Belakang Teras Malioboro 1 (Dokpri)

Bagaimana bagian dalamnya? Silakan lihat foto di bawah ini. Mohon maaf, aku hanya dapat menintipnya dari luar ruangan. Tatkala itu memang masih tertutup. PKL belum mulai menempatinya. 

 

Meja untuk jualan PKL (Dokpri)

Tampaknya meja-meja tersebut mungil, ya? Dalam bayanganku kok bakalan kerepotan para PKL menata dagangan masing-masing. Ah, entahlah. Semoga saja memadai untuk tiap PKL yang menempatinya. 

Silakan baca di tautan ini untuk tahu pembahasanku yang lebih serius. 

Demikian cerita singkatku tentang Malioboro terkini. Nah! Selera kalian yang mana? Malioboro yang dipenuhi PKL atau yang steril dari PKL? 

Akan tetapi, ingatlah. Apa pun selera kita, faktanya relokasi PKL Malioboro telah terjadi. Hehehehe ....



 

 

 

35 komentar:

  1. Iya sih. Aku ke Jogja tu cuma sekedar liburan akhir tahun. Tapi jelas. Aku kangen banget balik lagi ke Jogja. Asli....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga segera bisa menuntaskan kangen pada Jogja ya, Mbaak. Jangan lupa hubungi akuu.

      Hapus
  2. Jujur aku lebih milih banyak pkl. Kaya ada yang kurang aja kalo gak ada pkl :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehe ... Iya juga sih, pada awal-awal ini saja terasa sedikit hampa.

      Hapus
  3. Baru sekali ke malioboro dn itu jauh segelum corona. Rameee banget. Dn yg bikin seru tuh emang PKL nya :"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untung ya, Kak, masih sempat menikmati Malioboro ber-PKL.

      Hapus
  4. Pro nya paling hanya karena sekarang kawasan itu jadi lebih rapi yaa..

    Kontra nya sih. Banyak banget yang nyari uang di sana. Kasian banget direlokasi. Which is pasti jarang banget pembeli yang sengaja datang ke sana :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dilematis memang. Yang terpenting, semoga para pedagang kian laris di tempat baru.

      Hapus
  5. Emang ada mbak yg belum pernah ke Malioboro tapi bilang kangen? Warbiasah, kangen ama fotonya doang kali ya hahhaha.

    Aku pribadi jelas pilih tanpa PKL, karna pasti lebih rapi, bersih dan enak buat foto2, tapi kasian para pedagang2 itu, ya semoga aja mereka dpt tempat yg ramai lg untuk usaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha, ada. Palingan memang kangen lihat fotonya.

      Hapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  7. belum pernah ke malioboro lagi yang tanpa PKL. semoga bisa kesana lagi.

    BalasHapus
  8. aku terakhir ke JOgja jaman sebelum pandmei. tahun 2019an akhir dan waktu itu Malioboro puadeettt bangeeetttt. nggak seberapa ngeh juga apakah padet pkl atau emang pejalannya yang buanyak hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Campuran banget itu, Kak. Jadinya gak jelas lagi yang mana penyebab utama padetnya.

      Hapus
  9. Aku asli Klaten, Kak. Wah, kayanya nanti kalau pas pulkam harus menyempatkan ke malioboro deh. Udah bertahun2 ga pernah mampir. Salam dari Bandung ya, Kak^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo, salam balik dari Yogyakarta. Yoiii. Sempatkanlah mampir Malioboro bilamana pulang.

      Hapus
  10. waduh aku belum pernah kesana nih, tapi adikku pernah study tour ke Malioboro saat sebelum pandemi. Kata adikku suasana disana ramai banget. Namun aku tidak percaya begitu saja, karena aku belum melihatnya secara langsung. Semoga suatu hari nanti aku bisa membuktikan perkataan adikku tersebut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Uaaaseeeliii ruameeee bingitzz. Terlebih bila akhir pekan atau liburan. Aku aja yang tinggal satu kelurahan dengan Malipboro merasa malas lewat ke situ kalau pas wisatawan tumplek blek. Enakan ke situ ya pas hari kerja.

      Hapus
  11. Wah, ini dia yang jadi bingung wisatawan. Kalau aku lebih suka Malioboro dengan PKL. Ini kan khas banget. Barang2 murah, terpampang nyata dalam keramaian. Belanjsa sambil jajan dll. Memang sih maksudnya ditertibkan supaya rapi dan alasan lainnya. Ga tau deh hihihi pokoknya kangen Malioboro yang lama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yoiii, Mbak. Memang ada pertarungan antara kenangan dan harapan.

      Hapus
  12. Kalau antara tanpa dan penuh, saya tidak bisa pilih. Jujur saja, ke Malioboro memang untuk beli apalah buat souvenir. Tapi males dengan PKL yang penuh. Kadang malah sampai sesak banget. Harusnya sih dikurangi 50% aja. Semua nyaman.
    Tapi ya gimana ya, namanya juga, PKL juga salah satu bentuk perkembangan ekonomi daerah maupun nasional.
    Jadi ya saya siasati kalau ke sana pagi-pagi saat masih sedikit PKL yang buka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar ini, Mbak. Maunya aku pun begitu. Tetap ada PKL, tetapi tak overload.

      Hapus
  13. Karena diriku suka dengan kebersihan dan kerapian pastinya seneng ama yang rapi dan teratur. Terakhir ke jogja sebelum pandemi, memang agak sempit dan rame jadi agak susah bergerak tapi yaitu ... Ciri khasnya jadi ilang hehehe. Aku suka hunting makanannya sih disono

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, Bang. Ciri khas yg berupa PKL tak beraturan itu sesungguhnya bisa menjadi magnet pemikat yg unik.

      Hapus
  14. Aku pilih tengah-tengah, ada PKL tapi ada aturan...mengenai jumlah, jarak sehingga ada ruang terbuka, ragam jualan, keamanan, kenyamanan dan lainnya.
    Setahuku di negara lain ada semacam Malioboro begini dan tetap ada PKL cuma ya itu rapiiii sehingga wisatawan juga nyaman

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itu dia. Mestinya memang cukup diatur. Namun, entahlah. Pihak pemangku kekuasaan selalu punya kepentingan tersendiri.

      Hapus
  15. Saya belum pernah ke Malioboro nih kak, jadi penasaran pengen ke sana. Btw dsni semenjak pandemi tempat wisatanya juga agak sepi gak seramai dulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Suatu saat nanti, datanglah ke Yogyakarta dan singgahlah di Malioboro.

      Hapus
  16. Kalau ke Jogja, saya selalu menghindari Malioboro. Tidak begitu suka dengan keramaiannya hehehe.

    Tapi, Malioboro selalu jadi destinasi wajib dikunjungi kalau jalan-jalan sama keluarga besar. Ya udah saya, suami, dan anak-anak mengalah. Kami menunggu di bis atau di salah satu resto. Kalau sekarang Malioboro tanpa PKL, mungkin kami sekeluarga mau ke sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe .... Selamat, Mbak. Your dream come true. Malioboro memanggil. Bhahahaha!

      Hapus
  17. Waktu tau Malioboro mendadak bersih tanpa PKL, seketika aku kebayang kalau Malioboro nggak akan sama lagi seperti bertahun lalu. PKL sih sebenarnya yang bikin Malioboro terasa hidup. Belanja di PKL-nya itu lho yang ngangenin. Mana harga kaos kaos di sana murah meriah bikin kantong anak kosanku yang dulu bahagiaaaaa warbiyasa. Kalau PKL dipindahkan, akan tetap seramai dulu nggak ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Klo ramainya tetep sih, Mbak. Hanya saja, vibrasi keindahannya beda siiih.

      Hapus
  18. Kemaren temen saya yg ppl disana banyak yg ngeliput relokasi pkl ini. Tapi mereka setuju setuju aja sih. Kalo katanya itu buat penataan, saya coba debat pake bilang itu supaya malioboro sesuai fungsinya kek dulu. T4 acara karaton gitu. Entah mana yg benar:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Entahlah. Aa pun itu kebenarannya, rakyat jelata hanya bisa taat bin patuh aturan.

      Hapus

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!