Jumat, 27 November 2020

Mari Berjumpa di Titik Nol Jogja

APA kabar Sobat PIKIRAN POSITIF? 
 
Masih selalu bahagia 'kan? Semoga. Deretan masalah, baik yang berasal dari kesalahan diri sendiri maupun orang lain, pastilah akan senantiasa ada. Akan tetapi, mari jalani saja. Jika sekali waktu sedikit merasa frustrasi karenanya, bolehlah. Namun, berjanjilah. Betulan sedikiiit, ya. Hehehe .... *toyor-diri- sendiri* 
 
Baiklah, baiklah. Kalau memang kalian sedang sedikit frustrasi, bete, bosan, jenuh, atau apalah namanya itu, mari kuajak melapangkan hati-menjernihkan pikiran dengan berpiknik ke Titik Nol Jogja. Tentu  dengan tetap #dirumahaja melalui tulisan dan foto-foto yang kutayangkan di sini. 
 
 
 
Melihat foto di atas, kalian pasti langsung paham kalau itu Titik Nol Jogja. Maklumlah. Foto Titik Nol Jogja dari arah utara memang berserakan di internet. Adapun foto di atas, tepatnya kuambil dari depan Gedung Agung. Jadi, utara perempatan di sisi barat jalan.
 
Akan tetapi, lihatlah foto di bawah ini. Kalian familiar dengan lokasinya? Hehehe ... Mestinya sih, familiar. Itu 'kan Titik Nol Jogja juga. Namun, aku memotretnya dari selatan perempatan. Dari depan Museum Sonobudoyo. Hanya saja, lokasiku motret lumayan jauh dari perempatan sehingga bangku-bangku bulat penghias perempatan tak tampak. 
 



Ada Apa Saja di Selatan Perempatan Titik Nol?
 
Yang pasti ada jalan yang langsung menuju alun-alun utara, yang berlokasi tepat di depan kraton. Bahkan, perempatan Titik Nol pun sebenarnya tepat berhadapan dengan altar. Hanya saja, berhadapannya agak jauh. 
 
Altar? Iya, altar. Alun-alun utara memang diakronimkan menjadi altar. Kalau yang alun-alun kidul menjadi alkid. FYI, kidul adalah kata dalam bahasa Jawa yang berarti 'selatan'. 
 
Ada apa lagi selain jalan? Tentu ada bangunan-bangunan menarik yang ikonik Jogjes, dong. Kuabsenkan satu per satu, ya. Kumulai dari utara, yang mepet dengan perempatan. Di situ ada Gedung Bank BNI '46 dan Kantor Pos Besar. Keduanya berseberangan letak. Gedung Bank BNI '46 di sebelah barat jalan, sedangkan Kantor Pos Besar di sebelah timur jalan. 
 
Karena aku yakin kedua bangunan tersebut viral, kalian pasti sudah kerap melihat foto-fotonya di internet. Maka tak perlu lagi kutampilkan detilnya di sini. Oke? Lagi pula, kedua bangunan itu pun terlihat pada foto paling atas.  
 
Selanjutnya, di sebelah selatan Gedung Bank BNI '46 ada Kompleks Museum Sonobudoyo. Wah, sekarang komplet sekali fasilitas museum negeri ini. Tempat nongkrongnya alias kafenya sudah beroperasi, lho. Ayolah. kapan kalian mentraktirku di sini? 
 
 


 
Lalu, di selatan kafe tersebut ada Ruang Pameran Museum Sonobudoyo dan Bioskop Sonobudoyo. Setelahnya ada toko souvenir dan batik, yang setahuku bukan bagian dari museum. 
 
Setelahnya lagi ada kompleks bangunan utama Museum Sonobudoyo. Akan tetapi, kalian mesti berjalan dulu ke selatan, kemudian berbelok kanan lumayan jauh jika ingin memasukinya. Tidak bisa dari arah trotoar di sepanjang jalan dekat Titik Nol.
 
Andai kata tak berminat untuk mengeksplorasi bagian dalam Museum Sonobudoyo, kalian sungguh keterlaluan. Hahaha! Lhah gimana? Sudah sampai di depannya, kok tidak mau masuk? 
 
Yeah. Namun, hidup adalah pilihan. Kalau pilihan kalian gegayaan di depan kamera sepuasnya, ya sudah. Eksplorasi saja apa pun yang tersedia di sepanjang trotoar depan Museum Sonobudoyo. 
 
Jika ingin mengintip sedikit isi Museum Sonobudoyo, silakan baca Naskah Kuno di Sonobudoyo Unit 2. Menarik sekali, lho. Ayolah langsung klik saja di sini.  
 
Yup! Selain banyak bangku untuk rehat atau nongkrong cakep, di trotoar bagian barat jalan memang banyak spot menarik. Sebagai bukti, silakan cermati beberapa foto berikut. Feel free untuk berkomentar julid, kok. Hahaha!






Apa komentar kalian terhadap "kawan-kawan" berfotoku? Menarik dan lucu-lucu 'kan? Apalagi yang dua itu. Pandai ketawa di depan kamera juga! 
 
Adapun untuk foto yang di pintu tanpa daun itu, kumohon kalian memfokuskan pandangan jauh ke belakangku. Iya. Di kejauhan sana adalah penampakan altar dan kraton. Kalian yang pernah ke Jogjes pasti ingat spot ini. Apalagi kalau berjalan kaki dari Malioboro ke kraton. 
 
Selain empat fotoku di atas, tentu masih banyak yang lain. Sengaja tak kupamerkan di sini, dong. Nanti kalian muak melihatnya. Hahaha! Namun, ketahuilah. Masih banyak properti lain yang cakep-cakep untuk dipakai berpose. Salah satu di antaranya replika meriam ini. 
 
 



Lalu, apa yang ada di trotoar bagian timur jalan? Di situ ada pos polisi (tepat di pojok perempatan). Di selatannya ada deretan kios pedagang. Pada umumnya yang dijual majalah dan buku ... bajakan. 
 
Astaga banget 'kan fakta tersebut? Ah, aku inginnya itu sudah masa lalu. Faktanya? Entahlah. Rasanya kok masih begitu. Itulah sebabnya aku enggan menampilkan fotonya di sini. Insyaallah nanti saja dalam tulisan tersendiri. Tentu dengan tema buku bajakan. Muehehehe .... 
 
Di selatan deretan kios pedagang ada Kantor Balai Pemasyarakatan Kelas 1 Yogyakarta. Setelahnya ada Loop Station, yang biasa dipakai nongkrong anak-anak muda.
 
Bagaimana dengan properti berfoto dan bangku-bangku? Adakah di trotoar bagian timur jalan ini? Bangku-bangkunya ada, tetapi properti berfotonya tak ada. Jadi bagiku, memang lebih asyik yang trotoar sebelah barat.
 
Ada Apa Saja di Utara Perempatan Titik Nol? 
 
Kalian pastilah telah banyak tahu, tentang hal-hal yang ada di utara perempatan Titik Nol. Aku yakin sekali. Apa alasannya? Sebab di utara ada Malioboro. Ya sudah. Tak perlu lagi kujelaskan panjang lebar. Siapa sih, yang tak kenal Malioboro? Konon belum dianggap ke Jogjes kalau belum ke Malioboro.
Akan tetapi demi kepantasan, di bawah ini kutampilkan beberapa foto. Semoga bikin kalian bahagia. Lagi pula, siapa tahu di antara kalian ada yang betulan belum pernah ke Jogjes terkhusus Malioboro. Atau, sebenarnya pernah namun enggak ngeh spot yang kutampilkan ini. 


 
 
Kalian paham lokasi tempat kami berfotokah? Kalau kalian menjawabnya kami gelendotan manja pada bangku bulat di depan Gedung Agung, itu benar. Pagar hijau di belakang kami adalah pagar Gedung Agung.  
 
Ngomong-ngomong, kalian tahu Gedung Agung atau tidak? Harusnya tahu. Keterlaluan kalau sampai tidak tahu. Gedung Agung itu 'kan istana kepresidenan. Tempat ngantor dan nginep Presiden RI kalau sedang di Jogjes. 
 
Perlu kalian ketahui, di seberang Gedung Agung adalah bangunan indah MBV. Apa itu MBV? Tak lain dan tak bukan, MBV = Museum Benteng Vredeburg. Kalau pernah ke Jogjes dan nongkrong di Titik Nol, kalian pasti pernah melihat MBV. Entah ngeh atau tidak, itu perkara lain. 

Tak usah minder kalau belum tahu tentang MBV. Kalian bisa mengetahuinya dari tulisan berjudul Aku di Museum Benteng Vredeburg ini, kok.
 
Sementara lokasi narsis kami di bawah ini adalah deretan PKL pakaian ala Jogjes. Tepatnya PKL yang menempati emperan sekitar Hamzah Batik, berseberangan letak dengan Pasar Beringharjo. 
 
Lalu, di mana Malioboronya? Ealaaah. Yang disebut Malioboro itu 'kan ruas jalan dari Titik Nol ke utara, yang batasnya rel kereta api. Jadi, lokasi berfotoku dan kawanku (yang manusia asli itu) ya di Malioboro. Oke? Deal, ya?    


 
Aku pikir, tulisan mesti segera kusudahi. Bukan apa-apa, sih. 'Kan judulnya "Mari Berjumpa di Titik Nol Jogja". Jadi, tak usah membahas yang jauh-jauh dari situ. Nantinya bakalan beda cerita, dong. 
 
Ingin tahu lebih detil salah satu keistimewaan Malioboro? Tulisanku yang berjudul Euforia Malioboro Selasa Wage ini insyaallah dapat menjelaskannya. 
 
Namun sebelum kuakhiri, silakan cermati foto pamungkas berikut. Pesan sponsor, nih. Siapa sponsornya? Aku, dong. Asal tahu saja, semua foto yang tayang di tulisan ini kujepret saat aku COD-an aneka wedang rempah dengan kawanku. Salah satu variannya ya si Lemonsri ini. Aku berperan sebagai penjual, kawanku sebagai pembeli. Hehehehe .... Ujungnya ngiklan!
 



 
MORAL CERITA: 

Menuliskan hal-hal yang kita ketahui memang relatif mudah. Tak terasa kalau sudah panjang sekali dan mesti diakhiri. Maka mulai menulislah tentang apa pun yang kalian kuasai dengan baik. 




30 komentar:

  1. Saya malah baru tau ada yang namanya titik nol jogya dan altar (alun-alun utara) saya tau saja tanpa tambahan utara atau selatan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ada altar dan alkid sebab alun-alunnya memang ada dua. Keduanya sama ramai.

      Hapus
  2. wah titik nol jogja memang bikin rasanya, kebayang bisa jalan jalan di sore hari, duduk duduk manis di kursi pinggir jalan, foto foto jua wahh mantap

    BalasHapus
  3. jadi kangen liburan ke Jogja lagi, kemarin gak sempat banyak explore Jogja. Nanti temani dong mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. asik nih kalo bisa janjian mau traveling ke jogja haha

      Hapus
    2. Hehehehe .... ke Jogja itu klo niatnya cuma mau berwisata kota, datangnya pakai kereta api, enak dan mudah. Tinggal turun di Stasiun Tugu, keluar stasiun belok kanan sudah masuk malioboro, lanjut ke selatan nyampai Titik Nol dan kraton plus Tamansari.

      Semenatara klo keluar stasiun belok kiri, nyampai Tugu yang ikonik Jogja.

      Hapus
    3. nah enak kalo udah dikasih sampai detail gini, gak mungkin nyasar

      Hapus
    4. Nah. Berarti tinggal gas ketika semua telah kondusif. Hehehe ....

      Hapus
  4. Oh altar itu singkatan dari alun alun Utara ya mbak, kalo Alkid itu alun alun kidul.🤣

    Saya belum pernah ke Jogja jadinya tidak tahu apa saja yang ada di titik nol jogjakarta ini. Ternyata menarik sekali ya, ada museum Sonobudoyo di selatan dan di Utara ada Malioboro yang terkenal itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo ke Jogja, Mas. Demi membuktikan eksistensi altar dan slkid. Bhahahaha!

      Hapus
  5. Aku semenjak Corona blm pernah ke Malioboro dan sekitarnya...durung pernah nge mall. Dolane cuma sekitaran rumah.

    Melas.com yaa.😊 Dan pagi ini dipameri foto2 jantung kota Jogja di blognya MB Tinbe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahahahaaa! Maaafkeeeeuun saiaaaa. Lah makluuuum, tempat kosku saat ini cedhak konoooo.

      Hapus
  6. wah jogja selalu jadi temoat spesial ya mbak, gw sendiri baru sekali saja ke jogja dan udah lana, seinget gw sih ke makioboro dan candi sewu haha :D.. btw temen fotonya lucu-lucu olus nyeremin mbak, apalagi yang sama tangan raksasa :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya eee. Aku pun takjub, mengapa Jogja bisa menjadi tempat spesial bagi banyak orang? Aku sendiri sebenarnya 'kan pendatang. Eeee lhakok sampai sekarang teteep saja menjaga Jogja yang sejatinya pernah pula mematahkan hatiku. Walaaah. malah ujungnya curhat.

      Hapus
  7. Kangen banget sama tempat ini.. terakhir ngunjungin tahun 2014.. udh 6 tahun nggak pernah ke jogja lagi.. dulu sering banget pas tinggal di semarang, paling sebulan 2 kali kita balik jogja ke rumah temen kos buat nyari makan gratis sekaligus perbaikan gizi dirumah temen.. hahahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaaha! Asyik ya, Mas. Jadi serasa punya penginapan pribadi. BTW enam tahun itu bisa terasa tidak terlalu lama juga, sih. Yeah. Waktu kadangkala terasa nisbi. Hehehehe ....

      Hapus
  8. aku beberapa minggu lalu baru ke sana dan luyana sepi mbak
    wah penasaran sama wedangnya perasaan enak tuh jadi pingin

    BalasHapus
    Balasan
    1. O, ya. Kalau beberapa minggu lalu, pas usai demo itukah? Memang relatif sepi jadinya. Atau, malah pas uji coba rekayasa lalin? Aku COD-an itu pas hari kedua uji coba. Pas Ki Seno Nugroho dimakamkan. Saat itu aku sempat melihat iring-iringannya yang mau ke pemakaman.

      untuk wedang, ayuuklaah. Hubungi aku. Langsung beli di mal malioboro, mirota kampus, atau cabang-cabang raminten juga ada lho.

      Hapus
  9. Huaa, kangen banget sama Jogja! Btw Mbak, di foto itu malioboro keliatan cukup sepi yaa? Jadi bisa puas-puasin foto tanpa perlu ngantri dan berdesakan😊

    Setiap ke Jogja pasti harus ke Malioboro sih. Jalan dari ujung ke ujung, kemudian nyarter delman untuk ke alkid. Lalu minum susu panas atau makan mie disana🤣 Kalau capek ke alkid, yaudah muter-muter aja sambil shopping. Selalu begitu.

    Terimakasih sudah membuatku makin kangen Jogjaaa😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa, itu Malioboro memang sedang relatif sepi sebab sedang ada rekayasa lalu lintas. Jadinya, bebas kendaraan bermotor.


      Hapus
  10. In sya allah nanti aku mau keluar sarang setelah berbulan2 di rumah aja. Mau ke Jogja tapi menghindari keramaian. Mau wisata alami aja jadi kayaknya ga akan ke Malioboro dan titik nol nih hehehehe. Kangen makan sate yang 15K dan wedangnya hhmm.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. O, bener bangeeet. Jangan ke Malioboro dulu. Tapi kalapun wisata alam juga hindari yang padat-padat.

      Hapus
  11. Kalau malam hmm tjakepnya sorotan lampu kuning di gedung BNI dan kantor pos ..., bikin kangen duduk nyantai di trotoarnya.

    Cuman sekarang setelah pandemi ini, aku ngga berani nyoba duduk2 disana.
    Cuma sekedar lewat doang ��.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, klo pandemi ini dan berkerumun, sebaiknya hindari saja. Aku beraninya ke situ pun pas sepi.

      Hapus
  12. Duh mbak, demi apa aku kangen banget sama jogja.
    Terakhir ke joga maret 2019, sebelum hamil, setelah itu hamil trs lahiran trs korona ini hiks hiks..

    Aku waktu itu ke titik 0 juga, terus jalan sampe tugu, karna udah cape banget, ga sanggup jalan balik ke titik 0, akhirnya naik becak 30rb, mahal ya hahahhaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, jalan dari Titik Nol ke Tugu memang jauh. Hahahaha. Lumayan bikin gempor. Apalagi klo sebelumnya sudah jalan juga ke mana-mana.

      BTW gak terlalu mahal juga lah klo tiga puluh ribu dari Tugu ke Titik Nol. Tapi memang murah naik taksi online.


      Hapus
  13. Duhhh. Aku lama banget gak ke nol km mbak. Udah rame belum sih? Kangen suasana malamnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, sudah ramaaaaiiii. Maka aku mencari yang waktu-waktu sepi malahan.

      Hapus

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!