Selasa, 05 Mei 2020

Solo+Imlek+Hujan = Syahdu

Lampion Imlek di seputaran Pasar Gede Solo

... dan kami berteduh di Kedai Kopi Pak Agus ...


SELASA ini, tanggal 5 Mei 2020, para sobat ambyar  benar-benar merasakan keambyaran massal. Iya. Sang Maestro musik campursari, Didi Kempot, kembali ke pangkuan-Nya pagi tadi. Linimasa medsos pun penuh dengan ungkapan bela sungkawa. Mau tidak mau, diriku yang sejatinya juga mengidap keambyaran akut (tapi enggan memproklamasikan diri sebagai sobat ambyar), ikut terbawa suasana. 

Alhasil terjadilah pembelokan tema, untuk up date –an blog yang tayang hari ini. Semula akan menayangkan tulisan bertema bangunan heritage di Yogyakarta, lalu berbelok arah menjadi tulisan beraroma baper semacam ini. Yang sedang kalian baca ini. 

Hmm. Apa hubungan antara kabar duka tersebut dengan pembelokan tema? Lho, lho, lho. Jangan lupa. Solo ‘kan kota asal Lord Didi Kempot? Itulah benang merahnya. Hehehe .... 

Pokoknya apa pun istilahnya, yang jelas kabar duka hari ini bikin aku terkenang pada Solo. Terkhusus saat perayaan Imlek, Januari 2020 lalu. Yang rasanya demikian romantis dan syahduuu.

Jalanan depan pasar selepas hujan

Mereka di sana ....

Entah apa yang membuatku belakangan ini, demikian antusias pada Solo. Kalau sebab kangen pada makanannya, jelas tidak. Kalau sebab pekerjaan, sangat jelas tidak sama sekali. Please, deh. Tolong jangan paksa aku untuk menjawabnya secara tepat. Lhah wong aku sendiri tak tahu. 

Bisa jadi penyebabnya adalah kenangan. Namun, entah kenangan yang mana dan yang seperti apa? Aku bahkan ragu, benarkah aku punya kenangan di Solo atau terhadap Solo? Wah, mbulet.

Sudahlah. Tak penting semua itu. Intinya di sini, aku cuma hendak berbagi perasaan saja. Yakni perasaanku tatkala berkunjung ke Solo tempo hari. Terkhusus di seputaran Pasar gede. Tepatnya ketika perayaan Imlek berlangsung.   


Di depan klenteng bersejarah

Ada apa dengan Imlek dan Solo? Hmm. Ada lampion-lampion dan hujan yang menerbitkan kesyahduan, dong. Plus kisah-kisah unik dan konyol yang kami alami. Salah satunya keterkejutanku saat beli nasi kucing di HIK (di Solo angkringan disebut HIK). Lhah?! Kok ukuran nasinya beneran sedikiiit? Lebih kecil ketimbang nasi kucing di angkringan Jogja.



....

....

Selain cerita tentang nasi kucing, ada pula cerita tentang kami yang nyaris ketinggalan kereta saat hendak pulang ke Jogja. Apa penyebabnya? Tak lain dan tak bukan, penyebabnya adalah kemacetan dan keengganan kami meninggalkan Solo. 

Parah memang. Sebab makin malam suasananya makin syahdu, kami merasa sangaaat berat untuk pulang. Padahal, sudah sejak pagi kami muter-muter di seputar Pasar Gede itu. Ah, Solo. Mengapa perasaanku mesti begini ini terhadapmu? Muehehe ....        


Sebenarnya dua ABG itu yang berfoto, tapi aku iseng nimbrung



Kiranya begini saja celotehan ke-baper-anku kali ini. Semoga (walaupun sedikit dan entah bagaimanapun bentuknya) ada manfaatnya bagi kalian. Semoga pula bisa menginspirasi kalian untuk pergi ke Solo juga. Kelak. Saat pandemi COVID-19 sudah berakhir. Ketika perayaan Imlek tahun depan kembali diselenggarakan.

MORAL CERITA: 
Ternyata hujan tetap menjadi komponen sangat penting untuk menyusun perasaanku!









6 komentar:

  1. Setelah beberapa bulan, akhirnya saya mampir ke blog ini yang selalu mengangkat identitas Kota Yogya. Saya sempat menyangka ibu sudah tidak aktif ngeblog lagi hehe...Menarik kini membahas Kota Solo yang baru saja kehilangan sang maestro Didi Kempot. Ternyata di Solo juga sudah macet ya walau mungkin tidak separah Yogya. Saya pernah ke masjid agung solo yang khas dengan bangunan keratonnya. Semoga saja pandemi Covid-19 segera berakhir dan pariwisata di sana kembali normal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... Masih aktif dong, Oak. Menulis dalam media apa pun rasanya sudah jadi candu nih bagi saya. Hahaha..... Oiya, Solo tatkala itu macet sebab lagi tgl merah dan perayaan imlek ituu...


      BTW sebelum ke tempat lampion, saya pun ke masjid iru dulu...


      Aamiin. Semoga segera berakhir pandemi Covid-19 ini.

      Hapus
  2. Sedih, kita kehilangan maestro...Kempoter yang di Suriname padahal udah nungguin kedatangan Solo Balapan...
    Lampionnya cantik walaupun suasananya syahdu..

    BalasHapus
  3. Ternyata hujan tetap menjadi komponen sangat penting untuk menyusun perasaanku!

    setuju banget, aku juga :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha ...iya, iya, hujan selalu membawa kenangan dan melangutkan perasaan...

      Hapus

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!