Rabu, 03 Februari 2016

HUJAN, HUJAN... GALAU, GALAU...

PAGI ini hujan masih lebat. Padahal seingatku, sudah semenjak malam hujan turun seperti itu. Alhamdulillah. Berarti rahmat-Nya masih tersebar untuk kita semua. Iya. Bukankah hujan itu rahmat? Tentu saja rahmat dari-Nya SWT. Dan hujan pagi, selalu mengirimkan suasana yang liris buatku. Liris yang manis romantis. Liris yang tak bikin miris. Hehehe.... #Lebay-dimulai

Tapi ada satu hal yang menjadi aku agak kepikiran tatkala hujan menderas di pagi hari. Bukan. Bukan soal stok kopi yang kosong. Lalu soal apa, dong? Yeah, soal Adiba yang tentu rempong untuk berangkat ke sekolah. Sebetulnya tak ada yang perlu dirempongkan. Hanya saja, kalau hidup tak dibikin rempong, bukan Adiba namanya. Hahh! #Inilah-yang-sebenarnya-bikin-hidupku-terasa-selalu-hiruk-pikuk

Bagiku sih hanya ada dua opsi. Pertama, tetap berangkat sekolah dengan bersepeda dan memakai jas hujan. Kedua, jika ogah memakai jas hujan silakan membolos. Tapi tentunya, hidup sungguh tak pernah sesimpel yang kuidamkan. Adiba menolak mentah-mentah kedua opsi tersebut. Jangan lupa prinsipnya tadi; kalau bisa dibikin rempong, kenapa dibikin simpel? 

Oke. Dan kali ini, Adiba keukeuh mau tetap ke sekolah naik sepeda (supaya pulangnya bisa mampir-mampir). Tapi... tanpa jas hujan namun tidak basah kuyup. Huhh! Sungguh kemauan yang mustahil dan tak masuk akal. 

Walaupun telah sering menghadapi situasi serupa, rasa kesal tetap menghinggapiku jua. Duh! Sabar, sabar. Alhamdulillah aku bisa mengontrol hati. Tak sampai menyesali hujan yang turun di pagi ini. Justru aku mati-matian meluruskan tiap gerutuan Adiba yang mengeluhkan hujan.... #Jadi-ingat-kisah-Mbak-Yosi-dan-Zahra-yang-ingin-es-krim

Maka yang ada, aku kemudian berorasi pagi di depan pintu dapur yang terbuka lebar. Berorasi tentang hujan, rahmat Allah SWT yang turun bersama hujan, jas hujan kami yang setumpuk, kegemaran Adiba main hujan.... Ah! Jatuh-jatuhnya malah menjadi opera pagi di hari nan basah, bukan?

Walhasil tatkala pukul tujuh pagi kurang seperempat, aku mantap berkata, "Lihatlah, Nak. Pakailah jaket pink ini. Pakaikan di ranselmu. Kasihan buku-bukumu. Kamunya basah gak masalah. Toh suka hujan-hujanan. Iya 'kan? Kalau memang mau berangkat, yuk sekarang saja. Mumpung hujannya tak terlalu lebat lagi. Atau, bolos saja? Ini penawaran terakhir." #Malah-jadinya-kayak-brosur-Oriflame

Adiba bergeming di tepi teras yang minim. Aku tinggalkan ia sejenak untuk menyeruput kopi pagiku, yang rupanya telah mendingin bersama waktu. Tatkala aku balik ke depan pintu dapur, oh la la! Adiba malah hujan-hujan. Maka spontan aku bilang, "Oke. Kamu hujan-hujanan. Berarti harus segera berangkat agar tak telat. Sana. Keburu hujannya deras lagi."

Adiba nyengir kuda. Segera memakaikan jaket ke ranselnya. Buru-buru mengajakku salaman dan langsung melesat dengan sepedanya. Aku berlari-lari kecil mengejarnya, demi menatapnya hingga hilang di kelokan jalan. Cuaca temaram, jalanan kampung pun sunyi sebab hujan memang belumlah benar-benar berhenti. Huft. Kok dramatis sekali jadinya. Ini seperti adegan pada sebuah sinetron lebay. Hahaha....

MORAL CERITA:
Jangan biarkan anak Anda membenci hujan dan berpikir bahwa hujan adalah penghalang. Sekali-sekali jangan! Mengapa? Sebab hujan adalah rahmat-Nya.  



2 komentar:

  1. Jangan biarkan anak anda membenci hujan dan berpikir bahwa hujan adalah penghalang.
    Mungkin tanpa sengaja, kita, eh saya ding, sering mengeluh ketika hujan. Perlu diadakan revolusi mental untuk mencintai hujan! Hehe.

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!