Minggu, 24 Januari 2016

KI SENO NUGROHO

Maaf, berhubung aku tak punya foto Ki Seno Nugroho, terpaksa yang kupasang di sini adalah fotoku sendiri. 'Kan aku pose bersama wayang? Lalu, aku punya teman bernama Seno. Adikku pun bernama Nugroho. Jadi, othak athik gathuk, cucok lah yaaa... #maksabanget.com

MENGAPA tetiba pagi ini aku menulis tentang Ki Seno Nugroho? Siapakah gerangan dia? Dia adalah seorang dalang muda tenar dari Yogyakarta. Ki Seno Nugroho.adalah putra dari almarhum Ki Suparman, seorang dalang juga. Namun rupanya, ketenaran Ki Suparman terlampau oleh sang putra. Wah, berarti Ki Suparman sukses sebagai dalang. Dia mampu melahirkan tunas dalang baru yang lebih mumpuni. Iya toh?

Aku punya catatan tersendiri di hati tentang kedua dalang tersebut. Ehem. Sebetulnya yang lebih tercatat di hatiku sih Ki Seno Nugroho. Woww? Ini alasannya. Pertama, dia tampan (yaiyalah, dia pria tulen). Kedua, dia seusia denganku; tahun lahir kami sama (Nek podho njuk ngopo?). Ketiga, semasa masih anak-anak dia sudah sering pentas sebagai dalang cilik. Cakep 'kan prestasinya? Sementara Ki Suparman ikut tercatat khusus di hatiku sebab dia merupakan ayah kandung dari Ki Seno Nugroho. Hehehe....

Aku sih tak paham wayang kulit beserta para dalangnya. Cuma tahu beberapa dalang kondang saja. Dan, sungguh pengetahuanku tentang mereka tak sebaik pengetahuanku tentang Ki Suparman dan Ki Seno Nugroho. Padahal, pengetahuan tentang Ki Suparman dan Ki Seno Nugroho pun masih amat dangkal. Nah, lho!

Kalau memang masih dangkal, kenapa sok-sokan menulis dengan judul "Ki Seno Nugroho"? Apa sedang terkenang masa lalu. Jiahhh hahaha.... Tidak lah yauw! Kalian yang mengenalku secara pribadi kayaknya berpotensi menuduhku begitu, deh. Padahal sebenarnya, aku enggak tahu juga sih gimana perasaanku. Lho? Lho, lho, lho? :D :D :D

Tenang, tenang. Aku bikin tulisan ini bagaimanapun bisa dibilang sebab terkenang pada masa lalu. Tapi bukan masa lalu pribadi, lho. Masa lalu yang kumaksudkan adalah masa lalu yang terkait pekerjaanku sebagai editor. Dulu itu, aku bertanggung jawab penuh atas proses pracetak sebuah buku karya Faruk HT. Judulnya Kelir Tanpa Batas.

Nah, melalui naskah yang kuedit itulah aku berkenalan intensif dengan Ki Suparman dan Ki Seno Nugroho. Apalagi bab yang membahas tentang Ki Seno Nugroho memang panjang lebar. Terlebih lagi, nama "Seno Nugroho" sendiri merupakan perpaduan dari nama kakak ipar dan adik ipar. Yang mana keduanya sangat berbeda haluan pemikiran dan kehidupan. Maaf, ini sih OOT. Cut di sini ya soal kakak ipar-adik ipar. Yoi bro-bri...Hihihi  :P   

Oke. Balik lagi pada Ki Seno Nugroho. Beberapa tahun kemudian, tatkala Adibaku lahir, aku tak lagi jadi editor. Tapi ingatan dan pengetahuan tentang kedua dalang anak beranak itu tak pernah tercecer dari otakku. Hingga suatu ketika, seorang tetangga yang gemar nonton wayang ngobrol denganku. Kala itu dia bercerita kalau Ki Seno Nugroho semalam pentas di kecamatan sebelah.

Demi mendengar nama itu disebut, aku langsung teringat Kelir Tanpa Batas. Kataku, "Budhe, Seno Nugroho itu 'kan masih muda?"

"Wooww. Iyo, Mbak. Nom lan bagus. Mantep tenan nek ndhalang," sahut tetanggaku penuh semangat.

"Anaknya Ki Suparman 'kan ya?"

"Iyo, Mbak. Bener. Wah! Jebule sampeyan yo seneng wayang tho?" Maka bla-bla-bla beliau terus mencerocos tentang Ki Suparman, Ki Seno  Nugroho berikut kemudaan dan kegantengannya, jumlah uang yang mesti dibayarkan bila hendak mengundang Ki Seno Nugroho, juga tentang para tokoh wayang. Nah, lho. Yang terakhir ini bikin aku kebanyakan melempar senyum GJ sebab gak paham.

Dan sejak saat itu, si budhe penggemar wayang itu amat meyakini bahwa aku adalah partner terbaiknya untuk diajak ngobrol tentang wayang. Dia puji aku sebab mau menyukai wayang walaupun masih berusia muda. Muda dan suka wayang itu langka menurutnya. OMG! Aku jadi gak enak sendiri.

Tapi mau bagaimana lagi? Buktinya di antara para ibu yang lainnya, akulah yang paling nyambung bila diajak bicara tentang dalang dan wayang. Huft! Walaupun kutolak pujiannya dengan mengatakan bahwa sebenarnya pengetahuanku minimal banget tentang wayang, si budhe gak percaya. Malah berpikir bahwa aku ini sedang merendahkan hati. Wah!

MORAL CERITA:
  • Orang-orang bisa salah duga terhadap kita. Menganggap kita X, padahal kita sesungguhnya Y. Bila dugaan itu meleset dari kenyataan, tenang saja. 
  • Kita diduga lebih buruk daripada kenyataannya? Tak usah gusar. Waktu dan semesta akan bicara tentang kebenarannya.
  • Kita diduga lebih baik daripada kenyataannya? Awas, hati-hati! Jangan besar kepala! Justru jadikan itu sebagai sebuah pemicu untuk lebih memperbaiki dri. Anggap saja itu doa dan penyemangat dari mereka, supaya kita menjadi manusia yang lebih cucok di hadapan-Nya.    

*Tulisan ini kubuat sebab semalam Ki Seno Nugroho pentas di dusun sebelah. Kebetulan dusun sebelah yang merupakan anggota paguyuban penggemar Ki Seno Nugroho ketiban giliran ngundhuh
*Adiba diajak nonton wayang ke kampung sebelah. Saat izin kepadaku, kubilang dalangnya Ki Seno Nugroho. Itu perpaduan nama ayahmu dan om kamu. "Ah, perpaduan nama orang-orang aneh," sahut Adiba sembari memakai kerudung. Dasssaaarrr.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!