HALO, Sobat Pikiran Positif? Semoga dirimu dalam kondisi baik. Sehat lahir dan batin. Kaki dan tangan bisa leluasa digerakkan tanpa kurang suatu apa.
Jangan tiru aku, ya. Gara-gara kurang olahraga dan pola makan tak sehat, plus asupan air minumnya dingiiin melulu, tubuhku protes. Terkhusus bagian kaki kanan nih yang protes.
Protesnya gini. Dalam suatu aktivitas keseharian, aku salah gerakan. Tidak sampai jatuh. Eh? Apa sih, istilahnya? Salah tumpuan gerakan? Hmm. Pokoknya gitulah, ya. I think you know what I mean deeeh.
Tidak sampai jatuh. Tidak pula sampai ada suara kreeek atau yang sejenisnya. Bahkan sesungguhnya, aku tidak tahu kapan kejadiannya.Tahu-tahu si kaki sakit saja.
Mula-mula sakitnya masih tertahankan. Aku masih ke sana kemari. Kemudian tibalah malam itu, yakni bakda Isya yang kelabu.
Usai Magriban di musala aku sempat omong-omong ke tetangga saat perjalanan pulang. Kubilang kalau kakiku makin sakit. Dia merespons, "Lha piye? Periksa ke dokter sajakah?"
Idenya baik dan benar. Namun, aku takut ke dokter. Tentu saja aku tidak menjalankan ide tersebut. Hehe ...
Konyolnya, aku menunggu keajaiban. Siapa tahu bangun tidur esok hari mendadak sembuh? Sungguh sebuah harapan kosong. Sampai 2 minggu berlalu, tak ada perubahan menuju sembuh.
Apa boleh buat? Bagian lutut dan sekitarnya tetap aduhai sakit jika digerakkan. Automatis tidak leluasa berjalan, sampai-sampai nyaris tak sanggup berjalan.
Itulah yang bikin aku hilang dari peredaran jalanan kampung. Menyebabkan para tetangga bertanya-tanya. Ada apakah gerangan denganku yang mendadak menghilang? Padahal biasa sluman-slumun ngiderin kampung? Hehe ...
Jangankan ngiderin kampung. Berjalan kaki ke musala yang cuma beberapa meter saja tidak sanggup. Alhasil, ada banyak hal/acara yang aku lewatkan. Terpaksa bangeeet.
Kakiku betul-betul tak kuat diajak melangkah. Sementara sepanjang Agustus, di sekitaran Titik Nol Yogyakarta dan Malioboro ada banyaaak kegiatan menarik. Termasuk gelaran Pesta HUT Komunitas Agus-Agus.
Jangankan acara Agustusan yang digelar pemkot dan pemprov. Yang digelar pengurus RW tempatku berdomisili saja, aku tak kuasa ikut. Jompo banget deh rasanya. Heu heu heu ...
Singkat cerita di tengah kesakitanku, seorang teman chatt WA. Saat ditanya tentang kabar, entah kenapa aku menjawab jujur. Lalu dia tegas menyatakan kalau esok hari akan menjemputku, untuk mengantarkanku ke ahli urut atlet.
Syukurlah aku tatkala itu menurut. Alhasil, sakitku teratasi. Ketahuanlah bahwa penderitaanku itu akumulasi dari jatuh-jatuh selama 15 tahun sebelumnya. Jatuh yang menimbulkan cedera di tempat sama.
Dahulu tubuh mudaku masih tangguh. Kondisinya pun pasti sedang sehat. Cukup nutrisi dan aktivitas fisik yang menyehatkan. Jadi, cedera ringan lewat saja nyerinya.
Tempo hari aku salah gerakan dalam kondisi tubuh buruk. Dalam usia yang telah menua pula. Ya sudah. Hasilnya fatal begitu. Syukurlah aku manut untuk segera diurut. Jika nekad dibiarkan tanpa solusi, konon bisa saraf kejepit. Duh, seram.
Demikian cerita tentang kengambekan kaki kananku. Jujur bikin kapok. Demi memperbaiki metabolisme tubuh sehingga recovery otot berjalan cepat, aku bertekad patuh pada semua anjuran si bapak yang mengurut.
Aku pun berjanji pada diriku sendiri, "Harus banyak minum air segar dan tidak dingin!" Ini yang kupikir terpenting bagiku. Aku kerap lalai dengan kecukupan asupan air minum. Sekalinya ingat untuk minum, malah pilih minum air dingin atau es apalah-apalah.
Janji berikutnya berderet, dong. Harus memperbanyak konsumsi sayur dan buah, meminimalkan konsumsi gorengan dan makanan berminyak, serta membatasi konsumsi daging merah.
Oke, oke. Untuk diet makanan dan memperbanyak minum air relatif gampang dikendalikanlah, ya. Yang sulit itu anjuran, "Jangan sampai jatuh atau cedera lagi."
Hmm. Itu berarti aku wajib memperhalus gerakan dalam aktivitas keseharian. Tak boleh pethakilan. Tak boleh buru-buru supaya tak kesandung atau kejengkang.
Baiklah, baiklah. Kiranya takdirku memang harus menjadi sehalus putri kerajaan buaya darat. Lagi pula, aku tetanggaan dengan Sultan Yogyakarta. Wajarlah ya, kalau aku mesti berperilaku serba halus.
Moral ceritanya, bisa berjalan kaki dengan lancar tak kurang suatu apa adalah karunia besar. Akan tetapi, kerap kita lalai untuk mensyukurinya. Baru terasa kalau itu karunia besar bila sudah sakit kayak aku gini heu heu ...
Ya Allah, aku tidak mau kaki sakitku ini diganti dengan kimpul. Cukup nasiku saja yang sesekali kuganti kimpul. Haha!
Oalah mbaaak...memang usia sekita ini jangan pethakilan. Ayo kita pelan2 aja. Aku ya sakit dlamakan sikil. Banyak2 istirahat ae ra ngaya...smoga Allah sehatkan kita sampai akhir usia...aamiin...
BalasHapusAaamin yra
HapusBaca judulnya saja auto kebayang Ibu Kimpul, kwkwkwk! Kreatif banget judulnya, bikin penasaran dan akhirnya saya langsung ingin tahu cerita di balik “kakiku jangan diganti kimpul”. Semoga saat ini dan seterusnya kaki Mbak selalu baik-baik saja, sehat, dan tetap bisa diajak ke mana-mana tanpa drama. Aamiin.
BalasHapusAamiin yra. Hahaja iya nih, Mbak. Pas ngasih judul aku pun terbayang ibu kimpul.
HapusAwalnya aku kira “kimpul” di judul itu ngomongin makanan, ternyata malah cerita soal kaki. 😂 Jadi penasaran juga sama kejadian yang dialami sampai muncul kalimat “Kakiku Jangan Diganti Kimpul”. Ternyata hal sederhana soal kaki bisa jadi cerita yang seru juga ya! Eh, tapi 2 minggu ga sesederhana itu hihihih :D Sehat2 selalu kakinya mbak, jaga baik2. Nanti kalau udah enakan lagi, olahraga lebih rutin ya :D
BalasHapusHahahaha terinspirasinya sih oleh bahan pangan ya hahahha
HapusKalau aku jarang jatuh yang kelipet gitu kaki. Lebih sering jari kaki yang kesandung. Entah kusen pintu, kaki meja, atau benda kokoh lainnya. setelah kesenggol cuma bisa meringis dikit. Mau teriak udah malu karena sudah besar. Sehat selalu, mbak.
BalasHapusWalah nyandung-nyandung gitu, ya. Semoga kita semua gak lagi nabrak-nabrak apa pun, sehat selalu.
HapusHehehe terkimpul kimpul, selalu hati2 dimanapun mba selalu dalam lindungan amin
BalasHapusAamiin YRA
Hapusikut ngilu sekaligus lega pas tau akhirnya udah mau ke tukang urut! Memang ya, makin berumur tuh tubuh makin pinter "mencatat" dosa-dosa cedera masa lalu. Kita kira udah sembuh, eh ternyata cuma numpuk dan meledak pas salah gerakan dikit.
BalasHapusSemoga lekas pulih total ya! Beneran deh, turuti anjuran si bapak urutnya, kurangi es, dan jangan pethakilan dulu biar gak berubah jadi kimpul beneran.
Terima kasih atas doanya, ya
HapusWas was banget pasti kalo terkimpul kakimu ya kak. Tapi perlu diobati dan moga aja lekas sembuh ya kak
BalasHapusAamiin YRA.
HapusSama seperti yang saya rasakan saat ini, Mbak. Lutut terkadang masih suka rewel pasca cedera. Memang jadinya harus lebih berhati-hati beraktivitas termasuk menjaga berat badan. Memang nikmat banget ya ketika kaki masih sehat. Masih bersahabat diajak ke mana-mana.
BalasHapusIya Mbak, baru tersadar betul sekarang pas sakit.
HapusKakinya mbak kecengklak kah? Kadang kalau sakit kaki itu emang ngira nya bakalan sembuh dengan sendirinya ternyata tetap nggak dan solusi utama urut atau ke dokter.
BalasHapusSemoga menjadi pembelajaran berharga dan semangat terapkan hidup sehat ya supaya tetap bisa ngiderin kampung.
Iya, kwcengklak ini. Makasih doanya.
HapusJujur awalnya mau ketawa baca judul tulisannya, Mbak. Lucu dan menghibur. Hahaha. Semoga lekas sembuh ya kakinya dan jadi pelajaran berharga untuk ke depannya. Pengingat juga bagi saya untuk hidup lebih sehat. Semangat!
BalasHapusHehe ketawa aja, Mas.😄😄
HapusGokil dan dalam banget ini! Penulisnya sukses mengemas perenungan budaya, filosofi pangan, dan kritik sosial lewat analogi kimpul serta kaki yang luar biasa unik. Gaya bahasanya renyah khas Jogja, mengalir santai, tapi tiap barisnya nendang banget buat nyentil gaya hidup modern yang makin serba instan. Beneran bacaan berkelas yang sukses bikin sel-sel otak saya bergetar merenungi arti identitas dan jati diri. Mantap betul ulasannya! 👍
BalasHapusHmm. Komentarnya berlebihan dan tidak manusiawi.
Hapus