Jumat, 28 September 2018

Seru-seruan di Kedung Pedut (2)

SESUAI dengan janjiku, inilah bagian (2) dari tulisan mengenai Kedung Pedut. Alhasil dengan terpublikasikannya tulisan ini, berarti tunai sudah janjiku. Lunas tuntas tas-tas. Haha! 

Eksotis Biru Toska

Kedung Pedut memang air terjun eksotis yang menghiasi Pegunungan Menoreh. Itulah sebabnya banyak orang yang niat banget untuk mengunjunginya. Lokasi yang agak tersembunyi pun tak jadi soal. Tak menyurutkan niat untuk menyeret langkah ke situ. Seperti halnya dua cowok tampan dari Jakarta itu. 

******Kisah dua cowok tersebut bisa dibaca di Seru-seruan di Kedung Pedut (1)

Lalu, apa yang biru toska? Hmmm. Yang biru toska tuh air terjun Kedung Pedut. Tahukah kalian? Daya tarik utama Kedung Pedut memang warna biru toska air terjunnya.

Menurut penelitian, warna biru toska itu berasal dari pantulan sinar matahari yang mengenai pecahan bebatuan. Yakni pecahan bebatuan dari Pegunungan Menoreh. Jadi sesungguhnya, menurutku, warna asli air terjun Kedung Pedut ya sebagaimana warna air pada umumnya. 

Lima Kedung

Kedung Pedut terdiri atas lima kedung (kolam). Kelimanya adalah Kedung Anyes, Kedung Lanang, Kedung Wedok, Kedung Merak, dan Kedung Merang. Lalu, di manakah Kedung Pedut yang dijadikan nama? Nah, itu dia. Kedung Pedut itu ya Kedung Wedok. 

Kelima kedung tersebut memiliki kedalaman yang berlainan. Tapi rata-rata sekitar 2-5 meter. Tak begitu dalam ya, sebenarnya? Tapi kuduga, orang-orang yang tak mahir berenang pasti mikir dua kali untuk nyemplung. Termasuk aku tentunya. Apalagi kalau usai hujan deras. Aliran air kedungnya kian deras juga, ciiiin.

O, ya. Kedung Anyes dan Kedung Wedok (Kedung Pedut) adalah dua kedung yang biasa dipakai untuk mandi-mandi. Yang bikin lebih seru, ada air terjun setinggi 15 meter di Kedung Wedok. Hmm. Kebayang syahdunya 'kan?

Narsis di Ketinggian

Pada bagian (1) telah kuceritakan tentang wahana permainan yang tersedia di Kedung Pedut. Yang parahnya, tak satu pun yang aku (dan rombonganku) coba. Situasi dan kondisi TKP pasca hujan deras ternyata menciutkan nyali kami. Haha! Maka supaya kunjungan kami tetap sah, mendokumentasikan kenarsisan diri di spot ikonik Kedung Pedut kujadikan keharusan.

Adiba (adikku lho, iniiih ...) kupaksa narsis juga. Syukurlah dia mau tanpa negosiasi alot. Biasanya dia susah banget kalau kuminta untuk berpose. Mungkin tatkala itu dia mendapatkan semacam bisikan pencerahan. Yakni bisikan tentang betapa pentingnya mendokumentasikan diri di Kedung Pedut. Kelak bisa menjadi (semacam) prasasti pribadi. Hehehe  ....

Sudah pasti kami memanfaatkan jasa potret Kedung Pedut, dooong. Supaya hasilnya uhuyyy. Dan faktanya, lihatlah foto-foto berikut. Memang keren 'kan?




Banyak teman yang merasa ngeri saat melihat kakinya yang menjuntai ke jurang itu. Tapi Adiba tampaknya santai saja tuuuh. Cool. Sama cool dengan saat kuomeli. Hihihi ....




Pose duduk yang satunya ini pun tak kalah keren. Kupikir-pikir kok malah seperti nongkrong di pinggir jalan kampung. Semacam sedang menunggu tukang bakso lewat.






Lain pula gaya Adiba ketika berdiri. Tampak malu-malu harimau, tapi tetap luwes. Iya, lho. Luwes. Coba bandingkan saja dengan gayaku. Malu-malu harimaunya senada. Namun level keluwesannya, kuakui memang beda. Haha! 






Demi memiliki dua foto di atas, aku harus melawan sederet rasa takut. Mula-mula yang kulawan adalah rasa takut kepleset tatkala memanjat. Iya, lhooo. Sebelum nangkring cantik di situ aku mesti memanjat dulu sekian meter. Sudahlah anak tangganya sempit dan licin, masih pula tanjakannya curam. Pegangannya hanya ada di satu sisi. Pastilah juga licin. Usai hujan deras, ciiin.

Aku memang tidak fobia ketinggian. Tapi tetap saja ada rasa degdegsyer manakala berada di ketinggian. Apalagi kalau kemudian memandang ke bawah (dan serasa bersirobok dengan matamu hihihi .... ). 

Bidang yang menjadi ajang beraksi pun tak luas. Tuh, perhatikan saja bidang yang kuinjak itu. Kalau petakilan bisa-bisa kepleset hingga pinggir. Huft. Kalau bablas jatuh gimana? Maka sebagai antisipasi, tiap yang hendak narsis di situ wajib diikat. Bukan dengan tali kerinduan, melainkan dengan tali beneran. 




Baiklah. Kukira sudah tiba saatnya bagiku untuk mengakhiri cerita ini. Sebuah cerita yang mudah-mudahan bermanfaat bagi kalian. Terkhusus kalian yang berencana untuk mengunjungi Kedung Pedut ini.


MORAL CERITA:
Piknik pun bisa menjadi ajang uji nyali. Yekan?







12 komentar:

  1. Serem banget mba foto-foto di ketinggian, liatnya aja udah gemetar rasanya hahaha

    BalasHapus
  2. hehehe....
    terima kasih, akhirnya komplit tulisannya.

    BalasHapus
  3. mbak brani amat foto di pinggir gitu. ngeri liatnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Demi dokumentasi harus berani, Mbaaak... Hehehe

      Hapus
  4. sekedar berkunjung.
    ngecek mana tahu ada tulisan baru. hehehe

    # Terima kasih sudah mau mampir ke blogger saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duuh jadi maluuu... Hehehe. Di blog ini belum ada postinganan baru, tapi di blog satunya ada. Di rakbukutinbe.blogspot.com

      Hapus
  5. Gayanya sama-sama cool kok...Yang satu stay cool, yang lain cool(kas)...kwkwkw #kabooor

    BalasHapus
  6. Aku belum kesampaian mampir sini... cuma lewat terus... huhuhu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sabar, kaaak, suatu saat kelak pasti kan ada kesempatan untuk mampiiiir

      Hapus

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!

 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template