Sabtu, 21 Oktober 2017

Jogja dan Sepeda Onthel

PASTI Anda sekalian mafhum bahwa Jogja punya banyak sebutan. Salah satu di antaranya sebagai Kota Sepeda. Hmmm. Bila Anda bukan asli Jogja, tak sejak lahir tinggal di Jogja, dan tak paham sejarah transportasi Jogja, tentu akan merasa heran. "Kok bisa disebut Kota Sepeda? Jalanannya saja dipenuhi sepeda motor dan mobil?"

Ada tanda bahwa sepeda onthel boleh lewat. Tapi kendaraan bermotor tetap yang jadi juaranya. Tuh 'kaaan. Mana sepeda onthelnya?


Baiklah. Keheranan tersebut aku maklumi. Sebab faktanya, kini sepeda (khususnya sepeda onthel) memang terpinggirkan. Terlebih ketika slogan sego segawe tidak lagi dijadikan slogan resmi. Yeah! Makin terpuruk saja nasib si sepeda onthel. Hehehe .... Sedikit lebay ya, istilahku? 

O, ya. Tentang slogan sego segawe bisa dibaca penjelasannya di Hepi Betdei, Jogja. Plis, bacalah. Supaya kian paham maksud dari tulisan ini. Oke?

Langka di Jalanan

Apa boleh buat? Pada zaman now, eh, pada zaman sekarang sepeda onthel memang langka di jalanan Jogja. Apalagi tatkala hari kerja. Terlebih lagi pada saat liburan, ketika orang-orang dari luar Jogja tumplek blek memenuhi aneka destinasi wisata di Jogja. 

Sedikit lain situasinya bilamana hari Ahad. Yakni saat orang-orang sepedaan keliling kota. Atau, manakala ada pawai sepeda onthel. Atau, ketika ada komunitas sepeda onthel yang sedang punya gawe. Atau, sedang ada acara semacam karnaval yang melibatkan komunitas sepeda onthel.



Kalau yang ini sih, komunitas sepeda anak-anak ....

Mengingat kelangkaannya di jalanan itu, masihkah predikat Kota Sepeda layak disematkan kepada Jogja?  Oops! Jangan salah. Eksistensi sepeda onthel di jalanan Jogja memang tak sedahsyat pada era 1970-an dan 1980-an. Yakni era ketika populasi sepeda onthel mengungguli populasi kendaraan bermotor. Akan tetapi hingga saat ini, terbukti bahwa sepeda onthel tak ada matinya di Jogja.

Segelintir orang masih setia bersepeda onthel demi menempuh jarak yang dekat-dekat. Yang tidak begitu jauh tujuannya. Dengan berbagai alasan yang melatarbelakanginya. Salah satunya aku ....


Ini lho, sepedakuuu!

Kalau yang ini sepeda sewaan yang disediakan oleh Hotel Santika

Bolehlah dibilang bahwa predikat Kota Sepeda yang tersemat pada Jogja terselamatkan oleh segelintir pesepeda onthel itu. Tentunya juga oleh komunitas-komunitas sepeda onthel yang lumayan menjamur di Jogja. Hmmm. Jogja gitu, lho. Selalu punya cara untuk mempertahankan sebuah hubungan, eh, predikat ....

Pendek kata, Jogja wajib berterima kasih kepada para pesepeda mania itu. Meskipun tidak secara massal, keaktifan mereka menaiki sepeda onthel sangat berarti bagi Jogja si Kota Sepeda. Coba saja para pesepeda onthel punah 100 %. Predikat Kota Sepeda itu serta-merta akan menjadi pepesan kosong, dong.

Menjadi Aksesoris dan Destinasi Wisata

Eksistensi sepeda onthel boleh tergerus di jalanan Jogja. Tapi tidak demikian halnya dengan eksistensinya di kafe, resto, dan toko. Tahukah Anda? Justru di tempat-tempat tersebut sepeda onthel nyaris menjadi pujaan hati tiap insan. *Halah*

Yup! Sepeda onthel kini memang tak lagi merajai jalanan Jogja. Tapi Anda tak usah terlampau galau jika sekadar ingin melihatnya. Masih banyak kok sepeda onthel yang mejeng di beberapa tempat sebagai pelengkap berfoto. Wis, tho. Jangan khawatir. Sepeda onthel sekarang pun instagramable, kok.

 
Sepeda onthel saja didandani dengan pita lebar. Masak sih, dirimu enggak? (di SMKN 1 Sewon)
Pokoknya bergaya dengan sepeda (di SMKN 1 Sewon)

Lihatlah. Betapa sepeda onthel yang menjadi point of view. Bukan dua oknum yang terlihat di foto itu. Haha!

Selanjutnya, mari kita cermati dua foto berikut. Walaupun tanpa pita centil lebar, si sepeda onthel tetaplah didandani maksimal untuk tampil. Maksudnya tampil sebagai aksesoris di sebuah resto.



Aksesoris sepeda onthel di Resto Jejamuran

Sebagai aksesoris = siap menjadi spot foto

O, ya. Ada satu lagi sepeda onthel yang menjadi aksesoris. Yakni yang terdapat di Yogyatorium. Lihatlah foto di bawah itu. Sadel dan stangnya berjarak amat panjaaaaang 'kan? Maklum saja. 'Kan difungsikan sebagai gantungan kaus yang dijual. Hehehe ....  

**Kalau ingin tahu apa saja yang ada di Yogyatorium bisa dibaca dulu tulisan ini Asyiknya di Yogyatorium*


Kira-kira apa ya yang ada di benak kedua anak tersebut?

Lalu, bagaimana kisah sepeda onthel yang menjadi destinasi wisata? Oh! Tentu amat keren, dong. Para wisatawan yang berkunjung ke Jogja bisa mengikuti paket wisata sepedaan keliling spot-spot menarik dan bersejarah. Waktu sepedaannya pun bisa memilih. Tatkala hari terang oleh matahari atau ketika malam-malam yang disakralkan oleh sebagian masyarakat. Nah, lho! Keren toh?

Demikian sekelumit (namun agak panjang) catatan tentang eksistensi sepeda onthel di Jogja. Kiranya bisa menambah pengetahuan Anda mengenai Jogja. Dan, semoga Anda sekalian bahagia sebab membacanya. 

MORAL CERITA:
Bagaimanapun bentuk metamorfosisnya, sepeda onthel di Jogja selalu punya cara untuk eksis.


  

9 komentar:

  1. ngomongin sepeda onthel, kemarin dan hari ini (20-21/10) ada event Jogja Republik Onthel di Benteng Vendeburg.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mas, tulisan ini memang terinspirasi oleh acara itu

      Hapus
    2. Iya, Mas, tulisan ini memang terinspirasi oleh acara itu

      Hapus
  2. Jogja dan sepeda dulu memang tak berjeda. Paling tidak kini ada event yang masih rutin diadakan untuk membudayakannya lagi..:)

    BalasHapus
  3. Yoii mbaakk...22 okt kmaren dideklarasikan Jogja Republik Onthel

    BalasHapus
  4. Aku unya keinginan untuk memiliki sepeda onthel tapi sampai sekarang belum bisa beli lagi, Bun...

    BalasHapus
    Balasan
    1. weihhh, onthelmu yang lama dikemanakan??

      Hapus
    2. Ane tak punya ontheiiiilll bun. Terakhir punya saat SMP. Sekarang kemana-kemana pakai kendaraan mesin....

      Hapus
    3. weih, kebiasaan orang zaman now

      Hapus

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!

 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template