Jumat, 01 September 2017

Secuil Catatan Tentang Agustusku Tahun Ini


SELESAI sudah Agustus. Tepatnya Agustus 2017. Dan, tuntas sudah aneka diskonan merah putih di berbagai pusat perbelanjaan. Di beberapa tempat wisata juga. Hmmm. Tentu untuk menuju diskonan dengan tema yang lainnya. Yang sesuai dengan situasi-kondisi-tema bulan September. Biasanya begitu 'kan?

Entah mengapa, aku juga merasa barusan lepas dari ingar-bingar Agustus. Haha! Sekali lagi, entahlah apa penyebabnya. Kok bisa begitu, ya? Lebay plus alay deh, kesannya.

Mungkin sebab aku amat menghayati bahwa Agustus merupakan bulan kelahiranku. Jadi mau tak mau, ada semacam situasi batin yang hip hip hura. Ulang tahun 'kan pada umumnya meriah bin ingar-bingar? Haha! 

Padahal sesungguhnya, aku tak pernah punya pesta ulang tahun. Ih, boro-boro punya pesta ulang tahun. Ada orang yang ingat hari ulang tahunku saja aku sudah bahagia. Ya Allah, Ya Tuhanku. Sampai sebegitu pilunya deh, hidupku. Hiks, hiks, hiks .... 

Baiklah. Mari kembali ke judul, yaitu "Secuil Catatan Tentang Agustusku Tahun Ini." Ada apa dengan Agustus tahun 2017 ini? Secuil catatan apa yang kudapat dari bulan tersebut? Kiranya selembar undangan di bawah inilah yang menjadi jawabannya.


Selembar Undangan Malam Pentas Seni Agustusan buatku dari Panitia Agustusan RW 13 Kauman, tempat tinggal baruku (pas Agustus baru sebulan aku tinggal di situ)

Alhamdulillah. Dengan diundang seperti itu, aku berani bilang bahwa kehadiranku diterima secara baik. Berarti sebagai warga baru, aku cukup dikenal. Uhuuuyyy. AKU DITERIMA DENGAN BAIK. Bukankah itu merupakan sesuatu yang bagus?

Dan sesungguhnya, penerimaan baik tersebut merupakan sebuah keharusan. Masak sih, sesama bangsa Indonesia kok pakai acara saling menolak? Apalagi aku seorang muslim, sementara kampung baruku jelas-jelas merupakan basis salah satu ormas Islam besar di Indonesia. 

Yeah? Meskipun aku bukanlah kader ataupun simpatisan dari ormas tersebut, tak jadi soal toh? Meskipun warna keislamanku tak persis sama dengan mereka, itu pun tak menjadi masalah. Iya 'kan?  

MORAL CERITA:
Indonesia itu majemuk, penuh warna, sehingga masing-masing dari warganya mesti mampu saling menerima. 



2 komentar:

  1. Yep, setuju! Intinya saling menerima, meskipun tak selalu mengikuti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yoiii, buuuk, kedepankan persamaan....

      Hapus

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!

 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template