Minggu, 20 November 2016

Waspadai Setan Konsumerisme

HARI-HATI dengan rayuan maut si setan konsumerisme. Serius ini. Rayuan mautnya sangat memabukkan, lho. Tidak main-main. Bila sekali dua kali Anda menurutinya, lama-kelamaan bisa terjerat untuk selamanya. Susah melepaskan diri. Menjadi ketagihan tak berujung. Lagi, lagi, dan lagi. Ujung-ujungnya si setan konsumerisme bikin kita jadi makhluk konsumtif.

Apa sih arti konsumerisme? Secara mudahnya, konsumerisme adalah membeli sesuatu tidak berdasarkan kebutuhan. Camkan baik-baik: tidak berdasarkan kebutuhan. Berarti sebenarnya tidak butuh, tapi nekad beli. Alasannya bermacam-macam. Mungkin supaya dianggap kaya raya. Bisa pula sekadar ikut-ikutan teman. Atau, sebab takut dianggap kuno bila tak punya barang-barang yang  up to date. Atau, sebab mudah tergiur diskon besar.

Sekarang Anda ingat-ingat, ya. Apakah Anda termasuk pengejar barang diskonan di mal atau di mana pun? Tanpa peduli bahwa yang sedang diskon besar itu sesungguhnya tidak/belum Anda butuhkan? Apakah tiap bulan Anda belanja baju dari toko online favorit Anda? Apakah Anda sering kali memaksakan diri untuk makan di resto/kafe mahal demi dilabeli sebagai orang kekinian? Meskipun sebenarnya agak berat di kantong?      

Bila jawaban atas semua pertanyaan tersebut adalah "YA", berarti Anda memang makhluk konsumtif. Hehehe.... Maafkan saya yang to the point ini, ya. Dan, jangan buru-buru merasa tersinggung. Kalau memang kenyataannya begitu, akui saja. Kata peribahasa yang baru saja selesai kususun, mengaku lebih baik daripada tidak mengaku.

Namun, jangan berhenti di tahap mengakui saja. Setelah mengakui ya berusaha berubah, dong. Tahukah Anda? Konsumerisme itu jelek. Berkerabat dengan hal-hal yang mubazir. Sementara mubazir bersahabat dengan setan. Adapun sesuatu yang menyangkut setan selalu tak ada bagus-bagusnya. Iya toh?

Jadi, ayolah kita kikis endapan konsumerisme di jiwa kita. Mulai sekarang, biasakanlah untuk berbelanja sesuai dengan kebutuhan. Bukan berdasarkan keinginan. Meskipun Anda seorang konglomerat, bukan berarti sah untuk bersikap konsumtif. Jangan lupa, kalimat kuncinya adalah "konsumerisme itu buruk". 

Sekali lagi, berhati-hatilah dari godaan setan konsumerisme. Terlebih jika konsumerisme Anda dibiayai oleh utang. Wuahduh! Sungguh celaka dan sangat celaka. Tahukah Anda? Tak ada yang lebih celaka dari konsumerisme yang dibiayai oleh hutang.

Kiranya ada satu hal lagi yang perlu digarisbawahi. Begini. Jika Anda merupakan orang tua yang punya beberapa anak, maka sikap konsumtif yang Anda pelihara akan tertransfer kepada mereka. Ingat lho, ya. Bagaimanapun anak-anak itu akan meneladani Anda. Menjadikan Anda sebagai role model. Kalau panutannya konsumtif, ya wajar kalau mereka ikut-ikutan konsumtif. Makin besar mereka, makin tinggi juga perilaku konsumtif mereka. Pusing sendiri Anda nanti. 

Jadi mulai sekarang, jangan mudah takluk pada rayuan maut setan konsumerisme. Percayalah. Cepat atau lambat, konsumerisme akan meluluhlantakkan hidup Anda bila Anda tak berhati-hati terhadapnya. 

MORAL CERITA:
Godaan setan konsumerisme sama ganasnya dengan godaan setan dedemit. Sama-sama mengerikan!


 

5 komentar:

  1. Ngaku deh. Kalau saya suka gak bisa nahan kepengen mulut.Pengen siomay, pengen baks,lutis, lotek,soto.
    Setelah ini saya maukekep dompet deh. ciyus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Yosiiii ...hahaha....konsumerisme yg model gitu bikin ndut yaa lama-lama...

      Hapus
  2. Balasan
    1. Mbak...hohoho...iyo bener bingittts, palagi klo lagi diskooonn

      Hapus

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!

 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template