Rabu, 01 Juni 2016

Ketika Juni Tiba Lagi

Tak ada hujan bulan Juni... :D


JUNI tiba lagi. Tapi mengapa, hujan tak datang lagi? Padahal dua hari terakhir di bulan Mei, hujan demikian menderas? Yeah! Semula kukira, terkait dengan musim salah mangsa belakangan ini, akan ada hujan di bulan Juni. Meneruskan hujan Mei yang mungkin belum tuntas.... :D

Rupanya Juni tahun ini berbeda dengan Juni tahun lalu. Juni 2016 tidak diawali hujan, sedangkan Juni 2015 lalu diawali hujan. Enggak percaya? Silakan klik di sini, ya. Aku mencatatnya juga dalam blog ini, kok. Rajin dan cermat gitu, lhooo.

Apa boleh buat? Tiap Juni tiba aku selalu teringat hujan. Biasalah. Ada kaitannya dengan puisi karya SDD, "Hujan Bulan Juni". Puisi lama yang sukses senantiasa bikin aku baper. Ahaiii. Dahulu belum ada istilah baper. Dahulu sebutannya "terhanyut jiwa". Iya 'kan? Mana nih yang angkatan baheula? Tunjuk jari, dong. Haha!

O, ya. Selain puisi tersebut, ada satu hal lagi yang menyeruak ke ruang ingatanku manakala Juni tiba. Pancasila. Ya, Pancasila. Bukankah tanggal 1 Juni adalah hari lahir Pancasila? Anda sekalian, saudaraku sebangsa dan setanah air, tidak lupa toh? 

Oke. Lupa hari lahir Pancasila tak mengapa. Mungkin sebab sudah terlalu banyak hari ulang tahun relasi Anda yang mesti diingat. Tapi.... Anda tidak lupa bunyi Pancasila 'kan? Yang isinya lima butir itu? Malu ah, kalau sampai lupa. Kalah sama anggota dasawismaku. Mereka --yang sebagian buta huruf-- fasih mengucapkan teks Pancasila, lho.

Duh. Janganlah kita sampai melupakan Pancasila. Mengingat Pancasila itu tidak berarti menafikan Tuhan, Allah SWT, kok. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, kelima butir dari Pancasila juga butuh dihafal. Pancasila itu 'kan termasuk pedoman untuk menjalani hidup sebagai WNI, apa pun agamanya. Mohon jangan salah pahami Pancasila, ya.
 
Baiklah. Sebelum beranjak menjadi tulisan yang amat serius dan argumentatif, kuakhiri di sini sajalah. Oke. Selamat meniti hari-hari di bulan Juni ini. Semoga makin banyak keberkahan yang tersimpan pada lipatan hari-hari itu. Aaamiin.

MORAL CERITA:
Percaya atau tidak, kali ini kutak tahu apa moral cerita dari tulisanku ini. Jadi, silakan membuat moral cerita sesuka Anda deh.... 
Entah sudah berapa kali saya membolak-balik halaman buku Hujan Bulan Juni, tidak bosan-bosannya berulangkali membaca sejumlah sajak karya Sapardi Djoko Damono (SDD), seorang penyair yang terkenal dengan karya puisinya yang sederhana namun sarat makna. Betapa kata-kata yang tertuang dalam sajaknya seperti punya kekuatan yang mampu menarik imaji. Hujan Bulan Juni pertama kali diterbitkan oleh Grasindo tahun 1994, berisi sepilihan sajak yang ditulis SDD antara tahun 1964 sampai 1994. Buku ini sempat dicetak ulang beberapa kali, dan setiap cetak ulang ada sedikit perubahan berupa koreksi, penambahan atau pengurangan sajak. Untuk buku Hujan bulan Juni yang saya miliki ini versi hardcover cetakan kedua yang diterbitkan oktober 2013 oleh Gramedia Pustaka Utama. Buku setebal 120 halaman ini berisi 102 puisi yang ditulis antara tahun 1959 sampai 1994. Dan saya jatuh hati pada buku ini, kenapa? pertama tentu karena saya suka dengan sajak-sajaknya SDD yang mengalir dengan lembut, indah, sederhana namun sarat makna. Dan yang kedua, karena cover bukunya yang cantik, desain sampulnya menampilkan gambar separuh daun dibagian ujung kanan buku dengan percikan air hujan. Terkesan sejuk. Meskipun foto sampul dan isinya bukan karya fotografer dari penerbitnya melainkan foto tersebut diambil dari shutterstock.com, akan tetapi patut saya acungi jempol untuk pemilihan desain sampulnya yang terlihat artistik. Ah, saya pun sering mengunggah foto dari shutterstock.com untuk ilustrasi pada beberapa artikel dan puisi saya di Kompasiana, abis koleksi foto dari shutterstock bagus-bagus sih (hlo kok malah ngomongin shutterstock hehe), gak apa lah ya anggap aja kasih info link, jadi buat yang lagi cari gambar buat ilustrasi bisa ngubek2 koleksi foto dari shutterstock. 14011599411624550987 14011599411624550987 Oke lanjut lagi, masih tentang ilustrasi. Pada lembar pertamanya, gambar reranting kering dengan dua bulir air yang menggantung didahannya dan sehelai daun kering berwarna kecoklatan menghiasi dua halaman penuh. Terlihat artistik! 1401159993199014355 1401159993199014355 Selain desain sampulnya, saya juga suka dengan pembatas bukunya, jika biasanya pembatas buku bentuknya berupa kotak persegi panjang. Tetapi dalam buku ini, pembatas bukunya sangat unik berbentuk selembar daun berwarna hijau kekuningan, disebaliknya tertulis puisi berjudul 'Narcissus'. ada yang pernah baca puisi ini? yuk kita simak untaian sajaknya. NARCISSUS seperti juga aku: namamu siapa, bukan? pandangmu bening di permukaan telaga dan rindumu dalam tetapi jangan saja kita bercinta jangan saja aku mencapaimu dan kau padaku menjelma atau tunggu sampai angin melepaskan selembar daun dan jatuh di telaga: pandangmu berpendar, bukan? cemaskah aku kalau nanti air hening kembali? cemaskah aku kalau gugur daun demi daun lagi? (1971) Mungkin banyak yang belum mengenal puisi Narcissus, lain halnya jika kita ditanya puisi karya SDD yang berjudul 'Aku Ingin' dan 'Hujan Bulan Juni', saya yakin banyak yang sudah pernah membacanya, karena kedua puisi ini memang sangat popular dan banyak yang suka. Dari 102 sajak yang terhimpun dalam antologi Hujan bulan Juni, pada kesempatan ini saya akan menuliskan sejumlah puisi yang saya suka diantaranya puisi yang berjudul Di Restoran, Pada Suatu Pagi hari, Aku Ingin, dan tentu saja Hujan Bulan Juni. Yuk, kita simak puisi dengan judul 'Di Restoran'. Membaca larik-larik sajaknya saya seakan turut larut dalam suasananya, pilihan katanya sederhana, tetapi dibalik kesederhanaan itu ada kedalaman makna yang tersimpan. Setiap kita akan memiliki penafsiran masing-masing akan makna yang tersirat dalam puisi ini. DI RESTORAN kita berdua saja, duduk. aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput kau entah memesan apa. aku memesan batu di tengah sungai terjal yang deras kau entah memesan apa. tapi kita berdua saja, duduk. aku memesan rasa sakit yang tak putus dan nyaring lengkungnya, memesan rasa lapar yang asing itu. (1989) Membaca sajak-sajaknya SDD saya seakan terseret dalam pengembaraan imaji yang menyentuh relung hati. Membuat saya berdecak kagum dengan kepiawaian seorang Sapardi dalam merangkai kata dengan kalimat sedernana nan lembut, pilihan kata yang tidak rumit, namun di tangan SDD sekumpulan kata yang sederhana menjelma puisi nan indah dan sarat makna. Duh, saya pengen banget deh bisa membuat puisi seindah puisinya SDD. Karena itu gaya penulisan puisi SDD bener-bener sangat menginspirasi. Yap, saya banyak belajar dari karyanya SDD, suka dengan pilihan kata yang sederhana. Berbicara mengenai pemilihan kata dalam karyanya SDD, jika dicermati disebagian sajaknya banyak menggunakan unsur alam seperti hujan, bunga, angin, kabut dan lain-lain. Dan hujan, cukup banyak menghiasi karyanya, berikut beberapa judul sajak dalam buku ini yang memakai kata 'hujan'. Hujan turun sepanjang jalan Hujan dalam komposisi, 1 Hujan dalam komposisi, 2 Hujan dalam komposisi, 3 Di beranda waktu hujan Percakapan malam hujan Kuhentikan hujan Sihir hujan Hujan bulan Juni Hujan, jalak dan daun jambu Hujan tidak hanya digunakan dalam judul, namun juga banyak terselip dalam berbagai puisinya. Seperti dalam puisi 'Pada suatu pagi hari', SDD mampu membahasakan rintik hujan menjadi sesuatu yang mampu melarutkan rasa. Saya suka bahasa sederhana SDD dalam mendeskripsikan suasana hati dengan rintik hujan. PADA SUATU PAGI HARI Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa. Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi. (1973) 'Pada suatu pagi hari', sederhana bukan judulnya. Pun pilihan kata dan gaya bahasanya yang naratif begitu sederhana. Hingga mampu membuat saya terlarut saat membacanya. Puisi SDD laksana cermin isi hati yang mewakili ungkapan rasa pembacanya. Memaknai puisi ini selayaknya perasaan yang mungkin dialami oleh sebagian dari kita kala kesedihan mendera, air mata dan hujan mampu menghadirkan suatu perasaan melankolis (ehm jadi inget lagu lawas Rain and Tears). Sekarang lanjut ke puisi berikutnya, siapa yang tidak mengenal puisi 'Aku Ingin'? sebuah puisi yang sangat popular dan seringkali dicetak dalam undangan pernikahan. Pilihan kata dalam puisi ini juga ada unsur hujan menghiasi larik-larik sederhana yang terangkai indah dan syahdu. AKU INGIN aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada (1989) Selain unsur hujan yang banyak menghiasi sajak-sajak SDD. Saya antusias menelisik kata demi kata pada bait-bait puisinya SDD dalam buku ini yang menyelipkan unsur bunga. Dan hasilnya saya banyak menemukan kosa kata bunga terselip pada karyanya, bahkan beberapa judul puisinya ada juga yang memakai judul bunga. Ketika jari-jari bunga terbuka Bunga-bunga di halaman Bunga, 1 Bunga, 2 Bunga, 3 Seperti dalam puisi Hujan Bulan Juni, juga terdapat unsur bunga dalam larik-larik sajaknya. Ada apa dengan hujan bulan juni dan pohon berbunga? Yuk kita simak puisi yang sangat menyentuh ini. HUJAN BULAN JUNI tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni dihapuskannya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu (1989)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/zaira/hujan-bulan-juni-sepilihan-sajak-sapardi-djoko-damono_54f7344aa333119c758b4665
 
Entah sudah berapa kali saya membolak-balik halaman buku Hujan Bulan Juni, tidak bosan-bosannya berulangkali membaca sejumlah sajak karya Sapardi Djoko Damono (SDD), seorang penyair yang terkenal dengan karya puisinya yang sederhana namun sarat makna. Betapa kata-kata yang tertuang dalam sajaknya seperti punya kekuatan yang mampu menarik imaji. Hujan Bulan Juni pertama kali diterbitkan oleh Grasindo tahun 1994, berisi sepilihan sajak yang ditulis SDD antara tahun 1964 sampai 1994. Buku ini sempat dicetak ulang beberapa kali, dan setiap cetak ulang ada sedikit perubahan berupa koreksi, penambahan atau pengurangan sajak. Untuk buku Hujan bulan Juni yang saya miliki ini versi hardcover cetakan kedua yang diterbitkan oktober 2013 oleh Gramedia Pustaka Utama. Buku setebal 120 halaman ini berisi 102 puisi yang ditulis antara tahun 1959 sampai 1994. Dan saya jatuh hati pada buku ini, kenapa? pertama tentu karena saya suka dengan sajak-sajaknya SDD yang mengalir dengan lembut, indah, sederhana namun sarat makna. Dan yang kedua, karena cover bukunya yang cantik, desain sampulnya menampilkan gambar separuh daun dibagian ujung kanan buku dengan percikan air hujan. Terkesan sejuk. Meskipun foto sampul dan isinya bukan karya fotografer dari penerbitnya melainkan foto tersebut diambil dari shutterstock.com, akan tetapi patut saya acungi jempol untuk pemilihan desain sampulnya yang terlihat artistik. Ah, saya pun sering mengunggah foto dari shutterstock.com untuk ilustrasi pada beberapa artikel dan puisi saya di Kompasiana, abis koleksi foto dari shutterstock bagus-bagus sih (hlo kok malah ngomongin shutterstock hehe), gak apa lah ya anggap aja kasih info link, jadi buat yang lagi cari gambar buat ilustrasi bisa ngubek2 koleksi foto dari shutterstock. 14011599411624550987 14011599411624550987 Oke lanjut lagi, masih tentang ilustrasi. Pada lembar pertamanya, gambar reranting kering dengan dua bulir air yang menggantung didahannya dan sehelai daun kering berwarna kecoklatan menghiasi dua halaman penuh. Terlihat artistik! 1401159993199014355 1401159993199014355 Selain desain sampulnya, saya juga suka dengan pembatas bukunya, jika biasanya pembatas buku bentuknya berupa kotak persegi panjang. Tetapi dalam buku ini, pembatas bukunya sangat unik berbentuk selembar daun berwarna hijau kekuningan, disebaliknya tertulis puisi berjudul 'Narcissus'. ada yang pernah baca puisi ini? yuk kita simak untaian sajaknya. NARCISSUS seperti juga aku: namamu siapa, bukan? pandangmu bening di permukaan telaga dan rindumu dalam tetapi jangan saja kita bercinta jangan saja aku mencapaimu dan kau padaku menjelma atau tunggu sampai angin melepaskan selembar daun dan jatuh di telaga: pandangmu berpendar, bukan? cemaskah aku kalau nanti air hening kembali? cemaskah aku kalau gugur daun demi daun lagi? (1971) Mungkin banyak yang belum mengenal puisi Narcissus, lain halnya jika kita ditanya puisi karya SDD yang berjudul 'Aku Ingin' dan 'Hujan Bulan Juni', saya yakin banyak yang sudah pernah membacanya, karena kedua puisi ini memang sangat popular dan banyak yang suka. Dari 102 sajak yang terhimpun dalam antologi Hujan bulan Juni, pada kesempatan ini saya akan menuliskan sejumlah puisi yang saya suka diantaranya puisi yang berjudul Di Restoran, Pada Suatu Pagi hari, Aku Ingin, dan tentu saja Hujan Bulan Juni. Yuk, kita simak puisi dengan judul 'Di Restoran'. Membaca larik-larik sajaknya saya seakan turut larut dalam suasananya, pilihan katanya sederhana, tetapi dibalik kesederhanaan itu ada kedalaman makna yang tersimpan. Setiap kita akan memiliki penafsiran masing-masing akan makna yang tersirat dalam puisi ini. DI RESTORAN kita berdua saja, duduk. aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput kau entah memesan apa. aku memesan batu di tengah sungai terjal yang deras kau entah memesan apa. tapi kita berdua saja, duduk. aku memesan rasa sakit yang tak putus dan nyaring lengkungnya, memesan rasa lapar yang asing itu. (1989) Membaca sajak-sajaknya SDD saya seakan terseret dalam pengembaraan imaji yang menyentuh relung hati. Membuat saya berdecak kagum dengan kepiawaian seorang Sapardi dalam merangkai kata dengan kalimat sedernana nan lembut, pilihan kata yang tidak rumit, namun di tangan SDD sekumpulan kata yang sederhana menjelma puisi nan indah dan sarat makna. Duh, saya pengen banget deh bisa membuat puisi seindah puisinya SDD. Karena itu gaya penulisan puisi SDD bener-bener sangat menginspirasi. Yap, saya banyak belajar dari karyanya SDD, suka dengan pilihan kata yang sederhana. Berbicara mengenai pemilihan kata dalam karyanya SDD, jika dicermati disebagian sajaknya banyak menggunakan unsur alam seperti hujan, bunga, angin, kabut dan lain-lain. Dan hujan, cukup banyak menghiasi karyanya, berikut beberapa judul sajak dalam buku ini yang memakai kata 'hujan'. Hujan turun sepanjang jalan Hujan dalam komposisi, 1 Hujan dalam komposisi, 2 Hujan dalam komposisi, 3 Di beranda waktu hujan Percakapan malam hujan Kuhentikan hujan Sihir hujan Hujan bulan Juni Hujan, jalak dan daun jambu Hujan tidak hanya digunakan dalam judul, namun juga banyak terselip dalam berbagai puisinya. Seperti dalam puisi 'Pada suatu pagi hari', SDD mampu membahasakan rintik hujan menjadi sesuatu yang mampu melarutkan rasa. Saya suka bahasa sederhana SDD dalam mendeskripsikan suasana hati dengan rintik hujan. PADA SUATU PAGI HARI Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa. Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi. (1973) 'Pada suatu pagi hari', sederhana bukan judulnya. Pun pilihan kata dan gaya bahasanya yang naratif begitu sederhana. Hingga mampu membuat saya terlarut saat membacanya. Puisi SDD laksana cermin isi hati yang mewakili ungkapan rasa pembacanya. Memaknai puisi ini selayaknya perasaan yang mungkin dialami oleh sebagian dari kita kala kesedihan mendera, air mata dan hujan mampu menghadirkan suatu perasaan melankolis (ehm jadi inget lagu lawas Rain and Tears). Sekarang lanjut ke puisi berikutnya, siapa yang tidak mengenal puisi 'Aku Ingin'? sebuah puisi yang sangat popular dan seringkali dicetak dalam undangan pernikahan. Pilihan kata dalam puisi ini juga ada unsur hujan menghiasi larik-larik sederhana yang terangkai indah dan syahdu. AKU INGIN aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada (1989) Selain unsur hujan yang banyak menghiasi sajak-sajak SDD. Saya antusias menelisik kata demi kata pada bait-bait puisinya SDD dalam buku ini yang menyelipkan unsur bunga. Dan hasilnya saya banyak menemukan kosa kata bunga terselip pada karyanya, bahkan beberapa judul puisinya ada juga yang memakai judul bunga. Ketika jari-jari bunga terbuka Bunga-bunga di halaman Bunga, 1 Bunga, 2 Bunga, 3 Seperti dalam puisi Hujan Bulan Juni, juga terdapat unsur bunga dalam larik-larik sajaknya. Ada apa dengan hujan bulan juni dan pohon berbunga? Yuk kita simak puisi yang sangat menyentuh ini. HUJAN BULAN JUNI tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni dihapuskannya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu (1989)

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/zaira/hujan-bulan-juni-sepilihan-sajak-sapardi-djoko-damono_54f7344aa333119c758b4665

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!

 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template