Kamis, 28 April 2016

MEMBACA-MENULIS

 
 Rak buku di satu sisi ruang depan rumahku; maksudku rumah yang kutempati....

 Memanfaatkan tempat lowong di bawah TV yang jarang ditonton. Tujuannya, bila Adiba sedang berniat nonton TV niat itu bisa terbelokkan oleh aneka judul buku yang menarik di bawahnya. Haha!

ALHAMDULILLAH aku termasuk orang yang doyan membaca. Apalagi ketika akhirnya bekerja di dunia penerbitan, yang kerap kali berintim-intim dengan buku. Kedoyanan itu makin pekat adanya. Pekat merekat rapat tak bersekat! Hmmm.... :D

Sepertinya sih sebuah lingkaran setan, ya. Aku doyan membaca dulu, baru memilih kerja di penerbitan. Atau, aku kerja di penerbitan sehingga wajib mendoyankan diri untuk membaca. Haha! Entahlah. Tapi yang jelas begini. Sejak kecil aku dan kedua adikku memang terbiasa dengan buku. Asal tahu saja, bapak kami memang kolektor buku. Tak sekadar kolektor, tapi memang pembaca yang akut.

Buku apa saja, majalah apa saja, koran apa saja; serasa ada di rumah kami. Alhamdulillah. Mau fiksi, ada. Mau nonfiksi, ada. Mau yang ejaannya sudah ber-EYD, ada (amat melimpah ruah malah). Mau yang ejaannya masih ejaan lama (yang pakai "oe" = u, "tj" = c, dst), juga tak kalah banyak. Mau yang berbau politik, ada. Mau yang beraroma sastra, ada. Mau baca karya STA, ada. Mau baca karya Pram, juga ada.

O, ya. Ada catatan tersendiri perihal karya Pram. Kala itu, karya-karya Pram adalah barang terlarang. Kalau ketahuan mengoleksi karya Pram, koleksi itu bisa dirampas oleh pihak berwajib. Sementara... 100 meter saja dari rumah kami adalah kantor polisi. Kata bapak, "Kalau saja polisi-polisi itu tahu, bisa diambil nih buku-buku Pram. Untung mereka cuma tahu kalau Bapak suka baca. Enggak sampai detil berpikir, apa Bapak suka baca karya Pram atau tidak. Hehehe...."

Dan, Alhamdulillah sampai sekarang koleksi karya Pram milik bapak baik-baik saja. Andai saja aku mau, bisa kujual mahal tuh pas booming dan belum ada yang mencetak ulang. Tapi pikiran materialistis ini dipangkas tuntas oleh adikku. Adik bungsuku melarang mati-matian niat nistaku itu. Dia ambil alih pemeliharaan koleksi Pram dari bapak. Agar tak kujamah. Ih! Memang segitunyakah daku deeek? :(

Oke. Cukup sekian kisah koleksi Pram. Kita balik ke soal keintimanku dengan buku. Begitulah adanya. Kalau boleh dibilang, keintiman tersebut merupakan jejak terbaik dari pengasuhan-pendidikan yang telah diberikan bapak kepada kami bertiga. Hidup bapak! Semoga seluruh usia bapak selalu penuh barokah. Dan, sisa usianya tak sia-sia dengan penyesalan atas pencapaian hidup anak-anaknya.... #Aku serius minta doa-doa terbaik buat bapak dari Anda yang membaca postingan ini

Kala itu, pada masa lalu itu, saat aku masih berstatus sebagai pelajar TK hingga pelajar sekolah menengah, bapak kerap bercerita tentang orang-orang pintar. Tentu maksudnya bukan dukun, ya. Tapi orang-orang pintar yang menulis buku. Sudah pasti berikut orang-orang  pintar yang kisah hidupnya dijadikan buku.

Sudah pasti aku terpukau dengan semua hal yang diceritakan bapak. Dan aku tak ingat, apakah saat itu aku lalu berkeinginan jadi penulis atau tidak. Tapi yang jelas, bapak tak memintaku jadi penulis. Bahkan seingatku, sampai aku kuliah dan sampai sekarang bapak tak pernah memintaku (setidaknya menyatakan keinginan beliau) agar aku jadi penulis. Yang bapak inginkan hanyalah diriku ini suka membaca. Sudah. Tanpa alasan penjelasan yang manis-manis di belakangnya.

Entahlah. Mengapa bapak sesederhana itu, ya? Mungkin sebetulnya bapak ingin aku jadi penulis, tapi sengaja tak diverbalkan. Mungkin saat itu aku keterlaluan kurang ilmunya sehingga diminta banyak membaca. Ah, entahlah. Yang jelas hari ini, membaca sudah menjadi kebutuhanku. Alhamdulillah. Dan bapak, sudah pasti merupakan mentor terbaikku dalam hal membaca.

Walhasil, membaca-menulis adalah duniaku sekarang. Yang insya Allah akan kuwariskan pula pada anak-anakku kelak (gubraks... memang anakku ada berapa?). Oke, bapak. Aku akan berjuang. Meskipun saat ini, koleksi buku aku masih terbatas sekali. Hmmm. Aku mau lebih rajin menulis juga. Supaya punya banyak uang buat menambah koleksi buku. Hehehe.... :D

Rasanya tulisan ini sudah panjang. Aku akhiri saja, ya. Sebagai penutup, aku kutipkan salah satu status fesbuk dari Bang Arafat Nur deh. Sebuah status yang kukira sempat mengkhianati asa bapak terhadapku dalam hal jodoh. Hihihi.... Aku kutip di sini sebab aku tahu pasti inspirasi status tersebut dari kisah siapa. 

Aku diberi-tahu seorang perempuan bahwa ada lelaki yang tidak menyukainya karena dia suka membaca dan menulis. Menulis dianggapnya hanya pekerjaan mengkhayal dan sia-sia saja. Maka, aku sarankan segera jauhi lelaki itu bila jalan hidupmu tak ingin sesat. Lelaki semacam itu tak akan membuat perempuan maju dan akan selalu memandang rendah kaum hawa... ~ARAFAT NUR


MORAL CERITA:
Warisan terbaik dari orang tua adalah ilmu dan kebiasaan baik.



15 komentar:

  1. Kerja di penerbitan jadi lebih banyak membaca ya, Mbak. Tentu ini hal yang menyenangkan bagi yang hobi membaca. Sama dengan suka membaca, kerjanya di perpustakaan, joss. Suka membaca, kerjanya jualan buku bekas, ini juga joss. Suka membaca, lalu ditambah suka menulis, nah... ini gandengannya. Ibarat cinta dan rindu; susah mengurai keduanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe...iya betul bingit Ustaz, membaca dan menulsi ibarat cinta dan rindu....teramat susah untuk mengurai keduanya... hatsahhh..

      Hapus
  2. Hmm muantappp mbak banyak banyak baca buku akan sangat berguna buat kedepan saya juga suka nih baca buku tapi gak banyak sih masih sedikit koleksinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. heheehe... makasih atas kunjungannya Kang Nurul Iman, gak mengapa koleksi buku masih sedikit, toh ada perpustakaan yg bisa dipinjami...juga teman2...hehehe... oke, sukses terus dg usahanya ya :)

      Hapus
  3. Moral ceritanya mengejutkan mbak. Terimakasih mbak, ups maaf. Terima kasih bapak sudah mendidik anaknya seperti ini sehingga anaknya dapat menginspirasi kami hehehe... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai hai Mas Rijal... haha... terimakasih kembalii

      Hapus
  4. Super sekali temankoe yang satu ini. masih dianggap teman nggak ya ... ? jadi betah berlama-lama di laman blognya. Oke Pren nggak terasa menelusuri halaman-demi halaman jam dinding menunjuk angka 10 lebih. Tak biasa begadang. lain waktu kalau ada waktu tak mampir lagi. Sy juga belajar ngeblog cuman isinya baru copy paste. Nggak bisa menulis ... Mbak Titin memang ahlinya! Jadi pingin punya resolusi ... kikikikik. semangatmendidik.blogspot.co.id

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih dooonggg....masak ada istilah mantan temen? Yang ada tuuuhh, mantan gebetan...hahaha.... makasih banget sudah mampir ke blog aku. ehhh, aku sudah ke blog panjenengan juga. Ih, emang so serious isinya...maklum lah yaa... pak guru gitu lhoo

      Hapus
    2. ngejek ... ! ha...ha..ha..., dah berapa buku yang diterbitkan mbak. tu buku yang pengarangnya Agustina Soebachman buku jenengan ya. Ikut Bangga dech .... !Boleh dong diuncali 1 hehehehe ...!

      Hapus
    3. wheee...lah piye tho? Nhejek gimana? btw iyaaa...pakai nama blakang babe gue...entahlah sudah berapa? bolehhh bingit diucali asal dinaca seriys.. :p

      Hapus
    4. halahhh typo melulu daku #butuh keyboard baru

      Hapus
  5. Tulisan yang sungguh menggugah. Membaca dan menulis adalah dua hal yang saling melengkapi. Salam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas apresiasi panjenengan, Pak Ngainun Naim. Salam kembali.

      Hapus
  6. Menulis dan membaca memang pasangan sejati ya, Mbak Agustina.
    Penulis pasti suka membaca. Salam semangat menulis, Mbak Agustina.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam semangat menulis juga, Mas Bambang

      Hapus

Terima kasih atas kunjungan Anda. Mohon tinggalkan jejak agar saya bisa gantian mengunjungi blog Anda. Happy Blog Walking!

 

PIKIRAN POSITIF Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template